Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Analisis Faktor Risiko Akses Pelayanan Kesehatan Anak Balita Terhadap Kejadian Stunting Usia 0–24 Bulan di Indonesia SSGI 2022 Aryawati, Wayan; F, Christin Angelina; Farahdisa, Ratih Mary; Muhan, Nova; Sari, Fitri Eka
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.49654

Abstract

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, terutama pada anak usia 0–24 bulan, dengan dampak buruk terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan produktivitas jangka panjang. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan akses layanan kesehatan anak dengan kejadian stunting serta mengidentifikasi faktor dominan yang memengaruhinya. Menggunakan desain potong lintang, penelitian ini memanfaatkan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SGII) 2022 dari 124.250 anak usia 0–24 bulan. Analisis data dilakukan dengan metode univariat, bivariat (uji chi-kuadrat), dan multivariat (regresi logistik berganda). Hasil bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara stunting dengan akses layanan kesehatan (p=0,000; OR=0,880; 95% CI: 0,842–0,920), kunjungan antenatal care (ANC) (p=0,000; OR=1,215; 95% CI: 1,161–1,271), dan ASI eksklusif (p=0,000; OR=0,879; 95% CI: 0,842–0,918). Analisis multivariat mengungkapkan kunjungan ANC sebagai faktor paling dominan (p=0,000; OR=1,228; 95% CI: 1,174–1,285). Temuan ini menegaskan bahwa akses layanan kesehatan bersifat protektif, dengan kunjungan ANC memiliki pengaruh terkuat dalam mencegah stunting. Intervensi disarankan berfokus pada peningkatan cakupan dan kualitas ANC, perluasan akses layanan kesehatan primer, serta edukasi usia ideal kehamilan untuk menurunkan prevalensi stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi tidak terkontrol pada pasien prolanis Oktavio, Irda Angelica; Suwito, Suwito; Aryastuti, Nurul; Sari, Fitri Eka
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1325

Abstract

Background: The number of hypertension cases at the Gisting Community Health Center in 2024 was 1.164 people with hypertension. Of these, 120 individuals with hypertension were also participating in the chronic disease management program (Prolanis). Purpose: To determine factors associated with the occurrence of uncontrolled hypertension in Prolanis patients at the Gisting Community Health Center in 2024. Method: This was a quantitative analytical study with a cross-sectional design. The sample consisted of 120 hypertensive patients participating in the Prolanis program at the Gisting Community Health Center in 2024. Data collection was conducted using a questionnaire. Data analysis was conducted using the chi-square test and logistic regression. Results: There is no relationship between smoking and uncontrolled hypertension with p value: 0.198; there is no relationship between stress and uncontrolled hypertension with p value: 0.236; there is a relationship between adherence to antihypertensive medication consumption and uncontrolled hypertension with p value: 0.000; OR: 14.760; there is a relationship between routine check-ups and uncontrolled hypertension with p value: 0.0.000; OR: 17.862; there is a relationship between a history of diabetes mellitus and uncontrolled hypertension with p value: 0.022; OR: 2.799; there is no relationship between total cholesterol levels and uncontrolled hypertension with p value: 0.062; the most dominant factor is routine check-ups with OR value: 8.362. Conclusion: There is no relationship between smoking and uncontrolled hypertension, there is no relationship between stress and uncontrolled hypertension, there is a relationship between adherence to antihypertensive medication consumption and uncontrolled hypertension, there is a relationship between routine check-ups and uncontrolled hypertension, there is a relationship between a history of diabetes mellitus and uncontrolled hypertension, there is no relationship between total cholesterol levels and uncontrolled hypertension, and the most dominant factor is routine check-ups.   Keywords: Uncontrolled Hypertension; Prolantis.   Pendahuluan: Jumlah kasus hipertensi di Puskesmas Gisting pada tahun 2024 yaitu sebanyak 1.164 orang yang terkena hipertensi. Didapatkan sejumlah 120 orang yang memiliki penyakit hipertensi juga mengikuti program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis). Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi tidak terkontrol pada pasien Prolanis di Puskesmas Gisting Tahun 2024. Metode: Penelitian analitik kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian adalah penderita hipertensi yang mengikuti program Prolanis di Puskesmas Gisting Tahun 2024 sebanyak 120 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistic. Hasil: Tidak ada hubungan merokok dengan hipertensi tidak terkontrol dengan p value: 0.198; tidak ada hubungan stress dengan hipertensi tidak terkontrol dengan p value: 0.236; ada hubungan kepatuhan konsumsi obat antihipertensi dengan hipertensi tidak terkontrol p value: 0.000; OR: 14.760; ada hubungan pemeriksaan rutin dengan hipertensi tidak terkontrol p value: 0.000; OR: 17.862; ada hubungan riwayat diabetes mellitus dengan hipertensi tidak terkontrol dengan p value: 0.022; OR: 2.799; tidak ada hubungan kadar kolesterol total dengan hipertensi tidak terkontrol dengan p value: 0.062; faktor yang paling dominan adalah pemeriksaan rutin dengan nilai OR: 8.362. Simpulan: Tidak ada hubungan merokok dengan hipertensi tidak terkontrol, tidak ada hubungan stress dengan hipertensi tidak terkontrol, ada hubungan kepatuhan konsumsi obat antihipertensi dengan hipertensi tidak terkontrol, ada hubungan pemeriksaan rutin dengan hipertensi tidak terkontrol, ada hubungan riwayat diabetes mellitus dengan hipertensi tidak terkontrol, tidak ada hubungan kadar kolesterol total dengan hipertensi tidak terkontrol, dan faktor yang paling dominan adalah pemeriksaan rutin.   Kata Kunci: Hipertensi Tidak Terkontrol; Prolanis.
Pengaruh faktor risiko yang dapat dan tidak dapat dimodifikasi terhadap kejadian diabetes melitus tipe 2 tanpa komplikasi Ansori, Ahmad; Irianto, Torry Duet; Amirus, Khoidar; Perdana, Agung Aji; Sari, Fitri Eka
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1420

