cover
Contact Name
Fahrullah
Contact Email
bnjakys@gmail.com
Phone
+6285250916350
Journal Mail Official
bnjakys@gmail.com
Editorial Address
https://bnj.akys.ac.id/BNJ/about/editorialTeam
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal
ISSN : 26855054     EISSN : 26548453     DOI : https://doi.org/10.61878/bnj.
Core Subject : Health, Science,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan. Dalam setiap edisinya, BNJ menerbitkan minimal 5 naskah hasil penelitian dan satu artikel editorial notes. Penulis yang dapat mengirimkan artikel ke BNJ tidak dibatasi hanya pada tenaga pengajar Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda saja, tetapi penulis yang berasal dari perguruan tinggi lain pun dapat mengirimkan manuskrip. Setiap manuskrip yang masuk akan di-review oleh reviewer yang memiliki berbagai macam latar belakang keilmuan yang relevan dengan topik manuskrip.
Articles 1,420 Documents
Hubungan Pemanfaatan Media Sosial Dengan Upaya Pencegahan Anemia Pada Remaja Di Wilayah RW 15 Kelurahan Abadijaya Kota Depok Cahaya Putri Dwi Ahitsa; Rahmi Nurmadinisia
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1488

Abstract

Anemia pada remaja masih menjadi masalah kesehatan karena dapat memengaruhi konsentrasi belajar, produktivitas,pertumbuhan, dan kesehatan reproduksi. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi anemiapada kelompok usia 15–24 tahun mencapai 15,5%, sedangkan prevalensi anemia pada remaja putri di Kota Depokmencapai 17,8%. Tingginya penggunaan media sosial di kalangan remaja berpotensi dimanfaatkan sebagai sumberinformasi dan sarana edukasi kesehatan untuk mendukung pencegahan anemia. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis hubungan antara pemanfaatan media sosial dengan upaya pencegahan anemia pada remaja di wilayah RW15 Kelurahan Abadijaya, Kota Depok. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitikobservasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 107 responden yang ditentukanmenggunakan teknik non-probability sampling dengan metode total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesionerberbasis Google Form dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Pearson Chi-Square. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media sosial sebagian besar berada pada kategori baik, yaitu 56 responden(52,3%), dan upaya pencegahan anemia kategori baik sebanyak 57 responden (53,3%). Hasil uji Pearson Chi-Squarememperoleh nilai Chi-Square sebesar 32,861 dengan p-value <0,001 serta nilai Odds Ratio (OR) sebesar 7,200 (95%CI: 3,066–16,906), sehingga terdapat hubungan yang bermakna antara pemanfaatan media sosial dengan upayapencegahan anemia pada remaja. Media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi kesehatan untuk mendukungpencegahan anemia pada remaja.
Hubungan Konsumsi Minuman Manis terhadap Kejadian Gizi Lebih pada Siswa SMP 3 Muhammadiyah Yogyakarta Karisya Martiansyah Utami; Nor Eka Noviani; Dewi Rizzky Mutiarasari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1490

Abstract

Gizi lebih pada remaja merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus mengalami peningkatan di berbagai negara. Konsumsi minuman manis diduga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya gizi lebih karena kandungan gula tambahannya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan frekuensi konsumsi minuman manis dan asupan gula dari minuman manis dengan kejadian gizi lebih pada siswa SMP 3 Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 47 siswa berusia 12–15 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data frekuensi konsumsi minuman manis dan asupan gula diperoleh menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 70,2% responden memiliki status tidak gizi lebih dan 29,8% mengalami gizi lebih. Uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi konsumsi minuman manis dengan kejadian gizi lebih (p = 0,464) maupun antara asupan gula dari minuman manis dengan kejadian gizi lebih (p = 0,587). Penelitian ini menyimpulkan bahwa frekuensi konsumsi minuman manis dan asupan gula dari minuman manis tidak berhubungan dengan kejadian gizi lebih pada siswa SMP 3 Muhammadiyah Yogyakarta. Meskipun demikian, konsumsi gula harian tetap perlu dibatasi sesuai dengan rekomendasi Kementerian Kesehatan sebagai upaya pencegahan penyakit tidak menular pada Remaja.
Penerapan Intervensi Penyaluran Emosi untuk Mengontrol Perilaku Kekerasan pada Anak Usia Sekolah dengan Disabilitas Intelektual: Studi Kasus Klinik Mohammad Agung Thoha; Imas Rafiyah; Hendrawati Hendrawati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1498

