cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
METAMORFOSA Journal of Biological Sciences
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23025697     EISSN : 26558122     DOI : -
METAMORFOSA is an electronic scientific journal published periodically by the Master of Biology Udayana University, which includes scientific works in the field of Biology.
Arjuna Subject : -
Articles 316 Documents
Identifikasi Molekuler Bakteri Endofit Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis) dan Aktivitasnya dalam Memproduksi Inhibitor Alfa Amilase Vanisa Sri Elvani; Syauqi Susana Rahmani; Safrida Dwiningsih; Tetty Marta Linda; Windi Dona Fitri Fitri
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2023.v10.i01.p02

Abstract

Endophytic bacteria are sized microorganisms found in plant tissues that are known to produce secondary metabolites, one of which is the ?-amylase inhibitor. Plant potential is closely related to endophytic microorganisms present in plant tissues. The study aimed to determine the potential of endophytic bacteria in rubber plants to produce ?-amylase inhibitors and to identify molecular using the 16S rRNA gene sequence. The isolates used were endophytic bacteria isolates L1M1.A2, L1M1.B4, and L2M1.A27. The activity of ?-amylase inhibitor was tested by in vitro and spectrophotometric measurements at a wavelength of 540 nm. Endophytic isolates with the highest inhibitory values ??were identified using the 16S rRNA gene sequence with primers 8F and 1492R. The results showed that the L1M1.A2 isolate produced 29.44% ?-amylase inhibitor and was identified as Bacillus proteolyticus with 99.86% homology. The potential of the L1M1.A2 isolate could be developed as a candidate for an antidiabetic drug.
Kuantitas Dan Kualitas DNA Hasil Ekstraksi Dari Bercak Darah Pada Pisau Pasca Paparan Sinar Ultraviolet Dan Matahari Putri Arie Prasetyoningrum; I Ketut Junitha; Dwi Ariani Yulihastuti
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2023.v10.i01.p19

Abstract

Examination of Deoxyribonucleic Acid is the primary identification method in forensic cases. Blood stains found at the scene of a crime are often affected by various environmental factors, one of which is ultraviolet light from the sun. Purpose of this study is to compare the quantity and quality of DNA extracted from blood stains on the blade after exposure to ultraviolet light and the sun for 0, 15 and 30 days. The method used is a factorial design: light source (UVA, indirect sunlight and direct sunlight); and duration of treatment (0, 15 and 30 days). Blood stains are made by dripping a 50?L of human blood on one side of the blade and then given treatment. DNA analysis includes: extraction with Chelex 5%; DNA quantity and quality test with SimpliNano spectrophotometer; total DNA quality test with agarose gel electrophoresis; and PCR. Quantitative data analysis using Univariate test followed by Duncan test. The results showed that the quantity of DNA in samples exposed to UVA and sunlight (directly) increased on the 15th day due to DNA fragmentation while samples exposed to sunlight (indirectly) decreased the quantity of DNA with the duration of treatment. DNA quality in the form of DNA purity produces an extract of DNA that is not pure. The total DNA quality with agarose gel electrophoresis on all samples showed that the longer the treatment (0, 15 and 30 days) resulted in a dimmer or thinner band of DNA luminescence with smears.
Morfologi Dan Rasio Spermatozoa X : Y Mencit (Mus Musculus) Yang Diberi Ekstrak Buah Juwet (Syzygium Cumini) Setelah Terpapar Asap Rokok Yoseph Raymond Irawan; NI Nyoman Wirasiti; Ni Made Rai Suarni; A.A.S.A Sukmaningsih
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2023.v10.i01.p10

Abstract

Buah Juwet merupakan buah dengan antioksidan tinggi yang dapat meningkatkan kemampuan reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh ekstrak buah juwet terhadap morfologi dan rasio spermatozoa X dan Y setelah terpapar asap rokok. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yaitu K-, K+ (pemberian 1 batang rokok komersil/hari), P1 (diberi ekstrak buah juwet 1,8mg/g BB dan satu batang rokok komersil/hari), P2 (diberi ekstrak buah juwet 1,8mg/g BB) dan P3 (pemberian satu batang rokok dengan filter bubuk ekstrak buah juwet/hari) dan setiap perlakuan terdapat 4 kali ulangan. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah spermatozoa dengan morfologi abnormal dan rasio X : Y spermatozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada persentase spermatozoa abnormal antara kelompok kontrol dan perlakuan. Pada penelitian ini ekstrak buah juwet tidak berpengaruh secara signifikan terhadap rasio spermatozoa X dan Y. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak buah juwet mampu menurunkan resiko munculnya kelainan morfologi pada spermatozoa setelah terpapar asap rokok. Namun ketiga metode tersebut belum mampu secara efektif mempengaruhi rasio spermatozoa X dan Y setelah terpapar asap rokok. Kata kunci: ekstrak juwet, mencit, radikal bebas, rasio spermatozoa, rokok.
Formulasi Body Mask dari Daun Pegagan (Centella asiatica L.) untuk Perawatan Kulit Stareast Wulandari Sigiro; Ni Luh Arpiwi; Ni Made Susun Parwanayoni
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2023.v10.i01.p15

