Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Faktor Determinan Stunting pada Anak Usia 0–24 Bulan di Indonesia: Fokus pada MP-ASI dan Faktor Ibu Sari, Fitri Eka; Sastini, Ketut; Angelina F, Christin; Aryawati, Wayan; Muhani, Nova
Jurnal Promotif Preventif Vol 8 No 5 (2025): Oktober 2025: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v8i5.2180

Abstract

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, terutama pada bayi usia 0–24 bulan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko stunting pada bayi usia 0–24 bulan di Indonesia, dengan fokus pada pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dan faktor maternal lainnya, menggunakan data sekunder dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Dengan desain potong lintang, penelitian melibatkan sampel 118.736 dari populasi 334.878, menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat melalui regresi logistik berganda. Hasil bivariat menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara waktu pemberian MP-ASI (p=0,776) atau usia ibu saat kehamilan pertama (p=0,349) dengan stunting. Sebaliknya, paritas, akses layanan kesehatan, dan kepatuhan antenatal care (ANC) memiliki hubungan signifikan (p=0,000). Analisis multivariat mengonfirmasi bahwa MP-ASI tidak signifikan terkait stunting (p=0,649), dengan paritas multigravida sebagai faktor dominan (OR=1,28 dibandingkan primigravida). Faktor maternal seperti paritas tinggi dan ANC tidak memadai lebih berpengaruh terhadap stunting. Pencegahan stunting memerlukan intervensi terpadu yang menargetkan peningkatan kesehatan ibu, cakupan ANC, dan akses layanan kesehatan selama 1.000 hari pertama kehidupan.
Risk Factors For Child Marriage Lestari, Enti; Nuryani, Dina Dwi; Sari, Fitri Eka; Aprina, Aprina
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 10, No 1 (2024): Volume 10, No 1 Januari 2024
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v10i1.11921

Abstract

Latar Belakang: Pernikahan merupakan peristiwa penting dalam kehidupan, namun jika dilakukan usia anak maka dapat menyebabkan dampak negatif seperti kekerasan rumah tangga sebesar 56%. Data Periode Januari – Agustus 2022 terdapat 23 kasus pernikahan dini dari 100 jumlah sasaran remaja di Pekon Sedampah. Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan pernikahan dini ialah faktor presdiposisi (pengetahuan, sikap, budaya), faktor pemungkin (pendidikan, keterpaparan pornografi), faktor penguat (pengetahuan, sikap responden dan pendapatan orang tua). Tujuan penelitian ini diketahui Faktor Risiko Pernikahan Usia Anak di Pekon Sedampah Kabupaten Lampung Barat Tahun 2022.Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian secara cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja di Pekon Sedampah yang berjumlah 100 responden dengan sampel yang diguanakan sebanyak 67 responden menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian telah dilakukan di Pekon Sedampah Kabupaten Lampung Barat pada bulan Januari 2023. Analisis data dengan univariat, bivariat, multivariat (regresi logistik faktor resiko desain).Hasil : ada hubungan pengetahuan (p-value = 0,029), pendidikan (p-value = 0,003), pendapatan orang tua (p-value = 0,001), pendidikan orang tua (p-value = 0,001), teman sebaya (p-value = 0,038), kepercayaan (p-value= 0,001), budaya (p-value = 0,001), pengaruh dukunagan keluarga (p-value = 0,027), sikap (p-value = 0,037) dan faktor dominan yang menjadi penyebab pernikahan dini adalah pendapatan orang tua dengan nilai OR = 17,0. Saran dapat meningkatkan pengetahuan remaja dan keluarga tentang kesehatan reproduksi remaja baik berupa penyuluhan, KIE melalui media informasi, dan PIK-KRR di sekolah Kata kunci: pendidikan, pengetahuan, pernikahan usia anak. ABSTRACT Background: Marriage is momentous event in life, but if done at a young age, it can result in negative impacts such as a 56% prevalence of domestic violence. Data for the period January - August 2022 shows that there were 23 cases of early marriage out of 100 targeted teenagers in Pekon Sedampah. The factors associated with early marriage are predisposition factors (knowledge, attitudes, and culture), enabling factors (education, exposure to pornography), reinforcing factors (knowledge, attitudes of respondents and parental income). The purpose of this study was to determine the risk factors for child marriage in Pekon Sedampah, West Lampung Regency in 2022.Methods: This study is quantitative with a cross-sectional research design. The population in this study consists of all adolescents in Pekon Sedampah, totaling 100 respondents, with a sample size of 67 respondents using purposive sampling. The research was conducted in Pekon Sedampah, West Lampung Regency in January 2023. Data analysis includes univariate, bivariate, and multivariate (logistic regression for risk factor design).Results: There is a relationship between knowledge (p-value = 0.029), education (p-value = 0.003), parental income (p-value = 0.001), parental education (p-value = 0.001), peers (p-value = 0.038), trust (p-value = 0,001), culture (p-value = 0.001), the influence of family support (p-value = 0.027), attitude (p-value = 0.037) and the dominant factor that causes early marriage is parental income with an OR value = 17.0. Recommendations include improving the knowledge of adolescents and families about adolescent reproductive health through education, information, and communication activities (KIE) through media, and school-based reproductive health programs (PIK-KKR). Keywords: education, knowledge, child marriage.  
HUBUNGAN USIA, KADAR GULA DARAH, KADAR KOLESTROL DAN KADAR NATRIUM DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RS PERTAMINA BINTANG AMIN TAHUN 2023 Pratama, Hendy; Hermawan, Dessy; Amirus , Khoidar; Samino, Samino; Sari, Fitri Eka
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.30732