Abstract

Keterbatasan fungsi kognitif dan komunikasi pada anak dengan disabilitas intelektual meningkatkan risiko terjadinya perilaku kekerasan yang maladaptif. Studi kasus ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan intervensi penyaluran emosi melalui teknik memukul bantal untuk membantu mengontrol perilaku kekerasan pada anak usia sekolah dengan disabilitas intelektual. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada seorang anak perempuan berusia 12 tahun dengan disabilitas intelektual dan perilaku kekerasan di rumah sakit jiwa. Intervensi penyaluran emosi (teknik memukul bantal) diberikan selama lima hari perawatan. Evaluasi kemampuan mengontrol perilaku kekerasan diukur setiap hari menggunakan instrumen Respons Umum Fungsi Adaptif (RUFA) melalui observasi langsung. Sebelum intervensi, pasien berada pada kategori RUFA Intensif I (skor 1-10) dengan manifestasi gelisah, mondar-mandir, berteriak, serta melakukan tindakan memukul dan mencakar. Setelah diberikan intervensi terstruktur selama lima hari, frekuensi perilaku kekerasan fisik dan verbal mengalami penurunan secara bertahap, dan pasien mulai mampu menggunakan cara adaptif saat marah. Pada akhir evaluasi, tingkat adaptif pasien meningkat ke kategori RUFA Intensif II (skor 11-20). Penerapan intervensi penyaluran emosi melalui teknik memukul bantal efektif dalam menurunkan intensitas dan mengontrol perilaku kekerasan pada anak dengan disabilitas intelektual. Keberhasilan intervensi ini didukung oleh pengulangan latihan yang konsisten serta penyesuaian komunikasi terapeutik yang sesuai dengan tingkat kognitif anak berupa instruksi sederhana yaitu memukul bantal.
Hubungan Pengetahuan Dengan Sikap Tenaga Kesehatan Tentang Speak Up Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) Di Puskesmas Kayon Palangka Raya Nilasari Nilasari; Hermanto Hermanto; Septian Mugi Rahayu
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1500

Abstract

Latar Belakang: Speak up merupakan tindakan tenaga kesehatan untuk menyampaikan kekhawatiran atau informasi terkait potensi risiko keselamatan pasien. Rendahnya praktik speak up dapat menyebabkan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) terus berulang. Pengetahuan dan sikap tenaga kesehatan berperan penting dalam keberanian melakukan speak up. Puskesmas Kayon masih menghadapi beberapa kasus KTD yang belum diikuti dengan budaya speak up yang optimal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap tenaga kesehatan tentang speak up dalam kejadian tidak diharapkan di Puskesmas Kayon Palangka Raya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas Kayon  dengan jumlah sampel sebanyak 56 orang, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling.  Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tertutup dan dianalisis menggunakan uji statistik Spearman Rank. Hasil: Penelitian menunjukkan nilai signifikansi (p-value) sebesar 0,000  lebih kecil dari α = 0,01 dengan nilai koefisiensi korelasi 0,638 yang menunjukan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan positif antara tingkat pengetahuan speak up  dengan sikap speak up kejadian tidak diharapkan di Puskesmas Kayon. Artinya semakin tinggi pengetahuan tenaga kesehatan, maka sikap speak up kejadian tidak diharapkan cenderung makin positif. Kesimpulan: Pengetahuan yang baik diharapkan berbanding lurus dengan sikap positif tenaga kesehatan untuk berani speak up demi pencegahan KTD. Hasil penelitian ini dapat menjadi rekomendasi bagi Puskesmas Kayon untuk mengembangkan program pelatihan dan sistem pelaporan yang mendukung speak up kejadian tidak diharapkan.
Faktor – Faktor Risiko Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kayon Kota Palangka Raya Chana Natalinae; Dita Wasthu Prasida; Eva Prilelli Baringbing
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1501

