cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
TARBIYA : Journal Education in Muslim Society
ISSN : 23561416     EISSN : 24429848     DOI : -
Core Subject : Education,
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society is a peer-reviewed journal on education in the Muslim world. This journal is published by the Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatullah Jakarta, in partnership with HSPAI (Scholars of Islamic Education), an affiliate of ISPI( Association of Indonesian Scholars of Education). Editors welcome scholars, researchers and practitioners of education around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication. Each author is solely responsible for the content of published articles. P-ISSN: 2356-1416 E-ISSN: 2442-9848
Arjuna Subject : -
Articles 441 Documents
Strengthening Student’s Spiritual Attitude Through Reflecting Learning Experiences by Teaching Materials Utilization Asep Nursobah; Andewi Suhartini; Hasan Basri; Tuti Hayati
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 6 NO. 2 2019
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v6i2.10978

Abstract

AbstractSpiritual and social attitudes are important competencies that must be obtained by students through direct or indirect learning. Among the factors that determine the success of strengthening spiritual and social attitudes in learning are teaching materials that enable students to understand the experiences gained. The focus of this study is to strengthen students' spiritual and social attitudes through teaching materials that can make students give meaning to learning experiences. This research was conducted by observing and open questionnaire filling by students regarding the meaningfulness of teaching materials used in learning Islamic education (PAI) to strengthen the competency of spiritual attitudes and social attitudes of students. The results showed that the use of teaching materials in the student's book to reflect learning experiences and follow-up to improve their spiritual and social behaviour had fulfilled the need to reflect the values of spiritual and social attitudes from their learning experiences.AbstrakSikap spiritual dan sosial adalah kompetensi penting yang harus diperoleh oleh siswa melalui pembelajaran langsung atau tidak langsung. Di antara faktor-faktor yang menentukan keberhasilan penguatan sikap spiritual dan sosial dalam belajar adalah bahan ajar yang memungkinkan siswa untuk memahami pengalaman yang diperoleh. Fokus penelitian ini adalah memperkuat sikap spiritual dan sosial siswa melalui bahan ajar yang dapat membuat siswa memberi makna pada pengalaman belajar. Penelitian ini dilakukan dengan mengobservasi dan pengisian quesioner oleh siswa mengenai kebermaknaan bahan ajar yang digunakan dalam belajar PAI untuk menguatkan kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan ajar yang ada pada buku siswa untuk memaknai pengalaman belajar dan tindak lanjut bagi perbaikan perilaku spiritual dan sosial mereka, belum memenuhi kebutuhan refleksi nilai-nilai sikap spiritual dan sosial dari pengalaman belajar mereka. How to Cite: Nursobah, A., Suhartini, A., Basri, H., Hayat, T. (2019).   Strengthening Student’s Spiritual Attitude Through Reflecting Learning Experiences by Teaching Materials Utilization. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 6(2), 117-133. doi:10.15408/tjems.v6i2. 11915. 
Religious Sectarianism Destroying the Peaceful Image of Islamic Country: A Case Study of Pakistan Muhammad Hamza; Samia Shams
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 6 NO. 2 2019
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v6i2.14961

