cover
Contact Name
buhari
Contact Email
pend.sejarah.fkip@uho.ac.id
Phone
+6285241919232
Journal Mail Official
pend.sejarah.fkip@uho.ac.id
Editorial Address
Kampus Hijau Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Sulawesi Tenggara – Indonesia Telp Kantor/HP : 04013127180 / 085241919232
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 25026666     EISSN : 25026674     DOI : https://doi.org/10.36709/jpps
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Halu Oleo. Jurnal ini terbit empat kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus dan November. Terbitan awal Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO yaitu Volume 1 nomor 1 Maret 2016. Tujuan dari adanya publikasi pada jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual dan hasil penelitian. Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO merupakan wadah ilmiah untuk mempublikasikan berbagai hasil penelitian mahasiswa, dosen, maupun guru, dengan Ruang lingkup Jurnal memuat tentang kajian Pendidikan Sosial-Budaya khususnya aspek: Pendidikan Sejarah, Etnopedagogik, Kajian Sejarah Lokal, Kajian kearifan lokal sebagai modal pendidikan dan penguatan karakter.
Articles 208 Documents
PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA GUMANANO SETELAH DITETAPKAN MENJADI DESTINASI WISATA PANTAI MUTIARA FIRA, FIRA; Barlian, Barlian; Batia, la
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i3.15672

Abstract

ABSTRAK: Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana Perubahan sosial ekonomi yang terjadi pada masyarakat Desa Gumanano? 2) Bagaimana peran pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Desa Gumanano sebelum dan setelah ditetapkan menjadi destinasi wisata pantai? 3) Bagaimana Dampak wisata pantai terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Desa Gumanano? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1) Teknik Pengumpulan Data tediri dari beberapa bagian yaitu: wawancara, observasi langsung, dan dokumentasi. 2) Teknik Analisis Data. 3) Validasi Data. Dalam tinjaun pustaka penulis menggunakan konsep perubahan sosial, konsep ekonomi, konsep kondisi sosial ekonomi, konsep pariwisata, dan teori perubahan sosial. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Perubahan sosial ekonomi yang terjadi pada masyarakat Desa Gumanano yaitu Perubahan Pendapatan Ekonomi, sebelum diresmikannya objek wisata pantai, Masyarakat Desa Gumanano merupakan masyarakat yang kurang mampu, dalam hal ini sebagian besar dari Masyarakat Desa Gumanano bekerja dan hanya mengandalkan pada sektor pertanian dan nelayan saja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selain bertani, masyarakat juga bekerja sebagai peternak. Akan tetapi, setelah adanya destinasi wisata pantai pekerjaan masyarakat menjadi bermacam-macam seperti: tukang parkir, penjual keliling, dan ada yang membuka warung makan. Dengan demikian pendapatan masyarakat menjadi meningkat; 2) Peran pemerintah daerah Buton Tengah terhadap perbaikan infrastruktur kompleks pantai maupun jalan menuju pantai memberikan dampak ekonomi yang sangat luas, perubahan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar pantai tetapi juga masyarakat dari luar daerah. Perbaikan selanjutnya yang langsung dikoordinasi oleh Pemda sejak tahun 2016; 3) Dampak Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Gumanano yaitu Hubungan sosial yang menjadi lebih baik,  hubungan yang terjalin semakin baik, dikarenakan mereka sering bertemu di lokasi wisata pantai di mana hubungan antar masyarakat yang terjalin di  kawasan wisata rukun, akrab, dan semakin erat. Dampak Negatif Perubahan Sosial ekonomi bagi masyarakat Desa Gumanano, munculnya kecemburuan sosial dari desa lain. Kata Kunci: Perubahan Sosial, Peran Pemerintah Daerah, Destinasi Wisata ABSTRACT The problems studied in this research are: 1) How are the socio-economic changes that occur in the village of Gumanano? 2) What is the role of the local government in encouraging the economic growth of the people of Gumanano Village before and after being designated as a coastal tourism destination? 3) How is the impact of coastal tourism on the economic growth of the people of Gumanano Village? The method used in this research is a qualitative research method with the following stages: 1) The data collection technique consists of several parts, namely: interviews, direct observation, and documentation. 2) Data Analysis Techniques. 3) Data Validation. In the literature review, the author uses the concept of social change, the concept of economy, the concept of socio-economic conditions, the concept of tourism, and the theory of social change. The results showed that: 1) The socio-economic changes that occurred in the Gumanano Village community, namely the Change in Economic Income, before the inauguration of the beach tourism object, the Gumanano Village Community was an underprivileged community, in this case most of the Gumanano Village Community worked and only relied on agriculture and fishermen sector alone to meet their daily needs. Apart from farming, people also work as breeders. However, after the existence of a beach tourism destination, the work of the community becomes diverse, such as: parking attendants, traveling sellers, and some who open food stalls. Thus the people's income will increase; 2) The role of the Central Buton regional government in repairing the infrastructure of the coastal complex and the road to the coast has a very broad economic impact, economic changes are not only felt by people around the coast but also people from outside the region. Subsequent improvements which have been directly coordinated by the Regional Government since 2016; 3) The Impact of Social and Economic Changes in the Village Community in Gumanano, namely better social relations, better relationships, because they often meet at beach tourism locations where the inter-community relations in the tourist area are harmonious, intimate, and getting closer. Negative Impact of Socio-economic Change for the people of Gumanano Village, the emergence of social jealousy from other villages.  Keywords: Social Change, Role of Local Government, Tourist Destinations
KAGHORONO BHANSA DALAM TRADISI KARIA (PINGITAN) DI DESA MANTOBUA KECAMATAN LOHIA KABUPATEN MUNA Wahyuni, reski; Untarti, Dade Prat
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i3.15676