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara usia, kadar gula darah, kadar kolestrol, dan kadar natrium dengan kejadian hipertensi pada pasien rawat jalan di RS Pertamina Bintang Amin Tahun 2023. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan metode cross sectional, sampel dalam penelitian ini berjumlah 376 sampel. Analisis data yang digunakan yaitu univariat, bivariat dan multivariat. Pada hasil uji univariat didapatkan hasil rata-rata usia responden 61.3 tahun. Rata-rata kadar gula darah responden adalah 184.8 mg/dl. Rata-rata kadar kolesterol responden adalah 120.1 mg/dl. Rata-rata kadar natrium responden adalah 146.1 mEq/L. Rata-rata tekanan darah responden adalah 146.1 mm/Hg. Dari hasil uji bivariat terdapat hasil ada hubungan yang signifikan antara kadar natrium dengan hipertensi nilai p-value = 0.005, tidak ada hubungan usia dengan hipertensi nilai p-value = 0.396, tidak ada hubungan gula darah dengan hipertensi nilai p-value = 0.426, tidak ada hubungan kolestrol dengan hipertensi nilai p-value = 0.140. Variabel kadar natrium memiliki pengaruh terhadap kejadian hipertensi nilai p-value=0.007 sekaligus merupakan faktor dominan (Koefisien B = 0.421).
Analisa Kinerja Petugas Kesehatan Terkait Program Stunting di Puskesmas Kalirejo Tahun 2022 wardani, leni warda; Sary, Lolita; Sari, Fitri Eka
Jurnal Dunia Kesmas Vol 12, No 3 (2023): Volume 12 Nomor 3
Publisher : Persatuan Dosen Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v12i3.9507

Abstract

Indonesia pada tahun 2021 kasus stunting mencapai angka sebesar 24,4%. Meskipun di beberapa daerah capaian prevelensi sudah dibawah 20% namun, hal  tersebut masih belum memenuhi target dari RPJMN tahun 2024 sebesar 14%. Target selanjutnya agar Indonesia mencapai angka stunting sampai kategori rendah atau dibawah 2,5%. Kasus stunting di Kabupeten Pesawaran tahun 2021 sebanyak 3.15%  di Puskesmas Kalirejo pada bulan Agustus tahun 2021 sebanyak 2.99%. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kinerja petugas kesehatan terkait program stunting  tahun 2022. Berdasarkan aspek sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur, dan desain pekerjaan. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan dalam penelitian berjumlah 6 orang. Pemilihan informan menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara mendalam. Teknik analisis data menggunakan Analisis isi (Content Analysis). Hasil penelitian diketahui, kinerja petugas program stunting berdasarkan aspek sumber daya dilihat dari segi kualitas sudah pernah dilakukan pelatihan khusus stunting, sedangkan dari segi kuantitas jumlah dari petugas stunting sudah memadai. Berdasarkan aspek kepemimpinan bahwa ahli gizi memimpin pengendalian stunting yang dikoordinator langsung oleh kepala puskesmas. Berdasarkan aspek imbalan bahwa pihak puskesmas tidak memberikan reward kepada petugas. Berdasarkan aspek struktur petugas sudah menjalankan tugas seperti  berkoordinasi dengan kepala puskesmas. Berdasarkan aspek desain pekerjaan bahwa petugas stunting sudah melakukan tugasnya seperti sosialisasi dan pemberian mpasi dan pengukuran balita. Saran dalam penelitian ini diharapkan agar pihak puskesmas rutin melakukan pelatihan, mempertahankan konsistensi tugas, memberikan  reward kepada petugas, membuat SK terkait struktur dan mempertahankan konsistensi pelayanan. 
COUNSELING AND SCREENING FOR RISK FACTORS FOR HYPERCHOLESTEROLEMIA IN CLASS II A WOMEN'S CORRECTIONAL INSTITUTIONS BANDAR LAMPUNG CITY IN 2024 Amirus, Khoidar; Muhani, Nova; Sari, Fitri Eka; ashari, Hernandi; Saputri, Firdha Azzahra; Terta, Riesca Lavenia
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2024): MARET
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v8i1.2255

