Claim Missing Document
Check
Articles

Gangguan Makan Terkait Dengan Hipoglikemia Pada Wanita Usia 40 Tahun Ke Atas Yuswanto Setyawan
An-Nadaa : Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 12 No 1 (2025): AN-NADAA JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (JUNI)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/ann.v12i1.18677

Abstract

Hipoglikemia merupakan komplikasi diabetes. namun gangguan makan dalam pemilihan konsumsi makanan dapat meningkatkan gejala hipoglikemia. Tujuan penelitian ini yaitu menambah literatus khusus tentang hipoglikemia serta gangguan makan. Desain penelitian ini merupakan cross-sectional deskriptif. Variabel dependen yaitu hipoglikemia dan faktor independent adalah Gangguan Makan. Populasi penelitian ini adalah wanita menderita diabetes mellitus 2. Sampel yang digunakan yaitu 105 responden  dengan karakteristik berusia 40 tahun keatas dan berdomisili di Jawa Timur. Pada penelitian ini menggunakan kuota sampling, untuk selanjutnya dianalisis menggunakan SPSS terbaru 30 dan menggunakan uji univariat dan uji korelasi spearman. Gangguan makan terbukti secara signifikan berpengaruh pada kejadian hipoglikemia pada wanita usia 40 tahun ke atas. Artinya semakin wanita usia 40 tahun keatas sering mengalami gangguan makan termasuk makan telat, makan tidak 3x, tidak mengonsumsi sayur buah dan protein maka dapat meningkatkan kejadian hipoglikemia sebanyak 49,3%. Saran bagi penelitian selanjutnya dapat menggunakan kuesioner The Yale Food Addiction Scale (YFAS 2.0) sebagai kuesioner. Kata Kunci: Gangguan Makan; Hipoglikemia; Komplikasi Diabetes; Wanita
Kualitas Napas Di Tengah Serbuk Kain: Korelasi Lama Paparan Debu Dan Fungsi Paru Pada Pekerja Konveksi Rhandy Bane Umbu Dongu Deddi; Yuswanto Setyawan
An-Nadaa : Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 12 No 2 (2025): AN-NADAA JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (DESEMBER)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/ann.v12i2.20247

Abstract

Breath Quality Amidst Fabric Dust: Correlation Between Dust Exposure Duration And Pulmonary Function Among Convection Workers Abstract                                                                                               Occupational exposure to dust in the garment industry has been associated with the risk of impaired pulmonary function among workers. This study aims to examine the correlation between the duration of dust exposure and lung function status among convection workers. A cross-sectional quantitative approach was used, involving 100 workers from garment industries in Sidoarjo. Subjects were selected using purposive sampling, considering inclusion criteria such as active employment status, no prior diagnosis of chronic lung disease, and minimum one year of working experience. Pulmonary function was measured using spirometry, classifying results into normal and obstructive impairment. The chi-square and Spearman correlation tests were applied to assess associations between variables. Findings showed that 72% of respondents were aged 30–50 years, 58% had worked for more than 5 years, and 65% were female. Among workers with less than 5 years of exposure, only 30% had obstructive pulmonary disorders. In contrast, 55% of those exposed for 5–10 years and 70% of those exposed for more than 10 years experienced impaired lung function. The chi-square test revealed a significant association between duration of exposure and pulmonary function (χ² = 11.11; p = 0.001), while the Spearman test confirmed a moderate positive correlation (r = 0.41; p < 0.01). These findings highlight the importance of occupational health surveillance and the implementation of adequate protective equipment in garment industries to minimize respiratory risks. Monitoring lung function regularly can assist in early detection and prevention of chronic pulmonary conditions among textile workers. Keywords: dust exposure; pulmonary function; convection worker; occupational health; chi-square test Abstrak Paparan debu dalam industri konveksi telah dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan fungsi paru pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lama paparan debu dengan status fungsi paru pada pekerja konveksi. Pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang digunakan dalam penelitian ini yang melibatkan 100 pekerja konveksi di wilayah Sidoarjo. Subjek dipilih secara purposive dengan kriteria inklusi seperti status kerja aktif, tidak memiliki riwayat penyakit paru kronis, dan pengalaman kerja minimal satu tahun. Fungsi paru diukur menggunakan spirometri dan diklasifikasikan menjadi normal serta gangguan obstruktif. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan bahwa 72% responden berusia 30–50 tahun, 58% telah bekerja lebih dari 5 tahun, dan mayoritas berjenis kelamin perempuan (65%). Pada pekerja dengan paparan <5 tahun, hanya 30% yang mengalami gangguan paru. Sebaliknya, 55% dari kelompok paparan 5–10 tahun dan 70% dari kelompok >10 tahun mengalami gangguan fungsi paru. Uji chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara lama paparan dan fungsi paru (χ² = 11,11; p = 0,001), dan uji Spearman menunjukkan korelasi positif sedang (r = 0,41; p < 0,01). Temuan ini menekankan pentingnya pemantauan kesehatan kerja dan penggunaan alat pelindung diri yang memadai dalam industri konveksi untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan. Pemeriksaan fungsi paru secara berkala diperlukan untuk deteksi dini dan pencegahan kondisi paru kronis pada pekerja tekstil. Kata Kunci: paparan debu; fungsi paru; pekerja konveksi; kesehatan kerja; uji chi-square
Hubungan Lama Konsumsi Obat Antihipertensi dengan Fungsi Ginjal (EGFR) pada Pasien Hipertensi Stadium 2 Rivo Christian Kutanggas; Yuswanto Setyawan
GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol. 4 No. 5 (2025): GALENICAL : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh - Oktober 20
Publisher : Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jkkmm.v4i5.22889

