cover
Contact Name
Muhammad Ikhwan Rizki
Contact Email
ikhwanrizki@unlam.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jps@unlam.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pharmascience memuat naskah hasil penelitian dan artikel review bidang kefarmasian. Naskah dapat berasal dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan lembaga riset. Setiap naskah yang diterima redaksi Jurnal Pharmascience akan ditelaah oleh Mitra Bebestari dan Anggota Redaksi. Jurnal Pharmascience terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu Februari dan Oktober. Redaksi menerima pemesanan Jurnal Pharmascience untuk berlangganan atau pembelian setiap terbitan.
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
Analisis Efek Terapi Kombinasi Beras Analog dan Glimepirid terhadap Kadar MDA Pankreas pada Tikus Diabetes Melitus Tipe 2 Ahlulkemal, Mohammad Daffa; Hairrudin, Hairrudin; Nurmaida, Eny
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.18891

Abstract

Prevalensi dan insidensi diabetes melitus tipe 2 (DMT 2) di dunia terus meningkat. Penyakit ini ditandai dengan hiperglikemia yang memicu kondisi stres oksidatif. Salah satu terapi oral yang sering digunakan adalah glimepirid. Pengendalian hiperglikemia pada penderita DM Tipe 2 membutuhkan perubahan gaya hidup, misalnya dengan mengubah menu makanan pokok dari beras padi menjadi beras analog yang terbuat dari bahan baku modified cassava flour (MOCAF) dan jagung. Beras analog ini mengandung resistant startch dan serat yang tinggi sehingga indeks glikemiknya rendah, serta mengandung antioksidan senyawa fenolik dan β karoten. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek terapi kombinasi beras analog dan glimepirid terhadap kadar MDA pankreas pada tikus DMT 2. Tikus Wistar sebanyak 24 ekor dibagi menjadi kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan. Pada kelompok perlakuan diberikan diet tinggi lemak selama 17 hari dan diinduksi STZ pada hari ke-15. Pada hari ke-18 kelompok perlakuan dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing diberikan pakan standar (KN), diberikan pakan standar dan glimepirid dengan dosis 0,1 mg/KgBB/hari (P1), diberikan pakan beras analog dan glimepirid 0,1 mg/KgBB/hari (P2). Perlakuan tersebut dilakukan selama 21 hari. Pengukuran kadar MDA pankreas menggunakan metode ELISA. Hasil penelitian adalah kadar MDA kelompok kontrol = 0,437; KN = 0,649; P1 = 0,384; P2 = 0,300. Terdapat perbedaan yang signifikan antara KN dan P2. Kesimpulannya adalah kombinasi glimepirid dan beras analog mampu menurunkan kadar MDA pankreas pada tikus DM Tipe 2. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, MDA Pankreas, Glimepirid, Beras Analog, MOCAF  The prevalence and incidence of type 2 diabetes mellitus (T2DM) in the world continues to increase. This disease is characterized by hyperglycemia, which triggers oxidative stress conditions. One oral therapy that is often used is glimepiride. Controlling hyperglycemia in T2DM sufferers requires lifestyle changes, for example, changing the staple food from rice to analog rice made from modified cassava flour (MOCAF) and corn. This analog rice contains resistant starch and high fiber, so the glycemic index is low. It has antioxidant phenolic compounds and β-carotene. This study aims to determine the effect of rice analog and glimepiride combination therapy on pancreatic MDA levels in T2DM mice. Twenty-four Wistar rats were divided into the control group and three treatment groups. The treatment group was given a high-fat diet for 17 days and induced by STZ on the 15th day. On the 18th day, the treatment group was divided into three groups, each given standard feed (KN), standard feed and glimepiride 0,1 mg/KgBW/day (P1), and analog rice feed and glimepiride 0,1 mg/KgBW/day (P2). This treatment was carried out for 21 days. Measurement of pancreatic MDA levels using the ELISA method. The results in this study were MDA level of control group=0.437; KN=0.649; P1=0.384; P2=0.300. There is a significant difference between KN and P2. Conclusion: The combination of glimepiride and rice analogs can reduce pancreatic MDA levels in T2DM rats.
In Vitro Analysis of the Effectiveness of Tinospora crispa L. Plant Against Plasmodium falciparum FCR3 Dewi, Mirna Wati; Riani, Defilia Anogra; Irawan, Ahmad; Ahmad, Farah Fauziyah Radhiyatulqalbi; Kalalinggi, Septaria Yolan
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.18112

