cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 26, No 1 (2024)" : 10 Documents clear
Obesitas dan Risiko Penyakit Ginjal pada Anak Fahlevi, Reza; Ulfa, Maryam; Hafifah, Cut Nurul; Pardede, Sudung Oloan; Trihono, Partini Pudjiastuti
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.63-8

Abstract

Obesitas pada anak makin meningkat dan menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan di dunia. Umumnya anak dengan obesitas cenderung akan mengalami obesitas pula pada saat remaja dan dewasa yang menyebabkan peningkatan risiko mortalitas dan morbiditas. Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), anak berusia di bawah 5 tahun yang mengalami overweight atau obesitas sebanyak 39 juta anak. Obesitas merupakan suatu kondisi patologis penumpukan energi dalam bentuk lemak. Bersamaan dengan itu, tubuh mengalami berbagai perubahan yang menyebabkan gangguan fungsi organ. Hal tersebut terjadi karena perubahan sistemik pada hemodinamik, metabolik, dan lipotoksisitas. Kondisi ini menyebabkan tubuh anak yang obes mengalami peningkatan kadar stres oksidatif dan faktor inflamasi disertai penurunan kadar antioksidan, yang kemudian berdampak terhadap terjadinya resistensi insulin, disfungsi endotel, serta kerusakan struktur jaringan, dan fungsi organ, salah satunya ginjal. Penyakit ginjal yang banyak ditemukan terkait dengan obesitas pada anak, di antaranya adalah: hipertensi, glomerulopati, tubulopati, batu ginjal, infeksi saluran kemih, keganasan, hingga penyakit ginjal stadium akhir, atau gagal ginjal. Tulisan ini membahas obesitas pada anak dan risiko penyakit ginjal yang dapat terjadi. Dengan demikian diharapkan tenaga kesehatan dan pemangku kebijakan dapat menerapkan upaya pencegahan obesitas sedini mungkin, sebelum menimbulkan komplikasi yang mengenai berbagai organ tubuh, termasuk ginjal.
Hubungan Penyakit yang Mendasari dengan Status Antropometri pada Pasien Poli Anak Rumah Sakit Umum Daerah Saiful Anwar Malang Alifia, Rania Sofie; Puryatni, Anik; Melinda, Melinda; Tjahjono, Harjoedi Adji
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.1-8

Abstract

Latar belakang. Status antropometri merupakan parameter nutrisi anak yang dinilai berdasarkan indeks antropometri sesuai dengan Permenkes Nomor 2 Tahun 2020. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa status antropometri berkaitan dengan penyakit infeksi dan non-infeksi melalui beberapa mekanisme.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penyakit yang mendasari, baik infeksi maupun non-infeksi, dengan status antropometri.Metode. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional dan rancangan kohort. Sampel diambil dari data registrasi pasien di poli anak Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar Malang selama periode Agustus 2022 hingga Oktober 2022. Kriteria inklusi adalah pasien yang berusia 0-18 tahun, menderita penyakit infeksi atau non-infeksi, dan memiliki catatan medis lengkap. Pasien dengan catatan medis yang tidak lengkap atau menderita penyakit infeksi dan non-infeksi sekaligus dikeluarkan dari penelitian.Hasil. Dari 532 anak yang menjadi sampel, sebagian besar berusia 5-18 tahun (56,77%) dan menderita penyakit non-infeksi (82,89%). Sebagian besar anak dengan penyakit infeksi memiliki berat badan normal (61,9%), tinggi normal (54,8%), dan status gizi baik (76,2%) pada usia 0-60 bulan, serta status gizi baik (67,3%) pada usia 5-18 tahun. Anak dengan penyakit non-infeksi juga sebagian besar memiliki berat badan normal (63,3%), tinggi normal (54,8%), dan status gizi baik (66%) pada usia 0-60 bulan, serta status gizi baik (61,7%) pada usia 5-18 tahun. Metode analisis menggunakan uji likelihood menunjukkan bahwa nilai p pada semua variabel lebih dari 0,05.Kesimpulan. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara penyakit yang mendasari, baik infeksi maupun non-infeksi, dengan status antropometri pada anak.
Penggunaan Protokol Penyapihan Sedasi dalam Mencegah Sindrom Putus Obat pada Anak yang Sakit Kritis Kadaristiana, Agustina; Djer, Muljadi M; Prawira, Yogi
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.54-62

