Claim Missing Document
Check
Articles

Reproductive Health Literacy Among Adolescents in Pekanbaru: A Cross- Sectional Study Masrina Munawarah Tampubolon; Nurhannifah Rizky Tampubolon; Niken Yuniar Sari; Arneliwati Arneliwati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52882

Abstract

Reproductive health literacy is a foundational element in promoting sustainable public health, particularly among adolescents. Despite its importance, global and national studies consistently report low literacy levels in this domain. This cross-sectional study aimed to assess the reproductive health literacy of junior high school students in Pekanbaru, Indonesia, with a specific focus on gender-based disparities. A total of 323 students were purposively selected and surveyed using a highly reliable instrument adapted from the Health Literacy Measure for Adolescents (HELMA), which evaluates five key domains: accessing, reading, understanding, appraising, and applying health information. Findings revealed that 91.02% of respondents fell into the “inadequate” literacy category, with no participants achieving an “excellent” level. Gender analysis showed that 95.04% of male and 87.91% of female students were classified as having inadequate literacy, while only 3.72% reached a “sufficient” level. Although female students exhibited slightly higher proportions in the “problematic” and “sufficient” categories, the overall literacy remained critically low across both genders. Domain-specific analysis indicated stronger conceptual understanding among adolescents but significant weaknesses in functional and critical literacy skills. This study contributes novel insights by documenting lower literacy levels than previously reported in national and international contexts, and by offering a detailed breakdown across literacy domains. The results underscore the urgency of implementing targeted, domain-based, and gender-sensitive educational interventions. Furthermore, the findings advocate for a locally grounded, collaborative approach involving schools, healthcare providers, families, and digital media to cultivate a supportive information ecosystem that empowers adolescents in making informed reproductive health decisions.
Exploring Adolescents’ Needs in Sexual and Reproductive Health Literacy with Cultural Sensitivity: A Mixed-Methods Study Tampubolon, Masrina Munawarah; Tampubolon, Nurhannifah Rizky; sari, niken yuniar
Jurnal Keperawatan Soedirman Vol 21 No 1 (2026): Jurnal Keperawatan Soedirman (JKS)
Publisher : Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jks.2026.21.1.18589

Abstract

Inadequate access to culturally sensitive sexual and reproductive health (SRH) information increases adolescents’ vulnerability to misinformation, risky sexual behaviors, and underutilization of SRH services, particularly in sociocultural contexts where sexuality remains taboo. This study examines sexual and reproductive health literacy (SRHL), risky sexual behaviours and the socio-cultural and institutional factors shaping adolescent SRH experiences. A convergent parallel mixed-methods study was conducted among 994 adolescents aged 11-21 years in Pekanbaru, Indonesia (May-October 2025). Quantitative data were collected using demographic forms, a modified SRHL questionnaire, and a validated Adolescent Sexual Behavior Degree Index, while qualitative data were obtained through focus group discussions and in-depth interviews with teachers, school counselors, healthcare providers, and community leaders. Quantitative data were analyzed descriptively and using chi-square tests, while qualitative data using Colaizzi’s thematic analysis. Most adolescents had inadequate SRHL (92.5%), and 53.3% reported high-risk sexual behaviours. No significant association was found (p = 0.083). Themes included adolescent vulnerability, limited school capacity to address complex adolescent issues; and gaps in educational strategies related to digital media influence, and cultural modernization. These findings highlight the need for culturally grounded, comprehensive SRH education and cross-sector collaboration, with nurses playing a key role in supporting informed adolescent health decision-making.
Hubungan Tingkat Stres Akademik dengan Kualitas Tidur Mahasiswa yang Menjalani Perkuliahan Menggunakan Metode Case Based Learning Tasya Rosa; Jumaini; Niken Yuniar Sari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.495