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mendeskripsikan latar belakang adanya proses Kaghorono Bhansa dalam Tradisi Karia. (2) Untuk menjelaskan bagaimana proses Tradisi Kaghorono Bhansa dilakukan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dan jenis pendekatan etnografi, teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi. Kemudian data yang telah terkumpul berupa kata-kata dianalisis dengan teknik reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitan menunjukkan bahwa: (1) Latar belakang masyarakat Desa Mantobua melakukan Kaghorono bhansa yaitu karena Kaghorono bhansa merupakan tradisi yang sudah ada semenjak dahulu kala sehingga tidak bisa dihilangkan begitu saja dan juga merupakan tutura  yang harus dilakukan oleh setiap gadis yang telah dipingit, menurut kepercayaan sebagian besar masyarakat dan tokoh adat apabila seorang gadis tidak melakukan Kaghorono bhansa maka sang gadis akan sakit sakitan dan mengalami hal buruk dalam hidupnya. (2) Proses pelaksanaan tradisiKaghorono bhansa, hal pertama yang dilakukan sebelum melaksanakan Kaghorono bhansa adalah menyepakati kapan akan dilaksakanya tradisi tersebut. Kaghorono bhansa dapat dilaksanakan sehari setelah acara Karia atau bisa juga menundanya tergantung kesepakatan Parapu dan tokoh adat, apabila telah diketahui atau telah disepakati oleh Parapu dan tokoh adat mengenai pelaksanaan kaghorono bhansa setelah itu menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan pada saat proses pelaksanaan Kaghorono bhansa. Kata Kunci: Kaghorono Bhansa, Karia, Tradisi, di Desa Mantobua ABSTRACT: This study aims (1) to describe the background of the Kaghorono Bhansa process in the Karia Tradition. (2) To explain how the process of the Kaghorono Bhansa Tradition is carried out. This research is a qualitative research type and an ethnographic approach. Data collection techniques are carried out using observation techniques, interviews, documentation. Then the data that has been collected in the form of words is analyzed by data reduction techniques, data display, and drawing conclusions. The results of the research show that: (1) The background of the people of Mantobua Village to perform Kaghorono bhansa is because Kaghorono bhansa is a tradition that has existed since time immemorial so that it cannot be eliminated just like that and is also a tutura that must be performed by every girl who has been secluded, according to beliefs most of the community and traditional leaders if a girl does not do Kaghorono bhansa then the girl will get sick and experience bad things in her life. (2) The process of implementing the Kaghorono bhansa tradition, the first thing that is done before carrying out the Kaghorono bhansa is to agree on when the tradition will be carried out. Kaghorono bhansa can be carried out the day after the Karia event or it can also be postponed depending on the agreement of Parapu and traditional leaders, if it is known or agreed upon by Parapu and traditional leaders regarding the implementation of kaghorono bhansa after that prepare the things needed during the process of implementing the Kaghorono bhansa.  Keywords: Kaghorono Bhansa, Karia, Tradition, in the village of Mantobua
SANGIA PURE-PURE SEBAGAI OBJEK SEJARAH DI DESA PURE KECAMATAN WAKORUMBA SELATAN (1998-2017) Tasrip, Oman; Mursidin T, Mursidin T
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 4 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i4.15680