Abstract

Dita Wasthu Prasida1, Eva Prilelli Baringbing2, Chana Natalinae3 1)2)3)Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Eka Harap Email: chananatalinae4@gmail.com Abstrak Latar Belakang: Diare masih menjadi masalah kesehatan lingkungan sekaligus penyebab utama mortalitas balita di Indonesia, termasuk di Kota Palangka Raya. Di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kayon, jumlah kasus diare pada balita meningkat dari 63 kasus pada tahun 2024 menjadi 93 kasus pada tahun 2025. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kayon Kota Palangka Raya. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 82 responden diperoleh menggunakan teknik accidental sampling melalui wawancara terstruktur dan kuesioner tertutup di Puskesmas Induk beserta lima Puskesmas Pembantu (Pustu). Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square (α = 0,05). Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara kejadian diare pada balita dengan ketersediaan sumber air bersih (p = 0,017), kepemilikan jamban (p = 0,000), kondisi jamban (p = 0,016), pengelolaan limbah rumah tangga (p = 0,016), PHBS (p = 0,016), dan tingkat pendidikan ibu (p = 0,035). Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan bermakna pada pemberian ASI eksklusif (p = 0,136) maupun status gizi balita (p = 0,720). Kesimpulan: Kepemilikan dan kelayakan sanitasi fisik (air bersih, jamban, pengelolaan limbah), PHBS keluarga, serta tingkat pendidikan formal ibu merupakan prediktor kuat kejadian diare pada balita. UPTD Puskesmas Kayon disarankan meningkatkan intensitas edukasi hygiene perorangan dan memantau kelayakan sarana sanitasi dasar secara berkala. Kata kunci: diare; balita; sanitasi; PHBS; faktor risiko Abstract Background: Diarrhea is still an environmental health problem as well as the main cause of mortality among toddlers in Indonesia, including in the city of Palangka Raya. In the work area of the Kayon Health Center UPTD, the number of diarrhea cases in toddlers increased from 63 cases in 2024 to 93 cases in 2025. Objective: To analyze risk factors related to the incidence of diarrhea in toddlers in the work area of the UPTD Kayon Health Center, Palangka Raya City. Methods: Analytical observational research with a cross-sectional design. A sample of 82 respondents was obtained using accidental sampling techniques through structured interviews and closed questionnaires at the Main Health Center and five Auxiliary Health Centers (Pustu). Bivariate analysis used the Chi-Square test (α = 0.05). Results: There was a statistically significant relationship between the incidence of diarrhea in toddlers and the availability of clean water sources (p = 0.017), toilet ownership (p = 0.000), toilet condition (p = 0.016), household waste management (p = 0.016), PHBS (p = 0.016), and maternal education level (p = 0.035). On the other hand, no meaningful relationship was found in exclusive breastfeeding (p = 0.136) or nutritional status of toddlers (p = 0.720). Conclusion: Ownership and feasibility of physical sanitation (clean water, latrines, waste management), family PHBS, and the level of formal education of mothers are strong predictors of the incidence of diarrhea in toddlers. The Kayon Health Center UPTD is recommended to increase the intensity of individual hygiene education and monitor the feasibility of basic sanitation facilities periodically. Keywords: diarrhea; news; sanitation; PHBS; Risk factors
Hubungan Kualitas Tidur Lansia Dengan Kecerdasan Emosional Lansia Di Posyandu Sekar Arum Tajinan Kabupaten Malang Mamoba Anastasy; Yafet Pradiktama; Nanik Dwi Astutik
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1502

