Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Pengaruh Kadar Aspal Efektif dan Tebal Selimut Aspal Terhadap Proporsi Rongga pada Campuran Laston: Influence of Effective Asphalt Content and Film Thickness on Voids Proportion of Asphalt Concrete Ratna Yuniarti; Made Mahendra; Hasyim Hasyim; Rohani Rohani; I A O Suwati Sideman
JURNAL SAINS TEKNOLOGI & LINGKUNGAN Vol. 9 No. 1 (2023): JURNAL SAINS TEKNOLOGI & LINGKUNGAN
Publisher : LPPM Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jstl.v9i1.410

Abstract

In the mixing process between asphalt and aggregate, absorption of asphalt by the aggregate occurs through the pores of the aggregate. The volume of asphalt not absorbed by the aggregate can be defined as effective asphalt content which determines the percentage of airspaces in the compacted mix. The proportion of voids formed in the mixture contributes to the durability of the mixture against temperature and climate conditions. This study aims to examine the effect of effective asphalt content and the asphalt film thickness on the voids proportion in asphalt mixture. Based on the analysis, it can be concluded that the particle size distribution of the aggregate affects the total surface area of the aggregate in the mixture and the pores of the aggregate affect the effective percent of asphalt content. Aggregate with a small grain size produced a larger total surface area of aggregate. Meanwhile the use of aggregate with small pores produced a higher effective percent of asphalt content. The higher the effective asphalt content and the asphalt film thickness, the larger the voids in mineral aggregate and the voids filled with bitumen. In contrast, the voids in the mixture decreases with increase the effective asphalt content and the asphalt film thickness. In all the voids proportions analyzed, the effective asphalt content and the asphalt film thickness have a very significant effect.
Penerapan Metode Belajar dan Bermain untuk Embinaan dan Pengenalan Fasilitas Keselamatan Jalan Raya Bagi Anak Usia Dini I Wayan Suteja; Suryawan Murtiadi; Rohani; I Gde Putu Warka; IAO Suwati Sideman; Made Mahendra; Hasyim; Salehudin
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 6 No 1 (2023): Januari - Maret
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v6i1.3674

Abstract

Transportasi secara umum mempunyai pengaruh besar terhadap perorangan, masyarakat, pembangunan Salah satu permasalahan dalam transportasi adalah kecelakaan lalulintas. Menurut D.A. Colling, 1990 (Dalam Manurung, J.R.H., 2012) kecelakaan diartikan sebagai tiap kejadian yang tidak direncanakan dan tidak terkontrol yang dapat disebabkan oleh manusia, situasi, faktor lingkungan, ataupun kombinasi dari hal hal tersebut yang mengganggu proses kerja dan dapat menimbulkan cidera ataupun tidak, kesakitan, kematian, kerusakan property ataupun kejadian yang tidak diinginkan lainnya, sehingga kecelakaan lalulintas merupakan indikator utama tingkat keselamatan jalan raya. Berdasarkan data dari Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Nusa Tenggara Barat Resor Mataram 2014, terlihat bahwa dari tahun 2015 hingga 2020 kecelakaan dan pelanggaran yang melibatkan sepeda motor cukup tinggi, dengan tingkat falatitas > 500 orang meninggal pertahun, dengan lebih dari 3000 kejadian kecelakaan, yangmana jumlah kecelakaan dan pelanggaran lalulintas yang melibatkan sepeda motor sampai lebih dari 85% (>85%), hal ini memberikan indikasi bahwa ketidak-tertiban dari sikap pengendara sepeda motor di ruas jalan cendrung dapat mengganggu kendaraan lain berpotensi untuk menyebabkan kejadian kecelakaan dan pelanggaran lalulintas meningkat dari tahun ke tahun. Pengendara motor di Kota Mataram dari sejak usia dini sampai mampu mengendarai kendaraan bermotor belum memiliki pemahaman yang baik tentang atacara berlalulintas yang tertib di jalan raya serta berkeselamatan yang tinggi. Pembelajaran pengenalan perangkat keselamatan berlalulintas dijalan raya sejak usia dini adalah suatu bagian yang cukup penting dilakukan, sehingga pada saat mereka besar dan sebagai pengendara atau pengguna sepeda motor dengan usia >17 tahun, mereka sudah memiliki pemahaman berkeselamatan dan kemampuan pengendalian kendaraan secara lebih baik. Pendidikan usia dini sebagai cara penginputan informasi keselamatan lebih awal agar dimasa mendatang mereka lebih siap saat berkendaraan di jalan raya. Metode pemberian pembelajaran atau penyuluhan tentang pengenalan fasilitas keselamatan berlalulintas di jalan raya dan tata cara berlalulintas dijalan, melalui cara bermain sambil belajar, tentu adalah metode efektif dalam penyampaian target capaian yang diharapkan. Namun karena masih usia dini ini , ada sedikit kesulitkan dalam menarik fokus perhatian mereka yang lebih lama. Metode seperti ini untuk anak usia dini harus terus-menerus disampaikan secara berkesinambungan agar potensi pelanggaran dalam berkendaraan dijalan raya yang berdampak pada kecelakaan saat mereka dewasa dapat diminimalisir, sehingga secara tidak langsung terciptanya tertib berlalulintas di wilayah Kota Mataram dapat lebih terwujud.
Penyuluhan Tentang Pengolahan Sampah Terpadu Menuju Zero Waste Di Kelurahan Karang Pule Kecamatan Sekarbela Kota Mataram Ratna Yuniarti; Hasyim Hasyim; IAO Suwati Sideman; Desi Widianty; Syamsul Hidayat
Jurnal Gema Ngabdi Vol. 5 No. 1 (2023): JURNAL GEMA NGABDI
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jgn.v5i1.339

