cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
betty.masruroh@um.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.sd@gmail.com
Editorial Address
Universitas Negeri Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan
ISSN : 08548285     EISSN : 25811983     DOI : 10.17977
Core Subject :
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan publishes articles on conceptual ideas, studies, and application of theories, practical writing, and the results of educational research and teaching of primary schools. Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan first appeared in 1992 under the name KREATIF. SEKOLAH DASAR changed its name to Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan starting 2017. In 2018 Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan indexed DOAJ.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Teachers' Perspectives on Primary School Students' Speaking and Presenting Skills: A Survey Study Adrias; Mansurdin; Yunisrul; Agus Ruswandi; Fadhilah Majid
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p55-73

Abstract

Abstract: Speaking and presenting are learning outcomes that present greater challenges than other elements as they require students to possess both adequate verbal proficiency and psychological readiness. This study aims to describe teachers' perceptions of student achievement in speaking and to identify the factors perceived to influence these outcomes. A quantitative survey method was employed, utilizing questionnaires for data collection. The respondents consisted of 161 fifth and sixth-grade elementary school teachers in Padang City, selected through multistage random sampling. Data were analyzed using descriptive statistics. The results indicate that the overall achievement level of speaking and presenting in Phase C is 77.90%, categorized as "High". The highest achievement was found in students' post-learning confidence at 81.57% (Very High), while the lowest achievement was in the ability to organize a presentation with a clear structure (introduction, body, and conclusion), which only reached 69.57% and was categorized as "Moderate". Abstrak: Berbicara dan mempresentasikan merupakan salah satu hasil belajar yang lebih sulit dibandingkan unsur-unsur lain, karena keduanya menuntut siswa untuk memiliki kemampuan verbal yang memadai serta kesiapan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan persepsi guru terhadap pencapaian siswa dalam berbicara serta mengidentifikasi faktor-faktor yang dianggap memengaruhi hasil belajar tersebut. Metode survei kuantitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan memanfaatkan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Responden terdiri dari 161 guru sekolah dasar kelas lima dan enam di Kota Padang, yang dipilih melalui pengambilan sampel acak bertahap. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat pencapaian keseluruhan dalam berbicara dan mempresentasikan pada Fase C adalah 77,90%, yang dikategorikan sebagai "Tinggi". Pencapaian tertinggi ditemukan pada kepercayaan diri siswa pasca pembelajaran sebesar 81,57% (Sangat Tinggi), sedangkan hasil terendah terdapat pada kemampuan menyusun presentasi dengan struktur yang jelas (pendahuluan, isi, dan kesimpulan), yang hanya mencapai 69,57% dan dikategorikan sebagai "Sedang".
The Influence of the Coding and Artificial Intelligence Program on Fifth Graders’ Computational Thinking Skills Adinda Siti Aisyah; Zaenal Abidin; Vicky Dwi Wicaksono; Amadhila Elina Penehafo
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p195-212

Abstract

Abstract: The massive use of technology, which has become a dominant and transformational force, requires students to develop computational thinking (CT) skills from elementary school. However, observations in class 5C SDN Keboansikep 2 showed that students’ CT skills were low despite students’ familiarity with technology. This study aims to examine the effect of the Coding and Artificial Intelligence (CAI) program on students’ CT skills in class 5C SDN Keboansikep 2. The research used a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. Data were collected through a 20-item multiple-choice test based on CT indicators. Data were analyzed using descriptive and inferential statistics. Descriptive results showed an average pretest of 64.26 and posttest of 82.22, with an increase of 17.96 points. The paired sample t-test showed Sig. (2-tailed) < 0.001, showing that the CAI program had a significant influence on CT skills. The N-Gain average of 0.5693, meaning that the CAI program was moderately effective in improving CT skills. The results show that the CAI program has a significant influence and quite an effective impact on improving the CT skills. Theoretically, the CAI program aligns with Vygotsky’s social constructivism theory, and practically encourages schools and policymakers to strengthen the CAI program in preparing a generation capable of creating technology-based solutions through CT. Abstrak: Penggunaan teknologi yang masif, yang telah menjadi kekuatan dominan dan transformatif, menuntut siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir komputasional (CT) sejak sekolah dasar. Namun, pengamatan di kelas VC Sekolah Dasar Negeri Keboansikep 2 menunjukkan bahwa keterampilan CT siswa masih rendah, meskipun siswa sudah terbiasa dengan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh program Coding and Artificial Intelligence (CAI) terhadap keterampilan CT 27 siswa di kelas VC Sekolah Dasar Negeri Keboansikep 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one-group pretest-posttest. Data dikumpulkan melalui tes pilihan ganda yang terdiri dari 20 soal berdasarkan indikator CT. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial. Hasil deskriptif menunjukkan nilai rata-rata pretest sebesar 64,26 dan posttest sebesar 82,22, dengan peningkatan sebesar 17,96 poin. Uji paired-t menghasilkan nilai Sig. (dua sisi) < 0,001, yang menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan. Rata-rata N-Gain sebesar 0,5693, menunjukkan efektivitas sedang. Hasil menunjukkan bahwa program CAI memiliki pengaruh yang signifikan dan dampak yang cukup efektif dalam meningkatkan keterampilan CT. Secara teoritis, program CAI sejalan dengan teori konstruktivisme sosial Vygotsky, dan secara praktis mendorong sekolah serta pembuat kebijakan untuk memperkuat program CAI dalam mempersiapkan generasi yang mampu menciptakan solusi berbasis teknologi melalui CT.
Number Sense and Mental Arithmetic in Terms of Mathematical Ability: A Case Study on Elementary School Students Ade Firma Handriyani Putri; Neni Mariana; Rooselyna Ekawati
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p100-118

