cover
Contact Name
I G. Made Krisna Erawan
Contact Email
krisnaerawan@unud.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Animal Hospital, Faculty of Veterinary Medecine Building, Udayana University, 2nd Floor, Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No 6, Banjar Gaduh, Sesetan, Denpasar, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Veteriner
Published by Universitas Udayana
ISSN : 14118327     EISSN : 24775665     DOI : https://doi.org/10.19087/jveteriner
Core Subject : Health,
Jurnal Veteriner memuat naskah ilmiah dalam bidang kedokteran hewan. Naskah dapat berupa: hasil penelitian, artikel ulas balik (review), dan laporan kasus. Naskah harus asli (belum pernah dipublikasikan) dan ditulis menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah ilmiah yang telah diseminarkan dalam pertemuan ilmiah nasional dan internasional, hendaknya disertai dengan catatan kaki
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 18 No 3 (2017)" : 21 Documents clear
Evaluasi Kesesuaian Lingkungan Berdasarkan Penampilan Produksi Empat Bangsa Sapi pada Ketinggian Berbeda di Provinsi Lampung Nandari Dyah Suretno; Bagus Priyo Purwanto; Rudy Priyanto; Iman Supriyatna
Jurnal Veteriner Vol 18 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.949 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.3.478

Abstract

Each cattle breed can grow optimally at suitable environmental condition. bali cattle has better thermoregulation ability in incompaing with ongole crossbreed cattle in lowland. Simental or limousin cattle is from temperate zone with cold temperature area and intensive breeding management. Based on those considerations, this research aimed was to investigate the production performance of bali cattle, ongole crossbreed, limousine crossbreed and simental crossbreed cattle at different altitudes and seasons in Lampung Province. Research used adult female cattle consisting of 82 bali cattle, 138 ongole crossbreed cattle, 54 limousin crossbreed cattle and 32 simental crossbreed cattle. The observed variables as production response were body height, chest size and Body Condition Score (BCS). Data was then analyzed using Randomized Complete Design. Based on body size (height and chest circumference) and BCS, it can be concluded that the Bali cattle suitable to be developed in the lowlands, ongole crossbreed cows in the highlands, limousine crossbreed in the lowlands and simmental crossbreed suitable to be developed in both the lowlands and highlands. ABSTRAK Sapi bali mempunyai kemampuan termoregulasi yang lebih baik dibandingkan dengan sapi peranakan ongole di dataran rendah. Sapi simental atau limousin terbiasa hidup di daerah dengan suhu udara yang dingin dan tatalaksana pemeliharaan intensif. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah mengetahui kemampuan produksi sapi bali, sapi peranakan ongole, sapi peranakan limousin, dan peranakan simental pada beberapa ketinggian tempat dan musim yang berbeda di Provinsi Lampung. Materi yang digunakan adalah sapi betina dewasa: yaitu sapi bali 82 ekor, sapi peranakan ongole 138 ekor, sapi peranakan limousin 54 ekor, dan sapi peranakan simental 32 ekor. Peubah yang diamati untuk respons produksi adalah tinggi badan, lingkar dada, dan Body Condition Score (BCS). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan ukuran tubuh (tinggi dan lingkar dada) serta BCS, sapi bali cocok dikembangkan di dataran rendah. Sapi PO mempunyai ukuran tubuh sama pada ketiga ketinggian tempat namun BCS terbaiknya di dataran tinggi. Sapi peranakan limousin ternyata penampilan produksi terbaiknya baik musim hujan maupun musim kemarau di dataran rendah. Sementara sapi peranakan simental cocok dikembangkan di dataran rendah dan dataran tinggi.
Aktivitas Antagonis Bacillus subtilis terhadap Streptococcus iniae dan Pseudomonas fluorescens (ANTAGONIST ACTIVITY OF BACILLUS SUBTILIS AGAINST STREPTOCOCCUS INIAE AND PSEUDOMONAS FLUORESCENS) Budianto Budianto; Heny Suprastyani
Jurnal Veteriner Vol 18 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.135 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.3.409