Abstract

Body mask yaitu satu diantara kesediaan kosmetik yang dipakai dalam proses akhir saat melakukan perawatan kulit. Perawatan kulit terkhususnya dalam kulit tubuh membutuhkan kosmetika yang sifatnya menimbulkan lembab. Oleh karena itu perlu dilakukan perawatan agar dapat menjaga kulit supaya selalu bersih serta sehat, salah satunya dengan perawatan kulit yaitu dengan body mask. Body mask memiliki banyak manfaat yaitu memberikan kelembaban, membuat kulit menjadi kencang, memberikan nutrisi pada kulit, membuat lembut kulit, membuat bersih pori-pori dan mencerahkan warna kulit. Satu diantara bahan alam yang bisa dipakai dalam melakukan perawatan kulit yaitu daun pegagan (Centella asiatica L.). Ekstrak pegagan memiliki salah satu senyawa kandungan yaitu asiaticosida yang dapat berkhasiat menstimulasi kolagen pada jaringan kulit. Penelitian yang dilakukan mempunyai tujuan agar dapat mengetahui kandungan fitokimia daun pegagan, mengetahui formulasi sediaan masker bubuk daun pegagan yang baik, serta mengetahui formulasi terbaik menurut probandus. Metode yang dipakai saat melakukan penelitian yang dilaksanakan yaitu uji fitokimia, pembuatan body mask, uji pH, uji organoleptik, dan uji hedonik. Penelitian yang dijalankan ini menghasilkan uji fitokimia golongan steroid, saponin, flavonoid, dan tanin diperoleh hasil positif. Kualitas body mask yang dihasilkan yaitu pH 5,41, dan tidak menimbulkan iritasi kulit. Uji organoleptik tekstur halus, aroma green tea, warna putih kehijauan. Formulasi body mask yang paling disukai oleh probandus adalah menggunakan basis yang ditambah 45 g (F2) bubuk daun pegagan. Kata Kunci : Body mask, daun pegagan (Centella asiatica L.), perawatan kulit.
Pertumbuhan Dan Laju Pertumbuhan Karang Stylophora pistillata Dengan Jenis Substrat Berbeda Yang Ditanam Pada Tiga Kedalaman Di Pantai Serangan Kadek Andina Widiastuti; Luh Putu Eswaryanti Kusuma Yuni; Ida Ayu Astarini
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2023.v10.i01.p06

Abstract

INTISARI Transplantasi karang adalah kegiatan membudidayakan/mengembangbiakan koloni karang dengan menggunakan metode fragmentasi. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk mencegah kerusakan ekosistem terumbu karang sehingga keberadaan terumbu karang dan spesies yang hidup di sekitarnya tetap terjaga. Beberapa teknik telah banyak dilakukan dalam kegiatan transplantasi, namun pengetahuan terkini tentang teknik transplantasi yang tepat sangat dibutuhkan agar kegiatan dapat berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis substrat yang digunakan terhadap pertumbuhan dan laju pertumbuhan karang Stylophora pistillata yang ditransplantasikan pada tiga kedalaman di Pantai Serangan, sehingga kegiatan transplantasi berjalan efektif dan efisien. Penelitian dilaksanakan selama empat bulan, mulai bulan November 2021 sampai Maret 2022 melalui penelitian lapangan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor yaitu jenis substrat yang digunakan (semen dan pasir; batu bata) dan kedalaman yang berbeda (1 m, 3 m dan 5 m). Penelitian ini menggunakan 90 fragmen Stylophora pistillata. Hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan jenis substrat memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertumbuhan dan laju pertumbuhan karang pada kedalaman 1 m. Namun pada dua kedalaman lainnya diketahui pengaruh jenis substrat yang berbeda tidak berbeda nyata. Pertumbuhan dan laju pertumbuhan karang paling baik terlihat pada karang yang menggunakan substrat semen dan pasir yang ditransplantasikan pada kedalaman 1 m dengan pertumbuhan 3,29 cm (tinggi) dan 3,93 cm (lebar), sedangkan nilai laju pertumbuhan tertinggi adalah 0,82 cm/bulan. (tinggi) dan 0,98 cm/bulan (lebar).
Aplikasi Substitutif Ekstrak Kulit Batang Kelor (Moringa oleifera L.) Dengan Batang Kemangi (Ocimum basilicum L.) Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti Vinsensius Manek Ati; Paula MDS Mau; Ermelinda D Meye; Jeffry Amalo
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2023.v10.i01.p11