Abstract

Tanaman Tinospora crispa L. yang biasa disebut tanaman Penawar sampai oleh masyarakat Kalimantan Tengah. Tanaman tersebut dimanfaatkan sebagai obat malaria dengan cara batang T. crispa di rebus kemudian air rebusan diminum. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan beberapa senyawa biokimia dan mengevaluasi aktivitas antimalaria ekstrak etanol tanaman tersebut terhadap Plasmodium falciparum FCR3 secara in vitro. Serbuk kering batang T. crispa diekstraksi dengan teknik maserasi dengan pelarut etanol. Kemudian ekstrak kental yang diperoleh dilanjutkan dengan metode skrining fitokimia untuk mempelajari komponen senyawa aktif yang terdapat pada sampel tersebut.  Sebelum dilakukan uji aktivitas antimalaria, parasite P. falciparum FCR3 telebih dahulu dibiakkan dengan metode Trager dan Jensen. Ekstrak yang akan dilakukan uji, dilarutkan terlebih dahulu dengan DMSO  dan dimasukkan ke dalam microwell kemudian ditambahkan 500 μL suspensi parasit sehingga didapatkan konsentrasi bahan uji sebesar 100, 10, 1, 0,1, dan 0,01 μg/mL dan diinkubasi 48 jam. Untuk mengamati persen parasitemia dibuat preparat hapusan darah dengan pewarnaan Giemsa. Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data dengan analisis probit, didapatkan ekstrak etanol batang tanaman Penawar sampai memiliki aktivitas antimalaria pada kosentrasi 10 μg/mL. Hasil uji fitokimia menunjukkan ekstrak etanol batang tanaman tersebut mengandung alkaloid, flavonoid, Fenolik, tanin, steroid, dan saponin. Kata Kunci: Fitokimia, In vitro, P. falciparum, Malaria, Penawar Sampai The Tinospora crispa L. plant, commonly called the Penawar sampai plant, has reached the people of Central Kalimantan. The plant is used as a malaria medicine by boiling the stems of T. crispa and then drinking the boiled water. This study aims to identify the presence of several biochemical compounds and evaluate the antimalarial activity of ethanol extracts of these plants against Plasmodium falciparum FCR3 in vitro. The dry powder of T. crispa stems was prepared. The extract was obtained by the maceration technique using ethanol as the solvent. Then, the viscous extract obtained was continued with the phytochemical screening method to study the components of the active compounds contained in the sample. Before conducting antimalarial activity tests, the parasite P. falciparum FCR3 was first bred by the Trager and Jensen methods. The extract to be tested was first dissolved with DMSO and put into a microwell, then 500 μL of parasite suspension was added so that concentrations of 100, 10, 1, 0.1, and 0.01 μg/mL were obtained and incubated for 48 hours. To observe the percentage of parasitemia, blood smear preparations were made using Giemsa staining. Based on the results of the research and data processing with probit analysis, the ethanol extract of the Penawar sampai plant stems was shown to have antimalarial activity at a concentration of 10 μg/mL. The results of the phytochemical tests showed that the ethanol extract of the plant stem contained alkaloids, flavonoids, phenolics, tannins, steroids, and saponins.
Analisis Kandungan Natrium Siklamat pada Manisan Buah Mangga yang Dijual di Kota Pontianak Menggunakan Metode Spektrofotometri UV Nuraini, Nabila; Kurniawan, Hadi; Nugraha, Fajar
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.18074

