Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Penerapan Hydrogel dan Antimicrobial Dressing terhadap Penyembuhan Luka dan Sensasi Perifer pada Pasien Gangrene Pedis Karina, Grashiva Putri; Sari, Eka Afrima; Harun, Hasniatisari
Jurnal Medika Nusantara Vol. 2 No. 3 (2024): Agustus : Jurnal Medika Nusantara
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/medika.v2i3.1226

Abstract

Gangrene is one of Diabetes Mellitus (DM) complication causing tissue death in wound and decreased peripheral sensation. Priority management of gangrene is through tissue reperfusion and wound care with modern dressing to enhance healing and increase periphery circulation. This research aimed to report wound healing progress and peripheral sensation gangrene in a patient who was given hydrogel and antimicrobial dressing. Research design used a descriptive case study approach. Sample involved one inpatient in West Java regional public hospital who was diagnosed with gangrene, had necrotic wounds, and poor peripheral perfusion, currently treated with modern dressing hydrogel and antimicrobial dressing. The instrument used is Bates Jensen Wound Assessment Tools (BJWAT), lowest score shows significant wound healing progress. Decreasing wound healing score using BJWAT questionnaire from 41 to 29, peripheral sensation (+), and monofilament score from 0/9 to 5/9 after the intervention. Modern dressing improved wound healing and peripheral sensation in gangrene pedis patient. Thus, it is expected to examine effectiveness of hydrogel and antimicrobial dressings on healing scores and peripheral sensation in gangrene pedis patients more extensively.  
OPTIMALISASI KADER KESEHATAN DALAM PENCEGAHAN DIABETES DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT Kurniawan, Titis; Nursiswati, Nursiswati; Harun, Hasniatisari; Hernawaty, Taty
DHARMAKARYA: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat Vol 13, No 2 (2024): Juni : 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v13i2.49826

Abstract

Diabetes mellitus merupakan masalah kesehatan serius, tidak dapat diobati, banyak menimbulkan komplikasi, dan memiliki banyak faktor penyebab. Karenanya, pencegahan merupakan strategi terbaik untuk mengatasi permasalahan terkait diabetes. Kader kesehatan merupakan garda terdepan dalam upaya pencegahan penyakit diabetes. Sayangnya kebanyakan kader belum cakap dalam mengenali faktor risiko maupun mengidentifikasi tingkat risiko diabetes. Sehingga upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan kader dalam kedua hal tersebut menjadi sangat penting. Kegiatan pengabdian ini ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader kesehatan dalam mengenali dan mengidentifikasi tingkat risiko diabetes. Untuk itu, kami mengadakan pendidikan dan pelatihan kader kesehatan terkait diabetes, faktor risiko dan upaya pencegahannya, serta simulasi skrining tingkat risiko diabetes menggunakan FINDRISC diabetes assessment tool. Tim juga melakukan mediasi baik dengan pihak Puskesmas maupun kleurahan di wilayah setempat. Kegiatan dijalankan di salah satu keluraran di Wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat dengan melibatkan 88 kader kesehatan. Kader berpartisipasi aktif selama kegiatan, mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman, dan berdiskusi terkait materi yang disampaikan. Berdasarkan hasil evaluasi, ditemukan adanya peningkatan skor pengetahuan sebesar 15% setelah pemberian materi (75% vs. 60%). Dari simulasi skrining tingkat risiko diabetes, peserta menyatakan bahwa pengisian formulir tidak terlalu sulit kecuali pada bagian pengisian indeks masa tubuh. Dari simulasi ini ditemukan juga bahwa setengah (50,72%) kader mengalami peningkatan risiko (peluang terkena diabetes sebesar 4%). Kegiatan pengabdian ini efektif meningkatkan pemahaman dan kemampuan kader dalam mengenal dan menilai tingkat risiko diabetes. Kegiatan serupa perlu secara berkala dijalankan untuk upgrading maupun tindak lanjut temuan terkait tingkat risiko diabetes pada kader.
RISIKO FRAKTUR PADA PARUH BAYA DAN LANSIA Salsabella, Edellweisse Silvia; Harun, Hasniatisari; Pebrianti, Sandra; Pramukti, Iqbal
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 16 No 2 (2024): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v16i2.2588

