cover
Contact Name
Brigitta Laksmi Paramita
Contact Email
brigitta.laksmi@uajy.ac.id
Phone
+6282329549978
Journal Mail Official
journal.biota@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Teknobiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jalan Babarsari No. 44, Sleman, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati
ISSN : 25273221     EISSN : 2527323X     DOI : doi.org/10.24002/biota
Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati merupakan jurnal ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, kajian-kajian pustaka dan berita-berita terbaru tentang ilmu dan teknologi kehayatian (biologi, bioteknologi dan bidang ilmu yang terkait). Biota terbit pertama kali bulan Juli 1995 dengan ISSN 0853-8670. Biota terbit tiga nomor dalam satu tahun (Februari, Juni, dan Oktober).
Articles 1,193 Documents
Daya Antagonisme Agensia Hayati terhadap Patogen Blendok pada Jeruk Pamelo secara In Vitro Waahidaturrahmah, Sitti; Apriani, Rila Rahma; Sari, Noorkomala
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i3.8559

Abstract

Produksi jeruk di Kalimantan Selatan mengalami penurunan yang diakibatkan berbagai faktor, diantaranya serangan penyakit. Hal ini juga dialami oleh pertanaman buah jeruk pamelo di Amanah Borneo Park yang sering mengalami gagal panen akibat serangan penyakit blendok yang disebabkan oleh patogen Botryodiplodia theobromae Pat. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan menggunakan agen hayati, salah satunya cendawan endofit yang bersifat antagonis terhadap penyebab patogen, yang dapat diisolasi dari tanaman obat. Cendawan endofit mampu menghasilkan metabolit sekunder, enzim litik, dan antimikroba lainnya dalam menghambat pertumbuhan patogen tanaman. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui jenis cendawan penyebab penyakit blendok di Amanah Borneo Park dan mengetahui daya antagonisme Trichoderma harzianum, endofit Colletotrichum sp., dan endofit Fusarium sp. terhadap patogen tersebut. Hasil identifikasi mengemukakan bahwa patogen penyebab blendok di Amanah Borneo Park adalah B. theobromae Pat (P2B4), kemudian uji antagonisme dengan tiga agen antagonis yaitu Trichoderma harzianum, endofit Colletotrichum sp., dan endofit Fusarium sp. menunjukkan adanya perbedaan persentase daya hambat yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti laju pertumbuhan, produksi, dan konsentrasi metabolit sekunder yang dihasilkan dengan persentase penghambatan masing-masing agen antagonis yaitu 21,048% (T. harzianum), 13,775% (Colletotrichum sp.), dan 13,04% (Fusarium sp.).
Struktur Komunitas Makrozoobentos sebagai Bioindikator Kualitas Air di Sungai Way Awi, Bandarlampung Nugraha, Dwiki Renda; Tugiyono; Susanto, G. Nugroho; Kanedi, M.
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i3.8744

Abstract

Makrozoobentos merupakan invertebrata yang masa hidupnya dihabiskan di dasar perairan atau di atas sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur komunitas makrozoobentos sebagai bioindikator kualitas air di Sungai Way Awi, Bandarlampung. Penelitian dilakukan pada Oktober-Desember 2023. Pengambilan sampel makrozoobentos menggunakan Ekman grab di lima stasiun mewakili hulu, tengah, dan hilir sungai. Analisis dan identifikasi sampel dilakukan di Laboratorium Zoologi FMIPA Universitas Lampung dengan bantuan buku identifikasi Fresh-Water Biology. Hasil penelitian berhasil mengidentifikasi 8 genus makrozoobentos yang terdiri dari phylum Mollusca, Arthropoda, dan Annelida. Struktur komunitas menunjukkan kondisi indeks keanekaragaman yang rendah (H’ < 1), indeks keseragaman sedang hingga tinggi (0,4 < E < 1), indeks dominansi sedang hingga tinggi (0,30 < C < 1), dan indeks kekayaan jenis rendah (Dmg < 2,05). Analisis korelasi antara struktur komunitas dan pengukuran sifat fisika-kimia badan air menunjukkan adanya hubungan signifikan antara oksigen terlarut (DO) dengan indeks keseragaman dan indeks dominansi. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa parameter fisika-kimia perairan memiliki peran dalam menentukan struktur komunitas makrozoobentos dan dapat dijadikan sebagai indikator dalam penilaian kualitas air.
Pemetaan Kasus Gigitan Ular di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta menggunakan Analisis Spasial Statistik Yudha, Donan Satria; Raihan, Ananta Widi; Al Faqih, Muhamad Yusril
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i1.5331