Abstract

Abstract: This descriptive qualitative case study examines the number-sense and mental-arithmetic profiles of six fifth-grade students across varying mathematical ability levels. Data were collected through written tests, semi-structured interviews, and work documentation, then analyzed using data reduction, display, and verification. Findings revealed that high-ability students demonstrated mastery through flexibility, accuracy, and efficiency. Moderate-ability students met most criteria but showed inconsistencies with complex tasks, while low-ability students faced substantial difficulties and displayed unstable strategies. These results emphasize the necessity of differentiated instruction. To foster foundational numerical competencies, teachers should implement regular mental math activities, such as daily number discussions, to practice flexible estimation. Furthermore, providing scaffolded support—such as gradually reducing the use of scratch paper—is essential for low-ability students to alleviate mental strain and strengthen memory for mental calculations. This structured approach ensures effective development of mathematical proficiency across all student profiles. This approach ensures foundational numerical competencies are developed effectively across all student profiles. Abstrak: Studi kasus kualitatif deskriptif ini mengkaji profil pemahaman bilangan dan perhitungan mental pada enam siswa kelas lima dengan tingkat kemampuan matematika yang beragam. Data dikumpulkan melalui tes tertulis, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi hasil pekerjaan, kemudian dianalisis dengan metode reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Temuan menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan tinggi menunjukkan penguasaan melalui fleksibilitas, akurasi, dan efisiensi. Siswa dengan kemampuan sedang memenuhi sebagian besar kriteria namun menunjukkan ketidakkonsistenan dalam mengerjakan tugas-tugas kompleks, sementara siswa dengan kemampuan rendah menghadapi kesulitan yang cukup besar dan menerapkan strategi yang tidak konsisten. Hasil ini menekankan pentingnya penerapan pembelajaran diferensiasi. Untuk mengembangkan kompetensi numerik dasar, guru sebaiknya menerapkan latihan rutin berhitung di luar kepala tanpa menggunakan alat bantu, seperti diskusi seputar angka, guna melatih kemampuan memperkirakan angka secara fleksibel. Selain itu, pemberian dukungan bertahap—seperti secara bertahap mengurangi penggunaan kertas coretan untuk berhitung—sangat penting bagi siswa dengan kemampuan rendah untuk mengurangi beban mental dan memperkuat daya ingat dalam melakukan perhitungan mental. Pendekatan terstruktur ini memastikan pengembangan kemampuan matematika yang efektif pada semua profil siswa. Pendekatan ini memastikan kompetensi numerik dasar dikembangkan secara efektif pada semua profil siswa.
Teaching Anxiety, Efficacy, and Immersive Experience in VR-Based Microteaching among Elementary Pre-Service Teachers in Rural Context Eli Meivawati; Zuhra Meiliza; Husnul Khatimah; Asmirinda Resa; Hilman Qudratuddarsi; Hazlynda Bt Atta
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p177-194