Abstract

Intensification of fish farming has caused various impacts, for example diseases in fish. One of the diseases in fish is a bacterial disease. The use of probiotic bacteria as an antimicrobial agent, which is relatively safe and effective, is a strategy to treat the disease. Bacillus subtilis is probiotic bacteria which can produce bacteriocin compounds and has antagonistic effects against both Gram negative and Gram positive bacteria. The aim of this study was to evaluate the antagonist activity of B. subtilis against Streptococcus iniae and Pseudomonas fluorescens. Antagonist activity test was done by using paper disc diffusion against the bacteria. The variations on the test paper disc method used were based on the difference of B. subtilis incubation time, such as: 0, 6, 12, 18, 24 and 30 hours. The results showed B. subtilis (generation time = 30.62 min) produced antibacterial compounds which inhibited the growth of the bacteria. Antagonist activity was detected in early exponential phase, six hours, with inhibition zone diameter of 7.28 ± 0.18 mm (S. iniae) and 6.75 ± 0.11 mm (P. fluorescens) and reached optimum at early stationary phase, 24 hours, the inhibition zone diameter of 8.84 ± 0.28 mm (S. iniae) and 9.14 ± 0.91 mm (P. fluorescens). It can be concluded that B. subtilis can contribute in controlling the spread of bacterial diseases in fish farming, particularly caused by S. iniae and P. fluorescens ABSTRAK Intensifikasi budidaya ikan telah menyebabkan berbagai dampak, seperti penyakit pada ikan. Salah satunya adalah penyakit bakteriawi. Penggunaan bakteri probiotik sebagai agen antimikrob yang aman dan efektif adalah salah satu strategi untuk menanggulangi penyakit tersebut. Bacillus subtilis merupakan bakteri probiotik yang dapat memproduksi senyawa bakteriosin dan memiliki efek antagonis terhadap bakteri Gram negatif dan positif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi aktivitas antagonis dari B. subtilis terhadap Streptococcus iniae dan Pseudomonas fluorescens. Uji aktivitas antagonis dilakukan dengan menggunakan difusi cakram kertas terhadap bakteri uji. Variasi perlakuan pada uji cakram kertas adalah menggunakan perbedaan waktu inkubasi B. subtilis, yaitu waktu inkubasi 0, 6, 12, 18, 24 dan 30 jam. Berdasarkan hasil penelitian, B. subtilis (waktu generasi=30,62 menit) dapat memproduksi senyawa antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri uji. Aktivitas antagonis terdeteksi pada awal fase eksponensial yaitu inkubasi enam jam, dengan diameter zona hambat sebesar 7,28 ± 0,18 mm (S. iniae) dan 6,75 ± 0,11 mm (P. fluorescens) dan mencapai optimum pada awal fase stasioner yaitu inkubasi 24 jam, dengan diameter zona hambat sebesar 8,84 ± 0,28 mm (S. iniae) dan 9,14 ± 0,91 mm (P. fluorescens). Dapat disimpulkan bahwa B. subtilis dapat berperan dalam pengendalian penyebaran penyakit bakteri pada budidaya ikan, khususnya yang disebabkan oleh S. iniae dan P. fluorescens.
Karakterisasi Protein VirB4 Brucella abortus Isolat Lokal dengan Teknik Sodium Dodecyl Sulfate Polyacrylamide Gel Electrophoresis Ratih Novita Praja; Didik Handijatno; Setiawan Koesdarto; Aditya Yudhana
Jurnal Veteriner Vol 18 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.368 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.3.416

Abstract

Brucellosis is a zoonotic disease cause by pathogenic bacteria of the genus Brucella. The disease infects livestock mammals such as cows, goats, pigs, and including humans. Brucella abortus has several potential virulence factors, i.e. Proteins VirB. Type IV secretion system (T4SS) which is a combination of 12 proteins from VirB1-VirB11 and VirD4. Brucella can survive for long periods in the environment despite the limitations of nutrients and oxygen. This study aims to characterize the protein VirB4 of local isolate of B. abortus using SDS PAGE (Sodium Dodecly sulfate-polyacrylamide gel electrophoresis). The results showed that the protein contained 10 protein bands with a molecular weight of 158.93; 110.89; 99.931; 70.60; 64.61; 59.25; 45.32; 42.35; 23.63; and 16.70 kDa, respectively. Protein VirB4 of the local isolate of B. abortus have a molecular weight of 59.25 kDa. ABSTRAK Brucellosis merupakan salah satu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri patogen genus Brucella. Penyakit ini menyerang hewan ternak mamalia seperti sapi, kambing, babi, dan dapat menular ke manusia. Bakteri Brucella abortus memiliki faktor virulensi potensial yaitu protein VirB. Type IV Secretion System (T4SS) merupakan gabungan dari 12 protein yaitu VirB1–VirB11 dan VirD4. Brucella dapat bertahan hidup lama di dalam lingkungan meskipun memiliki keterbatasan nutrisi dan oksigen. Penelitian ini dilakukan untuk karakterisasi protein VirB4 B. abortus isolat lokal dengan metode Sodium Dodecly Sulfate-Polyacrylamide Gel Electrophoresis (SDS PAGE). Hasil karakterisasi protein B. abortus isolat lokal dengan teknik SDS-PAGE terdapat 10 pita protein dengan bobot molekul 158,93; 110,89; 99,931; 70,60; 64,61; 59,25; 45,32; 42,35; 23,63; dan 16,70 kDa. Simpulan penelitian ini adalah terdapat protein VirB4 B. abortus isolat lokal yang mempunyai bobot molekul 59,25 kDa.
Kafein dalam Medium Maturasi Meningkatkan Fertilisasi dan Menekan Frekuensi Polispermi Oosit Domba dengan Maturasi Diperpanjang (CAFFEINE SUPLEMENTATION IN MATURATION MEDIUM IMPROVE NORMAL FERTILIZATION AND REDUCED THE FREQUENCY OF POLYSPERMY IN SHEEP OOC Reski Adelia; Ni Wayan Kurniani Karja; Mohamad Agus Setiadi
Jurnal Veteriner Vol 18 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.394 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.3.337

