Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Menimbang Penafsiran Emansipatoris dalam Al-Qur'an Endang Saeful Anwar
Al-Fath Vol 9 No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v9i2.3338

Abstract

Upaya interpretasi terhadap al-Qur'an mutlak harus dilakukan, karena perubahan dan perkembangan zaman yang begitu teramat cepat sehingga memunculkan berbagai problema dan permasalahan baru yang belum pernah ada sebelumnya yang tentunya tidak termuat secara eksplisit dalam al-Qur'an, membuat umat Islam harus melakukan upaya ekstra untuk menarik petunjuk al-Qur'an dalam menghadapi hal-hal tersebut. Apalagi mengingat seringnya bentuk-bentuk penafsiran al-Qur'an terjebak dalam pembacaan parsial, ahistoris, dan kehilangan konteks ekstensialnya. Pendekatan yang dilakukan selama ini dalam menafsirkan al-Qur'an oleh sebagian cendekiawan dianggap masih sangat memprihatinkan. Kritik yang sering muncul adalah terkait dengan tidak adanya metodologi interpretasi al-Qur'an yang mumpuni yang bisa menangkap pesan utuh dari al-Qur'an. Tulisan ini membahas tentang penafsiran emansipatoris atau transformatif, yaitu paradigma yang diawali dari realita, memusat kepada emansipasi (kebebasan manusia), tidak menjadikan teks segala-galanya, tetapi dipergunakan dan berperan sebagai alat untuk mempertajam nurani dalam melihat problem kemanusiaan.
Makna Ayat-Ayat Fauzan Adzima dalam Al Quran Menurut Sayyid Qutb (Studi Tafsir Fi Zhilal Quran) Fauzan Adzima; Endang Saeful Anwar
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 01 (2023): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v8i01.4456

Abstract

Terkadang makna kata dalam Al-Quran memiliki penafsiran yang berbeda. Dengan mufassir yang memiliki latar belakang tersendiri. Tulisan ini mengkaji penafsiran Sayyid Qutb dalam kata fauzan adzima. Untuk mendapatkan hasil yang komprehensif dan relevan, sehingga menjadi makna penting dalam Al-Quran. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dengan model penelitian kajian library research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Fauzan Adzima terhadap makna ayat-ayat tersebut memiliki variasi yang berbeda. Dalam Q.S AnNisaa, Fauzan Adzima memberikan dua makna yang berbeda. Pertama, kemenangan dalam perspektif orang munafik, yang mencakup kemenangan dalam peperangan dan memperoleh harta rampasan yang besar. Kedua, kemenangan dalam perspektif orang Muslim, yang melibatkan mencari ridha Allah dengan ikhlas melaksanakan perintah untuk berperang, bahkan ketika mengalami syahid, yang juga dianggap sebagai kemenangan yang besar. Dalam Q.S Al Ahzab, Fauzan Adzima menginterpretasikan kemenangan sebagai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan mematuhi segala perintah dan larangan yang diturunkan-Nya. Dia menegaskan pentingnya tidak menyimpang seperti orang-orang munafik yang mencela Islam dengan budaya mereka. Sementara dalam Q.S Al Fath, Fauzan Adzima memberikan penafsiran bahwa kemenangan adalah hadiah dari Allah berupa surga. Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa keuntungan lainnya yang dimaksud adalah keuntungan yang diperoleh melalui perjanjian Hudaibiyah.
Arabic Teaching and Learning in Matriculation Program for Al-Azhar Student’s Candidate Zaki Ghufron; Endang Saeful Anwar; Azizah Alawiyah; Mufrodi Mufrodi
Arabiyat : Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/a.v10i1.31869

