cover
Contact Name
Kingkin Puput Kinanti
Contact Email
alfabeta@uibu.ac.id
Phone
+62895397008378
Journal Mail Official
alfabeta@uibu.ac.id
Editorial Address
Jl. Citandui no 46 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
ALFABETA
ISSN : 26542587     EISSN : 2654735X     DOI : https://doi.org/10.33503/alfabeta.v8i2
Core Subject :
Alfabeta publishes innovative research findings, original scholarly articles, critical-theoretical reflections, literary studies, written ideas, and conceptual articles from various branches of knowledge that focus on the study of language, literature, and education. Alfabeta welcomes and acknowledges high quality theoretical and empirical original research papers, case studies, review papers, literature reviews, conceptual framework, analytical and simulation models, technical notes about linguistics, literature, and their teaching from researchers, academicians, professionals, practitioners, and students from all over the world.
Arjuna Subject : -
Articles 206 Documents
Jebakan Waktu: Peran Deiksis Temporal dalam Membangun Suspense Novel I’m Not Stupid Arsyi Aisyah; Siti Nur Aprilianti; Didin Komarudin
ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/alfabeta.v9i1.2702

Abstract

This study examines the role of Temporal Deixis in building suspense in the thriller novel I’m Not Stupid using a qualitative-descriptive approach. Data were collected through close reading and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña to identify the form, narrative function, and contribution of time markers in the storyline. The findings show that Temporal Deixis appears in three forms, namely absolute, relative, and duration, which are used to regulate the movement of the story’s time and influence the narrative rhythm. From Genette’s narratological perspective, time markers play a crucial role in creating analepsis (flashback) that forms the basis of the conflict and the dimensional shift experienced by the character Wira from the present to the past. Short duration markers, such as “two more minutes,” serve to slow down important scenes (stretch), while long duration markers act as narrative summaries (summaries). The main contribution of Temporal Deixis is seen in the formation of suspense as a “Time Trap,” where the delay of information and the use of countdowns create a sense of urgency and information imbalance, thereby increasing the reader’s emotional tension. This study confirms that time markers not only function linguistically, but also become an effective structural rhetorical tool in managing the reader's psychological experience, while expanding the study of pragmatics and narratology of thrillers. Penelitian ini meneliti peran Deiksis Temporal dalam membangun suspense atau ketegangan dalam novel thriller I’m Not Stupid dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Data dikumpulkan melalui close reading dan dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña untuk mengidentifikasi bentuk, fungsi naratif, dan kontribusi penanda waktu dalam alur cerita. Temuan menunjukkan bahwa Deiksis Temporal muncul dalam tiga bentuk, yaitu absolut, relatif, dan durasi, yang digunakan untuk mengatur pergerakan waktu cerita dan memengaruhi ritme naratif. Dari perspektif naratologi Genette, penanda waktu memainkan peran penting dalam menciptakan analepsis (kilas balik) yang menjadi dasar konflik dan perpindahan dimensi yang dialami tokoh Wira dari masa kini ke masa lalu. Penanda durasi yang singkat, seperti “dua menit lagi,” berfungsi memperlambat adegan penting (stretch), sedangkan durasi panjang berperan sebagai ringkasan naratif (summary). Kontribusi utama Deiksis Temporal terlihat pada pembentukan suspense sebagai “Jebakan Waktu,” di mana penundaan informasi dan penggunaan hitungan mundur menimbulkan rasa urgensi dan ketidakseimbangan informasi, sehingga meningkatkan ketegangan emosional pembaca. Penelitian ini menegaskan bahwa penanda waktu tidak hanya berfungsi linguistik, tetapi juga menjadi alat retoris struktural yang efektif dalam mengelola pengalaman psikologis pembaca, sekaligus memperluas kajian pragmatik dan naratologi thriller.
Jejak Bahasa dalam Papan Nama: Lanskap Linguistik pada Kursus dan Pelatihan di Kota Malang Lina Yuliasari; Millatuz Zakiyah
ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/alfabeta.v9i1.2724