Abstract

Mamoba Anastasy, 2026. Skripsi Hubungan Kualitas Tidur Lansia Dengan Kecerdasan Emosional Lansia Di Posyandu Sekar Arum Tajinan Kabupaten Malang. Program Studi Sarjana Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Waluya Malang 2026. Pembimbing I : Ns. Yafet Pradikatama, M.Kep, Pembimbing II: Dr. Nanik Dwi Astutik, S.Kep.,Ns., M.Kes. Pendahuluan: Lansia mengalami perubahan fisiologis dan psikologis yang dapat memengaruhi kualitas tidur dan kecerdasan emosional. Kualitas tidur yang baik berperan dalam menjaga kondisi psikologis dan kemampuan lansia dalam mengelola emosi. Tujuan: Mengetahui hubungan kualitas tidur dengan kecerdasan emosional lansia di Posyandu Sekar Arum Tajinan Kabupaten Malang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan 155 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan kuesioner kecerdasan emosional. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Sebanyak 128 responden (82,6%) memiliki kualitas tidur baik dan 124 responden (80,4%) memiliki kecerdasan emosional tinggi. Hasil uji Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara kualitas tidur dengan kecerdasan emosional (p=0,000; r=0,962). Kesimpulan: Terdapat hubungan positif dan signifikan antara kualitas tidur dengan kecerdasan emosional lansia. Kata kunci: Lansia, Kualitas Tidur, Kecerdasan Emosional.Kata kunci: Lansia, Kualitas Tidur, Kecerdasan Emosional. Mamoba Anastasy, 2026. Undergraduate Thesis: The Relationship Between Sleep Quality and Emotional Intelligence Among Older Adults at Sekar Arum Integrated Health Service Post (Posyandu), Tajinan, Malang Regency. Bachelor of Nursing Study Program, Panti Waluya School of Health Sciences Malang, 2026. Supervisor I: Ns. Yafet Pradikatama, M.Kep. Supervisor II: Dr. Nanik Dwi Astutik, S.Kep., Ns., M.Kes. Introduction: Older adults experience physiological and psychological changes that may affect sleep quality and emotional intelligence. Good sleep quality plays an important role in maintaining psychological well-being and the ability to regulate emotions. Objective: To determine the relationship between sleep quality and emotional intelligence among older adults at Sekar Arum Integrated Health Post, Tajinan, Malang Regency. Methods: This study used a cross-sectional design involving 155 respondents selected using stratified random sampling. Data were collected using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) and an emotional intelligence questionnaire. Data were analyzed using the Spearman Rank test. Results: A total of 128 respondents (82.6%) had good sleep quality, while 124 respondents (80.4%) had high emotional intelligence. The Spearman Rank test showed a positive and significant relationship between sleep quality and emotional intelligence (p=0.000; r=0.962). Conclusion: There was a positive and significant relationship between sleep quality and emotional intelligence among older adults. Keywords: Older Adults, Sleep Quality, Emotional Intelligence.
Hubungan Peran Teman Sebaya Terhadap Tingkat Konsumsi Minuman Berpemanis Pada Remaja Di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta Indah Gita Cahyani; Nor Eka Noviani; Agil Dhiemitra Aulia Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1503

Abstract

Latar Belakang: Konsumsi minuman berpemanis pada remaja usia 10 – 14 tahun di Daerah Istimewa Yogyakarta masih tergolong tinggi yaitu mencapai 57,9%, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 50,7% berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi perilaku tersebut adalah peran teman sebaya. SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta berada di wilayah perkotaan dengan akses yang mudah terhadap minuman berpemanis sehingga berpotensi memengaruhi kebiasaan konsumsi siswa. Kondisi tersebut menunjukan bahwa pengaruh peran teman sebaya berpotensi berkaitan dengan perilaku konsumsi minuman berpemanis pada remaja. Tujuan: Menganalisis hubungan antara peran teman sebaya dengan tingkat konsumsi minuman berpemanis pada remaja di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 52 siswa/i kelas VII dan VIII dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Peran teman sebaya (variabel bebas) diukur menggunakan kuesioner Peer Influence Scale (PIS), sedangkan tingkat konsumsi minuman berpemanis (variabel terikat) diukur menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil: Sebanyak 57,7% responden berada pada kategori terdapat pengaruh peran teman sebaya. Berdasarkan jumlah asupan gula tambahan, 51,9% responden berada pada kategori cukup, sedangkan 48,1% termasuk kategori berlebih. Berdasarkan frekuensi konsumsi, masing-masing 50,0% responden berada pada kategori sering dan jarang. Analisis bivariat menunjukan adanya hubungan yang bermakna antara peran teman sebaya dengan tingkat konsumsi minuman berpemanis, baik berdasarkan jumlah asupan gula tambahan (p=0,010) dan frekuensi konsumsi (p=0,005). Kesimpulan: Peran teman sebaya memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat konsumsi minuman berpemanis pada remaja.
Hubungan Dukungan Orang Tua Dan Lamanya Perawatan Paliatif Dengan Kualitas Hidup Anak Kanker Di Graha Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) Puspita Wulan Dari; Khalida Ziah Sibualamu; Dameria Br Saragih
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1507

