cover
Contact Name
Betty Masruroh
Contact Email
betty.masruroh@um.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.sd@gmail.com
Editorial Address
Universitas Negeri Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan
ISSN : 08548285     EISSN : 25811983     DOI : 10.17977
Core Subject :
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan publishes articles on conceptual ideas, studies, and application of theories, practical writing, and the results of educational research and teaching of primary schools. Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan first appeared in 1992 under the name KREATIF. SEKOLAH DASAR changed its name to Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan starting 2017. In 2018 Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan indexed DOAJ.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
The Implementation of Team Games Tournament-Based Peer Tutoring for Problem-Solving Ability in Fifth-Grade English Learning Diah Sinta Sri Berlianti; Patria Handung Jaya
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p1-15

Abstract

Abstract: Elementary students still face challenges in developing problem-solving ability in English learning due to conventional teaching methods such as teacher-centered instruction and lecturing which make students passive learners. This issue requires innovative and engaging learning models that can increase student participation, motivation, and learning outcomes. This quantitative experimental study investigates the effectiveness of TGT-based peer tutoring in enhancing V grade students’ problem-solving ability in English. The study involved 50 students of Muhammadiyah Elementary School Karangploso, divided equally into an experimental class (25 students) and a control class (25 students). Data were collected using a descriptive test designed according to Polya’s problem-solving indicators and analysed through normality, homogeneity, and independent sample t-tests using SPSS 30. The results demonstrated a significant difference between the two groups, with the experimental class achieving an average post-test score of 83.40, compared to 61.00 in the control class. These findings indicate that peer tutoring based on TGT is more effective than conventional teaching methods in improving students’ problem-solving abilities. In conclusion, the TGT based Peer Tutoring model offers a strategic method for improving the quality of English instruction and strengthening problem-solving competence in an elementary school context. Abstrak: Siswa sekolah dasar masih menghadapi tantangan dalam mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dalam pembelajaran bahasa Inggris akibat metode pengajaran konvensional seperti pengajaran yang berpusat pada guru dan ceramah, yang membuat siswa menjadi pembelajar pasif. Masalah ini membutuhkan model pembelajaran yang inovatif dan menarik yang dapat meningkatkan partisipasi, motivasi, serta hasil belajar siswa. Penelitian kuantitatif ini mengkaji efektivitas bimbingan sebaya berbasis TGT dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas V dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Penelitian ini melibatkan 50 siswa Sekolah Dasar Muhammadiyah Karangploso, yang dibagi secara merata menjadi kelas eksperimen (25 siswa) dan kelas kontrol (25 siswa). Data dikumpulkan menggunakan tes deskriptif yang dirancang berdasarkan indikator pemecahan masalah Polya dan dianalisis melalui uji normalitas, homogenitas, serta uji-t sampel independen menggunakan SPSS 30. Hasil menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, dengan kelas eksperimen mencapai skor rata-rata pasca-tes sebesar 83,40, dibandingkan dengan 61,00 pada kelas kontrol. Temuan ini menunjukkan bahwa bimbingan teman sebaya berdasarkan TGT lebih efektif daripada metode pengajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Kesimpulannya, model Bimbingan Sebaya berbasis TGT menawarkan metode strategis untuk meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Inggris dan memperkuat kompetensi pemecahan masalah dalam konteks sekolah dasar.
Analysis of Tryout Test Item for Students of the Elementary School Teacher Professional Education Program Titis Angga Rini; Yuniawatika
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p30-40

