p-Index From 2021 - 2026
7.288
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan Humano: Research Journal Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah Elementary: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial Panggung Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Habitus: Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Dedikasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (JPIPS) Asatiza: Jurnal Pendidikan Ijtimaiya : Journal of Social Science and Teaching AL MA'ARIEF : JURNAL PENDIDIKAN SOSIAL DAN BUDAYA Aceh Anthropological Journal CENDERAWASIH: Jurnal Antropologi Papua Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) Poros Onim Jurnal Pengabdian Masyarakat (ABDIRA) JURNAL PENDIDIKAN IPS PESAGI (Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah) Journal of Islamic History Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Jurnal Sosiologi Dialektika Sosial Social Pedagogy: Journal of Social Science Education Mafaza : Jurnal Pengabdian Masyarakat Asketik: Jurnal Agama dan Perubahan Sosial HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Balale' : Jurnal Antropologi Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Purbawidya: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi MENTARI : Journal Of Islamic Primary School Tamaddun: Jurnal Ilmu Sosial, Seni, dan Humaniora Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya Malaqbiq : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. Digital Learning, Social Science, and Life-course Studies
Claim Missing Document
Check
Articles

Implementasi Pendidikan Karakter untuk Membangun Perilaku Anti-Bullying di Lingkungan Sekolah Lisa Retno Sari; Karsiwan; Dian Permata Sari; Rima Yuni Saputri
Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya Vol. 4 No. 1 (2026): Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/nagripustaka.v4i1.351

Abstract

Perundungan masih menjadi salah satu permasalahan yang menghambat terciptanya lingkungan belajar yang aman dan kondusif bagi perkembangan peserta didik. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas implementasi pendidikan karakter dalam membangun perilaku anti-bullying siswa di lingkungan sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one-group pretest-posttest yang melibatkan 27 siswa kelas VIII sebagai subjek penelitian. Intervensi dilakukan melalui program pendidikan karakter yang berfokus pada penguatan nilai empati, integritas, dan tanggung jawab sosial. Data dikumpulkan menggunakan skala perilaku anti-bullying dan dianalisis dengan uji paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan perilaku anti-bullying setelah intervensi, ditandai dengan kenaikan skor rata-rata dari 62,4 menjadi 84,8 serta perbedaan yang signifikan antara hasil pre-test dan post-test. Peningkatan paling menonjol ditemukan pada aspek tanggung jawab sosial yang mencerminkan tumbuhnya keberanian siswa untuk menolak dan mencegah perundungan. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat menjadi strategi preventif yang efektif dalam membangun budaya sekolah yang lebih aman, inklusif, dan berorientasi pada penghormatan terhadap sesama. Bullying remains a persistent challenge in educational settings, undermining students’ well-being and the creation of a safe learning environment. This study examines the effectiveness of character education implementation in fostering anti-bullying behavior among students. A quantitative approach with a one-group pretest-posttest design was employed involving 27 eighth-grade students as research participants. The intervention consisted of a structured character education program emphasizing empathy, integrity, and social responsibility. Data were collected through an anti-bullying behavior scale and analyzed using a paired sample t-test. The findings revealed a substantial improvement in students’ anti-bullying behavior following the intervention, as indicated by an increase in the mean score from 62.4 to 84.8 and a statistically significant difference between the pretest and posttest results. The most notable improvement was observed in the dimension of social responsibility, reflecting students’ increased willingness to intervene and oppose bullying practices. These findings suggest that character education serves as an effective preventive approach for promoting positive social behavior and strengthening a more inclusive, respectful, and supportive school culture.
The Cultural Interaction and Local Identity Formation at the Beteng Sari Archaeological Site, East Lampung Endang Indika Yustina; Karsiwan
Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia Vol. 3 No. 3 (2026): Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/jupsi.v3i3.301