Abstract

Natrium siklamat umumnya ditambahkan pada manisan buah mangga untuk memperbaiki cita rasa produk. Penggunaan natrium siklamat pada manisan mangga dicurigai tidak sesuai dengan kadar yang tercantum dalam Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2019. Kondisi ini dapat menimbulkan efek yang berbahaya pada tubuh. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi, menghitung kadar dan mengevaluasi kadar natrium siklamat pada manisan mangga yang dijual di kota Pontianak. Identifikasi natrium siklamat dilakukan secara kualitatif melalui metode pengendapan dengan pereaksi HCl, BaCl2, dan NaNO2. Sedangkan, penentuan kadar natrium siklamat dalam sampel secara kuantitatif dilakukan dengan spektrofotometri UV pada panjang gelombang maksimum 313,4 nm. Hasil uji kualitatif menunjukkan 3 dari 5 sampel manisan mangga dengan kode A, B, dan E mengandung natrium siklamat. Sementara itu, hasil uji kuantitatif menunjukkan kadar sampel A sebesar 255,824 mg/kg, kadar sampel B sebesar 352,49 mg/kg, dan kadar sampel E sebesar 125,743 mg/kg. Hasil ini menunjukkan kadar natrium siklamat yang digunakan masih berada dibawah batas maksimal konsumsi yang tercantum dalam Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2019 yaitu sebesar 500 mg/kg. Kata Kunci: Keamanan Pangan, Uji Kualitatif, Uji Kuantitatif, Bahan Tambahan Pangan, Metode Pengendapan Sodium cyclamate is generally added to candied mangoes to improve the taste of the product. It is suspected that the use of sodium cyclamate in candied mangoes does not comply with the levels stated in BPOM Regulation Number 11 of 2019. This condition can cause dangerous effects on the body. This research was conducted to identify, calculate levels and evaluate sodium cyclamate levels in mango sweets sold in the city of Pontianak. Sodium cyclamate identification was carried out qualitatively through the precipitation method with HCl, BaCl2 and NaNO2 reagents. Quantitative determination of sodium cyclamate levels in samples was carried out using UV spectrophotometry at a maximum wavelength of 313.4 nm. Qualitative test results showed that 3 out of 5 samples of mango sweets with codes A, B and E contained sodium cyclamate. Meanwhile, quantitative test results showed that sample A levels were 255.824 mg/kg, sample B levels were 352.49 mg/kg, and sample E levels were 125.743 mg/kg. These results show that the levels of sodium cyclamate used are still below the maximum consumption limit stated in BPOM Regulation Number 11 of 2019, namely 500 mg/kg.
Pemanfaatan Tumbuhan Berkhasiat Obat Oleh Masyarakat Desa Ujung Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan Melalui Studi Etnobotani FADHILAH, NUR AINA; Sutomo, Sutomo; Arnida, Arnida
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.20852

Abstract

Kalimantan Selatan memiliki keanekaragaman hayati yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Kajian etnobotani meliputi pengetahuan masyarakat setempat dengan pemanfaatan sumber daya alam berupa tumbuhan di lingkungan sekitarnya, salah satunya sebagai bahan obat. Tujuan penelitian untuk mengetahui secara kuantitatif tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat, bagian tumbuhan yang dimanfaatkan, serta mengetahui cara pengolahan dan cara pemanfaatannya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan fenomenologi. Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara terbuka terencana dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner. Metode penelitian yang digunakan dalam menentukan informan adalah metode Purposive Sampling. Informan dalam penelitian berjumlah 5 orang yang memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masyarakat Desa Ujung Kecamatan Pulau Sebuku Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan telah memanfaatkan 43 jenis tumbuhan obat. Bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan sebagai obat adalah daun 54,17%; kemudian secara berurutan adalah buah (8,33%), batang (6,25%), getah (6,25%), akar (4,17%), kulit pohon (4,17%), dan umbi(2,08%). Cara pengolahan tanaman obat yang paling banyak adalah dengan merebus sebanyak 42%, kemudian berturut-turut tanpa pengolahan (14%), diremas (10%), ditumbuk dan ditambah bahan lain (10%), dimasak(8%), direbus dan ditambah bahan lain (4%), diseduh dan ditambah bahan lain (4%), ditumbuk (2%), diseduh(2%), direndam (2%). Cara pemanfaatan tanaman obat yang paling banyak adalah dengan meminum sebanyak 55,10%; kemudian berturut-turut ditempel (16,3%), dioles (14,3%), dimakan (12,24%), dan diteteskan (2,04%). Dari 43 jenis tanaman obat, bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan adalah daunnya, dengan cara pengolahan direbus dan digunakan dengan cara diminum.
Analisis Rasionalitas Penggunaan Obat pada Pasien Hipertensi Rawat Jalan di RSUD Bendan Fatkhiya, Musa Fitri; Ningrum, Dian Ayu
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.17203

