cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Animal Agricultural Journal
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
POLA PERTUMBUHAN BOBOT BADAN KAMBING KACANG BETINA DI KABUPATEN GROBOGAN (Growth Pattern of Body Weight of Female Kacang Goats in Grobogan Regency) Abadi, Tulus; Lestari, C.M. Sri; Purbowati, Endang
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.081 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan mengetahui pola pertumbuhan bobot badan kambing Kacang betina di Kabupaten Grobogan. Materi penelitian berupa 150 ekor kambing Kacang betina yang berumur 0-3 bulan sebanyak 23 ekor, >3-6 bulan sebanyak 29 ekor, >6-9 bulan sebanyak 21 ekor, >9-12 bulan sebanyak 11 ekor, >12-18 bulan sebanyak 15 ekor, >18-30 bulan sebanyak 16 ekor, >30-42 bulan sebanyak 16 ekor dan umur > 42 bulan sebanyak 20 ekor. Penelitian dilakukan dengan metode survey. Penentuan lokasi dan sampel penelitian dengan metode purposive sampling berdasarkan populasi kambing Kacang terbanyak serta jenis kelamin dan umur ternak. Penimbangan kambing Kacang dilakukan dengan cara manual. Pola pertumbuhan bobot badan kambing Kacang diketahui menggunakan Analisis regresi-korelasi dengan program Microsoft Exel 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan bobot badan pada setiap kelompok umur kambing Kacang betina yaitu 5,76 kg ±sd (0-3 bulan), 9,31 kg ±sd (3-6 bulan), 13,41 kg ±sd (6-9 bulan), 14,52 kg ±sd (9-12 bulan), 19,14 kg ±sd (12-18 bulan), 21,13 kg ±sd (18-30 bulan), 24,88 kg ±sd (30-42 bulan), dan 31,03 kg ±sd (> 42 bulan).  Pola petumbuhan bobot badan membentuk kurva dengan persamaan y = -0,00215x2 + 0,61764x + 6,91315 artinya semakin meningkat dengan meningkatnya umur. Kesimpulan penelitian adalah pertumbuhan bobot badan kambing Kacang betina di Kabupaten Grobogan mempunyai pola pertumbuhan membentuk kurva kuadratik. Kata kunci: kambing Kacang betina; bobot badan; pola pertumbuhan ABSTRACT             The study was aimed determine the growth pattern of body weight of female Kacang goat in Grobogan. The research was done by survey and used 150 female Kacang goats aged from 0-3 months many as 23 materials,> 3-6 months many as 29 materials,> 6-9 months many as 21 materials,> 9-12 months many as 11 materials,> 12-18 months many as 15 materials,> 18 -30 months many as 16 materials,> 30-42 months many as 16 materials and age> 42 months many 20 as materials. The location and the sample were determined by purposive sampling method based on the Kacang goat population, sex and age. Body weight of Kacang goat was measured by weighing manually. Body weight growth pattern of Kacang goats was determined by regression-correlation analysis using Microsoft Excel 2007 program. The result showed that the average body weight of female Kacang goat for each age group were 5.76 kg ±sd (0-3 months), 9.31 kg ±sd (3-6 months), 13.41 kg ±sd (6-9 months), 14.52 kg ±sd (9-12 months), 19.14 kg ±sd (12-18 months), 21.13 kg ±sd (18-30 months), 24.88 kg ±sd (30-42 months), and 31.03 kg ±sd (> 42 months). The growth pattern of body weight was found curveliniarly fit to equation of y = -0.00215x2 + 0.61764x + 6.91315 it’s mean increased with increasing age. The conclusion of study was the growth of body weight of female Kacang goat in Grobogan had the growth patterns to form a quadratic curve. Keywords: female Kacang goat; body weight; growth pattern 
HERITABILITAS UKURAN TUBUH BRANTI HASIL PERSILANGAN ANTARA ITIK (Anas plathyrynchos) DAN ENTOG (Cairina moschata) UMUR 1-4 MINGGU DI KABUPATEN BREBES JAWA TENGAH (Heritability of body size Branti Results Crosses Between Duck (Anas Plathyryncos) and entog Hapsari, Ratna Kusuma; Sutiyono, Sutiyono; Sutopo, Sutopo
