Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Pengaruh Self-Care Management Berbasis Pemberdayaan Keluarga Terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi Rahmah Syahfitri; Evi Karota; Jenny Marlindawani Purba; Kiking Ritarwan; Siti Zahara Nasution
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58238

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis tidak menular yang berkontribusi besar terhadap morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular di seluruh dunia. Pengendalian tekanan darah yang tidak optimal sering dikaitkan dengan kurangnya kemampuan self care-management, rendahnya kepatuhan pengobatan, serta minimnya keterlibatan keluarga dalam perawatan pasien. Pendekatan self-care management berbasis pemberdayaan keluarga dapat meningkatkan kemampuan pasien dalam mempertahankan perilaku hidup sehat dan mengontrol tekanan darah secara lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas self-care management berbasis pemberdayaan keluarga terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi di pelayanan kesehatan masyarakat. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest control group design yang melibatkan 68 pasien hipertensi yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan edukasi self-care management berbasis keluarga, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan perawatan rutin. Tekanan darah diukur sebelum dan sesudah intervensi selama empat minggu. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan tekanan darah sistolik dan diastolik pada kelompok intervensi (p < 0,05), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang bermakna (p > 0,05). Selain itu, kelompok intervensi menunjukkan kepatuhan self-care yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Self-care management berbasis pemberdayaan keluarga efektif dalam meningkatkan pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi.
Efektivitas Simulation-Based Interprofessional Education Terhadap Peningkatan Kompetensi Kolaborasi, Komunikasi Interprofesional dan Patient Safety Pada Mahasiswa Keperawatan: A Literature Review Siti Zahara Nasution; Yuliani Krisna Lubis; Evi Karota; Rika Endah Nurhidayah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59635

Abstract

Kolaborasi interprofesional merupakan kompetensi penting dalam pelayanan kesehatan karena kualitas pelayanan dan keselamatan pasien sangat dipengaruhi oleh komunikasi efektif dan kerja sama antar tenaga kesehatan. Simulation-Based Interprofessional Education (SIPE) merupakan metode pembelajaran inovatif yang memberikan pengalaman belajar klinis realistis melalui skenario simulasi untuk meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam praktik kolaboratif. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas Simulation-Based Interprofessional Education terhadap peningkatan kompetensi kolaborasi, komunikasi interprofesional, dan patient safety pada mahasiswa keperawatan. Penelitian ini menggunakan desain literature review dengan pendekatan narrative synthesis berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan melalui database Scopus, PubMed, Google Scholar, dan Garuda menggunakan kata kunci simulation-based learning, interprofessional education, teamwork, communication, patient safety, dan nursing students. Sebanyak 10 artikel yang terdiri dari 5 jurnal internasional dan 5 jurnal nasional yang dipublikasikan tahun 2021–2026 memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Simulation-Based Interprofessional Education efektif meningkatkan kompetensi kolaborasi, komunikasi interprofesional, teamwork, clinical judgement, dan kesadaran terhadap keselamatan pasien pada mahasiswa keperawatan. Penggunaan high-fidelity simulation, virtual simulation, dan simulasi berbasis TeamSTEPPS meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam praktik klinis kolaboratif melalui pengalaman belajar yang realistis dan interaktif. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa Simulation-Based Interprofessional Education merupakan strategi pembelajaran inovatif yang efektif dalam pendidikan keperawatan untuk meningkatkan kompetensi kolaborasi, komunikasi interprofesional, dan patient safety mahasiswa keperawatan.
Faktor Resiko Jatuh pada Lansia di Unit Pelayanan Primer Puskesmas Medan Johor Vitri Rohima; Iwan Rusdi; Evi Karota
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.18 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.184

