Claim Missing Document
Check
Articles

STRUKTUR TEGAKAN DAN KOMPOSISI JENIS MANGROVE DI PANTAI UTARA Studi Kasus Di Desa Kanci Kulon Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon Agustiana, Reki; Hendrayana, Yayan; Kosasih, Dede
Wana Raksa Vol. 17 No. 02 (2023)
Publisher : Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v17i02.9060

Abstract

The mangrove forest in Kanci Kulon Village has an important role as protection for life support systems, including breaking sea waves, preventing coastal erosion, as a habitat for coastal ecosystems and so on. Data on the structure and composition of mangrove species is very necessary in the context of preparing management and utilization plans for mangrove forests so that there is no damage to the quality and quantity of potential coastal ecosystem resources which results in the loss of the environmental function of the mangrove forest. The method used was purposive sampling carried out using sample units in the form of square plots covered by mangrove vegetation. There are 2 types of mangroves found, namely Avicennia marina (White Flames) and Avicennia alba (Black Flames). Avicennia marina is the type with the highest INP at the seedling level with 131.568% found in the front zone. The sapling growth rate is dominated by Avicennia alba with a total of 130.313% found in the middle zone. Meanwhile, the highest INP at tree level is Avicennia marina with 226.630% found in the front zone. The highest growth stage evenness index value is found in the back zone at the seedling level with a value of 0.993 and the lowest is in the front zone at the tree level with a value of 0.811. The distribution of the number of trees per hectare based on diameter class in almost all observation zones in the mangrove forest of Kanci Kulon Village tends to form an L-form. This shows that the tree population in each zone tends to develop towards balanced forests of all ages. The canopy stratification formed in each zone formation is dominated by strata C (4-20). The diameter will affect the stratification of the canopy, and the larger the tree diameter, the smaller the density Hutan mangrove Desa Kanci Kulon memiliki peran penting sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan diantaranya memecah gelombang laut, mencegah abrasi pantai, sebagai habitat ekosistem pesisir dan lain-lain. Data struktur dan komposisi jenis mangrove sangat diperlukan dalam rangka penyusunan rencana pengelolaan maupun pemanfaatan hutan mangrove agar tidak terjadi kerusakan kualitas dan kuantitas potensi  sumberdaya ekosistem pesisir yang berdampak pada hilangnya fungsi lingkungan dari hutan mangrove tersebut. Metode yang digunakan adalah purposive sampling dilakukan dengan menggunakan unit contoh berupa petak persegi yang tertutupi oleh vegetasi mangrove. Terdapat 2 jenis mangrove yang ditemukan, yaitu Avicennia marina (White Flames) dan Avicennia alba (Black Flames). Avicennia marina merupakan jenis dengan INP tertinggi pada tingkat semai dengan jumlah 131,568% yang terdapat pada zona depan. Pada tingkat pertumbuhan pancang didominasi oleh Avicennia alba dengan jumlah 130,313 %yang terdapat pada zona tengah. Sedangkan INP tertinggi pada tingkat pohon adalah Avicennia marina dengan jumlah 226,630 % yang terdapat pada zona depan. Nilai indeks kemerataan stadium tingkat pertumbuhan tertinggi terdapat pada zona belakang pada tingkat semai dengan nilai 0,993 dan terendah terdapat pada zona depan pada tingkatan pohon dengan nilai 0,811. Sebaran jumlah pohon per hektar berdasarkan kelas diameter pada hampir semua zona pengamatan di hutan mangrove Desa Kanci Kulon cenderung membentuk L-form.  Hal  ini  menunjukkan bahwa populasi pohon pada setiap zona cenderung berkembang kearah hutan segala umur yang seimbang. Stratifikasi tajuk yang terbentuk pada setiap formasi zona didominasi oleh strata C (4-20). Ukuran diameter akan mempengaruhi stratifikasi tajuknya, dan semakin besar diameter pohon, semakin kecil kerapatannya.
Identification Of Mycorrhizal Fungi Arbuscular Indigenous On Various Land Use Patterns Karyaningsih, Ika; Ai Nurlaila; Dede Kosasih; Wiwit Walinda; Fika Fauziah
Journal of Tropical Mycorrhiza Vol. 4 No. 2 (2025): October
Publisher : Asosiasi Mikoriza Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/jtm.v4i2.105