Abstract

The objective of this study were to determine kinetic of nuclear maturation and the efficacy of caffeine suplementation in maturation medium on fertilization rate of sheep oocytes in vitro. In the first experiment, oocytes were matured for 16 (M-16), 20 (M-20), 24 (M-24), 28 (M-28) h to assessed the kinetic of oocytes nuclear maturation. In the second experiment, oocytes were matured for 24 h (M-24) or 28 h (M-28) without (M-24 or M-28 groups) or with caffeine suplementation at 4 h before the end of maturation period of oocytes matured for 24 h (M24-Kaf-4) and 28 h (M28-Kaf-4), or 8 h (M28-Kaf-8) before the end of maturation period of oocytes matured for 28 h. Result of the first experiment, 27.6% of oocytes were in metaphase II (MII) at 16 h. The percentage of MII oocytes significantly increased after 20 h (44.8%) to 24 h (88.9%) of maturation period (P<0.05), but the increasing was not found when the maturation period was prolonged until 28 h (89.3%) (P>0.05). However the number of oocytes with two pronucleus (2PN) was higher in group M-24 compared than that of M-28 group (P<0,05) and incidence of polyspermy increased in oocytes of M-28 group (P<0,05). No significant diferences was found in the total of oocytes fertilized among the group except of group M28-Kaf-8 (P>0,05). When caffeine was suplemented at 4 h before the end of maturation period a significantly reduced the incidence of polyspermy and increased the number of oocytes with 2PN in oocytes of M-28 group (P<0.05). In conclusion, the kinetic of nuclear maturation in sheep oocytes showed there was a variation in time required by oocytes to reach MII phase and caffeine improve normal fertilization and reduced the frequency of polyspermy on oocytes when the maturation period prolonged. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinetika maturasi inti dan efektivitas suplementasi kafein pada medium maturasi terhadap tingkat fertilisasi oosit domba secara in vitro. Penelitian tahap I oosit dimaturasi selama 16 (M-16), 20 (M-20), 24 (M-24), dan 28 (M-28) jam untuk mengevaluasi kinetika maturasi inti oosit. Penelitian tahap II, oosit dimaturasi selama 24 jam (M-24) dan 28 jam (M-28) tanpa kafein (kelompok M-24 dan M-28) atau dengan penambahan kafein pada empat jam sebelum akhir periode maturasi pada oosit yang dimaturasi selama 24 jam (M24-Kaf-4) dan 28 jam (M28-Kaf-4), atau delapan jam (M28-Kaf-8) sebelum akhir periode maturasi pada oosit yang dimaturasi selama 28 jam. Hasil penelitian tahap I menunjukkan, 27,6% oosit berada pada tahap metafase II (MII) pada jam ke-16. Persentasi oosit MII meningkat secara signifikan setelah jam ke-20 (44,8%) hingga jam ke-24 (88,9%) periode maturasi (P<0,05) akan tetapi tidak ditemukan adanya peningkatan ketika periode maturasi diperpanjang hingga 28 jam (89,3%) (P<0,05). Namun demikian, jumlah oosit dengan dua pronukleus (2PN) lebih banyak pada kelompok M-24 dibandingkan dengan kelompok M-28 (P<0,05) dan kejadian polispermi meningkat pada oosit kelompok M-28 (P<0,05). Tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan pada tingkat fertilisasi total antar perlakuan kecuali pada kelompok M28-Kaf-8 (P<0,05). Ketika kafein ditambahkan pada empat jam sebelum akhir periode maturasi secara signifikan dapat menurunkan kejadian polispermi dan meningkatkan jumlah oosit 2PN pada kelompok M-28 (P<0,05). Dapat disimpulkan bahwa kinetika maturasi inti oosit domba menunjukkan ketidakseragaman waktu yang dibutuhkan oleh oosit untuk mencapai tahap MII dan kafein dapat meningkatkan fertilisasi normal dan menurunkan frekuensi polispermi pada oosit ketika periode maturasi diperpanjang
Cemaran Kapang pada Pakan Sapi dan Uji In Vitro Sirih terhadap Pertumbuhan Kapang Aspergillus flavus (MOLD CONTAMINATION IN CATTLE FEED AND IN VITRO ASSAY OF PIPER BETEL AGAINTS GROWTH OF MOLD CONTAMINANT ASPERGILLUS FLAVUS ) Riza Zainuddin Ahmad; Djaenudin Gholib
Jurnal Veteriner Vol 18 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.083 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.3.453