Abstract

ABSTRAK: Subtansi penelitian ini mengacu pada empat aspek permasalahan dasar (1) menjelaskan latar belakang Sangia Pure-Pure dijadikan sebagai objek sejarah di Desa Pure Kecamatan Wakorumba Selatan (1998-2017). (2) Menjelaskan kegunaan objek sejarah Sangia Pure-Pure di Desa Pure Kecamatan Wakorumba Selatan (1998-2017). (3) Menjelaskan peninggalan yang terdapat dalam objek sejarah Sangia Pure-Pure di Desa Pure Kecamatan Wakorumba Selatan (1998-2017). (4) Menjelaskan Nilai-nilai sosial budaya yang terkandung dalam objek sejarah Sangia Pure-Pure di Desa Pure Kecamatan Wakorumba Selatan (1998-2017). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah dengan prosedur mengacu pada Helius Sjamsuddin, yang terbagi tiga tahapan yaitu: (1) Heuristik (pengumpulan data), (2) Kritik sumber (verifikasi data), (3) Historigrafi. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Latar belakang Sangia Pure-Pure dijadikan sebagai objek sejarah di Desa Pure Kecamatan Wakorumba Selatan adalah karena merupakan sumber sejarah terbentuknya Pure yang menjadi Ibu Kota Kecamatan Wakorumba Selatan yang mana masyarakat setempat meyakini kawasan tersebut sebagai suatu tempat keramat dan sakral dikarenakan adanya tokoh yang dianggap sebagai sosok kharismatik  yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat Pure pada saat itu. Tokoh tersebut adalah La Ode Kilambibito. Untuk menghargai kebesaran serta kharismanya itulah dia digelari sangia Pure-Pure. Sangia tersebut berasal dari bahasa sansekerta yakni sanghyang  artinya dipertuan. Penamaan pure dikarenakan lokasi tempat perkampungan ditumbuhi tumbuhan pure yang subur dan berbunga putih, batangnya berbulu halus dan gatal jika terkena kulit manusia. (2) Kegunaan Sangia Pure-Pure sebagai objek sejarah yaitu: (a) Penanaman Nilai-nilai sejarah, peran Sangia Pure-Pure dalam upaya penanaman nilai-nilai sejarah telah melekat pada kebiasaan masyarakat setempat yang selalu menuturkan sejarah lokal ini kepada tiap-tiap generasinya. Hal ini dimaksudkan agar generasi muda yang memiliki tanggung jawab moril terhadap keberadaan situs ini bisa memaknai dan mengetahui latar belakang sejarah yang ada di tempat tersebut, (2) Sumber belajar sejarah, pemanfaatan  situs Sangia Pure-Pure dalam upaya penanaman pengetahuan sejarah telah menjadi kegiatan ekstrakulikuler di SMA Negeri 1 Wakorumba Selatan dan diperuntukan  tidak hanya bagi mereka yang meminati atau mengambil jurusan IPS dalam rutinitas belajar di kelas tetapi di berlakukan untuk seluruh siswanya 3) Peninggalan sejarah yang terdapat dalam objek sejarah Sangia Pure-Pure yaitu: (1) Bangunan fisik makam La Ode Kilambibito, Bhatakalambe beserta para pengikutnya, (2) Fondasi Masjid  (3) Mata Air 4) Nilai-Nilai sosial budaya yang terkandung dalam objek sejarah Sangia Pure-Pure yaitu: (1) Nilai etika, (2) Nilai solidaritas, (3) Nilai historis. Kata Kunci: Sangia Pure, Objek Wisata ABSTRACT: The substance of this research refers to four aspects of the basic problem (1) to explain the background of Sangia Pure-Pure as a historical object in Pure Village, Wakorumba South District (1998-2017). (2) Explaining the use of historical objects Sangia Pure-Pure in Pure Village, South Wakorumba District (1998-2017). (3) Explaining the relics contained in the historical object of Sangia Pure-Pure in Pure Village, South District Wakorumba (1998-2017). (4) Explaining the socio-cultural values contained in the historical object of Sangia Pure-Pure in Pure Village, South Wakorumba District (1998-2017). The method used in this research is the historical research method with the procedure referring to Helius Sjamsuddin, which is divided into three stages, namely: (1) Heuristics (data collection), (2) Source criticism (data verification), (3) Historigraphy. The findings of this study indicate that: (1) The background of Sangia Pure-Pure being used as a historical object in Pure Village, South Wakorumba District is because it is a historical source of the formation of Pure which became the capital of South Wakorumba District where local people believe the area is a place. sacred and sacred due to the existence of a figure who was considered a charismatic figure who had a major influence on the development of Pure society at that time. This figure is La Ode Kilambibito. It was to appreciate his greatness and charisma that he was named Sangia Pure-Pure. Sangia comes from the Sanskrit language, namely sanghyang, which means "penduan". The name pure was due to the location where the village was overgrown with pure plants that were fertile and with white flowers, their stems were downy and itchy when exposed to human skin. (2) The use of Sangia Pure-Pure as an object of history, namely: (a) Cultivation of historical values, the role of Sangia Pure-Pure in an effort to instill historical values has been inherent in the habits of the local community who always tell each other this local history generation. This is so that the younger generation who have a moral responsibility for the existence of this site can interpret and know the historical background that exists in the place, (2) A source of historical learning, the use of the Sangia Pure-Pure site in an effort to cultivate historical knowledge has become an extracurricular activity. at SMA Negeri 1 Wakorumba Selatan and is intended not only for those who are interested in or majoring in social studies in the routine of classroom learning but for all students 3) Historical relics contained in the historical objects of Sangia Pure-Pure, namely: (1) Physical building of the tomb La Ode Kilambibito, Bhatakalambe and their followers, (2) Mosque Foundations (3) Springs 4) Socio-cultural values contained in historical objects of Sangia Pure-Pure, namely: (1) Ethical values, (2) Solidarity values, ( 3) Historical value.  Keywords: Sangia Pure, Tourist Attraction
PERAN TOLEA DAN PABITARA DALAM MOAWO NIWULE (PEMINANGAN) DI DESA PUULEMO KECAMATAN LEMBO KABUPATEN KONAWE UTARA Perawati, Perawati; Untarti, Dade Prat
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 4 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v5i4.15685

