Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Jurnal Diskursus Islam

Telaah Metodologis Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera (Tafsir Surat Al-Fatihah) Karya Abd. Muin Salim Mahfudz, Muhsin; Hakim, Abdul; A, Muh. Awaluddin; Nurjannah, St. Nurjannah; Musfirah, Musfirah
Jurnal Diskursus Islam Vol 12 No 2 (2024): August
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v12i2.52259

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk tafsir, metodologi tafsir, corak penafsiran, teknik penyajian tafsir, teknik interpretasi tafsir, dan tipologi tafsir modern dari buku Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera (Tafsir Surat Al-Fatihah) karya Abd. Muin Salim. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan mendeskripsikan serta menguraikan bentuk tafsir, metodologi tafsir, corak penafsiran, teknik penyajian tafsir, teknik interpretasi tafsir, serta posisi buku Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera (Tafsir Surat Al-Fatihah) karya Abd. Muin Salim dalam tipologi tafsir modern yang digagas oleh Johanna Pink. Hasil dari penelitian ini adalah bentuk tafsir dari buku Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera (Tafsir Surat Al-Fatihah) adalah bi al-ra’yi, metodologi tafsir yang digunakan adalah taḥlīlī mayor serta mauḍu’i dan muqāran minor, corak penafsiran yang digunakan adalah lugawi, teologi, fiqhi, dan adab ijtima’i, teknik penyajian yang digunakan adalah sistematika penyajian tematik klasik, bentuk penyajian tafsir rinci, gaya bahasa penulisan ilmiah, bentuk penulisan tafsir ilmiah, mufassir individual, latar belakang keilmuan syari’ah dan tafsir, literatur tafsir ruang non akademik, dan menggunakan rujukan tafsir berbahasa arab, adapun teknik interpretasi yang digunakan adalah tekstual. Linguistik, dan sistemis, dan berdasarkan tipologi tafsir modern yang digagas oleh Johanna Pink buku ini masuk dalam kategori gelehernkommentar. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai refrensi tambahan dan menambah insight baru dalam menganalisis sebuah karya tafsir.
A Perspektif Alquran tentang Kecerdasan: Indonesia Armimin; Yuzhril; Mahfudz, Muhsin
Jurnal Diskursus Islam Vol 13 No 2 (2025): Tafsir, Hadis, Syariah, Ekonomi Islam
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v13i2.61841

Abstract

Penelitian ini membahas perspektif Al-Qur’an mengenai kecerdasan manusia. Setiap disiplin keilmuan memiliki definisi dan pengklasifikasiannya tersendiri terkait konsep kecerdasan, demikian pula Al-Qur’an memberikan penjelasan yang khas dalam memaknai potensi tersebut. Fokus penelitian ini adalah menguraikan hakikat kecerdasan, perspektif dari berbagai bidang keilmuan, serta relevansi konsep tersebut dalam konteks kekinian. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), melalui pendekatan tafsir, filsafat Barat, filsafat Timur, dan neurosains. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan merupakan anugerah yang sekaligus memerlukan usaha untuk dikembangkan. Dalam kajian psikologi dikenal antara lain kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Sementara itu, Al-Qur’an menyebut beberapa istilah yang terkait dengan dimensi kecerdasan manusia seperti al-ʿaql, al-fu’ād, al-qalb, al-hilm, al-lubb, dan al-fiqh, yang masing-masing memiliki fungsi dan kedalaman makna berbeda. Temuan ini memberikan pemahaman bahwa kecerdasan merupakan potensi dasar manusia yang harus ditumbuhkan dan diarahkan guna menghadapi perkembangan zaman yang semakin maju dan kompleks
THE CONCEPT OF AL-RASIKHUNA FI AL-‘ILM A PERSPECTIVE OF AL-‘ALLAMAH AL-TABATABA’I IN THE BOOK OF AL-MIZAN Abrar, Andi; Mahfudz, Muhsin; Sohrah, Sohrah
Jurnal Diskursus Islam Vol 8 No 2 (2020): August
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v8i2.10690