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disease with increasing prevalence globally and a major challenge to public health systems. Purpose: To determine the influence of modifiable risk factors (such as physical activity, diet, and obesity) and non-modifiable risk factors (age, sex, and heredity) on the incidence of uncomplicated T2DM. Method: This study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. A purposive sampling technique was used, and 358 individuals met the inclusion criteria. Data were analyzed using the chi-square test and multivariate analysis using multiple logistic regression. Results: Most respondents did not experience type 2 diabetes (69.8%), were female (82.4%), were aged ≥41 years (79.6%), had no family history of type 2 diabetes (76.5%), were in the light physical activity group (60.6%), had a good diet (75.7%), and were not obese (73.7%). There was a relationship between age (p-value = 0.006), gender (p-value = 0.049), heredity (p-value = 0.027), physical activity (p-value = 0.000), diet (p-value = 0.000), and obesity (p-value = 0.000) with the occurrence of type 2 diabetes. The results of the multivariate analysis showed that physical activity was the dominant factor that could influence the occurrence of type 2 diabetes (OR = 4.26). Conclusion: Age, gender, heredity, physical activity, diet, and obesity are risk factors for type 2 diabetes.   Keywords: Age; Diet; Gender; Hereditary; Obesity; Physical Activity; Type 2 DM.   Pendahuluan: Diabetes mellitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan penyakit metabolik kronis yang mengalami peningkatan prevalensi secara global dan menjadi tantangan utama sistem kesehatan masyarakat. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh faktor risiko yang dapat dimodifikasi (seperti aktivitas fisik, pola makan dan  obesitas) serta faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi (usia, jenis kelamin, dan herediter) terhadap kejadian DM tipe 2 tanpa komplikasi. Metode: Penelitian dengan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Menggunakan  teknik purposive  sampling dan yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 358 orang. Analisa data menggunakan uji chi square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil: Sebagian besar responden tidak mengalami DM tipe 2 sebanyak (69,8%), berjenis kelamin perempuan (82,4%), kelompok usia ≥41 tahun (79,6%),  tidak memiliki riwayat keluarga DM tipe 2 (76,5%), kelompok dengan aktivitas fisik ringan (60,6%), memiliki pola makan baik (75,7%), dan tidak mengalami obesitas  (73,7%). Ada hubungan antara usia (p-value=0.006), jenis kelamin (p-value= 0.049), herediter (p-value=0.027), aktivitas fisik (p-value=0.000), pola makan (p-value=0.000) dan obesitas (p-value=0.000) terhadap terjadinya penyakit dm tipe 2. Hasil analisis multivariate aktivitas fisik merupakan faktor dominan yang dapat mempengaruhi terjadinya penyakit dm tipe 2 (OR=4.26). Simpulan: Usia, jenis kelamin, herediter, aktivitas fisik, pola makan, dan obesitas merupakan faktor resiko terhadap penyakit dm tipe 2.   Kata Kunci : Aktivitas Fisik; DM tipe 2; Herediter; Jenis Kelamin; Obesitas; Pola Makan;  Usia.
Faktor Determinan Stunting pada Anak Usia 0–24 Bulan di Indonesia: Fokus pada MP-ASI dan Faktor Ibu Sari, Fitri Eka; Sastini, Ketut; Angelina F, Christin; Aryawati, Wayan; Muhani, Nova
Jurnal Promotif Preventif Vol 8 No 5 (2025): Oktober 2025: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v8i5.2180

