Claim Missing Document
Check
Articles

Gambaran Tingkat Kecemasan Dengan Indeks Prestasi Kumulatif Rendah Pada Mahasiswa Kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Tanjungpura Angkatan 2007 sampai dengan 2010 Armyanti, Ita; Tejoyuwono, Agustina Arundina Triharja; Fitrianingrum, Iit
Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora Vol 4, No 1 (2013): April 2013
Publisher : UNIVERSITAS TANJUNGPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j-psh.v4i1.22020

Abstract

Mahasiswa kedokteran rentan mengalami kecemasan, karena sistem belajar pada program studi pendidikan dokter yang kompleks dan padat. Hal ini dapat mempengaruhi hasil belajar mahasiswa, terutama dengan menurunkan kemampuan konsentrasi dan daya ingat. Selain itu, adanya tuntutan akademik, harapan keluarga dan masyarakat juga turut meningkatkan beban studi mahasiswa yang dapat berakibat pada peningkatan kecemasan. Muncul gambaran tingkat kecemasan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) rendah pada mahasiswa kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) Universitas Tanjungpura angkatan 2007 sampai dengan 2010. Penelitian menggunakan metode deskriptif  rancangan cross sectional. Subjek penelitian adalah 29 mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Dokter FKIK Untan angkatan 2007 sampai dengan 2010 dengan Indeks Prestasi Semester (IPS) < 2.00 pada semester yang sedang dijalankan dengan nilai L-MMPI < 10. Pengumpulan data menggunakan kuisioner tertutup  serta menggunakan Beck Anxiety Inventory sebanyak 21 pertanyaan. Hasilnya adalah 29 mahasiswa kedokteran PSPD Untan, 37,9% mahasiswa memiliki  kecemasan tingkat normal, 48%  kecemasan rendah dan sedang serta 14,1% dengan kecemasan berat. Masalah akademik sering dialami oleh mahasiswa, diikuti oleh masalah sosial dan emosional.  Oleh sebab itu perlu peningkatan peranan Pembimbing Akademik untuk meningkatkan kepercayaan mahasiswa dalam menghadapi setiap kegiatan akademik.Kata Kunci: Kecemasan, Indeks Prestasi Kumulatif Rendah, Mahasiswa Kedokteran.
Knowledge Level about Thalassemia among High School Students in Pontianak City, West Kalimantan, Indonesia Noeriman, Aisya Rezki; Fitrianingrum, Iit; Armyanti, Ita
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 20, No 2: July 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.200248

Abstract

Introduction: Thalassemia is a genetic disorder that affect the formation of hemoglobin and has high prevalent in Indonesia. Awareness of genetic screening as one of steps to prevent thalassemia require adequate knowledge about thalassemia. There is no data refers to knowledge about thalassemia among high school student in Pontianak City meanwhile that data is important as initial data to planning thalassemia prevention program. Objective: This study assessed knowledge about thalassemia among high school students in Pontianak City. Method: This descriptive study assessed 100 high school students in Pontianak City chosen by propotionated stratified random sampling according to the number of high school students in each district. Result: Most respondents have poor knowledge about thalassemia (49%) with more female students have good knowledge (27,1%) than male students (10%). Sources of information used by respondents are internet (44%), school (17%), health workers (17%), seminars (10%), relatives/friends (6%), and print media (6%). Conclusion: Many high school students in Pontianak City has poor knowledge about thalassemia (49%) therefore spreading information about thalassemia is essential to be done through the most information source that used by students which is internet (44%) or health education program with school and health workers are involved (17%).       
Tingkat Empati Mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, Pontianak, Indonesia Sihombing, Novta Rouli; Armyanti, Ita; Wicaksono, Arif
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.027 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v48i4.1360