Abstract

Hipertensi merupakan suatu kejadian dimana terjadinya peningkatan tekanan darah yang merupakan salah satu penyebab kematian dini pada masyarakat di dunia yang semakin lama akan semakin meningkat. Penatalaksanaan obat yang rasional pada pasien hipertensi dilakukan karena diketahui bahwa sebanyak lebih dari 50% obat diresepkan, diracik, ataupun dijual secara tidak rasional. Penelitian ini bertujuan mengetahui rasionalitas penggunaan obat antihipertensi di instalasi rawat jalan RSUD Bendan dimana meninjau dari segi tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat pasien. Penelitian ini menggunakan metode descriptif non eksperimental untuk mengetahui rasionalitas penggunaan obat antihipertensi dengan pengumpulan data secara retrospektif. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling, sampel yang digunakan adalah semua pasien hipertensi di instalasi rawat jalan RSUD Bendan Pekalongan periode Juni-Agustus 2022. Hasil penelitian ini diperoleh 41 sampel rekam medis pasien hipertensi. Analisis rasionalitas yang dilakukan meliputi tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat dan tepat dosis. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa rasionalitas penggunaan obat antihipertensi berdasarkan tepat indikasi 100%, tepat pasien 100%, tepat obat 98%, dan tepat dosis 100% pasien telah mendapatkan pengobatan antihipertensi yang rasional. Kata Kunci: Antihipertensi, Hipertensi, Tepat Obat, Tepat Indikasi, Tepat Dosis Hypertension is an event where there is an increase in blood pressure which is one of the causes of premature death in people in the world which will increase over time. Rational drug management in hypertensive patients is carried out because it is known that more than 50% of drugs are prescribed, compounded, or sold irrationally. This study aims to determine the rational use of antihypertensive drugs in the outpatient installation of Bendan Hospital which reviews in terms of the right indication, right drug, right dose, right patient. Study uses a descriptive non-experimental method to determine the rational use of antihypertensive drugs with retrospective data collection. Sampling using total sampling technique, the samples used were all hypertensive patients in the outpatient installation of Bendan Pekalongan Hospital in the June-August 2022. Results of this study obtained 41 samples of medical records hypertensive patients.  The rationality analysis carried out includes the right indication, the right patient, the right drug and the right dose. The results of this study concluded that the rational use of antihypertensive drugs based on the right indication 100%, the right patient 100%, the right drug 98%, and the right dose 100% of patients have received rational antihypertensive treatment.
Peningkatan Risiko Infeksi Genital pada Pengguna SGLT-2 Inhibitor Purnomo, Farah Fadhila Nasywa; Hairrudin, Hairrudin; Indreswari, Laksmi
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.18846