Abstract

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, terutama pada bayi usia 0–24 bulan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko stunting pada bayi usia 0–24 bulan di Indonesia, dengan fokus pada pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dan faktor maternal lainnya, menggunakan data sekunder dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Dengan desain potong lintang, penelitian melibatkan sampel 118.736 dari populasi 334.878, menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat melalui regresi logistik berganda. Hasil bivariat menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara waktu pemberian MP-ASI (p=0,776) atau usia ibu saat kehamilan pertama (p=0,349) dengan stunting. Sebaliknya, paritas, akses layanan kesehatan, dan kepatuhan antenatal care (ANC) memiliki hubungan signifikan (p=0,000). Analisis multivariat mengonfirmasi bahwa MP-ASI tidak signifikan terkait stunting (p=0,649), dengan paritas multigravida sebagai faktor dominan (OR=1,28 dibandingkan primigravida). Faktor maternal seperti paritas tinggi dan ANC tidak memadai lebih berpengaruh terhadap stunting. Pencegahan stunting memerlukan intervensi terpadu yang menargetkan peningkatan kesehatan ibu, cakupan ANC, dan akses layanan kesehatan selama 1.000 hari pertama kehidupan.
Risk Factors For Child Marriage Lestari, Enti; Nuryani, Dina Dwi; Sari, Fitri Eka; Aprina, Aprina
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 10, No 1 (2024): Volume 10, No 1 Januari 2024
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v10i1.11921