Abstract

The Beteng Sari Archaeological Site in East Lampung represents a socio-historical landscape shaped by long-term cultural interaction within the civilizational networks of the Indonesian archipelago.     It is concluded that Betengng Sari as a space of cultural interaction and dynamic local identity formation, moving beyond the predominantly descriptive approaches of previous research. Employing a qualitative historical case study design, the research is based on field observations, in-depth interviews, and the analysis of archaeological remains and written sources. The main findings indicate that the configuration of earthen fortifications and ditches, the distribution of domestic artifacts, the presence of Chinese ceramics, metal objects, ancient coins, and a cosmologically oriented burial complex demonstrate Beteng Sari’s integration into regional trade networks and cultural mobility. The coexistence of megalithic traditions, Hindu–Buddhist influences, early Islamic remains, and imported material culture reveals a layered process of acculturation characterized by continuity and adaptation rather than cultural replacement. It is concluded that Beteng Sari functioned as an interregional node of interaction in which local agency played a crucial role in shaping spatial organization, social practices, and collective memory, thereby framing local identity in East Lampung as a contextual and non-essentialist historical construction, with theoretical implications for studies of cultural interaction and landscape archaeology. Situs Purbakala Beteng Sari di Lampung Timur merepresentasikan lanskap sosial-historis yang terbentuk melalui interaksi budaya jangka panjang dalam jaringan peradaban Nusantara. Penelitian ini bertujuan menganalisis Beteng Sari sebagai ruang interaksi budaya dan pembentukan identitas lokal yang dinamis, melampaui pendekatan deskriptif yang selama ini mendominasi kajian situs. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus historis melalui observasi lapangnon-esensialismendalam, serta analisis tinggalan arkeologis dan sumber tertulis. Temuan utama menunjukkan bahwa konfigurasi benteng dan parit, sebaran artefak domestik, kehadiran keramik Cina, artefak logam, uang kuno, serta kompleks makam berorientasi kosmologis menegaskan keterhubungan Beteng Sari dengan jaringan perdagangan dan mobilitas budaya regional. Koeksistensi tradisi megalitik, pengaruh Hindu–Buddha, Islam awal, dan budaya material impor mengindikasikan proses akulturasi berlapis yang berlangsung melalui kesinambungan dan adaptasi, bukan penggantian budaya. Disimpulkan bahwa Beteng Sari berfungsi sebagai simpul interaksi lintas wilayah, di mana agensi masyarakat lokal berperan penting dalam membentuk tatanan ruang, praktik sosial, dan memori kolektif, sehingga identitas lokal Lampung Timur dapat dipahami sebagai konstruksi historis yang kontekstual dan non-esensialis, dengan implikasi teoretik bagi kajian interaksi budaya dan arkeologi lanskap.
Singir of Syekh Muallim: Verses of Soteriology for Contemporary Muslim Youth from a Gadamerian Hermeneutical Perspective Mohamad Wahyu Hidayat; M. Sa'i; Karsiwan
Journal of Islamic History Vol. 6 No. 1 (2026): Journal of Islamic History
Publisher : Nur Science Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53088/jih.v6i1.2975