Abstract

Abstract: This research is motivated by the importance of the availability of valid and reliable test instruments in measuring the four main competencies of elementary school teachers, which include professional, pedagogical, personality, and social competencies according to educational professionalism standards in Indonesia. The purpose of this study is to analyze the quality of the competency test tryout instrument in the elementary teacher professional education program (PPG SD) through tests of differentiation, difficulty, validity, reliability, and effectiveness of the diverter, so that the feasibility of the question items used can be determined. The research method used a quantitative approach with the analysis of question items on 35 test items, including the validity test, the reliability of Cronbach's Alpha, as well as the analysis of the distribution of answers and the effectiveness of the trickster. The results of the study showed that some of the questions had sufficient quality with adequate differentiation, moderate difficulty, and a well-functioning distractor, but still many invalid items and ineffective deceptionists were found. The reliability value of the instrument was around 0.7, indicating a fairly good internal consistency, although there were still items with low correlations that needed to be revised. Thus, this test instrument has the potential to be used as a competency measurement tool for students of the PPG SD Program, but requires a thorough revision of several items to be more valid, reliable, and representative. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya ketersediaan instrumen tes yang valid dan reliabel dalam mengukur empat kompetensi utama guru sekolah dasar, yaitu kompetensi profesional, pedagogis, kepribadian, dan sosial sesuai dengan standar profesi pendidikan di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas instrumen uji coba tes kompetensi dalam program pendidikan profesional guru sekolah dasar (PPG SD) melalui pengujian diferensiasi, tingkat kesulitan, validitas, reliabilitas, dan efektivitas distraktor, sehingga kelayakan butir-butir soal yang digunakan dapat ditentukan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis terhadap 35 butir soal, termasuk pengujian validitas, reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha, serta analisis distribusi jawaban dan efektivitas distraktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa soal memiliki kualitas yang memadai dengan tingkat daya pembeda yang cukup, tingkat kesulitan sedang, dan pilihan jawaban pengecoh yang berfungsi dengan baik, namun masih ditemukan banyak item yang tidak valid dan pilihan jawaban pengecoh yang tidak efektif. Nilai reliabilitas instrumen tersebut sekitar 0,7, yang menunjukkan konsistensi internal yang cukup baik, meskipun masih terdapat item dengan korelasi rendah yang perlu direvisi. Dengan demikian, instrumen tes ini berpotensi digunakan sebagai alat pengukuran kompetensi bagi mahasiswa Program PPG SD, namun memerlukan revisi menyeluruh terhadap beberapa butir soal agar lebih valid, reliabel, dan representatif.
Implementation of the Philosophy for Children Approach to Build Critical Thinking Skills: A Case Study in Elementary School Diki Somantri; Yusuf Tri Herlambang; Dinie Anggraeni Dewi
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 34 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v34i22025p309-324

Abstract

Abstract: The 21st century demands critical thinking skills, a competence often underdeveloped by conventional elementary teaching methods. This creates a significant gap, particularly in contexts like Indonesia's Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) regions where students are vulnerable to misinformation. This qualitative case study thus aimed to analyze how the "Philosophy for Children" (P4C) approach, integrated within a Problem-Based Learning (PBL) model, can cultivate critical thinking skills in elementary school students. The research involved 10 sixth-grade students and the researcher as a teacher-facilitator. Data were collected over three learning sessions via participatory observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The findings reveal that this P4C-PBL implementation effectively fostered critical thinking, manifesting in three central themes: (1) a cognitive shift from passive information reception to critical inquiry and skepticism towards media messages; (2) an evolution in thought from personal issues to nuanced ethical reasoning and collaborative action; and (3) the teacher's pivotal role as an architect of a democratic and humanist learning community. This study underscores the urgent need for a pedagogical paradigm shift in primary education to empower students with robust critical thinking capabilities. Abstrak: Abad ke-21 menuntut keterampilan berpikir kritis, suatu kompetensi yang seringkali kurang berkembang akibat metode pengajaran konvensional di tingkat sekolah dasar. Hal ini menciptakan kesenjangan yang signifikan, terutama di wilayah-wilayah seperti Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) di Indonesia, di mana siswa rentan terhadap informasi yang menyesatkan. Studi kasus kualitatif ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pendekatan “Filsafat untuk Anak-Anak” (P4C), yang diintegrasikan dalam model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL), dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini melibatkan 10 siswa kelas enam dan peneliti sebagai guru fasilitator. Data dikumpulkan selama tiga sesi pembelajaran melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Temuan menunjukkan bahwa implementasi P4C-PBL ini secara efektif mengembangkan pemikiran kritis, yang tercermin dalam tiga tema utama: (1) pergeseran kognitif dari penerimaan informasi pasif menjadi penyelidikan kritis dan skeptisisme terhadap pesan media; (2) perkembangan pemikiran dari masalah pribadi menjadi penalaran etis dan tindakan kolaboratif; dan (3) peran sentral guru sebagai arsitek komunitas belajar demokratis dan humanis. Studi ini menekankan kebutuhan mendesak akan pergeseran paradigma pedagogis dalam pendidikan dasar untuk memberdayakan siswa dengan kemampuan berpikir kritis yang kokoh.
The Potential of Geoparks for Sustainability Learning Resources in Elementary Schools: A Review Styo Mahendra Wasita Aji; Herti Prastitasari; Miftha Huljannah; Nurul Julaifah
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p164-176

