Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search
Journal : Wana Lstari

ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA AIR TERJUN WAI POAR DALAM KAWASAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI DESA BORU KEDANG, KECAMATAN WULANGGITANG, KABUPATEN FLORES TIMUR Kewuren, Marie I. R. I.; Riwu Kaho, Ludji Michael; Seran, Wilhelmina
Wana Lestari Vol 1 No 1 (2019): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v1i01.1908

Abstract

This study aims to determine and analyze SWOT, namely strengths, weakness, opportunities, threats as ecotourism development strategy of Wai Poar waterfall in Boru Kedang village, Wulanggitang sub-district, east Flores regency. This study was conducted in December 2018 in Boru Kedang village. Hypothesis stated is the SWOT analysis strategy in first quadrant that can improve the ecotourism development of Wai Poar waterfall. This study was a type of descriptive research of collection data for hypothesis testing and answered questions from research subject by using purposive sampling method. The population in this study was the community of Boru Kedang village. The data used are primary data and secondary data. Collection data techniques in this study were conducted through interviews, observation, distribution of questionnaires and documentation. The research method used in this study was quantitative analysis. The result of this study showed that at present, Wai Poar waterfall ecotourism has not utilized the oppurtunities that exist optimally. Therefore, the strategy that must be applied in waterfall ecotourism development is to complement the supporting infrastructure of private activities, such as: roads, cleaning facilities, etc., create policy that are specific to ecotourism development, synergize ecotourism with the arts and culture, empower local communities in ecotourism activities.
PERILAKU HARIAN RUSA TIMOR (RUSA TIMORENSIS) DI TAMAN WISATA ALAM PULAU MENIPO, KABUPATEN KUPANG NUSA TENGGARA TIMUR Moileti, Aldolin Alfalita; Seran, Wilhelmina; Riwu Kaho, Norman P.L.B.
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2576

Abstract

Rusa merupakan salah satu kekayaan satwa yang ada di Indonesia. Status Rusa di Indonesia hingga saat ini masih merupakan satwa yang dilindungi oleh undang-undang peraturan di Indonesia, berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/ MENLHK/ SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Rusa timor memiliki persebaran populasi relatif luas di Kepulauan Indonesia tetapi populasi rusa di alam terus mengalami penurunan, akibat dari hilangnya habitat, degradasi habitat, dan perburuan. Dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan populasi rusa timor perlu dipahami tentang perilaku harian rusa timor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku harian dan perbandingan perilaku harian rusa timor di TWA Pulau Menipo. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Januari-April 2019 bertempat di TWA Pulau Menipo, desa Enoraen, kecamatan Amarasi Timur, kabupaten Kupang. Pengamatan dibagi dalam tiga periode dengan interval waktu 2 jam. Metode yang digunakan yaitu focal sampling dengan selang waktu pengamatan 5 menit. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik parametrik One Way Anova dan dilakukan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan perilaku yang dilakukan rusa timor di TWA Pulau Menipo yaitu ingestif (452 atau 44,84%), resting (234 atau 23,21%), lokomosi (133 atau 13,19%), eliminatif (22 atau 2,18%), sosial (92 atau 9,13%), seksual (2 atau 0,20%), dan investigatif (73 atau 7,24%). Perbandingan perilaku harian antar individu rusa timor yaitu rusa jantan dewasa memiliki presentase ingestif dan resting lebih besar dibandingkan rusa betina dewasa serta rusa anak. Presentase perilaku lokomosi rusa anak lebih besar daripada rusa dewasa.
IDENTIFIKASI HAMA PADA TANAMAN JATI (Tectona grandis L.F) DI UDUKAMA, KECAMATAN TASIFETO BARAT, KABUPATEN BELU Rampung, Antonius Metris; Seran, Wilhelmina; Rammang, Nixon
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2577

