p-Index From 2021 - 2026
6.824
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Litera Jurnal Bahasa dan Sastra Basastra: Jurnal Kajian Bahasa dan Sastra Indonesia BAHASTRA Poetika: Jurnal Ilmu Sastra Semantik : Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia KEMBARA ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA Kajian Linguistik dan Sastra Lingua Franca: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Jurnal Bindo Sastra Resona : Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat BASINDO : jurnal kajian bahasa, sastra Indonesia, dan pembelajarannya Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Parafrase: Jurnal Kajian Kebahasaan dan Kesastraan Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Belajar Bahasa : Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Metalingua Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Puitika Magistra Andalusia : Jurnal Ilmu Sastra Pena Literasi Tonil, Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema UNDAS: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra Alayasastra: Jurnal Ilmiah Kesusastraan Ghancaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Abdimas: Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Merdeka Malang MEDAN MAKNA: Jurnal Ilmu Kebahasaan dan Kesastraan Anaphora: Journal of Language. Literary and Cultural Studies Jurnal Genre (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Jurnal Kata : Penelitian tentang ilmu bahasa dan sastra Aurelia: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia EJOIN : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Claim Missing Document
Check
Articles

Dinamika Maskulinitas dan Nasionalisme Masyarakat Jawa Di Era Majapahit Mega Widyawati; Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v4i2.14288

Abstract

Maskulinitas dan nasionalisme selama ini menggambarkan fenomena di mana konsepsi negara atau bangsa, termasuk bagian dari kedaulatan dan identitas yang berkontribusi dalam kaitannya dengan peran gender. Artinya, mikrokultur maskulinitas dalam kehidupan sehari-hari mengartikulasikan dengan sangat baik dengan tuntutan nasionalisme. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk maskulinitas dan nasionalisme yang beroperasi pada kultur masyarakat Jawa dahulu, tepatnya pada era Kerajaan Majapahit. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif.  Sumber data penelitian berupa novel Jayaning Majapahit (2014) karya Agus S. Soerono. Teknik pengumpulan data memakai teknik baca-catat. Analisis data dilakukan dengan menyajikan data, menginterpretasi data, dan menarik kesimpulan berdasarkan tujuan yang dinyatakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa novel Jayaning Majapahit mewacanakan kedudukan tokoh laki-laki lebih mendominasi dalam urusan kedaulatan kerajaan Majapahit, baik dalam urusan mengatur strategi politik dalam pemerintahan maupun mengatur strategi perang. Melalui dua bentuk dominasi maskulinitas, masyarakat majapahit lebih spesifiknya pada laki-laki berada di level tertinggi dalam situasi posisi terkait menjaga dan mempertahankan nasionalisme kerajaan.
Front Matter Vol 4 No 2 2020 Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v4i2.14345

Abstract

Back Matter Vol 4 No 2 2020 Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v4i2.14346

Abstract

Front Matter Vol 5 No 1, April 2021 Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Back Matter Vol 5 No 1, April 2021 Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komodifikasi mitos Eyang Sapu Jagad sebagai promosi wisata dan daya tarik pengunjung di Kabupaten Malang Widi Sukmawati Trisnatul Rohma; Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 2 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v5i2.17440