Abstract

The signboards of course and training institutions represent the identity and image of their speakers. This study aims to uncover the forms and patterns of language use, examine the informational and symbolic functions, as well as the social aspects that emerge from language use on the signboards of course and training institutions in the city of Malang. This qualitative study employs a linguistic landscape approach using the theory of Landry and Bourhis. The data sources refer to documentation of 114 signboards from course and training institutions across five sub- districts (Klojen, Lowokwaru, Blimbing, Sukun, and Kedungkandang) in Malang through field observations conducted in October 2025. The data consist of texts on the signboards in the form of words, phrases, and clauses. Data collection was carried out using the note-taking observation technique. Data analysis was conducted using the linguistic landscape framework of Landry and Bourhis. The data was analyzed through the stages of (1) classifying the data; (2) identifying informational and symbolic functions; (3) tracing the emerging social aspects. The findings show a dominance of bilingual language (60.5%), followed by monolingual (28.9%) and multilingual (10.5%), indicating the use of foreign language as symbolic capital and the marginalization of local identity. Information is dominated by business names (113), addresses (64), and contacts (72), highlighting ease of access. Social aspects are emphasized by social status, followed by age, gender, religion, ethnicity, and geography, reflecting the institution's existence as a symbol of aspirations for social mobility.
Pemanfaatan AI sebagai Teman Kolaboratif dalam Proses Kreatif Penulisan Prosa Siswa Kelas XI SMAN 1 Tumpang Anggiana, Raila; Lailatul Fadilah; Karkono
ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/alfabeta.v9i1.2759

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan AI, untuk mendukung proses kreatif penulisan prosa bagi siswa kelas XI SMAN 1 Tumpang. Permasalahan yang dikaji berkaitan dengan kekhawatiran terhadap AI yang dapat mengurangi kreativitas siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pemanfaatan AI sebagai teman kolaboratif dalam proses kreatif penulisan prosa serta mengetahui dampaknya terhadap kreativitas dan orisinalitas karya siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten, dengan sumber data berupa karya siswa dan hasil kuesioner terkait persepsi siswa terhadap AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI berpengaruh terhadap proses kreatif dalam pengembangan cerita. Pembahasan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI sebagai teman kolaboratif dapat mengembangkan kreativitas siswa selagi digunakan secara bijak. Keterbatasan penelitian ini ada pada jumlah sampel yang terbatas serta potensi bias terkait penilaian orisinalitas karya siswa. Penelitian lebih lanjut diharapkan untuk memperluas cakupan sampel dan mengeksplorasi lebih jauh terkait potensi plagiarisme dalam pemanfaatan AI sebagai teman kolaboratif penulisan.
Konstruksi Ideologi Pertahanan Media dalam Wacana Permohonan Maaf Trans7 sebagai Respons Terhadap Tekanan Boikot Publik Wulandari, Hernita Eka; Sanjaya, Angga Trio
ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/alfabeta.v9i1.2909

Abstract

Penelitian ini mengkaji konstruksi wacana permohonan maaf Trans7 setelah adanya kontroversi pada tayangan program Xpose Uncensored yang dianggap merendahkan martabat Pesantren Lirboyo. Tekanan publik melalui tagar #BoikotTrans7 mendorong media memberikan klarifikasi resmi. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan strategi bahasa media dalam meredam perselisihan melalui dimensi teks, kognisi sosial, dan konteks sosial, menggunakan Analisis Wacana Kritis model Teun A. van Dijk. Metode penelitian adalah kualitatif deskriptif dengan sumber dataya adalah surat resmi dan unggahan Instagram @officialtrans7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada trans7 menggunakan konstruksi eufemisme pada aspek teks dengan membingkai penghinaan sebagai keteledoran teknis untuk mengurangi tingkat kesalahan. Ditemukannya skema pertahanan diri di mana media menggeser kesalahan dari intitusi pusat ke pihak ke tiga. Dalam aspek kognisi sosial, narasi rendah hati digunakan untuk melindungi reputasi ekonomi dari aksi boikot. Secara aspek konteks sosial, permohonan maaf menjadi bentuk pengakuan media terhadap dominasi identitas keagamaan di Indonesia yang sangat kuat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa wacana permohonan maaf media hanyalah alat ideologis yang menmentingkan kelangsungan bisnis daripada nilai moral kontennya.
Pelestarian Ludruk Melalui Pembelajaran Menulis Cerita Fantasi Kelas VII SMP Bina Bangsa 2 Surabaya Bagaskoro Angkasa, Muhammad Bagus; Sujinah
ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/alfabeta.v9i1.2926