Abstract

Abstract: Teacher education in rural contexts faces challenges related to limited teaching practice opportunities, technological access, and pedagogical support, which may affect pre-service teachers’ instructional readiness. This study examines the roles of teaching anxiety, teaching efficacy, immersive learning experience, and interest in virtual reality in shaping basic teaching skills through virtual reality–based microteaching among elementary pre-service teachers in rural contexts. A quantitative explanatory design was employed involving 205 pre-service teachers from the Primary School Teacher Education program at Universitas Sulawesi Barat. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling. The findings indicate that immersive learning experience has a strong positive effect on basic teaching skills (β=0.501, p<0.001), followed by teaching efficacy (β=0.372, p<0.001). In contrast, teaching anxiety shows a negative but non-significant effect (β = −0.043, p > 0.05). Additionally, interest in virtual reality positively influences immersive learning experience (β=0.330, p<0.001) and indirectly contributes to basic teaching skills through immersion (β =0.165, p<0.01). The model explains 61.3% of the variance in basic teaching skills (R²=0.613). These results highlight the potential of virtual reality–based microteaching as an effective approach for developing pedagogical skills among elementary pre-service teachers in rural educational settings. Abstrak: Pendidikan guru di daerah rural menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan kesempatan praktik mengajar, akses teknologi, dan dukungan pedagogis, yang dapat memengaruhi kesiapan mengajar calon guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran kecemasan mengajar, efikasi mengajar, pengalaman belajar imersif, dan minat terhadap virtual reality dalam membentuk keterampilan dasar mengajar melalui microteaching berbasis virtual reality pada calon guru sekolah dasar di daerah rural Sulawesi Barat. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif eksplanatori dengan melibatkan 205 mahasiswa PGSD Universitas Sulawesi Barat. Data dikumpulkan menggunakan angket terstruktur dan dianalisis dengan Partial Least Squares Structural Equation Modeling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman belajar imersif berpengaruh positif kuat terhadap keterampilan dasar mengajar (β=0,501; p<0,001), diikuti oleh efikasi mengajar (β=0,372; p<0,001). Sebaliknya, kecemasan mengajar menunjukkan pengaruh negatif namun tidak signifikan (β =−0,043; p>0,05). Selain itu, minat terhadap virtual reality berpengaruh positif terhadap pengalaman belajar imersif (β=0,330; p<0,001) dan berpengaruh tidak langsung terhadap keterampilan dasar mengajar melalui pengalaman belajar imersif (β=0,165; p<0,01). Model penelitian mampu menjelaskan 61,3% variasi keterampilan dasar mengajar (R²=0,613). Temuan ini menegaskan bahwa microteaching berbasis virtual reality berpotensi menjadi pendekatan efektif dalam meningkatkan keterampilan pedagogis calon guru sekolah dasar di konteks pendidikan rural.
Development of SELASAR Learning Media to Improve Elementary School Students Social Skills Aldy Ferdiyansyah; Bagus Aulia Iskandar
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p213-227

Abstract

Abstract: The development of the digital era presents challenges for elementary school students in developing social skills amid the growing tendency toward technology based interactions, creating a need for learning media that align with digital generation characteristics while actively encouraging direct social interaction. This research intends to design and evaluate the efficacy of SELASAR learning media, which combines the classic snakes and ladders game with augmented reality technology to enhance social skills in elementary school students. The research utilized a Research and Development framework based on the DDD-E model, which includes the stages of decide, design, develop, and evaluate. Product trials were conducted using five indicators of social skills: peer relationship, self-management, academic skills, compliance, and affirmation. The results showed that the peer relationship aspect achieved 72.5% and was categorized as good, self-management reached 90% and was categorized as very good, academic skills achieved 81.25 percent and were categorized as very good, compliance reached 72.5% and was categorized as good, and affirmation achieved 76.25% and was categorized as very good. These findings indicate that SELASAR learning media are effective and practical for addressing challenges related to the development of social skills among elementary school students through interactive and technology integrated learning. Abstrak: Perkembangan era digital menghadirkan tantangan bagi siswa sekolah dasar dalam membangun keterampilan sosial di tengah kecenderungan interaksi berbasis teknologi, sehingga diperlukan media pembelajaran yang selaras dengan karakteristik generasi digital sekaligus mendorong interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji efektivitas media pembelajaran SELASAR sebagai integrasi permainan ular tangga tradisional dengan teknologi augmented reality untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa sekolah dasar. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model DDD-E yang meliputi tahap decide, design, develop, dan evaluate. Uji coba produk berdasarkan lima indikator keterampilan sosial menunjukkan hasil sebagai berikut: (1) aspek peer relationship dengan persentase skor 72,5% tergolong baik; (2) aspek self-management dengan persentase skor 90% tergolong sangat baik; (3) aspek akademik dengan persentase 81,25% tergolong sangat baik; (4) aspek kepatuhan dengan persentase skor 72,5% tergolong baik; (5) aspek penegasan dengan persentase 76,25% tergolong sangat baik. Media pembelajaran SELASAR terbukti efektif dan praktis digunakan dalam menjawab permasalahan terkait pengembangan keterampilan sosial siswa sekolah dasar melalui pembelajaran.
Enhancing Third-Grade Students’ Speaking Skills through the Integration of the Synectic Learning Model and the Extemporaneous Method Linda Amelia Putri; Panca Dewi Purwati
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p74-86

