Claim Missing Document
Check
Articles

PENYUTRADARAAN FILM DOKUMENTER OBSERVASIONAL TENTANG PENGHAYAT ALIRAN KEBATINAN KAPRIBADEN DI WANGON Rahindra, Nanda Krisna; Erdhina Adi, Anggar; Fiandra, Yosa
eProceedings of Art & Design Vol. 10 No. 6 (2023): Desember 2023
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Di dalam masyarakat modern Indonesia, masih terdapat beberapa kelompok yang memegang teguh ajaran tradisi dari nenek moyangnya, salah satunya adalah penghayat aliran keba__nan Kapribaden. Penghayat aliran keba__nan Kapribaden sering diasosiasikan dengan kegiatan kultus yang menekankan pada pemahaman mis__k dan klenik yang ditunjukkan dengan kegiatan sembahyangan serta penggunaan sesaji di dalam ak__vitasnya. Hasil peneli__an menunjukkan bahwa ke__daktahuan masyarakat awam akan makna dibalik ajaran Kapribaden menyebabkan keberadaan penghayat Kapribaden seringkali dihadapkan dengan resistensi dari masyarakat awam pemeluk agama konvensional yang diakui negara. Fenomena ini diangkat ke dalam perancangan __lm dokumenter observasional dengan pendekatan etnogra__ untuk memberikan gambaran mengenai pola perilaku, sistem kepercayaan, nilai-nilai, bahasa, serta nilai-nilai yang terkandung di dalam kehidupan penghayat Kapribaden. Kata Kunci: Aliran Kapribaden, Film Dokumenter Observasional, Penyutradaraan.
PERANCANGAN DESAIN KARAKTER UNTUK ANIMASI 2D FENOMENA BODY IMAGE INSECURITY PADA MAHASISWA DKV TELKOM UNIVERSITY Sulfiatny, Nuramany; Fiandra, Yosa; Lionardi, Angelia
eProceedings of Art & Design Vol. 10 No. 6 (2023): Desember 2023
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Body image insecurity merupakan pandangan negatif gambaran mental mengenai bagaimana bentuk dan ukuran tubuh seseorang. Animasi 2 dimensi adalah media yang baik untuk menyampaikan fenomena sosial. Maka dari itu, diperlukan perancangan karakter animasi 2 dimensi yang mampu menggambarkan fenomena tersebut. Penggayaan fabel dipilih untuk menggambarkan informasi tentang mahasiswa yang mengalami Body image insecurity dan bagaimana solusinya. Perancangan karakter dibuat dengan mengamati karakteristik ekspresi dan gesture mahasiswa DKV Telkom University yang mengalami Body image insecurity. Dilakukan pengumpulan data menggunakan metode kualitatif berupa observasi kepada mahasiswa DKV Telkom University, Studi Pustaka terkait Body image insecurity dan Perancangan desain karakter dan wawancara terhadap psikolog serta mahasiswa DKV Telkom University dan mahasiswa luar Telkom sebagai pembanding.Kata kunci: Body image insecurity, mahasiswa, dan Perancangan desain karakter
PERANCANGAN DESAIN KARAKTER UNTUK FILM ANIMASI 2D TENTANG BADAK SUMATERA Hermawan, Hermawan; Sudaryat, Yayat; Fiandra, Yosa
eProceedings of Art & Design Vol. 10 No. 6 (2023): Desember 2023
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Pulau Sumatera adalah habitat badak sumatera. Badak sumatera salah satu hewan yang disebut sebagai Critically Endangered Animal yang berarti hewan kritis yang terancam punah. Badak mengalami ancaman kepunahan karena tidak stabilnya hutan dan habitat mereka akibat perluasan wilayah yang kemungkinan hutan tersebut ditebang secara illegal untuk memperluas lahan kelapa sawit. Kehilangan sebagian hutan dan penurunan jumlah keturunan menjadi ancaman bagi badak sumatera, dan khususnya perburuan liar. Perburuan liar adalah salah satu ancaman paling serius untuk badak sumatera. Perburuan liar berujung pada penjualan bagian – bagian tubuh badak secara ilegal demi meraup keuntungan yang besar. Untuk itu perlu adanya media yang menarik untuk remaja dan dewasa. Salah satunya adalah membuat karakter 2D yang akan memberitahu bahwa badak sumatera merupakan hewan langka yang harus dilindungi sebagai bahan pempelajaran. Metode yang digunakan merupakan metode pengumpulan data kualitatif dengan cara meneliti badak sumatera secara langsung maupun tidak langsung. Analisis karya sejenis juga penting dan sebagai patokan untuk perancangan desain karakter 2D.Kata Kunci: Animasi 2D, Badak Sumatera, Karakter, Kepunahan Hewan