Abstract

AbstractReligious harmony considers good for the development of any sovereign country, in which different schools of thoughts/sects play a vital role in society. Some namely scholars in different religious sects of Islam such as Sunni (Wahhabi, Deobandi, Ahl-e-Hadith and Baralvi) Shia are involving in supporting of sectarianism violence and also destroying the peaceful image of the country from last three decades. Sectarianism conflict is a big hindrance for the development of religious affairs and economy of the country. This study will highlight the role of religious sects and effects on the natives of the country. How sectarianisms destroyed the peaceful image of Pakistan in the world under the shadows of Islam. This cross sectional study of Three month duration which conducted from the present and pass out students of modern educational institutions and religious Madrassa from Punjab, Khyber Pakhtunkhawa, Sindh, Baluchistan and Azad Jammu & Kashmir. For better results of the study, 400 respondents (male and female) selected and analyzed data. As per survey results and primary findings, sectarianism is a bad curse which destroyed the gross-roots of the natives of country religiously, economically and politically for last many years.AbstrakKerukunan umat beragama dianggap baik bagi perkembangan negara berdaulat, berbagai aliran pemikiran/sekte berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Sehingga ada beberapa cendikiawan yang berbeda seperti Sunni (Wahhabi, Deobandi, Ahl-e-Hadits dan Baralvi) Syiah terlibat dalam mendukung kekerasan sektarianisme yang menghancurkan citra damai negara dari tiga dekade terakhir. Konflik sektarianisme adalah penghalang besar bagi perkembangan urusan agama dan ekonomi negara. Studi ini akan menyoroti peran sekte dan efek agama pada penduduk asli negara itu. Bagaimana sektarianisme menghancurkan citra damai Pakistan di dunia di bawah bayang-bayang Islam. Studi cross sectional ini berdurasi tiga bulan yang dilakukan dari sekarang dan lulus siswa dari lembaga pendidikan modern dan madrasah agama dari Punjab, Khyber Pakhtunkhawa, Sindh, Baluchistan dan Azad Jammu & Kashmir. Untuk hasil penelitian yang lebih baik, 400 responden (pria dan wanita) memilih dan menganalisis data. Sesuai hasil survei dan temuan utama, sektarianisme adalah kutukan buruk yang menghancurkan akar-akar kasar penduduk asli negara secara agama, ekonomi dan politik selama beberapa tahun terakhir.How to Cite: Hamza, M., Shams, S. (2019).   Religious Sectarianism Destroying the Peaceful Image of Islamic Country: A Case Study of Pakistan. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 6(2), 220-232. doi:10.15408/tjems.v6i2.14961.  
Moderation of Higher Education Curriculum in Religious Deradicalization in Indonesia Ekawati Ekawati; M. Suparta; Khaeron Sirin; Maftuhah Maftuhah; Ade Pifianti
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 6 NO. 2 2019
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v6i2.14886

Abstract

AbstractThis paper aims to know and analyze the forms of moderation of Islamic Higher Education curriculum. This moderate map of the curriculum is useful for policymaking in order to build an inclusive-multicultural awareness to minimize religious radicalism. This research is qualitative research with the historical approach. The method is used to examine the processes that take place in the life of the community under study. The results conclude that the forms of moderation of Islamic university curriculum in Indonesia are: first, integration and internalization of science. The Second, strengthening the theology of Rahmatanlil-'Alamin. Third, the deradicalization of religion through the strengthening of the local wisdom of Java. The Fourth, build an anti-radicalism curriculum. Fifth, the evaluation of multicultural-oriented learning. Sixth, Integral Muslim Personality Development Assistance Program (P3KMI). Seventh, Value Integration Plurality in the curriculum.Eighth, multicultural learning methods.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bentuk-bentuk moderasi kurikulum Pendidikan Tinggi Islam. Peta kurikulum yang moderat ini berguna untuk pembuatan kebijakan dalam rangka membangun kesadaran inklusif-multikultural untuk meminimalkan radikalisme agama. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan historis. Metode ini digunakan untuk memeriksa proses yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang diteliti. Hasilnya menyimpulkan bahwa bentuk moderasi kurikulum universitas Islam di Indonesia adalah: pertama, integrasi dan internalisasi sains. Yang Kedua, memperkuat teologi Rahmatan lil-'Alamin. Ketiga, deradikalisasi agama melalui penguatan kearifan lokal Jawa. Keempat, bangun kurikulum anti-radikalisme. Kelima, evaluasi pembelajaran yang berorientasi multikultural. Keenam, Program Bantuan Pengembangan Kepribadian Muslim Integral (P3KMI). Ketujuh, Pluralitas Integrasi Nilai dalam kurikulum. Kedelapan, metode pembelajaran multikultural.How to Cite: Ekawati., Suparta, M., Sirin, K., Maftuhah, Pifianti, A. (2019).   Moderation of Higher Education Curriculum in Religious Deradicalization in Indonesia. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 6(2), 169-178. doi:10.15408/tjems.v6i2. 14886. 
Teacher Professionalism in Indonesia, Malaysia, and New Zealand Nur Kholis; Murwanti Murwanti
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 6 NO. 2 2019
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v6i2.11487