Abstract

This study aims to examine the content of Syekh Muallim's poems that contain moral teachings for the younger generation of Muslims. Syekh Muallim (1920s-1995) was known as a cleric and leader of the Al-Fiil Kesugihan Islamic boarding school in Cilacap Regency, Central Java, with his expertise in creating soteriological poems for his students. The results of the study show that the entire text of Syekh Muallim's poems, which were found to be composed in the form of nadzom or verses, consists of 17 chapters and a total of 558 lines. There are several parts of Syekh Muallim's poetry that are similar to Kyai Bisri Musthofa's Ngudi Susila, although there are similarities, Syekh Muallim made slight changes to the text to suit the Banyumasan dialect. Overall, the verses of Syekh Muallim's poem serve as comprehensive soteriological and pedagogical guidelines. The text not only teaches the importance of devotion and obedience in the social and spiritual hierarchy, but also provides a blueprint for the formation of a holistic Muslim character to achieve worldly and spiritual salvation. Specifically, the text studied in this research is divided into three discussions: the chapter on the fortune of creatures, the chapter on mudha-mudhi, and the chapter on manners. These findings are expected to provide insight into the pedagogical richness of the pesantren literary heritage and its relevance to the character building of the young Islamic generation, especially in a modern era full of social challenges. REFERENCES Aprilia, N. (2024). Pemikiran Gramatikal Bahasa Arab K.H. Ahmad Mu’allim: Telaah Atas Kitab Tāshil al Ṭalabah fi Naẓm al jurūmiyyah al jāwiyyah. UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri. Azra, A., Afrianty, D., & Hefner, R. W. (2010). Pesantren and madrasa: Muslim schools and national ideals in Indonesia. In Schooling Islam: The Culture and Politics of Modern Muslim Education (pp. 172–198). Baroroh-Baried, S., & Dkk. (1985). Pengantar Teori Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. Charoline, C., & Ariana, M. (2024). Doktrin Keselamatan (Soteriologi). Pediaqu: Jurnal Pendidikan Sosial Dan Humaniora, 3(3), 1970–1977. Eco, U. (1992). Interpretation and Overinterpretation: World, History, Texts. Cambridge, UK: Cambridge University Press. Fathurahman, O. (2018). Female Indonesian Sufis: Shattariya Murids in the 18th and 19th Centuries in Java. Kyoto Bulletin of Islamic Area Studies, 11, 40–67. Retrieved from https://repository.kulib.kyoto-u.ac.jp/dspace/bitstream/2433/230448/1/I.A.S_011_040.pdf Handayani, E. (2022). Studi Perbandingan Konsep Keselamatan Agama Islam dan Kristen. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Ichwan, M. N. (2019). Qur’anic Soteriology: Doktrin Teologis tentang Keselamatan dan Nasib Pemeluk Agama Lain dalam Perspektif Al-Qur’an. (C. El-Rafi’a, Ed.) (I). Semarang: RaSAIL Media Group. Kusnadi. (2006). Seni Singiran dalam Ritual Tahlilan pada Masyarakat Islam Tradisional Jawa. Imaji, 4(2), 218–231. Muallim. (1994). Ijtimaussyi’ri. Cilacap: Pondok Pesantren Al Fiel. Mudin, M. I., Fikri, M. D., Shobirin, M. M., & Mukharom, R. A. (2021). Hermeneutika Hans-Georg Gadamer: Studi Analisis Kritis Penafsiran Amina Wadud tentang Ayat Kepemimpinan. Intizar, 27(2), 113–126. https://doi.org/10.19109/intizar.v27i2.10104 Muhammad Shohib, & Kholifatus Sa’diyah. (2023). Kriteria Sukses Dalam Al-Qur’an (Kajian Tematik). Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Sosial, 2(1), 53–61. https://doi.org/10.58540/jipsi.v2i1.192 Mussaif, M. M., Suyanto, & Rukiyah. (2002). Kedudukan dan Fungsi Singir Bagi Masyarakat Sastra Jawa (Laporan Penelitian). Semarang. Mustaqim, A. (2016). Model Penelitian Tokoh (Dalam Teori dan Aplikasi). Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Dan Hadis, 15(2), 201. https://doi.org/10.14421/qh.2014.1502-01 Musthofa, B. (1954). Syingir Ngudi Susila. Rembang: Menara Kudus. Retrieved from https://archive.org/details/NgudiSusiloKHBisriMusthofa03Mar2016095913.compressed/mode/2up Ngarifah, I., Basri, H., & Fakhrurrazi, F. (2023). Revitalization of Syingiran as A Strengthening of Sociality and Spirituality of Rural Communities: The Existence of Oral Literature. Sosial Budaya, 20(1), 82. https://doi.org/10.24014/sb.v20i1.22251 Sedyawati, E., & dkk. (2001). Sastra Jawa Suatu Tinjauan Umum. Jakarta: Balai Pustaka. Wibowo, A. G. (2015). Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wieringa, E. P. (2006). Moral Education Through Islamic Songs in Twentieth-Century Java. In Religious Perspectives in Modern Muslim and Jewish Literatures (pp. 81–99). New York: Routledge Taylor & Francis. https://doi.org/10.11157/rsrr2-2-565 Zuliana, R., & Mujibuddin, M. (2019). Sastra Pesantren Di Arena Sastra Indonesia. In MPSN (pp. 560–575).
Refusing to Be Dim in the Digital Era: Revitalizing Bonding and Bridging Social Capital Through Kite Games in Lampung Chintia Eka Rahmadani; Karsiwan
Asketik: Jurnal Agama dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): Asketik: Jurnal Agama dan Perubahan Sosial
Publisher : Prodi Sosiologi Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/asketik.v10i1.2170