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 4 (2014): Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.163 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses seleksi perbibitan Brantihasil persilangan antara itik dan entog pada peternakan itik tradisional di Kabupaten Brebes. Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah memperoleh informasi dan proses seleksi perbibitan Branti pada pola pemeliharaan Tradisional di Kabupaten Brebes. Materi  yang digunakan dalam penelitian adalah Branti dari persilangan itik dan entog jantan maupun betina di Kabupaten Brebes sejumlah 155 ekor. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Syarat dan penentuan didasarkan atas populasi terbesar itik di Kabupaten Brebes serta kelompok tani ternak yang memiliki ternak itik dan entog yang menghasilkan Branti. Pengambilan data dilakukan dengan cara pengukuran secara langsung. Parameter yang diamati umur; Panjang Pangkal Sayap/Humerus (V1), Panjang Paha Atas/Femur (V2), Panjang Paha Bawah/Tibia (V3), Panjang Badan/Clacicl-pubis (V4), Panjang Leher/Atlas-clavicle (V5) dan pertumbuhan branti pada umur tertentu yaitu 1-4 minggu. Heritabilitas dari ukuran tubuh branti jantan dan betina umur 1 – 4 minggu yang terbesar adalah Panjang Badan/Clacicl-pubis dengan nilai rata – rata heritabilitas pada branti jantan umur 1 minggu yaitu 0,968 dengan rata – rata ukuran panjang badan 9,01 cm; umur 2 minggu dengan rata – rata 0,972 dan rata –rata ukuran panjang badan 9,67 cm; umur 3 minggu dengan rata – rata 0,9815 dan rata – rata ukuran panjang badan 11,97 cm; umur 4 minggu dengan rata – rata 0,9855 dan rata – rata ukuran panjang badan 13,47 cm; sedangkan pada branti betina memiliki nilai rata – rata heritabilitas 0,9395 umur 1 minggu dan rata – rata ukuran panjang badan 8,77 cm; nilai rata – rata heritabilitas 0,946 umur 2 minggudan rata – rata ukuran panjang badan 9,37 cm; nilai rata – rata heritabilitas 0,993 umur 3 minggudan rata – rata ukuran panjang badan 11,67 cm; nilai rata – rata heritabilitas 0,994 umur 4 minggu dan rata – rata ukuran panjang badan 13,17 cm. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa nilai heritabilitas tertinggi terletak pada panjang badan/ clacicl-pubis antara itik dan entok dengan branti atau tiktok.Kata Kunci : Branti, seleksi, heritabilitas, ukuran tubuh itik ABSTRACT.This study aims to determine the breeding selection process Branti result of a cross between duck and entog on traditional duck farms in Bradford district. The benefits to be gained from this research is the formation and selection process memperolehinBranti breeding patterns Traditional maintenance in Bradford district .The material used in this study are from a cross Brantientog ducks and male and female in Bradford district tail number 155 . Research conducted by purposive sampling method . Terms and determination was based on the largest population of ducks in the Bradford district and farmer group that has a duck and entog which produces Branti . Data collection was done by direct measurement . Parameters observed age ; Long Lists Wing/ humerus ( V1 ) , Upper Thigh length/femur (V2) , Long Thigh Bottom/Tibia (V3) , Long Body/Clacicl - pubis (V4) , Long Neck/Atlas - clavicle (V5) and Branti growth at a certain age is 1-4 weeks . Branti heritability of body size of males and females aged 1-4 weeks were the largest Long Firm/ Clacicl - pubis with value - average heritability Branti 1 week old males is 0.968 with the average - average body length of 9.01 cm , age 2 week with the average - average 0,972 and an average body length of 9.67 cm , age 3 weeks with the average - average 0.9815 and the average - average body length of 11.97 cm with a mean age of 4 weeks - average 0.9855 and average - average body length of 13.47 cm , while the females have Branti value - average heritability 0.9395 age 1 week and the average - average body length of 8.77 cm value - average heritability of 0.946 age of 2 weeks and average - average body length of 9.37 cm value - average heritability of 0.993 and the average age of 3 weeks - average body length of 11.67 cm value - average heritability of 0.994 and a mean age of 4 weeks - average body length of 13 , 17 cm . Based on the results of this study concluded that the highest heritability value lies in the length of the body / clacicl - pubis between duck and wild duck with Branti or ticktock .Keywords :Branti , selection, heritability , body size ducks