Abstract

Mitos Eyang Sapu Jagad adalah sastra lisan milik masyarakat Dusun Ubalan, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Keberadaan mitos ini penting bagi kehidupan masyarakat karena dianggap memiliki nilai spiritual sekaligus dapat menjadi daya tarik wisata untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan transformasi peninggalan Eyang Sapu Jagad sebagai alat promosi dan daya tarik wisata serta memaparkan tipe pengunjung berdasarkan motif yang mendasarinya datang. Penelitian menggunakan desain deskriptif-kualitatif dengan pendekatan sastra pariwisata. Sumber data penelitian ialah informan dari Dusun Ubalan dan berbagai daerah, catatan observasi, dan dokumentasi. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara tidak terstruktur, observasi non partisipan, dokumentasi, perekaman, dan pencatatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petilasan Eyang Sapu Jagad berupa “Sumber Umbulan” yang menjadi daya tarik pengunjung datang melakukan ritual pada malam jumat legi dan bulan Selo, telah dikomodifikasikan oleh pengelola wisata yang terdiri dari masyarakat Dusun Ubalan menjadi wisata religi bernama “Sumber Umbulrejo”. Komodifikasi dilakukan dengan menyediakan fasilitas utama seperti pesarean dan bilik mandi untuk melakukan ritual sakral, serta fasilitas pendukung seperti dua kolam renang, destinasi kreatif spot foto, tempat kuliner, akses jalan, lahan parkir, dan loket karcis. Sajian dua fasilitas tersebut mengakibatkan dualitas tipe pengunjung yakni pengunjung pilgrimis dan pengunjung generalis. Dapat disimpulkan adanya komodifikasi tidak menyebabkan hilangnya nilai kesakralan pada mitos, tetapi memperluas jaringan ekonomi-sosial masyarakat sekitar.       The myth of Eyang Sapu Jagad is an oral literature belonging to the people of Dusun Ubalan, Malang Regency, East Java Province. The existence of myths is important for people's lives because they are considered to have spiritual value as well as being a tourist attraction to improve the economy of the surrounding community.. This study aims to describe the transformation of Eyang Sapu Jagad heritage as a promotional tool and tourist attraction and to describe the types of visitors based on the underlying motive for coming. The research uses a descriptive-qualitative design with a tourism literature approach. Sources of research data are informants from Ubalan Hamlet and various regions, observation notes, and documentation. Data were collected by using unstructured interview techniques, non-participant observation, documentation, recording, and recording. The results showed that the petilasan of Eyang Sapu Jagad in the form of "Sumber Umbulan" which became an attraction for visitors to come to perform rituals on the night of Friday Legi and the month of Selo, had been commodified by the tour manager consisting of the people of Dusun Ubalan into a religious tour called "Sumber Umbulrejo". The commodification is carried out by providing main facilities such as boarding and bathing rooms to perform sacred rituals, as well as supporting facilities such as two swimming pools, creative photo spots destinations, culinary places, road access, parking lots, and ticket booths. The presentation of these two facilities resulted in a duality of types of visitors, namely pilgrim visitors and generalist visitors. It can be concluded that the existence of commodification does not cause the loss of the sacred value of the myth, but expands the socio-economic network of the surrounding community.
Arketipe peran Ibu dalam cerita rakyat nusantara dan kontribusinya terhadap terapi lintas budaya Eggy Fajar Andalas; Sugiarti Sugiarti
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 2 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v5i2.18019

Abstract

Saat ini, sensivitas budaya di bidang psikoterapi menjadi isu yang penting karena tumbuhnya kesadaran bahwa berbagai praktik yang dilakukan selama ini bersifat Eurosentris. Para ahli mengabaikan fakta keberagaman latar belakang budaya pasien. Padahal, banyak terapis yang menangani pasien dari berbagai latar belakang budaya menyadari adanya keunikan budaya pada setiap pasiennya. Sayangnya, belum banyak riset yang berusaha memahami dan menggali kekayaan budaya yang ada dalam cerita rakyat dan dimanfaatkan dalam bidang terapi. Penelitian ini bertujuan mendeksripsikan arketipe peran Ibu dalam cerita rakyat nusantara dan signifikansinya sebagai mental budaya masyarakat dapat berkontribusi terhadap terapi lintas budaya. Penelitian menggunakan 288 cerita rakyat Nusantara. Metode analisis yang digunakan adalah analisis isi dan studi dokumen. Hasil Penelitian menunjukkan dalam imajinasi kolektif masyarakat Nusantara, Ibu arketipe peran Ibu termanifestasi dalam bentuk peran Ibu yang baik, Ibu yang buruk, dan peran Ibu yang bertransformasi. Ibu tidak hanya menjadi sosok protagonis yang memberikan perlindungan, kehidupan, dan kesejahteraan, tetapi juga menjadi antagonis yang mampu menjadi sosok menakutkan bagi anaknya. Dalam oposisi biner ini, sosok Ibu juga mampu bertranformasi dengan mengubah peranannya sesuai dengan konteks situasi yang menyertainya, yaitu Ibu protagonis menjadi sosok antagonis yang diakibatkan oleh ketidakpatuhan anaknya atau hadirnya pihak ketiga. Ketiga arketipe peran Ibu tersebut merupakan gambaran dari imajinasi kolektif masyarakat Nusantara dalam menggambarkan peran Ibu dalam kehidupan sehari-hari. Gambaran ini dapat dimanfaatkan dalam bidang terapi, khususnya dalam proses terapi yang melibatkan pasien anak-anak atau Ibu. Arketipe peran Ibu dapat menjadi gambaran mengenai nilai-nilai yang melekat pada sosok Ibu dan menjadi mental budaya masyarakat Nusantara.   Currently, cultural sensitivity in the field of psychotherapy has become an important issue due to the growing awareness that various practices carried out so far are Eurocentric. Experts ignore the fact that the patient's cultural background is diverse. In fact, many therapists who treat patients from various cultural backgrounds are aware of the cultural uniqueness of each patient. Unfortunately, not much research has tried to understand and explore the cultural richness that exists in folklore and is used in the field of therapy. This study aims to describe the archetype of the mother in the folklore of the archipelago and its significance as a community mental culture that can contrIbute to cross-cultural therapy. The study used 240 Indonesian folk tales. The analytical method used is content analysis and document study. The results of the study show that in the collective imagination of the people of the archipelago, the archetypal mother role is manifested in the form of a good mother role, a bad mother, and a transformed mother role. Mother is not only a protagonist who provides protection, life, and welfare, but also becomes an antagonist who can become a frightening figure for her child. In this binary opposition, the mother figure is also able to transform by changing her role according to the context of the accompanying situation, namely the protagonist's mother becomes an antagonist figure caused by the disobedience of her child or the presence of a third party. The three archetypes of the mother's role are an illustration of the collective imagination of the Indonesian people in describing the role of mothers in everyday life. This picture can be used in the field of therapy, especially in the therapeutic process involving children or mothers. The archetype of the mother's role can be an illustration of the values ​​attached to the mother figure and become the cultural mentality of the Indonesian people. 
Front matter vol.5 no.2 Oktober 2021 Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 2 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Back matter vol.5 no.2 Oktober 2021 Eggy Fajar Andalas
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 5 No. 2 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Memori terorisme: Memori traumatis dan strategi mengatasi trauma korban Bom Bali I dalam teks sastra Indonesia Eggy Fajar Andalas; Purwati Anggraini; Joko Widodo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i1.20347