Abstract

Pembangunan hutan tanaman seringkali menghadapi kendala teknis, dengan adanya ancaman serangan hama..Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas kayu Jatidan dapat menjadi faktor pembatas produksi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk 1. Mengidentifikasi jenis hama pada tanaman Jati (Tectona grandis) L.F. 2. Mengetahui populasi dan frekuensi kerusakan yang disebabkan oleh hama pada tanaman Jati (Tectona grandis L.F). Penelitian ini dilakukan di hutan Jati Udukama, Kecamatan Tasifeto Barat, `Kabupaten Belu menggunakan metode survey yang dilakukan pada bulan mei- juli 2019.Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekuder.Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dilapangan dengan menggunakan klaster plot. Data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Analisis data menggunakan rumus frekuensi serangan: jumlah tanaman yang terserang/ jumlah tanaman yang diamati x 100%. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) jenis hama yang ditemukan pada tanaman Jati (Tectona grandis L.F) di Udukama, adalah: rayap (Neortemes tectonae), kutu putih (pseudococcus sp) dan empoasca sp. 2) Frekuensi keruskankan yang disebabkan hama pada tanaman Jati (Tectona grandis L.F) adalah: rayap (Neortemes tectonae) 37,5%, kutu putih (pseudococcus sp) 14,4 % dan Empoasca sp 5,3% serta tingkat kerusakan oleh hama rayap kategori agak berat, kutu putih katogori ringan, dan empoasca kategori ringan. 3). Populasi hama rayap Rayap (Neortemes tectonae) pada minggu pertama (113) ekor, minggu kedua (168) ekor, minggu ketiga (190) ekor, dan minggu keempat (243) ekor. Kutu putih (pseudococcus sp) pada minggu pertama (35) ekor, minggu kedua (53) ekor, minggu ketiga (78) ekor, dan minggu keempat (92) ekor dan Empoasca SP pada minggu pertama (17) ekor, minggu kedua (35) ekor, minggu ketiga (48) ekor, dan minggu keempat (72) ekor
STUDI KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI SUAKA MARGATWA HARLU, KABUPATEN ROTE NDAO, NUSA TENGGARA TIMUR Dillak, Benyamin P; Riwu Kaho, Ludji Michael; Seran, Wilhelmina
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2580

Abstract

Burung merupakan salah satu jenis satwa liar yang banyak dimanfaatkan oleh manusiasebagai bahan makanan, binatang peliharaan, pemenuhan kebutuhan ekonomi, dan estetika(Darmawan 2006). Burung-burung di Rote adalah bagian dari avifauna Timor, dengan banyakkesamaan dengan Semau, sampai saat ini tercatat 157 spesies termasuk sekitar 70 landbirds telahdicatat, dari sebagian burung di pulau Timor belum ditemukan di pulau Rote hal ini karena kurangnyahabitat yang sesuai. Secara keseluruhan endemik burung di Rote sangat tinggi, lebih dari 20 landbirdssekitar 30% dari total spesies burung yang ditemukan merupakan spesies yang masuk dalamrestricted spesies. (verbalen,et,al 2017). SM Harlu merupakan salah satu kawasan konservasi yangditunjuk melalui keputusan menteri kehutanan Nomor :84/kpts-II/1993, tanggal 16 februari 1993dengan luas 2000 ha, dan ditetapkan melalui keputusan menteri kehutanan Nomor :3911/MenhutVII/Kuh/2014 dengan luas 2.262 Ha. Memiliki potensi fauna yang didominasi oleh jenis aves. Olehkarena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis burung yang adadalam kawasan SM Harlu. Pengambilan data dengan menggunakan metode MacKinnon, Pengamatandilakukan dengan cara menjelajah dan menghitung setiap individu yang ditemui. Penjelajahandilakukan secara acak. Berdasarkan data yang diperoleh menggunakan metode MacKinnon di analisismenggunakan Rumus Indeks keanekaragaman jenis, Indeks kemerataan, Indeks kekayaan jenis.Kelimpahan relatife jenis, kurva Kekayaan Jenis macKinnon, dan Frekuensi Penemuan Jenis. Dalampenelitian ini ditemukan 34 jenis burung dari 21 famili dengan total individu 370 individu, terdapat 1jenis burung endemik Rote dan 6 jenis burung migran dengan Indeks keanekaragaman H sebesar 3,36,indeks kekayaa 5,58 dan indeks kemerataan 0,85 dan Jenis burung isap madu Australia dan kipasandada hitam memiliki presentasi kelimpahan relatif yang tinggi yaitu 7.30 dan Frekuensi penemuanjenis burung yang di tinggi dimiliki oleh jenis burung Decu timor dengan nilai 0,7
PEMANFAATAN JENIS-JENIS TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT OLEH MASYARAKAT SEKITAR KAWASAN HUTAN LINDUNG ROKORAKA (Studi Kasus Desa Reda Pada, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya) Dangga, Maria Helmince; Seran, Wilhelmina; Rammang, Nixon
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2592