Abstract

AbstractIssues related to teacher professionalism may differ among countries. In Indonesia, the problems of teacher professionalism are connected to pre-service education and the lack of continuous professional development. In Malaysia, the major issues are concerned with teaching and management skills of teachers. In New Zealand, teachers face major issues related to work overload and the feeling of poor payment. Using a qualitative approach, this conceptual research paper discusses the issues of teacher professionalism and how the government takes roles in the continuing professional development of teachers in Indonesia, Malaysia and New Zealand. The research data was collected from the existing literature containing descriptions and discussions on the research topic and then analyzed using content analysis. The major findings of the study include that these three counties have issued laws, legislation, and regulations regarding the teacher profession. Then, teachers in the three countries are required to have the teacher’s standard competence embodied with a certificate. In addition,  before entering the classroom, all New Zealand teachers must have a certificate of teaching eligibility, while in Malaysia and Indonesia, the teacher certification is executed when teachers are already in the service. Finally, compared to Indonesia and Malaysia, New Zealand has a complete plan for improving teacher professionalism. The study concludes that the three countries put serious effort into improving the teaching profession. Similar research with more country samples would enrich the understanding of ways in which teacher professional development is conducted, thus providing valuable lessons for future reflections.AbstrakMasalah terkait dengan profesionalisme guru mungkin berbeda di setiap negara. Di Indonesia, masalah profesionalisme guru terkait dengan pendidikan pra-jabatan dan kurangnya pengembangan profesional berkelanjutan. Di Malaysia masalah utama berkaitan dengan keterampilan mengajar dan manajemen guru. Di Selandia Baru, guru menghadapi masalah besar terkait dengan kelebihan beban kerja dan persepsi terhadap rendahnya gaji guru.  Menggunakan pendekatan kualitatif, artikel penelitian konseptual ini membahas masalah profesionalisme guru dan bagaimana pemerintah berperan dalam pengembangan profesional guru berkelanjutan di Indonesia, Malaysia dan Selandia Baru. Data penelitian dikumpulkan dari literatur yang berisi deskripsi dan diskusi tentang topik penelitian, dan kemudian dianalisis menggunakan analisis konten. Temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa tiga negara ini telah mengeluarkan undang-undang, peraturan perundang-undangan, dan peraturan tentang profesi guru. Kemudian, guru di tiga negara harus memiliki kompetensi standar guru yang diwujudkan dengan sertifikat. Selain itu, sebelum memasuki ruang kelas, semua guru Selandia Baru harus memiliki sertifikat kelayakan mengajar, sementara di Malaysia dan Indonesia sertifikasi guru dilaksanakan ketika guru sudah berada dalam layanan. Akhirnya, dibandingkan dengan Indonesia dan Malaysia, Selandia Baru memiliki rencana yang lebih lengkap dalam meningkatkan profesionalisme guru. Studi ini menyimpulkan bahwa ketiga negara melakukan upaya serius dalam meningkatkan profesi guru. Penelitian serupa dengan lebih banyak sampel negara akan memperkaya pemahaman tentang cara-cara di mana pengembangan profesional guru dilakukan, sehingga memberikan pelajaran berharga untuk refleksi di masa depan.How to Cite: Kholis, N., Murwanti. (2019).   Teacher Professionalism in Indonesia, Malaysia, and New Zealand. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 6(2), 179-195. doi:10.15408/tjems.v6i2. 11487. 
Conversation Analysis and Its Implications to Language Teaching Didin Nuruddin Hidayat
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 6 NO. 2 2019
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v6i2.15138

