cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad
ISSN : 25284576     EISSN : 26157411     DOI : -
Core Subject :
Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Padjadjaran. Diterbitkan Atas Kerjasama Program Studi Agribisnis dan Departemen Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Unpad Dengan PERHEPI Komisariat Bandung Raya.
Arjuna Subject : -
Articles 259 Documents
PERAN KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI HUTAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS KOPI DI KABUPATEN GOWA (Studi Kasus di Kelompok Tani Parang Maha Kelurahan Bontolerung Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa) Pawarrang, Wiraputra; Ibrahim, Helda; Rahman, Syamsul
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 10, No 2 (2025): Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i2.66370

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kelembagaan kelompok tani hutan dalam pengembangan agribisnis kopi, dengan fokus pada Kelompok Tani Parang Maha di Desa Bontolerung, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang dipadukan dengan pengukuran Skala Likert. Responden ditentukan dengan teknik purposive sampling sebanyak 25 orang yang terdiri atas ketua dan anggota kelompok. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan kuesioner berbasis Skala Likert, kemudian dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif untuk menggambarkan sikap, persepsi, dan pengalaman responden terkait peran kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi kelembagaan yang paling signifikan adalah dalam mendukung kesejahteraan anggota melalui kegiatan produktif, dengan skor indeks sebesar 97,60%. Dalam hal fungsi kelembagaan, skor tertinggi (93,60%) adalah dalam menjalin kolaborasi dengan lembaga pemerintah, LSM, dan swasta. Mengenai inovasi kelembagaan, peran kelompok dalam mendorong adopsi teknologi dalam produksi dan pengolahan mendapat skor 92,80%. Secara keseluruhan, peran kelembagaan Kelompok Tani Parang Maha dalam mengembangkan agribisnis kopi termasuk dalam kategori sangat tinggi. Temuan ini menyoroti peran strategis kelembagaan kelompok tani dalam memperkuat kapasitas bisnis, meningkatkan kesejahteraan anggota, dan mendukung keberlanjutan jangka panjang agribisnis kopi berbasis masyarakat lokal.Kata Kunci : Peran Kelembagan, Kelompok Tani Hutan, Agribisnis Kopi.AbstractThis study aims to analyze the institutional role of forest farmer groups in coffee agribusiness development, focusing on the Parang Maha Farmer Group in Bontolerung Village, Tinggimoncong District, Gowa Regency, South Sulawesi Province. The research method used is descriptive with a qualitative approach combined with Likert Scale measurements. Respondents were determined using a purposive sampling technique of 25 people consisting of group leaders and members. Data were collected through interviews, observations, and Likert Scale-based questionnaires, then analyzed using qualitative descriptive methods to describe respondents' attitudes, perceptions, and experiences regarding institutional roles. The results show that the most significant institutional contribution is in supporting member welfare through productive activities, with an index score of 97.60%. In terms of institutional function, the highest score (93.60%) was in establishing collaboration with government agencies, NGOs, and the private sector. Regarding institutional innovation, the group's role in encouraging technology adoption in production and processing received a score of 92.80%. Overall, the institutional role of the Parang Maha Farmer Group in developing coffee agribusiness is categorized as very high. These findings demonstrate the strategic role of farmer group institutions in strengthening business capacity, improving member welfare, and supporting the long-term sustainability of local community-based coffee agribusiness.Keywords: Institutional Role, Forest Farmer Groups, Coffee Agribusiness.
INOVASI PRODUK OLAHAN SUKUN SEBAGAI PANGAN UNGGULAN LOKAL (STUDI KASUS UMKM BUMDES TEMMAPPETUE TEAMALALA KABUPATEN BONE) ramadhan, ramadhan; Rahman, Syamsul; Ibrahim, Helda
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 10, No 2 (2025): Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i2.67044