PERANCANGAN STORYBOARD ANIMASI 2D TENTANG BODY IMAGE INSECURITY DI MAHASISWA DKV TELKOM UNIVERSITY Lestari, Fidia Ayu; Fiandra, Yosa; Lionardi, Angelia
eProceedings of Art & Design Vol. 10 No. 6 (2023): Desember 2023
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Body image insecurity merupakan sebuah bentuk yang terjadi akibat ketidakpercayaan diri terhadap penampilan fisik. Munculnya perasaan tidak nyaman, cemas, malu dan takut menjadi gejala penderita. Normalisasi masyarakat umum terhadap bentuk tubuh yang ideal menjadi salah satu faktor penyebab insecure. Untuk mengurangi dampak insecure, peneliti tertarik untuk mengangkat dalam media animasi 2D. Dalam pembuatan storyboard dibutuhkan data kualitatif untuk memperkuat pesan yang akan disampaikan. Pengambilan data utama dilakukan dengan wawancara, dan studi pustaka pada narasumber. Serta untuk pengambilan data pendukung menggunakan kuesioner. Cerita yang diangkat bergenre fiksi dengan karakter fabel yang merupakan representasi penderita body image insecurity, cerita animasi yang memiliki pentingnya menjaga kesehatan mental. Pergerakan kamera, angle kamera, type of shot, serta komposisi dapat membantu penyampaian pesan pada storyboard. Dalam perancangan ini memiliki hasil berupa animasi storyboard, poster dan merchendise sebagai pelengkap.Kata kunci: Animasi Storyboard 2D, Body image insecurity, Psikologi.
PERANCANGAN STORYBOARD UNTUK ANIMASI 2D MENGENAI JOKI PACU JAWI ASAL KABUPATEN TANAH DATAR Syujana, Murfid Agil; Ramdhan, Zaini; Fiandra, Yosa
eProceedings of Art & Design Vol. 10 No. 6 (2023): Desember 2023
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pacu Jawi merupakan sebuah tradisi yang berasal dari Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Pada tahun 2020 Kemendikbud menetapkan Pacu Jawi sebagai Warisan Budaya Tak benda dengan domain seni pertunjukkan. Pacu dapat dimaknai sebagai kompetisi atau perlombaan, sementara Jawi berasal dari istilah dalam bahasa Minang yang mengacu pada hewan ternak seperti sapi atau lembu. Oleh karena itu, Pacu Jawi dapat diartikan sebagai perlombaan sapi. Menurut hasil data yang dikumpulkan oleh penulis melalui penyebaran kuesioner, terdapat 60,5% dari 43 responden yang masih belum mengetahui tentang tradisi Pacu Jawi. Padahal menurut Kemendikbud, Warisan Budaya Tak benda bersifat dapat berlalu dan hilang seiring perkembangan zaman. Data tersebut menjadikan landasan bagi penulis dalam perancangan karya tugas akhir. Tujuan perancangan adalah untuk mengenalkan Pacu Jawi kepada masyarakat diluar Kabupaten Tanah Datar agar budaya tersebut dapat tetap terjaga dan tidak hilang seiring perkembangan zaman. Berdasarkan penjelasan tersebut, penulis akan merancang sebuah storyboard yang bertujuan untuk memperkenalkan Pacu Jawi kepada masyarakat Indonesia khususnya remaja. Dalam proses perancangan tugas akhir, metode campuran digunakan oleh penulis, di mana data diperoleh melalui beberapa cara seperti wawancara, observasi, studi pustaka, dan pengisian kuesioner. Pada perancangan ini, penulis berperan sebagai storyboard artist yang bertujuan menggambarkan visualisasi naskah sebelum proses animasi dilakukan.Kata Kunci: Kabupaten Tanah Datar, Pacu Jawi, Storyboard, Animasi
DIRECTING A SHORT FILM ABOUT EARLY ADULTS WHO ARE EXPERIENCING A QUARTER LIFE CRISIS PHASE TITLED "BREATHE" Vidyavinaya, Gde Vikranta; Fiandra, Yosa; Rahadianto, Irfan Dwi
eProceedings of Art & Design Vol. 11 No. 2 (2024): April 2024
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Quarter life crisis is a crisis that experienced by early adults in the age range of 21-30. This crisis is caused by many factors, namely, financial, career, family, romance, etc. This problem occured due to the unpreparedness of individuals in this transitional phase due to a lack of experience, so early adults often feel stuck and overthinking. Therefore, the writer has the idea to make a short film as the main media in conveying and providing an outlook on overcoming this quarter life crisis in a way that can be said to be trivial. Breathing is not just an ongoing process of life, but also for self-control. Keywords: quarter life crisis, early adults, short film, breathe.