Abstract

Latar belakang. Sedasi merupakan obat esensial pada perawatan anak sakit kritis, tetapi penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan sindrom putus obat. Sampai saat ini belum ada pedoman penyapihan sedasi di unit intensif anak. Tujuan. Mengetahui peran protokol penyapihan sedasi dalam menurunkan kejadian sindrom putus obat. Metode. Penelusuran literatur dilakukan melalui PubMed, Cochrane Library, dan Embase untuk mencari artikel yang relevan. Hasil. Tiga studi memenuhi kriteria eligibilitas, yaitu dua uji klinis terandomisasi dan satu kohort prospektif. Masing-masing memiliki protokol penyapihan sedasi yang berbeda. Meskipun tingkat keabsahannya lemah, penggunaan protokol penyapihan sedasi menggunakan titrasi dan konversi obat bermanfaat dalam menurunkan sindrom putus obat, mempersingkat durasi penyapihan sedasi, dan lama rawat.Kesimpulan. Protokol penyapihan sedasi yang mudah digunakan dengan obat-obatan yang ada di Indonesia perlu dikembangkan.
Pendidikan, Pekerjaan, dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Perkembangan Motorik Kasar dan Personal Sosial Anak Autis Faroch, Indah Ainun; Ramaningrum, Galuh; Marfu’ati, Nanik
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.16-22

Abstract

Latar belakang. Gangguan perkembangan interaksi sosial dan motorik pada anak dengan autisme akan mengganggu pada aktivitas sehari-hari, hubungan interpersonal, dan kehidupan di masa dewasa. Terdapat aspek yang memengaruhi perkembangan anak yang dibagi menjadi dua faktor, yaitu genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan meliputi pola asuh dan karakteristik keluarga.Tujuan. Mengetahui hubungan pendidikan, pekerjaan, pola asuh orang tua terhadap perkembangan motorik kasar dan personal sosial anak dengan autis.Metode. Penelitian dengan metode potong lintang pada anak diagnosa autisme yang tergabung di Terapi Taman Bintang dan Sekolah Inklusi Kristha Pertiwi beserta ibu periode Maret-April 2023 dengan total sampling. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan multivariat dengan regresi logistic.Hasil. Berdasarkan analisis bivariat pendidikan (p=0,355) dan pekerjaan (p=0,399) orang tua tidak berhubungan terhadap perkembangan motorik kasar. Pendidikan (p=0,336) dan pekerjaan (p=0,247) orang tua juga tidak berhubungan terhadap perkembangan personal sosial. Pola asuh orang tua berhubungan terhadap motorik kasar (p=0,042) dan personal sosial (p=0,017) anak autisme. Hasil analisis multivariat pola asuh merupakan faktor yang paling signifikan terhadap mototik kasar anak autisme (p=0,026; OR;16,371 IK95% 1,51-177,24).Kesimpulan. Pola pengasuhan orang tua berpengaruh signifikan terhadap motorik kasar dan personal sosial anak autisme. Sementara tidak terdapat hubungan antara pekerjaan dan pendidikan orang tua terhadap motorik kasar dan personal sosial anak autis.
Hubungan Respiratory Distress Syndrom dengan kejadian Acute Kidney Injury pada Neonatus di Neonatal Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh Arsa, Iwan Sabardi; Haris, Syafruddin; Darnifayanti, Darnifayanti; Yusuf, Sulaiman; Herdata, Heru Noviat; Akbar, Zaki
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.36-42