Abstract

Abstrak Kabupaten Bone dikenal sebagai salah satu penghasil utama sukun (Artocarpus altilis) di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.   Upaya peningkatan nilai tambah sukun dilakukan melalui usaha kecil menengah (UKM) yang bergerak dibidang pengolahan. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Temmappettue di Kecamatan Ulaweng merupakan salah satu inisiatif lokal yang berfokus pada pengolahan sukun menjadi produk turunan seperti keripik dan tepung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inovasi produk pada usaha pengolahan sukun berbasis UMKM dengan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal serta merumuskan strategi prioritas yang tepat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, serta studi literatur. Data dianalisis menggunakan pendekatan SWOT yang dilanjutkan dengan konstruksi matriks IFAS dan EFAS untuk memperoleh posisi strategi perusahaan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kekuatan utama terletak pada keunikan produk yang khas dan kepemilikan sertifikasi produk berupa, PIRT, Halal, dan HAKI, sementara kelemahan pada inovasi yang belum rutin dan terstruktur dan kapasitas produksi yang masih terbatas. Peluang yang dapat dimanfaatkan adalah permintaan pasar yang tinggi dan dukungan kebijakan pemerintah untuk pengembangan inovasi pangan lokal, sedangkan ketersediaan dan harga bahan baku yang fluktuatif menjadi ancaman meskipun tidak begitu signifikan. Pemetaan SWOT menempatkan UMKM sukun pada Kuadran I (strategi agresif), sehingga strategi pengembangan yang disarankan adalah pengembangan inovasi melalui  diversifikasi produk, otomatisasi produksi, optimalisasi digital marketing, serta penguatan branding dengan memanfaatkan sertifikasi legalitas. Studi ini menyimpulkan bahwa produk olahan sukun dari  UKM di bawah BUMDes Temmappettue Teamalala Kabupaten Bone berpotensi besar untuk ditingkatkan daya saingnya melalui adaptasi teknologi untuk  meningkatkan kapasitas produksi,  dan membuka akses pasar yang lebih luas, serta berkontribusi terhadap ketahanan pangan lokal dan kesejahteraan masyarakat desa.Kata kunci: Inovasi Produk, Pengolahan Sukun, BUMDes Temmappettue.Abstract Bone Regency is recognized as one of the main producers of breadfruit (Artocarpus altilis) in Indonesia, particularly in South Sulawesi. Efforts to increase the added value of breadfruit have been carried out through small and medium enterprises (SMEs) engaged in processing activities. Temmappettue Village-Owned Enterprise (BUMDes) in Ulaweng District represents a local initiative focusing on breadfruit processing into derivative products such as chips and flour. This study aims to analyze product innovation in breadfruit-based SMEs by identifying internal and external factors and formulating appropriate priority strategies. The research employed a descriptive qualitative method with data collected through in-depth interviews, observation, documentation, and literature review. Data were analyzed using the SWOT approach, followed by the construction of IFAS and EFAS matrices to determine the company’s strategic position. The findings indicate that the main strengths lie in the uniqueness of the products and the possession of product certifications such as PIRT, Halal, and Intellectual Property Rights (IPR), while weaknesses include unstructured and irregular innovation activities and limited production capacity. Opportunities to be leveraged consist of high market demand and supportive government policies for local food innovation, whereas fluctuating availability and prices of raw materials pose a relatively minor threat. The SWOT mapping positions the breadfruit SME in Quadrant I (aggressive strategy), suggesting that the recommended development strategies include product diversification, production automation, optimization of digital marketing, and brand strengthening through legal certifications. This study concludes that breadfruit-based products managed by the Temmappettue Teamalala BUMDes in Bone Regency have considerable potential to enhance competitiveness through technological adaptation to increase production capacity, expand market access, and contribute to local food security and rural community welfare.Keywords: Product Innovation, Breadfruit Processing, Temmappettue BUMDes.
ADAPTASI PETANI PADI TERHADAP DAMPAK EL NINO DI DESA BONTO PADANG KECAMATAN KAHU KABUPATEN BONE Dea, Sri Mulia; Syafruddin, Syafruddin; Hasbi, Andi Rizkiyah
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 10, No 2 (2025): Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i2.64012