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan 1) Untuk mendeskripsikan peran tolea dan pabitara dalam perkawinan di Desa Puulemo Kecamatan Lembo Kabupaten Konawe Utara, 2) Untuk mengetahui proses dan tata cara moawo niwule (peminangan) dalam perkawinan Suku Tolaki di Desa Puulemo Kecamatan Lembo Kabupaten Konawe Utara. Metode Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dan pendekatan penelitian etnografi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian data yang telah terkumpul berupa kata-kata dianalisis dengan teknik reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) peran tolea dan pabitara dalam moawo niwule di Desa Puulemo sangatlah penting yaitu sebagai orang terpandang dan mempunyai karisma serta mempunyai tanggung jawab dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial atau masalah perkawinan yang terjadi di dalam masyarakat. 2) proses dan tata cara moawo niwule atau peminangan yaitu yaitu monduu tudu atau morakepi (adat penjajakan awal) dimana pihak laki-laki mengirim utusan kerumah orang tua perempuan  yang dimpin oleh seorang juru bicara adat laki-laki (tolea) bersama dengan sejumlah rombongan terbatas, dengan membawa ornamen Kalosara dengan kelengkapannya, serta sebuah bungkusan dari kumba inea (umbai pinang) dengan isinya. Moawo niwule (adat peminangan resmi) dimana apabila pihak orang tua laki-laki telah mendapat berita panggilan untuk datang melamar secara resmi, maka pihak keluarga segera mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk acara tersebut. Mowindahako (penyerahan seserahan adat) dan pepakawi’a (pelaksanaan perkawinan) dimana selama menunggu waktu pelaksanaan perkawinan yang biasa disebut “masa pertunangan”, laki-laki yang akan melangsungkan pernikahan mempunyai kewajiban moril untuk membantu calon mertua dalam berbagai urusan. Kata Kunci : Peran Tolea dan Pabitara, Moawo Niwule ABSTRACT: This study aims 1) To describe the role of tolea and pabitara in marriage in Puulemo Village, Lembo District, Konawe Utara Regency, 2) To determine the process and procedures for moawo niwule (marriage) in Tolaki Tribe marriage in Puulemo Village, Lembo District, Konawe Utara Regency. This research method includes the type of qualitative research and ethnographic research approaches. Data collection was carried out using the method of observation, interviews and documentation. Then the data that has been collected in the form of words is analyzed by data reduction techniques, data display, and drawing conclusions. The results showed that: 1) the role of tolea and pabitara in moawo niwule in Puulemo village is very important, namely as a person who is respected and has charisma and has responsibility in solving social problems or marital problems that occur in society. 2) the process and procedures for moawo niwule or peminangan namely mondu tudu or morakepi (initial exploration customs) where the men send envoys to the house of the female parents led by a male traditional spokesperson (tolea) together with a limited number of groups. , with the complete Kalosara ornament and a package of kumba inea (umbai pinang) with its contents. Moawo niwule (official marriage customs) where if the male parent has received a call to come to propose officially, the family immediately prepares everything needed for the event. Mowindahako (submission of customary offerings) and pepakawi'a (implementation of marriage) where while waiting for the time to carry out the marriage, which is usually called the "engagement period", the man who is going to get married has a moral obligation to help the prospective in-laws in various matters.  Keywords: Role of Tolea and Pabitara, Moawo Niwule
DESAIN PEMBELAJARAN SEJARAH BERKONTEN SEJARAH LOKAL BERBASIS MULTIMEDIA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SEJARAH PADA KELAS X IPS-II SMA Yusuf, yusuf; Darnawati, Darnawati
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i1.19073