Abstract

Tumbuhan obat memiliki manfaat yang cukup besar bagi masyarakat yang berada di sekitar hutan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang jenis-jenis tumbuhan obat dan pemanfaatannya oleh masyarakat sekitar kawasanhutan lindung Rokoraka. Metode yang digunakan adalah analisis vegetasi menggunakan metode jalur transek, sebanyak 55 plot dengan ukuran plot 2 x 2 m, 5 x 5 m, 10 x 10 m, dan 20 x 20 m. Data yang dikumpulkan adalah data primerdan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara terhadap 20 narasumber yang ditentukan dengan purposive sampling untuk mengetahui penggunaan berbagai jenis tumbuhan obat oleh masyarakat lokal dan observasilangsung dengan melakukan analisis vegetasi sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai instansi atau lembaga terkait yang relevan. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 31 jenis tumbuhan obat di Hutan Lindung Rokoraka. Hasil analisis pada tumbuhan obat tingkat semai diperoleh 26 jenis 16 obat dengan INP tertinggi 29,16 %, tingkat pancang diperoleh 14 jenis obat dengan INP tertinggi 34,58 %, tingkat tiang diperoleh 14 jenis obat dengan INP tertinggi 37,55 % dan tingkat pohon diperoleh 11 jenis obat dengan INP tertinggi 49,31 %. Masyarakat lokal menggunakan 18 jenis tumbuhan obat yang berasal dari kawasan Hutan Lindung Rokoraka. Informasi potensi tumbuhan obat yang ada di kawasan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dan dapat mendukung upaya konservasi untuk tetap menjaga kelestariannya.
ANALISIS PENDAPATAN TANAMAN KEHUTANAN UNTUK KAYU BAKAR DI PASAR KUANINO, NAIKOTEN I, OEBA, OEBOBO DAN OESAPA KOTA KUPANG Loro, Merlin Merlinda; Un, Paulus; Seran, Wilhelmina
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2597

Abstract

Kayu bakar sebagai sumber energi terbarukan memiliki peran yang penting bagi masyarakat pedesaan maupun perkotaan di Indonesia dalam menunjang kesinambungan pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Konsumsi kayu bakar sangat tinggi sehingga keberadaannya di alam semakin menurun dan belum diketahui pendapatanya saat diperdagangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Jenis kayu bakar yang dijual pedagang di Kota Kupang; 2) besarnya pendapatan yang diperoleh pedagang dari hasil kayu bakar di kota kupang; 3) besarnya keuntungan relatif dari hasil kayu bakar di kota kupang. Metode yang di gunakan adalah metode survai. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Jenis kayu bakar yang dijual pedagang di Kota Kupang adalah Kayu Merah (Pinus sylvestris), Kesambi (Schleichera oleosa), Jati (Tectona grandis), Gamal (Gliricidae maculata), Lamtoro (Leucaena leucocephala) dan Kayu Duri (Akasia nilotika); 2) Jumlahkayu yang dijual pedagang sebesar 100-1200 ikat dan didatangkan dari berbagai Desa di Kabupaten Kupang yang terbanyak adalah dari Desa Bokong (Baumata); 3) Total biaya yang dikeluarkan oleh 28 pedagang di Kota Kupang adalah sebesarRp 4.385.000 dengan rata-rata biaya per pedagang sebesar Rp 156.607 sedangkan total penerimaannya sebesar Rp 31.275.000 dengan rata-rata Rp 1.116.964 per pedagang. Adapun total pendapatan yang diterima pedagang Rp 26.890.000dengan rata-rata Rp. 960.357 per pedagang. Usaha kayu bakar di Kota Kupang layak serta menguntungkan untuk diusahakan oleh pedagang dengan rasio penerimaan sebesar 7,97.
HEALTH ASSESSMENT OF TEAK FOREST (Tectona grandis L.) IN NAEKASA VILLAGE, TASIFETO BARAT, KECUPATEN BELU Asa, Agripina Aek; Seran, Wilhelmina; Riwu Kaho, Norman P.L.B.
Wana Lestari Vol 2 No 2 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v3i02.3393