Abstract

Contamination of mold in feed and Ingridients of feed is important because pathogenic and toxigenic mold will contaminate and cause mycotic and mycotoxicosis on livestock especially cattle. Information regarding the data is required in an attempt to controll of mold contaminant. Base on the previous study piper betel leaf (Piper betle) showed high activity as antimold. The aim of this study were to obtain data of mold contamination in cattle feed and ingredients of feed from the provinces of Banten, Lampung, Jakarta and West Java, and to test piper betel as an antimold herbal from traditional medicinal plants originated from Indonesia. Isolation and identification of fungi were conducted on the flour, glycerides, onggok, corn, peanut, coconut, coffee, concentrates, lamtoro, pineapple, rice, grass, palm, cassava, tofu lees, fish meal, bone meal from the provinces of Banten, Lampung, Jakarta and West Java. Isolation was done by plating the samples on agar medium, The mold have grown on media was identified. Feed that has been mixed with the extracts and powders plus mold inoculum was incubated. After 3=7 days incubation, colony forming unit (CFU) of the mixtures were counted. The results showed that the majority of feed contaminated with mold, but still below the threshold. The mold contamination in wheat flour, corn, concentrates and tofu lees exceeds from the threshold. Aspergillus sp, A. amstelodami, A. clavatus, A. Candidus, A. flavus, A. fumigatus, A. glaucus, A. niger, Cladosporium sp., Curvularia sp., Fusarium sp., Hyphomycetes sp., Mycelia sterilata, Mucor sp., Paecilomyces sp., Penicillium sp., and Rhizopus sp. Penicillium sp were most commonly found in the feed as much as 2.56 x 107 CFU. At a concentration of 10%. in vitro test showed that the piper betel leaf in powder form is more effective than extract form to inhibit the growth of A.flavus The conclusion of this study was flour, corn, concentrates and tofu lees contaminated by molds. Penicillium sp and 17 species of mold were the most frequently found compared to other fungi. Powders the best form of the piper betel as antimold. ABSTRAK Cemaran kapang pada pakan dan bahan penyusunnya adalah penting sebab kapang yang tergolong patogenik dan toksigenik dapat mencemari dan menyebabkan mikosis dan mikotoksikosis pada ternak sapi. Informasi mengenai kapang pencemar diperlukan dalam usaha pengendaliannya. Berdasarkan penelitian sebelumnya diketahui daun sirih (Piper betle) mempunyai aktivitas antikapang yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data cemaran kapang pada pakan ternak sapi dan bahan penyusunnya dari propinsi Banten, Lampung, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, serta menguji sirih sebagai obat herbal antikapang yang telah terpilih dari tanaman obat tradisional asli Indonesia. Isolasi dan identifikasi kapang telah dilakukan pada tepung, gliserida, onggok, jagung, kacang, kelapa, kopi, konsentrat, lamtoro, nenas, beras, rumput, sawit, singkong, ampas tahu, tepung ikan, tepung tulang dari provinsi Banten, Lampung, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Isolasi dilakukan dengan membiakkan sampel pada media agar, Kapang yang sudah tumbuh pada media diidentifikasi. Pakan yang telah dicampur dengan ektrak dan serbuk ditambahkan inokulum kapang, kemudian diinkubasi. Setelah 3-7 hari diinkubasi, dihitung colony forming unit (CFU) yang berkembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pakan tercemar kapang, tetapi levelnya masih berada di bawah batas ambang. Cemaran kapang pada tepung, jagung, konsentrat, dan ampas tahu melebihi batas ambang. Kapang-kapang tersebut adalah Aspergillus sp, A. amstelodami, A. clavatus, A. candidus, A. flavus, A. fumigatus, A. glaucus, A. niger, Cladosporium sp., Curvularia sp., Fusarium sp., Hyphomycetes sp., Miselia sterilata, Mucor sp., Paecilomyces sp., Penicillium sp., dan Rhizopus sp. Kapang Penicillium sp adalah yang paling banyak ditemukan pada pakan yakni sebanyak 2,56.107 CFU. Uji in vitro menunjukkan bahwa daun sirih dalam bentuk serbuk lebih efektif dibandingkan bentuk ekstrak untuk menghambat pertumbuhan A. flavus pada konsentrasi 10%. Simpulan penelitian ini adalah tepung, jagung, konsentrat dan ampas tahu tercemar oleh kapang. Ditemukan 17 jenis kapang pencemar pakan dan kapang Penicillium sp yang paling banyak jumlahnya. Antikapang sirih yang terbaik adalah dalam bentuk serbuk.
Efektivitas Low Density Lipoprotein dan Kuning Telur Ayam dan Puyuh pada Pengawetan Semen Ayam Merawang (EFFECTIVESS OF LOW DENSITY LIPOPROTEIN AND EGG YOLK FROM CHICKEN AND QUAIL ON MERAWANG SEMEN PRESERVATION) Magfira Magfira; Raden Iis Arifiantini; Ni Wayan Karniani Karja; Sri Darwati
Jurnal Veteriner Vol 18 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.755 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.3.345