Abstract

Abstrak Fenomena El Nino merupakan gangguan iklim yang terjadi akibat interaksi atmosfer dan lautan di Samudra Pasifik, yang berdampak pada kestabilan iklim di wilayah Indonesia. Dampak ini sangat berpengaruh terhadap usahatani padi, yang berpotensi menurunkan produktivitas dan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh El Nino terhadap usahatani padi serta faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan adaptasi petani. Metode yang digunakan berupa survei dengan pendekatan kuantitatif deskriptif, dan analisis data melalui Structural Equation Modeling (SEM) menggunakan SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan adaptasi petani dipengaruhi oleh faktor internal, seperti usia, pendidikan, pengalaman, tanggungan keluarga, dan luas lahan; serta faktor eksternal, yaitu peran penyuluh sebagai motivator, fasilitator, inovator, dan komunikator. Namun, peran kelompok tani memberikan pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap adaptasi petani dalam menghadapi dampak El Nino. Ketiga faktor tersebut berkontribusi dalam adaptasi petani padi terhadap dampak El Nino di Desa Bonto Padang Kecamatan Kahu.Kata kunci: Petani Padi, Adaptasi Dampak El Nino, Peran Penyuluh Pertanian, Bonto Padang.Abstract The El Nino phenomenon is a climate disturbance caused by interactions between the atmosphere and oceans in the Pacific Ocean, which affects climate stability in Indonesia. This has a significant impact on rice farming, potentially reducing productivity and farmers' incomes. This study aims to examine the impact of El Nino on rice farming and the factors that influence farmers' ability to adapt. The method used is a survey with a descriptive quantitative approach, and data analysis through Structural Equation Modeling (SEM) using SmartPLS. The results of the study indicate that farmers' adaptive capacity is influenced by internal factors, such as age, education, experience, family responsibilities, and land area; as well as external factors, namely the role of extension workers as motivators, facilitators, innovators, and communicators. However, the role of farmer groups has a positive but insignificant influence on farmers' adaptation to the impacts of El Nino. These three factors contribute to rice farmers' adaptation to the impacts of El Nino in Bonto Padang Village, Kahu District.Keywords: Rice Farmers Adapt to the Impact of El Nino, the Role of Agricultural Extension Workers, Bonto Padang.
PENINGKATAN KESADARAN UNTUK MENGKONSUMSI SAYURAN SUBOPTIMAL DALAM UPAYA MENEKAN JUMLAH SAMPAH PANGAN Sadeli, Agriani Hermita; Febriyantie, Vania
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 10, No 2 (2025): Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i2.68846