Abstract

This study aims to analyze Arabic learning material conducted by Pusiba and El-Darosah, which are official institutions for language studies for preparing prospective students who want to study in the Middle East, especially Egypt. This institution prepared language skills, aspects of mentality, and Islamic and national insight based on Al-Azhar's vision. This research was qualitative, using content analysis and sociolinguistic approaches, in which the study of a language was not only limited to the involvement of intrinsic as structure’s perceptions, but also extrinsic aspects, such as social, cultural, economic, political and others were done by post-structuralism. This research showed that the Pusiba and El-Darosah institutions as their official representatives have succeeded in explaining the identity of Al-Azhar, that is wasatiyah (moderate) Islamic views contained learning texts which were the main axis in learning Arabic such as al-Islam wa Huriyah al-‘Aqidah, al-‘Adl fi al-Islâm, al-‘Adl fi Mu’âmalah Ahl al-Diyânât al-Ukhrâ, Samâhah al-Islam ma’a Ahl al-Diyânât al-Ukhrâ, Mafhûm al-Huriyah fi al-Islam, al-Hiwâr ma’a al-Âkhar, and Al-Azhar wa Wasathiyah al-Islam, which were presented in several steps of Arabic learning books developed by Al-Azhar university.
The Communication Language Style of The Government of Kuwait During The Covid-19 Pandemic | Gaya Bahasa Komunikasi Pemerintah Kuwait di Masa Pandemi Covid-19 Ghufron, Zaki; Anwar, Endang Saeful; Alawiyyah, Azizah; Mufrodi, Mufrodi
Ta'lim al-'Arabiyyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab & Kebahasaaraban Vol 7, No 1 (2023): Ta'lim al-'Arabiyyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jpba.v7i1.19054

Abstract

The purpose of this study is to describe that the Government of Kuwait, through its official social media, uses a lot of euphemistic and dysphemic language styles in conveying information in the era of the Covid-19 pandemic. This study uses a qualitative approach with content analysis to understand the symbolic messages contained in documents, paintings, dances, songs, literary works, and others as unstructured data. The data collection technique used is the observation and note-taking technique. Listening in the context of this study means reading, which is then recorded to document the data obtained. The data analysis technique used is the equivalent referential technique to find out grammatical units such as euphemisms and dysphemisms, while to analyze the background of the use of euphemisms and dysphemisms, pragmatic equivalent analysis is used. Based on the results of an analysis of data obtained from the official social media of the Ministry of Health of Kuwait, many euphemistic and dysphemistic forms were found in conveying information regarding the latest matters and developments regarding Covid-19 in the country of Kuwait. It is used for specific purposes. The purpose of using euphemistic forms is to avoid mentioning negative reality, which aims to minimize the harmful effects of utterances that seem scary, worrying, make noise, offend, hurt, disrespect, or violate social norms. Euphemistic forms also aim to evoke an optimistic attitude toward residents in dealing with the coronavirus pandemic. The use of the dysphemistic form used by the Kuwaiti Ministry of Health in presenting information about matters related to Covid-19 in that country is aimed at scaring, showing annoyance, and giving warnings so that they are even more vigilant in dealing with the Covid 19 pandemic.
HADIS-HADIS FUTURISTIK DALAM ṢAḤĪH AL-BUKHĀRIY Saeful Anwar, Endang
Al-Fath Vol 15 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pentingnya studi terhadap hadis-hadis futuristik bukan saja karena hadis-hadis tersebut masuk kategori di luar jangkauan nalar, tetapi juga karena deskripsi naratif Nabi SAW belasan abad lalu tentang masa depan, tentu terkendala dengan kosa kata-kosa kata yang berlaku masa itu untuk menjelaskan hal-hal tentang masa depan yang belum ada masa itu. Pada awal abad kedua hijriah, kaidah-kaidah ini belum terbentuk secara sistematis, baru pada abad keempat kaidah ini bisa terformulasikan oleh ulama-ulama sesudahnya. Salah satu ulama yang memiliki perhatian besar terhadap hadis adalah Imam Bukhari. Untuk itu, penelitian ini memfokuskan pada hadits-hadits futuristik yang dikumpulkan oleh Imam Bukhari.
Sastra Tafsir Mesir dan Indonesia: Analisis Kritis dan Komparatif Alim Faz, Ahmad; Al Ayubi, Sholahuddin; Anwar, Endang Saeful
Journal of Knowledge and Collaboration Vol. 2 No. 2 (2025): Journal of Knowledge and Collaboration
Publisher : Arbain Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59613/19gsmn11