Abstract

Penurunan fungsi ginjal merupakan salah satu komplikasi jangka panjang pada pasien hipertensi, terutama hipertensi stadium 2 yang tidak terkontrol. Evaluasi fungsi ginjal umumnya menggunakan estimasi laju filtrasi glomerulus (estimated Glomerular Filtration Rate/eGFR) berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lama konsumsi obat antihipertensi dengan nilai eGFR pada pasien hipertensi stadium 2. Penelitian dilakukan secara analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional pada 150 pasien hipertensi stadium 2 di sebuah fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan pemeriksaan laboratorium serum kreatinin untuk menghitung eGFR menggunakan rumus CKD-EPI. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lama konsumsi obat antihipertensi dengan fungsi ginjal berdasarkan nilai eGFR (p<0,05). Pasien dengan durasi konsumsi ≥10 tahun cenderung memiliki eGFR normal (≥90 mL/min/1.73m²), sementara kelompok dengan durasi konsumsi <5 tahun lebih banyak mengalami penurunan eGFR <60 mL/min/1.73m². Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa konsumsi obat antihipertensi jangka panjang berhubungan dengan fungsi ginjal yang lebih baik pada pasien hipertensi stadium 2.
Frekuensi Konsumsi Es Kepal Milo Dan Kecenderungan Hiperglikemia Pada Remaja Nur Laili Alfia; Yuswanto Setyawan
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37294/jrkn.v9i2.756

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara frekuensi konsumsi es kepal Milo dan kecenderungan hiperglikemia pada remaja di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang dilaksanakan pada Mei–Juli 2025 dengan sampel sebanyak 205 siswa berusia 15–18 tahun. Data frekuensi konsumsi diperoleh melalui kuesioner yang telah tervalidasi, sementara kadar glukosa darah puasa diukur menggunakan glucometer yang telah dikalibrasi. Analisis statistik menggunakan uji Chi-square dan korelasi Spearman. Hasil menunjukkan terdapat korelasi positif signifikan antara frekuensi konsumsi es kepal Milo dengan peningkatan kadar glukosa darah puasa (r = 0,218; p = 0,002). Remaja yang sering mengonsumsi es kepal Milo berisiko lebih tinggi mengalami hiperglikemia (OR = 2,87; p = 0,006). Temuan ini menunjukkan perlunya edukasi gizi dan intervensi kebijakan untuk mengurangi konsumsi minuman bergula pada remaja guna mencegah gangguan metabolik.   Kata kunci: minuman, hiperglikemia, remaja, perilaku gizi