Abstract

Abstrak Indonesia termasuk negara penghasil sampah pangan terbesar di dunia. Sampah sayuran memiliki proporsi besar dalam menyumbang sampah pangan. Hal ini salah satunya disebabkan oleh hasil pertanian yang tidak memenuhi standar kosmetik untuk diterima pasar baik dalam bentuk, ukuran dan warna sehingga sayuran ini tidak terserap pasar. Pada umumnya, konsumen memiliki kecenderungan untuk membeli sayuran optimal. Seni Tani adalah community supported agriculture yang melakukan praktek pertanian regeneratif yang menghasilkan sayuran alami. Sayuran yang dihasilkan berupa sayuran optimal, namun terdapat juga sayuran suboptimal. Oleh karena itu perlu untuk meningkatkan kesadaran konsumen untuk membeli sayuran suboptimal melalui kampanye secara online dan offline.  Tujuan studi ini adalah melakukan kampanye dan bagaimana dampak dari kampanye tersebut, serta untuk mengetahui bagaimana preferensi individu terhadap program pemasaran. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Survey dilakukan terhadap 35 responden. Kampanye yang dilakukan meningkatkan kesadaran konsumen untuk berminat mengkonsumsi sayuran suboptimal. Program pemasaran yang dapat diterapkan adalah label produk yang tepat yaitu sayuran unik. Harga yang ditetapkan adalah sama dengan harga sayuran optimal. Tempat penjualan dilakukan secara online melalui media sosial. Promosi dilakukan melalui Instagram dan Tiktok dengan menekankan kepada sayuran yang dihasilkan petani lokal dan sifat natural dari sayuran. Kampanye ini perlu terus dilakukan untuk meraih kesadaran masyarakat.Kata kunci: Sayuran Suboptimal, Kehilangan Pangan, Komunitas Berbasis Pertanian, Kesadaran Konsumen.Abstract Indonesia is one of the world's largest producers of food waste. Vegetable waste accounts for a large proportion of food waste. This is partly due to agricultural products that do not meet cosmetic standards for market acceptance in terms of shape, size, and color, resulting in these vegetables not being absorbed by the market. In general, consumers tend to buy optimal vegetables. Seni Tani is a community-supported agriculture that practices regenerative agriculture to produce natural vegetables. The vegetables produced are optimal vegetables, but there are also suboptimal vegetables. Therefore, it is necessary to raise consumer awareness to buy suboptimal vegetables through online and offline campaigns.  The purpose of this study is to conduct a campaign and assess its impact, as well as to determine individual preferences for marketing programs. The study used a quantitative descriptive design. A survey was conducted on 35 respondents. The campaign increased consumer awareness and interest in consuming suboptimal vegetables. The marketing program that can be implemented is the provision of appropriate product labels, namely, unique vegetables. The price set is the same as the price of optimal vegetables. Sales are conducted online through social media. Promotion is carried out through Instagram and TikTok, emphasizing the vegetables produced by local farmers and the natural properties of the vegetables. This campaign needs to be continued to raise public awareness.Keywords: Suboptimal Vegetables, Food Loss and Waste, Community Supported Agriculture, Ugly Vegetables, Consumer Awareness.
ANALISIS POLA KEMITRAAN PERTANIAN SAYURAN HIDROPONIK DI CV TERAS BUDIDAYA INOVASI KOTA BEKASI Fatihah, Amelia Nur; bakar, Abu; Budiandrian, Bayu
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 10, No 2 (2025): Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i2.65246

Abstract

AbstrakUsahatani hidroponik merupakan inovasi pertanian modern yang efisien dan relevan diterapkan di wilayah perkotaan seperti Bekasi. Namun, tantangan seperti fluktuasi harga, biaya produksi tinggi, dan keterbatasan teknis petani menghambat keberlanjutan usaha. Tujuan dari penelitian ni adalah untuk menganalisis pola kemitraan antara CV Teras Budidaya Inovasi dan petani mitra serta mengevaluasi pendapatan petani dalam kemitraan tersebut. Menggunakan pendekatan mix methods, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi dari mitra dan sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kemitraan yang diterapkan termasuk dalam skema Kerja Sama Operasional Agribisnis (KOA), di mana perusahaan menyediakan input, pendampingan teknis, dan akses pasar, sedangkan petani melaksanakan proses budidaya. Pola ini didasarkan pada prinsip saling percaya dan pembagian peran yang adil. Analisis pendapatan menunjukkan seluruh petani mitra memperoleh keuntungan bersih, seperti Maura Farm yang meraih Rp12.040.612 per satu bulan produksi. Implikasi praktis dari temuan ini menunjukkan bahwa model kemitraan KOA dapat meningkatkan efisiensi dan pendapatan petani. Secara teoritis, hasil ini memperkuat konsep agribisnis inklusif, di mana kolaborasi antara petani dan perusahaan menjadi faktor penting dalam mendukung keberlanjutan usaha pertanian perkotaan.Kata kunci: Usahatani Hidroponik, Kemitraan Agribisnis, Pendapatan Petani, Pola KOA. Abstract Hydroponic vegetable farming is a modern and efficient agricultural innovation, well-suited for urban areas such as Bekasi City. However, challenges such as price fluctuations, high production costs, and limited technical capacity among farmers hinder the sustainability of this business. This study aims to analyze the partnership model between CV Teras Budidaya Inovasi and its partner farmers, as well as assess farmers' income levels within the partnership. A mixed-methods approach was employed, combining primary data collected through observation and interviews with secondary data from company documentation, official statistics, and supporting literature. The informants included four partner farmers and one company representative, selected purposively. The findings indicate that the implemented partnership follows the Agribusiness Operational Cooperation (KOA) model, where the company provides production inputs, technical guidance, and marketing support, while farmers focus on cultivation. This model is built on mutual trust and a fair division of roles. Income analysis shows that all partner farmers gained net profits, such as Maura Farm, which earned IDR 12,040,612 in one production cycle. The practical contribution of this study highlights that the KOA model enhances farming efficiency and income. Theoretically, it reinforces the concept of inclusive agribusiness, where collaboration is key to sustaining urban farming initiatives.Keywords: Hydroponic Farming, Agribusiness Partnership, Farmer Income, KOA Model.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI KOPI DI KABUPATEN ENREKANG Amalia, Eka Resky; Rahim, Abd; Kamaruddin, Citra Ayni; Dwi Hastuti, Diah Retno
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 10, No 2 (2025): Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i2.64790