PERANCANGAN ANIMASI MOTION GRAPHICS SEBAGAI MEDIA EDUKASI KULINER TRADISIONAL KHAS KOTA BOGOR Shuduri, Dwiadi Mishbahush; Fiandra, Yosa; Iskandar, Muhammad
eProceedings of Art & Design Vol. 11 No. 3 (2024): Juni 2024
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makanan tradisional merupakan salah satu warisan kebudayaan, dan kuliner tradisional dapatberpotensi menjadi salah satu aspek pertumbuhun ekonomi di Kota Bogor dalam sektor pariwisata.Penelitian ini dilakukan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang makanan tradisional yangada di Kota Bogor. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dan pengumpulandatanya menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan dengantiga alur yaitu reduksi data, penyajian data, serta menarik kesimpulan dan verifikasi data. Berdasarkanobservasi singkat, salah satu penyebab kenapa makanan tradisional mulai tergeser adalah kurangnyapengetahuan tentang makanan tradisional sehingga masyarakat memilih untuk mengkonsumsi makanan –makanan seperti makanan cepat saji atau makanan modern lainnya. oleh sebab itu diperlukan adanyapembuatan motion graphics agar masyarakat lebih mengetahui tentang makanan tradisional khususnya diKota Bogor. Kata kunci: Animasi motion graphics, Kebudayaan lokal, Kota Bogor, Makanan tradisional,
PERANCANGAN KARAKTER PENARI MELALUI PENERAPAN MEDIA ANIMASI UNTUK PENGENALAN TARI SEMARANGAN DI KOTA SEMARANG Pratama, Krisna Setya; Fiandra, Yosa; Sudaryat, Yayat
eProceedings of Art & Design Vol. 11 No. 3 (2024): Juni 2024
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berkembangnya media dan teknologi menjadi tantangan dalam dalammempertahankan kebudayaan tari tradisional. Banyak orang tua yang memberikankeleluasaan terhadap anaknya denganlmembelikan smartphone sejak usia dini. Merekamemilih memberikan tontonan animasi pada platform video yang tersedia. Mereka beralasantindakan tersebut akan lebih aman dan mudah dalam pengawasan aktifitas buah hati. Tapimereka belum memikirkan bagaimana pengaruh media terhadap tumbuh kembang buah hatimereka dari kebiasaan memainkan smartphone. Dampak negatif yang akan munculdiantaranya : sulit bersosialisasi, lamban dalam perkembangan motoric, dan perubahanperilaku yang signifikan. Sebagai respons terhadap permasalahan ini, animasi 2D dapatmenjadi media yang efekti dalam memperkenalkan kembali tari semarangan kepada anakanak.Media animasi dianggap sebagai salah satu cara yang efektif untuk menyampaikaninformasi atau pesan karena mudah diterima oleh masyarakat. Animasi memiliki keunggulandalam menyampaikan pesan secara visual dan menarik. Oleh karena itu, perlu dirancangkarakter penari tari semarangan yang menarik dan ikonik agar mudah diingat dan dikenali.Pendekatan yang digunakan dalam perancangan ini melibatkan metode kualitatif, sepertiobservasi, wawancara, kuesioner, dan studi pustaka. Melalui media animasi, diharapkananak-anak dapat tertarik untuk mengenal dan belajar tentang tari Semarangan. Kata Kunci : Anak-anak, Animasi, Budaya, Smartphone, Tari Semarangan
Musical Drama Audio Production for MI Asy Syifa Rancamanyar Teachers: Produksi Audio Drama Musikal bagi para Guru MI Asy Syifa Rancamanyar Anwar, Ardy Aprilian; Fiandra, Yosa; Belasunda, Riksa
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 5 (2024): Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/dinamisia.v8i5.21292

Abstract

When celebrating graduation or promotion at school level, they are used to holding a celebration event all day long. Various types of competitions were held and competed in, and various artistic performances were shown openly. Performing arts include musical group performances, solo singing, dance, musical ensembles and musical drama. There are still several schools, including MI Asy Syifa Rancamanyar, which still use external assistance to prepare activities on the grounds that they donot have knowledge in the related field. For example, when creating singing accompaniment music, dance accompaniment music, and even audio for musical drama performances with a more complex level of complexity. This study aims to understand teachers who are involved in extracurricular activities, particularly their ability to create audio-musical dramas. The method used is service learning-based training with an active participatory approach that focuses on meeting the community needs identified in previous year's training. The research results indicate an improvement in participants' understanding and knowledge of the recording and audio rendering processes. This audio production training helps teachers gain a better understanding and trains them in audio production for musical dramas using Reaper DAW software. As a result, teachers become more productive and independent in preparing materials for art performances at their schools
