Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Unveiling cultural values and pedagogical insights through the terminologies of the Sasak Kepaten tradition Saadilah Husni; Mahsun Mahsun; Burhanudin Burhanudin; Aswandikari Aswandikari; Saharudin Saharudin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42529

Abstract

This study explores the ritual language system in the kepaten tradition of the Sasak community from the perspective of anthropological linguistics. It aims to identify the linguistic forms, cultural meanings, and value systems embedded in death ritual expressions. Language in this context is viewed not merely as a communicative tool but as a symbolic mechanism that structures social, spiritual, and moral behavior. Employing a qualitative–descriptive method through observation, interviews, and documentation, the research collected ritual lexicons analyzed using HBB, HBS, and HBSP techniques to construct taxonomies and semantic domains across three main stages: nyiepan ‘pre-burial’, nguburan ‘burial’, and suwahan ‘post-burial’. The findings reveal that each linguistic form conveys not only lexical meaning but also a triadic value system connecting human–human, human–nature, and human–God relationships. These values form the foundation of what this study terms language as moral ecology—a linguistic system that regulates ethical conduct and sustains communal harmony. From a pedagogical standpoint, the kepaten lexicons provide culturally grounded learning materials that can nurture solidarity, spirituality, and ecological care in character education. Overall, the study enriches anthropological linguistics by positioning ritual discourse as both a moral–ecological practice and a model for heritage-based pedagogy rooted in Sasak cultural wisdom.   Penelitian ini mengkaji sistem bahasa ritual dalam tradisi kepaten masyarakat Sasak melalui perspektif linguistik antropologis. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk lingual, makna budaya, dan sistem nilai yang terkandung dalam tuturan ritual kematian. Bahasa dalam konteks ini tidak dipandang semata sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai mekanisme simbolik yang menstrukturkan perilaku sosial, spiritual, dan moral masyarakat. Dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini menghimpun leksikon ritual yang dianalisis menggunakan teknik HBB, HBS, dan HBSP untuk membangun taksonomi dan domain semantik pada tiga tahap utama: nyiepan ‘pra-pemakaman’, nguburan ‘pemakaman’, dan suwahan ‘pasca-pemakaman’. Temuan penelitian menunjukkan bahwa setiap bentuk lingual tidak hanya memuat makna leksikal, tetapi juga merepresentasikan sistem nilai triadik yang menghubungkan relasi manusia dengan sesama, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Nilai-nilai ini menjadi dasar dari konsep bahasa sebagai ekologi moral (language as moral ecology), yaitu sistem linguistik yang menata perilaku etis dan menjaga keharmonisan sosial. Dari sudut pandang pedagogis, leksikon kepaten dapat dijadikan sumber pembelajaran berbasis budaya yang menumbuhkan solidaritas, religiusitas, dan kepedulian ekologis dalam pendidikan karakter. Secara keseluruhan, penelitian ini memperkaya kajian linguistik antropologis dengan menempatkan wacana ritual sebagai praktik moral-ekologis sekaligus model pedagogi berbasis kearifan lokal masyarakat Sasak.
Verba Denominal dalam Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat Karya Mark Manson Nurwitrun Yustika; Mahsun Mahsun; Muhammad Sukri
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v8i2.1547