Abstract

Abstract: The environment can be a source of learning that is relevant to elementary school students according to their developmental stages. The purpose of this study is to describe the role of geoparks for education so far, to describe geopark opportunities as a learning resource in elementary schools, and to describe the challenges of geoparks as a learning resource in elementary schools. The research is based on a systematic method of literature review that refers to the PRISMA flow. Systematic literature review consists of identification, screening, and included steps. The reviewed articles went through the screening and study of the PRISMA pipeline with the Scopus database between 2020 until 2025. The results of the study show that there is a role that has been carried out by geoparks as a place that contains knowledge and values about sustainability, the potential of geoparks as a sustainability-based learning resource, and challenges as a learning resource in elementary schools with sustainability values that require regulatory certainty as a form of community involvement in preserving geoheritage heritage. The next recommendation is the potential for the development of teaching materials or a geopark-based learning model that can be carried out. Abstrak: Lingkungan dapat menjadi sumber pembelajaran yang relevan bagi siswa sekolah dasar sesuai dengan tahap perkembangannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan peran geopark dalam pendidikan hingga saat ini, mengidentifikasi potensi geopark sebagai sumber daya pembelajaran di sekolah dasar, serta mengidentifikasi tantangan geopark sebagai sumber daya pembelajaran di sekolah dasar. Penelitian ini didasarkan pada metode tinjauan pustaka sistematis yang mengacu pada alur PRISMA. Tinjauan pustaka sistematis terdiri dari tahap identifikasi, penyaringan, dan inklusi. Artikel-artikel yang ditinjau telah melalui proses penyaringan dan analisis menggunakan alur kerja PRISMA dengan basis data Scopus dari tahun 2020 hingga 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa geopark memiliki peran sebagai tempat yang menyimpan pengetahuan dan nilai-nilai tentang keberlanjutan, potensi geopark sebagai sumber belajar berbasis keberlanjutan, serta tantangan dalam penggunaannya sebagai sumber belajar di sekolah dasar yang mengedepankan nilai-nilai keberlanjutan; hal ini memerlukan kepastian regulasi sebagai bentuk keterlibatan masyarakat dalam melestarikan warisan geologi. Rekomendasi selanjutnya adalah potensi pengembangan bahan ajar atau model pembelajaran berbasis geopark yang dapat diimplementasikan.
Analysis of Learning Styles in Differentiated Indonesian Language Learning Based on Multiple Intelligences in Elementary School Students Widi Maryani; Retno Winarni; Sukarno
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 34 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v34i22025p325-341