Abstract

The prevalence of hypercholesterolemia worldwide reaches around 45%. In the Southeast Asia region, the prevalence rate of hypercholesterolemia is around 30%, while in Indonesia it reaches 35%. Then the prevalence of high cholesterol levels in Lampung Province in 2018 reached 53.2%, this shows that in Lampung Province people with dyslipidemia are still high. The aim of this service is health screening and counseling to increase the knowledge of inmates regarding cholesterol disease. The service method is to carry out health screening such as checking blood pressure, weight, height and BMI then carrying out counseling activities related to preventing cholesterol disease. The service was carried out on January 19 2024 with a sample size of 235 inmates. at the Class IIA Women's Correctional Institution in Bandar Lampung City. The results of the service showed that those with good knowledge were 70.6% and those with poor knowledge were 29.4%. 21.7% of their families had a history of cholesterol and 78.3% of those did not have a history of cholesterol. experienced an increase in cholesterol levels by 72.8% and those who did not experienced an increase in cholesterol levels by 26.0%. had a BMI of very thin (0.9%), thin (69.8%), normal (22.1%) and fat (7.20%). The education level of the people who most often participate in this service is high school (66.0%). The people who most often participate in this service are aged 25-35 years (33.6%) and aged 36-45 years (32.3%). It is hoped that health workers can continue to improve health education and education regarding NCDs, especially cholesterol.
COUNSELING AND SCREENING FOR RISK FACTORS FOR HYPERTENSION IN CLASS IIA WOMEN'S CORRECTIONAL INSTITUTIONS IN BANDAR LAMPUNG CITY IN 2024 Aryawati, Wayan; Sari, Fitri Eka; Pratama, Gilang Raka; Risdinar, Risa Rismaya; Setya P., Kevin Andhara
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2024): MARET
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v8i1.2256

Abstract

The prevalence of hypertension in individuals over 18 years of age and diagnosed by a health professional reaches 9.4%. In addition, around 9.5% of the population takes medication to treat hypertension. Therefore, there are around 0.1% of the population who take hypertension medication even though they have never been officially diagnosed by a health professional. The prevalence of hypertension in Indonesia, measured in individuals over 18 years of age, reached 34.11%. The aim of this service is to carry out health screening and counseling to increase the knowledge of the inmates regarding hypertension. The service method is carrying out health screening such as checking blood pressure, weight, height and BMI then carrying out outreach activities related to preventing hypertension. The service was carried out on January 19 2024 with a sample size of 235 inmates. at the Class IIA Women's Correctional Institution in Bandar Lampung City. The results of the service that had been carried out were concluded that 76.6% of the inmates had good knowledge and 23.4% had poor knowledge. Those with normal blood pressure were 74.6% and those with high blood pressure were 26.0%. 26.0% of their families had a history of hypertension and 74.6% did not have a history of hypertension. Those who had a sleep pattern of <6 hours a day were 8.10% and those who did not have a sleep pattern of >6 hours a day were 91.9%. It is hoped that health workers can continue to improve health education and education regarding NCDs, especially hypertension.
Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Lampung Riyanti, Riyanti; Sari, Fitri Eka; Samino, Samino; Hardinata, Andri; Liasari, Deny Eka; Azzahra, Dhika; Ramayanti, Rika; Efendi, Rahmad
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 9 (2024): Volume 7 No 9 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i9.14029