Abstract

SGLT-2 inhibitor merupakan salah satu terapi farmakologis oral yang diberikan pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2. Risiko infeksi genitourinari pada pengguna SGLT-2 inhibitor masih belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko infeksi saluran genitourinari pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang diterapi menggunakan sodium-glucose co-transporter-2 (SGLT-2) inhibitor. Metode penulisan menggunakan desain penelitian tinjauan sistematis (Systematic Review). Pencarian jurnal dilakukan pada basis data Pubmed Central, Science Direct dan Google Scholar (pencarian hingga 17 Mei 2023) lalu diseleksi menggunakan Flowchart PRISMA. Studi yang diseleksi menggunakan design studi cohort/observational studies yang dibandingkan dengan terapi nonSGLT-2 inhibitor. Analisis data menggunakan metaanalisis. Hasil penelitian didapatkan 10 jurnal yang ditinjau secara sistematis tetapi hanya 6 jurnal yang dipat di metaanalisis dikarenakan heterogenitas yang tinggi. Empat jurnal dengan outcome infeksi saluran kemih yang dimetaanalisis menunjukkan risiko tidak signifkan (RR 0,98 95%CI 0,85-1,14; p= 0,80; I2=57%). Dua jurnal dengan outcome infeksi genital yang dimetaanalisis menghasilkan risiko 2,3 kali lipat lebih tinggi dibanding non-SGLT-2 inhibitor(RR 2,32 95%CI 2,04-2,64; p<0,00001; I2=36%). Kesimpulannya terjadi peningkatan risiko infeksi genital pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang diterapi menggunakan sodium-glucose co-transporter-2 (SGLT-2) inhibitor yang signifikan sedangkan peningkatan risiko infeksi saluran kemih tidak signifikan. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Infeksi Genital, Infeksi Saluran Kemih, Antidiabetes, SGLT-2 Inhibitor SGLT-2 inhibitors are an oral pharmacological therapy given to patients with type 2 diabetes mellitus. The risk of genitourinary infections in SGLT-2 inhibitor users is still unclear. This study aims to analyze the risk of genitourinary tract infections in patients with type 2 diabetes mellitus treated with sodium-glucose co-transporter-2 (SGLT-2) inhibitors. The method uses a systematic review research design.. Journal searches were carried out on the Pubmed Central, Science Direct, and Google Scholar databases (search until 17 May 2023) and then selected using the PRISMA Flowchart. The selected studies used a cohort/observational study design compared to nonSGLT-2 inhibitor therapy. Data analysis using meta-analysis. The results showed that 10 journals were reviewed systematically, but only 6 journals were included in the meta-analysis due to high heterogeneity. Four journals with urinary tract infection outcomes that were meta-analyzed showed an insignificant risk (RR 0.98 95%CI 0.85-1.14; p= 0.80; I2=57%). Two journals with meta-analyzed outcomes of genital infections resulted in a 2.3-fold higher risk compared to non-SGLT-2 inhibitors (RR 2.32 95%CI 2.04-2.64; p<0.00001; I2=36%). In conclusion, there was a significant increase in risk for genital infections while it was not significant for urinary tract infections.
Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Batuk Kering pada Pasien Hipertensi yang Menggunakan Obat ACE Inhibitor di Puskesmas Rahmaddani, Metta Sintia; Asseggaf, Syarifah Nurul Yanti Rizki Syahab; Rahmayanti, Sari
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.18054

Abstract

Salah satu efek samping yang ditimbulkan oleh pasien yang mengonsumsi obat antihipertensi ACE Inhibitor adalah batuk kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian batuk kering pada pasien hipertensi yang menggunakan obat ACE Inhibitor di Puskesmas. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan metode cross-sectional dan analisis data chi-square. Kriteria inklusi mencakup pasien hipertensi yang diberikan obat antihipertensi di Puskesmas, dengan total responden sebanyak 126 orang, di mana 63 orang di antaranya adalah pengguna ACE Inhibitor. Kejadian batuk kering di antara pengguna obat ACE Inhibitor tercatat pada 50 responden (39,7%), dengan nilai p sebesar 0,000. Faktor-faktor yang paling berhubungan dengan kejadian batuk kering adalah riwayat merokok dan lama penggunaan obat. Hasil penelitian menunjukkan beberapa faktor yang berkaitan dengan kejadian batuk kering pada pasien hipertensi yang menggunakan ACE Inhibitor di Puskesmas. Kata Kunci: Hipertensi, ACE Inhibitor, Batuk Kering, Efek Samping, Riwayat Merokok One of the side effects experienced by patients taking ACE Inhibitor antihypertensive medications is a dry cough. This study aims to identify the factors associated with the occurrence of dry cough in hypertensive patients using ACE Inhibitors at the community health center (Puskesmas). This research employed an analytical observational design with a cross-sectional method and chi-square data analysis. Inclusion criteria included hypertensive patients receiving antihypertensive medication at the Puskesmas, with a total of 126 respondents, of which 63 were ACE Inhibitor users. The occurrence of dry cough among ACE Inhibitor users was recorded in 50 respondents (39.7%), with a p-value of 0.000. The factors most associated with the occurrence of dry cough were a history of smoking and the duration of medication use. The study results indicate several factors related to the occurrence of dry cough in hypertensive patients using ACE Inhibitors at the Puskesmas.
Aktivitas Formulasi Sediaan Lip Balm Ekstrak Kulit Manggis (Garcinia mangostana Linn.) sebagai Pelembab Bibir Risantie, Destria Usha Widya; Santoso, Joko; Hidayati, Evi Nurul
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.20294

