cover
Contact Name
Muhammad Ikhwan Rizki
Contact Email
ikhwanrizki@unlam.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jps@unlam.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Pharmascience
ISSN : 23555386     EISSN : 24609560     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Pharmascience memuat naskah hasil penelitian dan artikel review bidang kefarmasian. Naskah dapat berasal dari mahasiswa, dosen, peneliti, dan lembaga riset. Setiap naskah yang diterima redaksi Jurnal Pharmascience akan ditelaah oleh Mitra Bebestari dan Anggota Redaksi. Jurnal Pharmascience terbit 2 (dua) kali dalam setahun yaitu Februari dan Oktober. Redaksi menerima pemesanan Jurnal Pharmascience untuk berlangganan atau pembelian setiap terbitan.
Arjuna Subject : -
Articles 360 Documents
Analisis Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Bedah Umum dengan Metode ATC/DDD di RSAU Efram Harsana Lanud Iswahyudi Maospati Sahayuna, Dara Demi; Sindy, Sulih Probo; Solihin, Imron; Suharjono, Suharjono
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 1 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i1.8914

Abstract

Penggunaan antimikoba pada pasien bedah umum pasca operasi digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi luka operasi. Namun pada penggunaan antimikroba yang tidak bijak dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik. Jika sudah terjadi resistensi antibiotik hal tersebut dapat menyulitkan terapi. Oleh karena itu, perlu dilakukannya pengendalian penggunaan antibiotik dengan cara penggunaan yang rasional / bijak. Pencegahan terjadinya resistensi antimikroba dapat dilakukan dengan menyesuaikan pemberian antibiotik pada pedoman terapi serta dapat dilakukan evaluasi secara kuantitatif maupun kualitatif secara berkala. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai DDD dari antibiotik di RSAU Efram Harsana Lanud Iswahyudi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-analitik dengan desain cross sectional dengan pengambilan data secara retrospektif pada pasien bedah umum RSAU Efram Harsana Iswahjudi selama peridoe Juli-September 2019. Dari laporan rekam medis peresepan antibiotik sebanyak 401 dari 339 rekam medis diperoleh hasil dengan pemakaian jenis antimikroba tertinggi  golongan sefalosporin ceftriaxon 15,909/100 pasien-hari dan pemakaian jenis antimikroba terendah yaitu ceftazidim 0,098/100 pasien-hari.  Kata Kunci: Pasien Bedah Umum, Antibiotik, ATC/DDD, Resistensi Antimikroba, DDD/100. The use of antimicrobials in postoperative general surgery patients is used to prevent wound infection. However, the use of antimicrobials that are not wise can cause antibiotic resistance. If antibiotic resistance has occurred this can complicate therapy. Therefore, it is necessary to control the use of antibiotics by means of rational use. Prevention of antimicrobial resistance can be done by adjusting the administration of antibiotics in the therapeutic guidelines and periodic quantitative and qualitative evaluations can be done. This study aims to determine the DDD value of antibiotics in general surgery patients at Efram Harsana Hospital Iswahjudi Lanud. This research is a type of descriptive study with a retrospective cross sectional design using ATC / DDD analysis. Data obtained from the medical records of general inpatients in Efram Harsana Hospital peridoe July-September 2019. From the medical record report prescribing antibiotics as many as 401 out of 339 medical records obtained results with the use of the highest type of antimicrobial cephalosporin ceftriaxon 15,909 DDD / 100 days of treatment and 100 days of treatment and obtained the results of the use of the highest antimicrobial type cephalosporin ceftriaxon 15,909 DDD / 100 days of hospitalization and The lowest use of antimicrobial types was ceftazidim 0.098 DDD / 100 days of hospitalization.
Formulasi dan Penilaian Fisik Sediaan Spray Minyak Kemiri (Aleurites moluccana (L.) Wild) dan Seledri (Apium graveolens) sebagai Pertumbuhan Rambut Maulana, Fahmi Alief; Sukmawati, Anita; Fauzi, Ahmad; Wahyuni, Arifah Sri
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.20283