Abstract

Paruh baya dan lansia berisiko mengalami fraktur osteoporosis berdasarkan peningkatan angka kejadian fraktur seiring bertambahnya usia, perubahan kebiasaan gaya hidup, terapi farmakologis, dan kondisi medis yang dapat meningkatkan risiko fraktur osteoporosis. Angka kejadian fraktur osteoporosis diperkirakan terus meningkat di masa yang akan datang. Berdasarkan fenomena tersebut, diperlukan upaya preventif dengan deteksi dini skrining risiko fraktur guna mengurangi dan mencegah fraktur osteoporosis pada paruh baya dan lansia di masa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko fraktur pada paruh baya dan lansia. Metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 120 responden  dengan teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Instrumen yang digunakan adalah FRAX® Tool tanpa BMD terdiri dari 11 item pertanyaan yang telah dinilai valid dan reliabel menjadi alat skrining risiko fraktur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh paruh baya memiliki risiko fraktur osteoporosis mayor rendah (100%) dan risiko fraktur pinggul rendah (100%). Mayoritas lansia memiliki risiko fraktur osteoporosis mayor rendah (96,7%) dan risiko fraktur pinggul rendah (83,3%). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa risiko fraktur osteoporosis mayor dan fraktur pinggul lebih tinggi pada lansia dibanding paruh baya. Upaya preventif perlu diimbangi dengan mengendalikan berbagai faktor risiko fraktur osteoporosis yang dapat dilakukan dengan menjalani pola hidup yang sehat, seperti melakukan aktivitas fisik teratur, peningkatan asupan nutrisi kalsium dan vitamin D, terpapar sinar matahari yang cukup, dan mengurangi kebiasaan merokok.
Hubungan pengetahuan terhadap kepatuhan menjalankan pola hidup sehat pada pasien pasca intervensi koroner perkutan di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung Harun, Hasniatisari; Ibrahim, Kusman; Rafiyah, Imas
MEDISAINS Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/medisains.v14i1.1040

Abstract

Latar belakang : Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan ancaman serius bagi kehidupan seseorang. Salah satu penatalaksanaan PJK adalah dengan intervensi koroner perkutan (IKP), akan tetapi tindakan IKP tetap mempunyai risiko mengalami kekambuhan, karena adanya faktor risiko PJK yang dimiliki sebelumnya. Dalam menurunkan faktor risiko tersebut, salah satunya dapat diatasi dengan cara menjalankan pola hidup sehat pasca IKP. Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan kepatuhan menjalankan pola hidup sehat pada pasien pasca IKP. Metode : Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Sampel pada penelitian ini adalah pasien pasca IKP yang sedang berobat di Instalasi Pelayanan Jantung. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling, yaitu sebanyak 48 responden di Instalasi Pelayanan Jantung RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Instrumen yang digunakan terdiri dari; modifikasi instrumen Heart Disease Fact Questionnaire (HDFQ) dan instrumen Medication Adherence Scale (MAS) dengan menggunakan analisis data uji chi-square. Hasil : Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan (x2=12,800, p=0,000) terhadap kepatuhan menjalankan pola hidup sehat. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan terhadap kepatuhan dalam menjalankan pola hidup sehat.. Saran dari penelitian ini perawat sebaiknya memperhatikan pengetahuan pasien saat memberikan intervensi dalam meningkatkan kepatuhan menjalankan pola hidup sehat pada pasien pasca IKP. Kata Kunci : Intervensi koroner perkutan (IKP) , kepatuhan, penyakit jantung koroner (PJK), pola hidup sehat.
PERAWATAN LUKA DAN MANAJEMEN NYERI PADA PASIEN DENGAN SELULITIS : STUDI KASUS Amalia, Asna; Pahria, Tuti; Harun, Hasniatisari
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 4 (2024): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, April 2024
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v3i4.2567

Abstract

Selulitis merupakan infeksi bakteri yang mengenai dermis dan jaringan subkutan yang biasanya muncul dibagian yang mengalami kerusakan kulit. Selulitis akan cepat menyebar dan menyebabkan berbagai komplikasi jika tidak ditangani dengan segera. Maka dari itu, pasien dengan selulitis harus mendapat penanganan yang tepat untuk mencegah penyebaran infeksi. Perawatan luka pada selulitis menjadi intervensi yang dapat dilakukan untuk mengendalikan infeksi bakteri serta mengembalikan fungsi kulit. Respon inflamasi akibat infeksi menyebabkan nyeri yang jika dibiarkan berkepanjangan akan menunda penyembuhan dan mengurangi kualitas hidup pasien sehingga manajemen nyeri sangat diperlukan untuk menunjang kesembuhan pasien. Tujuan: Untuk mendeskripsikan penerapan pengetahuan dan praktik keperawatan pada pasien selulitis dengan masalah keperawatan gangguan integritas kulit dan nyeri akut. Metode: Laporan kasus ini menggunakan single case design melalui pemberian asuhan keperawatan. Manajemen nyeri dievaluasi dengan NRS dan perawatan luka selulitis dievaluasi menggunakan instrumen Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BWAT). Hasil: Setelah diberikan intervensi ditemukan jika pasien mengalami penurunan nyeri NRS 4 (0-10)  menjadi NRS 2 (0-10) dan penurunan skor BWAT dari 50 ke 49. Kesimpulan: Hasil studi kasus ini menunjukan bahwa relaksasi nafas dalam efektif dalam menurunkan nyeri dan pemberian perawatan luka infeksi dengan NaCl 0,9% + gentamicin dapat membantu penyembuhan luka.
EVIDENCE-BASED NURSING FOR PREVENTION AND MANAGEMENT OF DELIRIUM IN PATIENTS UNDERGOING CARDIAC SURGERY: CASE STUDIES Fitri, Siti Ulfah Rifa'atul; Maneewat, Khomapak; Herliani, Yusshy Kurnia; Harun, Hasniatisari
Medical-Surgical Journal of Nursing Research Vol. 2 No. 1 (2023): Medical-Surgical Journal of Nursing Research
Publisher : Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI) Regional Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70331/jpkmb.v1i2.20

Abstract

Delirium management is critical to lowering the risk for patients as well as health care providers, such as a nurse who takes complete care of the patient and plays an important role in delirium prevention from the start of post-operative care until the patient is transferred to the ward and then discharged. The purpose of this study was to examine the usefulness of instruments for screening delirium in patients undergoing cardiac surgery as well as the effectiveness of evidence-based nursing interventions for delirium prevention and management in cardiac surgery patients. This study used a case study design with five hospitalized patients who had cardiac surgery, including patients admitted 1-2 days before or within 7 days of the procedure. Based on NICE guidelines, the authors provided data collection methods for screening for delirium and intervention for delirium prevention and management in patients following cardiac surgery. According to data acquired from five responders, two patients in the high-risk age group are already in the delirium phase, while the other three patients have not shown delirium postoperatively. The most typical intervention in all cases is re-orientation and immobility (use cardiac rehabilitation), as well as basic communication. This study attempted to integrate three screening measures for delirium, then evaluated and compared the findings to see if the patient received the same or a different score on each instrument.
Application of Foot Massage Therapy with Lavender Oil and Pursed Lip Breathing in Lung Cancer Patients : A Case Report Safitri, Dania Iva; Pahria, Tuti; Harun, Hasniatisari
Journal of Nursing Care Vol 8, No 2 (2025): Journal of Nursing Care
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jnc.v8i2.64049

Abstract

 Lung cancer is one of the leading causes of cancer-related deaths worldwide. In advanced stages, patients often experience pain and shortness of breath, which significantly reduce their quality of life. Non-pharmacological interventions such as foot massage with lavender essential oil and pursed lip breathing (PLB) exercises offer potential supportive therapy, but evidence on their effectiveness remains limited. This case study aimed to describe the application of foot massage and PLB techniques in reducing pain and dyspnea in a 64-year-old male diagnosed with stage IVA squamous cell lung carcinoma. The intervention was conducted over six consecutive days. Foot massage was performed using five standard techniques—effleurage, petrissage, friction, tapotement, and vibration—while PLB was practiced for 10 minutes prior to each session. Pain intensity and oxygen saturation were measured using the Numeric Rating Scale (NRS) and pulse oximetry, respectively. The results showed a decrease in pain score from 7 to 3 and an improvement in oxygen saturation from 92% to 96%. The patient also reported improved comfort and the ability to perform light activities with assistance. These findings suggest that the combination of foot massage and PLB may be effective in managing pain and respiratory symptoms in advanced lung cancer. Further research with larger sample sizes and controlled study designs is recommended to confirm these outcomes and support broader clinical use.Keywords: Foot Massage Therapy, Lavender Oil , Lung Cancer, Pain, Pursed Lip Breathing, Shortness of Breath
Estimating the 10-year fracture risk among persons with HIV and person without HIV: A comparative study Pramukti, S.Kp., MsC, Iqbal; Ibrahim, Kusman; Lukman, Mamat; Harun, Hasniatisari; Nugraha, Andri; Lin, Chung-Ying
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkp.v13i1.2715

Abstract

Background: The risk of osteoporotic fracture among persons with HIV was higher than the persons without HIV. Traditional factors are also found as the risk factor affecting fracture risk among persons with HIV and general population. Predicting the fracture risk among the high-risk group is important to develop a comprehensive fracture prevention program. Purpose: This study aimed to compare the estimation of the 10-year fracture risk between persons with HIV and persons without HIV using the FRAX™ algorithm. Methods: This study recruited 245 participants from August to November 2023, while 221 participants agreed to participate. The participants consist of 107 persons with HIV and 114 persons without HIV. The estimation of the ten-year probability of major osteoporotic and hip fractures was calculated using the FRAX™ algorithm. The participant's characteristics related to osteoporotic fracture risk was analyzed using a Chi-Square analysis. Results: The overall mean score of 10-year probability of major osteoporotic fracture (MOF) was 3.1% (SD 1.9) for the HIV group and 2.7% (SD 2.3) for non-HIV. For the 10-year probability, hip fracture (HF) risk was 0.5% (SD 0.5) for the HIV group and 0.6% (SD 0.9) for non-HIV. For MOF, HIV persons with fracture history showed a lower score (3.5%) compared to persons without HIV (5.3%). Smoker HIV persons showed the same MOF score (4.6% vs. 4.6%) but lower HF score (0.8% vs. 1.6%) when comparing to persons without HIV, respectively. HIV persons with glucocorticoid use showed a higher MOF probability score than persons without HIV (2.8% vs 2.7%). Conclusions: The 10-year fracture risk was higher among persons with HIV compared to persons without HIV. Fracture history, smoking behavior, and glucocorticoid use were identified as the potential factors associated with the risk. Further analysis using multivariate regression analysis may require to confirm the factors associated with high fracture risk.
Gambaran kebutuhan perawatan suportif pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi Hijriani, Nadifa; Pahria, Tuti; Harun, Hasniatisari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1004

Abstract

Background: Breast cancer is the most common cancer in women, with a global incidence of 2.3 million cases and the fourth highest mortality rate. In Indonesia, 66,271 new cases were recorded in 2022, while West Java Province saw an increase from 594 cases in 2019 to 973 referrals in 2023. Chemotherapy, while effective in destroying cancer cells systemically, often reduces patients' quality of life due to physical, psychological, and social side effects. Supportive care can alleviate this burden, but providing and meeting patient needs in facilities remains suboptimal. Purpose: To identify supportive care needs in breast cancer patients undergoing chemotherapy. Method: This quantitative descriptive study was conducted on patients undergoing chemotherapy in January 2025 at Al-Ihsan Regional General Hospital, Bandung. Sampling was conducted consecutively to select 105 breast cancer patients. The instrument used was the Supportive Care Needs-Short Form 34 (SCNS-SF34), and univariate analysis was performed. Results: Most respondents (52.3%) required supportive care. The highest level of need was in the health systems and information domain (58%), followed by the physical and daily activities domain (56.1%), the psychological domain (53.3%), and the support and care domain (52.3%). Most respondents (61%) did not require supportive care in the sexuality domain. Conclusion: Breast cancer patients undergoing chemotherapy at Al-Ihsan Regional Hospital, Bandung, require supportive interventions, particularly in the form of health information, physical and psychological support, with nurses playing a key role in improving quality of life. Suggestion: Expand outpatient consultations and utilize print and digital media for therapy information, implement self-education at home, provide structured psychological counseling, develop a protocol for interventions related to sexual side effects, and train healthcare workers in empathy and sensitive communication.   Keywords: Breast Cancer; Chemotherapy; Supportive Care.   Pendahuluan: Kanker payudara menjadi kanker paling umum pada wanita dengan insiden global mencapai 2.3 juta kasus dan menempati peringkat ke-4 kematian tertinggi. Di Indonesia, tercatat 66.271 kasus baru pada 2022, sementara Provinsi Jawa Barat mencatat peningkatan dari 594 kasus pada 2019 menjadi 973 rujukan pada 2023. Kemoterapi, meski efektif secara sistemik dalam menghancurkan sel kanker, sering menurunkan kualitas hidup pasien karena efek samping fisik, psikologis, dan sosial. Perawatan suportif dapat meringankan beban ini, tetapi identifikasi dan pemenuhan kebutuhan pasien di fasilitas masih belum optimal. Tujuan: Untuk mengidentifikasi kebutuhan perawatan suportif pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan kepada pasien yang menjalani kemoterapi pada bulan Januari 2025 di RSUD Al-Ihsan Bandung. Pengumpulan sampel menggunakan teknik consecutive sampling dan mendapatkan 105 pasien kanker payudara untuk menjadi responden. Instrumen yang digunakan adalah Supportive Care Needs-Short Form 34 (SCNS-SF34) dan dianalisis menggunakan univariat. Hasil: Sebagian besar responden (52.3%) membutuhkan perawatan suportif. Tingkat kebutuhan tertinggi berada pada domain sistem dan informasi kesehatan (58%), dilanjut domain fisik dan aktivitas sehari-hari (56.1%), domain psikologis (53.3%), dan domain dukungan dan perawatan (52.3%). Sebagian besar responden (61%) tidak membutuhkan perawatan suportif pada domain seksualitas. Simpulan: Pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi memerlukan intervensi suportif, terutama informasi kesehatan, dukungan fisik dan psikologis dengan perawat sebagai kunci peningkatan kualitas hidup. Saran: Perluas konsultasi rawat jalan dan dapat memanfaatkan media cetak/digital untuk informasi terapi. Selain itu, dapat dilakukan edukasi mandiri di rumah, adanya ketersediaan konseling psikologis terstruktur, mengembangkan protokol intervensi efek samping seksual, serta melatih empati dan komunikasi sensitif bagi tenaga kesehatan.   Kata Kunci: Kanker Payudara; Kemoterapi; Perawatan Suportif.
Gambaran Achievement Motivation Pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Padjadjaran Yosep, Iyus; Shaumy, Bella Nadya; Harun, Hasniatisari; Mardhiyah, Ai
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 5 (2024): Volume 4 Nomor 5 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i5.14581

Abstract

ABSTRACT Nursing students are faced with achievement motivation challenges that can affect their academic and professional development. Contributing factors are high academic pressure, lack of social support, and low perception of the relevance of academic tasks in the nursing context. To describe achievement motivation in nursing students.  This study used a descriptive approach with data collection through the distribution of achievement motivation scale questionnaires that have been adapted for the nursing context. The research sample involved 270 active semester nursing students, and data analysis was carried out using descriptive statistics, specifically univariate analysis. The authors found that there were 184 students with a moderate level of achievement motivation (68.15%), 41 students had high achievement motivation (15.19%), and 45 students with low achievement motivation (16.67%). This shows that nursing students need to increase achievement motivation to adapt to the learning process. This study is expected to provide practical guidance for educational institutions and nursing practitioners in improving achievement motivation and well-being of nursing students. Keywords: Achievement Motivation, Nursing, Students  ABSTRAK Mahasiswa keperawatan dihadapkan pada tantangan achievement motivation yang dapat memengaruhi perkembangan akademis dan profesional mereka. Faktor-faktor penyebabnya adalah tekanan akademis yang tinggi, kurangnya dukungan sosial, dan persepsi yang rendah terhadap relevansi tugas-tugas akademis dalam konteks keperawatan. Untuk menggambarkan achievement motivation pada mahasiswa keperawatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan pengumpulan data melalui distribusi kuesioner achievement motivation scale yang telah diadaptasi untuk konteks keperawatan. Sampel penelitian melibatkan 270 mahasiswa keperawatan semester aktif, dan analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif, khususnya analisis univariat. Penulis menemukan bahwa terdapat 184 mahasiswa dengan tingkat achievement motivation sedang (68.15%), 41 mahasiswa memiliki achievement motivation tinggi (15.19%), dan 45 mahasiswa dengan achievement motivation rendah (16.67%). Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa keperawatan perlu meningkatkan achievement motivation untuk beradaptasi dalam proses pembelajaran. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan praktis bagi institusi pendidikan dan para praktisi keperawatan dalam meningkatkan motivasi berprestasi dan kesejahteraan mahasiswa keperawatan. Kata Kunci: Achievement Motivation, Keperawatan, Mahasiswa