Abstract

Case Based Learning (CBL) merupakan metode pembelajaran berbasis kasus yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan aktif. Penerapan metode ini dapat menjadi bagian dari beban akademik yang kompleks, sehingga berpotensi menimbulkan stres akademik dan gangguan kualitas tidur pada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres akademik dengan kualitas tidur mahasiswa Fakultas Keperawatan yang menjalani perkuliahan menggunakan metode CBL. Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 254 mahasiswa yang dipilih secara simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner stres akademik yang dimodifikasi dari Perception of Academic Stress Scale (PASS) dan telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas serta kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (82,3%) dan berusia 20 tahun (36,6%). Tingkat stres akademik paling banyak berada pada kategori sedang (63,0%), sedangkan kualitas tidur paling banyak berada pada kategori buruk (75,2%). Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres akademik dengan kualitas tidur mahasiswa (p < 0,05). Perkuliahan yang menggunakan metode CBL dapat mempengaruhi tingkat stres akademik dan kualitas tidur mahasiswa, sehingga stres yang muncul perlu dikelola dengan baik agar tidak berdampak negatif terhadap kualitas tidur.   
UPAYA PENCAPAIAN PERKEMBANGAN MENTAL REMAJA MELALUI TERAPI KELOMPOK TERAPEUTIK Jumaini Jumaini; Sri wahyuni; Niken Yuniar Sari; Nurul Huda; Yulia Rizka
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Volume 6 No. 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i2.44284

Abstract

Remaja merupakan tahapan usia transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada usia remaja, seseorang akan mengalami berbagai perubahan berkaitan dengan proses transisi menuju kedewasaan. Kemampuan berdaptasi terhadap berbagai perubahn ini sangat penting sehingga yang menunjang pencapaian perkembangan dan kesehatan mental remaja. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah memberikan terapi kelompok terapeutik kepada remaja untuk meningkatkan perkembangan mentalnya. Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Sri Meranti dengan rentang usia remaja 12-19 tahun. Remaja yang terlibat sebanyak 30 orang. Peserta diberikan pre test sebelum dilakukan terapi dan post test sesudah diberikan terapi. Hasil kegiatan menunjukkan skor rata-rata sebelum diberikan terapi kelompok terapeutik adalah 42 sedangkan skor rata-rata setelah diberikan terapi kelompok terapeutik adalah 59. Hal ini menunjukkan terdapat peningkatan skor perkembangan mental sebesar 17 setelah remaja mendapatkan terapi kelompok terapeutik. Dampak dari pengabdian masyarakat ini terjadi peninkatan perkembangan mental remaja dan diharapkan remaja terus beradaptasi terhadap perubahan yang dialami sehingga dapat berperilaku yang menunjukkan sebagai remaja yang sehat mental.
Hubungan Tingkat Stress dengan Kejadian Excessive Daytime Sleepiness (EDS) Pada Generasi Z Annisa Ramadhani Putri; Niken Yuniar Sari; Annisa Yulvi Azni
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.257

Abstract

Stres merupakan faktor psikologis yang dapat mengganggu kualitas tidur dan memicu terjadinya Excessive Daytime Sleepiness (EDS). Generasi Z rentan mengalami stres akibat tuntutan akademik, sosial, dan paparan teknologi digital yang intens. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan kejadian Excessive Daytime Sleepiness pada Generasi Z. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 326 responden Generasi Z yang dipilih menggunakan teknik proportional sampling. Tingkat stres diukur menggunakan Perceived Stress Scale-10 (PSS-10) dan kejadian Excessive Daytime Sleepiness diukur menggunakan Epworth Sleepiness Scale (ESS). Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman’s rho. Hasil: Sebagian besar responden mengalami stres kategori sedang sebanyak 243 orang (74,54%), diikuti stres ringan 69 orang (21,17%) dan stres berat 14 orang (4,29%). Kejadian Excessive Daytime Sleepiness ditemukan pada 173 responden (53,07%). Hasil uji Spearman’s rho menunjukkan nilai ρ=0,000 (α=0,05) dengan koefisien korelasi r=0,495, yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan sedang antara tingkat stres dan kejadian Excessive Daytime Sleepiness. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara tingkat stres dengan kejadian Excessive Daytime Sleepiness pada Generasi Z dengan arah hubungan positif dan kekuatan sedang. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat stres, semakin besar kecenderungan terjadinya EDS pada Generasi Z. Generasi Z disarankan untuk mengelola tingkat stres, menjaga pola tidur yang teratur, serta meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental guna menurunkan risiko terjadinya Excessive Daytime Sleepiness.
Hubungan Tingkat Stress dengan Kejadian Excessive Daytime Sleepiness (EDS) Pada Generasi Z Annisa Ramadhani Putri; Niken Yuniar Sari; Annisa Yulvi Azni
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.257