Abstract

This study aims to describe the challenges of preserving ludruk as a traditional art form and to examine the improvement of fantasy story writing skills based on ludruk values among seventh-grade students at SMP Bina Bangsa 2 Surabaya. This research employed a qualitative descriptive approach. Data were collected through classroom observations, interviews with teachers and students, and document analysis of students’ fantasy story texts. The findings reveal that, at the initial stage, most students had limited knowledge of ludruk, which resulted in weak story structure, underdeveloped imagination, and inaccurate language use in their writing. After the implementation of fantasy writing instruction integrated with ludruk through text modeling, scaffolding, and the use of digital media, significant improvements were observed. Students’ texts demonstrated more complete narrative structures, including orientation, complication, resolution, and reorientation, more creative imaginative elements, and more accurate language use. Furthermore, the integration of local culture increased students’ learning motivation, active participation, and appreciation of traditional arts. This study concludes that ludruk-based fantasy writing instruction is effective in enhancing students’ creative literacy while simultaneously supporting the contextual and sustainable preservation of local culture.
Buku Teks Sebagai Instrumen Diskursif: Analisis Wacana Kritis Terhadap Wacana Moderasi Beragama dalam Buku Bahasa Indonesia SMA Kelas X Amir, Israwati; Nursalam; Wardihan; Abd. Rahim; Nurhikmah
ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/alfabeta.v9i1.2955

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji representasi wacana moderasi beragama dalam buku teks Bahasa Indonesia untuk SMA kelas X, dengan menempatkan buku teks sebagai medium strategis pembentukan karakter dan sikap kebangsaan peserta didik. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana nilai-nilai moderasi beragama dikonstruksi dan disebarkan melalui wacana kebahasaan dan visual dalam konteks pendidikan formal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough. Analisis dilakukan melalui tiga dimensi, yaitu analisis teks, praktik wacana, dan praktik sosial, terhadap data berupa narasi, dialog, infografik, dan aktivitas pembelajaran dalam buku teks Bahasa Indonesia kelas X. Data dikumpulkan secara dokumentatif dan dianalisis secara deskriptif-interpretatif untuk mengungkap makna implisit, ideologi, serta relasi kuasa yang bekerja dalam wacana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks secara konsisten menyampaikan pesan moderasi beragama melalui empat aspek utama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan sikap akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Komitmen kebangsaan direpresentasikan melalui kepedulian lingkungan, kesadaran hukum, dan etika berpendapat. Aspek toleransi dibangun melalui dorongan berpikir kritis, empati, penghargaan terhadap perbedaan, serta etika komunikasi di ruang digital. Nilai anti kekerasan ditampilkan melalui kritik sosial yang rasional, santun, dan non-konfrontatif, sementara akomodasi terhadap budaya lokal diwujudkan melalui pengakuan realitas sosial masyarakat dan kearifan lokal sebagai sumber nilai pendidikan. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa buku teks Bahasa Indonesia berperan sebagai instrumen ideologis yang efektif dalam menanamkan nilai moderasi beragama, serta berimplikasi pada penguatan pendidikan karakter dan kohesi sosial di masyarakat plural.
Sikap Bahasa dan Pemilihan Bahasa Gen Z Etnis Madura Kecamatan Tamanan Kabupaten Bondowoso Sunita Diah Putri Ayundita; Moch.Syahri
ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/alfabeta.v9i1.2981

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap dan pemilihan bahasa Gen Z etnis Madura di Kecamatan Tamanan Kabupaten Bondowoso sebagai bagian dari upaya pemertahanan bahasa daerah. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan orientasi teoretis etnografi. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Pedoman wawancara penelitian berisi 26 pertanyaan dan dijawab oleh tujuh informan yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap bahasa Gen Z etnis Madura cenderung negatif terhadap bahasa ibunya. Sikap negatif mereka dipengaruhi oleh stigma sosial negatif tentang etnis Madura dan persepsi bahwa bahasa Madura memiliki prestise yang lebih rendah dibanding bahasa lainnya. Sikap positif dan sikap netral hanya muncul dalam beberapa konteks yang bersifat simbolik dan emosional. Pemilihan bahasa Gen Z etnis Madura dalam ranah kekeluargaan menunjukkan pemertahanan penggunaan bahasa Madura, tetapi penggunaannya bergantung pada pola komunikasi yang dibentuk sejak kecil. Sementara dalam ranah kekariban, khususnya di lingkungan yang heterogen secara etnis, bahasa Indonesia menjadi bahasa utama yang dominan digunakan. Fenomena ini berdampak pada berkurangnya frekuensi penggunaan bahasa Madura dalam kehidupan sehari-hari. Minimnya penguasaan terhadap bahasa Madura disebabkan oleh keterbatasan pembelajaran yang berkelanjutan di institusi pendidikan. Kondisi ini berpotensi mengancam keberlangsungan bahasa Madura di masa mendatang, khususnya sebagai bagian dari identitas kultural masyarakat Bondowoso.
Representasi Perempuan dan Pembaca dalam Kampanye Digital Kodrat Siapa? Pada Akun Instagram @Wmnations Melalui Analisis Wacana Kritis Sara Mills Maharani Aisah Ratu Wane; Endang Setyowati; Kingkin Puput Kinanti
ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/alfabeta.v9i1.3036