Abstract

Latar Belakang: Pernikahan merupakan peristiwa penting dalam kehidupan, namun jika dilakukan usia anak maka dapat menyebabkan dampak negatif seperti kekerasan rumah tangga sebesar 56%. Data Periode Januari – Agustus 2022 terdapat 23 kasus pernikahan dini dari 100 jumlah sasaran remaja di Pekon Sedampah. Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan pernikahan dini ialah faktor presdiposisi (pengetahuan, sikap, budaya), faktor pemungkin (pendidikan, keterpaparan pornografi), faktor penguat (pengetahuan, sikap responden dan pendapatan orang tua). Tujuan penelitian ini diketahui Faktor Risiko Pernikahan Usia Anak di Pekon Sedampah Kabupaten Lampung Barat Tahun 2022.Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian secara cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja di Pekon Sedampah yang berjumlah 100 responden dengan sampel yang diguanakan sebanyak 67 responden menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian telah dilakukan di Pekon Sedampah Kabupaten Lampung Barat pada bulan Januari 2023. Analisis data dengan univariat, bivariat, multivariat (regresi logistik faktor resiko desain).Hasil : ada hubungan pengetahuan (p-value = 0,029), pendidikan (p-value = 0,003), pendapatan orang tua (p-value = 0,001), pendidikan orang tua (p-value = 0,001), teman sebaya (p-value = 0,038), kepercayaan (p-value= 0,001), budaya (p-value = 0,001), pengaruh dukunagan keluarga (p-value = 0,027), sikap (p-value = 0,037) dan faktor dominan yang menjadi penyebab pernikahan dini adalah pendapatan orang tua dengan nilai OR = 17,0. Saran dapat meningkatkan pengetahuan remaja dan keluarga tentang kesehatan reproduksi remaja baik berupa penyuluhan, KIE melalui media informasi, dan PIK-KRR di sekolah Kata kunci: pendidikan, pengetahuan, pernikahan usia anak. ABSTRACT Background: Marriage is momentous event in life, but if done at a young age, it can result in negative impacts such as a 56% prevalence of domestic violence. Data for the period January - August 2022 shows that there were 23 cases of early marriage out of 100 targeted teenagers in Pekon Sedampah. The factors associated with early marriage are predisposition factors (knowledge, attitudes, and culture), enabling factors (education, exposure to pornography), reinforcing factors (knowledge, attitudes of respondents and parental income). The purpose of this study was to determine the risk factors for child marriage in Pekon Sedampah, West Lampung Regency in 2022.Methods: This study is quantitative with a cross-sectional research design. The population in this study consists of all adolescents in Pekon Sedampah, totaling 100 respondents, with a sample size of 67 respondents using purposive sampling. The research was conducted in Pekon Sedampah, West Lampung Regency in January 2023. Data analysis includes univariate, bivariate, and multivariate (logistic regression for risk factor design).Results: There is a relationship between knowledge (p-value = 0.029), education (p-value = 0.003), parental income (p-value = 0.001), parental education (p-value = 0.001), peers (p-value = 0.038), trust (p-value = 0,001), culture (p-value = 0.001), the influence of family support (p-value = 0.027), attitude (p-value = 0.037) and the dominant factor that causes early marriage is parental income with an OR value = 17.0. Recommendations include improving the knowledge of adolescents and families about adolescent reproductive health through education, information, and communication activities (KIE) through media, and school-based reproductive health programs (PIK-KKR). Keywords: education, knowledge, child marriage.  
HUBUNGAN USIA, KADAR GULA DARAH, KADAR KOLESTROL DAN KADAR NATRIUM DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RS PERTAMINA BINTANG AMIN TAHUN 2023 Pratama, Hendy; Hermawan, Dessy; Amirus , Khoidar; Samino, Samino; Sari, Fitri Eka
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.30732

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara usia, kadar gula darah, kadar kolestrol, dan kadar natrium dengan kejadian hipertensi pada pasien rawat jalan di RS Pertamina Bintang Amin Tahun 2023. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan metode cross sectional, sampel dalam penelitian ini berjumlah 376 sampel. Analisis data yang digunakan yaitu univariat, bivariat dan multivariat. Pada hasil uji univariat didapatkan hasil rata-rata usia responden 61.3 tahun. Rata-rata kadar gula darah responden adalah 184.8 mg/dl. Rata-rata kadar kolesterol responden adalah 120.1 mg/dl. Rata-rata kadar natrium responden adalah 146.1 mEq/L. Rata-rata tekanan darah responden adalah 146.1 mm/Hg. Dari hasil uji bivariat terdapat hasil ada hubungan yang signifikan antara kadar natrium dengan hipertensi nilai p-value = 0.005, tidak ada hubungan usia dengan hipertensi nilai p-value = 0.396, tidak ada hubungan gula darah dengan hipertensi nilai p-value = 0.426, tidak ada hubungan kolestrol dengan hipertensi nilai p-value = 0.140. Variabel kadar natrium memiliki pengaruh terhadap kejadian hipertensi nilai p-value=0.007 sekaligus merupakan faktor dominan (Koefisien B = 0.421).
Analisa Kinerja Petugas Kesehatan Terkait Program Stunting di Puskesmas Kalirejo Tahun 2022 wardani, leni warda; Sary, Lolita; Sari, Fitri Eka
Jurnal Dunia Kesmas Vol 12, No 3 (2023): Volume 12 Nomor 3
Publisher : Persatuan Dosen Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v12i3.9507