Abstract

Latar Belakang. Empati merupakan faktor penting dalam perawatan, pendidikan kedokteran, dan profesionalisme. Tujuan. Mengetahui tingkat empati mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. Metodologi. Desain penelitian analitik dengan pendekatan potong lintang, jumlah sampel 86 mahasiswa kedokteran tahun pertama, kedua, ketiga, dan keempat, dipilih menggunakan Probability Sampling jenis Proportionate Stratified Random Sampling. Pengumpulan data primer menggunakan kuesioner Jefferson Scale of Empathy Student version (JSE S-Version) yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Data sekunder berupa informasi jumlah mahasiswa Program Studi Kedokteran tahun pertama, kedua, ketiga dan keempat. Analisis statistik uji T tidak berpasangan dan uji One-way Analysis of Variance (ANOVA). Hasil. Rerata skor empati mahasiswa program studi kedokteran tahun pertama, kedua, ketiga, dan keempat adalah 114,77 (SD 10,187). Mahasiswa yang memiliki tingkat empati rendah sebanyak 45 (52,3%) mahasiswa, dan yang memiliki tingkat empati tinggi sebanyak 41 (47,7%) mahasiswa. Hasil analisis statistik variabel jenis kelamin menunjukkan perbedaan rerata skor empati yang signifikan (p = 0,037), sedangkan variabel tahun pendidikan menunjukan perbedaan yang tidak signifikan (p = 0,136). Simpulan. Rerata skor empati mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura 114,77 menunjukkan tingkat empati yang tinggi. Mahasiswa perempuan memiliki rerata skor empati lebih tinggi dibandingkan mahasiswa laki-laki. Rerata skor empati mahasiswa Program Studi Kedokteran menurun tidak signifikan seiring meningkatnya tahun pendidikan. Background. Empathy is an important factor in patient care, medical education, and professionalism. Purpose. To measure the level of empathy among medical students at the Faculty of Medicine Tanjungpura University. Methodology. The research design was analytic cross-sectional approach with 86 respondents from first, second, third, and fourth year medical students, using the Probability Sampling method of Proportionate Stratified Random Sampling. Primary data was collected by Jefferson Scale of Empathy Student version (JSE S-Version) questionnaire Indonesian translation. Secondary data was from information on the Medical Study Program students in the first, second, third, and fourth year. Statistical analysis used independent samples T test and One-way Analysis of Variance (ANOVA) test. Results. The mean empathy scores of first, second, third, and fourth year medical students are 114,77 (SD 10,187). Students with low level of empathy are 45 (52.3%) students, and high level of empathy was found in 41 (47.7%) students. Statistical analysis on gender variable showed a significant difference in the mean score of empathy (p = 0.037), while on the year of education variable did not result in significant difference (p = 0.037). Conclusion. The average empathy score among medical student at the Faculty of Medicine, Tanjungpura University was 114.77, indicates a high level of empathy. Female students had higher mean empathy scores than male students. The mean empathy score of Medical Study Program students decreased not significantly with increasing years of education. Novta Rouli Sihombing, Ita Armyanti, Arif Wicaksono. Level of Empathy
Hubungan Tingkat Stres dengan Derajat Keparahan Psoriasis di RSUD Dr. Soedarso Pontianak, Juli 2014 – Januari 2015 Resti Pratiwi, Isma; Mustikaningsih, Retno; Armyanti, Ita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 4 (2016): Adiksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2001.04 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i4.43

Abstract

Stres merupakan respons mental dan fisiologis tubuh terhadap stimulus yang dapat memicu berbagai kondisi dermatologi, salah satunya psoriasis. Penelitian ini merupakan studi analitik potong lintang dengan tujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres dan derajat keparahan psoriasis pada 35 pasien psoriasis di Poli Penyakit Kulit dan Kelamin di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soedarso Pontianak periode Juli 2014 – Januari 2015, dianalisis dengan uji chi-square dan uji alternatif penggabungan sel dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Data diperoleh dari kuesioner Depression Anxiety Stress Scale dan perhitungan skor Psoriasis Area and Severity Index. Variabel yang diteliti adalah tingkat stres dan derajat keparahan psoriasis. Sampel penelitian adalah 23 laki-laki dan 12 perempuan, dengan hasil rerata skor PASI 9,94 ± 6,4 dan rata-rata nilai DASS pasien 14,4 ± 7,2. Analisis menunjukkan hubungan bermakna antara tingkat stres pasien psoriasis dan derajat keparahan psoriasis (p=0,001), sehingga disimpulkan bahwa tingkat stres berpengaruh terhadap derajat keparahan psoriasis.
Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Tingkat Gejala Kecemasan Mahasiswa Program Studi Kedokteran Tingkat I Fakultas Kedoteran Universitas Tanjungpura Magdalina, Yessi Yulia; Sinaga, Jojor Putrini; Armyanti, Ita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 9 (2019): Neuropati
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.491 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i9.417