Abstract

AbstrakAdanya perubahan produksi dan pendapatan usaha tani kopi mengakibatkan terjadinya perubahan pendapatan rumha tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan rumah tangga petani kopi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 15 Juli sampai dengan 25 Agustus 2024 di Desa Potok Ullin, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang dengan jumlah sampel sebanyak 83 rumah tangga petani kopi. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis linier berganda, asumsi klasik, uji statistik (hipotesis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur kepala rumah tangga, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan dan pengalaman bertani merupakan variabel yang berpengaruh positif terhadap pendapatan rumah tangga petani kopi. Jumlah tenaga kerja merupakan variabel yang berpengaruh negatif terhadap pendapatan rumah tangga petani kopi. Diharapkan kepada pemerintah agar beperan aktif dalam memberikan penyuluhan mengenai budidaya tanaman kopi, teknik perawatan tamanan kopi serta teknologi pertanian yang relevan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian petani.Kata kunci: Pendapatan Rumah Tangga, Petani Kopi, Kopi.AbstractChanges in coffee farming production and income have resulted in changes in household income. This study aims to analyze the factors influencing the income of coffee farming households. The data used in this study are primary and secondary. This research was conducted from July 15 to August 25, 2024, in Potok Ullin Village, Buntu Batu District, Enrekang Regency, with a sample of 83 coffee farming households. Data collection methods used were observation and interviews. The research method employed was descriptive analysis with a quantitative approach. Data analysis techniques used were multiple linear regression analysis, classical assumptions, and statistical tests (hypothesis). The results indicate that the age of the household head, education level, number of dependents, and farming experience are variables that positively influence coffee farming household income. The number of workers is a variable that negatively influences coffee farming household income. The government is expected to play an active role in providing extension services on coffee cultivation, coffee plant care techniques, and relevant agricultural technology to improve the productivity and quality of farmers’ agricultural products. Keywords: Household Income, Coffee Farmers, Coffee.
ANALISIS PENDAPATAN DAN PEMASARAN USAHATANI BERAS MERAH DI KECAMATAN TEGALWARU KABUPATEN KARAWANG Dewi, Selvy Prasinta; Abubakar, Abubakar; Wicaksana, Indrajit
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 10, No 2 (2025): Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i2.66671