PENGARUH LAMA PENYANGRAIAN TELUR ASIN SETELAH PEREBUSAN TERHADAP KADAR NaCl, TINGKAT KEASINAN DAN TINGKAT KEKENYALAN Budiman, Arif; Hintono, Antonius; Kusrahayu, Kusrahayu
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Egg is one of the food products derived from poultry which is easily damaged and rotten. The content of protein, fatty acids, vitamins and minerals are high on the egg which cause the egg to be easily damaged by a good medium for the growth of microorganisms. Salting was an effort to preserve the eggs. Salted egg ripening by the way of boiling allegedly could increase moisture in boiled salted egg. An effort of proccessing and preserving to extend storage of egg was to do the proccess of “penyangraian” salted egg after boiling. “Penyangraian” was the improvement of salted egg quality so that last longer in storage. The research of “penyangraian” salted egg after boiling purposed to know the natrium chloride content, saltiness and elasticity. Materials used in this research were 75 duck eggs, ashes rub, table salt, and sea sand. Experiment design used was complately randomized design with four treatments and five replications. The parameters observed in this research were the natrium chloride content, saltiness and elasticity. The results of this research proved that long of “penyangraian” after boiling was influential (P<0,05) to content of NaCl albumen, content of NaCl yolk, and elasticity content of salted albumen while in salted egg saltiness did not show any real influence. Long of “penyangraian” for 5 minutes could increase natrium chloride content of albumen and yolk, each of them was 2,98% and 1,39%, the longer of “penyangraian”, elasticity level of albumen increased.Key words : salted egg, “penyangraian”, saltiness, elasticityABSTRAKTelur merupakan salah satu produk pangan yang berasal dari unggas yang mudah rusak dan busuk. Kandungan protein, asam lemak, vitamin dan mineral yang tinggi pada telur menyebabkan telur mudah rusak karena merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Pengasinan merupakan salah satu upaya untuk mengawetkan telur. Pemasakan telur asin dengan cara perebusan diduga dapat meningkatkan kadar air dalam telur asin rebus. Salah satu usaha pengolahan dan pengawetan untuk memperpanjang penyimpanan telur adalah dengan melakukan proses penyangraian telur asin setelah perebusan. Penyangraian merupakan usaha perbaikan mutu dari produk telur asin supaya lebih tahan lama dalam penyimpanan. Penelitian tentang proses penyangraian telur asin setelah perebusan ini bertujuan untuk mengetahui kadar NaCl, tingkat keasinan dan tingkat kekenyalan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 75 butir telur itik, abu gosok, garam krasak (garam dapur) dan pasir laut. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah kadar NaCl, tingkat keasinan dan tingkat kekenyalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penyangraian setelah perebusan berpengaruh nyata (P<0,05) pada kadar NaCl putih telur, kadar NaCl kuning telur dan tingkat kekenyalan putih telur asin, sedangkan pada tingkat keasinan telur asin tidak menunjukkan pengaruh yang nyata. Lama penyangraian 5 menit dapat meningkatkan kadar NaCl putih dan kuning telur masing-masing sebesar 2,98% dan 1,39%, semakin lama penyangraian tingkat kekenyalan putih telur cenderung semakin meningkat.Kata kunci : Telur asin, penyangraian, keasinan, kekenyalan
PEMBERIAN LARUTAN DAUN BINAHONG DALAM MEMPERPENDEK FASE INVOLUSI UTERUS KAMBING PERANAKAN ETAWAH BERDASARKAN TIPOLOGI FERNING SERVIKS DAN SALIVA (Effect of Binahong’s Leaves solution in Shortening Uterine Involution of Etawah Goat Grade Based on Typology Wijayanti, Dwi; Samsudewa, Daud; Setiatin, Enny Tantini