Abstract

Latar belakang. Respiratory Distress Syndrome merupakan penyebab gangguan pernapasan, sering terjadi pada bayi baru lahir dan juga menjadi penyebab paling umum terjadinya morbiditas dan mortalitas pada neonatus. Salah satu komplikasi yang sering terjadi adalah Acute Kidney Injury.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Respiratory Distress Syndrome dengan kejadian Acute kidney injury pada neonatus di Rumah Sakit dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.Metode. Penelitian ini menggunakan pendekatan analitik obervasional dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan dari pasien yang dirawat dalam periode Januari 2021-Desember 2021. Sampel penelitian adalah populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel penelitian adalah total populasi. Penelitian bersifat retrospektif dengan variabel dependen dan independen yang diamati secara sekaligus.Hasil. Selama penelitian berlangsung didapatkan 50 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian, jumlah neonatus berjenis kelamin laki-laki (50%) sebanding dengan perempuan (50%). Usia neonatus terbanyak pada kelompok 3 hari yakni 36 subjek (72%). Mayoritas jenis persalinan dijumpai pada kelompok sectio caesarea yakni 45 subjek (90%). Kelompok usia gestasi 34-36 minggu (preterm) terbanyak yakni 32 subjek (64%). Subjek kelompok Berat badan lahir 1000-<1500 gram (Bayi Berat Lahir Sangat Rendah) dijumpai terbanyak yakni 43 subjek (86%). Nilai Skor Downes >7 berhubungan dengan kejadian Acute Kidney Injury. Mayoritas subjek penelitian dengan Respiratory Distress Syndrom tidak dijumpai Acute Kidney Injury, sebanyak 39 subjek (78%) dengan hasil normal.Kesimpulan. Pada penelitian ini didapatkan terdapat hubungan antara Respiratory Distress Syndrom dengan kejadian Acute Kidney Injury (p<0,05), Koefisien korelasi 0,668 menunjukkan hubungan yang kuat.
Hubungan Perawakan Pendek dengan Obesitas pada Remaja Akhir di Kecamatan Jatinangor Nuraisyah, Salwa Mazaya; Hafsah, Tisnasari; Luftimas, Dimas Erlangga; Andriana, Novina; Dewi, Mia Milanti; Sujatmiko, Budi
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.48-53

Abstract

Latar belakang. Obesitas merupakan masalah yang harus menjadi perhatian pada remaja akhir. Obesitas memiliki berbagai dampak terhadap aspek kesehatan, psikologis dan sosial. Salah satu faktor risiko obesitas adalah perawakan pendek, tetapi hingga saat ini hubungannya masih belum diketahui secara jelas khususnya pada kelompok remaja akhir.Tujuan. Mengetahui hubungan perawakan pendek dengan obesitas pada remaja akhir di Kecamatan Jatinangor.Metode. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang secara luring dari bulan Agustus - September 2022 di 4 sekolah tingkat Sekolah Menengah Atas dan sederajat di Kecamatan Jatinangor. Variabel independen adalah tinggi badan, karakteristik subjek, pola makan dan aktivitas fisik. Variabel dependen adalah obesitas, yang ditetapkan berdasarkan nilai Z-score Indeks Massa Tubuh menurut Umur >2 deviasi standar. Analisis dilakukan dengan uji chi-square, fisher exact dan korelasi spearman. Nilai p dianggap bermakna apabila p<0,05.Hasil. Penelitian melibatkan 208 subjek, 27(13%) subjek memiliki perawakan pendek dan 21(10,1%) subjek mengalami obesitas. Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan antara perawakan pendek dan obesitas (p=0,323), tetapi terdapat korelasi positif tinggi badan dengan IMT (p=0,021, r=0,159). Variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan obesitas pada remaja akhir adalah aktivitas fisik (p=0,017).Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan pada remaja akhir perawakan pendek tidak berhubungan dengan obesitas. Faktor yang memengaruhi obesitas pada remaja akhir adalah aktivitas fisik.
Pengaruh Perawatan Paliatif Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup Pasien Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Sianotik Pratomo, Satrio; Artiko, Bagus; Hidayah, Dwi
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.23-9