Abstract

Latar Belakang. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan berkaitan dengan emosi yang dapat mempengaruhi berbagai bidang kehidupan manusia. Mahasiswa kedokteran tingkat I rentan mengalami kecemasan karena penyesuaian lingkungan pendidikan. Tujuan. Mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional terhadap tingkat gejala kecemasan pada mahasiswa Program Studi Kedokteran tingkat I Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. Metodologi. Desain penelitian adalah cross sectional dengan jumlah sampel 56 mahasiswa kedokteran tingkat I. Pengumpulan data primer menggunakan kuesioner lembar stresor, kecerdasan emosional, dan BAI (Beck Anxiety Inventory). Data sekunder berupa informasi jumlah mahasiswa Program Studi Kedokteran tingkat I. Uji hipotesis yaitu uji korelasi Spearman. Hasil. Mahasiswa Program Studi Kedokteran tingkat I sebagian besar memiliki tingkat kecerdasan emosional sedang untuk variabel pengenalan diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati, dan keterampilan sosial. Jumlah mahasiswa yang tidak mengalami kecemasan sebanyak 20 (35,7%). Mahasiswa yang mengalami kecemasan ringan sebanyak 10 (17,9%), kecemasan sedang 18 (32,1%) dan kecemasan berat 8 (14,3%). Hasil uji hipotesis variabel pengenalan diri (p= 0,000; r= -0,467), pengendalian diri (p= 0,120; r= -0,210), motivasi diri (p= 0,023; r= -0,304), empati (p= 0,039; r= -0,277), dan keterampilan sosial (p= 0,000; r= -0,521) terhadap tingkat gejala kecemasan. Simpulan. Terdapat korelasi negatif yang signifikan antara variabel pengenalan diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial terhadap tingkat gejala kecemasan. Tidak terdapat hubungan signifikan antara variabel pengendalian diri terhadap tingkat gejala kecemasan.Background. Emotional intelligence is an ability related to emotions that can affect various areas of human life. First-year medical students are vulnerable to anxiety caused by adjustment disorder to new educational environment. Purpose. To assess the relationship between emotional intelligence and the anxiety level among first-year medical students of Tanjungpura University Medical School. Methods. The design was cross sectional on 56 first-year medical students. Primary data were collected by stressor sheet, emotional intelligence, and BAI (Beck Anxiety Inventory) questionnares. Secondary data was the information on number of first-year students in Medical Program. Data was analysed by Spearman correlation. Results. Most first-year medical students had moderate level of emotional intelligence for self-recognition, self-control, self-motivation, empathy, and social skills variables. Twenty (35,7%) students did not experience anxiety. Ten students experienced mild anxiety 10 (17,9%), 18 (32,1%) moderate anxiety and 8 (14,3%).severe anxiety. Self-recognition (p= 0,000; r= -0,467), self-control (p= 0,120; r= -0,210), self-motivation (p= 0,023; r= -0,304), empathy (p= 0,039; r= -0,277), and social skills (p= 0,000; r= -0,521) were correlated with the level of anxiety symptoms. Conclusion. There were significant negative correlation between self-recognition, self-motivation, empathy and social skils variables with the level of anxiety symptoms. No significant relationship between self-control with the level of anxiety symptoms.
Hubungan Kecerdasan Emosional terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Yella Harianja, Christy; Armyanti, Ita; Fitrianingrum, Iit
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.114 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v48i3.1324