Abstract

Forest Health Monitoring (FHM) is a forest monitoring action to analyze the condition of forest stands. The purpose of this study was to assess the health level of teak stands, namely by indicators of tree damage and tree crown conditions and to find out information about limiting factors that affect the health level of teak forest stands. Collecting data using the sample method, forest health monitoring (FHM) method of 3 (three) cluster plots with a total of 3 Ha of observations from a total area of ​​138 Ha. The data collected are primary data and secondary data. Based on the results of the study, the most common damage to trees was termite nests with a percentage of 25% and the lowest was broken roots with a percentage of 1% while for the location of the most damage was the top of the tree trunk with a percentage of 32%, and the lowest namely the lower part of the tree and the top of the tree trunk with a percentage of 0%. Whereas for tree crown damage with each VCR value, namely for a good VCR value with 90 trees (12%), moderate VCR value with 456 trees (54% and VCR value) low with 220 trees (29%) and there is no VCR value 4. Based on the research, there is a lot of damage because the research was carried out in the dry season so that a lot of damage was found where the trees shed their leaves to reduce evaporation so that it could affect the condition of the tree crown. So that in order to maintain the health of the forest, the authorities and the people living in the Jati Udukama forest area will continue to preserve the forest.
EVALUASI PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG MUTIS TIMAU DENGAN POLA AGROFORESTRY Sakan, Yollis C.S; Seran, Wilhelmina; Rammang, Nixon
Wana Lestari Vol 2 No 2 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v3i02.3397

Abstract

Administratively, the Timau Mutis nature reserve extends to the reigns of Mollo Utara and the reigns of Timor Tengah Selatan. Natural conditions that are fertile and nutrient-rich encourage people to apply agroforestry patterns in their management. So far, however, it is not known which agroforestry management pattern is used by communities around the forest. This study aims to determine the management of the protected forest of Mutis Timau according to the agroforestry model in the village of Fatukoto. The research method used is descriptive and sampled according to the Slovenian formula.The main components of the forest protected by Timau Mutis in the village of Fatukoto are dominated by Cemara and Ampupu. There are other forestry products, namely mahogany, melina, mango and turi. The dominant agricultural raw materials are cassava, sweet potato, and carrots and oranges, which are classified as plantation raw materials. The implementation of the protection forest management based on eight indicators shows that 79.90% of the population has a good understanding and management techniques for the management of the protected forest of Mutis Timau according to the agroforestry model. The high level of implementation is also reflected in the reduction in open spaces, which is reflected in the differences in the maps of the Mutis Timau protected area in 1983 and 2019. The management of the protected forest of Mutis Timau with alternating agroforestry patterns (alternative lines) falls into the good category. The people in the village of Fatukoto, who live around the protected forest of Mutis Timau, have also directly or indirectly felt the advantages of forest management with the applied agroforestry pattern.
PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR (POC) URIN SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI KAYU PUTIH (Melaleuca leucadendra) Bima, Margaretha Vani; Seran, Wilhelmina; Mau, Astin E
Wana Lestari Vol 2 No 2 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v3i02.3398

Abstract

Eucalyptus (Melaleuca leucadendra) is the result of a non-timber forest that utilized its leaves to be used as eucalyptus oil (cajaput oil) which will be used as medicine, insecticides and fragrances. The propagation of Eucalyptus is done in order to meet the needs of eucalyptus oil (cajaput oil) in Indonesia. The aim of this research was to determine the appropriate concentration of liquid organic fertilizer of cow urine on the growth of eucalyptus seedlings. This research was conducted at the permanent nursery Fatukoa in January to April 2020. The research method uses Complete Random Design (CRD) with 4 treatments that are A0 (0ml/1000ml), A1 (150ml/1000ml), A2 (250ml/1000ml) and A3 (350ml/1000ml). The parameters of the observation measured are the height of the plant, diameter, leaf number, dry weight and the percentage of life of eucalyptus seedlings. To find out the difference between the treatment it was tested Honestly Significant Difference (HSD). The results showed that application of liquid organic fertilizer cow urine is significantly affected to parameters of plant height, leaf number and dry weight, but is not significant affect to parameters of diameter and percentage of life. The concentration of 150ml/1000ml provides better growth results than other concentrations.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEARIFAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN MATA AIR TUBAKI DI KAWASAN HUTAN SUAKA MARGASATWA KATERI (Studi Kasus Desa Kamanasa, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka) Amaral, Maria Heltiana; Riwu Kaho, Ludji Michael; Seran, Wilhelmina
Wana Lestari Vol 2 No 2 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v3i02.3403