Abstract

AbstractThe present study analyzed the use of Conversation Analysis in casual conversation and how it can serve as a potential means in language teaching. Casual conversation concerns the type of conversation that people do when they talk just for the sake of talking (Eggins & Slade, 1997). This includes daily conversations among people. Employing a qualitative research methodology, data were taken from a casual conversation taking place in Australia regarding a birthday party preparation between a husband and a wife whose native language is Bahasa Indonesia. Data were first transcribed in Bahasa Indonesia using CA conventions, and then were translated into English. The transcription of the conversation attempted to follow the guidelines proposed by Cook (1990) and Bailey (2008). The study found that turn-taking systems, adjacency pairs, overlaps, response tokens, and repairs were evident from the analysis of conversation. The conversation confirms the theories of CA: the occurrence of a large number of response tokens, such as mm hm or yes, various types of adjacency pairs, each speaker speaks one at a time even though there are several gaps and overlaps, and so forth. The study drew the implication of CA to language teaching. CA contributes to language teaching in terms of offering not only the authentic real-life communication, but also the authentic spoken interaction which will encourage learners to be able to produce authentic utterances. Also, CA can serve as a potential means to shape the students’ ability as active participants in the learning process.AbstrakStudi ini menganalisis penggunaan Analisis Percakapan (Conversation Analysis, selanjutnya CA) dalam percakapan kasual dan mengulas bagaimana CA dapat berfungsi sebagai sarana yang potensial untuk dipergunakan dalam pengajaran bahasa. Percakapan kasual diartikan sebagai jenis percakapan yang dilakukan orang ketika mereka berbicara dengan topik sehari-hari (Eggins & Slade, 1997). Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan mengambil data dari percakapan kasual antara suami istri yang berlangsung di Australia mengenai persiapan pesta ulang tahun. Bahasa ibu para pembicara adalah Bahasa Indonesia. Data pertama-tama ditranskripsikan dalam Bahasa Indonesia menggunakan konvensi CA, dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Transkripsi percakapan mengikuti panduan Cook (1990) dan Bailey (2008). Studi ini menemukan bahwa sistem turn-taking, adjacency pairs, overlaps, token response, dan repair terbukti dari analisis percakapan. Hasil penelitian mengkonfirmasi teori-teori CA: terjadinya sejumlah besar token response, seperti mm hm atau ya, berbagai jenis adjacency pairs, masing-masing pembicara berbicara satu per satu walaupun ada beberapa celah dan overlaps, dan sebagainya. Studi ini juga menggali implikasi CA terhadap pengajaran bahasa. CA berkontribusi pada pengajaran bahasa dalam hal menawarkan tidak hanya komunikasi kehidupan nyata yang otentik, tetapi juga interaksi lisan yang otentik yang akan mendorong peserta didik untuk dapat menghasilkan ucapan-ucapan otentik. Selain itu, CA dapat berfungsi sebagai sarana potensial membentuk kemampuan siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran.How to Cite: Hidayat, D. N. (2019).   Conversation Analysis and Its Implications to Language Teaching  . TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 6(2), 197-209. doi:10.15408/tjems.v6i2. 15138. 
Phonics Instruction with Storytelling Toward Learning to Read and Oral Language Development Ahmad Syarif; Yetti Supriyati; Zulela Zulela
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 6 NO. 2 2019
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v6i2.14322