Abstract

Abstract: Recognizing individual diversity is essential for supporting children's learning, particularly in language skills. A differentiated learning approach that aligns with children's learning styles can significantly enhance the effectiveness of language acquisition by addressing specific needs and characteristics. The research method utilized a qualitative approach with a case study design. The subjects were five fifth-grade students during the 2024/2025 academic year. Data collection techniques included document analysis, observation, and interviews. Data was analyzed using the linear approach data analysis technique (John W. Creswell model). The primary objectives of this qualitative case study were to: 1) determine children's language learning style profiles, 2) identify effective ways to teach language skills based on these styles, and 3) measure the impact of differentiated learning, tailored to learning styles, on improving language proficiency. The study identified distinct student characteristics: visual learners relied on sight and preferred neatness; auditory learners depended on hearing and preferred listening; kinesthetic learners were physically active and enjoyed direct practice; interpersonal learners thrived in group settings; and intrapersonal learners preferred independent study. The results affirm that teachers can effectively apply differentiated learning to facilitating the language learning process for all students. Abstrak: Mengenali keragaman individu sangat penting untuk mendukung pembelajaran anak-anak, terutama dalam keterampilan bahasa. Pendekatan pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai dengan gaya belajar anak-anak dapat secara signifikan meningkatkan efektivitas penguasaan bahasa dengan mengatasi kebutuhan dan karakteristik spesifik mereka. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian adalah lima siswa kelas lima pada tahun ajaran 2024/2025. Teknik pengumpulan data meliputi analisis dokumen, observasi, dan wawancara. Data dianalisis menggunakan teknik analisis data pendekatan linier (model John W. Creswell). Tujuan utama studi kasus kualitatif ini adalah: 1) menentukan profil gaya belajar bahasa anak-anak, 2) mengidentifikasi cara efektif untuk mengajarkan keterampilan bahasa berdasarkan gaya belajar tersebut, dan 3) mengukur dampak pembelajaran berdiferensiasi terhadap peningkatan kemahiran bahasa. Studi ini mengidentifikasi karakteristik siswa yang berbeda-beda: siswa yang belajar secara visual mengandalkan penglihatan dan lebih menyukai kerapian; siswa yang belajar secara auditori bergantung pada pendengaran dan lebih menyukai mendengarkan; siswa yang belajar secara kinestetik aktif secara fisik dan menikmati praktik langsung; siswa yang belajar secara interpersonal berkembang baik dalam lingkungan kelompok; dan siswa yang belajar secara intrapersonal lebih menyukai belajar secara mandiri. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa guru dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi secara efektif untuk mengakomodasi gaya belajar yang beragam ini untuk memfasilitasi proses pembelajaran bahasa bagi semua siswa.
Development of Project-Based Learning Oriented Teaching Materials for Elementary School Learning Media Course in the OBE-Based Merdeka Curriculum Gusti Ayu Dewi Setiawati; Ketut Manik Asta Jaya; Kadek Yudista Witraguna; Ni Nyoman Tri Wahyuni; I Gusti Putu Suyatna Juliantara; I Komang Agus Bayu Juniarta
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 34 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v34i22025p354-367

Abstract

Abstract: This research aims to develop project-based learning-oriented teaching materials for the elementary school learning media course in the OBE-based Merdeka Curriculum to improve the student’s learning process, using the ADDIE development model. Designed for the elementary school teacher education program at I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar State Hindu University, the process included needs analysis, material design, development (lesson plans and modules), and validation by five experts evaluating content, media, and language. Effectiveness and practicality were assessed through lecturer and student response questionnaires. Results show the teaching material is valid and practical, with lesson plans rated “very feasible,” modules achieving a positive Content Validity Ratio (CVR > 0), and high practicality scores (93 percent and 92.65 percent). These findings indicate strong acceptance by both lecturers and students. The integration of Outcome-Based Education (OBE), the Merdeka Curriculum, and Project-Based Learning (PjBL) within a single instructional resource offers a new model connecting theory, practice, and real classroom application. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar berbasis proyek untuk mata pelajaran media pembelajaran di sekolah dasar dalam Kurikulum Merdeka berbasis OBE, guna meningkatkan proses belajar siswa, yang dilakukan dengan menggunakan model pengembangan ADDIE. Dirancang untuk program studi pendidikan guru sekolah dasar di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, prosesnya meliputi analisis kebutuhan, desain materi, pengembangan (rencana pembelajaran dan modul), serta validasi oleh lima ahli yang mengevaluasi konten, media, dan bahasa. Efektivitas dan kepraktisan dievaluasi melalui kuesioner respon dosen dan siswa. Hasil menunjukkan bahan ajar tersebut valid dan praktis, dengan rencana pembelajaran yang dinilai “sangat layak,” modul mencapai Content Validity Ratio (CVR) positif (CVR > 0), dan skor kepraktisan yang tinggi (93 persen dan 92,65 persen). Temuan ini menunjukkan penerimaan yang kuat baik dari dosen maupun siswa. Integrasi Outcome-Based Education (OBE), Kurikulum Merdeka, dan Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) dalam satu sumber daya instruksional menawarkan model baru yang menghubungkan teori, praktik, dan penerapan secara nyata di kelas.
Reading Ability Profile of Fifth Grade Elementary School Students: A Comprehensive Analysis Using the Early Grade Reading Assessment (EGRA) Jaka Nurhidayat; Yunus Abidin
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 34 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v34i22025p342-353