Abstract

The successful of artificial insemination (AI) depends on the semen quality and extender. To minimize effect of cold shock during storage, extender is added with egg yolk. The objectives of this study were to compare the effectiveness of pure Low Density Lipoprotein (LDL) and egg yolk from domestic chicken and quail on motility and longevity of Merawang chicken sperm. The semen was collected by massage method from three Merawang roosters. Immediately after collection, semen was evaluated macroscopically and microscopically. Only semen demonstrated >70% motility and <20% sperm abnormality were used in this study. Semen divided into four aliquots and diluted with Lactate Ringer (LR) LDL chicken (RL-LDL-C), LR-LDL quail (LR-LDL-Q), LR- chicken Egg Yolk (LR-CEY), Ringer Lactate quail Egg Yolk (RL-QEY). Diluted semen than stored at 5oC. Sperm motility was examined twice a day and the longevity of sperm was determined every day until the sperm reach 0% motility. The motility of spermatozoa in the LR-LDL diluent differed from the sperm motility in the RL-QEY diluent at the 60th and 72th hour (P <0.05) poststorage. However, there was no difference in motility sperm in LR-LDL-C, RL-LDL-Q and RL-CEY. Additionally, there is no difference (P> 0.05) in spermatozoa longivity in the four diluents, with a range of longivities between 4.43 to 5.93 days. ABSTRAK Keberhasilan inseminasi buatan (IB) salah satunya bergantung pada kualitas semen dan pengencer yang digunakan. Dalam meminimalisir pengaruh cold shock saat penyimpanan, pengencer ditambahkan dengan kuning telur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan efektivitas Low Density Lipoprotein (LDL) dan kuning telur yang berasal dari ayam kampung dan puyuh terhadap motilitas dan longivitas spermatozoa ayam. Koleksi semen dilakukan menggunakan metode pemijatan pada tiga ekor ayam merawang. Setelah semen dikoleksi, selanjutnya semen dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis. Semen yang menunjukkan motilitas 70% dan abnormalitas kurang dari 20% dibagi empat dan diencerkan menggunakan Ringer Laktat-LDLA (RL-LDLA), Ringer Laktat-(RL-LDLP), Ringer Laktatkuning telur ayam (RL-KTA), dan RL-kuning telur puyuh (RL-KTP). Semen yang telah diencerkan kemudian disimpan pada suhu 5oC. Motilitas spermatozoa diamati dua kali sehari sampai motilitas mencapai 0%. Motilitas spermatozoa dalam pengencer RL-LDLA berbeda dengan motilitas spermatozoa dalam pengencer RL-KTP pada jam ke-60 dan ke-72 (P<0.05) pascapenyimpanan. Akan tetapi tidak terdapat perbedaan motilitas spermatozoa dalam RL-LDLA, RL-LDLP dan RL-KTA. Longivitas spermatozoa dalam empat pengencer tidak terdapat perbedaan (P>0.05) dengan rentang longivitas antara 4,43 sampai 5,93 hari.
Sediaan Daun Katuk dalam Pakan Ayam Pedaging Menurunkan Lemak Abdominal, Kadar Lemak, dan Kolesterol Daging (SUPLEMENTATION OF VARIOUS PREPARATIONS KATUK LEAVES IN FEED CAUSING A DECREASE OF ABDOMINAL FAT, FAT AND CHOLESTEROL LEVELS TO CARCASS OF BROILER Zulvia Maika Letis; Agik Suprayogi; Damiana Rita Ekastuti
Jurnal Veteriner Vol 18 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.255 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.3.461