Abstract

Indonesia pada tahun 2021 kasus stunting mencapai angka sebesar 24,4%. Meskipun di beberapa daerah capaian prevelensi sudah dibawah 20% namun, hal  tersebut masih belum memenuhi target dari RPJMN tahun 2024 sebesar 14%. Target selanjutnya agar Indonesia mencapai angka stunting sampai kategori rendah atau dibawah 2,5%. Kasus stunting di Kabupeten Pesawaran tahun 2021 sebanyak 3.15%  di Puskesmas Kalirejo pada bulan Agustus tahun 2021 sebanyak 2.99%. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kinerja petugas kesehatan terkait program stunting  tahun 2022. Berdasarkan aspek sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur, dan desain pekerjaan. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan dalam penelitian berjumlah 6 orang. Pemilihan informan menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara mendalam. Teknik analisis data menggunakan Analisis isi (Content Analysis). Hasil penelitian diketahui, kinerja petugas program stunting berdasarkan aspek sumber daya dilihat dari segi kualitas sudah pernah dilakukan pelatihan khusus stunting, sedangkan dari segi kuantitas jumlah dari petugas stunting sudah memadai. Berdasarkan aspek kepemimpinan bahwa ahli gizi memimpin pengendalian stunting yang dikoordinator langsung oleh kepala puskesmas. Berdasarkan aspek imbalan bahwa pihak puskesmas tidak memberikan reward kepada petugas. Berdasarkan aspek struktur petugas sudah menjalankan tugas seperti  berkoordinasi dengan kepala puskesmas. Berdasarkan aspek desain pekerjaan bahwa petugas stunting sudah melakukan tugasnya seperti sosialisasi dan pemberian mpasi dan pengukuran balita. Saran dalam penelitian ini diharapkan agar pihak puskesmas rutin melakukan pelatihan, mempertahankan konsistensi tugas, memberikan  reward kepada petugas, membuat SK terkait struktur dan mempertahankan konsistensi pelayanan. 
COUNSELING AND SCREENING FOR RISK FACTORS FOR HYPERCHOLESTEROLEMIA IN CLASS II A WOMEN'S CORRECTIONAL INSTITUTIONS BANDAR LAMPUNG CITY IN 2024 Amirus, Khoidar; Muhani, Nova; Sari, Fitri Eka; ashari, Hernandi; Saputri, Firdha Azzahra; Terta, Riesca Lavenia
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2024): MARET
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v8i1.2255

Abstract

The prevalence of hypercholesterolemia worldwide reaches around 45%. In the Southeast Asia region, the prevalence rate of hypercholesterolemia is around 30%, while in Indonesia it reaches 35%. Then the prevalence of high cholesterol levels in Lampung Province in 2018 reached 53.2%, this shows that in Lampung Province people with dyslipidemia are still high. The aim of this service is health screening and counseling to increase the knowledge of inmates regarding cholesterol disease. The service method is to carry out health screening such as checking blood pressure, weight, height and BMI then carrying out counseling activities related to preventing cholesterol disease. The service was carried out on January 19 2024 with a sample size of 235 inmates. at the Class IIA Women's Correctional Institution in Bandar Lampung City. The results of the service showed that those with good knowledge were 70.6% and those with poor knowledge were 29.4%. 21.7% of their families had a history of cholesterol and 78.3% of those did not have a history of cholesterol. experienced an increase in cholesterol levels by 72.8% and those who did not experienced an increase in cholesterol levels by 26.0%. had a BMI of very thin (0.9%), thin (69.8%), normal (22.1%) and fat (7.20%). The education level of the people who most often participate in this service is high school (66.0%). The people who most often participate in this service are aged 25-35 years (33.6%) and aged 36-45 years (32.3%). It is hoped that health workers can continue to improve health education and education regarding NCDs, especially cholesterol.
COUNSELING AND SCREENING FOR RISK FACTORS FOR HYPERTENSION IN CLASS IIA WOMEN'S CORRECTIONAL INSTITUTIONS IN BANDAR LAMPUNG CITY IN 2024 Aryawati, Wayan; Sari, Fitri Eka; Pratama, Gilang Raka; Risdinar, Risa Rismaya; Setya P., Kevin Andhara
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2024): MARET
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v8i1.2256