Abstract

Abstract: Reading ability is crucial to academic achievement, yet identifying students’ abilities solely based on communication without accurate data can hinder effective learning-strategy interventions. This study aims to identify students’ reading profiles, including letter recognition, syllables, words, listening, reading fluency, and comprehension, using a quantitative, descriptive approach with 36 fifth-grade students as samples. The main instrument is the Early Grade Reading Assessment (EGRA). Results show students possess strong decoding skills, with perfect mastery of letters, syllables, words, and excellent reading fluency (K1, K2). This confirms the achievement of automaticity standards in decoding. However, listening comprehension remains a challenge for a quarter of students, while in reading comprehension, 47.2 percent of students scored below perfect on P1, and most scored low on P2. This shows that reading ability does not always align with students’ comprehension skills. The Understanding Factor (C) is a significant cognitive barrier, manifested in the failure of inference and information synthesis. These findings validate the Simple View of Reading model and emphasize the importance of shifting the intervention paradigm from a focus on decoding to the explicit and systematic development of comprehension strategies.Abstrak: Kemampuan membaca sangat penting bagi prestasi akademik siswa, namun mengidentifikasi kemampuan siswa hanya berdasarkan komunikasi tanpa data yang akurat dapat menghambat intervensi strategi belajar yang efektif. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil kemampuan membaca siswa, termasuk pengenalan huruf, suku kata, kata, mendengarkan, kelancaran membaca, dan pemahaman, menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan 36 siswa kelas lima sebagai sampel. Instrumen utama yang digunakan adalah Early Grade Reading Assessment (EGRA). Hasil menunjukkan bahwa siswa memiliki keterampilan decoding yang kuat, dengan penguasaan sempurna terhadap huruf, suku kata, kata, dan kelancaran membaca yang excellent (K1, K2). Hal ini mengonfirmasi pencapaian standar otomatisasi dalam decoding. Namun, pemahaman mendengarkan tetap menjadi tantangan bagi seperempat siswa, sementara pada pemahaman membaca, 47,2 persen siswa memperoleh skor di bawah sempurna pada P1, dan sebagian besar memperoleh skor rendah pada P2. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca tidak selalu sejalan dengan keterampilan pemahaman siswa. Faktor Pemahaman (C) merupakan hambatan kognitif yang signifikan, yang tercermin dalam kegagalan dalam membuat kesimpulan dan sintesis informasi. Temuan ini mengonfirmasi model Simple View of Reading dan menekankan pentingnya mengubah paradigma intervensi dari fokus pada dekodasi menjadi pengembangan eksplisit dan sistematis strategi pemahaman.
Augmented Reality-Based E-Module for Virtual Field Trips to Enhance Spatial Thinking and Problem-Solving Muhammad Fathul Fuadi; Wasino
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p41-54