Abstract

This research was designed to determine the efficacy of various preparations of katuk (Sauropus androgynus L.) leaves on productivity and carcass quality of broiler chiken. This research used experimental methods of block randomized design. Experimental animals used in this study were 100 male broiler chickens (Ross) with body weight ±40 g. The chickens were divided into five experimental groups, namely: control group (control), katuk leaves powder (TDK), extract of dried katuk (EKK), extract of brewed katuk (EKS) and katuk juice (KP). Each treatment consisted of twenty chickens. The administration of feed treatment every day from the seventh days to 37th days-old chicken (age 1th to 5th) ad libitum. The results showed that the administration of preparation extract and juice (EKK, EKS and KP) leaves katuk able to improve carcass quality and prevent the decline in productivity growth in body weight compare with leaf meal preparation katuk (TDK) real body weight can reduce the growth of broiler chickens is 1645,80 g/individual (EKK), 1450,30 g/individual (EKS), 1472,50 g/individual (KP) and 1408,90 g/individual (TDK). The administration of various preparations of katuk had a positive response, especially in improving carcass quality characterized by the decrease in abdominal fat deposits, level of fat and cholesterol broiler meat. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai sediaaan katuk (Sauropus androgynus L.) terhadap produktivitas dan kualitas daging ayam pedaging/broiler. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Hewan coba yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 100 ekor ayam broiler jantan (strain Ross) bobot badan sekitar 40 g yang dikelompokan ke dalam lima kelompok perlakuan pakan, yaitu: kontrol, tepung daun katuk (TDK), ekstrak katuk kering (EKK), ekstrak katuk seduh (EKS), dan katuk perasan (KP). Setiap perlakuan terdiri atas 20 ekor ayam. Pemberian pakan perlakuan dilakukan setiap hari mulai usia hari ke tujuh sampai ayam berusia 37 hari(minggu ke-1 sampai mingu ke-5) ad libitum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian sediaan ekstrak dan perasan (EKK, EKS, dan KP) daun katuk mampu meningkatkan kualitas karkas dan mencegah penurunan produktivitas pertumbuhan bobot badan dibandingkan dengan sediaan tepung daun katuk (TDK) yang nyata dapat menurunkan pertumbuhan bobot badan ayam broiler yaitu 1645,80 g/ekor (EKK), 1450,30 g/ekor (EKS), 1472,50 g/ekor (KP), dan 1408,90 g/ekor (TDK). Pemberian berbagai sediaan katuk memiliki respons positif terutama dalam peningkatan kualitas karkas ditandai dengan penurunan deposit lemak abdominal, kadar lemak, dan kolesterol daging ayam broiler.
Rebung Bambu Tabah (Gigantochloa Nigrociliata) Berpotensi Sebagai Bahan Afrodisiak pada Mencit Jantan (POTENTIAL APHRODISIAC ACTIVITY OF TABAH BAMBOO SHOOTS (GIGANTOCHLOA NIGROCILIATA) IN MALE MOUSE) Anak Agung Sagung Alit Sukmaningsih; Ida Bagus Wayan Gunam; Nyoman Semadi Antara; Pande Ketut Diah Kencana; I Wayan Widia
Jurnal Veteriner Vol 18 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.876 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.3.393