Abstract

AbstrakKecamatan Tegalwaru merupakan daerah yang masuk bagian administratif Kabupaten Karawang yang memiliki potensi dalam usahatani beras merah, meskipun menghadapi tantangan dalam aspek pemasaran dan permintaan pasar. Riset ini dilakukan untuk menganalisis pendapatan dan saluran pemasaran beras merah, serta mengukur efisiensi pemasaran. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif dengan pengambilan sampel jenuh sebanyak 27 orang petani dan 6 orang pelaku pemasaran. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, serta kuisioner. Penelitian ini menemukan bahwa rata-rata biaya total sebesar Rp 3.260.546/musim tanam, menghasilkan rata-rata penerimaan sebesar Rp 16.609.259/musim tanam, sehingga diperoleh pendapatan sejumlah Rp 13.348.713/musim tanam. Nilai yang diperoleh dari perhitungan R/C Ratio sebesar 4,72. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani pada penelitian ini layak untuk dikembangkan karena memberikan keuntungan. Pada pemasaran, ditemukan tiga jalur pemasaran, yaitu: saluran I: petani → pedagang pengumpul → pedagang besar → konsumen (FS: 41,66%), saluran II: petani → pedagang pengumpul → pedagang pengecer → konsumen (FS: 70,58%), saluran III: petani → konsumen (FS: 100%). Saluran II merupakan saluran paling efisien karena FS yang tinggi dan biaya pemasaran yang rendah. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa usahatani beras merah di Kecamatan Tegalwaru dapat menjadi pilihan usaha tani yang menguntungkan apabila didukung dengan strategi pemasaran yang tepat dan berkelanjutan.Kata kunci: Pendapatan, Usahatani Beras Merah, Pemasaran, Farmer Share, R/C Ratio.AbstractTegalwaru Subdistrict, located within Karawang Regency, has significant potential for red rice farming, although it faces challenges related to marketing and market demand. This study aims to analyze the income and marketing channels of red rice and to assess marketing efficiency. A descriptive quantitative approach was employed, using saturated sampling involving 27 farmers and 6 marketing actors. Data were collected through observation, interviews, and questionnaires. The results indicate that the average total cost per planting season was IDR 3,260,546, generating an average revenue of IDR 16,609,259, resulting in an average income of IDR 13,348,713 per season. The R/C Ratio was calculated at 4.72, demonstrating that red rice farming is profitable and feasible for development. Three marketing channels were identified: Channel I (farmer → collector → wholesaler → consumer) with a farmer share of 41.66%, Channel II (farmer → collector → retailer → consumer) with 70.58%, and Channel III (farmer → consumer) with 100%. Channel II was the most efficient due to its high farmer share and relatively low marketing costs. The findings suggest that red rice farming in Tegalwaru Subdistrict can be a viable and profitable agricultural enterprise if supported by appropriate and sustainable marketing strategies.Keywords: Income, Red Rice Farming, Marketing, Farmer Share, R/C Ratio.
ANALISIS PERBANDINGAN PENDAPATAN USAHA PEDAGANG BUAH-BUAHAN LOS DAN PELATARAN DI PASAR BADUNG KOTA DENPASAR Jacob, Timothy Elrico; Anggreni, I Gusti Ayu Agung Lies
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 10, No 2 (2025): Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i2.64218

Abstract

AbstrakPasar Badung yang merupakan pasar tradisonal terbesar di Kota Denpasar memiliki dua kelompok pedagang buah-buahan, yaitu pedagang los daa pelataran. Perbedaan lokasi berjualan diyakini mempengaruhi kendala yang dihadapi, skala usaha, struktur biaya, volume penjualan, dan akhirnya pendapatan pedagang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan pendapatan usaha antara pedagang buah-buahan los dan pelataran serta mengidentifikasi kendala yang mereka hadapi. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap 40 dengan teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling. Metode analisis yang digunakan mencakup analisis biaya, penerimaan, dan pendapatan usaha, serta uji independent sample t-test untuk mengetahui signifikansi perbedaan pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan pedagang buah-buahan los sebesar Rp 12.839.884 per bulan, sedangkan pedagang pelataran sebesar Rp 5.818.532 per bulan. Uji t menunjukkan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar < 0,001, yang berarti terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara kedua kelompok pedagang. Selain itu, masing-masing kelompok juga menghadapi kendala, seperti fluktuasi harga buah yang tidak stabil, persaingan ketat atar pedagang, modal usaha yang terbatas, dan menurunnya daya beli masyarakat. Kata kunci: Perbandingan, pendapatan, pedagang buah-buahan, Pasar Badung.AbstractBadung Market, the largest traditional market in Denpasar City, hosts two groups of fruit traders: those operating in permanent stalls and those selling in open spaces (courtyard). The difference in selling locations is believed to affect the challenges faced, business scale, cost structure, sales volume, and ultimately, traders' income. This study aims to analyze the income differences between stall and courtyard fruit traders and to identify the specific challenges they face. Data were collected through interviews with 40 respondents using proportional random sampling. The analytical methods used include cost, revenue, and income analysis, along with an independent sample t-test to determine the significance of income differences. The results show that the average monthly income of stall traders is Rp 12.839.884, while courtyard traders earn Rp 5.818.532. The t-test yielded a significance value (Sig. 2-tailed) of < 0.001, indicating a statistically significant difference between the two groups. In addition, both groups of traders faced several challenges, such as unstable fruit prices, intense competition among sellers, limited working capital, and a decline in consumer purchasing power. The study concludes that selling location significantly affects fruit traders’ income at Badung Market, with stall traders earning higher profits. Keywords: Comparison, income, fruit traders, Badung Market.
ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN DALAM MEMBELI SAYURAN HIDROPONIK DI PASAR MODERN GRAND WISATA KABUPATEN BEKASI Asha, Selma Indie; Azzahra, Fatimah; Wicaksana, Indrajit
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 10, No 2 (2025): Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i2.64032