Abstract

Latar belakang. Penyakit jantung bawaan sianotik merupakan kelainan jantung yang didapatkan sejak lahir dengan gejala yang bervariasi dari ringan hingga berat. Anak dengan penyakit jantung bawaan membutuhkan perawatan paliatif selain penanganan medis dari tenaga medis profesional. Perawatan Paliatif tersebut memerlukan pengembangan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup anak dengan penyakit jantung bawaan sianotik. Tujuan. Mengetahui pengaruh perawatan paliatif terhadap peningkatan kualitas hidup pada pasien anak dengan penyakit jantung bawaan sianotik. Metode. Pasien anak dengan penyakit jantung bawaan sianotik usia dua hingga kurang dari 18 tahun yang berobat di bagian kardiologi anak Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi. Desain penelitian adalah uji acak terkontrol. Subjek penelitian dibagi menjadi dua grup dengan cara matching dan didapatkan grup kontrol dan intervensi yang masing-masing mendapat perawatan paliatif selama tiga bulan. Penilaian kualitas hidup subjek sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan kuosioner PedsQL kardiologi.Hasil. Sejumlah 40 subjek dibagi menjadi kelompok intervensi (20) dan kelompok kontrol (20). Sebanyak 11 pasien dalam kelompok usia 2-4 tahun di grup intervensi memiliki penurunan nilai PedsQL dari rerata 73,9 menjadi 63,2 yang menunjukkan adanya peningkatan kualitas hidup dengan hasil uji statistik pair t test p<0,001 (P<0,05). Pada kelompok usia 5-7 tahun di grup intervensi, terdapat 6 pasien dengan penurunan nilai PedsQL dari rerata 77,5 menjadi 63,4 dengan hasil uji statistik p<0,001 (P<0,05). Sebanyak 3 pasien pada kelompok usia 8 hingga kurang dari 18 tahun di grup intervensi menunjukkan penurunan hasil nilai PedsQL dari rerata 82,8 menjadi 72,7 dengan hasil uji statistik p<0,001 (P<0,05). Hasil uji statistik tiap kelompok usia menunjukkan nilai yang bermakna dengan signifikansi p<0,001.Kesimpulan. Perawatan paliatif dapat meningkatkan kualitas hidup anak dengan penyakit jantung bawaan sianotik usia dua hingga kurang dari 18 tahun di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi, Surakarta.
Kejadian Respiratory Distress Syndrome pada Bayi Lahir Prematur di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Kadi, Fiva Aprilia; Paramita, Ajeng Anggia; Rakhmilla, Lulu Eva
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.9-15

Abstract

Latar belakang. Respiratory Distress Syndrome adalah masalah serius yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi pada bayi prematur. Beberapa faktor risiko, antara lain, jenis kelamin laki-laki, ibu dengan diabetes melitus, ketuban pecah dini, hipertensi, usia ibu <20 tahun, persalinan sesar, berat lahir <2500 gram, dan paritas.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kejadian Respiratory Distress Syndrome pada bayi prematur.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek dipilih secara consecutive sampling dari data rekam medis. Kriteria inklusi adalah bayi berusia kurang dari 37 minggu dan kriteria eksklusi bayi kembar, bayi dengan sepsis, serta data rekam medis yang tidak lengkap. Dari 872 data didapatkan sampel 361 bayi yang memenuhi kriteria. Analisis data menggunakan uji univariat, bivariat (Chi-square), dan multivariat (regresi logistik).Hasil. Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia ibu ?20 tahun, usia kehamilan <28 minggu, berat lahir <2500 gram, dan jenis kelamin laki-laki memiliki hubungan signifikan. Analisis multivariat menunjukkan dua faktor risiko signifikan: (1) Usia ibu <20 tahun memiliki pengaruh lebih besar dalam pencegahan dibandingkan dengan usia ibu ?20 tahun (p=0,000; OR IK95%: 0,089-0,402), dan (2) Berat lahir bayi <2500 gram meningkatkan risiko lebih dari tiga kali lipat untuk mengalami Respiratory Distress Syndrome dibandingkan dengan berat lahir ?2500 gram (p=0,024; OR IK95%: 1,162-8,872).Kesimpulan. Faktor risiko kejadian Respiratory Distress Syndrome pada bayi prematur sangat erat kaitannya dengan kondisi ibu dan bayi, seperti usia ibu, berat lahir, usia kehamilan, dan jenis kelamin. Dalam penelitian ini tidak ditunjukkan hubungan signifikan akibat faktor lain, seperti Diabetes Melitus, hipertensi, PROM, paritas, dan jenis persalinan.
Neutrofil Limfosit Rasio sebagai Prognosis Kelangsungan Hidup Anak dengan Osteosarkoma Ramadhan, Qeis; Riza, Muhammad; Kawuryan, Diah Lintang
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.43-7