Abstract

Stres merupakan faktor psikologis yang dapat mengganggu kualitas tidur dan memicu terjadinya Excessive Daytime Sleepiness (EDS). Generasi Z rentan mengalami stres akibat tuntutan akademik, sosial, dan paparan teknologi digital yang intens. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan kejadian Excessive Daytime Sleepiness pada Generasi Z. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 326 responden Generasi Z yang dipilih menggunakan teknik proportional sampling. Tingkat stres diukur menggunakan Perceived Stress Scale-10 (PSS-10) dan kejadian Excessive Daytime Sleepiness diukur menggunakan Epworth Sleepiness Scale (ESS). Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman’s rho. Hasil: Sebagian besar responden mengalami stres kategori sedang sebanyak 243 orang (74,54%), diikuti stres ringan 69 orang (21,17%) dan stres berat 14 orang (4,29%). Kejadian Excessive Daytime Sleepiness ditemukan pada 173 responden (53,07%). Hasil uji Spearman’s rho menunjukkan nilai ρ=0,000 (α=0,05) dengan koefisien korelasi r=0,495, yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan sedang antara tingkat stres dan kejadian Excessive Daytime Sleepiness. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara tingkat stres dengan kejadian Excessive Daytime Sleepiness pada Generasi Z dengan arah hubungan positif dan kekuatan sedang. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat stres, semakin besar kecenderungan terjadinya EDS pada Generasi Z. Generasi Z disarankan untuk mengelola tingkat stres, menjaga pola tidur yang teratur, serta meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental guna menurunkan risiko terjadinya Excessive Daytime Sleepiness.
Gambaran Kecemasan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Terpasang AV-Shunt Di Ruang Hemodialisa RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Helga Rahma Izzati; Niken Yuniar Sari; Yulia Rizka
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.524

Abstract

Pendahuluan: Pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani hemodialisis dengan akses vaskular AV-Shunt berisiko mengalami kecemasan, terutama karena prosedur kanulasi yang dilakukan secara berulang. Kecemasan yang tidak ditangani dapat mempengaruhi kenyamanan, kerja sama, dan efektivitas terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pada pasien GGK dengan AV-Shunt saat menjalani hemodialisis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Sampel berjumlah 112 responden yang menggunakan instrumen Zung Self-Rating Anxiety Scale (ZSAS) yang telah diterjemahkan dan teruji validitas. Analisis dilakukan secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Sebagian besar responden mengalami kecemasan ringan yaitu 105 responden (93,8%), kecemasan sedang ditemukan pada 5 responden (4,5%) dan kecemasan berat pada 2 responden (1,8%). Tidak ada responden yang mengalami kecemasan panik (0%). Kesimpulan: Tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik dengan AV-Shunt di ruang hemodialisis RSUD Arifin Achmad Pekanbaru berada pada kategori kecemasan ringan. Meskipun prevalensi kecemasan sedang dan berat relatif rendah, faktor sosial dan ekonomi tetap berkontribusi terhadap munculnya kecemasan pada pasien. Selain itu, walaupun pasien telah rutin menjalani hemodialisis, kecemasan masih dapat muncul, terutama terkait dengan prosedur kanulasi AV-Shunt yang bersifat invasif dan dilakukan secara berulang. Oleh karena itu, asuhan keperawatan perlu difokuskan pada upaya promotif dan preventif melalui pemberian edukasi kesehatan, penerapan komunikasi terapeutik, serta pendampingan keluarga untuk mencegah peningkatan tingkat kecemasan ke kategori yang lebih berat.
Hubungan Kesejahteraan Psikologis dengan Kecemasan Menghadapi Kematian pada Lansia yang Tinggal di UPT PSTW Husnul Khatimah Dinas Sosial Provinsi Riau Rayhan Hanoum Harli; Tesha Hestyana Sari; Niken Yuniar Sari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.606