Abstract

ABSTRAK Kawasan tanpa rokok atau KTR yang merupakan ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan dan/atau mempromosikan produk tembakau. Mengimplementasikan strategi promosi kesehatan guna menyelesaikan permasalahan kesehatan terkait dengan aturan Kawasan Bebas Rokok. Skema Alur Pelaksanaan Penyampaian hasil analisis situasi, prioritas masalah dan akar masalah tentang implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di RSPBA, dilakukan dengan cara konsolidasi dan presentasi hasil analisa masalah. Kegiatan konsolidasi ini dihadiri oleh Manajemen RSPBA dan Pembimbing Akademik. Pada dasarnya pengunjung menyadari akan pentingnya melestarikan lingkungan tanpa asap rokok. Namun dalam pelaksanaan dibutuhkan motivasi dan dukungan majemen terhadap pengawas puntung rokok dalam menjalankan tugasnya dengan diberikan kewenangan. Pelaksanaan kegiatan Pengabdian Masyarakat dengan sosialisasi dan aksi sosial memberikan mafaat yang signifikan pada wilayah kerja RS Pertamina Bintang Amin maupun pengunjung. Dengan aksi sosial tersebut memberikan manfaat kesegaran udara dan kenyamanan sehingga meningkatkan kunjungan pasien di RS Pertamina Bintang Amin. Kata Kunci: Kebijakan Rumah Sakit, Kawasan Tanpa Asap Rokok (KtR)  ABSTRACT A non-smoking area or KTR is a room or area that is prohibited for smoking or activities for producing, selling, advertising and/or promoting tobacco products. Implement health promotion strategies to resolve health problems related to Smoke-Free Zone regulations. Implementation Flow Scheme Submission of the results of the situation analysis, problem priorities and root causes regarding the implementation of Smoke Free Zones (KTR) at the RSPBA, is carried out by consolidating and presenting the results of the problem analysis. This consolidation activity was attended by RSPBA Management and Academic Advisors. Basically, visitors are aware of the importance of preserving an environment without cigarette smoke. However, implementation requires motivation and management support for cigarette butt supervisors in carrying out their duties with the authority they are given. Implementing Community Service activities with outreach and social action provides significant benefits to the Pertamina Bintang Amin Hospital work area and visitors. This social action provides the benefits of fresh air and comfort thereby increasing patient visits at Pertamina Bintang Amin Hospital. Keywords: Hospital Policy, Smoke Free Area (KtR)
Kegiatan observasi status gizi dan kesehatan pada penyandang disabilitas Sari, Fitri Eka; Perdana, Agung Aji; Aryawati, Wayan
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1576