Abstract

Pada 12 Oktober 2002, dunia diguncangkan oleh peristiwa serangan teroris yang terjadi di Legian Bali. Dalam peristiwa pengeboman ini 202 orang terbunuh dan 300 orang luka-luka. Peristiwa ini merupakan salah satu aksi terorisme terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Meskipun banyak mendapat perhatian dari peneliti, tetapi bagaimana peristiwa kelam ini diingat dalam produk budaya masyarakat belum mendapatkan perhatian. Luka Bom Bali (2017) karya Ni Komang Erviani dan Anak Agung Lea merupakan karya memoar yang berkisah mengenai pengalaman hidup korban tragedi. Karya ini menjadi teks memori yang menggambarkan bagaimana peristiwa ini diingat dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan representasi pengalaman traumatis dan strategi mengatasi trauma korban tragedi Bom Bali 1 yang tergambarkan dalam memoar Luka Bom Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan psiko-historis. Data dikumpulkan dengan teknik simak-catat dan dianalisis dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan berbagai dorongan memori pasca-peristiwa pengeboman yang berada dalam alam bawah muncul dalam bentuk simbolis. Simbol-simbol ini menghantui kehidupan korban bahkan setelah 15 tahun peristiwa berlalu. Utnuk mengatasi trauma mental para korban menggunakan strategi memperkuat nilai religiusitasnya dan mengingat keluarga atau orang terdekat. Melalui analisis tersebut, kami berpendapat bahwa Luka Bom Bali merupakan state of memory kepedihan dan perjuangan korban terorisme Bom Bali 1 yang terus berjuang melawan luka fisik dan mental. Bahkan, setelah 15 tahun peristiwa berlalu para korban merasa tidak hadirnya pemerintah di tengah-tengah perjuangan mereka melawan rasa sakit. Para korban mengajak pembaca, khususnya generasi pasca-memori, untuk mengingat peristiwa ini dan belajar untuk memperoleh inspirasi dan pelajaran dari peristiwa yang terjadi. Karya ini mengajak pembaca untuk merasakan kembali trauma yang selama ini tidak tersuarakan dari perspektif korban, khususnya bagi generasi pasca-memori.   On October 12, 2002, the world was shaken by the terrorist attack in Legian Bali. In this bombing incident, 202 people were killed, and 300 people were injured. This incident is one of the biggest acts of terrorism in Indonesia, even the world. Although it has received much attention from researchers, how this dark event is remembered in the cultural products of the community has not received attention. Luka Bom Bali (Bali Bombing Woundss) (2017) by Ni Komang Erviani and Anak Agung Lea is a memoir that tells about the life experiences of victims of the tragedy. This work becomes a memory text that describes how this event is remembered in the collective memory of the Indonesian people. This article describes the representation of traumatic experiences and strategies for coping with the trauma of the victims of the Bali Bombing tragedy as depicted in the memoirs of the Bali Bombing Woundss. This study uses a psycho-historical approach. The data were collected using the note-taking technique and analyzed using the content analysis technique. The results showed that various post-bombing memory impulses that were in the unconscious appeared in a symbolic form. These symbols haunt the victim's life even after 15 years of the incident. To coping mental trauma, the victims use strategies to strengthen their religious values ​​and remember their families. Through this analysis, we argue that the Luka Bom Bali (Bali Bombing Woundss) is a state of memory of the pain and struggle of the victims who continue to struggle with physical and mental injuries. Even after 15 years of the incident, the victims felt the absence of the government during their struggle against pain. The victims invite readers, especially the post-memory generation, to remember this event and draw inspiration and lessons from the events. This work invites the reader to re-experience the trauma that has been unspoken from the victim's perspective, especially for the post-memory generation.