Abstract

Abstrak Budidaya sayuran secara hidroponik merupakan solusi alternatif yang efektif dalam mengatasi keterbatasan lahan pertanian, khususnya di kawasan perkotaan. Pasar Modern Grand Wisata, sebagai satu-satunya pasar modern di Kabupaten Bekasi yang masih menyediakan sayuran hidroponik, namun menghadapi tantangan berupa rendahnya tingkat penjualan produk tersebut. Oleh karena itu, pemahaman terhadap preferensi konsumen menjadi hal yang penting dalam menentukan atribut sayuran hidroponik yang sesuai dengan keinginan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi konsumen serta mengidentifikasi atribut yang dipertimbangkan dalam keputusan pembelian sayuran hidroponik di Pasar Modern Grand Wisata. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan jumlah responden sebanyak 97 orang yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner, wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan data sekunder bersumber dari literatur ilmiah dan statistik terkait. Analisis data dilakukan dengan instrument uji validitas dan reliabilitas, analisis Chi Square, dan analisis Multiatribut Fishbein Hasil menunjukkan bahwa konsumen lebih menyukai sayuran hidroponik dengan harga Rp 5.000,00–Rp 7.500,00, kesegaran ≤ 3 hari, daun lebar tidak berlubang, rasa khas, kemasan plastik berventilasi, dan >4 jenis sayuran. Atribut fisik daun merupakan faktor yang paling dipertimbangkan konsumen adalah fisik daun, diikuti oleh kesegaran, rasa, kemasan, keberagaman jenis, dan harga.Kata kunci: Analisis chi square, analisis multiatribut fishbein, pasar modern, preferensi, sayuran hidroponik.Abstract Hydroponic vegetable cultivation is an effective alternative solution to address the limitation of agricultural land, particularly in urban areas. Pasar Modern Grand Wisata, as the only modern market in Bekasi Regency that still offers hydroponic vegetables, faces the challenge of low sales levels for these products. Therefore, understanding consumer preferences is essential in identifying the desired attributes of hydroponic vegetables that align with market demands. This study aims to analyze consumer preferences and identify the attributes considered in the purchasing decisions of hydroponic vegetables at Pasar Modern Grand Wisata. A descriptive quantitative method was employed, involving 97 respondents selected through accidental sampling. Primary data were collected through questionnaires, interviews, observations, and documentation, while secondary data were obtained from scientific literature and relevant statistics. Data analysis involved instrument tests for validity and reliability, Chi Square analysis, and Fishbein Multi-attribute analysis. The results show that consumers prefer hydroponic vegetables priced between IDR 5,000,00–7,500,00, with freshness of ≤ 3 days, broad and undamaged leaves, distinctive taste, ventilated plastic packaging, and more than four types of vegetables. The most considered attribute by consumers is leaf appearance, followed by freshness, taste, packaging, variety, and price.Keywords: chi square analysis, fishbein multi-attribute analysis, modern market, preference, hydroponic vegetables.
PERSEPSI PETANI MITRA OKIAGARU AGRICOOP TERHADAP PENERAPAN GOOD AGRICULTURAL PRACTICES (GAP) PADA TANAMAN HORTIKULTURA DI KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT Manalu, Doni Sahat Tua; Wicaksono, Aditya; Pratama, Agief Julio; Sebayang, Veralianta Br; Awaliyyah, Nadia Febrianti Siti; Nailalmuna, Aghitsni; Syahira, Salwa; Putri, Nabilah; Parhusip, Debora K.P
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 10, No 2 (2025): Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i2.68912