Abstract

Ekstrak seledri (Apium graveolens Linn) yang mengandung apigenin dan kemiri (Aleurites moluccana (L.) Wild) dengan kandungan asam oleat berpotensi dikembangkan sebagai pertumbuhan rambut. Tujuan penelitian ini untuk memformulasikan ekstrak seledri (Apium graveolens Linn) dan ekstrak kemiri (Aleurites moluccana (L.) Wild) menjadi sediaan spray penumbuh rambut. Ekstrak seledri diperoleh melalui maserasi dengan etanol 96% sebagai pelarut, sementara ekstrak kemiri dibuat menggunakan mesin Hot Press. Kedua ekstrak diformulasikan dengan konsentrasi bervariasi terdiri dari 0,1; 0,5; dan 1%. Evaluasi sediaan spray menunjukkan produk berbentuk cair berwarna hijau kekuningan dengan konsistensi yang homogen. Hasil uji  kualitas fisik sebagai berikut: pH 5,79; keseragaman bobot 1,692%; daya sebar 5,93 cm; daya lekat 12,32 detik; viskositas 505 cP; waktu mengering 81,67 detik; dan pola penyemprotan spray menghasilkan semprotan yang menyebar secara merata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak seledri serta kemiri memenuhi syarat sebagai sediaan spray untuk pertumbuhan rambut. Kata Kunci: Daun Seledri, Kemiri, Pertumbuhan Rambut, Kualitas Fisik, Spray Celery (Apium Graveolens Linn) extract containing apigenin and candlenut (Aleurites moluccana (L.) Wild) containing oleic acid have the potential to be developed for hair growth The aim of this research is to formulate celery extract (Apium graveolens Linn) and candlenut extract (Aleurites moluccana (L.) Wild) into a hair growth spray preparation. Celery extract was obtained through maceration with 96% ethanol as a solvent, while candlenut extract was made using the Hot Press machine. The second extract was formulated with varying concentrations consisting of 0.1; 0.5; and 1%. Evaluation of the spray preparation shows that the product is a green liquid with a homogeneous consistency. The physical quality test results are as follows: pH 5.79; weight uniformity 1.692%; spreadability 5.93 cm; sticking power 12.32 seconds; viscosity 505 cP; drying time 81.67 seconds; and the spray spray pattern produces a spray that spreads evenly. This research concludes that celery and candlenut extracts meet the requirements as spray preparations for hair growth.
Efektifitas Edukasi Video Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Kesadaran Penggunaan Antibiotik: Sebuah Studi Kuasi Eksperimental Adriani, Ni Putu Rina; Widowati, I Gusti Ayu Rai; Ardinata, I Putu Riska; Putri, Dhiancinantyan Windydaca Brata
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.20454

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan masalah kesehatan serius, termasuk meningkatnya resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh edukasi video terhadap pengetahuan dan kesadaran penggunaan antibiotik pada pasien di Puskesmas II Denpasar Utara. Pendekatan kuantitatif ini menggunakan  metode quasi-experimental The Static Group Comparison, dengan melibatkan 140 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok uji terdiri dari 70 pasien yang diberikan edukasi video dan kelompok kontrol terdiri dari 70 pasien yang diberikan pelayanan sesuai standar puskesmas. Pengumpulan data menggunakan kuisioner tervalidasi. Data dianalisis dengan uji non parametrik Mann-Whitney. Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antar kedua kelompok pada variabel pengetahuan (p<0.001) dan kesadaran (p=0.028). Edukasi video memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan, terutama dalam penggunaan antibiotik yang lebih bijak dan rasional.
Aktivitas Baccaurea motleyana Mull.Arg. terhadap Salmonella thypi Febrianti, Dwi Rizki; Aryzki, Saftia; Khadijah, Maulida; Kumalasari, Eka; Niah, Rakhmadhan
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.16498