Abstract

Latar Belakang. Kecerdasan emosional berperan penting dalam pendidikan kedokteran, menyediakan perawatan klinis yang baik, dan mengelola semua relasi sebagai bagian dari proses perawatan medis. Tujuan. Mengetahui hubungan kecerdasan emosional terhadap prestasi akademik mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. Metodologi. Desain penelitian adalah analitik pendekatan potong lintang, dengan jumlah sampel 72 mahasiswa kedokteran tahun 2016, 2017, dan 2018. Penelitian dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Pontianak pada bulan Oktober 2019 hingga Januari 2020. Pengambilan sampel dengan cara Probability Sampling jenis Proportionate Stratified Random Sampling. Data diperoleh dari pengisian data diri, kuesioner Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory (L-MMPI), kuesioner Kecerdasan Emosional, dan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Uji hipotesis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil. Mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura sebagian besar memiliki tingkat kecerdasan emosional tinggi pada semua variabel kecerdasan emosional dan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif sangat memuaskan. Hasil uji hipotesis hubungan prestasi akademik dengan variabel pengenalan diri (p=0,001, r= 0,392), pengendalian diri (p= 0,013, r=0,292), motivasi (p= 0,000, r=0,439), empati (p=0,001, r=0,378), keterampilan sosial (p=0,001, r=0,382). Simpulan. Terdapat hubungan positif bermakna antara prestasi akademik dengan variabel kecerdasan emosional di kalangan mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura.Background. Emotional intelligence plays an important role in medical education, providing good clinical care, and managing all relationships as part of the treatment process. Aim. To figure out the relationship between emotional intelligence and the academic achievement among Medical Program Students at the Faculty of Medicine, Tanjungpura University, Indonesia Method. A cross-sectional analysis with a total sample of 72 medical students year 2016, 2017, and 2018 was done in Faculty of Medicine, Tanjungpura University in October 2019 to January 2020. Sampling was with Proportionate Stratified Random Sampling. Data was obtained from self-data filling, Lie Minnesota Multiphasic Personality Inventory (L-MMPI) questionnaire, Emotional Intelligence questionnaire, and Grade Point Average (GPA) score. Data was analyzed with Spearman correlation test. Results. Most Medical Study Program students at the Faculty of Medicine, Tanjungpura University (70.8%) have high levels of emotional intelligence on all emotional intelligence variables and have a very satisfying Grade Point Average. Hypothesis test results for correlation between academic achievement and self-introduction variables : p = 0.001, r = 0.392, self-control : p = 0.013, r = 0.292, motivation : p = 0.000, r = 0.439, empathy : p = 0.001, r = 0.378, social skills : p = 0.001, r = 0.382. Conclusion. There is a significant positive correlation between variables of emotional intelligence and academic achievement among Medical Study Program students at the Faculty of Medicine, Tanjungpura University.
Efek Kekurangan Energi Protein terhadap Berat Badan dan Berat Usus Halus Tikus Sprague-Dawley -, Chelsia; Arundina TT, Agustina; Armyanti, Ita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.98 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i10.711

Abstract

Kekurangan energi protein (KEP) merupakan masalah dunia, dengan prevalensi 15,1% pada tahun 2012. Pada KEP hampir seluruh organ berkurang massanya sebagai mekanisme kompensasi. KEP menyebabkan atrofi usus halus yang menyebabkan kegagalan pencernaan dan memperparah KEP. Makin lama KEP, berat badan dan berat usus halus tikus Sprague-Dawley makin rendah; penurunan berat tersebut akan berhenti pada suatu saat. Berat badan rendah dikaitkan dengan rendahnya berat usus halus tikus Sprague-Dawley pada KEP.Protein Energy Malnutrition (PEM) is a worldwide problem, with 15.1% prevalence in 2012. In PEM most organs loss mass as mechanism of compensation. PEM leads to small intestine atrophy that cause intestinal failure and worsening PEM. Body weight and small intestine weight of Sprague-Dawley rats are decreasing in PEM. The rates of decreases is smaller over time and stop at a certain point. Low body weight is associated with low small intestine weight of Sprague-Dawley rats with PEM.
Persepsi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Mengenai Konsep Profesionalisme Dokter Purwanti, Melvy; Armyanti, Ita; Asroruddin, Muhammad
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.122 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i12.1242