Abstract

AbstractThis study aims to examine the influence of phonics instruction with storytelling toward the students’ learning to read and the influence of phonics instruction with storytelling toward the students’ oral language development at first grade in elementary school. The subject of research is the first students at class A and class B at SDN Siliwangi that located in Bogor. The approach of this research is quantitative and the method used quasi-experiment. The design of this research used Nonequivalent Groups Postest-Pascatest with a purposive sample technique. The total samples were 60 students of first grade in SDN Siliwangi that are divided into two classes. The class control is 30 students, and the experiment class is 30 students. The data were collected through the test, namely test for measuring learning to read and test for measuring oral language development. The result of research finds out that phonics instruction with storytelling was better than conventional learning toward students' learning to read and oral language development. The novelty of this research shows that students pronounced the simple text easier, fluency, and communicative when they described their idea orally after given phonics instruction with storytelling. The second novelty of this result found that phonics instruction was effective when the teacher at elementary school facilitates students' level from the beginning until the advanced level.  The teacher should be implemented this instruction for helping students’ low achievement, especially for improving students’ oral language development. Finally, this result should be developed so that it more perfect and more practice.AbstrakStudi ini bertujuan untuk menguji pengaruh instruksi fonik dengan mendongeng terhadap pembelajaran membaca siswa dan pengaruh instruksi fonik dengan mendongeng terhadap perkembangan bahasa lisan siswa di kelas satu di sekolah dasar.. Subjek penelitian adalah siswa pertama di kelas A dan kelas B di SDN Siliwangi yang berlokasi di Bogor. Pendekatan penelitian ini adalah kuantitatif dan metode yang digunakan eksperimen semu. Desain penelitian ini menggunakan Nonequivalent Groups Postest-Pascatest dengan teknik sampel purposive. Total sampel adalah 60 siswa kelas I di SDN Siliwangi yang dibagi menjadi dua kelas. Kontrol kelas adalah 30 siswa dan kelas eksperimen adalah 30 siswa. Data dikumpulkan melalui tes, yaitu tes untuk mengukur pembelajaran membaca dan tes untuk mengukur perkembangan bahasa lisan. Hasil penelitian menemukan bahwa pengajaran fonik dengan mendongeng lebih baik daripada pembelajaran konvensional terhadap pembelajaran membaca dan pengembangan bahasa lisan siswa. Kebaruan dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa mengucapkan teks sederhana lebih mudah, lancar, dan komunikatif ketika mereka menggambarkan ide mereka secara lisan setelah diberi instruksi fonik dengan mendongeng. Kebaruan kedua dari hasil ini menemukan bahwa pengajaran fonik efektif ketika guru di sekolah dasar memfasilitasi tingkat siswa dari awal hingga tingkat lanjutan. Guru harus mengimplementasikan instruksi ini untuk membantu siswa berprestasi rendah, terutama untuk meningkatkan pengembangan bahasa lisan siswa. Akhirnya, hasil ini harus dikembangkan sehingga lebih sempurna dan lebih banyak latihan.How to Cite: Syarif, A. Supriyati, Y., Zulela. (2019).   Phonics Instruction with Storytelling Toward Learning tTo Read and Oral Language Development. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 6(2), 210-219. doi:10.15408/tjems.v6i2. 14322. 
STIFIn Method as Intelligence Machine in Enhancing Children's Intelligence Potential in Pesantren Hasan Baharun; Syafiqiyah Adhimiy
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 6 NO. 2 2019
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v6i2.9247