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 1 (2014): Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.092 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untukmengetahui pengaruh pemberian larutan daun binahong (Anredera cordifolia) dalam memperpendek involusi uterus yang dievaluasi melalui gambaran tipologi ferning kambing. Delapan ekor kambing Peranakan Etawah (PE) dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok A (tanpa pemberian larutan daun Binahong), B (pemberian larutan daun Binahong sebanyak 0,54 g/kg bobot badan kambing), C (pemberian larutan daun Binahong sebanyak 0,64 g/kg bobot badan kambing) dan D (pemberian larutan daun Binahong sebanyak 0,78 g/kg bobot badan kambing). Pemberian larutan binahong diberikan selama 7 hari berturut turut pagi dan sore setelah 7 hari pasca melahirkan. Pengambilan lendir serviks dan saliva dilakukan pagi hari selama 7 hari setelah pemberian perlakuan. Hasil nilai p ferning serviks dan saliva kambing PE adalah 0.981 (p> 0,05) dan 0.847 (p> 0,05). Analisis Kruskal Wallis H – Test menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara tipe ferning serviks dan saliva dengan pemberian larutan binahong pada kambing PE untuk memperpendek involusi uterus. Larutan daun binahong yang diberikan pada kambing Peranakan Etawah (PE) dari 0,54 g/kg bobot badan kambing hingga 0,78 g/kg bobot badan kambing selama 7 hari post partum sejak hari ke-8 sampai ke-14 belum dapat memperpendek fase involusi uterus. Fitoestrogen yang ada di dalam daun binahong baru dapat bekerja membantu kontraksi uterus untuk pengeluaran locia. Hal ini ditandai dengan belum terlihatnya gambaran ferning serviks dan saliva.Kata kunci: kambing peranakan etawah; daun binahong; involusi uterus; ferning lendir serviks; saliva  ABSTRACT Aim of the study was to determine the effect of binahong’s leaves solution (Anredera cordifolia) on shortening the uterine involution evaluated through based typology ferningof cervical mucus and saliva of goats. Eight Etawah goat Grade (PE) were divided into 4 groups. Those were A group (without giving solution Binahong leaf ), B (giving solution leaves much Binahong 0.54 g/kg body weight of goats), C (leaf Binahong solution giving as much as 0.64 g/kg body weight of goats) and D (giving solution Binahong leaves as much as 0.78 g/kg body weight of goats). Giving binahong solution administered for 7 consecutive days in the morning and aftenoon after 7 days postpartum. Intake of cervical mucus and saliva collected in the morning for 7 days after treatment administration. The results of the p-value of cervical and salivary ferning goat had 0.981 (p>0.05) and 0.847 (p>0.05). Kruskal Wallis H - Test showed no significant difference between cervical and salivary ferning with Anredera cordifolia solution to shorten the involution of the uterus. Solution leaves binahong given on Etawah Goat Grade (PE) of 0.54g/kg body weight of goats to 0.78g /kg body weight of goats for 7 days post partum from day 8 to day 14 can not shorten the phase involution of the uterus. Phytoestrogens are there in the new binahong leaves can work to help the uterine contractions locia spending. It is marked by lack ofvisibility typologi of ferning cervix and salivary.Keywords : etawah goat grade; leaves binahong; involution of the uterus; cervical mucus; saliva ferning
KADAR KOLESTEROL, HDL DAN LDL DARAH AKIBAT KOMBINASI LAMA PENCAHAYAAN DAN PEMBERIAN PORSI PAKAN BERBEDA PADA AYAM BROILER Setyadi, Fajar; Ismadi, Vitus Dwi Yunianto Budi; Mangisah, Istna
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.485 KB)

Abstract

ABSTRACT The aim of research was to know the effect of lighting periode and different feed serving to blood cholesterol, LDL and HDL level on broiler. The material was used is 320 day old chicks (DOC) CP 707, commercial feed (protein 23%, fat 2.5%, crude fiber 4%, calcium 1%, phosphor 0.9%, energy 3000 kcal). The statistic analysis that used in this research is RAL split plot 3 x 2 with five replicates, the main factor is the lighting period and the second factor is the different food serving. The treatment for lighting period are T1 with intermittent lighting 2 hour light on: 2 hour off, T2 was 4 hours lighting period at night, and T3 was 6 hours lighting period at night. The treatment for feed serving are R1 as 40% during the day and 60% during the night, R2 was 30% during the day and 