Abstract

ABSTRACT The research was carried out to determine the effect of substitutional of moringa stem bark extract (MB extract) with basil stem extract (BS extract) on mortality, LC50 and LT50 of Aedes aegypti larvae. The research was design using completely randomized design (CRD) consist of 6 treatments including control (without MB and BS extracts), 500 mg MB extract, 350 mg MB extract and 150 mg BS extract, 200 mg MB extract and 300 mg BS extract, 50 mg MB extract and 450 mg BS extract, 500 mg BS extract. Each treatment was repeated 4 times. The results of variance analysis indicated that substitution of MB extract with BS extract had a very significant effect (p=0.00) on larval mortality. The highest average mortality was obtained by substitution of 50 mg MB extract with 450 mg BS extract based on Tukey’s test. Probit analysis showed that LC50 was obtained at a concentration of 35,96 mg/L and LT50 achieved within 8.58 hours. Keywords: Aedes aegypti, moringa stem bark, basil stem, mortality, LC50, LT50.
Analisis Kualitas Air Di Sungai Telagawaja Kabupaten Karangasem, Bali Juan Aldo Jaya Pradipta Sitepu; Ni Luh Watiniasih; Ayu Putu Wiweka Krisna Dewi
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2023.v10.i01.p16

Abstract

Sungai Telagawaja adalah salah satu sungai alami dengan panorama alam dan persawahan yang menarik, sehingga beberapa bagian lahan mulai beralih fungsi menjadi kawasan penunjang pariwisata maupun pemukiman. Akibat dari alih fungsi lahan ini menyebabkan penurunan kualitas air dari Sungai Telagawaja. Penurunan kualitas air ini menyebabkan menurunya daya guna, hasil guna, produktivitas, daya dukung dan daya tampung dari Sungai Telagawaja. Selain dari alih fungi lahan, kegiatan pertanian yang menggunkan pupuk pada lahan pertanian secara berlebihan, serta pemeliharaan hewan ternak disekitar sungai yang membuang limbah kotorannya langsung tanpa pengolahan limbah, memperburuk kondisi air Sungai Telagawaja. Sehingga diperlukan kajian mengenai kondisi Sungai Telagawaja terkini. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Febuari 2021. Lokasi pengambilan data bertempat di perairan Sungai Telagawaja dengan 3 tiitk pengambilan sampel. Paramater yang diamati meliputi suhu, TSS, TDS, ph, DO, COD, BOD, dan fecal coli. Hasil parameter yang didapat dianalisis dengan metode STORET untuk baku mutu kelas 1 untuk peruntukan air minum berdasarkan Peraturan Peraturan Gubernur Bali Nomor 16 Tahun 2016 Tentang Standar Baku Mutu Lingkungan (Baku Mutu Kualitas Air Berdasarkan Kelas). Hasil yang didapatkan di ketiga titik pengambilan sampel Sungai Telagawaja termasuk pada kondisi buruk. Nilai untuk masing bagian sungai yaitu pada bagian hulu Sungai Telagawaja dengan skor -40, pada bagian tengah Sungai Telagawaja dengan skor -38, dan pada bagian hilir Sungai Telagawaja dengan skor -40. Ketiga skor yang didapat melebih nilai skor 31 yang artinya kondisi air di Sungai Telagawaja dalam kondisi buruk atau dalam kondisi tercemar berat.
Prevalensi Kemampuan Mengecap Phenylthiocarbamide (PTC) Pada Penduduk Pulau Gili Ketapang Kabupaten Probolinggo Rike Oktarianti; Siti Agustina Wulandari; Hidayat Teguh Wiyono; Mahriani Mahriani
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2023.v10.i01.p07