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk meningkatkan keefektivan mengajar guru melalui desain pembelajaran sejarah berkonten sejarah lokal berbasis multimedia pada siswa kelas X IPS-II SMA Negeri 1 Batauga. (2) Untuk meningkatkan motivasi siswa kelas X IPS-II SMA Negeri 1 Batauga  melalui desain pembelajaran sejarah berkonten sejarah lokal berbasis multimedia. (3) Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X IPS-II SMA Negeri 1 Batauga melalui desain pembelajaran sejarah berkonten sejarah lokal berbasis multimedia. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan memanfaatkan multimedia. Dilakukan dalam dua siklus, setiap siklusnya terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas X IPS-II SMA Negeri 1 Batauga yang berjumlah 28 siswa. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini yaitu nilai keefektifan guru minimal 71, motivasi belajar siswa sebesar 75% dan hasil belajar siswa 68 berdasarkan KKM. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Desain pembelajaran sejarah berkonten sejarah lokal berbasis multimedia dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar sejarah pada kelas X IPS-II SMA Negeri 1 Batauga. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan keefektifan guru, motivasi siswa dan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I nilai keefektivan guru mencapai 68.11 meningkat pada siklus II menjadi 73.90, keberhasilan ini dikarenakan guru telah melakukan perbaikan-perbaikan pada APKG II, sehingga kegiantan-kegiatan guru pada saat proses pembelajaran yang belum terlaksana pada siklus I sebelumnya telah terlaksana pada siklus II. Motivasi siswa pada siklus I mencapai 47.60% meningkat menjadi 75.62% pada siklus II, peningkatan motivasi siswa dikarenakan pada pelaksanaan pembelajaran siklus II guru memaksimalkan memotivasi siswa dan menampilkan multimedia semenarik mungkin, sehingga terbukti pengisian angket motivasi siswa pada siklus II mengalami peningkatan. Persentase keberhasilan hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 64.28% meningkat menjadi 75% pada siklus II, keberhasilan ini dikarenakan multimedia yang ditampilkan memuat video dan gambar sebagai bukti peninggalan sejarah sehingga merangsang siswa untuk tertarik dan mudah memahami penjelasan guru. Terbukti dari total 28 jumlah siswa, 4 siswa tidak tuntas, 3 siswa tidak hadir dan 21 siswa mendapatkan nilai tuntas.Kata Kunci: Multimedia, Sejarah Lokal, Motivasi, Hasil Belajar
PERSEPSI ORANG TUA SISWA DAN PIHAK SEKOLAH TERHADAP ANAK PUTUS SEKOLAH DI DESA KONTUMERE Hasraawati, Hasrawati; Barlian, Barlian
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i1.19304