Abstract

The prevalence of hypertension in individuals over 18 years of age and diagnosed by a health professional reaches 9.4%. In addition, around 9.5% of the population takes medication to treat hypertension. Therefore, there are around 0.1% of the population who take hypertension medication even though they have never been officially diagnosed by a health professional. The prevalence of hypertension in Indonesia, measured in individuals over 18 years of age, reached 34.11%. The aim of this service is to carry out health screening and counseling to increase the knowledge of the inmates regarding hypertension. The service method is carrying out health screening such as checking blood pressure, weight, height and BMI then carrying out outreach activities related to preventing hypertension. The service was carried out on January 19 2024 with a sample size of 235 inmates. at the Class IIA Women's Correctional Institution in Bandar Lampung City. The results of the service that had been carried out were concluded that 76.6% of the inmates had good knowledge and 23.4% had poor knowledge. Those with normal blood pressure were 74.6% and those with high blood pressure were 26.0%. 26.0% of their families had a history of hypertension and 74.6% did not have a history of hypertension. Those who had a sleep pattern of <6 hours a day were 8.10% and those who did not have a sleep pattern of >6 hours a day were 91.9%. It is hoped that health workers can continue to improve health education and education regarding NCDs, especially hypertension.
Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Lampung Riyanti, Riyanti; Sari, Fitri Eka; Samino, Samino; Hardinata, Andri; Liasari, Deny Eka; Azzahra, Dhika; Ramayanti, Rika; Efendi, Rahmad
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 9 (2024): Volume 7 No 9 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i9.14029

Abstract

ABSTRAK Kawasan tanpa rokok atau KTR yang merupakan ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan dan/atau mempromosikan produk tembakau. Mengimplementasikan strategi promosi kesehatan guna menyelesaikan permasalahan kesehatan terkait dengan aturan Kawasan Bebas Rokok. Skema Alur Pelaksanaan Penyampaian hasil analisis situasi, prioritas masalah dan akar masalah tentang implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di RSPBA, dilakukan dengan cara konsolidasi dan presentasi hasil analisa masalah. Kegiatan konsolidasi ini dihadiri oleh Manajemen RSPBA dan Pembimbing Akademik. Pada dasarnya pengunjung menyadari akan pentingnya melestarikan lingkungan tanpa asap rokok. Namun dalam pelaksanaan dibutuhkan motivasi dan dukungan majemen terhadap pengawas puntung rokok dalam menjalankan tugasnya dengan diberikan kewenangan. Pelaksanaan kegiatan Pengabdian Masyarakat dengan sosialisasi dan aksi sosial memberikan mafaat yang signifikan pada wilayah kerja RS Pertamina Bintang Amin maupun pengunjung. Dengan aksi sosial tersebut memberikan manfaat kesegaran udara dan kenyamanan sehingga meningkatkan kunjungan pasien di RS Pertamina Bintang Amin. Kata Kunci: Kebijakan Rumah Sakit, Kawasan Tanpa Asap Rokok (KtR)  ABSTRACT A non-smoking area or KTR is a room or area that is prohibited for smoking or activities for producing, selling, advertising and/or promoting tobacco products. Implement health promotion strategies to resolve health problems related to Smoke-Free Zone regulations. Implementation Flow Scheme Submission of the results of the situation analysis, problem priorities and root causes regarding the implementation of Smoke Free Zones (KTR) at the RSPBA, is carried out by consolidating and presenting the results of the problem analysis. This consolidation activity was attended by RSPBA Management and Academic Advisors. Basically, visitors are aware of the importance of preserving an environment without cigarette smoke. However, implementation requires motivation and management support for cigarette butt supervisors in carrying out their duties with the authority they are given. Implementing Community Service activities with outreach and social action provides significant benefits to the Pertamina Bintang Amin Hospital work area and visitors. This social action provides the benefits of fresh air and comfort thereby increasing patient visits at Pertamina Bintang Amin Hospital. Keywords: Hospital Policy, Smoke Free Area (KtR)