Abstract

AbstractThis article presents the role of STIFIn method as an intelligence machine for enhancing children's intelligence potential as learning innovation in pesantren. This method is a new learning innovation, developed by pesantren to find genetic potential or intelligence machine that exists in each santri through STIFIn test by scanning on the ten fingers. Strokes or fingerprint data are processed by a computer application to determine the hemisphere and dominant brain layer, and those are; Sensing, thinking, intuiting, feeling and instinct. By that, studies learning style can be found, so it is easy for enhancing children's intelligence in pesantren. This study adopts a qualitative research approach and uses a case study design with a multi-site approach. The study show that the strategiys carried out by educators at the three pesantren for enhancing santri intelligence potential through the STIFIn intelligence engine can be mapped as follows: my rival is my teacher, road to victory, the power of dream, a tribute to other, one step closer.AbstrakTulisan ini menyajikan tentang strategi metode STIFIn sebagai mesin kecerdasan dalam meningkatkan potensi kecerdasan anak sebagai bagian dari inovasi pendidikan di pondok pesantren. Metode ini merupakan inovasi baru dalam pembelajaran, yang dikembangkan oleh pesantren untuk mengenali potensi genetik atau mesin kecerdasan yang ada pada setiap individu santri melalui tes STIFIn, yaitu dengan melakukan scan pada sepuluh jari. Data guratan atau sidik jari diolah oleh aplikasi komputer untuk menentukan belahan dan lapisan otak dominan, yaitu; sensing, thingking, intuiting, feeling dan insting. Dengan begitu, akan ditemukan gaya dan tipe belajar siswa, sehingga mudah untuk ditingkatkan kecerdasannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif jenis studi kasus dengan pendekatan multi situs. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang dilakukan oleh guru dalam meningkatkan potensi kecerdasan anak melalui metode STIFIn pada tiga pondok pesantren adalah; my rival is my teacher, road to victory, the power of dream, a tribute to other, one step closer.How to Cite: Baharun, H., Adhimiy, S. (2019).   STIFIn Method as Intelligence Machine in Enhancing Children's Intelligence Potential in Pesantren. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 6(2), 233-250. doi:10.15408/tjems.v6i2.9247. 
Islamic Education’s Responses to Social Changes and Community Behaviors Sukino Sukino; Fauzan Fauzan
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 7 NO. 1 2020
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v7i1.16717

Abstract

AbstractThis study explains three things that are significant in the context of change. First, how is the change in community behavior as a result of the development of the oil palm plantation industry in the village of Dak Jaya, secondly why the people of the Dak Jaya village have changed their behavior in publishing Islamic education, third, what are the dimensions of the Islamic education development so that people have increased interest in Islamic education. The research approach is qualitative, data collection methods with interviews and direct observation, data validity techniques using triangulation of sources and extension of observation. Data were analysed from the beginning of data collection through an interactive process that is the collection, reduction, display, and verification or conclusion drawing. The results of the study explained that (1) changes in people’s attitudes as a result of economic changes opening up information openness present new values in people’s lives so that people change behavior into hedonists, pragmatics and individualists, (2) the impact of life towards hedonists, pragmatics and individualists in society make anxious about the future of the young generation so that it grows positive responses that make religious education as the construction of religious values and religious humanism, (3) madrassas and Islamic boarding schools are considered as the foremost oasis of the future because they can provide excellent service, develop creativity and provide ecological literacy for a healthy life.AbstrakPenelitian ini menjelaskan tiga hal yang signfikan dalam konteks perubahan. Pertama bagaimana perubahan perilaku masyarakat sebagai akibat dari perkembangan Industri perkebunan kelapa sawit di desa Dak Jaya, kedua mengapa masyarakat desa Dak Jaya berubah perilakunya dalammerepos pendidikan Agama Islam, ketiga, dimensi apa dari lembanga pendidikan Islam sehingga masyarakat meningkat minatnya terhadap pendidikan Islam. Pendekatan penelitian adalah kualitatif, metode pengumpulan data dengan wawancara dan observasi langsung, teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan perpanjangan pengamatan. Data dianalisis sejak awal pengumpulan data melalui proses interaktif yakni pengumpulan, reduksi, display dan verifkasi atau penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menjelaskan bahwa (1) perubahan sikap masyarakat akibat dari perubahan perekonomian membuka keterbukaan informas menghadirkan nilai-nila baru dalam kehidupan masyarakat sehingga mengubah perilaku masyarkat menjadi hedonis, pragmatis dan individualis, (2) dampak dari kehidupan kearah hedonis, pragmatis dan individualis pada masyarakat membuat rasa cemas terhadap masa depan generasi muda sehingga tumbuh respon positif yakni menjadikan pendidikan agama sebagai konstruksi nilai religiusitas dan humnisme religious, (3) madrasah dan pondok pesantren dinlai sebagai oasis menemuka masa depan karena mampu memberikan layanan prima, mengembangkan kreativitas dan memberikan literasi ekologis untuk hidup sehat. How to Cite: Sukiono., Fauzan. (2020).  Islamic Education’s Responses to Social Changes and Community Behaviors. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 7 (1), 29-47. doi:10.15408/tjems.v7i1.16717. 
Islamic Theological Perspective on Pancasila Textbook in Higher Education Khalimi khalimi; Abu Khaer
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 7 NO. 1 2020
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v7i1.16718