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis persepsi orang tua siswa terhadap anak putus sekolah di Desa Kontumere Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna; 2) Untuk mendeskripsikan dan menganalisis persepsi pihak sekolah terhadap anak putus sekolah di Desa Kontumere Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna; 3) Untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan anak putus sekolah di Desa Kontumere Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna; 4) Untuk mengidentifikasi dan menganalisis upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak putus sekolah di Desa Kontumere Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) Persepsi orang tua siswa Putus sekolah dipengaruhi status sosialnya baik di lingkungan bermain maupun dalam keluarganya; 2) persepsi pihak sekolah terhadap anak putus sekolah sangat menyayangkan dengan adanya fenomena tersebut, sehingga mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran para guru kepada motivasi lebih jauh lagi akan pentingnya pendidikan; 3) Faktor utama penyebab anak putus sekolah adalah kurangnya motivasi anak bersekolah, tingkat kemalasan anak yang tinggi, kurangnya perhatian dan pendampingan orang tua terhadap anak, sulitnya menangkal pengaruh buruk dari sisi perkembangan teknologi, karena pembulian yang terjadi di sekolah, dan karena masalah perceraian orang tua; 4) Upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk mengatasi anak putus sekolah yaitu; orang tua selalu mengupayakan agar anak melanjutkan pendidikannya kembali dengan bekerjasama dengan pihak sekolah, memberikan bimbingan dan mengingatkan kepada anak tentang pentingnya pendidikan untuk menggapai cita-citanya atau untuk masa depannya, melakukan kerjasama dengan guru agar anak kembali bersekolah, memberinya efek jera karena kepada anak yang putus sekolah dengan beberapa cara seperti tidak memberikannya uang jajan, memaksanya untuk terus bekerja di rumah.
SEJARAH ORANG BONE DI KECAMATAN KABAENA BARAT KABUPATEN BOMBANA (1908-2015) kendari, pendidikan Sejarah UHO; Buhari La Bia, Buhari
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 4 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v1i4.684

Abstract

ABSTRAKAsmira Asmara : A1A2 09 049. Judul penelitian “Sejarah Orang Bone Di Kecamatan Kabaena Barat Kabupaten Bomabana Tahun 1908-2016 ” dibawah bimbingan Drs. Ali Hadara, M.Hum sebagai pembimbing I dan Drs. H. Abdul Rauf Sulaiman, M.Hum sebagai pembimbing II.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana Sejarah Kedatangan Orang Bone di Kabaena Barat Tahun 1908-2016? (2) Apa sebab umum dan sebab khusus kedatangan orang bone di Kecamatan Kabaena Barat tahun 1908-2016?, (3) Bagaimana interaksi sosial orang Bone di Kecamatan Kabaena Barat? (4) Bagaiman keadaan sosial ekonomi orang Bone di kecamatan Kabaena Barat tahun 1908-2016).Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yaitu: (a) Pengumpulan data melalui kepustakaan dan penelitian lapangan. (b) Kritik data yang dilakukan melalui kritik ekstern dan entern guna mendapatkan data yang akurat. (c) Historiografi yakni hasil penafsiran (interpretasi) dituangkan dalam bentuk tulisan secara sistematis dan kronologis.Temuan penelitian menunjukkan bahwa : (1) Proses kedatangan Orang Bone di Kecamatan Kabaena Barat Kabupaten Bombana dilakukan dengan dua tahap, tahap pertama dilakukan oleh Andi Mallorongeng beserta pengikutnya yang bertujuan untuk mencari tempat persembunyian dari pemerintah Belanda. Tahap kedua keluarga orang Bone yang sudah menetap dana memanggil keluarganya yang ada di Bone2) Kedatangan orang Bone di Kecamatan Kabaena Barat, terdiri atas dua sebab pendorong sebab penarik: (a) sebab pendorong terdiri dari faktor ekonomi, faktor mata pencaharian dan faktor sosial. (b) sebab penarik terdiri dari faktor geografis dan faktor potensi alam di Kecamatan Kabaena Barat. (c) faktor Petualang (3) Interaksi Sosial Orang Bone Dengan Penduduk Setempat di Kecamatan Kabaena Barat dapat dilihat pada hubungan kemasyarakatan mereka baik sesama orang Bone maupun terhadap penduduk asli dalam hal ini Suku Moronene. Salah satu hubungan sosial antara orang Bone dengan penduduk setempat dikenal dengan istilah “Mappasisele” yakni hasil melaut sperti ikan biasanya ditukarkan dengan hasil bertani seperti umbi-umbian. (4) Keadaan Sosial Ekonomi Orang Bone di Kecamatan Kabaena Barat jauh lebih baik dibandingkan berada di daerah asalnya. Hal ini dikarenakan banyaknya potensi alam yang di Kecamatan Kabaena Barat.Kata Kunci: Sejarah, Orang Bone
SEJARAH BANTI-BANTI PADA MASYARAKAT DI KELURAHAN MANDATI 1 KECAMATAN WANGI-WANGI SELATAN KABUPATEN WAKATOBI Bini, Bini; Anwar, Anwar
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v3i1.13167