Abstract

Tubaki spring is one of the springs in Kateri Wildlife Sanctuary area. This study aims to determine people's perceptions of the local wisdom of Tubaki Springs in Kamanasa Village, Malaka Regency and this research was conducted in Kamanasa Village, Central Malaka Sub-District, Malaka District using qualitative methods carried out from July - October 2019. Data collected in the form of primary and secondary data. This primary data obtained the characteristics of respondents and data regarding public knowledge while secondary data obtained from the literature study from several related agencies and related institutions in the study area. The results showed that 1). The village of Kamanasa perceives the nature of Tubaki Springs positively, the Tubaki spring is seen as a gift from God that strongly supports the livelihoods of residents. 2) The people of Kamanasa Village have local wisdom in the form of: a) knowledge, including knowledge of titen., B). Values, c) Ethics and morals. d) norms consisting of recommendations, prohibitions and sanctions, and expressions. Local wisdom is used and applied as a guide for attitudes and behavior in preserving springs, in various physical and ritual activities, routine and incidental. On the basis of benefits, the community's enthusiasm for maintaining and preserving their traditions. To preserve the discharge of the Tubaki spring, not only by preserving existing traditions, but good forest management is needed around the spring and its upper areas.
Co-Authors Amaral, Maria Heltiana Asa, Agripina Aek Asa, Ignatius Asit, Avelina M. B. Un Astin Elise Mau Banoet, Asri Meyrani Rahelia Barbara Yunita Leki Benu, Martha Bima, Margaretha Vani Blolok, Agustina Sumarni Ciputri Bogos, Filemon Bolang, Ben Jusuf A. Butung, Yunita Dangga, Maria Helmince Danggur, Yakobus Emilianus Demang, Juandri Inyo Dhenada Nunuhitu Diaz, Renalthy Lidwina Dillak, Benyamin P Djara, Febi Tade Edon, Servasius Gratia Elisabet E. P Laom Fitriana, Puput Frederik Reinardus Naiheli Gue, Yohanes Hana, Yanete Wori Jebaru, Florentina Kaho Hinga, Sion Christanto Kaho, Ludji Michael Riwu Kaho, Norman P. L. B. Riwu Kaho, Norman P.L.B. Riwu Kewuren, Marie I. R. I. Lalur, Francisca Vainalia Ledo, Sudarmin Liwu, Nina A. I. Loro, Merlin Merlinda Ludji Michael Riwu Kaho Mamie E. Pellondo'u Mamie Elsyana Pellondo’u Mau, Astin E Mau, Astin E. Mau, Astin Elise MEI WULANDARI Minata, Maria Moileti, Aldolin Alfalita Nahak, Joanetty Maria Annisa Dellty Nampa, I Wayan Ndula, Aleksandro Alianto Ngalu, Maria Elisabet L. Nirmala Pab, Maria Kasih Karunia Nixon Rammang, Nixon Nomleni, Bay Bona Nomleni, Herman Norman P. L. B Riwu Kaho Norman P. L. B. Riwu Kaho Norman Riwu Kaho Oematan, Shirly S Pala, Gloria Natalia Pamona S. Sinaga Pamona Silvia SINAGA Pellendo’u, Mamie E. Pellondo'u, Mamie E. Pellondou, Mamie E. Pellondo’u, Mamie E. Pellondo’u, Mamie Elsyana Pelondo'u, Mamie E Pramatana, Fadlan Purnama, Maria M. E. Rampung, Antonius Metris Riwu Kaho, Ludji Michael Riwu Kaho, Norman P. L. B. Riwu Kaho, Norman P.L.B. Robu, Daud Arianto Roni Haposan Sipayung Sakan, Ritwan Sakan, Yollis C.S Seran, Alexander Alfa Jan Junior Sinaga, Pamona S. Soares, Hilda Audreya Consita Soimin, Muhamad Sudarmin Ledo Tefa, Angriani Noventa Tefa, Gradiana Telaumbanua, Bartolomeus Tessa Novia Kristi Un, Paulus Wawo, Melkianus Wulan Chairunissa Anwar Yanete Wori Hana Yusratul Aini