Abstract

Backghround: Meeting nutritional needs in children and adolescents is a key component of growth and development, particularly for persons with disabilities who have physical limitations. A 2023 UNICEF report revealed that children with disabilities in Indonesia face higher rates of malnutrition than children without disabilities. The prevalence of underweight and wasting is also higher in this group. Purpose: To describe the nutritional status of persons with disabilities aged 15–30 years at the Lampung Province Social and Disability Service Unit. Method: Observation activities to collect data by directly observing behavior or phenomena without intervention were conducted using a descriptive observational design at the Lampung Province Social and Disability Service Unit. Data collection was carried out through a survey with observation and interviews. The population in this study was all persons with disabilities aged 15–30 years in Bandar Lampung City, specifically those registered with the Uptd Disability Service Unit. Using a random sampling technique, 30 respondents were selected, consisting of individuals with hearing impairments, blindness, and physical disabilities. The instruments used have been designed to elicit relevant information regarding the experiences and needs of people with disabilities. Results: The majority of persons with disabilities at the Lampung Province Social and Disability Service Unit (UPTD) experience nutritional problems, primarily being underweight, likely due to low consumption of nutritious food and physical activity. Data shows that 69.9% of respondents are underweight, with low consumption of fruits, vegetables, protein (meat, fish, eggs, milk), and water. Seventy-three percent of respondents skip breakfast, with nearly half (46.7%) experiencing difficulty accessing nutritious food, lacking regular physical activity, and most only exercising once or twice a week. Common health problems include anemia, dizziness, fatigue, and digestive disorders. The majority (73.4%) of respondents have never received nutrition counseling, but consumption of supplemental vitamins remains uneven. Conclusion: This observation indicates that the majority of persons with disabilities at the Lampung Province Social and Disability Service Unit experience nutritional problems, with 69.9% of respondents categorized as underweight based on their body mass index (BMI). Furthermore, only 26.7% of respondents have received counseling on nutrition and healthy eating patterns. These findings indicate an urgent need for better nutritional interventions for people with disabilities, particularly in terms of education, food access, and nutritional status monitoring. Suggestion: Regular nutritional counseling programs, particularly on balanced nutrition and healthy eating patterns, are needed for people with disabilities in social institutions, using a friendly and easy-to-understand approach. Providing healthy food assistance by the government or social institutions is essential to ensure the availability and easy access of nutritious food for people with disabilities through subsidies or nutritional food assistance programs. As a follow-up program, health services are expected to conduct regular health monitoring, including nutritional and health status checks, for early detection of malnutrition and related diseases. Keywords: Disability health check-up; Nutritional needs; Nutritional status; People with disabilities Pendahuluan: Pemenuhan kebutuhan gizi pada anak dan remaja merupakan wujud utama dari proses pertumbuhan dan perkembangan. Khususnya bagi penyandang disabilitas yang memiliki kekurangan fisik. Laporan UNICEF tahun 2023 mengungkapkan bahwa anak penyandang disabilitas di indonesia menghadapi tingkat malnutrisi yang lebih tinggi dibandingkan anak tanpa disabilitas. Prevalensi underweight dan wasting juga lebih tinggi pada kelompok ini. Tujuan: Menggambarkan kondisi gizi penyandang disabilitas usia 15–30 tahun di Uptd Dinas Sosial Disabilitas Provinsi Lampung Metode: Kegiatan observasi untuk mengumpulkan data dengan mengamati langsung perilaku atau fenomena tanpa intervensi, yang dilakukan dengan disain deskriptif observasional yang dilaksanakan di Uptd Dinas Sosial Disabilitas Provinsi Lampung. Merupakan kegiatan pengambilan data melalui survei dengan observasi dan wawancara. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penyandang disabilitas usia remaja hingga dewasa (15–30 tahun) yang berada di wilayah Kota Bandar Lampung, khususnya mereka yang terdaftar di Uptd Dinas Sosial Disabilitas. Dengan menggunakan teknik random sampling mendapatkan 30 orang sebagai responden yang terdiri dari individu dengan kondisi tuna rungu, tuna netra, dan tuna daksa. Instrumen yang digunakan telah dirancang untuk menggali informasi yang relevan terkait pengalaman dan kebutuhan penyandang disabilitas. Hasil: Mayoritas penyandang disabilitas di Uptd Dinas Sosial Disabilitas Provinsi Lampung mengalami masalah gizi, terutama kekurangan berat badan dan besar kemungkinan karena konsumsi makanan bergizi dan aktivitas fisik yang masih rendah. Data menunjukkan sebanyak 69.9% responden tergolong underweight, konsumsi buah, sayur, protein (daging, ikan, telur, susu), dan air putih masih rendah. Sebanyak 73.4% responden tidak sarapan setiap pagi dimana hampir setengah responden (46.7%) mengalami kesulitan mengakses makanan bergizi, aktivitas fisik rutin masih kurang, dan sebagian besar hanya olahraga 1-2 kali seminggu. Masalah kesehatan yang sering dialami antara lain anemia, pusing, mudah lelah, dan gangguan pencernaan. Sebagian besar (73.4%) responden belum pernah mendapat penyuluhan gizi tetapi konsumsi vitamin tambahan masih belum merata. Simpulan: Berdasarkan kegiatan observasi ini menunjukkan bahwa mayoritas penyandang disabilitas di Uptd Dinas Sosial Disabilitas Provinsi Lampung mengalami masalah gizi, dengan 69.9% responden berada dalam kategori underweight berdasarkan indeks massa tubuh (IMT). Di samping itu, hanya 26.7% responden yang pernah mendapatkan penyuluhan tentang gizi dan pola makan sehat. Temuan ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan intervensi gizi yang lebih baik bagi penyandang disabilitas, khususnya dalam hal edukasi, akses pangan, dan pemantauan status gizi. Saran: Perlunya dilakukan penyuluhan gizi dengan program yang berkala terutama mengenai gizi seimbang dan pola makan sehat bagi penyandang disabilitas di lembaga sosial, dengan pendekatan yang ramah dan mudah dipahami. Pemberian bantuan pangan sehat oleh pemerintah atau lembaga sosial sangat diperlukan untuk menjamin ketersediaan dan kemudahan akses bagi penyandang disabilitas terhadap makanan bergizi berupa subsidi atau program bantuan pangan bergizi. Sebagai program lanjutan, diharapkan pihak dinas kesehatan untuk melakukan pemantauan kesehatan secara berkala meliputi pemeriksaan status gizi dan kesehatan untuk mendeteksi dini masalah malnutrisi dan penyakit terkait.  
Perbedaan Pengetahuan dan Sikap Ibu Sebelum dan Sesudah Penyuluhan Dengan Menggunakan Media Leafleat Tentang Pemantauan Status Gizi Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiling Fatmasari, Yeni; Riyanti, Riyanti; Sari, Fitri Eka; Samino, Samino
Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah MANUSIA DAN KESEHATAN
Publisher : FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/makes.v9i1.3821