Abstract

Kasus gigitan ular merupakan permasalahan kesehatan tropis yang terabaikan. Negara berkembang tropis seperti Indonesia memiliki peluang besar mengalami kasus gigitan ular melebihi angka estimasi. Kasus gigitan ular terjadi di wilayah padat penduduk di mana petani merupakan kelompok paling rentan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola spasial kasus gigitan ular di Kabupaten Kulon Progo pada tahun 2019 – 2020, sebagai langkah pencegahan resiko gigitan ular di masa depan. Data yang diperoleh dari rekam medis RS, penyebaran kuesioner daring, dan wawancara korban dianalisis pola persebaran dari sisi temporal (musim) dan spasial. Dua puluh satu kasus terjadi di Kulon Progo. Korelasi negatif antara kasus gigitan dengan curah hujan ditunjukkan pada tahun 2019 dan korelasi positif pada tahun 2020. Visualisasi peta persebaran, estimasi densitas kernel, dan analisis pola titik menggunakan fungsi G, F, K’s Ripley menjelaskan bahwa sebaran kasus yang terjadi tersebar secara acak di tahun 2019 dan 2020 dengan daerah kasus gigitan terbanyak adalah Samigaluh. Ular Trimeresurus albolabris mendominasi kasus gigitan ular di Kulon Progo yakni sebanyak 48% total kasus gigitan. Maka kesimpulan yang diperoleh adalah kasus gigitan ular di Kulon Progo mengalami peningkatan di musim kering pada tahun 2019 dan di musim hujan pada tahun 2020 serta tersebar secara acak pada kedua tahun.
Interaksi Molekuler Senyawa Kuersetin dan Eugenol terhadap Protein Regulator Lintasan Penuaan SIR2, pada Khamir Saccharomyces cerevisiae Alfaridza, Annisa Nourma; Astuti, Rika Indri; Mubarik, Nisa Rachmania
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i1.6819

Abstract

Proses penuaan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti peningkatan cekaman oksidatif dan inflamasi di mana senyawa antioksidan seperti kuersetin dan eugenol dapat mengatasi hal tersebut. Kuersetin dan eugenol merupakan senyawa antioksidan yang dapat ditemukan di alam. Kuersetin dan eugenol memiliki aktivitas antioksidan pada sel khamir maupun sel mamalia. Namun, mekanisme kedua senyawa ini dalam meregulasi penuaan di level molekuler belum tersedia. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui interaksi senyawa kuersetin dan eugenol pada protein Sir2 pada Saccharomyces cerevisiae yang memiliki peran sebagai regulator sistem penuaan. Penelitian menggunakan studi penambatan molekular dengan senyawa kuersetin dan eugenol sebagai ligan uji, sedangkan reseptornya menggunakan Sir2 asal Saccharomyces cerevisiae dengan kode PDB, 2HJH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa kuersetin dan eugenol dapat berikatan secara molekuler dengan protein Sir2. Parameter afinitas ikatan (ΔG) dilihat dengan nilai negatif yang tinggi. Senyawa kuersetin memiliki afinitas ikatan (ΔG) sebesar -8.5 kkal/mol, sedangkan pada senyawa eugenol memiliki afinitas ikatan (ΔG) sebesar -6.5 kkal/mol. Selain itu, adanya ikatan kimia dan residu asam amino menunjukkan bahwa senyawa ligan uji memiliki potensi untuk bersaing dengan ligan alami. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan efek ligan uji terhadap lintasan penuaan, in vivo.
Assessment on the Antimicrobial Activity of Lactiplantibacillus plantarum SU-KC1a against Listeria monocytogenes ATCC-7644 Timothy, Michael; Samantha, Ariela; Sugata, Marcelia; Tan, Tjie Jan; Jo, Juandy
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i1.8038