Abstract

This study aims to examine the social values contained in the traditional kite game in Lampung using the framework of Robert D. Putnam's social capital theory. Kite games not only serve as folk entertainment, but also as a means of building social character, strengthening solidarity, and preserving local culture. Through a qualitative approach with phenomenological methods and case studies, this study explores the experiences, interactions, and meanings that emerge in the practice of making, flying, and kite racing. The results of the study show that this game contains the values of cooperation, sportsmanship, skills, creativity, and social harmony that are internalized in people's lives. In addition, the kite tradition acts as a medium of expression of Lampung's cultural identity, as well as building social capital bonds through internal community ties and bridging social capital through cross-generational and inter-village interactions. In the midst of the challenges of digitalization, kite games remain relevant as a space for social learning, a means of cultural revitalization, and a forum for the formation of new social networks. Thus, the traditional game of kite can be seen as a cultural practice that contributes to strengthening social capital and community cohesion in the contemporary era.
PENGUATAN KAPASITAS PENGELOLA DAN PENGGIAT BUDAYA PADA MUSEUM SANTA MARIA SEBAGAI MEDIA EDUKASI Karsiwan Karsiwan; Tubagus Ali Rahman Puja Kusuma; Wardani Wardani; Lisa Retno Sari; Yunisca Nurmalisa; Berchah Pitoewas
MALAQBIQ Vol. 5 No. 1 (2026): Malaqbiq : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jam.v5i1.2053

Abstract

Museum sebagai institusi budaya memiliki peranan penting dalam pelestarian, pendidikan, dan penguatan identitas budaya suatu daerah. Museum Mini Santa Maria merupakan klinik kesehatan tertua di Metro yang berdiri sejak tahun 1938, dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak pertengahan tahun 2021. Pendampingan dan penguatan kapasitas pelaku budaya (mahasiswa, penggiat budaya, dan pengelola museum), merupakan strategi penting untuk mendukung pengelolaan museum yang berkelanjutan dan branding yang efektif sebagai daya tarik wisata serta pusat edukasi sejarah dan budaya. Hal ini dilakukan untuk menjawab tantangan zaman, sekaligus menginformasikan keberadaan Museum Mini Santa Maria kepada masyarakat luas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan agar para pelaku dan penggiat budaya dapat mengembangkan literasi sejarah dan budaya Kota Metro kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda. Metode pengabdian yang digunakan menggunakan pendekatan ABCD dengan menekankan pada pengembangan komunitas. Hasil dan capaian kegiatan pengabdian yang telah dilakukan diantaranya 1), Penguatan kapasitas pelaku budaya melalui pendampingan dan branding Museum Mini Santa Maria merupakan langkah strategis dalam pelestarian budaya dan sejarah daerah. 2) Pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi dan branding perlu dilakukan agar museum lebih dikenal masyarakat Metro pada khususnya dan Lampung pada umumnya. 3) Kolaborasi pemanfaatan Museum Mini Santa Maria perlu digalakkan antara pengelola dan lembaga mitra seperti pemerintah daerah, perguruan tinggi, pihak swasta, dan masyarakat serta komunitas sejarah menjadi sangat penting dalam menciptakan sinergi pemanfaatan museum sebagai sumber belajar secara efektif, massif, dan berkelanjutan. Kegiatan pendampingan pada stakeholder museum perlu digalakkan mengingat museum di Kota Metro memerlukan sosialisasi, konsolidasi, penguatan dan pendampingan kepada pengelola museum dan pelaku budaya sebagai garda terdepan dalam implementasi suatu kebijakan pemerintah seperti Ayo Kunjungi Museum. Keberadaan Museum Mini Santa Maria dapat dioptimalkan baik sebagai memori kolektif maupun sebagai alternatif sumber belajar.
Analysis of the Social Value of Cangget Dance as a Cultural Heritage in Metro City, Lampung Ratna Sari; Karsiwan Karsiwan
Historia Vol 15 No 1 (2027): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah (Issu in Progress)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/hj.v15i1.15522