Abstract

Bandar Lampung ranks fourth in the prevalence of stunting (44.6) in Lampung province after Central Lampung (52.7%), Pesawaran (50.8%), Metro (47.3%). According to the 2014 Nutritional Status Assessment data, the highest prevalence of stunting in toddlers in the Bandar Lampung area is in Rajabasa District (55.6%), the second highest is in Kemiling District (39.6%). The nutritional status of malnutrition in the Kemiling Health Center has increased every year from 1.8% in 2020 to 2.4% in 2021. The aim was to determine the differences in knowledge and attitudes of mothers before and after counseling using leaflet media on monitoring the nutritional status of toddlers in the Kemiling Health Center Work Area. This study is a quantitative study using an experimental method with a population of 1150 mothers of toddlers and a sample of 98 respondents. The sampling technique used was Purposive Sampling. Data were tested univariately and bivariately using the Paired Sample T-Test. The results of the study showed that the nutritional status of toddlers at the Kemiling Health Center was mostly normal nutritional status of 68 toddlers (69.4%), overnutrition of 22 toddlers (22.4%) and undernutrition of 8 toddlers (8.2%). The average value of knowledge of toddler mothers increased before counseling using leaflet media, namely 7.78 (64.8%) and after counseling using leaflet media to 9.22 (76.8%). The average value of attitudes of toddler mothers increased before counseling using leaflet media, namely 41.22 (68.7%) and after counseling using leaflet media to 50.49 (84.1%). There was a difference in knowledge (p-value 0.000) and attitudes (p-value 0.000) of toddler mothers before and after the distribution of leaflets related to monitoring toddler nutrition at the Kemiling Health Center, Bandar Lampung. Keywords : Nutritional Status, Leaflet, Toddlers, Monitoring
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Serta Dukungan Keluarga Terhadap Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiling Handayani, Fina; Aryastuti, Nurul; Sari, Fitri Eka; Yanti, Dhiny Easter
Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah MANUSIA DAN KESEHATAN
Publisher : FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/makes.v9i1.3833

Abstract

Less than half of infants under 6 months of age receive exclusive breastfeeding. Indonesia's exclusive breastfeeding coverage in 2022 was recorded at only 67.96%, down from 69.7% in 2021. The average length of time a child is breastfed in Lampung Province is 11.35 months. This shows that on average, infants in Lampung Province have received breast milk for more than 6 months but not reaching 24 months. The purpose of the study was to determine the relationship between maternal knowledge and maternal attitudes and family support with exclusive breastfeeding in the Kemiling Health Center Work Area. This study is a quantitative study with a Cross Sectional design. The population is all mothers who have toddlers in the Kemiling Health Center Work Area totaling 648 respondents and a sample of 97 respondents using a purposive sampling technique with a questionnaire sheet. The study was conducted in the Kemiling Health Center Work Area and was conducted in August-October 2024. Data analysis used univariate analysis and bivariate analysis. The results of the study showed that 54 people (55.7%) gave exclusive breastfeeding and 43 people (44.3%) did not give exclusive breastfeeding, 47 people (48.5%) had poor knowledge and 50 people (51.5%) had good knowledge, 44 people (45.4%) had negative attitudes and 53 people (54.6%), 66 people (68.0%) had positive family support and 31 people (32.0%) did not have family support. There was a significant relationship between maternal knowledge (p-value 0.021) and maternal attitude (p-value) and there was no relationship between family support (p-value 1.000) and exclusive breastfeeding at the Kemiling Health Center, Bandar Lampung.