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini berutujuan untuk mendeskripsikan dan menguraikan sejarah, proses dan nilai-nilai yang terkandung dalam banti-banti pada masyarakat di Kelurahan Mandati I Kecamatan Wangi-Wangi Selatan Kabupaten Wakatobi. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari (1) heuristik yakni mencari sumber melalui wawancara, studi kepustakaan, dan penelitian lapangan, (2) kritik sumber terdiri atas kritik eksternal dan kritik internal guna mendapat data yang akurat, dan (3) historiografi yang dimaksudkan dalam bentuk tulisan secara sistematis dan kronologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: latar belakang pelaksanaan banti-banti pada masyarakat di Kelurahan Mandati I Kecamatan Wangi-Wangi Selatan Kabupaten Wakatobi, tidak diketahui secara pasti, namun dapat di perkirakan banti-banti dan Pobanti lahir sebelum masuknya Islam di Pulau Wangi-Wangi yakni sebelum abad ke-13. Sedangkan proses pelaksanaan banti-banti tersebut masuk dalam aktivitas masyarakat masyarakat Mandati seperti hembula’a gandu (penanaman jagung), kegiatan gotong royong, serta digunakan sebagai pengantar tidur. Disamping itu, banti-banti juga digunakan sebagai nyanyian yang mengiringi tari-tarian tradisional seperti, tari Lariangi, tari Badenda dan tari Pajogi. Nilai-nilai yang terkandung dalam banti-banti yakni nilai agama, kejujuran, tanggung jawab, serta nilai bersahabat/komunikatif yang akan tampak dalam sikap dan perilaku masyarakat di Kelurahan Mandati I Kecamatan Wangi-Wangi Selatan Kabupaten Wakatobi.Kata Kunci:Latarbelakang, proses, dan nilai-nilai, banti-bantiDescription Alternative: ABSTRACT: This study aims to describe and describe the history, process and values contained in banti-banti in the community in Mandati I Village, Wangi-Wangi Selatan District, Wakatobi Regency. This research uses a historical method consisting of (1) heuristics that is looking for sources through interviews, library research, and field research, (2) source criticism consists of external criticism and internal criticism in order to obtain accurate data, and (3) historiography intended in writing systematically and chronologically. The results of the study show that: the background of the implementation of the bantis to the community in Mandati I Village, Wangi-Wangi Selatan District Wakatobi Regency is not known, but it can be predicted that Banti and Pobanti were born before the entry of Islam on Wangi-Wangi Island before 13th century. While the implementation of the banti-banti included in the Mandati community activities such as hembula'a gandu (planting corn), mutual cooperation activities, and used as a lullaby. Besides that, banti-banti is also used as a song that accompanies traditional dances such as Lariangi dance, Badenda dance and Pajogi dance. The values contained in the banti-banti namely religious values, honesty, responsibility, and friendly / communicative values that will appear in the attitudes and behavior of the people in Mandati I Village, Wangi-Wangi Selatan District, Wakatobi District.Keywords: Background, process, and values, banti-banti
TRADISI POKEMBA PADA MASYARAKAT KELURAHAN KALIALIA KECAMATAN LEA-LEA KOTA BAUBAU (2001-2018) Lisna, Lisna; Hadara, Ali
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i2.11244