Abstract

AbstrakSektor hortikultura mengemban andil vital pada sistem ekonomi Nusantara, pada Kabupaten Cianjur yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah petani. Namun, terdapat kesenjangan antara potensi besar sektor hortikultura dengan masih rendahnya penerapan Good Agricultural Practices (GAP), terutama di kalangan petani mitra Okiagaru implementasi Good Agricultural Practices (GAP), khususnya bagi lingkup petani mitra Okiagaru Agricoop. Riset ini bermaksud guna menelaah perspektif petani mitra Okiagaru Agricoop mengenai aplikasi Good Agricultural Practices (GAP) pada budidaya tanaman hortikultura di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. GAP merupakan pedoman standar pertanian yang bertujuan meningkatkan produktivitas dan kualitas produk, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta meningkatkan kesejahteraan petani. Penelitian ini memakai tata cara naratif kualitatif serta prosedur kuantitatif. Penghimpunan informasi dilangsungkan lewat instrumen angket, diskusi mendetail, maupun peninjauan situs. Bedah fakta diproses memakai statistika eksplanatif bagi menggambarkan persepsi petani terhadap berbagai aspek penerapan GAP dan dan metode kuantitatif dengan pendekatan analisis konjoin. Simpulan observasi mengindikasikan yakni sebagian besar petani mempunyai impresi baik perihal penerapan GAP, terutama dalam meningkatkan kualitas hasil panen dan keberlanjutan lingkungan. Faktor utama yang memengaruhi persepsi petani meliputi pengalaman petani, ketersediaan sarana, dan keberlanjutan, biaya penerapan GAP, pengetahuan tentang GAP, dan penyuluhan. Studi ini menyimpulkan bahwa peningkatan persepsi positif terhadap GAP dapat dicapai melalui edukasi, pelatihan, dan pemberian insentif untuk produk bersertifikat GAP.Kata kunci: Good Agricultural Practices, Persepsi Petani, Hortikultura, Okiagaru Agricoop.AbstractThe hortikultura domain possesses a pivotal function inside the Indonesian financial system, encompassing Kabupaten Cianjur yang demonstrates a substantial escalation in the quantity of petani. Nonetheless, a disparity exists between the immense possibilities of the hortikultura field and the minimal execution of Good Agricultural Practices (GAP), particularly amidst petani mitra Okiagaru Agricoop. This research endeavors to scrutinize the perspective ofOkiagaru Agricoop's partner farmers towards the application of Good Agricultural Practices (GAP) in horticultural crop cultivation in Cianjur Regency, West Java. GAP is an agricultural standard guideline that aims to increase productivity and product quality, maintain environmental sustainability, and improve farmers' welfare. This research employs narrative-focused analytical techniques and numerical procedures. Information gathering was executed via surveys, intensive consultations, and site inspections. Fact processing was performed utilizing explanatory metrics to depict petani impressions regarding diverse facets of the Good Agricultural Practices adoption and arithmetic systems with an integrated evaluation methodology. The findings of the exploration reveal that the preponderance of farmers have a positive perception of the implementation of GAP, especially in improving crop quality and environmental sustainability. The main factors that affect farmers' perceptions include farmer experience, availability of facilities, and sustainability, cost of implementing GAP, knowledge about GAP, and counseling. The study concludes that increasing positive perceptions of GAP can be achieved through education, training, and incentivization for GAP-certified products.Keywords: Good Agricultural Practices, farmer perception, horticulture, Okiagaru Agricoop.