Abstract

Lansia merupakan kelompok yang rentan mengalami perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang dapat memengaruhi kesejahteraan mental, termasuk munculnya kecemasan menghadapi kematian. Kesejahteraan psikologis diduga berperan penting dalam membantu lansia menerima proses penuaan dan kematian dengan lebih tenang. Sebanyak 52 lansia dengan yang tinggal di UPT PSTW Husnul Khatimah Dinas Sosial Provinsi Riau terlibat sebagai sampel penelitian yang diambil melalui teknik purposive sampling. Keterlibatan mereka bertujuan untuk mengungkap bagaimana kesehatan psikologis berkorelasi dengan kecemasan menghadapi kematian. Seluruh rangkaian ini dijalankan dengan penelitian kuantitatif yang bersifat korelasional, dengan pengambilan data yang dilakukan pada satu waktu tertentu (cross-sectional). Instrumen penelitian meliputi kuesioner Psychological Well- Being untuk mengukur tingkat kesejahteraan psikologis serta Death Anxiety Scale untuk menilai kecemasan menghadapi kematian. Keduanya merupakan instrumen baku dan telah melalui uji validitas dan reliabilitas pada penelitian sebelumnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Kesejahteraan psikologis tinggi (82,7%) oleh lansia yang diperlihatkan secara dominan sebagai hasil penelitian, sementara tingkat kecemasan menghadapi kematian berada pada kategori sedang (57,7%). Hasil uji Spearman Rank menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kesejahteraan psikologis dan kecemasan menghadapi kematian, dengan nilai r = –0,442 dan p = 0,001. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kesejahteraan psikologis dan kecemasan menghadapi kematian pada lansia. Semakin tinggi tingkat kesejahteraan psikologis, semakin rendah tingkat kecemasan lansia dalam menghadapi kematian. Disarankan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis lansia melalui kegiatan psikososial, pemberian dukungan emosional, serta keterlibatan dalam aktivitas yang bermakna guna membantu menurunkan kecemasan dalam menghadapi kematian.
HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN HARGA DIRI DENGAN NOMOPHOBIA PADA MAHASISWA: RELATIONSHIP BETWEEN GENDER AND SELF-ESTEEM WITH NOMOPHOBIA IN STUDENTS Humaidiyathul Fiqqriyah Nurhayati; Niken Yuniar Sari; Arneliwati
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 1 (2023): JUNI 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v6i1.345

Abstract

Nomophobia adalah suatu ketidaknyamanan, kegelisahan, ketakutan atau kesedihan yang disebabkan karena tidak dapat berhubungan dengan telepon genggam smartphone. Nomophobia yang terjadi pada mahasiswa keperawatan akibat mahasiswa sering kali tidak menyadari bahwa penggunaan smartphone dapat menyebabkan gangguan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan jenis kelamin dan harga diri dengan fenomena nomophobia pada mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Riau. Penelitian ini merupakan penelitian jenis kuantitatif dengan desain deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 245 responden yang diambil berdasarkan metode stratified random sampling. Instrumen pada penelitian ini menggunakan Rosenberg Self Esteem Scale dan Nomophobia Questionnare (NMP-Q). Analisis yang digunakan adalah analisis bivariat dengan menggunakan metode Chi Square dengan α= 0,05%. Hasil penelitian menemukan bahwa mayoritas responden berusia 19 tahun (29%) dan berjenis kelamin perempuan (88,%). Mayoritas responden memiliki memiliki nomophobia berat sebanyak 152 responden (62%) dengan harga tinggi sebanyak 216 responden (88,2%). Hasil uji chi square terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan nomophobia (p=0,000). Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan jenis kelamin dengan kejadian nomophobia (p= 0,000), sedangkan harga diri tidak berhubungan dengan kejadian nomophobia (p= 0,490). Temuan ini merekomendasikan kepada peneliti selanjutnya untuk mengatasi tingkat nomophobia berat yang dialami mahasiswa dan sekaligus menganalisis faktor lainnya seperti durasi penggunaan smartphone yang kemungkinan dapat menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat nomophobia berat yang dialami mahasiswa.
EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP PENYAPU JALAN RAYA: THE EFFECTIVENESS OF HEALTH EDUCATION OF PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMENT APPLICATION TOWARDS KNOWLEDGES AND ATTITUDES OF STREET SWEEPER Zahra Hunafa; Arneliwati; Niken Yuniar Sari
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v6i2.351