Abstract

AbstractThis reasearch aims to describe the reconstruction of the worldview of Islamic theology within the Pancasila course textbook used at Islamic institutes of higher education. The authors’ observation, research, and knowledge indicate that the majority of students taking compulsory subjects in both general and Islamic tertiary institutions tend to assume that there is no link between the teachings of Pancasila and the teachings of Islamic theology. On the contrary, according to the formulators of Pancasila and the founding fathers of Indonesia, Pancasila is an essence of religious teachings. For example, Soekarno explained that the reason for naming the nation's philosophy Pancasila was because it was inspired by the five pillars of Islam. This research is qualitative in nature by exploring and examining available data in more depth and detail. This type of research places emphasis on library research. Up to the present time, various findings and discussions seem to indicate that the virtuous theological values of Pancasila, with its many variants of scientific studies, are discussed and studied separately from the ‘life and death’ struggle of its theological concept throughout the history of Pancasila to become the nation’s philosophical foundation. Pancasila education has long been considered as a pure knowledge free from any practical involvement of its initiators. The theological concept of Pancasila, which later evolved to become part of subject material in Pancasila Education, demonstrated that it was, in fact, played a role in the zeitgeist, which caused quite a commotion stir during its formulation days.AbstrakPenelitian bertujuan untuk menggambarkan rekonstruksi pandangan dunia teologi Islam dalam buku ajar kursus Pancasila yang digunakan di lembaga pendidikan tinggi Islam. Pengamatan, penelitian, dan pengetahuan penulis menunjukkan bahwa mayoritas siswa yang mengambil mata pelajaran wajib di lembaga pendidikan umum dan Islam cenderung berasumsi bahwa tidak ada hubungan antara ajaran Pancasila dan ajaran teologi Islam. Sebaliknya, menurut perumus Pancasila dan para pendiri bangsa Indonesia, Pancasila adalah inti dari ajaran agama. Misalnya, Soekarno menjelaskan bahwa alasan penamaan filsafat bangsa Pancasila adalah karena ia terinspirasi oleh lima rukun Islam. Penelitian ini bersifat kualitatif, dengan mengeksplorasi dan memeriksa data yang tersedia secara lebih mendalam dan terperinci. Jenis penelitian ini menekankan pada penelitian kepustakaan. Hingga saat ini, berbagai temuan dan diskusi tampaknya mengindikasikan bahwa nilai-nilai teologis Pancasila yang saleh, dengan banyak varian studi ilmiahnya, dibahas dan dipelajari secara terpisah dari perjuangan 'hidup dan mati' dari konsep teologisnya sepanjang sejarah Pancasila menjadi landasan filosofis bangsa. Pendidikan Pancasila telah lama dianggap sebagai pengetahuan murni yang bebas dari keterlibatan praktis penggagasnya. Konsep teologis Pancasila, yang kemudian berkembang menjadi bagian dari materi pelajaran dalam Pendidikan Pancasila, menunjukkan bahwa itu sebenarnya memainkan peran dalam zeitgeist, yang menyebabkan keributan yang cukup besar selama hari-hari perumusannya.How to Cite: Khalimi., khaer, A. (2020). Islamic Theological Perspective on Pancasila Textbook in Higher Education. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 7 (1), 102-118. doi:10.15408/tjems.v7i1.16718.  
Contextualization of Islamic Education Curriculum in Junior High Schools Amir Maliki Abitolkha; Ahmad Nur Ismail; Yazid hady
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 7 NO. 1 2020
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v7i1.13843

