Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Toward an Integrated Authentic Material Design Model for EFL Skill Development and Communicative Competence Fitri, Nur Annisa; Sa'adah, Nayla; Irma, Irma; Hidayati, Safarina; Faradila, Faradila; Widiastuty, Hesty
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4b (2025): Edisi Khusus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4b.4169

Abstract

This study integrates theoretical and empirical approaches to the design of instructional materials for teaching English as a Foreign Language (EFL) that cover the four skills of listening, speaking, reading and writing. This research, using the qualitative, library-based synthesis method, systematically compiles and reviews published scholarly books, journal articles, and empirical studies (2010 to 2025) and applies qualitative content analysis, coding and thematic synthesis. The analysis has surfaced three core tenets of effective material design for EFL: authenticity, systematically integrated scaffolding, and learner-centred integration. These tenets assert that EFL instruction, even when framed as a series of discrete lessons, contextually taught and integrated with other skills, results in improved communicative competence and enhanced language transfer. This research study affords EFL teaching, curriculum development, and material design practitioners for face-to-face and online modalities the opportunity to expand their paradigms. The research is unique with the proposal of the Integrated Authentic Material Design Model (IAMDM) that brings together authenticity, scaffolding, and learner centredness as a single theoretical construct that serves to bridge theory and practice while enhancing the pedagogical knowledge of EFL teachers and material developers.
Perbandingan Hasil Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) dan Bakteri Tahan Asam (BTA) pada Pasien HIV Positif di Puskesmas Panarung, Palangkaraya Faradila, Faradila; Ghiffary, Ahmad; Qomariah, Nurul; Risdiansyah, Risdiansyah; Akbar, Muhammad Chairil Rizkyta; Sari, Rahmita
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.10441

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) tetap menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas global, terutama pada pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Diagnosis TB pada pasien HIV sering kali mengalami kendala akibat beban basil yang rendah dan gejala klinis yang tidak khas. WHO merekomendasikan penggunaan Tes Cepat Molekuler (TCM) seperti GeneXpert, namun keterbatasan distribusinya menyebabkan mikroskopis Bakteri Tahan Asam (BTA) masih banyak digunakan di layanan primer. Tujuan: Menilai tingkat akurasi dan kesesuaian antara pemeriksaan TCM dan BTA dalam mendeteksi TB pada pasien HIV positif. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan pada 38 pasien HIV dengan gejala TB di Puskesmas Panarung, Palangkaraya, antara Desember 2024 hingga Juli 2025. Semua responden menjalani pemeriksaan TCM dan BTA secara bersamaan. Analisis data dilakukan menggunakan uji McNemar dan perhitungan nilai Kappa Cohen untuk menilai kesesuaian antar metode diagnosis. Hasil: Seluruh kasus TB (100%) terdeteksi oleh TCM, sedangkan BTA hanya mendeteksi 35 dari 38 kasus (sensitivitas 92,1%; spesifisitas 100%). Nilai Kappa Cohen sebesar 0,78 menunjukkan kesesuaian substansial antara kedua metode. Namun demikian, TCM menunjukkan performa diagnostik yang lebih unggul, khususnya pada pasien dengan imunosupresi berat. Kesimpulan: TCM lebih sensitif dibandingkan BTA dalam mendeteksi TB pada pasien HIV dan sebaiknya dijadikan metode utama dalam skrining TB pada kelompok risiko tinggi. Peningkatan akses terhadap TCM di layanan primer sangat penting dalam mendukung eliminasi TB tahun 2030.
Uji Diagnostik Polymerase Chain Reaction dibandingkan dengan Pewarnaan Eosin dalam Mendeteksi Infeksi Soil-Transmitted Helminths pada Siswa Sekolah Dasar di Palembang Ghiffari, Ahmad; Ridha, Muhammad Faiz; Pratiwi, Ratih; Hartanti, Miranti Dwi; Faradila, Faradila
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12030

Abstract

Soil-transmitted helminthiasis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama pada anak sekolah dasar di wilayah dengan sanitasi yang kurang memadai. Pemeriksaan mikroskopis feses masih banyak digunakan karena sederhana dan murah, namun memiliki keterbatasan pada infeksi dengan intensitas rendah. Metode molekuler seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) dikembangkan untuk meningkatkan deteksi, tetapi kinerjanya pada setting lokal masih perlu dievaluasi. Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan desain cross-sectional yang melibatkan 30 sampel tinja siswa sekolah dasar. Pemeriksaan dilakukan menggunakan pewarnaan langsung dengan eosin (PLDE) sebagai metode rujukan dan PCR. Analisis dilakukan menggunakan tabel 2×2 untuk menentukan sensitivitas, spesifisitas, nilai prediktif positif (PPV), nilai prediktif negatif (NPV), dan akurasi. DSE menunjukkan 8 dari 30 sampel (26,7%) positif, terdiri dari Ascaris lumbricoides (7 sampel) dan Trichuris trichiura (1 sampel). PCR mendeteksi DNA Ascaris lumbricoides pada 11 sampel (36,7%), tanpa deteksi Trichuris trichiura maupun hookworm. Dibandingkan metode rujukan, PCR memiliki sensitivitas 62,5%, spesifisitas 72,72%, PPV 45,45%, NPV 84,21%, dan akurasi 70%. PCR menunjukkan kinerja diagnostik sedang dan berpotensi sebagai metode pelengkap, terutama untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi. Namun, PCR belum mampu mendeteksi seluruh spesies STH yang teridentifikasi secara mikroskopis. Penggunaannya perlu mempertimbangkan kesiapan laboratorium, kualitas sampel, dan kemampuan deteksi spesies. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan sampel lebih besar, target molekuler lebih luas, multiplex PCR, dan metode rujukan yang lebih komprehensif.