Abstract

Abstract: This study aimed to develop and validate an augmented reality (AR)-based e-module incorporating virtual field trips (VFTs) to improve spatial thinking and problem-solving skills in elementary science education. Utilizing a Research and Development (R&D) methodology guided by the ADDIE model, the research involved 64 fifth-grade students divided into experimental and control groups. Data were gathered through spatial thinking and problem-solving assessments, observation checklists, and student feedback surveys, and subsequently analyzed using ANCOVA. The results demonstrated that the experimental group significantly outperformed the control group (p < .05). Qualitative feedback further revealed enhanced student engagement, visualization capabilities, and conceptual understanding. The primary contribution of this study is its demonstration of how integrating AR with VFTs advances existing learning theories by connecting embodied visualization with inquiry-based problem-solving. The novelty of this research lies in applying AR-enhanced VFTs within elementary science education in resource-limited settings, where opportunities for real-world field experiences are scarce. Beyond the local context, these findings contribute to the global discourse on utilizing immersive technologies to cultivate essential 21st-century skills, particularly spatial reasoning and problem-solving, which are vital across STEM education worldwide. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi modul e-learning berbasis augmented reality (AR) yang mengintegrasikan kunjungan lapangan virtual (VFT) untuk meningkatkan kemampuan berpikir spasial dan pemecahan masalah dalam pendidikan sains tingkat dasar. Menggunakan metodologi Penelitian dan Pengembangan (R&D) yang didasarkan pada model ADDIE, penelitian ini melibatkan 64 siswa kelas lima yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data dikumpulkan melalui penilaian pemikiran spasial dan pemecahan masalah, daftar periksa observasi, dan survei umpan balik siswa, dan kemudian dianalisis menggunakan ANCOVA. Hasil menunjukkan bahwa kelompok eksperimen secara signifikan outperformed kelompok kontrol (p < .05).Umpan balik kualitatif lebih lanjut mengungkapkan peningkatan keterlibatan siswa, kemampuan visualisasi, dan pemahaman konseptual. Kontribusi utama studi ini adalah demonstrasinya tentang bagaimana integrasi AR dengan VFTs memperkaya teori pembelajaran yang ada dengan menghubungkan visualisasi yang tertanam dengan pemecahan masalah berbasis penyelidikan. Keunikan penelitian ini terletak pada penerapan VFTs yang diperkaya AR dalam pendidikan sains dasar di lingkungan dengan sumber daya terbatas, di mana kesempatan untuk pengalaman lapangan di dunia nyata jarang tersedia. Di luar konteks lokal, temuan ini berkontribusi pada diskusi global tentang penggunaan teknologi imersif untuk mengembangkanketerampilan abad ke-21 yang esensial, terutama penalaran spasial dan pemecahan masalah, yang vital dalam pendidikan STEM di seluruh dunia.
Effectiveness of Edugame Integration in Problem Based Learning: Impact Analysis on Students' Critical Thinking and Motivation Tiawanti; M. Zainal Arifin; Deddy Sofyan S
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p16-29

Abstract

Several studies have shown that the low score of Indonesia's PISA in 2022 is due to weak 21st-century skills competencies, such as critical thinking skills. The implementation of learning models and media has not been able to facilitate students' critical thinking. Students only listen, read books, and do recall exercises. This study aims to provide alternative solutions for implementing a problem-based learning model assisted by edugames to improve critical thinking skills and learning motivation, using a quasi-experimental method with a Pretest and Posttest Control-Group. The study subjects involved 40 fifth-grade elementary school students, divided into a control class using problem-based learning without edugames and an experimental class using problembased learning assisted by edugames. Analysis of critical thinking skills using the N-Gain test showed that the control class obtained a score of 0.44 in the moderate category and the experimental class 0.71 in the high category. Student learning motivation was indicated by the questionnaire results, which were 93.4% in the very strong criteria. The t-test results illustrated a significant difference between the control and experimental classes. This study concluded that problem-based learning assisted by edugames is effective in improving students' critical thinking skills and learning motivation. Abstrak: Beberapa kajian faktor rendahnya skor PISA Indonesia tahun 2022 disebabkan lemahnya kompetensi keterampilan.abad ke-21, seperti keterampilan berpikir kritis. Implementasi model dan media pembelajaran belum mampu memfasilitasi siswa berpikir kritis. Siswa hanya menyimak, membaca buku dan mengerjakan soal latihan bersifat recall. Penelitian ini bertujuan menghasilkan solusi alternatif implementasi model pembelajaran berbasis masalah berbantuan edugame untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan motivasi belajar, dengan metode kuasi eksperimen desain rancangan Pretest and Posttest Control-Group Design. Subyek penelitian melibatkan 40 siswa kelas 5 Sekolah Dasar, terbagi kelas kontrol menggunakan pembelajaran berbasis masalah tanpa edugame dan kelas eksperimen menggunakan pembelajaran berbasis masalah berbantuan edugame. Analisis keterampilan berpikir kritis menggunkan uji N-Gain kelas kontrol memperoleh 0,44 kategori sedang dan kelas eksperimen 0,71 kategori tinggi. Motivasi belajar siswa ditunjukkan dengan hasil angket yaitu 93,4% kriteria sangat kuat. Hasil uji-t menggambarkan perbedaan signifikan kelas kontrol dan eksperimen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah berbantuan edugame efektif meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa.  
Beyond the Numerator: Visualizing the Equal Partitioning Barrier in Elementary Fraction Learning Davina Aurelia; Slamet Arifin; Siti Faizah
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p148-163