Abstract

Cangget Dance is a cultural heritage of the Lampung people, which has important social values, such as cooperation, togetherness, and solidarity. The study aims to analyze how these values ​​become the philosophical foundation in the development of the social life of the Lampung people. The research method used is qualitative with an ethnographic approach, which allows researchers to understand in depth the social values ​​contained in the Cangget Dance. Data collection was carried out through interviews and observations with several residents and youth who are indigenous Lampung people. Based on the results of the study, it was found that the Cangget Dance is used in sacred Lampung traditional events. The philosophical basis is rooted in the social structure and respect for Lampung customs. In addition, the social values ​​contained in the Cangget Dance include order and harmony of the Lampung people in applying social values, especially in the interests of traditional events.
Design and Development of Flash-Based Learning Media for Enhancing Students’ Learning Interest Febby Rullya Rasyid; Tubagus Ali Rachman Puja Kesuma; Karsiwan
Digital Learning, Social Science, and Life-course Studies Vol. 1 No. 1 (2025): June
Publisher : WISE Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70211/disolife.v1i1.259

Abstract

This study aimed to design and develop Flash-based learning media to enhance student engagement in sociology education at SMK Negeri 4 Bandar Lampung. The media was developed using the Cooperative Learning model, and its effectiveness was evaluated through expert assessments and field trials, following the Borg and Gall development steps. The results showed that the Flash-based media significantly increased student interest in learning compared to traditional PowerPoint presentations. The multimedia tool, integrating visual, auditory, and interactive elements, helped students better understand abstract sociological concepts. The findings indicate that Flash-based learning media is a promising tool for improving student motivation and learning outcomes in vocational high school settings. The study contributes to the growing body of research on multimedia applications in social science education and emphasizes the importance of integrating digital tools in classroom teaching to foster engagement and enhance learning experiences. The study’s limitations include a small sample size and the focus on short-term engagement. Future research should examine the long-term impact of such media on academic performance and explore its broader applicability across different educational contexts.
ADOK DALAM STATUS SOSIAL MASYARAKAT LAMPUNG PEPADUN DI DESA SUKARAJA NUBAN Maya Sari; Karsiwan karsiwan
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, & Antropologi Vol 8, No 2 (2024): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v8i2.85358