Abstract

Allah reveals the Quran as a guidance to those who are pious and those who are not. In Quran, there are some verses that can be easily comprehended, also known as muhkam verses. There are also quite cryptic verses known as mutasyabih. The interpretation of the Quran often be divise, and divided into two groups. The first group derives and uses the mutasyabih verses of the Quran as a reason to spread deception and finding its takwil (original meaning) due to their heart prefers to the misguidance. The second group is them, whom they are the experts and is known as al-Rasikhuna fi al-‘ilm. They interpret the verses of the Quran, bith muhkam and mutasyabih, based on the opinion that all is coming from Allah. Understanding of the Quran making them more faithful, and therefore called as ulul albab. The term al-Rasikhuna fi al-‘ilm in Quran and hadith does not refer to a certain group or person. Hence, the interpretation of al-Rasikhuna fi al-‘ilm by the ulama depends on their mahzab.
SOCIAL DIMENSIONS OF IBADAH IN THE QUR’AN Mahfudz, Muhsin
Jurnal Diskursus Islam Vol 10 No 1 (2022): April
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v10i1.28640

Abstract

This article discusses the social dimensions contained in the Qur'an, especially verses that use the term ibadah (worship) in its various derivations. The discussion aims to unravel the ambiguity of meaning in society about whether ibadah only refers to the pure rituals (ibādah mahḍah) such as prayer or includes pious activities outside of pure rituals? In its analysis, this article uses the Tafsīr Mauḍū‘ī method, a method of interpretation that examines the concept of ibadah through the elaboration of the entire verse that uses the term. The analytical tools are textual and cultural analysis techniques that highlighted through a sociological approach, especially Max Weber's theory of beliefs about the influence of social behavior. The analysis results show that all verses that use the term ibadah in their various derivations are generally related to social dimensions. If there is a command to worship Allah, then the verses of the Qur'an are also with zakat and social security. By looking up to the characteristics of verses in the Qur'an, Max Weber's theory can be developed even though with different variables.
Kecerdasan Sosial dalam Al-Qur’an (Kajian Tematik terhadap Term تعاون ) Hamid, Mh. Afdal; M, M. Galib; Mahfudz, Muhsin
Jurnal Diskursus Islam Vol 11 No 2 (2023): August
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v11i2.41326

Abstract

Kecerdasan sosial perspektif Al-Quran bukan hanya menjelaskan tentang bagaimana kemampuan manusia berhubungan dengan manusia lainnya (Hablum minannas), tetapi lebih fundamental lagi bahwa dari berhubungan baik dengan orang lain bertujuan untuk mencari ridho Allah swt (Hablum minallah). Penulis melakukan klasifikasi ayat berdasarkan urutan urutan turunnya ayat, maka hasilnya term تعاون terkadang di maksudkan sebagai sarana untuk memelihara sifat kemanusiaan antar sesama dengan tujuan untuk mencari ridho Allah swt, Olehnya itu dengan adanya penelitian ini maka akan memberikan tambahan referensi dalam hal kajian tafsir dan psikologi, adapun metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode tematik dengan deskriptif kualitatif, melalui studi kepustakaan (library reserch), dan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan tafsir dan psikologi, dengan demikian dan hasilnya dapat disimpulkan bahwa Kecerdasan sosial dengan tolong menolong menurut Al-Quran adalah kemampuan seseorang dalam berhubungan baik dengan orang lain dengan tujuan mencari ridho Allah, dalam berhubungan baik dengan seseorang, Al-Qur’an mengisyaratkan untuk senantiasa saling memberi, meringankan beban, bantu membantu dalam hal ini disebut dalam Al-Qur’an dengan term تعاون artinya “tolong menolong”. Wujud kecerdasan sosial tolong menolong menurut Al-Qur’an mengandung dalam dua dimensi yaitu dimensi sosial dan dimensi religious. ta’awun sangat penting dalam persoalan kehidupan manusia bahkan dalam Al-Qur’an mengancam orang-orang yang enggan untuk menolong dengan kedudukan celaka, sebagaimana dalam (QS. Al-Maun:1-7), selain itu setiap mukmin itu bersaudara karena iman, sehingga kewajiban saudara adalah tolong menolong, saling membantu, dalam interaksi sosial di masyarakat. dengan tolong menolong menumbuhkan kecerdasan sosial yang tinggi, sehingga tercipta kesatuan dan persatuan dan pada akhirnya akan berbudaya pada setiap lapisan masyarakat