Pelatihan Teknik Stroboskopik untuk Komunitas Fotografi Snaphot Kabupaten Bandung: Mendokumentasikan Tari Tradisi dalam Mengangkat Budaya Lokal Yosa Fiandra; Putu Raka Setya Putra; Yayat Sudaryat
Jurnal Pengabdian Seni Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v6i2.15829

Abstract

Teknik pencahayaan stroboskopik dalam fotografi memungkinkan perekaman gerakan berulang kali dalam satu frame sehingga menampilkan ritme serta pola gerakan yang lebih dinamis. Teknik ini sangat berguna untuk mencatat gerakan tarian, terutama tarian tradisional yang memiliki banyak ekspresi, pola, dan ritme gerakan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan setiap individu dari komunitas fotografi dapat menguasai teknik stroboskopik untuk membuat dokumentasi budaya tradisional, terutama seni tari, menjadi lebih baik. Pelatihan ini akan mencakup pengenalan lengkap semua teori dasar pencahayaan strobo fotografi, praktik langsung cara memotret dengan berbagai pengaturan strobo, dan evaluasi dari setiap karya peserta. Empat puluh tiga peserta diajarkan cara menghitung frekuensi dan durasi pencahayaan serta eksposur yang dipergunakan. Selain itu, mereka belajar menyinkronkan teknologi kamera dan flash lighting dengan gerakan penari, untuk dapat menghasilkan gambar yang indah serta representasi pola gerakan yang lebih jelas. Setelah kegiatan ini selesai, para peserta akan lebih memahami dalam cara proses pemotretan dinamika gerakan tari menggunakan metode pencahayaan artificial light  karena metode ini mampu menampilkan karya foto gerakan penari secara jelas dalam 3-5 fase gerakan dalam satu frame. Indikator dari pemahaman ini adalah mampu menghasilkan gambar dengan menggunakan teknik stroboskopik yang dipresentasikan pada saat preview karya. Pelatihan ini sangat penting karena dapat meningkatkan pemahaman setiap peserta tentang fotografi gerak secara teknis fotografi dan pengaplikasian pada saat proses pemotretan. Melalui pelatihan ini peserta meningkatkan keahlian untuk menvisualkan seni tari tradisional melalui medium karya visual fotografi. Teknik fotografi stroboskopik ini dapat menampilkan bentuk visual dua dimensi yang lebih menarik dan bermanfaat untuk mendokumentasikan budaya serta menjaga dan meningkatkan citra seni budaya indonesia. The stroboscopic lighting technique in photography allows for repeated motion recording in a single frame, thus displaying rhythms and more dynamic movement patterns. This technique is highly essential for recording dance movements, especially traditional dances that have a lot of expression, patterns, and rhythms of movements. This activity aims to improve the individual skill of the photography community, particularly developing stroboscopic technique in order to be more capable of capturing dance. This training involved a complete introduction to all the basic theories of photographic strobe lighting, hands-on practice of how to shoot with various strobe settings, and evaluation of each participant's work. Forty-three participants participated in mastering how to calculate the frequency and duration of exposure and synchronize the camera with flash lighting during shooting the dancers' movements. The result indicates that the participants achieve higher understanding of the process of shooting the dynamics of dance movements using the artificial light lighting method, which is able to display the dancer's movement photos clearly in 3-5 movement phases in one frame. The indicator of this understanding is being able to produce images using stroboscopic techniques presented at the time of the preview of the work. This activity is highly essential as it can increase each participant's understanding of motion photography technically and its application during the shooting process. Through this program, participants are able to improve their skills in visualizing traditional dance through photography. This stroboscopic photography technique can display a more attractiv two-dimensional visual form, maintain, and improve the image of Indonesian cultural art.