Abstract

Begawi is a traditional ceremony for taking the highest title in the Lampung Pepadun tradition which has been carried out from time to time by the community to include cultural values. The aim of this research is to find out how to get adok in the traditional Lampung pepadun begawi in Sukaraja Nuban Village, Batanghari Nuban District, East Lampung Regency which is in the highland and inland areas of Lampung including the Abung, Way Kanan, Way Seputih (Pubian) areas. is ulun (person). Lampung Sukaraja Nuban people still adhere to their local wisdom, one of which is the ritual of giving traditional titles during or after marriage. This article aims to explain the process of giving traditional titles to the Lampung Saibatin people and find out how giving traditional titles affects the social status of the Lampung Saibatin people. With qualitative research methods, this research uses symbolic interactionism theory as an analytical study. The results of the research explain that the procession of awarding degrees goes through several processes, including paying traditional money such as lighting fees, kissing fees, and kibau. The meaning of giving traditional titles includes respect and social status in traditional ceremonies, regulation of relationships in kinship, symbols of maturity, as well as mechanisms for preserving culture carried out from generation to generation. The implications of traditional titles for social status include roles, social recognition in the community, and as social control.Keywords: adok, begawi, dan  social status AbstractBegawi merupakan sebuah upacara adat dalam pengambilan gelar tertinggi di adat lampung pepadun yang telah dilaksanakan dari zaman ke zaman oleh masyarakat dalam mencantumkan nilai-nilai kebudayaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara mendapatkan adok dalam begawi adat lampung pepadun di Desa sukaraja nuban, Kecamatan Batanghari Nuban, Kabupaten Lampung Timur yang berada di daerah dataran tinggi dan pedalaman Lampung meliputi daerah Abung, Way Kanan, Way Seputih (Pubian) Mayoritas masyarakatnya adalah ulun (orang). Lampung Masyarakat Sukaraja Nuban masih berpegang teguh pada kearifan lokalnya, salah satunya adalah ritual pemberian gelar adat saat atau setelah perkawinan.Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan proses pemberian gelar adat pada masyarakat Lampung Saibatin dan mengetahui pemberian gelar adat terhadap status sosial masyarakat Lampung Saibatin. Dengan metode penelitian kualitatif, penelitian ini menggunakan teori interaksionisme simbolik sebagai kajian analisis. Hasil penelitian menjelaskan bahwa prosesi pemberian gelar melalui beberapa proses diantaranya membayar uang adat seperti dau penerangan, dau pengecupan, serta kibau. Makna dari pemberian gelar adat meliputi, penghormatan dan status sosial dalam upacara adat, pengaturan relasi dalam kekerabatan, simbol kedewasaan, serta mekanisme pelestarian budaya yang dilakukan secara turun temurun. Implikasi gelar adat terhadap status sosial meliputi, peran, pengakuan sosial dalam komunitas, dan sebagai kontrol social.Kata Kunci: adok, begawi, dan status sosial
TARI NENEMO DALAM TRADISI KESENIAN MASYARAKAT LAMPUNG, TULANG BAWANG BARAT Rita Oktaviani; Karsiwan Karsiwan
Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, & Antropologi Vol 9, No 1 (2025): Habitus: Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Soiologi Antropologi, FKIP-UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/habitus.v9i1.85838

Abstract

Kabupaten Tulang Bawang Barat di provinsi Lampung merupakan tempat asal mula tari Nenemo. Pada tahun 2016, Hartati menciptakan tarian ini. Tarian ini diciptakan dengan tiga konsep menurut koreografernya: masyarakat multikultural, aktivitas masyarakat Tulang Bawang Barat, dan makna dibalik istilah Nemen, Nendes, Nerimo. Ketika ide ini terwujud, terciptalah karya tari bernama Nenemo. Tarian Nenemo biasanya ditampilkan untuk mengawali acara-acara resmi dan informal. Seseorang dapat menampilkan tarian Nenemo secara solo, berkelompok, atau sebagai raksasa. Peneliti masih menyisakan banyak permasalahan yang belum terjawab dengan keberadaan tarian ini, khususnya mengenai koreografi tari Nenemo dan isinya, serta bagaimana dinamika proses kreatif tari tersebut dilihat dari sudut pandang sosial budaya. Tempat Tari Nenemo di Kabupaten Tulang Bawang Barat. Temuan penelitian ini memperjelas bahwa prosedur yang komprehensif dan inklusif yang melibatkan anggota semua lapisan masyarakat digunakan untuk menciptakan dan memproduksi tari Nenemo. Dibandingkan dengan tarian lain di Lampung, koreografi tari Nenemo tergolong baru. Keberadaan tari Nenemo di Tulang Bawang Barat menuntutnya melambangkan masyarakat multikultural, meskipun dalam hal ini diperlukan waktu lebih lama untuk mengukuhkan jati dirinya. Keywords: Tari Nenemo, Budaya Kesenian Lampung Tulang Bawang Barat ABSTRACTWest Tulang Bawang Regency in Lampung province is the origin of the Nenemo dance. In 2016, Hartati created this dance. This dance was created with three concepts according to the choreographer: multicultural society, activities of the West Tulang Bawang community, and the meaning behind the terms Nemen, Nendes, Nerimo. When this idea was realized, a dance work called Nenemo was created. The Nenemo dance is usually performed to start formal and informal events. One can perform the Nenemo dance solo, in a group, or as a giant. Researchers still have many unanswered problems regarding the existence of this dance, especially regarding the Nenemo dance choreography and its content, as well as how the dynamics of the dance's creative process are seen from a socio-cultural perspective. Nenemo Dance Place in West Tulang Bawang Regency. The findings of this research make it clear that comprehensive and inclusive procedures involving members of all levels of society were used to create and produce the Nenemo dance. Compared to other dances in Lampung, the Nenemo dance choreography is relatively new. The existence of the Nenemo dance in West Tulang Bawang requires it to symbolize a multicultural society, although in this case it takes longer to establish its identity. Keyword: Nenemo Dance, West Lampung Tulang Bawang Arts Culture 
Gamelan Gamelan sebagai cermin identitas budaya: gamelan Septian Trijayanto; Karsiwan; Lisa Retno Sari
PANGGUNG Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v35i4.3633