Abstract

Penyakit tifus adalah gangguan pada sistem pencernaan yang menyerang bagian usus halus dan terkadang dapat mempengaruhi aliran darah, kantong empedu, limfa, dan hati. Penyebab utama tifus adalah aktivitas bakteri Salmonella thypi, bakteri ini mampu mengontaminasi makanan ataupun minuman yang tidak terjaga sanitasinya. Baccaurea motleyana Mull.Arg memiliki kandungan senyawa antibakteri, diantaranya golongan flavonoid, saponin, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan aktivitas ekstrak daun rambai dalam menghambat S. thypi. Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi maserasi dan uji antibakteri menggunakan metode difusi sumuran menggunakan nutrien agar (NA). Ekstraksi dengan maserasi dilakukan menggunakan pelarut etanol 70%. Kelompok perlakuan pada penelitian ini menggunakan seri  konsentrasi ekstrak 10%, 20%, 30%, dan kontrol negatif (water for injection) dengan tiga kali pengulangan. Ukuran diameter zona bening yang terbentuk diukur menggunakan jangka sorong digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun rambai memiliki efek penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri S. thypi. Rerata zona hambat dari ekstrak daun rambai dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30% masing-masing adalah 14,1 mm; 18,8 mm; dan 23,13 mm, sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun B. motleyana memiliki aktivitas terhadap bakteri S. thypi. Kata Kunci: Antibakteri,  Zona Bening, Daun Rambai,  Difusi Padat, Salmonella thypi Typhoid disease is a disorder of the digestive system that attacks parts of the small intestine and can sometimes affect blood flow, gallbladder, lymph, and liver. The main cause of typhus is the activity of Salmonella thypi bacteria, this bacterium is able to contaminate food or drinks that are not maintained sanitation. Baccaurea motleyana Mull.Arg contains antibacterial compounds, including flavonoids, saponins, and tannins. This study aims to prove the activity of rambai leaf extract in inhibiting S. thypi. This study uses the maceration extraction method and antibacterial test using the well diffusion method using agar nutrients (NA). Extraction by maceration is carried out using a 70% ethanol solvent. The treatment group in this study used a series of 10%, 20%, 30% extract concentrations, and negative control (water for injection) with three repetitions. The size of the diameter of the formed clear zone is measured using a digital caliper. The results showed that rambai leaf extract had an inhibitory effect on the growth of S. thypi bacteria. The average inhibition zone of rambai leaf extract with concentrations of 10%, 20%, and 30% was 14.1 mm, respectively; 18.8 mm; and 23.13 mm, so it can be concluded that B. motleyana leaf extract has activity against S. thypi bacteria.
Gambaran Histopatologi Hati dan Ginjal Mencit (Mus musculus) Setelah Pemberian Ekstrak Daun Bajakah Kalalawit (Uncaria gambir Roxb.) Gunawan, Yohanes Edy; Priyadi, Muhammad; Citrariana, Shesanthi; Saputra, Rizki Rachmad; Decenly, Decenly; Fauziah, Anisa Rahma; Febrianto, Yahya; Suprayogi, Thathit
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.17733

Abstract

Secara empiris Bajakah Kalalawit (Uncaria gambir Roxb.) telah digunakan oleh masyarakat lokal Kalimantan karena dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Beberapa penelitian telah menunjukkan potensi aktivitas farmakalogis bajakah kalalawit dimulai dari bagian batang, akar dan lainnya. Namun, apabila tidak digunakan dengan tepat maka berpotensi dapat membahayakan penggunanya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis aspek toksikologi konsumsi ekstrak air daun bajakah kalalawit melalui gambaran histopatologi organ hati dan ginjal. Ekstraksi daun bajakah kalalawit menggunakan metode refluks dengan pelarut air dan uji histopatologi menggunakan pengamatan mikroskopis histologi pada organ hati dan ginjal mencit jantan (Mus musculus) melalui pemberian dosis ekstrak air daun bajakah kalalawit sebanyak 52,5 mg/KgBB, 105 mg/KgBB, dan 210 mg/KgBB selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak air daun bajakah kalalawit selama 30 hari dapat menimbulkan terjadinya degenerasi sel dan nekrosis sel pada organ hati maupun ginjal mencit. Dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak air daun bajakah kalalawit dengan dosis 52,5 mg/KgBB, 105 mg/KgBB dan 210 mg/KgBB dapat menyebabkan perubahan histologi pada organ hati dan ginjal. Kata Kunci: Histologi, Ekstrak, Toksikologi, Mikroskopis, Nekrosis   Empirically, Bajakah Kalalawit (Uncaria gambir Roxb.) has been used by local Kalimantan communities because it is believed to cure various diseases. Several studies have shown the potential pharmacalogical activity of bajakah kalalawit starting from the stem, root and other parts. However, if not used properly, it can potentially harm the user.. The purpose of this study was to determine the toxicology aspects of consumption of bajakah kalalawit leaf water extract through histopathological images of liver and kidney organs. Extraction of bajakah kalalawit leaves using reflux method with water solvent and histopathology test using microscopic observation of liver and kidney histology of male mice (Mus musculus) which were treated with doses of bajakah kalalawit leaf water extract 52.5 mg/KgBW, 105 mg/KgBW, and 210 mg/KgBW for 30 days.  The results showed that the administration of bajakah kalalawit leaf water extract for 30 days can cause cell degeneration and cell necrosis in the liver and kidney organs of mice. It can be concluded that the administration of bajakah kalalawit leaf water extract at doses of 52.5 mg/KgBW, 105 mg/KgBW, and 210 mg/KgBW may contribute to histologic changes in the liver and kidney.
Gambaran Penyakit Komorbid dan Pola Terapi pada Pasien Skizofrenia Suri, Nurma; Salsabila, Lyansaputri
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.19835