Abstract

The taste of sensitivity of Phenylthiocarbamide (PTC), is autosomal dominant trait inherited. The taster controled by dominant allele while the non-taster determinated by recessive allele. The purpose of this study was to determine the prevalence and frequency of taster and non-taster alleles for PTC, as well as non-taster inheritance patterns at the population of Gili Ketapang island, Probolinggo district. Determination of the sample or respondents was carried out by randomly, total sample were 384 people, aged from 15-30 years. Detection of the taste sensitivity PTC was ask to respondents to taste the PTC solution. The PTC solution used was from the lowest concentration of 0.32mg/L (P13) to the highest concentration of 1300 mg/L (P1). The results showed that the prevalence of taster and non-taster were 96.88% and 3.12%, respectively. The frequency of taster (T) and non-taster alleles was 0.83 and non-taster was 0.17. The pedigree analysis of non-taster showed that non-taster individuals were born from heterozygous taster pairs (Tt) or from marriages between heterozygous taster individual (Tt) with non-tasters (tt). Keyword: Phenylthiocarbamide (PTC), taster, non taster
Analisis Toksisitas Dan Aktivitas Antioksidan Pada Ekstrak Gagang Cengkeh (Syzygium aromaticum) Yunita Diyah Safitri; F Fatimah
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2023.v10.i01.p12

Abstract

Bahan alam saat ini banyak digunakan sebagai alternatif obat kimia dalam mengatasi permasalahan kesehatan pada masyarakat. Salah satu jenis tanaman herbal yang sering dimanfaatkan khasiatnya di Indonesia adalah tanaman cengkeh. Penggunaan tanaman cengkeh dalam pembuatan obat herbal sudah banyak ditemui di Indonesia. Selain itu, tanaman cengkeh juga digunakan sebagai campuran beberapa minuman herbal yang diakui kaya akan antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat toksisitas gagang cengkeh, serta mengidentifikasi aktivitas antioksidan yang terkandung pada gagang cengkeh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Brine Shrimp Test (BST) untuk menguji toksisitas ekstrak gagang cengkeh dengan menentukan nilai LC50. Pada pengujian antioksidan digunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl), serta dilihat absorbansinya pada spektrofotometri pada panjang gelombang 517 nm untuk menentukan nilai IC50 gagang cengkeh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak gagang cengkeh memiliki tingkat toksisitas yang kuat dengan nilai LC50 sebesar 56,3 ppm, serta memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dengan nilai IC50 sebesar 63,5 ?g/mL.
Cytotoxicity Of Green Tea (Camellia sinensis L.) Extract From Gambung, West Java Towards Raw 264.7 Macrophage Cells Arina Novilla; Gina Khairinisa; Dwi Davidson Rihibiha; Heri Syahrian; Shabri Shabri
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 10 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2023.v10.i01.p03

Abstract

Makanan dan minuman fungsional dengan banyak manfaat kesehatan sangatlah penting untuk meningkatkan imun tubuh paska pandemi Covid-19. Salah satu tanaman kesehatan yang sudah terkenal sejak lama adalah teh hijau (Camellia sinensis L.). Sitotoksisitas teh hijau baik pada sel normal maupun sel penyakit, masih terus dipelajari sampai dengan saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat viabilitas sel makrofag RAW 264.7 yang diberi perlakuan ekstrak teh hijau yang diperoleh dari Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung, Jawa Barat. Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan untuk mencari konsentrasi yang aman digunakan pada sel RAW 264.7 secara in vitro. Sel makrofag RAW 264.7 diberi perlakuan ekstrak teh hijau dengan konsentrasi 12,5, 25, 50, dan 75 µg/ml, dan juga kuersetin 12,5, 25, 50, dan 75 µM sebagai senyawa pembanding. Viabilitas diukur dengan menggunakan analisis 3-(4,5 dimethylthiazol-2-yl)-5-(3-carboxymethoxyphenyl)-2-(4-sulfophenyl)-2H-tetrazolium (MTS). Perlakukan ekstrak teh hijau pada konsentrasi 12,5, 25, and 50 µg/ml menujukkan viabilitas sel makrofag RAW 264.7 di atas 90% yang berarti konsentrasi tersebut tidak bersifat toksik terhadap sel RAW 264.7 sehingga dapat digunakan untuk uji efikasi ekstrak teh hijau.