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Lansia merupakan tahap akhir pertumbuhan kehidupan manusia yang mengalami perubahan fisik maupun psikososial, dan salah satu aspek penting perubahan itu adalah resiko jatuh. Resiko jatuh pada lansia dipengaruhi oleh faktor intrinsik, faktor ekstrinsik, dan faktor situasional. Tujuan: penelitian ini untuk mengetahui hubungan resiko jatuh dengan kejadian jatuh pada klien lansia di Puskesmas Medan Johor. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif korelasi terhadap 70 responden lansia. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner faktorfaktor penyebab resiko jatuh dan kejadian resiko jatuh pada klien lansia. Hasil: umumnya klien berusia 60-74 (51%), beragama Islam (81%), dan keluarga tinggal serumah lebih dari 2 orang 84%. Hasil penelitian menunjukkan faktor penyebab resiko jatuh lansia terutama dari faktor situasional 26%, faktor intrinsik 17% dan tidak ada dari faktor ekstrinsik (0%). Berdasarkan kejadian resiko jatuh pada lansia adalah 46% beresiko tinggi, 36% beresiko rendah, dan 18% tidak beresiko. Hasil uji chi square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dari faktor intrinsik p=0,000, faktor ekstrinsik p=0,000 dan faktor situasional p=0,004 terhadap kejadian resiko jatuh. Kesimpulan: faktor-faktor resiko jatuh berhubungan dengan kejadian jatuh pada klien lansia di Puskesmas Medan Johor. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi pelayanan kesehatan khususnya pelayanan asuhan keperawatan untuk meningkatkan edukasi kepada klien lansia dan keluarganya tentang dengan resiko jatuh dan pelayanan kesehatan dapat melakukan pengembangan program kegiatan pencegahan resiko jatuh pada lansia.Kata Kunci: Lansia, resiko jatuh, kejadian resiko jatuhRisk for Full Factor among the Elders in Puskesmas Medan Johor ABSTRACTBackground: Elderly is a process of human life experiencing various physical and psychosocial changes, and one important aspect due to these changes is the risk of falling among the elders. It is influenced by intrinsic, extrinsic, and situational factors. Aim: The purpose of this study was to determine the relationship between the risk of falls and the incidence of falls in elderly clients who visit to the Health Center. Method: This study is a descriptive study of correlation to 70 elderly people at the Puskesmas Medan Johor. The data were collected by using questionnaires of risk factors of fall and risk incidence of falls on the elders. Result: Demographic data are generally the elders aged 60-74 years (51%), Moslem (81%), family live at home more than 2 person (84%). The results of the study showed that the risk factor of falling elderly mainly from situational factor (26%), intrinsic factor (17%) and extrinsic factor (0%). Meanwhile, based on the risk incidence of falling on the elderly clients, the result is high risk (46%), low risk (36%), and no risk of fall (18%). The chi square test shows that there is significant correlation of intrinsic factor p=0.000, extrinsic factor p=0.000 and situational factor p=0.004 to fall risk event. Conclusion: There is a relationship between falling risk factors and the incidence of falls in elderly clients at the Puskesmas Medan Johor. This study provide recommendations for health services, especially nursing care services to provide education to elderly clients and their families related to the risk of falls in the elderly and the health centers can develop prevention programs to reduce the risk of falls in the elderly.Keywords: Elderly, a risk factor for falling, the risk of falling
Pengaruh Edukasi Suportif Terhadap Kemandirian Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas PB Selayang II Medan Meilinda Nainggolan; Wardiyah Daulay; Siti Zahara Nasution; Zulhaida Lubis; Evi Karota
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59135

Abstract

Peningkatan jumlah lansia berhubungan dengan meningkatnya risiko penurunan kemampuan fungsional, terutama dalam melakukan Activities of Daily Living (ADL), yang dapat menyebabkan ketergantungan dan menurunkan kualitas hidup. Upaya mempertahankan kemandirian lansia memerlukan intervensi keperawatan yang tidak hanya berfokus pada pemberian informasi, tetapi juga pada pemberdayaan melalui dukungan emosional dan pelatihan keterampilan. Edukasi suportif merupakan pendekatan keperawatan yang mengintegrasikan pemberian informasi, dukungan emosional, motivasi, dan pelatihan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan perawatan diri lansia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi suportif terhadap kemandirian lansia berdasarkan skor Activities of Daily Living (ADL) di wilayah kerja Puskesmas PB Selayang II Medan. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pre-test–post-test delayed treatment control group. Sampel berjumlah 88 responden yang terdiri atas kelompok intervensi (44 orang) dan kelompok kontrol (44 orang) dengan teknik purposive sampling. Pengukuran kemandirian dilakukan menggunakan Katz Index of Independence in Activities of Daily Living. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann–Whitney karena data tidak berdistribusi normal berdasarkan uji Shapiro–Wilk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata skor ADL kelompok intervensi meningkat dari 3,07 ± 0,789 menjadi 4,09 ± 1,007 dengan perbedaan bermakna (p<0,001), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna dari 3,14 ± 0,668 menjadi 3,14 ± 0,632 (p=1,000). Uji Mann–Whitney menunjukkan adanya perbedaan perubahan skor ADL yang bermakna secara statistik antara kedua kelompok (p=0,000), dengan rerata perubahan lebih tinggi pada kelompok intervensi (1,02 ± 0,73) dibandingkan kelompok kontrol (0,00 ± 0,37). Penelitian ini menyimpulkan bahwa edukasi suportif berpengaruh terhadap peningkatan kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan berpotensi menjadi intervensi keperawatan komunitas berbasis pemberdayaan pada pelayanan kesehatan primer.
Pengaruh Manajemen Diri Berbasis Dukungan Keluarga Terhadap Kecemasan dan Kesepian Pada Lansia dengan Hipertensi: Studi Quasi-Experimental Dewi Fortuna Grace Dayanty Napitupulu; Jenny Marlindawani Purba; Evi Karota; Kiking Ritarwan; Siti Zahara Nasution
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59137