Abstract

This study was conducted to observe the potential aphrodisiac activity of Gigantochloa nigrociliata in male mouse Mus musculus. The twenty four male mice, aged 12 weeks were divided randomly into four groups, each group consisted of 6 mice. One group was used as control (P0) where the mice were treated with aquadest. Three other groups were given treatment. The extracts contained of water (P1), etanol (P2), and n-hexane (P3). The animals in each treatment were treatments given 200 mg/kg bw Gigantochloa nigrociliata of extract orally (gavage) once daily as much as 0,2 mL for 33 days. The observations of sexual behaviour performed every three days during the treatment. Variables observed for the sexual behaviour are both the number and latency of mount and intromission. Mice were anaesthetized after 33 days. Cauda epidydimis were analyzed for motility, number and viability of sperms. The result showed that testosterone serum level increased significantly on etanol extract group (p<0.05). There were significantly increased the mounting number, intromission number with reduction in mounting latency, and intromission latency of male mice (P<0.05). There was significant an increase in the number of (a) sperm motility and number of sperm on etanol extract group (p<0.05). The results of the present study demonstrate that Gigantochloa nigrociliata extract improve sexual behaviour in male mouse. ABSTRAK Telah dilakukan penelitian mengenai potensi rebung bambu tabah sebagai bahan afrodisiak yang diujikan pada mencit jantan (Mus musculus). Sebanyak 24 mencit dikelompokkan menjadi empat perlakuan dan enam ulangan. Satu kelompok digunakan sebagai kontrol (P0). Tikus pada kelompok kontrol diberikan aquades. Tiga kelompok lainnya diberikan perlakuan ekstrak air bambu tabah (P1), ekstrak etanol bambu tabah (P2), dan ekstrak n-hexane bambu tabah (P3). Setiap hewan pada masing masing perlakuan diberikan ekstrak 200 mg/kg bb (bobot badan) sebanyak 0,2 mL ) secara oral selama 33 hari. Pengamatan perilakukawin berupa mount dan intromission dilakukan setiap 3 hari sekali. Setelah 33 hari hewan dikorbankan untuk dikoleksi epididimis bagian cauda yang digunakan dalam analisis spermatozoa dan pengambilan darah yang digunakan dalam analisis hormon testosteron serum. Hasil analisis dengan menggunakan uji one way Anova menunjukkan adanya perbedaan kadar hormon testosteron serum secara signifikan (p<0,05). Kelompok hewan dengan perlakuan etanol memiliki kadar hormon yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lain. Kelompok hewan dengan perlakuan heksan memiliki kadar hormon terendah dengan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan kelompok perlakuan lain. Terjadi pula perbedaan motivasi seksual yang diamati pada perilaku kawin berupa mount dan intromission. Perbedaan jumlah dan waktu terjadinya mount dan intromission terjadi secara signifikan di antara kelompok perlakuan dan kontrol (p<0,05). Peningkatan jumlah mount dan intromission, serta semakin singkatnya waktu untuk mencapai mount dan intromission terjadi secara signifikan dibandingkan dengan kontrol dan diantara kelompok perlakuan (p<0,05). Hasil analisis data juga menunjukkan peningkatan motilitas spermatozoa tipe (a) yakni spermatozoa dengan gerakan yang progresif maju ke depan dan jumlah spermatozoa, terutama pada esktrak etanol rebung secara signifikan. Disimpulkan bahwa rebung bambu berpotensi sebagai bahan afrodisiak karena dapat meningkatkan hormon testosteron yang merupakan salah satu faktor penting dalam pengaturan sistem reproduksi serta dapat meningkatkan motivasi seksual yang diuji pada mencit jantan.
Physical Properties of Cervical Mucus of Repeat Breeder Aceh Cattle Tongku Nizwan Siregar; Iin Agustina; Dian Masyitah; Al Azhar; Dasrul Dasrul; Cut Nila Thasmi; Rusli Sulaiman; Razali Daud
Jurnal Veteriner Vol 18 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.09 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.3.378