Abstract

Bibir kering merupakan kondisi ketika bibir terasa kering, pecah-pecah dan mengelupas. Tanaman yang digunakan adalah kulit manggis (Garcinia mangostana L.) yang mengandung sumber antioksidan seperti xanton, antosianin dan tanin berfungsi untuk melembutkan, melembabkan dan mengurangi kekeringan pada bibir. Kandungan xanton sebagai antioksidan yang berkhasiat melawan radikal bebas, antiaging dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Lip balm merupakan sediaan yang digunakan pada bibir bertujuan sebagai pelembab bibir yang berbentuk semi padat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas formulasi sediaan lip balmekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai pelembab bibir dengan konsentrasi 0,4%, 0,7%, 1%. Metode penelitian ini eksperimental dengan pre experimental yaitu one group pretest posttest design. Hasil penelitian pada FI (0,4%) memiliki aktivitas lembab, tekstur padat, warna putih kecoklatan, aroma khas ekstrak, homogen, titik lebur 51,87oC, pH 5,53. Pada FII (0,7%) memiliki aktivitas lebih lembab, tekstur padat, warna putih kecoklatan, aroma khas ekstrak, homogen, titik lebur 51,34 oC, pH 5,70. Pada FIII (1%) memiliki aktivitas sangat lembab, tekstur padat, warna putih kecoklatan, aroma khas ekstrak, homogen, titik lebur 52,6oC, pH 6,13. Hasil dari uji hedonik responden menyukai FIII (1%) dengan nilai tekstur sangat suka (86%), aroma suka (78%), warna sangat suka (83%), kelembaban sangat suka (90%) dan uji iritasi tidak menimbulkan adanya iritasi saat sediaan digunakan. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan bahwa sediaan lip balm ekstrak kulit manggis (Garcinia Mangostana Linn.) mempunyai aktivitas sebagai pelembab bibir, evaluasi fisik dan uji hedonik dari sediaan lip balm yang paling baik adalah FIII (1%).
FORMULATION AND TEST OF ANTIOXIDANT CREAM PREPARATION OF ETHANOL EXTRACT OF MENTENG LEAVES (Baccaurea Racemosa) AS A SKIN MOISTURIZER Sitompul, Rowina Trinida; Sudewi, Sudewi; Febriani, Yessi; Ginting, Ernawaty
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.18571