Abstract

Setiap karya tafsir tidak akan terlepas dari realitas, kecenderungan, gaya, ciri, bahkan tipologi tertentu yang berbeda-beda. Faktor yang melatarbelakanginya adalah perbedaan sosial-historis masing-masing penafsir, termasuk karya tafsir di Mesir dan Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami karya sastra tafsir di Mesir dan Indonesia dengan menggunakan pendekatan analisis krisis dan komparatif. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan fokus kajian pada teks tafsir. Pendekatan historis khususnya aspek heuristik digunakan dalam rangka menelusuri jejak sejarah, khususnya konektivitas pengajaran tafsir Al-Qur'an antara Mesir dan Indonesia serta jejak pengaruh gagasan pembaruan. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Hasil penelitian tentang gaya dan tipologi tafsir di Indonesia banyak diwarnai oleh Islam lokal, baik budaya maupun kondisi saat ayat-ayat Al-Qur'an ditafsirkan oleh penafsir. Kemudian, tafsir Indonesia juga memiliki keterkaitan dan keterikatan yang kuat dengan pola pikir al-Azhar Mesir yang melahirkan banyak ulama Indonesia yang secara tidak langsung menyumbangkan pemikirannya dalam menghasilkan karya-karya tafsir Indonesia.
Tasawuf sebagai Jembatan Rasionalitas dan Spiritualitas: Kajian Pemikiran Al-Ghazali dalam Konteks Islam Klasik Muhdi Ali; Masbuang; Suadi Sa’ad; Endang Saeful Anwar
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The debate on the relationship between rationality and spirituality has been a central theme in classical Islamic thought. Al-Ghazali (d. 1111 CE) occupies a unique position in this debate by criticizing rationalist philosophy in Tahāfut al-Falāsifah and establishing a synthesis between reason and mystical experience in Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn and al-Munqidh min al-Ḍalāl. This study aims to analyze how Al-Ghazali formulated Sufism as an epistemological bridge between rationality and spirituality in classical Islam. Using a qualitative approach based on literature study, this study examines Al-Ghazali's main texts and compares them with the thoughts of contemporary philosophers and Sufis. The results show that Al-Ghazali did not reject rationality completely, but positioned reason as a limited instrument that needs to be equipped with spiritual illumination (kashf). This integration allows Sufism to become part of Sunni orthodoxy while providing an epistemological basis for classical Islamic thought. This finding has implications for strengthening the relevance of Sufism in contemporary scientific discourse, especially in developing a paradigm that accommodates both critical reasoning and spiritual awareness in Islamic studies.
Kuriositas dalam Al-Qur’an: Studi Qur’an Tematik dengan Pendekatan Grounded Theory Rohmah, Siti; Anwar, Endang Saeful; Luthfi, Hikmatul; Alif, Muhammad
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i2.5403