Abstract

Kanker anak berdampak luas pada kondisi fisik dan emosional yang memengaruhi kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan dukungan orang tua dan lamanya perawatan paliatif dengan kualitas hidup anak penderita kanker di Graha Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI). Metode penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross-sectional dengan total sampling sebanyak 31 responden (anak penderita kanker dan caregiver) pada Mei–Juni 2026. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Medical Outcomes Study: Social Support Survey (MOS-SSS), wawancara/rekam medis, serta Pediatric Quality of Life Inventory (PedsQL) 4.0. Analisis data mencakup uji univariat dan bivariat Chi-Square (). Hasil univariat menunjukkan mayoritas orang tua memiliki dukungan kurang baik (51,6%), sebagian besar anak menjalani perawatan paliatif bulan (64,5%), dan persentase kualitas hidup anak didominasi kategori buruk (51,6%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara dukungan orang tua dengan kualitas hidup () maupun antara lamanya perawatan paliatif dengan kualitas hidup (). Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas hidup anak kanker di rumah singgah lebih dominan dipengaruhi oleh beratnya beban klinis, efek samping pengobatan, dan progresivitas penyakit dibanding dukungan keluarga atau durasi perawatan semata. Kesimpulannya, tidak ada hubungan signifikan antara kedua variabel bebas tersebut dengan kualitas hidup, sehingga tenaga kesehatan disarankan untuk memprioritaskan tata laksana gejala fisik di samping pendampingan psikososial.
Hubungan Kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) Dengan Kejadian Diare Pada Anak Sekolah Di SDN Tanah Merah 1 Kabupaten Tangerang Tahun 2026 Aisyah Fitria Rahmah; Adi Dwi Susanto; Rangga Saputra
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1508

Abstract

Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih tinggi angka kejadiannya pada anak usia sekolah dan erat kaitannya dengan perilaku hidup bersih dan sehat, salah satunya kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan kejadian diare pada anak sekolah di SDN Tanah Merah 1 Kabupaten Tangerang tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 220 siswa dengan sampel sebanyak 156 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner kebiasaan CTPS sebanyak 15 pertanyaan dan kuesioner kejadian diare sebanyak 1 pertanyaan. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kebiasaan CTPS kategori kurang berjumlah 77 responden (49,4%), kategori cukup 60 responden (38,5%), dan kategori baik 19 responden (12,2%). Kejadian diare ditemukan pada 84 responden (53,8%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05) yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan kejadian diare pada anak sekolah di SDN Tanah Merah 1 Kabupaten Tangerang. Diperlukan peningkatan edukasi dan penyediaan fasilitas cuci tangan di lingkungan sekolah guna menurunkan angka kejadian diare pada anak usia sekolah.
Faktor Risiko Perinatal Dan Pascanatal Anak Cerebral Palsy Di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta Tahun 2012-2016 Shafarina Maulia Prasudia; Nurlaili Muzayyanah; Emi Azmi Choironi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1510

Abstract

Cerebral Palsy (CP) menyebabkan keterbatasan aktivitas akibat gangguan perkembangan otak pada awal kehidupan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan skor APGAR rendah, BBLR, dan prematuritas dengan kejadian CP anak. Studi ini menggunakan desain kasus kontrol, subjek adalah anak di RSUP Dr Sardjito tahun 2012-2016. Analisis menggunakan uji Chi-square. Terdapat hubungan bermakna antara skor APGAR rendah dengan kejadian CP (p<0,001). Asfiksia neonatorum memiliki kekuatan hubungan terbesar (OR=15,4; IK 95%: 2,495-95,053). Tidak ada hubungan bermakna antara BBLR dan prematuritas dengan kejadian CP.