70% during the night. The result of variance analysis, there was effect of lighting period to High Density Lipoprotein (HDL) (P<0,05). Blood cholesterol level of T1R1, T1R2, T2R1, T2R2, T3R1 and T3R2 was 155,56 mg/dl; 151,11 mg/dl; 153,33 mg/dl; 166,67 mg/dl; 146,66 mg/dl and 137,78 mg/dl. HDL level of T1R1, T1R2, T2R1, T2R2, T3R1 and T3R2 was 45,87 mg/dl; 40,98 mg/dl; 44,74 mg/dl; 47,38 mg/dl; 36,47 mg/dl dan 37,98 mg/dl. Low Density Lipoprotein (LDL) level of T1R1, T1R2, T2R1, T2R2, T3R1 and T3R2 was 109,69 mg/dl; 110,13 mg/dl; 108,59 mg/dl; 119,29 mg/dl; 110,19 mg/dl dan 99,80 mg/dl. Conclusion of this research explain there are no interaction effect between lighting period and food serving to cholesterol levels, HDL and LDL levels. There was an effect of lighting period to HDL level with highest level 46,06 mg/dl with 4 hours lighting period.Key words: broiler chickens, lighting period, feed serving, cholesterol, lipoproteinABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak lama pencahayaan pada malam hari dan pemberian porsi pakan berbeda terhadap kadar kolesterol, LDL dan HDL darah ayam broiler. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 5 Desember 2011- 10 Januari 2012 di Laboratorium Ternak Unggas Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang. Materi yang dipergunakan adalah 320 ekor ayam broiler day old chicks (DOC) CP 707, pakan (mengandung protein 23%; lemak 2,5%; serat kasar 4%; kalsium 1%; Phospor 0,9%; energi 3.000 Kkal). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola split plot 3 x 2 dengan 5 ulangan , faktor utama adalah lama pencahayaan (T1, T2, 3) dan faktor kedua adalah porsi pakan berbeda (R1, R2). T1 adalah intermiten 2T : 2G di malam hari, T2 4 Jam Pencahayaan di malam hari, dan T3 Pencahayaan 6 jam dimalam hari. R1 adalah 40% siang dan 60% malam, R2 porsi pakan 30% siang dan 70% malam hari. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan pencahayaan berpengaruh terhadap kadar High Density Lipoprotein (HDL) darah ayam broiler (P<0,05). Kadar kolesterol darah T1R1, T1R2, T2R1, T2R2, T3R1 dan T3R2 berturut-turut adalah 155,56 mg/dl; 151,11 mg/dl; 153,33 mg/dl; 166,67 mg/dl; 146,66 mg/dl dan 137,78 mg/dl. Kadar HDL pada T1R1, T1R2, T2R1, T2R2, T3R1 dan T3R2 berturut-turut adalah 45,87 mg/dl; 40,98 mg/dl; 44,74 mg/dl; 47,38 mg/dl; 36,47 mg/dl dan 37,98 mg/dl. Kadar Low Density Lipoprotein (LDL) darah pada T1R1, T1R2, T2R1, T2R2, T3R1 dan T3R2 berturut-turut adalah 109,69 mg/dl; 110,13 mg/dl; 108,59 mg/dl; 119,29 mg/dl; 110,19 mg/dl dan 99,80 mg/dl. Penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi lama pencahayaan pada dan pemberian porsi pakan berbeda terhadap kadar kolesterol, HDL dan LDL. Pencahayaan berpengaruh nyata terhadap kadar HDL darah ayam broiler dengan nilai tertinggi 46,06 mg/dl dengan pencahayaan 4 jam pada malam hari.Kata kunci : ayam broiler, lama pencahayaan, porsi pakan, kolesterol, lipoprotein
KANDUNGAN PESTISIDA ORGANOKLORIN DAGING AYAM ROILER YANG DIBERI GULMA Salvinia molesta RAWA PENING SEBAGAI CAMPURAN PAKAN (Organochlorine Content Of Broiler Administered With S. molesta Containing Feed Of Rawa Pening’s Weed) Mahacitra, Rima Adhika; Sukamto, Bambang; Dwiloka, Bambang
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.368 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan mengetahui adanya pengaruh pemberian gulma S. molesta Rawa Pening sebagai campuran pakan terhadap kandungan organoklorin pada daging ayam broiler. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging komposit ayam yang diperoleh dari 16 ekor pemotongan ayam, dalam 100 ekor pemeliharaan ayam broiler strain Lohman selama 42 hari dengan bobot rata-rata 1-1,5 kg. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap, meliputi tahap persiapan dan pemeliharaan ayam, pemotongan ayam, preparasi sampel, dan analisis dengan alat Gas Chromatography (GC). Rancangan percobaan yang dipergunakan dalam pemeliharaan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali (To = ransum dengan S. molesta sebanyak 0 %; T1 = ransum dengan S. molesta sebanyak 6 %; T2 = ransum dengan S. molesta sebanyak 12 %; T3 = ransum dengan S. molesta sebanyak 18 %). Analisis total organoklorin menggunakan 16 sampel daging komposit ayam dari 4 perlakuan 4 ulangan acak. Analisis profil organoklorin menggunakan 4 sampel daging komposit ayam dari 4 perlakuan. Data kandungan total organoklorin dianalisis dengan uji F (One Way Anova) pada taraf signifikansi (α) = 0,05. Dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan, pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program SPSS 16. Sedangkan data kandungan profil organoklorin dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan perlakuan sampai taraf 18 % pada ayam broiler nyata berpengaruh (P<0,05) terhadap kandungan organoklorin pada daging ayam. Analisis total organoklorin menunjukkan adanya kenaikan secara signifikan sebesar 0,05 ppm; 0,09 ppm; 0,14 ppm; dan 0,18 ppm. Analisis profil organoklorin pada semua taraf pemberian dinyatakan tidak terdeteksi karena hasil analisis masih di bawah ambang batas deteksi.Kata kunci : pestisida organoklorin; daging ayam broiler ABSTRACTThe goal of this research is to examine whether there is an effect of giving S. molesta weed in Rawa Pening as the composition for brolier chicken ration. The ration contains of organochlorine pesticides. Material given in this research are chicken meats from 16 cut up of the chickens. These chicken are from 100 broiler chickens strain Lohman which have been raised for about 42 days. The approximate mass of chicken body for each chicken is about 1 up to 1.5 kilograms. This reserach used several stages. The stages are preparation and raising the chickens, cutting up the chickens, preparation for the samples, and the analysis by using Gas Chromatography (CG) procedure. The design of the research used in the raising the chickens is Complete Random Design with 4 treatments which for each treatments has been done in four times treatment (To = Broiler ration with 0 % of S. molesta; T1 = Broiler ration with 6 % of S. molesta; T2 = Broiler ration with 12 % of S. molesta; T3 = Broiler ration with 18 % of S. molesta). The analysis for total organochlorine used 16 samples of chicken meats with 4 treatments by 4 times random repetitions. The analysis for the organochlorine profile used 4 samples of chicken Broiler meat by 4 treatments. The data about the content of total organochlorine was analyzed with F test (One Way Anova) in significant range (α) = 0.05. Then, continuing the analysis was by using double region test Duncan, processing of the data was used SPSS 16.0 program. While, the data about the content of organochlorine profile was analyzed descriptively. The result of  the research showed that the ration with treatment until 18 % for the broiler chicken has affected (P<0.05) towards organochlorine for chicken meat. The total analysis in organochlorine shows that there is a siginicant increase. The increasing data are 0.05 ppm; 0.09 ppm; 0.14 ppm; dan 0.18 ppm. It has been stated that all the analysis for organochlorine profile for all the giving ration could not be detected because the result was still beyond the detection limit.Key words: organochlorine pesticides; broiler chicken meat
PEMANFAATAN TANIN AMPAS TEH DALAM PROTEKSI PROTEIN BUNGKIL BIJI JARAK TERHADAP KONSENTRASI AMONIA, UNDEGRADED DIETARY PROTEIN DAN PROTEIN TOTAL SECARA IN VITRO Rochman, Alwi Nur; Surono, Surono; Subrata, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.51 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan bahan pakan sumberprotein terproteksi untuk meningkatkan produktivitas ternak dilihat daripengukuran konsentrasi amonia (NH3), Undegraded Dietary Protein (UDP) danProtein Total. Penelitian dilakukan secara in vitro dengan rancangan acaklengkap 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan penelitian adalah T0 = bungkil bijijarak + aras tanin 0%, T1 = bungkil biji jarak + aras tanin 0,25%, T2 = bungkilbiji jarak + aras tanin 0,50% dan T3 = bungkil biji jarak + aras tanin 0,75%. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa bungkil biji jarak yang diproteksi denganpeningkatan aras tanin dapat menurunkan konsentrasi NH3 dan meningkatkanpersentase UDP (P<0,05) serta meningkatkan produksi protein total (P>0,05).Rata-rata konsentrasi NH3, persentase UDP dan produksi protein total pada T0,T1, T2, T3 berturut-turut adalah 5,87 mM, 38,20 %, 211,57 mg/g, 5,49 mM, 40,70%, 225,92 mg/g, 5,40 mM, 40,84 %, 277,73 mg/g, 4,90 mM, 42,20 %, 300,32mg/g.Kata kunci : bungkil biji jarak, tanin, NH3, UDP, protein total