Abstract

Lactobacillus species are particularly noteworthy due to their ability to synthesize a variety of antimicrobial substances, including organic acids and bacteriocins. Lactiplantibacillus plantarum SU-KC1a, a member of the genus of Lactobacillus, had been previously isolated from human breast milk by our group. A preliminary in silico investigation had identified that Lpb. plantarum SU-KC1a possessed genes responsible for plantaricin, which is a type of bacteriocin produced by Lpb. plantarum strains. This study therefore aimed to assess the antibacterial activity of Lpb. plantarum SU-KC1a against pathogenic Listeria monocytogenes ATCC-7644 and to induce the biosynthesis of plantaricin by Lpb. plantarum SU-KC1a through co-culture with L. monocytogenes ATCC-7644 as the inducer strain. Our results showed that the cell-free supernatants from both co-culture and monoculture of Lpb. plantarum SU-KC1a exhibited a modest antibacterial activity against L. monocytogenes ATCC-7644. However, it was further determined that the inhibitory effect was not due to the production of plantaricin. Instead, it was primary attributed to the production of organic acids, which decreased the pH and inhibited the growth of L. monocytogenes ATCC-7644. In conclusion, our study demonstrated that Lpb. plantarum SU-KC1a could exert a modest antibacterial activity towards L. monocytogenes ATCC-7644, but not through the induction of plantaricin.
Downy Mildew Infection in Indonesian Melon Cultivar 'Melona' Based on Morphological and Anatomical Characters Angellya, Bunga Finovel; Yusuf, Adib Fakhruddin; Wibowo, Wiko Arif; Daryono, Budi Setiadi
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i1.8597

Abstract

Melons are a horticultural crop of the Cucurbitaceae family with high economic value and worldwide distribution. The 'Melona' variety is the result of breeding selection from commercial melons in Indonesia and has a golden yellow skin color with lobes, crisp flesh, and a high degree of sweetness. Downy mildew is a fungal infection that attacks the leaves of the plant causing brownish-yellow-colored symptoms. Downy mildew can cause crop failure under extreme conditions as the plant loses its productive capacity. Infection levels were observed by scoring and calculating disease index scores. The morphology of healthy and diseased plants was documented and analyzed descriptively. Anatomical features of healthy and diseased leaves were compared using anatomical observations on leaf cross-sections. Quantitative data analysis was carried out using the T-test analysis method with a 5% significance level. Melona's resistance to downy mildew is in the tolerant to susceptible category. Chlorosis and necrotic spots on the leaves and stunted growth are symptoms of downy mildew infection. Healthy leaves had a greater axial and abaxial epidermal thickness, a lower mesophyll thickness, a smaller cell size and a better quantity and quality of trichomes than leaves infected with downy mildew.
Produksi Selulosa Bakteri Berbasis Limbah Kulit Pisang dan Limbah Kulit Pepaya dengan Penambahan Etanol Panjaitan, Jabosar Ronggur Hamonangan; Purnomo, Agus
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i1.8706