Abstract

ABSTRAKPermasalahan pokok dalam penelitian ini adalah: (1) Apa latar belakang munculnya tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau? (2) Bagaimana pelaksanaan tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau? (3) Bagaimana Perubahan tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau? Tujuan dalam penelitian ini adalah: (1) Untuk menguraikan latar belakang munculnya tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-lea, Kota Baubau. (2) Untuk menguraikan pelaksanaan tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan  Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau. (3) Untuk menguraikan perubahan tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Helius Sjamsuddin dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1)  Heuristik (Pengumpulan Sumber), 2) Verifikasi (Kritik Sumber), dan 3) Historiografi (Penulisan Sejarah). Tinjauan pustaka dalam penelitian ini yakni menggunakan kerangka konsep dan kerangka teori. Kerangka konsep terbagi atas kerangka konsep yaitu: (1) Konsep Perubahan (2) Konsep Pokemba (3) Konsep Masyarakat  dan (4) Konsep Tradisi sedangkan kerangka teori terbagi atas: (1) Teori Perubahan Waktu, dan (2) Teori Perubahan Kebudayaan.     Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Latar belakang munculnya tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau bermula karena belum adanya undangan tertulis, sehingga masyarakat menggunakan undangan lisan untuk mengumpulkan masyarakat pada acara-acara tertentu dan membutuhkan tenaga masyarakat. (2) Pelaksanaan tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau mempunyai beberapa tahap yaitu: (a) Penentuan hari pelaksanaan tradisi pokemba (b) Pemilihan orang tua yang Akan Melaksanakan tradisi Pokemba dan, (c) hari pelaksanaan Pokemba. (3) Perubahan tradisi Pokemba pada masyarakat Kelurahan Kalialia Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau yaitu persoalan imbalan. Dahulu pelaku dari tradisi Pokemba ini diberi imbalan berupa uang atau makanan. Sekarang pelaku dari tradisi Pokemba ini biasanya tidak diberi imbalan berupa uang tetapi makanan tetap diberikan, bila pelaku tradisi Pokemba adalah sanak saudara dari pemilik hajat maka pelaku tradisi Pokemba tidak diberi imbalan. Kata Kunci: Tradisi, Pokemba, Masyarakat, Perubahan.
FUNGSI IBU RUMAH TANGGA DALAM MEMBANTU MEMENUHI KEBUTUHAN KELUARGA MARDIANA, NANA; Jamiludin, Jamiludin; Bauto, La Ode Monto
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i2.11395

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini menguraikan masalah bentuk-bentuk fungsi ibu rumah tangga yang bekerja dalam membantu memenuhi kebutuhan keluarga di Kelurahan Poea Kecamatan Rumbia Tengah Kabupaten Bombana dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat fungsi ibu rumah tangga yang bekerja dalam membantu memenuhi kebutuhan  keluarga di Kelurahan Poea Kecamatan Rumbia Tengah Kabupaten Bombana. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat deskriptif kualitatif sumber teknik pengumpulan data dengan menggunakan  observasi, wawancara dan studi dokumen. Teknik analisis data bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan 4 tahap yaitu; 1) pengumpulan data, 2) redaksi data, 3) penyajian data, 4) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan  bahwa: 1) Fungsi ibu rumah tangga yang bekerja dalam membantu memenuhi kebutuhan keluarga di Kelurahan Poea Kecamatan Rumbia Tengah Kabupaten  Bombana adalah: a) Fungsi ekonomi; b) Fungsi kasih sayang; c) Fungsi agama; d) Fungsi  Pendidikan; e) Fungsi perlindungan; 2) Faktor-faktor yang  mendukung dan menghambat fungsi ibu rumah  tangga yang bekerja dalam membantu memenuhi kebutuhan keluarga di Kelurahan  Poea Kecamatan Rumbia Tengah Kabupaten Bombana. 1) Faktor pendukung adalah sebagai berikut: a) Faktor ekonomi; b) Faktor keinginan untuk menyekolahkan anak kejenjang yang lebih tinggi; c) Faktor sosial. 2)  Faktor penghambat yaitu: a) Rendahnya  akses yang dimiliki wanita dalam hal sumber daya ekonomi; b) Faktor kesehatan 

Filter by Year

2016 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 7, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 7, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 4 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 4 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 4 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 4 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 4 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO More Issue