Abstract

Abstract: Based on initial observations conducted in the classroom, it appears that students' speaking skills are still low. They are not yet able to express ideas verbally, and the use of one-way learning models and approaches is the main cause. Given these issues, it is necessary to apply a synectic learning model with a deep learning approach assisted by extemporaneous methods. This study aims to describe, measure differences, and measure improvements in Indonesian speaking skills in third-grade elementary school students. The approach used is a mixed method (quantitative and qualitative). Qualitative data were obtained from observations, interviews, and documentation. Qualitative data explains the stages of activities and changes in student skills after the application of the synectic model, deep learning approach, and extemporaneous method. Quantitative data were obtained from the results of pretest and posttest speaking skills at SDN 02 Leteh with a total of 26 students. This study applies the second strategy synectic learning model, using analogies and speaking activities using a text framework to express understanding. The results of the Paired T-Test for the pretest and posttest proved that there was a significant difference between the two, with a t-value of -15.958 and a significance of 0.000. In addition, the N-Gain test results also showed a score of 0.6095 or 60%, indicating that the learning process provided was effective enough to improve students' speaking skills. The qualitative results reinforce the quantitative results, as demonstrated by the students' increased courage, fluency, and activity in speaking. Abstrak: Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di kelas, memperlihatkan bahwa keterampilan berbicara siswa masih rendah. Mereka belum mampu mengungkapkan gagasan secara lisan, penggunaan pembelajaran yang satu arah menjadi penyebab utama utama. Melalui permasalahan tersebut, maka perlu adanya penerapan model pembelajaran sinektik dengan pendekatan deep learning berbantuan metode ekstemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, mengukur perbedaan, serta mengukur peningkatan keterampilan berbicara bahasa Indonesia pada siswa kelas 3 sekolah dasar. Pendekatan yang digunakan adalah mixed method (kuantitatif dan kualitatif). Data kualitatif didapatkan dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data kuantitatif diperoleh dari hasil pretest dan posttest keterampilan berbicara di SDN 02 Leteh dengan jumlah 26 siswa. Penelitian ini menerapkan model pembelajaran sinektik strategi dua, menggunakan analogi dan kegiatan berbicara menggunakan kerangka teks untuk mengemukakan pemahamannya. Hasil Paired T-Test pretest dan posttest membuktikan adanya perbedaan signifikan antara keduanya, dengan nilai t-hitung -15,958 dan signifikansi 0,000. Selain itu, hasil uji N-Gain juga menunjukkan skor 0,6095 atau 60% yang menandakan bahwa perlakuan yang diberikan cukup efektif untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berbicara. Hasil kualitatif tersebut memperkuat hasil kuantitatif, sebagaimana terlihat dari meningkatnya keberanian, kelancaran, dan keaktifan para siswa dalam berbicara.
Development of Canva-Based Interactive Learning Media for Mixed Fractions in Elementary School Cecep Kurniawan; Sahrun Nisa; M. Habibi; Adrias; Masniladevi
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p119-132