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk verba denominal, makna afiks pembentuk verba denominal, dan fungsi verba denominal dalam buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dianalisis menggunakan metode padan intranlingual. Hasil penelitian menunjukkan, ada tiga afiks yang membentuk verba denominal dalam buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat, yaitu, prefiks, sufiks dan konfiks. Makna afiks pembentuk verba denominal tersebut yaitu, Prefiks {meŋ-} bermakna `melakukan`, `menuju`, dan `menyerupai`. Prefiks {bər-} bermakna `menghasilkan`, ‘mempunyai`, dan `menuju`. Prefiks {di-} bermakna `menyatakan` dan `menentukan`. Prefiks {tər-} bermakna `ketidak sengajaan`, dan `keadaan`. Prefiks {pər-} bermakna ` membuat`. Prefiks {sə-} menyatakan makna `satu`, dan `seluruh`. Sufiks {-an} bermakna ‘perbuatan pada bentuk dasar’. Konfiks {kə-[an]} bermakna menyatakan `hal masalah pada bentuk dasar` dan, menyatakan `tempat` atau `daerah`. Konfiks {pər-[an]} bermakna `hal` atau `hasil`, `tempat`, `daerah`, dan `berbagai-bagai`. Konfiks {pəŋ-[an]} bermakna `hal melakukan perbuatan pada kata yang sejalan`, menyatakan makna `hasil perbuatan pada kata yang sejalan`, menyatakan `alat yang digunakan untuk melakukan perbuatan pada kata yang sejalan`, dan menyatakan `tempat melakukan perbuatan yang tersebut pada kata yang sejalan`. Konfiks {bər-[an]} bermakna `saling`. Konfiks {məŋ-[an]} bermakna`melakukan`. Dan konfiks {məŋ-[i]} bermakna `melakukan`. Terdapat tiga fungsi verba denominal dalam buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat dibagi kedalam dua kategori verba yaitu verba transitif memiliki fungsi sebagai Subjek, objek, predikat, keterangan dan pelengkap. Dan verba taktransitif memiliki fungsi sebagai predikat, keterangan dan pelengkap.
Sosialisasi Penentuan Solusi untuk Peningkatan Mutu Pembelajaran bagi Guru SDN 1 Montong Beter Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur Burhanuddin Burhanuddin; Mahsun Mahsun; Sukri Sukri; Ahmad Sirulhaq; Johan Mahyudi; Syarifuddin Syarifuddin
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 8 No. 4 (2025): November
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppm.v8i4.11237

Abstract

Data guru SDN 1 Montong Beter Kecamatan Sakra Barat Kabupaten Lombok Timur menunjukkan jika 11 dari 13 guru disertifikasi. Hal tersebut mengindikasikan jika kemampuan guru dalam melakukan inovasi pembelajaran masih rendah. Sebab, seorang guru harus secara terus menerus melakukan inovasi pembelajaran dan hal tersebut dapat terjadi jika secara reflektif mampu menemukan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran. Bukan hanya itu, guru diharapkan mampu mengdiagnosis dan menentukan solusi yang tepat atas masalah yang dihadapi. Dengan demikian mutu pembelajaran dapat meningkatkan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (abdimas) ini ditujukan untuk membekali para guru SDN 1 Montong Beter Kecamatan Sakra Barat Kabupaten Lombok Timur bagaimana menemukan masalah pembelajaran, mengidentifikasi faktor penyebab, serta menemukan alternatif solusi pembelajaran. Kegiatan ini telah dilaksanakan pada Ahad, 20 September 2025 di Ruang Kelas Serba Guna SDN 1 Montong Beter Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan persiapan dilakukan koordinasi dengan salah seorang guru dan kepala sekolah terkait waktu dan tempat pelaksanaan, serta sarana prasarana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan. Pemateri 1 menyampaikan tentang kondisi kemampuan belajar anak Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain, yang masih di bawah rata-rata dilihat dari Tingkat kemampuan berpikir. Anak-anak negara ASEAN mampu berpikir kritis dengan baik dan cepat, sedangkan anak-anak Indonesia masih berada pada kemampuan mengetahui dan menghapal. Perencanaan dan pelaksanaan harus dikembangkan tidak hanya untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kemampuan abad 21. Pemateri 2 menuntun peserta untuk menemukan masalah dan bentuk solusi sebagai tindakan untuk memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi para guru. Seluruh peserta secara mandiri dapat mengidentifikasi masalah hingga menentukan alternatif solusi pembelajaran. Kegiatan ini mendapatkan tanggapan positif dan memiliki arti penting bagi peningkatan mutu pembelajaran di kelas sehingga dapat direplikasi ditempat lain.
REDUPLIKASI SEMANTIS DALAM PEMBENTUKAN KATA BAHASA REMPUNG KAJIAN PERSPEKTIF DIAKRONIS Yeni Muzianti; Mahsun Mahsun; Muhammad Sukri
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 23 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v23i1.9873

Abstract

The study investigates semantic reduplication in the Rempung language, aiming to elucidate its forms, functions, and meanings. Employing a qualitative descriptive approach, the research gathers data in the form of words or phrases that exhibit semantic reduplication. Data analysis methods include introspection and the speech method, encompassing direct and indirect speech, note-taking, and recording. With a diachronic perspective, the research utilizes the intralingual Equivalence method, employing both basic and advanced comparison techniques. The analysis results are presented formally and informally. The study draws upon the Simatupang theory and identifies seven forms of semantic reduplication across three categories. Semantic reduplication in the Rempung language serves two functions: inflection and derivation, each carrying nuanced meanings
MAKNA PERIBAHASA BIMA PADA MASYARAKAT DESA WADUKOPA KECAMATAN SOROMANDI KABUPATEN BIMA Nurwidayanti Nurwidayanti; Mahsun Mahsun; Ahmad Sirulhaq
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 24 No. 1 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v24i1.13087