Abstract

This study aimed to investigate the physical property changes of cervical mucus in repeated breeder Aceh cows. Six cows consisting three normal (K1) and three repeat breeders (RB) (K2) of adult Aceh cows were used. The characteristics of K1 group were at > 2 months post parturition, successful pregnancy following once insemination, and twice regular estrus cycle twice. The K2 were cows with normal estrus but failed to be pregnant after three times artificial inseminations. Cervical mucus samples (50 ml each) were collected by aspiration using a sterile catheter and disposable syringe. The comparisons of the physical properties of cervical mucus between fertile and repeat breeder cattle were as follows.. Cervical mucus unavailability/in small quantity was 0.00 vs. 66.67%, cloudy color was 0.00 vs. 66.67%, thick consistency was 0.00 vs. 100%, fern pattern was 0.00 vs 66.67%, spinnbarkeit was 5.16±1.60 vs. 2.83±2.02 cm and pH values was 7.33±0.57 vs 9.33±1.52. in conclusion, the physical properties of cervical mucus in repeat breeder Aceh were less in quantities, more cloudy, higher in viscosity, and higher pH as compared to normal fertile cows. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan sifat fisik mukus serviks sapi aceh yang mengalami kawin berulang (repeat breeding, RB). Dalam penelitian ini digunakan enam ekor sapi aceh betina yang terdiri dari tiga ekor sapi normal (K1) dan tiga ekor sapi yang mengalami RB (K2). Sapi K1 merupakan sapi >2 bulan pascapartus yang mempunyai riwayat berhasil bunting dengan sekali inseminasi dan mempunyai dua kali siklus reguler, sedangkan K2 terdiri atas sapi yang didiagnosis mengalami RB, yaitu sapi yang gagal bunting setelah lebih dari tiga kali inseminasi namun memiliki siklus estrus normal. Sampel mukus serviks dikoleksi dengan metode aspirasi menggunakan kateter steril dan disposible syringe 50 mL. Kateter dimasukan melalui vagina yang yang diiringi dengan palpasi rektal untuk mengarahkan kateter masuk ke serviks uterus. Hasil pemeriksaan sifat fisik mukus serviks pada sapi fertil vs sapi RB menunjukkan bahwa kuantitas mukus tidak ada/sedikit (0,00 vs 66,67%), warna keruh (0,00 vs 66,67%), konsistensi kental (0,00 vs 100%), pola pakis (0,00 vs 66,67%), spinnbarkeit (5,16±1,60 vs 2,83±2,02 cm) dan nilai pH (7,33±0,57 vs 9,33±1,52). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sapi aceh yang mengalami RB memiliki kuantitas mukus lebih sedikit, warna lebih keruh, konsistensi kental, dan pH yang lebih tinggi dibanding sapi aceh yang fertil.
Optimasi Konsentrasi Fruktooligosakarida untuk Meningkatkan Pertumbuhan Bakteri Asam Laktat Starter Yoghurt (CONCENTRATION OPTIMIZATION OF FRUCTOOLIGOSACCHARIDES TO INCREASE GROWTH OF LACTIC ACID BACTERIA YOGHURT STARTER) Raden Haryo Bimo Setiarto; Nunuk Widhyastuti; Nimas Ayu Rikmawati
Jurnal Veteriner Vol 18 No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.816 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.3.428

Abstract

Fructooligosaccharides are prebiotic source that widely used in food products, such as: fermented milk and infant formula. Prebiotics are food components that cannot be digested in the digestive tract enzymatically. However, they can be fermented by probiotic bacteria in the colon. This study aimed to determine the optimum concentrations of fructooligosaccharides in order to increase the growth of lactic acid bacteria yogurt starter (Lactobacillus acidophillus, Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus). Optimation concentration of fructooligosaccharides on the growth of Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus can be determined based on OD (optical density), TPC (Total Plate Count), total lactic acid content and pH value. Suplementation of fructooligosaccharides 1 % (w/v) on the media MRSB increased significantly the growth of L. acidophilus, L.bulgaricus, S. thermophilus. Furthermore, L. acidophilus, L. bulgaricus and S. thermophilus experienced exponential growth phase during incubation period from 6 to 18 hours. Fermentation of L. acidophilus, L. bulgaricus, S. thermophilus in MRSB medium supplemented by fructooligosaccharides decreased the pH value of the formation of organic acids from 6.00 to 4.00. ABSTRAK Fruktooligosakarida adalah sumber prebiotik yang banyak digunakan dalam produk pangan olahan seperti susu fermentasi dan susu formula. Prebiotik adalah komponen bahan pangan fungsional yang tidak dapat dicerna di dalam saluran pencernaan secara enzimatik sehingga akan difermentasi oleh bakteri probiotik dalam usus besar. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi optimum fruktooligosakarida untuk meningkatkan pertumbuhan bakteri asam laktat starter yoghurt (Lactobacillus acidophillus, Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus). Konsentrasi optimum fruktooligosakarida pada pertumbuhan Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus dapat ditentukan berdasarkan OD (optical density), TPC (Total Plate Count), total asam laktat tertitrasi dan nilai pH. Penambahan fruktooligosakarida 1% (b/v) pada media MRSB (Man, Rogosa Sharpe Broth) dapat meningkatkan secara signifikan pertumbuhan L. acidophilus, L. bulgaricus, S. thermophilus. Bakteri asam laktat L. acidophilus, L. bulgaricus dan S. thermophilus mengalami fase pertumbuhan eksponensial selama masa inkubasi 6-18 jam. Fermentasi L. acidophilus, L. bulgaricus, S. thermophilus pada MRSB dengan penambahan fruktooligosakarida dapat menurunkan nilai pH dari kisaran 6,00 hingga 4,00 karena pembentukan asam-asam organik.

Page 2 of 3 | Total Record : 21


Filter by Year

2017 2017