Abstract

Abstract: The development of interactive learning media is crucial in elementary mathematics education, as abstract concepts often challenge students’ comprehension. This study focused on creating Canva-based interactive learning media for mixed-fraction topics that met validity, practicality, and effectiveness criteria. The ADDIE model was implemented in three elementary schools. The results showed that the media validation score increased significantly from 58% to 93.9%. Teacher and student response rates were also very high, reaching 94% and 91.5%, respectively. Furthermore, student learning outcomes improved significantly from an average score of 33.84285 to 86.592885 with an N-Gain score of 0,8041009763 categorized as high. These findings indicate that Canva-based interactive learning media are highly valid, practical, and effective for mathematics instruction. In addition, the integration of visual elements, animations, and interactive features enhances student engagement and helps them better visualize complex concepts such as mixed fractions. The use of technology-based media also supports student-centered learning and increases active participation. Overall, Canva demonstrates strong potential as an innovative tool to improve learning outcomes and conceptual understanding among elementary school students. Abstrak: Pengembangan media pembelajaran interaktif sangat penting dalam pendidikan matematika sekolah dasar, karena konsep-konsep abstrak seringkali menyulitkan pemahaman siswa. Penelitian ini berfokus pada pembuatan media pembelajaran interaktif berbasis Canva untuk topik pecahan campuran yang memenuhi kriteria validitas, kepraktisan, dan efektivitas. Model ADDIE diterapkan di tiga sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor validasi media meningkat secara signifikan dari 58% menjadi 93,9%. Tingkat respons guru dan siswa juga sangat tinggi, masing-masing mencapai 94% dan 91,5%. Selain itu, hasil belajar siswa meningkat secara signifikan dari skor rata-rata 33,84285 menjadi 86,592885 dengan skor N-Gain sebesar 0,8041009763 yang dikategorikan sebagai tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa media pembelajaran interaktif berbasis Canva sangat valid, praktis, dan efektif untuk pengajaran matematika. Selain itu, integrasi elemen visual, animasi, dan fitur interaktif meningkatkan keterlibatan siswa serta membantu mereka memvisualisasikan konsep-konsep rumit seperti pecahan campuran dengan lebih baik. Penggunaan media berbasis teknologi juga mendukung pembelajaran yang berpusat pada siswa dan meningkatkan partisipasi aktif mereka. Secara keseluruhan, Canva menunjukkan potensi yang besar sebagai alat inovatif untuk meningkatkan hasil belajar dan pemahaman konseptual di kalangan siswa sekolah dasar.
Empowering Cultural and Civic Literacy through Anti-Bullying Traditional Game-Based Learning in Elementary School Wuli Oktiningrum; Lutfiatus Zuhroh; Adzimatnur Muslihasari; Dyah Ayu Pramoda Wardhani; Andi Wibowo
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p133-147

Abstract

Abstract: This study develops and evaluates traditional game–based learning media—Ular Tangga and Engklek—integrated with anti-bullying elements and Indonesian cultural diversity content to enhance elementary students’ cultural and civic literacy. Employing the ADDIE development model, the research involved 28 fifth-grade students for field testing and 10 sixth-grade students for small-group trials. Data were collected through expert validation, observations, interviews, tests, and questionnaires. The learning media demonstrated strong validity, with expert scores exceeding 85%. Students’ learning outcomes improved substantially, as reflected in the increase from an average pre-test score of 56.0 to a post-test score of 81.4. The N-Gain value of 0.8183, categorized as high, confirms the effectiveness of the media in strengthening students’ understanding of cultural diversity and bullying prevention. The findings indicate that embedding cultural, civic, and moral values into traditional games offers a formal, culturally responsive instructional approach that promotes cognitive development and positive social behavior in elementary education. Abstrak: Penelitian ini mengembangkan dan mengevaluasi media pembelajaran berbasis permainan tradisional—Ular Tangga dan Engklek—yang diintegrasikan dengan unsur-unsur anti-bullying dan konten keragaman budaya Indonesia guna meningkatkan literasi budaya dan kewarganegaraan siswa sekolah dasar. Dengan menggunakan model pengembangan ADDIE, penelitian ini melibatkan 28 siswa kelas lima untuk uji lapangan dan 10 siswa kelas enam untuk uji coba kelompok kecil. Data dikumpulkan melalui validasi ahli, observasi, wawancara, tes, dan kuesioner. Media pembelajaran tersebut menunjukkan validitas yang kuat, dengan skor penilaian ahli melebihi 85%. Hasil belajar siswa meningkat secara signifikan, sebagaimana tercermin dari kenaikan skor rata-rata pra-tes sebesar 56,0 menjadi skor pasca-tes sebesar 81,4. Nilai N-Gain sebesar 0,8183, yang dikategorikan sebagai tinggi, menegaskan keefektifan media tersebut dalam memperkuat pemahaman siswa tentang keragaman budaya dan pencegahan perundungan. Temuan ini menunjukkan bahwa pengintegrasian nilai-nilai budaya, kewarganegaraan, dan moral ke dalam permainan tradisional menawarkan pendekatan pembelajaran formal yang responsif secara budaya, yang mendorong perkembangan kognitif dan perilaku sosial yang positif dalam pendidikan dasar.