Abstract

Abstract: Understanding fractions remains a persistent challenge for elementary students, particularly when translating verbal mathematical problems into visual representations. This study aims to analyze the visual-conceptual difficulties of elementary school students in understanding fractions, specifically the principles of equal partitions and equivalence fraction, through visual representations. Using a thematic content analysis within a descriptive qualitative design, six fifth-grade students were selected based on their mathematical representation skills. Instruments included an illustrated diagnostic test (6 figures) and semi-structured interviews. The results reveal that the majority of students exhibited significant misconceptions rooted not in an inability to see differences, but in a "counting schema". They defined fractions solely by counting shaded parts versus total parts, ignoring the requirement of equal area. Specifically, students failed to apply the equal partition principle to disproportionate images, made systematic denominator errors due to excessive focus on the numerator, and showed rigidity in recognizing equivalent fractions (e.g., rejecting 2/6 the same as 1/3). These findings confirm that a discrete (counting) rather than continuous (measuring) reasoning schema acts as a significant conceptual barrier. Therefore, this study recommends non-prototypical and dynamic visual training that explicitly disrupts the counting habit and forces students to verify equal partitioning before labeling a fraction. Abstrak: Memahami pecahan masih menjadi tantangan bagi siswa sekolah dasar, terutama saat mengubah soal matematika lisan menjadi representasi visual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan visual-konseptual yang dialami siswa sekolah dasar dalam memahami pecahan, khususnya prinsip pembagian yang sama besar dan pecahan senilai, melalui representasi visual. Dengan menggunakan analisis tematik dalam kerangka desain kualitatif deskriptif, enam siswa kelas lima dipilih berdasarkan kemampuan mereka dalam merepresentasikan konsep matematika. Instrumen yang digunakan meliputi tes diagnostik bergambar (6 gambar) dan wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menunjukkan kesalahpahaman yang signifikan, bukan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk melihat perbedaan, melainkan karena "skema penghitungan". Mereka mendefinisikan pecahan semata-mata dengan menghitung bagian yang diarsir dibandingkan dengan jumlah keseluruhan bagian, tanpa memperhatikan syarat luas bagian yang sama besar. Secara spesifik, siswa gagal menerapkan prinsip pembagian yang sama besar pada gambar yang tidak proporsional, membuat kesalahan dalam menentukan penyebut karena cenderung fokus pada pembilang, dan menunjukkan kekakuan dalam mengenali pecahan yang senilai (seperti, menolak 2/6 sama dengan 1/3). Temuan ini menegaskan bahwa skema penalaran diskrit (penghitungan) —bukan skema penalaran kontinu (pengukuran)— menjadi sebagai hambatan konseptual yang signifikan. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pelatihan visual yang tidak prototipikal dan dinamis, yang secara eksplisit mengurangi kebiasaan menghitung bagian dan memaksa siswa untuk memverifikasi pembagian yang sama sebelum memberi label pada suatu pecahan.