Abstract

Information on the existence of indigenous Arbuscular Mycorrhizal Fungi (FMA) is needed as an early stage of FMA biofertilizer production to overcome the scarcity of subsidized fertilizers. The purpose of this study was to determine the type of indigenous FMA and determine the location that can be used as a source of FMA inoculum as a biological fertilizer material. Soil and root samples were observed in 4 types of land use, with 10 repeats. The results showed that for every 100 g of soil, the highest number of spores were found in natural forest types as many as 248 spores, in agroforestry land 138 spores, in ex-mining land 95 spores, and at least in sweet potato-intensive agricultural land only 58 spores. Natural forest areas have a high enough spore count so that natural forest locations have the potential to be a source of indigenous FMA inoculum than other types of land use. There are three genera of FMA found, namely Glomus, Gigaspora, and Acaulospora. Glomus is found on all types of land use except monoculture farmland and is the genus that dominates spore populations. The genus Acaulospora is found only in agroforestry land types. Indigenous FMA was found to be able to infect plant roots in natural forests in as much as 6 % and agroforestry land in as much as 16 % so it was included in the medium and low categories. Meanwhile, in the monoculture type of sweet potato and ex-mining land, no root infection was found.
Apakah Kita Benar-benar Menghidupi Sila Kemanusiaan? Menafsir Nilai Humanis Ungkapan Tradisional Sunda Sudaryat, Yayat; Widyastuti, Temmy; Hernawan, Hernawan; Kosasih, Dede; Alamsyah, Zulfikar
Jurnal IKADBUDI Vol. 14 (2025): Jurnal Ikadbudi : Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Budaya Daerah
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v14i2.91641

Abstract

Nilai kemanusiaan dalam budaya Sunda tidak hanya diwariskan melalui ajaran formal, tetapi juga melalui ungkapan tradisional yang hidup dalam praktik keseharian masyarakat. Ungkapan-ungkapan tersebut merefleksikan nilai humanisme yang sejalan dengan sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Penelitian ini bertujuan mengungkap dan menganalisis nilai humanisme serta kearifan lokal Sunda yang terkandung dalam ungkapan tradisional Sunda dengan merujuk pada nilai moral sila kedua Pancasila. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitik. Data penelitian berupa ungkapan tradisional Sunda yang diperoleh dari sumber tertulis, seperti buku peribahasa Sunda, kamus budaya, dan naskah budaya, serta sumber lisan melalui wawancara dengan informan budayawan dan tokoh masyarakat Sunda. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan wawancara mendalam. Analisis data menggunakan teknik analisis isi (content analysis) dan pendekatan hermeneutik untuk menafsirkan makna filosofis ungkapan. Validitas data dijamin melalui triangulasi sumber dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ungkapan tradisional Sunda secara dominan merepresentasikan nilai kemanusiaan berupa keadilan sosial, kesetaraan martabat manusia, empati dan cinta kasih (silih asih), pengembangan potensi diri (silih asah), serta tanggung jawab sosial dan kepedulian (silih asuh), yang selaras dengan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab. Temuan ini menegaskan bahwa kearifan lokal Sunda berfungsi sebagai medium internalisasi nilai Pancasila yang kontekstual dan berkelanjutan. Secara praktis, hasil penelitian ini berimplikasi pada penguatan pendidikan karakter berbasis budaya lokal, khususnya dalam pembelajaran Pancasila, bahasa, dan budaya Sunda, serta sebagai rujukan dalam pelestarian nilai-nilai humanisme dalam kehidupan bermasyarakat.
Media Wordwall dalam Pembelajaran Aksara Sunda (Studi Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X-C di SMA Negeri 2 Bandung) Dina Damayanti; Hernawan; Dede Kosasih; Tiara Agustine
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 30 No. 1, Juni 2026
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32550/6x542v28