Abstract

Limbah kulit pisang dan limbah kulit pepaya merupakan limbah buah hasil konsumsi yang cukup banyak dihasilkan di Indonesia. Potensi kandungan mineral dan gula yang terdapat di dalam kedua limbah ini dapat digunakan sebagai media fermentasi untuk memproduksi biomaterial salah satunya adalah selulosa bakteri atau nata. Pada penelitian ini akan diteliti perbandingan produksi selulosa bakteri dari bahan baku limbah kulit pisang dan limbah kulit pepaya yang disertai pengaruh produksi selulosa bakteri terhadap penambahan etanol. Penelitian ini menunjukkan bahwa kulit pisang dan kulit pepaya dapat digunakan sebagai bahan baku dalam produksi selulosa bakteri dengan yield tertinggi sebesar 9,33% diperoleh dari media limbah kulit pepaya tanpa adanya penambahan etanol. Sedangkan yield terendah nata sebesar 1,33% diperoleh dari media fermentasi kulit pepaya dengan penambahan 3% etanol. Penambahan etanol pada penelitian ini menghambat proses fermentasi dikarenakan tingginya konsentrasi etanol yang digunakan. Etanol yang semula pada penelitian ini diharapkan sebagai sumber karbon berubah menjadi senyawa toksik bagi pertumbuhan Acetobacter xylinum.
The Role of Chloroplast DNA Markers (psbA) in Maintaining the Position of Lemnoideae Sururi, Zaki Fahreza; Nururrahmani, Azmah; Sihombing, Maria Engzelita; Hidayat, Topik
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i1.8906

Abstract

The duckweed plant group belongs to the botanical family Araceae and has the potential as a food source. It is difficult to classify and the plants were originally grouped as the Lemnaceae family. However, current molecular taxonomy studies revealed the integration of Lemnaceae into the Araceae family, thus becoming the Lemnoideae subfamily. It is necessary to strengthen the position of Lemnoideae in Araceae using molecular marker psbA from chloroplast DNA This study aimed to determine the role of the psbA chloroplast DNA marker in regulating the position of Lemnoideae. A total of 41 sequences of the psbA gene taken from the species from seven subfamilies in Araceae and one outgroup were collected from the NCBI GenBank and then arranged in FASTA format. Sequence data was then aligned by ClustalX, and phylogenetic trees were reconstructed using PAUP and MEGA. From the resulting phylogenetic trees, it can be conferred that the Lemnoideae subfamily does not form a monophyletic group. Thereby, this in silico study using psbA markers concludes the position ofthe Lemnoideae subfamily in the family Araceae and we recommend not separating the plant group from the family Araceae.
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera Lamk.) dalam Edible Oil Sakhi, Fillah Mufti; Mahmudah, Rif'atul; Yulianti, Eny
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i1.9132

Abstract

Daun kelor merupakan bagian dari tanaman kelor yang banyak dimanfaatkan sebagai obat karena memiliki kandungan senyawa aktif salah satunya flavonoid yang dapat menangkal radikal bebas. Penelitian bertujuan mengetahui aktivitas antioksidan pada ekstrak maserasi daun kelor dalam extra virgin olive oil (EVOO) dan virgin coconut oil (VCO) dengan metode DPPH menggunakan variasi waktu ekstrasi dan variasi volume tween 80. Variasi dilakukan dengan penambahan volume tween 80 sebesar 0 - 0,4 mL dan waktu ekstraksi selama 2-4 jam. Penambahan tween 80 dan lama waktu ekstraksi terhadap aktivitas antioksidan daun kelor dalam EVOO menunjukkan hasil terbaik pada volume tween 80 0,4 mL dan waktu ekstraksi 4 jam dengan EC50 sebesar 106,848 ± 4,746 ppm. Sementara itu, dalam VCO memberikan hasil terbaik pada volume tween 80 0,4 mL dengan lama ekstraksi 4 jam menghasilkan EC50 sebesar 282,914 ± 10,008 ppm.
Efektivitas Ekoenzim Kulit Pisang Kepok Manado Muda sebagai Insektisida Nabati terhadap Hama Penghisap Buah Kakao (Helopeltis sp.) Agustin, Meli; Pratami, Gina Dania; Priyambodo; Agustrina, Rochmah
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 10, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v10i1.9288