Abstract

Penyapu jalan merupakan kelompok rentan yang dapat mengalami berbagai masalah kesehatan. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya pemahaman penyapu jalan terkait penggunaan alat pelindung diri (APD). Sehingga pendidikan kesehatan kesehatan tentang penggunaan APD perlu dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap penyapu jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pendidikan kesehatan tentang penggunaan APD pada penyapu jalan raya di Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dan pre-post test one group design. Teknik purposive sampling diterapkan untuk mengumpulkan data dari 34 responden yang terlibat dalam penelitian ini. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Temuan dari penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pengetahuan sebelum intervensi adalah 8,44, sedangkan setelah intervensi mencapai 10,82. Adapun rata-rata sikap sebelum intervensi adalah 33, sedangkan setelah intervensi meningkat menjadi 36,59. Hasil uji statistik menyatakan bahwa terdapat perbedaan rata-rata pengetahuan dan sikap penyapu jalan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan APD (p= 0,000). Pendidikan kesehatan efektif terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap penyapu jalan tentang penggunaan APD. Abstract Street sweepers are a vulnerable group that can experience various health problems, often due to a lack of understanding about the use of personal protective equipment (PPE). Therefore, health education on the use of PPE is necessary to improve the knowledge and attitudes of street sweepers. This study aims to determine the effectiveness of health education on the use of PPE among street sweepers in Pekanbaru City. This research employed a pre-experimental design with a pre-post test one group design. Purposive sampling technique was applied to collect data from 34 respondents involved in this study. Bivariate analysis was conducted using the Wilcoxon test. The findings from the study indicate that the average knowledge score before the intervention was 8.44, while after the intervention, it reached 10.82. The average attitude score before the intervention was 33, which increased to 36.59 after the intervention. Statistical test results state a difference in street sweepers' average knowledge and attitudes before and after receiving health education about using PPE (p= 0.000). Health education effectively improves street sweepers' knowledge and attitudes regarding using PPE.
Co-Authors Afifah, Wardah Agrina, Agrina Aminatul Fitri Ananda, Tiara Anisa Yulvi Azni Annisa Ramadhani Putri Annisa Yulvi Azni Arneliwati Arneliwati aziz, ari rahmat Basmanelly Basmanelly Budi Anna Keliat Budi Antoro Didi Kurniawan Didi Kurniawan Erwin Erwin Erwina, Ira Fachry Abda El Rahman Fani Hidayah Putri Fathra Annis Nauli Fernanda, Nurriza Rizky Fitri, Natasya Aidil Fitriyanti, Yuliana Giawa, Desyanifransisca Gustianur Efendi Habsyah Saparidah Agustina Hadini, Hikmatul Helga Rahma Izzati Herlina Herlina Hernida Warni Humaidiyathul Fiqqriyah Nurhayati Ikke Gustianti Ilya Fitriani Intan Maharani Sulistyawati Batubara Jumaini, Jumaini Kadri, Mohd. Karim, Darwin Kirana, Sukma Ayu Candra Komarudin Komarudin Kosika, Denny Kurniasih, Wiwik Lahargo Kembaren Mad Zaini Maisantri, Vivi Maresa Viana Maria Septijantini Alie Megan Eagle Melani, Dela Miftahul Jannah Minalita, Ega Miranti Dea Dora Mutiara Sepjuita Audia Mutiara Sepjuita Audia Nauli, Fathra Anis Nia Khusniyati Nofita Septiani Nopriadi Nopriadi Nur Aldi, Fatthya Rizqy Nur, Susfika Mei Sari Nuraini Fitri Nuraini Nuraini Nurfatiqoh, Aulya Nurhanifa Rizky Tampubolon Nurhannifah Rizky Tampubolon Nurliza, Ardillah Nurul Huda Nurul huda Nurul Huda Nurul Lailatul Jannah Nuryuliati Octaviany, Deby Oktavia, Deby Pramesti, Cindy Iony Putri Khairul, Sy. Aurora Putri Nisa, Maisyaroh Putri, Dinda Daisya Putri, Napisya Putri, Rahmia Putri, Yuli Amelia Rahmadani, Zulia Rayhan Hanoum Harli Retty Octi Syafrini Riri Novayelinda Rita Rahayu Rivya, Dian Kahfi Rizka Amanda Sari Rizka, Yulia Rohimi, Siti Roswanda Moerza Rustam, Murfardi Rustam, Musfardi Safira S, Risma Salinabela Hartati Sari, Tesha Hestyana Sastriani, Devi Sayang Maulad Tika Siti Nurdiyanah Situmorang, Theressa Dwi Vany Sri Maryuni Sri Utami Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sri Wahyuni Stephanie Dwi Guna Sujiah, Sujiah Sulastri Sulastri sulastri, diah Susanti Niman Tampubolon, Masrina Munawarah Tampubolon, Masrina Munawaroh Tasya Rosa Tesha Hestyana Sari Tesha Hestyana Sari Veny Elita Widia Lestari Wildan Azka Taslimi Yunisman Roni Zahra Hunafa