Abstract

This research aims to describe the form and meaning of Bima proverbs in the Wadukopa Village community, Soromandi District, Bima Regency. The typa of research is descriptive qualitative research. The data source for this study is informants or the Wadukopa community. The data collection methode used in the study was through observation, interviews, and documentation. Observation data in the form of notes related to the behavior and interactions of informants, the interview data in the from information about proverb obtained through a question and answer process between the interviewer and the informant. While the documentation data in the form of written materials that have passed related to Bima proverbs. The data analysis method uses intralingual and extralingual equivalents. Intralingual iquivalents are used analyze the linguistic meaning in proverbs, while extralingual is used to understand how the culture context influence proverbs. Based on the result of the data analysis, it was found that the form of Bima proverbs in the Wadukopa community consists of proverbs in the form of proverbs, parable proverbs, and proverbs of proverbs/sayings. Meanwhile, the meaning of proverbs found in the Wadukopa village community is the denotative and connotative meanings as well as the cultures views of the community which are used to advise, motivative, provide support, remind and make the community aware, especially the younger generation who still lack knowledge. Proverbs can also be used to shape the character of the younger generation. By using proverbs in speaking, it is considered to prioritize politeness in language without saying it directly.
PERBEDAAN FONOLOGIS DAN LEKSIKAL ISOLEK SAMBORI DAN TARLAWI DI KABUPATEN BIMA Utswatun Hasanah; Mahsun Mahsun; Burhanuddin Burhanuddin
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 24 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v24i2.13209

Abstract

This study aims to describe the phonological and lexical differences between the Sambori and Tarlawi isolects. The type of research used is quantitative descriptive with a diachronic perspective. Data were collected using a research instrument that provided 200 basic Swadesh?Morish vocabulary items and 867 cultural and non-basic vocabulary items classified according to their semantic fields, employing the “cakap” method and the “simak” method. Data collection was conducted by selecting three informants from each village according to certain criteria. The data collection methods used were the “cakap” method and the “simak” method. The data analysis method employed intralingual matching with the basic technique of intralingual comparison. Further analysis calculated the percentage similarity (status) of isolects in the research area using a dialectometry method. Based on the results conducted, two phonological differences were found, namely vowel differences and consonant differences. Meanwhile, based on the calculated percentage determination of phonological differences in the research area (Sambori village and Tarlawi village) using dialectometry, a difference value of 12.5% was found, indicating a dialect difference between Tarlawi village and Sambori village at the phonological level. Then, at the lexical level, a difference value of 36.5% was found, meaning there is a sub-dialect difference between the Sambori isolect and the Tarlawi isolect.
ETNOSEMANTIK DALAM KLASIFIKASI KAIN TENUN MASYARAKAT BIMA Dini Eka Fitriani; Mahsun Mahsun; Saharudin Saharudin; Nurul Aini
Cordova Journal Vol. 14 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : The Center for Language Development, Mataram State Islamic University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/cordova.v14i1.10117

Abstract

Indicates that it is closely related to the perspective, social status, traditions and customs of the local community. Therefore, it is interesting to research in more depth from the linguistic and cultural aspects. The aim of this research is to describe the lexemes used to label woven fabrics in the Bima community and explain the cultural views of the local community which are reflected in the lexemes for woven fabrics in the Bima community. The research method used is descriptive qualitative with data collection using interviews, documentation and observation. The results of the research show that there are five types of woven fabric based on the yarn used, namely tembe nggoli kabali, tembe galendo, tembe salungka, tembe mesrais, and tembe kafa na'e, while there are 15 types of woven fabric based on motifs, including tembe salungka nggusu waru, tembe salungka karai cepe, tembe salungka kabate oi moti, tembe salungka ante fare, tembe salungka fu'u ringi dan pariah, tembe salungka kakando, tembe salungka dumu kakando, tembe salungka coma kapi, tembe salungka mada sahe, tembe salungka kapempe, tembe salungka raba, tembe salungka nasi, tembe salungka uma lengge, tembe salungka bunga satako, and tembe salungka kapi keu. In the color category of Bima woven cloth there are nine colors, namely yellow, green, blue, black, white, red, brown, purple and orange. For the community, lace weaving is an activity that must be carried out by every woman in this village, of all ages, regardless of their status and educational background.