Abstract

Di Indonesia, skizofrenia merupakan penyakit gangguan mental ketiga terbanyak setelah depresi dan gangguan cemas. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran penyakit komorbid dan pola terapi pada pasien skizofrenia yang dirawat inap di RSJ Daerah Provinsi Lampung. Metode penelitian dilakukan secara crosssectional. Pengambilan data dilakukan secara retrospective dengan menggunakan data rekam medis pasien yang memperoleh rawat inap selama tahun 2022. Sampel penelitian dipilih dengan metode total sampling. Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif, ditampilkan dalam bentuk tabel dan diagram. Hasil yang diperoleh ada 281 sampel dengan karakteritik 77,9% laki-laki, 77,6% berada pada rentang usia produktif (18-45 tahun), 94,66% didiagnosa skizofrenia paranoid, rerata obat yang diperoleh pasien selama rawat inap 4-5 jenis obat dan 61,6% pasien didiagnosa penyakit komorbid. Risperidone adalah jenis antipiskotik tipikal terbanyak yang digunakan secara tunggal (5,69%) dan penggunaan 2 kombinasi terbanyak yaitu risperidone-chlorpromazine (62,63%) dan risperidone-haloperidol (8,19%). Tifoid (44,07%), leukositosis (16,95%) serta penggunaan zat psikoaktif/alkohol (6,78%) menjadi tiga penyakit komorbid yang paling banyak diderita pasien skizofrenia. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian adalah 66% pasien memiliki diagnosa komorbid dengan infeksi dan penggunaan zat psikoaktif sebagai komorbid utama dan memperoleh terapi polifarmasi (penggunaan 4-5 jenis obat) yaitu kombinasi 2 antipsikotik dan terapi adjuvant. Kata Kunci: Infeksi, Skizofrenia, Penyakit Komorbid, Polifarmasi, Rawat Inap In Indonesia, schizophrenia represents the third most prevalent mental health condition, following depression and anxiety disorders. The objective of this study is to identify the prevalence of comorbid diseases and the patterns of therapeutic intervention among inpatients with schizophrenia at the Mental Health Hospital of Lampung Province. The research method employed a cross-sectional study utilising medical record data from patients who were hospitalised during 2022. The sample was selected using total sampling. The data were subjected to descriptive analysis. The study yielded a total of 281 samples, with the majority (77.9%) comprising male and belonging to the productive age range (18-45 years), 77.6%. The majority (94.66%) of the subjects were diagnosed with paranoid schizophrenia. The average number of drugs received by patients was 4-5 types of drugs. Additionally, 61.6% of patients were diagnosed with comorbid. The most commonly prescribed typical antipsychotic was risperidone, which was used in monotherapy (5.69%) and in two combinations: risperidone-chlorpromazine (62.63%) and risperidone-haloperidol (8.19%). The comorbid diseases most commonly suffered are typhoid (44.07%), leukocytosis (16.95%), and the use of psychoactive substances (6.78%). The findings of the study indicated that patients with schizophrenia 66% patient had comorbidity, with the primary comorbidity an infection and received polypharmacy therapy.
Efek Imunomodulator Ekstrak Etanol Akar Pasak Bumi (Eurycoma Longifolia, Jack) terhadap Ekspresi CD57 pada Hepar Tikus yang Diberi Doksorubisin Wahyuningtyas, Nurma; Amukti, Danang Prasetyaning; Nurani, Laela Hayu; Salamah, Nina
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.18499