Abstract

Salah satu komponen penting dalam pencarian ilmu adalah rasa ingin tahu, yang terkadang dikenal sebagai keinginan untuk belajar. Gagasan bahwa manusia terdorong untuk bertanya, berpikir, mengamati, dan mencari pemahaman benar-benar hadir dalam banyak kisah Al-Qur'an, meskipun hal itu jarang menjadi subjek studi tafsir Al-Qur'an. Melalui pendekatan tematik (maud'i) dengan menggunakan metodologi Grounded theory, studi ini meneliti berbagai cara rasa ingin tahu diekspresikan dalam Al-Qur'an. Ayat-ayat Al-Qur'an yang berisi arahan untuk berpikir, membaca, dan bertanya, serta peristiwa yang memiliki makna pencarian, seperti kisah para malaikat dan Nabi Adam, perenungan tentang penciptaan, dan perjalanan spiritual Nabi Musa dengan Khidr, merupakan sumber data utama. Prosedur analisis terdiri dari tiga fase: pengkodean terbuka, pengkodean aksial, dan pengkodean selektif. Menurut studi ini, ada tujuh bentuk utama rasa ingin tahu dalam Al-Qur'an: eksistensial, observasional, empiris, ilmiah, akademis, spiritual, dan ketekunan optimis. Menurut penemuan ini, Al-Qur'an tidak hanya memberikan arahan normatif, tetapi juga mengilhami manusia untuk secara aktif mencari makna melalui akal, indra, dan dimensi spiritual. Rasa ingin tahu dalam Al-Qur'an bukanlah indikasi kebingungan; sebaliknya, itu adalah cara untuk memperoleh pengetahuan, keimanan, dan pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri.
Menafsirkan Ulang Ayat Poligami dan Otoritas Perempuan (Analisis Tafsir Kontekstual Abdullah Saeed dan Ziauddin Sardar) Maharani Hidayah, Dewi; Saeful Anwar, Endang; Luthfi, Hikmatul
JOURNAL OF QUR'AN AND HADITH STUDIES Vol. 14 No. 1 (2025)
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/quhas.v14i1.45772

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan ulang ayat poligami dalam Q.S. An-Nisa: 3 melalui pendekatan tafsir kontekstual perspektif Abdullah Saeed dan Ziauddin Sardar. Ayat poligami seringkali dipahami secara harfiah tanpa mempertimbangkan konteks historis dan sosial yang melatarbelakanginya, padahal ayat ini turun dalam konteks masyarakat Arab pra-Islam yang memiliki praktik poligami tanpa batas dan cenderung eksploitatif terhadap perempuan. Dalam konteks modern, pemahaman tentang poligami perlu ditinjau ulang agar relevan dengan prinsip keadilan, kesetaraan gender, dan hak asasi manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis teks dan studi pustaka, berfokus pada karya-karya Abdullah Saeed dan Ziauddin Sardar serta literatur pendukung lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat poligami bukanlah anjuran mutlak, melainkan bentuk reformasi sosial yang membatasi praktik poligami dengan menekankan syarat keadilan. Pendekatan tafsir kontekstual menegaskan bahwa dalam konteks modern, monogami lebih sesuai dengan prinsip keadilan dan kesetaraan gender. Penelitian ini juga menekankan pentingnya melibatkan perspektif perempuan dalam penafsiran dan memberikan rekomendasi untuk penerapan poligami yang lebih adil dan manusiawi dalam masyarakat kontemporer.
Transformasi Epistimologi Hukum Islam Klasik: Rekostruksi Metodologis Untuk Yurisprudensi Kontemporer Arinalhaq, Muhammad Syauqi; Suadi Saad; Endang Saeful Anwar
El-Faqih : Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol. 11 No. 2 (2025): EL FAQIH
Publisher : Institut Agama Islam (IAI) Faqih Asy'ari Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine the evolution of Islamic law in the classical period, analyze its sources and methods, and review the extent of its influence on contemporary jurisprudence. This research employs a qualitative method with historical, normative, and epistemological approaches. The findings indicate that the development of Islamic law in the classical era emerged from the interaction between sacred texts, rational reasoning, and socio-historical conditions. Various schools of thought that arose at that time demonstrated distinctive characteristics while maintaining adherence to the fundamental principles of law. The study further reveals that the concept of maqāṣid al-sharī‘ah had been employed by classical scholars to formulate laws that remained relevant to the needs of their society. The novelty of this research lies in the epistemological reconstruction of classical Islamic law, which is proposed as a new methodological framework for contemporary jurisprudence. It emphasizes that modern ijtihad does not merely replicate classical legal products but rather integrates maqāṣid principles and interdisciplinary approaches to address the complexities of social, economic, political, and cultural transformations. The theoretical implication of these findings is the need to reposition the epistemology of Islamic law from a purely textual-normative paradigm toward a contextual-adaptive paradigm that is more responsive to contemporary challenges. Thus, this study contributes to the development of modern Islamic law by offering a methodological framework that is critical, dynamic, and relevant to the demands of a global society.