Abstract

Kosmetik sudah menjadi kebutuhan bagi kalangan wanita karena meningkatkan kepercayaan diri. Namun bahan berbahaya juga sering digunakan dalam pembuatan kosmetik sehingga menimbulkan kerusakan pada kulit. Daun menteng dengan nama latin Baccaurea racemosa mengandung metabolit sekunder yang bermanfaat bagi kulit.  Tujuan dari penelitian ini adalah memformulasikan ekstrak daun menteng sebagai sediaan krim pelembab dengan konsentrasi tertentu. Daun menteng dimaserasi dengan etanol 96% dan ditentukan metabolit sekunder yang terkandung. Kemudian diformulasikan menjadi sediaan krim dengan konsentrasi 1,5%, 2% dan 3% dan dilakukan pemeriksaan mutu fisik sediaan yang meliputi uji homogenitas, uji pH, uji tipe emulsi, uji stabilitas, uji iritasi, uji efektivitas kelembaban dan uji aktivitas antioksidan. Hasil rendemen yang diperoleh sebesar 14%. Metabolit sekunder yang teridentifikasi adalah alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid. Sediaan krim dengan konsentrasi 3% yang terbaik karena homogen dan stabil. Sediaan tersebut tidak mengiritasi kulit karena pH sediaan sesuai dengan pH kulit. Kemampuan dalam melembapkan kulit sebesar 97% dan nilai IC50 sebesar 35,67 ppm. Jadi, ekstrak daun menteng bisa diformulasikan ke dalam sediaan krim yang berpotensi sebagai pelembab kulit tanpa menimbulkan iritasi. Kata Kunci: Antioksidan, Daun Menteng, Krim, Pelembab, IC50 Cosmetics have become a necessity for women because they increase their confidence. However, harmful ingredients are also often used in the manufacture of cosmetics so that they cause damage to the skin. Menteng leaves with the Latin name Baccaurea racemosa contain secondary metabolites that are beneficial to the skin.  The purpose of this study is to formulate menteng leaf extract as a moisturizing cream preparation with a certain concentration. Menteng leaves macerated with 96% ethanol and determined the skunder metabolites contained. Then it is formulated into cream preparations with concentrations of 1.5%, 2% and 3% and physical quality checks of the preparation are carried out which include homogeneity tests, pH tests, emulsion type tests, stability tests, irritation tests, moisture effectiveness tests and antioxidant activity tests. The yield obtained is 14%. The secondary metabolites identified were alkaloids, flavonoids, saponins, tannins and terpenoids. Cream preparations with a concentration of 3% are best because they are homogeneous and stable. The preparation does not irritate the skin because the pH of the preparation is in accordance with the pH of the skin. The ability to moisturize the skin by 97% and IC50 value of 35.67 ppm. So, menteng leaf extract can be formulated into cream preparations that have the potential to moisturize the skin without causing irritation.
Comparative Effectiveness of Antihypertensive Drugs Herman, Hendra; Kamri, Andi Maulana; Dahlan, Andi Muhriani
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.17182

Abstract

Hipertensi sering menjadi penyakit pada orang tua dan kadang-kadang tidak mendapat perhatian karena tingkat pemahaman tentang penyakit dan pengobatan tidak tepat. Tujuan dari studi ini adalah untuk memberikan gambaran tentang pengobatan hipertensi pada pasien rawat inap dan rawat jalan. Metode penelitian ini menggunakan metode deskripsi observasi dengan data retrospektif dengan pengambilan sampel yang berasal dari rekam medik dan resep pada periode Juni-Oktober 2022 yang diberikan untuk penderita hipertensi dengan melihat perbedaan efektivitas berdasarkan kontrol tekanan darah pasien. Populasi penelitian diambil di Pusat Kesehatan Matakali dengan 45 sampel. Hasilnya menunjukkan bahwa paling banyak menggunakan obat hipertensi adalah wanita sebanyak 33 pasien (73,3%), usia 40-59 tahun sebanyak 27 orang (60,0%), dan kelompok obat yang paling banyak digunakan adalah CCB sebanyak 39 (86,7%) jenis obat paling umum adalah amlodipin. Sementara itu, dosis amlodipin yang paling banyak digunakan adalah 5 mg (46,7%) dan kaptopril 25 mg (11,1%). Faktor risiko untuk hipertensi pasien lebih rumit, tetapi beberapa pasien tidak tahu tentang terapi target dan obat yang tepat untuk mereka. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan dalam efektivitas dalam menurunkan tekanan darah dari penggunaan amlodipin dan kaptopril. Kata Kunci: Tekanan darah, Efek obat, Hipertensi, Lansia, AmlodipinHypertension is often a disease in the elderly and is sometimes ignored due to a lack of understanding of the disease and inappropriate treatment. The aim of this study is to provide an overview of the treatment of hypertension in hospitalized and street nursing patients. The research method uses the observational description method with retrospective data and sampling from medical records and prescription from June to October 2022 given to hypertensive patients by looking at the difference in effectiveness based on the control of the patient's blood pressure. The research population was taken at the Matakali Health Center with 45 samples. The results showed that the most frequently used hypertensive drugs were women in 33 patients (73.3%), between the ages of 40-59 years as much as 27 patients (60.0%), and the most commonly used drug group was CCBs as much as 39 patients (86.7%). The most common drug type was amlodipine. The risk factors for hypertension patients are more complicated, but some patients do not know about target therapy and the right medication for them. There is no difference in effectiveness in lowering blood pressure between the use of amlodipine and captopril.