Abstract

Agen kemoterapi yang terbukti dapat menurunkan imunitas tubuh adalah doksorubisin. Akar pasak bumi (Eurycoma longifolia, Jack) telah digunakan untuk meningkatkan imunitas serta antikanker. CD57 merupakan suatu penanda diferensiasi terminal dan  disfungsi limfosit pada sel T CD8+, CD4+, dan NK sel. Studi ini menyelidiki efek EEAPB pada ekspresi CD57 hati mencit SD (Sprague Dawley) yang diberi doksorubisin. Dalam penelitian ini, 49 tikus dibagi menjadi 7 kelompok. Kelompok I sebagai kontrol doksorubisin, kelompok II sebagai kontrol EEAPB 200 mg/kgBB, dan kelompok III, IV, dan V sebagai kelompok perlakuan doksorubisin + EEAPB 50 mg/kgBB, 100 mg/kgBB, dan 200 mg/kgBB. Kelompok VI sebagai kontrol pelarut (CMC Na 1%), dan kelompok VII sebagai kontrol sehat. Penelitian dilanjutkan dengan pewarnaan hati tikus dengan imunohistokimia untuk mengidentifikasi ekspresi CD57, dan pengujian statistik dilakukan dengan SPSS. Seluruh kelompok perlakuan mempunyai efek penurunan % ekspresi CD57 secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol doksorubisin. Oleh karena itu, EEAPB dapat meningkatkan imunitas dengan menurunkan persentase ekspresi CD57 pada hati tikus strain SD yang telah diberikan doksorubisin secara signifikan dan dosis yang dapat menurunkan persentase ekspresi CD57 maksimal, yaitu 50 mg/Kg BB. Kata Kunci: Doksorubisin, Kemoterapi, Pasak Bumi, Anti kanker, Hepatoprotektor A chemotherapy agent that has been shown to lower immunity is doxorubicin. The root of pasak bumi (Eurycoma longifolia, Jack) has been used to boost immunity and as an anticancer. CD57 is a marker of terminal differentiation and lymphocyte dysfunction in CD8+, CD4+, and NK T cells. This study investigated the effect of EEAPB on liver CD57 expression of SD (Sprague Dawley) mice treated with doxorubicin. In this study, 49 mice were divided into seven groups. Group I as doxorubicin control, group II as EEAPB 200 mg/kgBB control, and groups III, IV, and V as doxorubicin + EEAPB 50 mg/kgBB, 100 mg/kgBB, and 200 mg/kgBB treatment groups. Group VI was used as solvent control (CMC Na 1%), and group VII was used as healthy control. The study was followed by staining the liver of mice with immunohistochemistry to identify CD57 expression, and statistical testing was performed with SPSS. All treatment groups had the effect of decreasing the % expression of CD57 compared to the doxorubicin control group. Therefore, EEAPB can improve immunity by reducing the percentage of CD57 expression in the liver of SD strain rats that have been given doxorubicin at a dose that reduces the maximum rate of CD57 expression, which is 50 mg/Kg BW.
Aktivitas Hepatoprotektif Madu Rambutan terhadap Fungsi Hati dan Profil Gen Il-6 Setelah Induksi Minuman Beralkohol secara In Vivo Sayekti, Fitria Diniah Janah; Ahmad, Tasrif
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.17317