Abstract

As a result of increasing population, the quantity of solid waste is continuing to grow. The most common method for the disposal of solid waste is landfilling. However, huge negative environmental impacts such as odor, dust, contamination of groundwater are among the problems that arise due to disposal of solid waste in landfill sites. Therefore, reduction of solid waste going to landfill is important issue to implemented. Achievement of this target depends upon active waste minimization being practices by all part of the community. This community service program was conducted in Karang Pule, Sekarbela district, Mataram. The aims of the activity were to provide knowledge and increasing public awareness regarding to the urgency of reducing the amount of waste sent to landfill sites, utilizing waste as much as possible through reduce, reuse, recycling (3R) in accordance with the principles of waste management hierarchy towards zero waste. In addition, the process of utilizing organic waste into compost for plant fertilizers was demonstrated. The community service program was also carried out by involving the participants on composting process. The results of the evaluation showed that the participants were very interested and understood the material provided.
EVALUASI KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL TIPE 422 DAN TIPE 424M (STUDI KASUS : SIMPANG EMPAT TAK BERSINYAL JALAN TGH IBRAHIM KHOLIDI, KECAMATAN KEDIRI, KABUPATEN LOMBOK BARAT) HASYIM HASYIM; ROHANI ROHANI
GANEC SWARA Vol 17, No 3 (2023): September 2023
Publisher : Universitas Mahasaraswati K. Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35327/gara.v17i3.551

Abstract

The unsignalized four-way intersection in Kediri is located in the Kediri Subdistrict of West Lombok Regency and is one of the unsignalized intersections situated very close to the center of community activities. Additionally, there is an educational center in the vicinity, and the traffic conditions at this intersection are quite congested on a daily basis. The mobility level of both individuals and goods, using both light and heavy vehicles, is visibly high at this intersection. A median strip is the central part of the road that physically separates opposing traffic flows. Therefore, the use of a median strip on the road significantly impacts traffic flow efficiency, by reducing delays, queue probabilities, side hindrances, decreasing accident rates, and providing comfort for road users, thereby making road users feel safe and organized. Thus, the government is planning to construct a road median.This study analyzes the performance of an unsignalized intersection before and after the installation of a median, covering aspects such as volume, side constraints, queue probabilities, delays, and saturation levels, using the 1997 Indonesian Highway Capacity Manual (MKJI) methodology.The analysis results for the unsignalized intersection before median installation show a capacity of 3061.5 vehicles per hour, a saturation level of 0.970 (Service Level D), a delay of 14.885 seconds per vehicle, a queue probability of 36.361%, and side constraints amounting to 881.9 incidents per hour. On the other hand, for the unsignalized intersection tipe after median installation, it exhibits a capacity of 3330.5 vehicles per hour, a saturation level of 0.729 (Service Level C), a delay of 12.654 seconds per vehicle, a queue probability of 21.942%, and side constraints amounting to 629.2 incidents per hour.The performance of the four-way intersection in Kediri on TGH Ibrahim Kholidi Road, in the Kediri Subdistrict of West Lombok Regency, was lower before the median installation compared to the tipe of intersection after median installation.
Karakteristik Aspal Buton Ekstraksi yang Dimodifikasi dengan Oli Bekas dan Plastik HDPE I.D.M.A. Karyawan; N.N. Kencanawati; H. Hariyadi; H. Hasyim; R. Rohani
REKONSTRUKSI TADULAKO: Civil Engineering Journal on Research and Development Vol. 4 Issue 2 (September 2023)
Publisher : Civil Engineering Department, Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/renstra.v4i2.596