Abstract

Gamelan has a strong social and spiritual function, strengthening solidarity and reflecting the traditional values of society. The purpose of this study is to determine the function of gamelan as a cultural identity of the Javanese community in Palas Subdistrict, South Lampung Regency. The type of research used is descriptive qualitative, with data collection using in-depth interviews, observation and documentation techniques. Data analysis utilised qualitative data analysis with stages of data collection, data reduction, and conclusion drawing. The results of the study illustrate that gamelan acts as a social medium that connects generations and strengthens community social bonds. Gamelan also functions as a spiritual symbol in various traditional ceremonies and religious rituals, creating harmony and balance in the cultural identity of its owners. The local community in the Palas area plays a role through art associations by continuing to strive to preserve the gamelan tradition in a sustainable manner. In addition, efforts to preserve and pass on traditional arts and culture can be carried out in various ways, such as integrating gamelan as part of performing arts into the education curriculum through cultural arts lessons and local content, as well as holding festivals or regional cultural events so that gamelan continues to have a stage in accompanying traditional music and other performances.
Co-Authors Adelia Azzahra Aditya Wibowo anggrani, anggun - Anisa Mayzar Anita Lisdiana Anita Lisdiana Anita Lisdiana Apri Wahyudi Arum Ramadhani, Sekar Atik Purwasih Atik Purwasih Azahra, Fauzia Azzahra, Ladya Bagus Riski Saputra Berchah Pitoewas Bibit Suranti Chintia Eka Rahmadani Citra Ayyuhda Dena Alinda Dewi Ratnawati Dian Permata Sari Endang Indika Yustina Febby Rullya Rasyid Fitri Sari Fitriani, Lutfia Gaya Mentari Hidayat Mohamad Wahyu Hotman Hotman Ingle, Poonam Kisno Ladya Azzahra Lestari, Riska Dwi Lian Ferliana Linda Nurlatifah Lisa Retno Sari Lisa Retno Sari Lisa Retno Sari Lisa Retno Sari Lisa Retno Sari Lisa Retno Sari Lisa Retno Sari Lisa Retno Sari Lisa Retno Sari Lisa Retno Sari Lisa Retnosari Lisdiana, Anita Lusi Handayani M Akmal Nur Pasha M. Sa'i Maya Sari Maya Sari Mila Rosita Putri Mohamad Wahyu Hidayat Mudinillah, Adam Muhammad Mujib Baidhowi Nabita Deassy Sabilla Nadya Yulfiani Nadya Yulfiani Novi Eka Rahmawati Patminingsih, Astuti Pratiwi, Nisa Pujiati Pujiati Rahmat Hidayat Ratna Sari Retno Sari, Lisa Rifda Shofhatunnaja Rima Yuni Saputri Rita Oktaviani Rufaidah Rufaidah Sarah Ayu Ramadhani Sari, Lisa Retno Sekar Arum Ramadhani Septian Trijayanto Septiyana Septiyana Sri Handayana Srinatin Srinatin Suranti, Bibit Suryadi Suryadi Tubagus Ali Rachman Puja Kesuma Tubagus Ali Rahman Puja Kusuma Tusriyanto Tusriyanto tusriyanto tusriyanto Tusriyanto Tusriyanto Wakidi Wakidi Wardani Wardani Wardani Wardani Wellfarina Hamer Widiyani, Putri Nur Yudiyanto Yudiyanto Yunisca M.Pd S.Pd Nurmalisa Zainul Muklis