Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PRINSIP TASAWUF TERHADAP NILAI DASAR PANCASILA SILA KE-SATU DAN KE-EMPAT DALAM TAFSIR AL-AZHAR Mandra Jaya; Idrus Alkaf; Pathur Rahman
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 1 (2024): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v23i1.462

Abstract

Penelitian ini mengulas prinsip tasawuf terhadap nilai dasar pancasila dalam Tafsir al-Azhar. Islam mengajarkan sebuah ajaran kerohanian yang disebut dengan tasawuf. Tasawuf menekankan pentingnya manusia untuk mengenal Tuhannya, yang pada implikasinya akan bisa mengendalikan tingkah lakunya. Ajaran tasawuf lebih menekankan pada pendidikan hati, pengamalan dan penghayatan terhadap agama yang dalam hubungan sosial akan mengakibatkan terkendalinya tingkah laku maupun perbuatannya karena senantiasa merasa melihat ataupun dilihat oleh Tuhannya. Setidaknya ada dua makna yang disebut dengan Tasawuf Pancasila. Di samping itu, ajaran tasawuf relevan dan realistis/kontekstual dalam kehidupan masyarakat yang dinamis dan semangat berbangsan dan bernegara yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur Pancasila. Dengan tradisi/ada kesufian, masyarakat dapat melestarikan dan mengembangkan/meningkatkan nilai-nilai dan materi tasawuf agar kemudian ditanamkan ke dalam jiwa masyarakat bangsa Indonesia terutama anak-anak didik untuk membentuk dan mengembang karakter pancasila. Riset ini menggunakan metode (library research). Dalam kitab Tafsir al-Azhar QS. Al-Ikḥlaṣ ayat 1 dan al-Baqarah:163 yang memuat nilai keesaan Tuhan. QS. Al-Baqarah 269 Buya Hamka menafsirkan bahwa ayat ini mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. Menurut Buya Hamka inti pokok dari Pancasila terletak pada sila Ketuhaan Yang Maha Esa. Buya Hamka menegaskan bahwa dengan berpegang pada sila Ketuhanan Yang Maha Esa, maka dengan sendirinya tumbuh mahabbah (cinta) dan mengamalkan sila yang empat lainnya
ANALISIS TEMATIK TERM RA’FAH DALAM AL-QUR’AN: Upaya Rekonsiliasi Konseptual Rahmat Tuhan dan Teori Sanksi Zina Pathur Rahman; Devi Aulia Utami
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 2 (2024): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v23i2.603

Abstract

This study thematically examines the term ra’fah in the Qur’an, particularly in the context of implementing zina (adultery) sanctions, aiming to formulate a conceptual reconciliation between the divine mercy and the principle of justice in Islamic law. The background of this research is based on the common practice in society of resolving zina cases through mediation or customary law, which contradicts the provisions of Islamic criminal law as stipulated in Q.S. An-Nur verse 2 and Aceh Qanun No. 9 of 2008, as well as the phenomenon of victims marrying their abusers to preserve family honor, which obscures the protection of victims' rights and justice. This study employs a qualitative method with a thematic interpretation approach to Qur’anic verses containing the term ra’fah. The findings reveal that ra’fah is explicitly mentioned only in two verses, Q.S. An-Nur verse 2 and Q.S. Al-Hadid verse 27, both revealed in Medina; in Q.S. An-Nur verse 2, ra’fah means the prohibition of allowing compassion to prevent the enforcement of zina sanctions in order to uphold justice and legal certainty, while in Q.S. Al-Hadid verse 27, ra’fah is associated with gentleness and compassion instilled in the hearts of the followers of Prophet Isa (Jesus). These findings affirm that ra’fah is not an obstacle to law enforcement but an ethical foundation that balances divine mercy and legal firmness in the implementation of Islamic sharia. The study recommends a comprehensive understanding of ra’fah as an ethical basis for enforcing Islamic criminal law to create harmony between compassion and justice. The novelty of this research lies in its focused thematic analysis of ra’fah in the context of zina sanctions, which has been rarely explored, and the affirmation that ra’fah is an ethical principle guiding law enforcement to remain humane without compromising firmness, thus contributing new theoretical insights to the development of Islamic law, especially in the enforcement of hudud sanctions through a more comprehensive and contextual interpretation of ra’fah.