Abstract

AbstractSeveral years of experience teaching PLPG training for teachers in the Ministry of Religion, especially Islamic Religious Education (PAI) teachers, found the fact that "the teacher" as the essential instrument in the process of teaching and learning activities in the classroom is considered unattractive. Therefore, "teachers" are required to design PAI curriculum development and conduct contextual learning on PAI subjects, to be able to connect the material with real-life students. This study aims to explore the relationship between curriculum development and the improvement of PAI contextual learning. The research approach used is descriptive qualitative with a multi-case design carried out at SMPN (Junior High School) 3 Rejoso Darul Ulum and MTsN (Islamic Junior High School) Tambak Beras Jombang. The results showed that; (1) the curriculum development approach commonly referred to and used in both institutions is academic and humanistic. While the technological approach is still unclear. (2) The use of additional PAI literature such as Jurisprudence and Arabic language development, by referring to Fath al-Qarib and Amsilah Tasrifiyah as a form of integration between the formal curriculum in schools and the boarding school curriculum. (3) Factually it can be stressed that the process of curriculum development can increase the contextually of active PAI learning in both educational institutions through the use of project-based learning strategies.AbstrakBeberapa tahun pengalaman mengajar pelatihan Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) untuk guru di Kementrian Agama terutama guru Pendidikan Agama Islam (PAI), ditemukan fakta bahwa “guru” sebagai instrumen terpenting dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas dianggap tidak menarik. Oleh karenanya, “guru” dituntut untuk mendesain pengembangan kurikulum PAI dan melakukan pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran PAI, sehingga mampu menghubungkan materi dengan kehidupan nyata siswa. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi hubungan antara pengembangan kurikulum dengan peningkatan pembelajaran kontekstual PAI. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif dengan rancangan multi-kasus yang dilaksanakan di SMPN 3 Rejoso Darul Ulum dan MTsN Tambak Beras Jombang. Hasil penelitian menunjukan bahwa; (1) Pendekatan pengembangan kurikulum yang biasa dirujuk dan digunakan pada kedua lembaga tersebut adalah pendekatan akademik dan humanistik. Sedangkan pendekatan teknologis masih belum jelas penggunaannya. (2) Penggunaan literatur tambahan PAI seperti Fikih dan pengembangan bahasa Arab, dengan merujuk kitab Fath al-Qarib dan kitab Amsilah Tasrifiyah sebagai bentuk integrasi antara kurikulum formal di sekolah dengan kurikulum pondok pesantren. (3) Secara faktual dapat ditegaskan bahwa proses pengembangan kurikulum dapat meningkatkan kontekstualitas pembelajaran PAI secara aktif pada kedua lembaga pendidikan tersebut melalui penggunaan strategi project based learning. How to Cite: Abitolkha, A. M., Ismail, A. N., Hady, Y. (2020).  Contextualization of Islamic Education Curriculum  in Junior High Schools. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 7 (1), 48-66. doi:10.15408/tjems.v7i1.13843. 

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 12 NO. 1 2025 (In Progress Issue) TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 12 NO. 1 2025 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 11 NO. 2 2024 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 11 NO. 1 2024 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 10 NO. 2 2023 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 10 NO. 1 2023 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 9 NO. 2 2022 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 9 NO. 1 2022 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 8 NO. 2 2021 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 8 NO. 1 2021 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 7 NO. 2 2020 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 7 NO. 1 2020 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 6 NO. 2 2019 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 6 NO. 1 2019 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 2 DECEMBER 2018 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 1 JUNE 2018 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 4 NO. 2 DECEMBER 2017 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 4 No. 1 June 2017 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 3 No. 2 December 2016 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 3 No. 1 June 2016 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 2 No. 2 December 2015 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 2 No. 1 June 2015 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 1 No. 2 Desember 2014 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 1 No. 2 December 2014 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 1 No. 1 Juni 2014 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 1 No. 1 Juni 2014 More Issue