Abstract

Latar belakang. Osteosarkoma merupakan suatu keganasan yang terjadi pada tulang panjang dan dapat menyebabkan kematian. Berbagai penanda inflamasi sistemik dan kondisi nutrisi sudah digunakan dalam menilai prognosis seorang pasien dengan osteosarkoma. Namun marker dan penilaian nutrisi tersebut membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang tidak rutin dilakukan pada anak dengan osteosarkoma dan memakan biaya. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan marker inflamasi dan penilaian status nutrisi dengan pengukuran lingkar lengan atas (LILA) yang rutin dikerjakan dan tidak memakan biaya tambahan.Tujuan. Menganalisa penggunaan neutrofil limfosit rasio (NLR) sebagai prognosis kelangsungan hidup anak dengan osteosarkoma dan menganalisa hubungan usia dan status gizi dalam mempengaruhi kelangsungan hidup anak dengan osteosarkomaMetode. Penelitian ini merupakan studi observational analitik dengan pendekatan analisis retrospektif pada 30 anak dengan osteosarkoma yang terdiagnosis pada periode Januari 2018 – Desember 2021 di rumah sakit dr. Moewardi Surakarta. Data diambil berdasarkan rekam medis dari rumah sakit dr. Moewardi dan data anak osteosarkoma dari divisi hemato – onkologi ilmu kesehatan anak rumah sakit dr. MoewardiHasil. Pada pasien dengan NLR ? 2 mempunyai kesintasan sebesar 14.9 bulan, sedangkan pada pasien dengan NLR < 2 mempunyai kesintasan sebesar 22 bulan. Tidak didapatkan adanya perbedaan yang bermakna pada usia dan LILA antara pasien yang hidup dan meninggal duniaKesimpulan. Didapatkan pasien dengan nilai NLR ? 2 mempunyai prognosis yang lebih buruk dibandingkan dengan nilai NLR < 2. Tidak didapatkan adanya pengaruh usia dan status gizi pada saat awal pasien terdiagnosis osteosarkoma terhadap prognosis pasien tersebut
Risiko Mortalitas akibat Bakteri Gram-negatif Penghasil Extended-spectrum beta-lactamase pada Anak dengan Leukemia Akut Armytasari, Inggar; Laksanawati, Ida Safitri; Supriyadi, Eddy
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.30-5

Abstract

Latar belakang. Infeksi menjadi penyebab utama kematian pada leukemia akut anak, dengan bakteremia sebagai bentuk infeksi yang serius. Organisme penyebab diduga berhubungan dengan kematian. Identifikasi organisme penyebab dengan risiko kematian tertinggi diharapkan dapat meningkatkan kelangsungan hidup anak-anak dengan leukemia akut.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi organisme penyebab bakteremia sebagai faktor prognostik pada leukemia akut anak dengan bakteremia.Metode. Penelitian ini adalah studi kohort retrospektif. Pasien anak dengan leukemia akut dengan kultur darah positif dari tahun 2021 hingga 2023 diikutsertakan. Karakteristik dasar pasien, hasil kultur darah, dan luaran mortalitas dianalisis dan disajikan sebagai risk ratio (RR) dengan interval kepercayaan 95% menggunakan analisis multivariat.Hasil. Sebanyak 110 pasien yang dianalisis. Bakteri Gram-negatif, khususnya Escherichia coli penghasil Extended-spectrum beta-lactamase (ESBL), menjadi penyebab mayoritas infeksi. Sebagian besar bakteri Gram-positif adalah Staphylococcus hominis yang multi-drug resistant. Faktor prognosis yang terbukti terkait dengan mortalitas adalah infeksi bakteri Gram-negatif penghasil Extended-spectrum beta-lactamase (RR 3,25; IK95% 1,94-59,1). Sementara, bakteri Gram-positif tidak terbukti sebagai faktor prognostik.Kesimpulan. Risiko kematian pada anak leukemia akut dengan bakteremia secara signifikan lebih tinggi pada infeksi bakteri Gram-negatif penghasil ESBL.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue