Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Penerapan Terapi Pijat Pada Pasien yang Menjalani Hemodialisa: A Scoping Review Harun, Hasniatisari; Herliani, Yusshy Kurnia; Pratiwi, Sri Hartati; Setyawati, Anita
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i8.19070

Abstract

ABSTRACT The prevalence of chronic kidney failure in the world is increasing every year. Most patients require hemodialysis as a kidney replacement therapy. Complementary and alternative medicine (CAM) researchers revealed that massage therapy is widely used by hemodialysis patients to overcome the side effects caused by hemodialysis. To identify the effectiveness of massage therapy in hemodialysis patients. This scoping review was developed based on the Arskey and O'Malley framework. Study searches were conducted through Scopus and CINAHL. Inclusion criteria in selecting articles included: primary research results discussing the application of massage therapy in patients undergoing hemodialysis in the form of full-text articles, in English, and published in 2019-2023. The 13 articles analyzed in this study revealed that massage therapy has a positive effect on general health, physical symptoms, nausea, fatigue, pain due to muscle cramps, and restless legs syndrome (RLS), pruritus severity, sleep quality, insomnia severity, quality of life, anxiety, and intradialytic hypertension in hemodialysis patients. Foot massage therapy can be used as a complementary therapy to reduce the side effects of hemodialysis. Nurses and health workers need to have certified massage therapy skills in order to provide and teach massage to hemodialysis patients and their families. Keywords: Hemodialysis, Massage Therapy, Nurses.  ABSTRAK Prevalensi penyakit gagal ginjal kronis di dunia meningkat setiap tahun. Sebagian besar pasien memerlukan tindakan hemodialisa sebagai terapi pengganti ginjal. Para peneliti complementary and alternative medicine (CAM) mengungkapkan bahwa terapi pijat banyak digunakan oleh pasien hemodialisa untuk mengatasi efek samping yang ditimbulkan oleh hemodialisa. Untuk mengidentifikasi efektivitas terapi pijat pada pasien hemodialisa. Scoping reviewini dikembangkan berdasarkan kerangka kerja Arskey dan O’Malley. Pencarian studi dilakukan melalui Scopus dan CINAHL. Kriteria inklusi dalam pemilihan artikel meliputi: hasil penelitian primer yang membahas tentang penerapan terapi pijat pada pasien yang menjalani hemodialisa dalam bentuk artikel teks lengkap, berbahasa Inggris, dan dipublikasikan ahun 2019-2023. 13 artikel yang dianalisis pada studi ini mengungkapkan bahwa terapi pijat memiliki pengaruh positif terhadap kesehatan umum, gejala fisik, mual, kelelahan, nyeri akibat kram otot, dan restless legs syndrome (RLS), keparahan pruritus, kualitas tidur, keparahan insomnia, kualitas hidup, kecemasan, dan hipertensi intradialitik pada pasien hemodialisa. Terapi pijat kaki dapat dijadikan sebagai terapi komplementer untuk mengurangi efek samping hemodialisa. Perawat dan petugas kesehatan perlu memiliki keterampilan terapi pijat bersertifikasi agar dapat memberikan dan mengajarkan pijat pada pasien hemodialisa dan keluarganya. Kata Kunci: Hemodialisa, Perawat, Terapi Pijat
Gambaran kebutuhan perawatan suportif pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi Hijriani, Nadifa; Pahria, Tuti; Harun, Hasniatisari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1004

Abstract

Background: Breast cancer is the most common cancer in women, with a global incidence of 2.3 million cases and the fourth highest mortality rate. In Indonesia, 66,271 new cases were recorded in 2022, while West Java Province saw an increase from 594 cases in 2019 to 973 referrals in 2023. Chemotherapy, while effective in destroying cancer cells systemically, often reduces patients' quality of life due to physical, psychological, and social side effects. Supportive care can alleviate this burden, but providing and meeting patient needs in facilities remains suboptimal. Purpose: To identify supportive care needs in breast cancer patients undergoing chemotherapy. Method: This quantitative descriptive study was conducted on patients undergoing chemotherapy in January 2025 at Al-Ihsan Regional General Hospital, Bandung. Sampling was conducted consecutively to select 105 breast cancer patients. The instrument used was the Supportive Care Needs-Short Form 34 (SCNS-SF34), and univariate analysis was performed. Results: Most respondents (52.3%) required supportive care. The highest level of need was in the health systems and information domain (58%), followed by the physical and daily activities domain (56.1%), the psychological domain (53.3%), and the support and care domain (52.3%). Most respondents (61%) did not require supportive care in the sexuality domain. Conclusion: Breast cancer patients undergoing chemotherapy at Al-Ihsan Regional Hospital, Bandung, require supportive interventions, particularly in the form of health information, physical and psychological support, with nurses playing a key role in improving quality of life. Suggestion: Expand outpatient consultations and utilize print and digital media for therapy information, implement self-education at home, provide structured psychological counseling, develop a protocol for interventions related to sexual side effects, and train healthcare workers in empathy and sensitive communication.   Keywords: Breast Cancer; Chemotherapy; Supportive Care.   Pendahuluan: Kanker payudara menjadi kanker paling umum pada wanita dengan insiden global mencapai 2.3 juta kasus dan menempati peringkat ke-4 kematian tertinggi. Di Indonesia, tercatat 66.271 kasus baru pada 2022, sementara Provinsi Jawa Barat mencatat peningkatan dari 594 kasus pada 2019 menjadi 973 rujukan pada 2023. Kemoterapi, meski efektif secara sistemik dalam menghancurkan sel kanker, sering menurunkan kualitas hidup pasien karena efek samping fisik, psikologis, dan sosial. Perawatan suportif dapat meringankan beban ini, tetapi identifikasi dan pemenuhan kebutuhan pasien di fasilitas masih belum optimal. Tujuan: Untuk mengidentifikasi kebutuhan perawatan suportif pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan kepada pasien yang menjalani kemoterapi pada bulan Januari 2025 di RSUD Al-Ihsan Bandung. Pengumpulan sampel menggunakan teknik consecutive sampling dan mendapatkan 105 pasien kanker payudara untuk menjadi responden. Instrumen yang digunakan adalah Supportive Care Needs-Short Form 34 (SCNS-SF34) dan dianalisis menggunakan univariat. Hasil: Sebagian besar responden (52.3%) membutuhkan perawatan suportif. Tingkat kebutuhan tertinggi berada pada domain sistem dan informasi kesehatan (58%), dilanjut domain fisik dan aktivitas sehari-hari (56.1%), domain psikologis (53.3%), dan domain dukungan dan perawatan (52.3%). Sebagian besar responden (61%) tidak membutuhkan perawatan suportif pada domain seksualitas. Simpulan: Pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi memerlukan intervensi suportif, terutama informasi kesehatan, dukungan fisik dan psikologis dengan perawat sebagai kunci peningkatan kualitas hidup. Saran: Perluas konsultasi rawat jalan dan dapat memanfaatkan media cetak/digital untuk informasi terapi. Selain itu, dapat dilakukan edukasi mandiri di rumah, adanya ketersediaan konseling psikologis terstruktur, mengembangkan protokol intervensi efek samping seksual, serta melatih empati dan komunikasi sensitif bagi tenaga kesehatan.   Kata Kunci: Kanker Payudara; Kemoterapi; Perawatan Suportif.
Gambaran Achievement Motivation Pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Padjadjaran Yosep, Iyus; Shaumy, Bella Nadya; Harun, Hasniatisari; Mardhiyah, Ai
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 5 (2024): Volume 4 Nomor 5 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i5.14581

Abstract

ABSTRACT Nursing students are faced with achievement motivation challenges that can affect their academic and professional development. Contributing factors are high academic pressure, lack of social support, and low perception of the relevance of academic tasks in the nursing context. To describe achievement motivation in nursing students.  This study used a descriptive approach with data collection through the distribution of achievement motivation scale questionnaires that have been adapted for the nursing context. The research sample involved 270 active semester nursing students, and data analysis was carried out using descriptive statistics, specifically univariate analysis. The authors found that there were 184 students with a moderate level of achievement motivation (68.15%), 41 students had high achievement motivation (15.19%), and 45 students with low achievement motivation (16.67%). This shows that nursing students need to increase achievement motivation to adapt to the learning process. This study is expected to provide practical guidance for educational institutions and nursing practitioners in improving achievement motivation and well-being of nursing students. Keywords: Achievement Motivation, Nursing, Students  ABSTRAK Mahasiswa keperawatan dihadapkan pada tantangan achievement motivation yang dapat memengaruhi perkembangan akademis dan profesional mereka. Faktor-faktor penyebabnya adalah tekanan akademis yang tinggi, kurangnya dukungan sosial, dan persepsi yang rendah terhadap relevansi tugas-tugas akademis dalam konteks keperawatan. Untuk menggambarkan achievement motivation pada mahasiswa keperawatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan pengumpulan data melalui distribusi kuesioner achievement motivation scale yang telah diadaptasi untuk konteks keperawatan. Sampel penelitian melibatkan 270 mahasiswa keperawatan semester aktif, dan analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif, khususnya analisis univariat. Penulis menemukan bahwa terdapat 184 mahasiswa dengan tingkat achievement motivation sedang (68.15%), 41 mahasiswa memiliki achievement motivation tinggi (15.19%), dan 45 mahasiswa dengan achievement motivation rendah (16.67%). Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa keperawatan perlu meningkatkan achievement motivation untuk beradaptasi dalam proses pembelajaran. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan praktis bagi institusi pendidikan dan para praktisi keperawatan dalam meningkatkan motivasi berprestasi dan kesejahteraan mahasiswa keperawatan. Kata Kunci: Achievement Motivation, Keperawatan, Mahasiswa
Hubungan Kesiapan dengan Frekuensi Penggunaan Evidence-Based Practice dalam Laporan Kasus pada Mahasiswa Praktik Profesi Ners Setiani, Haniifah; Sari, Eka Afrima; Harun, Hasniatisari; Kurniawan, Titis; Nursiswati, Nursiswati
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i3.13926

Abstract

ABSTRACT Evidence-Based Practice (EBP) is an important aspect for students to become professional nurses. In implementing EBP, self-assessment regarding readiness is needed to evaluate themselves in using EBP. One factor that influences the use of EBP is students' readiness to use EBP. Having a strong belief in readiness to use EBP results in higher implementation of EBP use in practice.This research aims to see whether students' better readiness in using EBP is in line with the high frequency of EBP use, uses a correlative descriptive research design using the Chi-Square test, the sample was 102 students from the 45th professional nursing program at the Faculty of Nursing, Padjadjaran University by using the total sampling technique. The instrument for assessing readiness uses Upton's (2006) EBPQ questionnaire. Assessment of the frequency of EBP use by calculating the number of EBP uses in each case report. The results of this study show that 80.4% of respondents are ready, and respondents use EBP at a high frequency, 38.2%. This study shows a significant relationship between readiness and the frequency of EBP use in case reports with a p-value 0.012. This research finds that having a strong belief in readiness to use EBP results in higher levels of implementation. Therefore, habituation in applying EBP is necessary in order to become a professional nurse Keywords: Evidence-Based Practice, Frequency of Use, Readiness  ABSTRAK Evidence-Based Practice (EBP) merupakan salah satu aspek penting agar mahasiswa kelak menjadi perawat yang profesional. Dalam menerapkan EBP, dibutuhkan self-assessment mengenai kesiapan agar mahasiswa dapat mengevaluasi diri untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan dalam penggunaan EBP. Salah satu faktor yang mempengaruhi penggunaan EBP pada mahasiswa adalah keyakinan mahasiswa dalam kesiapan penggunaan EBP. Memiliki keyakinan yang kuat dalam kesiapan penggunaan EBP menghasilkan implementasi penggunaan EBP dalam praktik yang lebih tinggi  Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah dengan semakin baiknya kesiapan mahasiswa dalam penggunaan EBP sejalan dengan tingkat frekuensi penggunaan EBP yang tinggi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelatif menggunakan uji Chi-Square. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa program profesi Ners angkatan 45 Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran. Teknik pengambilan sampel dengan total sampling sebanyak 102 mahasiswa. Instrumen dalam menilai kesiapan menggunakan kuesioner EBPQ milik Upton (2006). Penilaian frekuensi penggunaan EBP dengan menghitung jumlah penggunaan EBP dalam masing-masing laporan kasus.Hasil penelitian ini gambaran kesiapan 80,4% siap, dan responden menggunakan frekuensi EBP yang tinggi yaitu sebanyak 38,2%. Studi ini menghasilkan ada hubungan yang signifikan antara kesiapan dengan frekuensi penggunaan EBP pada laporan kasus dengan p-value 0,012. Temuan pada penelitian ini adalah memiliki keyakinan yang kuat dalam kesiapan penggunaan EBP menghasilkan implementasi penggunaan EBP dalam praktik yang lebih tinggi sehingga pembiasaan dalam menerapkan EBP perlu dilakukan agar menjadi perawat yang profesional. Kata Kunci: Evidence-Based Practice,  Frekuensi Penggunaan, Kesiapan
Topik dan Metode Pencarian Sumber Pada Laporan Evidence-Based Practice Mahasiswa Program Profesi Ners Stase Keperawatan Medikal Bedah: Studi Dokumen Fadillah, Jasmine Fasya; Sari, Eka Afrima; Harun, Hasniatisari; Kurniawan, Titis; Nursiswati, Nursiswati
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i3.13978

Abstract

ABSTRACT Evidence-Based Practice (EBP) is one of the important aspects in creating competent nurses. In realizing this, in the nursing education program at the bachelors level, students need to practice in honing the ability to make and report EBP reports. From the results of previous studies, further research is needed that looks at concrete evidence in the form of document studies of EBP work made by students compared to just conducting surveys with questionnaires. So that the institution has a strong foundation in the development of the next EBP curriculum. The purpose of this study is to determine the description of topics and methods of searching for EBP sources chosen during the practice of the undergraduate students in Medical Surgical Nursing unit. This research uses a quantitative descriptive research plan by looking at the overview of the topic and the method of searching for EBP resources used from the results of the document study of the EBP report of PPN students. The sample of this study was 32 EBP reports of nursing professional program students from a nursing education institution in West Java using the total sampling technique. Data analysis on the three variables in this research uses the frequency distribution method which looks at the percentage in each category that exists in each variable. Result Of the 32 EBP reports obtained, it was found that the topic most raised by the undergraduate students in the EBP report based on Problem / Person (P) items was about stroke as many as 6 reports (18.75%). If based on the Intervention item (I), the most raised topic is interventions that can overcome diagnoses related to activity and rest as many as 10 reports (31,25%) and based on the Outcomes (O) item the most raised topic is about the outcome of patient hemodynamic status as many as 6 reports (18.75%). From the study of this document, it was also found that most respondents (62.5%) have used the EBP source search method well. Students' ability to explore the topic of the EBP report and the EBP source search method used is well applied by most students. It is hoped that these results can be a reference for educational institutions regarding the next teaching methods that will be developed related to EBP learning, especially at the KMB station. Keywords: Evidence-Based Practice, Undergraduate Nursing Program, Document Study  ABSTRAK Evidence-Based Practice (EBP) merupakan salah satu aspek penting dalam menciptakan perawat yang kompeten. Dalam mewujudkan hal tersebut, pada program pendidikan keperawatan jenjang profesi Ners, mahasiswa perlu berlatih dalam mengasah kemampuan membuat dan melaporkan laporan EBP. Dari hasil studi terdahulu, diperlukan penelitian lanjutan yang melihat bukti konkrit berupa studi dokumen hasil pengerjaan EBP yang dibuat oleh mahasiswa dibandingkan hanya dengan melakukan survey dengan kuesioner, sehingga institusi memiliki landasan yang kuat dalam pengembangan kurikulum EBP selanjutnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran topik dan metode pencarian sumber EBP yang dipilih selama praktik Program Profesi Ners (PPN) stase Keperawatan Medikal Bedah (KMB). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif dengan melihat gambaran topik dan metode pencarian sumber EBP yang digunakan dari hasil studi dokumen laporan EBP mahasiswa PPN. Sampel penelitian ini adalah laporan EBP mahasiswa PPN di sebuah institusi pendidikan di Jawa Barat dengan jumlah sampel sebanyak 32 laporan dengan menggunakan teknik total sampling. Analisis data pada ketiga variabel dalam penelitian ini menggunakan metode distribusi frekuensi yang melihat persentase dalam setiap kategori yang ada pada setiap variabel. Dari 32 laporan EBP yang didapatkan, menunjukkan bahwa topik yang paling banyak diangkat oleh mahasiswa PPN dalam laporan EBP berdasarkan item Problem/Person (P) adalah mengenai penyakit stroke sebanyak 6 laporan (18,75%). Jika berdasarkan item Intervention (I), topik yang paling banyak diangkat adalah intervensi yang dapat mengatasi diagnosis terkait aktivitas dan istirahat sebanyak 10 laporan (31,25%) dan berdasarkan item Outcomes (O) topik yang paling banyak diangkat adalah mengenai luaran status hemodinamik pasien sebanyak 6 laporan (18,75%). Dari studi dokumen ini juga didapatkan hasil bahwa sebagian besar responden (62,5%) sudah menggunakan metode pencarian sumber EBP dengan baik.Kemampuan dalam mengeksplorasi topik laporan EBP dan metode pencarian sumber EBP yang digunakan sudah baik diterapkan oleh sebagian besar mahasiswa. Diharapkan hasil tersebut dapat menjadi acuan bagi institusi pendidikan mengenai metode ajar selanjutnya yang akan dikembangkan terkait pembelajaran EBP terutama pada stase KMB. Kata Kunci: Evidence-Based Practice, Program Profesi Ners, Studi Dokumen.
Gambaran Pengetahuan Keluarga dengan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dalam Menjalankan Self-Management Sari, Nur Puspita; Kurniawan, Titis; Harun, Hasniatisari
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 6 (2023): Volume 3 Nomor 6 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.705 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v3i6.10465

Abstract

ABSTRACT The family has an important role in the health care of patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM), including diabetes mellitus self-management (DMSM). To carry out the role properly, the family must have adequate knowledge. Previous research has found that the implementation of DMSM in T2DM sufferers and family support is low. This study aims to identify family knowledge related to DMSM. This quantitative descriptive study with a cross-sectional approach involved 188 families of T2DM patients who were taken through a purposive sampling technique. Data were collected through a respondent characteristic questionnaire, and a family knowledge questionnaire related to DMSM which had been translated through the back-forward translation method into Indonesian and modified with an inter-item correlation between 0.205-0.527, and Chronbach alpha 0.660. The collected data were analyzed descriptively. Half of the respondents had good knowledge (50%) with the lowest mean in the domain of pharmacological therapy (1.07±0.60), foot care (1.40±0.73), and physical exercise (1.69±0. 54). The low pharmacological therapy domain, physical exercise, and foot care need special attention. It is important for health workers to seek to increase family knowledge so that they can help patients carry out DMSM, especially aspects of pharmacological therapy, physical exercise, and foot care. Keywords: Family Support, Knowledge, Self Management, Type 2 Diabetes Mellitus  ABSTRAK Keluarga memiliki peran penting dalam perawatan kesehatan pasien diabetes melitus tipe 2 (DMT2) termasuk dalam melakukan self-management diabetes melitus (SMDM). Untuk menjalankan perannya dengan baik, keluarga harus memiliki pengetahuan yang adekuat. Penelitian terdahulu menemukan pelaksanaan SMDM pada penderita DMT2 dan dukungan keluarga yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan keluarga terkait SMDM. Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan 188 keluarga pasien DMT2 yang diambil melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner karakteristik responden, dan kuesioner pengetahuan keluarga terkait SMDM yang telah dialihbahasakan melalui back-forward translation method ke Bahasa Indonesia dan dimodifikasi dengan inter intem correlation antara 0,205-0,527, dan chronbach alpha 0,660. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Setengah responden memiliki pengetahuan baik (50%) dengan mean terendah pada domain terapi farmakologi (1,07±0,60), perawatan kaki (1,40±0,73), dan latihan fisik (1,69±0,54). Rendahnya domain terapi farmakologi, latihan fisik, serta perawatan kaki perlu mendapatkan perhatian khusus. Penting bagi petugas kesehatan untuk mengupayakan peningkatan pengetahuan keluarga sehingga dapat membantu pasien menjalankan SMDM terutama aspek terapi farmakologi, latihan fisik, dan perawatan kaki. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Dukungan Keluarga, Pengetahuan, Self-Management
Peningkatan Pengetahuan dan Kemandirian Keluarga dalam Melakukan Perawatan Luka Harun, Hasniatisari; Purba, Chandra Isabella Hostanida; Fitri, Siti Ulfah Rifa'atul; Widayat, Ahmad
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i3.13551

Abstract

ABSTRAK Insidensi luka sering ditemukan setiap tahunnya di Indonesia baik luka bersih maupun kotor. Namun pada praktiknya, pengobatan luka di masyarakat masih belum diterapkan sesuai dengan prinsipnya. Maka solusi yang dapat diberikan adalah dengan melakukan pembelajaran mengenai perawatan luka sesuai jenis dan karakteristiknya untuk mencegah terjadinya komplikasi dan infeksi. Pendidikan kesehatan perawatan luka ini dilakukan dengan teknik pembelajaran ceramah dan demonstrasi. Tujuan dilakukannya pendidikan kesehatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kemandirian keluarga dalam merawat luka pada pasien dengan luka. Sasaran pada pendidikan kesehatan ini adalah keluarga pasien di ruang rawat inap salah satu Rumah Sakit di Sumedang. Media yang digunakan pada penyampaian pendidikan kesehatan ini adalah leaflet, power point, dan tayangan video. Berdasarkan hasil analisis seluruh peserta 100% memiliki pengetahuan yang baik karena dapat menjawab dengan benar pada akhir post-test sehingga dapat disimpulkan terjadi peningkatan pengetahuan keluarga pasien mengenai luka dan cara perawatannya. Oleh karena itu pendidikan kesehatan terkait perawatan luka diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kemandirian keluarga dalam melakukan perawatan luka setelah di rawat di Rumah Sakit. Kata Kunci: Pengetahuan, Perawatan Luka, Keluarga, Kemandirian  ABSTRACT The incidence of wounds is often found every year in Indonesia, both clean and dirty wounds. However, in practice, wound treatment in society is still not implemented according to its principles. So the solution that can be given is to learn about wound care according to its type and characteristics to prevent complications and infections. Wound care health education is carried out using lecture and demonstration learning techniques. The aim of this health education is to increase family knowledge and independence in caring for wounds in patients with wounds. The target of this health education is the patient's family in the inpatient room of one of the hospitals in Sumedang. The media used to deliver this health education are leaflets, power points and video shows. Based on the analysis results, all participants had 100% good knowledge because they were able to answer correctly at the end of the post-test so it can be concluded that there was an increase in the patient's family's knowledge regarding wounds and how to treat them. Therefore, it is hoped that health education related to wound care can be carried out on an ongoing basis to increase family independence in carrying out wound care after being treated in hospital. Keywords: Knowledge, Wound Care, Family.
Hubungan Antara Usia dan Pengetahuan dengan Persepsi Stigma HIV/AIDS Pada Ibu Rumah Tangga di Kabupaten Garut Haroen, Hartiah; Hutomo, Wahyuni Maria Prasetyo; Mambangsari, Citra Windani; Witdiawati, Witdiawati; Harun, Hasniatisari
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i1.12991

Abstract

ABSTRACT There are approximately 5,100 new Human Immunodeficiency Virus (HIV) infections in the Housewife (IRT) group every year, and 35% of them are infected from their partners. This rate is higher than HIV cases in other groups such as the MSM (man sex with man). West Java is one of the four provinces with the highest number of HIV/AIDS cases in Indonesia. One of the districts in West Java with a high rate of HIV transmission is Garut Regency, where the estimation of 1,681 people with HIV/AIDS. To determine the relationship between age and knowledge with the perception of HIV/AIDS stigma among housewives. This research is a quantitative research with a cross sectional approach. Data collection was conducted in May 2023 and located in Village X, Garut Regency, West Java. The study population was housewives with inclusion criteria of women of childbearing age (aged 20-49 years) who resided permanently in the ciwalen sub-district area using purposive sampling technique as many as 97 housewives. Data collection was conducted door to door using a questionnaire which included demographic characteristics data, knowledge about HIV/AIDS using the HIV-KQ-18 Instrument consisting of 18 question items and perceived stigma using the stigma questionnaire from Berger's HIV Stigma Scale (HSS). Data were analyzed using SPSS software (Version 21), frequency distribution analysis and chi-square test. The research results showed that the majority of housewives (64 people, 66.0%) had poor knowledge about HIV, (32.0%) had high stigma about HIV and (34.0%) had low stigma. Meanwhile, only a few (34.0%) of the housewives had good knowledge and (25.8%) the housewives' stigma about HIV was low. Relationship between domestic workers' knowledge and stigma about HIV (P<0.021). The majority of housewives in the early adulthood stage (55 people, 56.7%), had high stigma (28.9%) and low stigma (27.8%), low stigma was more often found in late adulthood housewives (53.4%). Age was related to stigma about HIV (P < 0.014). To increase knowledge about HIV and reduce stigma in society, efforts are being made to increase knowledge and group discussions about HIV/AIDS. Keywords: HIV/AIDS, Housewives, Age, Knowledge, Stigma.  ABSTRAK Terdapat 5.100 infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) baru  pada kelompok Ibu Rumah Tangga (IRT) setiap tahunya dan sebagian besar 35% tertular dari pasangannya, angkat tersebut lebih tinggi dibandingkan kasus HIV pada kelompok lainnya seperti kelompok MSM (man sex with man). Jawa Barat merupakan salah satu dari empat provinsi dengan jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Indonesia. Salah satu kabupaten di Jawa Barat yang  angka penularan HIV-nya tinggi adalah Kabupaten Garut,  perkiraan jumlah orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) sebanyak 1.681 orang. Diketahui hubungan usia dan pengetahuan dengan persepsi stigma  HIV/AIDS pada ibu rumah tangga. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei 2023 dan berlokasi di Desa X, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Populasi penelitian adalah ibu rumah tangga dengan kriteria inklusi wanita usia subur (usia 20-49 tahun) yang bertempat tinggal tetap di wilayah tersebut dengan menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 97 ibu rumah tangga. Pengumpulan data dilakukan secara door to door dengan menggunakan kuesioner yang meliputi data karakteristik demografi, pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan menggunakan Instrumen HIV-KQ-18 yang terdiri dari 18 item pertanyaan dan stigma yang dirasakan dengan menggunakan kuesioner stigma dari Berger's HIV Stigma Scale (HSS). Analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS (Versi 21), analisis distribusi frekuensi dan uji chi-square. Penelitian menunjukan mayoritas IRT (64 orang, 66,0%) memiliki pengetahuan yang kurang baik tentang HIV, (32.0%) memiliki stigma tentang HIV yang tinggi dan (34,0%) yang memiliki Stigma rendah. Sementara hanya sedikit (34,0%) diantara IRT yang memiliki pengetahuan baik dan (25,8%) stigma IRT tentang HIV yang rendah. Hubungan pengetahuan dan stigma IRT tentang HIV (P<0.021). Mayoritas Usia IRT pada tahap dewasa awal (55 orang, 56.7%), memiliki  stigma tinggi (28,9%) dan stigma rendah( 27,8%), stigma rendah lebih banyak dijumpai pada IRT Usia dewasa akhir (53,4%). Usia memiliki hubungan dengan stigma tentang HIV (P < 0.014). Untuk meningkatkan pengetahuan tentang HIV dan mengurangi stigma di masyarakat  dilakukan upaya-upaya peningkatan pengetahuan dan  diskusi kelompok bersama tentang HIV/ AIDS. Kata Kunci: HIV/AIDS, Ibu Rumah Tangga, Usia, Pengetahuan, Stigma.