PERAN MASSAGE DAN PAKAN TERHADAP PRODUKSI DAN KADAR LEMAK SUSU KAMBING PERANAKAN ETTAWA Setyaningsih, Wulan; Budiarti, C; Suprayogi, Teguh Hari
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.821 KB)

Abstract

ABSTRACTThe experiment was aimed to examine the effect of differences in long massage and balance forage-concentrates on goat ration of ettawa grade goat on milk production and fat content. The material used in this experiment were 12 dairy goats having in the 3rd lactations. The experimental design used factorial Completely Randomized Design (CRD) (3x2), were randomly assigned into three feed treatments (P1: balance of the forage-concentrates ; 80:20, P2: 70:30 dan P3: 60:40) each feed treatment get massage treatments (M0: no massage; M1: massage 3 minute and M2: massage 5 minute), four replications and two factors (massage and balance of the forage-concentrates). Parameters observed include the production and milk fat content. The results showed that the differences in length massage and balance of the forage-concentrates ration goat having no influence on milk production and milk fat content. The conclusion that long massage and balance the forage-concentrates ration goat lactating no effect on milk production and fat content.Keywords: massage, milk production, fat content, ettawa grade goat.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan lama massage dan imbangan hijauan-konsentrat pada ransum kambing Peranakan Ettawa (PE) terhadap produksi dan kadar lemak susu. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah 12 ekor kambing perah PE dengan bulan laktasi yang sama yaitu pada bulan ke-3. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL Faktorial (3x2), 3 perlakuan pakan (P1: imbangan hijauan:konsentrat ; 80:20, P2: 70:30 dan P3: 60:40) setiap perlakuan pakan mendapatkan perlakuan massage (M0: tidak di massage; M1: massage 3 menit dan M2: massage 5 menit), 4 ulangan dan 2 faktor (lama massage dan imbangan hijauan-konsentrat). Parameter penelitian yaitu produksi dan kadar lemak susu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan lama massage dan imbangan hijauan-konsentrat pada ransum kambing PE tidak berpengaruh secara nyata terhadap konsumsi produksi susu dan kadar lemak susu. Kesimpulan bahwa, lama massage dan imbangan hijauan-konsentrat pada ransum kambing PE laktasi tidak berpengaruh terhadap produksi dan kadar lemak susu.Kata Kunci ; massage; produksi susu; kadar lemak; kambing Peranakan Ettawa
PERTUMBUHAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata) DAN KADAR FOSFOR JERAMI DENGAN PEMUPUKAN ORGANIK DAN UREA (The Growth of sweet corn (Zea mays saccharata) and phosporus concentration of stover with urea and organic fertilization) Siyamto, Andika; Anwar, Syaiful; Lukiwati, Dwi Retno
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 3 (2014): Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.62 KB)

Abstract

ABSTRAK    Penelitian dilakukan untuk mengkaji pengaruh pemberian pupuk organik dan urea terhadap pertumbuhan dan kadar fosfor jerami jagung manis. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus – Desember 2013 di Kebun Percobaan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah benih jagung manis, kompos, pupuk kandang, arang dan urea (46% N) serta KCl dan TSP sebagai pupuk dasar. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Monofaktor 9 perlakuan dengan 3 kali ulangan, sehingga terdapat 27 petak masing-masing dengan ukuran 1,6 x 1,2 m (1,92 m2). Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, produksi bahan kering dan kadar fosfor jerami jagung manis. Data yang diperoleh dianalisis ragam, apabila perlakuan berpengaruh nyata, dilanjutkan dengan uji kontras. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk menghasilkan pertumbuhan tinggi tanaman, produksi bahan kering dan kadar fosfor jerami nyata lebih tinggi dibanding tanpa pupuk. Pemberian pupuk organik + urea menghasilkan tinggi tanaman dan produksi bahan kering nyata lebih tinggi dibanding pupuk organik. Pemupukan kompos + arang menghasilkan kadar fosfor jerami jagung manis nyata lebih tinggi dibanding pupuk kandang + arang.Kata kunci : pertumbuhan; kualitas; pupuk; Zea mays saccharata. ABSTRACT The study was conducted to examine the effect of organic and urea fertilizer on the growth and phosphorus concentration of sweet corn stover. The field experiment was conducted in August – December 2013 in Faculty of Animal and Agricultural Sciences laboratory Diponegoro University. Material used in this study was sweet corn seed, compost, manure, charcoal and urea (46% N) also KCl and TSP as basic fertilizer. The experimental design used was Monofaktor Completely Randomized Design (CRD) 9 treatments with 3 replicates, so there are 27 plots with the size of each is 1.6 x 1.2 m (1.92 m2). The parameters observed were plant height, dry matter yield, and phosphorus concentration of sweet corn stover. Research data processed by analysis of variance, if the treatment has significant effect, then followed by contrast test. The result showed that fertilizer application deliver significant effect on height plant, dry matter yield, and phosporus concentration compared to without fertilizer. Organic fertilizer plus urea deliver higher significant effect on height plant and dry matter yield compared to organic fertilizer. Compost plus charcoal deliver higher significant effect on phosporus concentration of sweet corn stover compared to manure plus charcoal.Keywords: growth; phosporus concentration; fertilizers; Zea mays saccharata
HUBUNGAN ANTARA UKURAN-UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT BADAN DOMBOS JANTAN Trisnawanto, Trisnawanto; Adiwinarti, Retno; Dilaga, Wayan Sukarya
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.847 KB)

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pendugaan hubungan antara ukuran tubuh dengan bobot badan telah dilaksanakan pada bulan November– Desember 2009 di Kabupaten Wonosobo. Materi yang digunakan adalah Dombos jantan sebanyak 100 ekor dari umur 3,5 bulan sampai umur <36 bulan. Metode yang digunakan adalah metode purposive sampling. Peralatan yang digunakan tongkat ukur, pita ukur dan timbangan ternak. Pengolahan data dilakukan untuk menentukan koefisien korelasi (r), koefisien determinasi (R2) dan menentukan persamaan regresi sederhana sebagai persamaan penduga. Parameter yang diukur meliputi lingkar dada, tinggi  pundak, panjang badan, dalam dada, dan lebar dada. Hasil penelitian koefisien korelasi rata-rata menunjukkan bahwa untuk lingkar dada dari yang terbesar ke yang terkecil adalah pada poel 1 (0,75), Umur 3,5-7 bulan (0,68), umur 7,5-11,5bulan (0,66) dan poel 2 (0,39). Koefisien korelasi dengan menggunakan tinggi pundak dari yang terbesar ke yang terkecil adalah pada Umur 7,5-11,5 bulan (0,59), poel 1 (0,49), umur 3,5-7 bulan (0,40) poel 2 (0,39), sedangkan dengan panjang badan berurutan dari yang terbesar adalah Umur 7,5-11,5 bulan (0,68), poel 1 (0,61), umur 3,5-7 bulan (0,58) poel 2 (0,42),. Koefisien korelasi dengan dalam dada berurutan dari yang terbesar adalah  poel 2, Umur 7,5-11,5 bulan, poel 1 dan Umur 3,5-7 bulan yaitu 0,71; 0,61; 0,55 dan 0,38, sedangkan dengan lebar dada dari yang terbesar ke yang terkecil adalah pada poel 1 (0,66), poel 2 (0,43), Umur 7,5-11,5 (0,38) dan Umur 3,5-7 bulan  (0,36). Kesimpulan yang didapatkan adalah hubungan antara bobot badan dengan ukuran-ukuran tubuh bervariasi menurut umur (poel) dengan nilai korelasi berkisar antara 0,31 hingga 0,75. Secara keseluruhan lingkar dada mempunyai nilai korelasi yang tertinggi diantara ukuran tubuh yang lain.   Kata Kunci: Dombos, bobot badan, poel, korelasi, regresi