Abstract

Kakao merupakan tanaman perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam perekonomian nasional. Salah satu kendala pada budidaya kakao adalah kehadiran organisme pengganggu tanaman, yaitu kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.). Pemakaian insektisida kimia secara berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif sehingga diperlukan insektisida alternatif yang ramah lingkungan. Ekoenzim kulit pisang kepok manado muda memiliki kandungan bahan aktif yang berpotensi dijadikan insektisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi ekoenzim kulit pisang kepok manado muda yang efektif dalam mematikan hama penghisap buah kakao. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi ekoenzim (0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%). Faktor kedua adalah waktu pengamatan (6, 12, 24, 48, dan 72 jam). Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan ANOVA dengan uji lanjut Tukey dan nilai LC50 dianalisis menggunakan probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekoenzim kulit pisang kepok manado muda berpotensi sebagai insektisida nabati terhadap hama penghisap buah kakao dengan konsentrasi paling efektif adalah 20%. Sementara hasil analisis probit didapatkan nilai LC50 sebesar 17,95% pada waktu pengamatan 72 jam.

Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2026): February 2026 Vol 10, No 3 (2025): October 2025 Vol 10, No 2 (2025): June 2025 Vol 10, No 1 (2025): February 2025 Vol 9, No 3 (2024): October 2024 Vol 9, No 2 (2024): June 2024 Vol 9, No 1 (2024): February 2024 Vol 8, No 3 (2023): October 2023 Vol 8, No 2 (2023): June 2023 Vol 8, No 1 (2023): February 2023 Vol 7, No 3 (2022): October 2022 Vol 7, No 2 (2022): June 2022 Vol 7, No 1 (2022): February 2022 Vol 6, No 3 (2021): October 2021 Vol 6, No 2 (2021): June 2021 Vol 6, No 1 (2021): February 2021 Vol 5, No 3 (2020): October 2020 Vol 5, No 2 (2020): June 2020 Vol 5, No 1 (2020): February 2020 Vol 4, No 3 (2019): October 2019 Vol 4, No 2 (2019): June 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 4, No 1 (2019): February 2019 Vol 3, No 3 (2018): October 2018 Vol 3, No 2 (2018): June 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 3, No 1 (2018): February 2018 Vol 2, No 3 (2017): October 2017 Vol 2, No 2 (2017): June 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 2, No 1 (2017): February 2017 Vol 1, No 3 (2016): October 2016 Vol 1, No 2 (2016): June 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 1, No 1 (2016): February 2016 Vol 19, No 1 (2014): February 2014 Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014 Biota Volume 13 Nomor 2 Tahun 2014 Vol 18, No 2 (2013): June 2013 Vol 18, No 1 (2013): February 2013 Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013 Vol 17, No 3 (2012): October 2012 Vol 17, No 2 (2012): June 2012 Vol 17, No 1 (2012): February 2012 BIOTA Volume 17 Nomor 3 Tahun 2012 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 2 (2011): June 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 16, No 1 (2011): February 2011 Vol 15, No 3 (2010): October 2010 Vol 15, No 2 (2010): June 2010 Vol 15, No 1 (2010): February 2010 Vol 14, No 3 (2009): October 2009 Vol 14, No 2 (2009): June 2009 Vol 14, No 1 (2009): February 2009 Vol 13, No 3 (2008): October 2008 Vol 13, No 2 (2008): June 2008 Vol 13, No 1 (2008): February 2008 Vol 12, No 3 (2007): October 2007 Vol 12, No 2 (2007): June 2007 Vol 12, No 1 (2007): February 2007 Vol 11, No 3 (2006): October 2006 Vol 11, No 2 (2006): June 2006 Vol 11, No 1 (2006): February 2006 Vol 10, No 3 (2005): October 2005 Vol 10, No 2 (2005): June 2005 Vol 10, No 1 (2005): February 2005 Vol 9, No 3 (2004): October 2004 Vol 9, No 2 (2004): June 2004 Vol 9, No 1 (2004): February 2004 Vol 8, No 3 (2003): October 2003 Vol 8, No 2 (2003): June 2003 Vol 8, No 1 (2003): February 2003 More Issue