Abstract

Latar Belakang: Salah satu standar kompetensi dokter lulusan Indonesia adalah profesionalisme; usaha pembelajaran profesionalisme sangat tepat jika dimulai sejak dini. Tujuan: Mengetahui persepsi mahasiswa kedokteran Prodi Kedokteran FK UNTAN tahap akademik dan profesi tentang konsep profesionalisme dokter. Metodologi: Penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan wawancara mendalam. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling. Responden berjumlah 10 orang mahasiswa. Analisis data dengan analisis tematik. Hasil: Sebanyak 7 dari total 10 responden (70%) mendefinisikan profesionalisme dokter yaitu seorang dokter yang bekerja sesuai standar profesi dokter. Mengenai persepsi atribut perilaku profesionalisme, 7 responden (70%) menyatakan bahwa dokter yang profesional harus memiliki tanggung jawab. Seluruh responden menyatakan prinsip pembelajaran profesionalisme yaitu dilatih dan diterapkan sejak mahasiswa akademik-profesi hingga menjadi dokter serta terintegrasi dengan kurikulum. Sebanyak 5 responden (50%) menyatakan peran penting profesionalisme pada pendidikan kedokteran yaitu belajar profesionalisme agar terbiasa saat menjadi dokter. Simpulan: Profesionalisme dalam kedokteran perlu diperkenalkan kepada mahasiswa sejak dini. Pendidikan profesionalisme juga harus dengan pengarahan dan bimbingan.Background: One of the standard of competencies of Indonesian Doctor is professionalism. Professionalism is obligatory for all doctors and this competence can be acquired at early phase. Objective: This paper aims to identify the perceptions of academic and profession stage medical students in Tanjungpura University on the concept of doctor’s professionalism. Methodology: This paper was a descriptive qualitative with in-depth interview. Ten participants were selected through purposive sampling method. Data were analysed thematically. Results: Seven of 10 participants (70%) defined doctor’s professionalism as work according to the standards of doctor profession. Seven (70%) participants stated that a professional doctor must have a sense of responsibility. All participants indicated that professionalism training should begin in academic-profession level. Five respondents (50%) stated the important role of professionalism in medical education, namely learning professionalism to get used to being a doctor. Conclusion: In medical faculty, professionalism should be introduced as early as possible. 
Gambaran Evaluasi Penilaian Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter terhadap Lingkungan Pembelajarannya Agustina Arundina Triharja Tejoyuwono; Ita Armyanti; Rangga Putra Nugraha
Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia: The Indonesian Journal of Medical Education Vol 4, No 3 (2015): NOVEMBER
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.374 KB) | DOI: 10.22146/jpki.25279

Abstract

Background: Medical science program Faculty of Medicine Tanjungpura University implements a Competency-Based Curriculum or in Indonesian called as Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), corresponded to the Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi III (KIPDI III). The curriculum is applied since academic year of 2005/2006 and has been evaluated into Curriculum of 2013 (Kurikulum 2013). Learning environment is the manifestation of a curriculum, so that the assessment of the environment in the institution of medical program is a part of the implementation of the evaluation of the curriculum. DREEM questionnaire (Dundee Ready Education Environment Measure) is one of the tools that are appropriate to measure the learning environment. This research aims to assess the students’ perception of the learning environment on academic year of 2013/2014.Method: This research is a descriptive study with cross sectional design, conducted to measure the learning environment in students of medical science program. The DREEM questionnaire was used as the measurement tool. This research was conducted in November 2013 at Faculty of Medicine Tanjungpura University, Pontianak, West Borneo.Results: The total score of the DREEM obtained in this research is 14,55/200, which shows that students considered the learning environment, including lecturers, social environment, learning process, academic achievement, and learning atmosphere as positive environment. The students assumed that the environment could still be improved by optimizing the resources.Conclusion: The students inferred that the learning environment could still be improved by optimizing the existing resources as well as getting support by the faculty and university administrators itself.
THE ROLE OF ACADEMIC ADVISORS IN IMPROVING MEDICAL STUDENTS’ MOTIVATION: A CASE-STUDY Ita Armyanti
Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia: The Indonesian Journal of Medical Education Vol 9, No 1 (2020): MARET
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpki.45064

Abstract

Introduction: Providing assistance and student support, especially in medical education, play pivotal role in medical students education. The role of academic advisor, would run properly, if it has the ability as a counselor. This article aims to describe the role of academic advisors in improving the learning motivaton in medical students, using case presentation approach.Discussion: The role of academic advisors as a counselor, would occur if it has ability as counselor, ability to empathize, effective communication skill, and tailored to students characteristics. Increasing students’ motivation, could be done through the utilization of the third environment. The family bonding plays an important role to imporve students’ learning motivation.Conclusion: Providing assistance and student support should be given according to students’ problems and characteristics. The role of an academic advisors, as a counselor, would improve students’ motivation to learn.