Abstract

Hepar atau hati adalah bagian dari sistem organ yang berperan dalam proses metabolisme, konjugasi dan detoksifikasi namun juga rentan mengalami kerusakan. Konsumsi alkohol berlebih akan mengakibatkan gangguan metabolisme pada hati. Uji kadar enzim SGOT dan SGPT menjadi salah satu pemeriksaan penanda fungsi hati. Selain pemeriksaan enzim SGOT dan SGPT, interleukin-6 memiliki peran penting pada patologi hepar dan sangat kompleks. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental yang terdiri atas 5 kelompok perlakuan antara lain kontrol normal, kontrol negatif, 3 kelompok perlakuan induksi alkohol dan madu, untuk mengetahui aktivitas hepatoprotektif madu rambutan terhadap fungsi hati dan profil gen IL-6 setelah induksi minuman beralkohol secara in vivo. Menurut hasil uji, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan kadar SGOT sebesar 46% dan SGOT sebesar 21% pada kontrol negatif (yang hanya diinduksi alkohol). Kelompok yang diberi perlakuan induksi alkohol dan madu rambutan memiliki kadar SGOT maupun SGPT yang mendekati nilai kontrol normal. Berdasarkan hasil uji statistik Anova pada uji SGOT dapat diketahui bahwa hasil signifikasi sebesar 0.00 (<0.05) yang berarti terdapat perbedaan nyata antar perlakuan. Berdasarkan profil gen IL-6 yang dianalisa dengan PCR dan divisualisasi dengan elektroforesis nampak terdeteksi pada semua kelompok. Hal tersebut menandakan bahwa madu rambutan memiliki potensi hepatoprotektif pada fungsi hati. Kata Kunci: Madu Rambutan, Hepatoprotektif, SGOT, SGPT, IL-6 The liver is part of an organ system that has an essential role in metabolic, conjugation, and detoxification processes but is also susceptible to damage. Excessive alcohol consumption will cause metabolic disorders in the liver. SGOT and SGPT enzyme level tests are markers of liver function. Apart from examining the SGOT and SGPT enzymes, interleukin-6 has an essential role in the pathology of liver disease and is very complex. This study used an experimental design of 5 treatment groups, including normal control, negative control, and 3 alcohol and honey induction treatment groups, to determine the hepatoprotective activity of rambutan honey on liver function and the IL-6 gene profile after in vivo induction of alcoholic beverages. According to the test results, it can be seen that there was an increase in SGOT levels by 46% and SGOT by 21% in the negative control group (which was only induced by alcohol). The group given the alcohol induction treatment and rambutan honey had SGOT and SGPT levels that were close to normal control values. Based on the results of the Anova statistical test on the SGOT test, it can be seen that the significance result is 0.00 (<0.05), which means there is significance difference between treatments. Based on the IL-6 gene profile analyzed by PCR and visualized by electrophoresis, it appears to be expressed in all groups. This indicates that rambutan honey possesses hepatoprotective potential for liver function. 
The Practice of Home Medication Review (HMR) by Community Pharmacists: a Scoping Review Silviana, Mega; Mafruhah, Okti Ratna; Ningrum, Vitarani Dwi Ananda
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.17878