Abstract

Hipertensi pada lansia merupakan masalah kesehatan kronis yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan mental emosional seperti kecemasan dan loneliness yang berpotensi menurunkan kualitas hidup serta menghambat pengendalian penyakit. Intervensi psikososial dengan pendekatan keluarga sangat dibutuhkan oleh lansia untuk mengatasi masalah psikososial sehingga mereka dapat mencapai kualitas hidup yang baik meskipun mengalami hipertensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh manajemen diri berbasis dukungan keluarga terhadap kecemasan dan loneliness pada lansia dengan hipertensi di Puskesmas Medan Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan pretest–posttest with control group. Jumlah responden sebanyak 84 orang yang terdiri dari kelompok intervensi (n=42) dan kelompok kontrol (n=42) dengan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian meliputi Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7), UCLA Loneliness Scale Version 3, dan Family Support Scale (FSS). Analisis data menggunakan paired t-test dan independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kecemasan pada kelompok intervensi berkurang secara signifikan dari (Mean=11,21; SD=3,159) menjadi (Mean=5,93; SD=1,488), dibandingkan dengan kelompok kontrol dari (Mean=12,79; SD=4,508) menjadi (Mean=11,69; SD=2,236) setelah mengikuti manajemen diri berbasis dukungan keluarga. Rerata loneliness pada kelompok intervensi berkurang dari (Mean=40,69; SD=7,703) menjadi (Mean=33,67; SD=5,299), dibandingkan dengan kelompok kontrol dari (Mean=44,12; SD=9,696) menjadi (Mean=38,00; SD=4,768). Terdapat pengaruh manajemen diri berbasis dukungan keluarga terhadap kecemasan dan loneliness pada kelompok intervensi (p=0,000). Pada kelompok kontrol tidak ditemukan pengaruh bermakna terhadap kecemasan (p=0,113), sedangkan pada variabel loneliness masih ditemukan perubahan bermakna (p=0,000). Terdapat perbedaan nilai rerata kecemasan dan loneliness antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah mengikuti manajemen diri berbasis dukungan keluarga (p=0,000; p<0,05) dan (p=0,000; p<0,001). Manajemen diri berbasis dukungan keluarga terbukti memberikan dampak positif dalam membantu lansia dengan hipertensi mengatasi kecemasan dan loneliness serta mencegah terjadinya gangguan mental emosional.
Delegation of Doctors' Authority to Nurses in Hospitals: Legal Analysis Vitri Rohima; M. Nasser; Redyanto Sidik; Evi Karota; Jasmen Nadeak
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No 6 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6i6.4747

Abstract

According to applicable laws and regulations, the law regulates professional behavior in the relationship between doctors and nurses based on the responsibility for delegating tasks and attributive authority. This study aims to analyze juridically the delegation of authority of doctors to nurses in hospitals and juridical analysis of the delegation of authority of doctors to nurses in terms of the existing lex specialist legislation. This study uses secondary data from literature review through online searches of scientific articles using three electronic databases, namely: Google Scholar, Science Direct, and Proquest, with data related to issues of delegation and authority of doctors to nurses in Indonesia. Nurses as health workers need legal protection in carrying out their duties and obligations according to their authority which has been regulated in related laws and regulations. The legal responsibility of nurses is based on the field of law in State Administrative Law, Civil Law, and Criminal Law. Meanwhile, the nurse's attribution authority is based on nursing care and is attached to the independent function of nurses carrying out tasks based on their authority. The mandate authority in the nurse's interdependent function in teamwork and delegation authority is attached to the dependent function where the nurse's interventions are the doctor's responsibility, but the duties and responsibilities are left to nurses who have met certain requirements.
The Effect of Self-Care Behavior on Blood Glucose Control Levels Among Patients with Type II Diabetes Mellitus Helpianus Siswanto Hondro; Evi Karota; Riswani Tanjung; Zulhaida Lubis; Siti Zahara Nasution
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 5 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i5.6937

Abstract

Diabetes mellitus is characterized by elevated blood glucose levels above normal, with random blood glucose levels ≥ 200 mg/dl and fasting blood glucose levels ≥ 126 mg/dl. This study employed a quantitative research method with a quasi-experimental design and an equivalent control group design approach. The study utilized power analysis with consecutive sampling techniques. Data collection techniques involved distributing questionnaires to 74 diabetes mellitus patients in the Onolalu Health Center Working Area, South Nias District. Data analysis techniques used independent t-test statistical analysis and presented in the form of a T-test table. The results of the study indicate that there is an influence of self-care behavior on blood sugar control levels in type II diabetes mellitus patients in the Onolalu Health Center Working Area, South Nias Regency, with a Sig. (2-tailed) of 0.024 < 0.05. Therefore, in the independent sample t-test, it can be concluded that the null hypothesis (HO) is rejected and the alternative hypothesis (Ha) is accepted. Thus, it can be concluded that there is a significant (statistically significant) difference between the average blood sugar levels of type II diabetes mellitus patients in the intervention group and the control group.