Abstract

Wacana tentang kodrat perempuan sering dipahami secara normatif untuk membenarkan standar ganda gender dalam kehidupan sosial. Perempuan yang memilih jalan hidup di luar norma dominan, seperti menunda pernikahan, mengejar karier, atau memilih untuk tidak memiliki anak, sering dianggap melawan "kodrat" mereka. Dalam konteks media digital, kampanye sosial menyediakan ruang untuk wacana tandingan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis representasi perempuan dan konstruksi posisi subjek-objek dan pembaca dalam kampanye digital “Kodrat Siapa?” ​​di akun Instagram @wmnations. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan model Analisis Wacana Kritis Sara Mills, teks verbal dalam unggahan kampanye diperiksa untuk mengungkap relasi kekuasaan dan ideologi gender. Temuan menunjukkan bahwa @wmnations memposisikan dirinya sebagai subjek wacana yang secara aktif menantang interpretasi normatif tentang kodrat perempuan. Perempuan direpresentasikan sebagai agen dengan otonomi atas pilihan hidup mereka, sementara standar ganda gender dikonstruksi sebagai objek kritik. Pembaca diposisikan sebagai subjek reflektif melalui pertanyaan retoris dan data empiris. Studi ini menegaskan bahwa kampanye digital dapat berfungsi sebagai praktik diskursif yang mendorong kesadaran kritis terhadap kesetaraan gender di media sosial Indonesia.
Kontestasi Ideologi dalam Wacana #MBG di Instagram: Analisis Wacana Kritis Model Fairclough Desma Yuliadi Saputra; Andriani, Rina
ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/alfabeta.v9i1.3045

Abstract

This study aims to examine the ideological contestation within the #MBG discourse on Instagram using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis model. Social media, particularly Instagram, has become a digital public sphere where narratives of policy legitimation intersect with critical counter-narratives from the public. In this context, the #MBG discourse functions not merely as an informational medium but as a site of meaning struggle that reflects power relations and ideological interests. This research employs a qualitative approach within a critical paradigm. Data consist of Instagram posts containing the hashtag #MBG, selected purposively based on engagement level and issue relevance. The analysis applies Fairclough’s three-dimensional framework: textual analysis, discursive practice, and social practice. The findings reveal a polarization of representations between legitimizing narratives emphasizing policy success, efficiency, and public welfare orientation, and critical narratives highlighting issues of transparency, governance, and potential conflicts of interest. This contestation demonstrates that language in social media operates as an instrument for ideological reproduction and negotiation. The study underscores the importance of critical literacy in interpreting policy discourse within digital spaces to avoid partial and ideologically driven constructions of meaning.
Tokoh Utama Awan Dalam Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (Kajian Psikologi Sastra) Joyowongso, Nugroho; Rachman, Anita Kurnia; Susandi, Susandi
ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/alfabeta.v9i1.3067

Abstract

Film terbentuk dari perkembangan karya sastra sehingga dapat dinikmati dalam bentuk audio visual. Penelitian ini merupakan jenis kualitatif deskriptif dan mengaji tentang kepribadian tokoh utama Awan dan bertujuan untuk mendeskripsikan struktur kepribadian yang meliputi id, ego, super ego yang terdapat dalam diri tokoh. Kajian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra oleh Sigmund Freud. Jenis data dalam penelitian ini, yaitu berupa frasa, kata, dan kalimat dari dialog yang dilakukan oleh tokoh. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini, yaitu teknik analisis teks. Peneliti dibagi tiga tahapan mengumpulkan data. Tahap pertama, menonton film. Tahap kedua, transkip film. Tahap ketiga, pencatatan. Tahap ke empat pengkodean. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur kepribadian tokoh Awan meliputi id, ego, dan super ego. Id merupakan pembawaan sejak lahir dan menunjukkan keadaan batin. Ego merupakan pribadi yang membantu id saat membuat keputusan. Ego bersifat dilakukan saat keadaan sadar. Super ego merupakan tindakan yang mengenali kebaikan, keburukan dan prinsip idealis.