Abstract

Praktik farmasi klinik yang berkolaborasi dengan petugas kesehatan lain di tingkat komunitas masih terbatas. HMR bertujuan untuk meningkatkan kesehatan pasien dan meningkatkan kualitas pengobatan melalui kolaborasi perawatan kesehatan. Home Medication Review (HMR) merupakan pelayanan kesehatan di rumah yang mengoptimalkan pelayanan kesehatan pasien serta penggunaan dan pengelolaan obat setelah tidak adanya pemantauan langsung dari petugas kesehatan. HMR dilakukan secara kolaboratif oleh dokter umum dan apoteker di Puskesmas. Artikel review ini bertujuan untuk memberikan gambaran rinci mengenai praktik HMR oleh apoteker komunitas yang mencakup tujuan, tahapan, durasi, dan manfaat HMR serta karakteristik demografi pasien. Review tersebut meliputi artikel penelitian yang dipublikasikan selama tahun 2013 – 2023. Artikel tersebut didapat melalui PubMed dengan kata kunci “(Home Medication Review) DAN (Home Medicine Review)”. Artikel berbahasa Inggris dimasukkan, diekstraksi, dan disajikan dalam sebuah tabel. Empat belas artikel relevan menggambarkan praktik HMR yang melibatkan intervensi apoteker, termasuk rujukan ke dokter umum, untuk mengidentifikasi Masalah Terkait Obat (DRPs), mengoptimalkan pengobatan, meningkatkan kepatuhan pengobatan, dan studi farmakoekonomi. Pasien berusia 18 tahun hingga lanjut usia berasal dari klinik dan fasilitas kesehatan primer atau di panti jompo. HMR juga diberikan kepada pasien dengan satu atau lebih penyakit kronis yang diobati dengan beberapa obat. HMR berlangsung selama 3–18 bulan dengan tahapan persiapan, identifikasi pasien, persetujuan dokter dan pasien, pencatatan data pasien, penilaian awal, kunjungan rumah, identifikasi masalah, intervensi, penilaian akhir, dan laporan HMR. HMR secara signifikan mengurangi kejadian DRP, meningkatkan kepatuhan pengobatan, meningkatkan hasil terapi, meningkatkan pengetahuan, meningkatkan status kesehatan, dan meningkatkan kolaborasi apoteker-dokter. HMR meningkatkan peran apoteker dalam layanan farmasi klinis kolaboratif di masyarakat.Kata Kunci: Masalah Pengobatan, Apoteker Komunitas, Kolaborasi  Interprofesional, Farmasi Klinik, Pelayanan KesehatanClinical pharmacy practices in collaboration with other health workers at the community level remain limited. Home Medication Review (HMR) is a home health service that optimizes patient health care and drug use and management after no direct monitoring from health workers. HMR is collaboratively performed by general practitioners and pharmacists of primary health care. HMR aimed to improve patient health and enhance the quality of medication through healthcare collaboration.This review article aims to provide a detailed description of HMR practice by community pharmacists that includes the purpose, stages, duration, and benefits of HMR and patients’ demographic characteristics. The review includes the research articles published during 2013 - 2023. The articles were searched via PubMed with the keywords "(Home Medication Review) AND (Home Medicine Review)". English articles were included, extracted, and presented in a table. Fourteen relevant articles described the practice of HMR involving pharmacist intervention, including referrals to general practitioners, for identifying Drug-Related Problems (DRPs), optimizing treatment, improving medication adherence, and pharmacoeconomic studies. Patients aged 18 years to elderly are from clinics and primary health facilities or in nursing homes. HMR is also provided for patients with one or more chronic diseases treated with several drugs. HMR lasts for 3 – 18 months with stages of preparation, patient identification, doctor and patient agreement, patient data recording, initial assessment, home visit, problem identification, intervention, final assessment, and HMR report. HMR significantly reduces DRP incidence, increases medication adherence, improves therapeutic outcomes, increases knowledge, improves health status, and increases pharmacist-doctor collaboration. HMR enhances pharmacists’ role in collaborative clinical pharmacy services in the community.
Review: Pengembangan Sistem Penghantaran Berbasis NLC (Nanostructur Lipid Carier) sebagai Skin Anti-Aging Mindiarto, Ahmad Bagus; Jafar, Garnadi; Putriyanti, Al-fira
Jurnal Pharmascience Vol 11, No 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.20136

Abstract

 Indonesia memiliki iklim tropis dengan suhu rata-rata 25°C hingga 30°C dan dua musim utama, yaitu hujan dan kemarau. Keindahan dan kesehatan kulit sangat penting bagi masyarakat Indonesia, yang baru-baru ini diakui dalam peringkat kecantikan global. Penuaan kulit, yang ditandai dengan penurunan produksi kolagen dan elastisitas, serta munculnya keriput, dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti sinar matahari dan polusi. Anti-aging mengacu pada metode dan produk untuk memperlambat tanda-tanda penuaan. Pengembangan sistem penghantaran berbasis NLC (Nanostructured Lipid Carrier) adalah pendekatan terbaru dalam meningkatkan efektivitas produk anti-aging, dengan partikel lipid nano yang mampu menembus lapisan kulit lebih dalam. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan kinerja NLC dengan berbagai sistem penghantaran sehingga dapat diketahui sejauh mana NLC lebih unggul dalam menjaga stabilitas dan meningkatkan penetrasi bahan aktif anti-aging. Metode yang digunakan yaitu Artikel ilmiah dikumpulkan dari sumber nasional dan internasional 10 tahun terakhir (2014-2024). Hasil penelitian menunjukkan bahwa NLC meningkatkan penetrasi bahan aktif ke lapisan kulit yang lebih dalam, memperbaiki hidrasi kulit, dan mengurangi tanda-tanda penuaan. Kesimpulannya, sistem penghantaran berbasis NLC menawarkan pendekatan efektif dalam terapi anti-aging dan memiliki potensi besar untuk aplikasi dalam produk kosmetik dan perawatan kulit.