Abstract

Permasalahan dalam pembelajaran bahasa Sunda, khususnya pada materi aksara Sunda, adalah rendahnya kemampuan membaca siswa yang disebabkan oleh penggunaan media pembelajaran yang masih konvensional, kurang interaktif, serta minimnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Kondisi tersebut menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami dan membaca aksara Sunda, terutama dalam bentuk kalimat tunggal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan media Wordwall dalam meningkatkan kemampuan membaca kalimat tunggal aksara Sunda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kuasi eksperimen. Teknik pengumpulan data meliputi tes, angket, dan wawancara. Analisis data dilakukan menggunakan aplikasi SPSS versi 26 dan Microsoft Excel 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan awal siswa sebelum menggunakan media Wordwall sebesar 53,42, sedangkan rata-rata kemampuan akhir setelah menggunakan media Wordwall sebesar 82,4, dengan peningkatan sebesar 28,98. Hasil uji hipotesis menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan awal dan akhir siswa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media Wordwall efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca aksara Sunda pada siswa kelas X-C SMA Negeri 2 Bandung Semester Genap Tahun Ajaran 2023/2024.   The problem in Sundanese language learning, particularly in Sundanese script material, lies in students’ low reading ability, which is caused by the use of conventional learning media, lack of interactivity, and minimal student engagement during the learning process. This condition leads to difficulties for students in understanding and reading Sundanese script, especially in the form of single sentences. This study aims to describe the use of Wordwall media in improving students’ ability to read single sentences in Sundanese script. This research employed a quantitative approach with a quasi-experimental method. Data were collected through tests, questionnaires, and interviews. Data analysis was conducted using SPSS version 26 and Microsoft Excel 2010. The results showed that the average pre-test score was 53.42, while the average post-test score increased to 82.4, indicating an improvement of 28.98 points. The hypothesis testing using the Wilcoxon Signed Rank Test showed an Asymp. Sig. (2-tailed) value of 0.000 < 0.05, indicating a significant difference between students’ initial and final abilities. Therefore, it can be concluded that Wordwall media is effective in improving students’ ability to read Sundanese script in class X-C of SMA Negeri 2 Bandung in the even semester of the 2023/2024 academic year.
Design of Augmented Reality Interactive Learning Media in Learning Sundanese Fairy Tales Dzakiah, Shoofii Nurrizki; Nugraha, Haris Santosa; Kosasih, Dede; Widyastuti, Temmy
Teknodika Vol 22, No 1 (2024): Teknodika
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/teknodika.v22i1.81744

Abstract

Fairy tales contain noble values that can shape students' characters. Specifically, students' ability to understand Sundanese fairy tales currently tends to be low due to the increasing rarity of Sundanese being used in everyday life. For this reason, it is necessary to involve technology-based media that is interesting and able to increase motivation to learn fairy tales. The purpose of this research is to describe the needs analysis, design, and testing of augmented reality learning media development in Sundanese fairy tale material. The method used in this research was the R&D research method with the ADDIE model. The participants involved in this study included two experts (media and literature learning), six Sundanese language teachers, and 24 elementary school students. The research instruments employed were questionnaires, interviews, and tests. The resulting data were then processed using quantitative descriptive techniques, which were then interpreted qualitatively. The results revealed three things: 1) there was a need for the development of fairy tale learning media using augmented reality media; 2) augmented reality media was designed through three stages, namely formulating media concepts (selection of fairy tales and analysis of fairy tale characteristics), designing storyboards (visualization of plot, setting, and characters), and preparing and determining design components using the assemblr EDU application; and 3), the results of expert validity of the augmented reality media design developed could be categorized as very good, with an average percentage of feasibility reaching 92.4%. The implications of using augmented reality media can color the use of digital media in Sundanese language learning as an alternative solution to improving students' ability to understand Sundanese fairy tales.