Abstract

Asphalt functions as an aggregate binder in the road pavement mixture. The rapid construction of roads causes the need for asphalt to increase, while its availability is limited. The government is promoting the use of natural asphalt (Asbuton) as an alternative to oil asphalt. However, asphalt performance from Asbuton is not good. Uneven asphalt content and Asbuton hardness are factors causing it to be less effective as a binder. It is necessary to improve performance by modifying the bitumen separated from Asbuton granules by the extraction process. The modifications were made using used oil and high-density polyethylene (HDPE) plastic waste. Samples were made for each variation of used oil and HDPE in two ways: a constant 5% used oil composition and a constant 2% HDPE. In the constant 5% oil variation, 0%, 2%, 4%, and 6% HDPE are used. Whereas at a constant 2% HDPE, 0%, 3%, 5%, and 7% used oil are used. The tests carried out were: 1) Moisture content and ash content of asphalt extracted from Asbuton, 2) Penetration of asphalt, 3) Ductility; 4) Loss of weight, 5) specific gravity, 6) softening point, and 7) flash and burn points. The performance of modified asphalt is known from the results of data analysis from the tests carried out. The results of the analysis showed that in the asphalt weight loss test, specific gravity, and softening point, pure Asbuton extraction asphalt and the results of the modification as a whole met the requirements. However, in the penetration test, only 3 variations met the requirements, namely: 5% and 7% used oil, and 2% and 6% HDPE. Whereas in the ductility test, flash point, and burning point, all variations and asphalt extraction of pure Asbuton did not meet the requirements. Low ductility, meaning that asphalt does not have good cohesive properties. The low flash point and burning point indicate that the asphalt is easy and fast to burn, which affects the mixing process. Thus, it is still necessary to optimize the composition of the modifier so that the requirements for ductility, flash point, and firing point are met.
Karakteristik Aspal Buton Ekstraksi yang Dimodifikasi dengan Oli Bekas dan Plastik HDPE I.D.M.A. Karyawan; N.N. Kencanawati; H. Hariyadi; H. Hasyim; R. Rohani
REKONSTRUKSI TADULAKO: Civil Engineering Journal on Research and Development Vol. 4 Issue 2 (September 2023)
Publisher : Civil Engineering Department, Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/renstra.v4i2.596

Abstract

Asphalt functions as an aggregate binder in the road pavement mixture. The rapid construction of roads causes the need for asphalt to increase, while its availability is limited. The government is promoting the use of natural asphalt (Asbuton) as an alternative to oil asphalt. However, asphalt performance from Asbuton is not good. Uneven asphalt content and Asbuton hardness are factors causing it to be less effective as a binder. It is necessary to improve performance by modifying the bitumen separated from Asbuton granules by the extraction process. The modifications were made using used oil and high-density polyethylene (HDPE) plastic waste. Samples were made for each variation of used oil and HDPE in two ways: a constant 5% used oil composition and a constant 2% HDPE. In the constant 5% oil variation, 0%, 2%, 4%, and 6% HDPE are used. Whereas at a constant 2% HDPE, 0%, 3%, 5%, and 7% used oil are used. The tests carried out were: 1) Moisture content and ash content of asphalt extracted from Asbuton, 2) Penetration of asphalt, 3) Ductility; 4) Loss of weight, 5) specific gravity, 6) softening point, and 7) flash and burn points. The performance of modified asphalt is known from the results of data analysis from the tests carried out. The results of the analysis showed that in the asphalt weight loss test, specific gravity, and softening point, pure Asbuton extraction asphalt and the results of the modification as a whole met the requirements. However, in the penetration test, only 3 variations met the requirements, namely: 5% and 7% used oil, and 2% and 6% HDPE. Whereas in the ductility test, flash point, and burning point, all variations and asphalt extraction of pure Asbuton did not meet the requirements. Low ductility, meaning that asphalt does not have good cohesive properties. The low flash point and burning point indicate that the asphalt is easy and fast to burn, which affects the mixing process. Thus, it is still necessary to optimize the composition of the modifier so that the requirements for ductility, flash point, and firing point are met.
Karakteristik Aspal Buton Ekstraksi yang Dimodifikasi dengan Oli Bekas dan Plastik HDPE I.D.M.A. Karyawan; N.N. Kencanawati; H. Hariyadi; H. Hasyim; R. Rohani
REKONSTRUKSI TADULAKO: Civil Engineering Journal on Research and Development Vol. 4 Issue 2 (September 2023)
Publisher : Civil Engineering Department, Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/renstra.v4i2.596

Abstract

Asphalt functions as an aggregate binder in the road pavement mixture. The rapid construction of roads causes the need for asphalt to increase, while its availability is limited. The government is promoting the use of natural asphalt (Asbuton) as an alternative to oil asphalt. However, asphalt performance from Asbuton is not good. Uneven asphalt content and Asbuton hardness are factors causing it to be less effective as a binder. It is necessary to improve performance by modifying the bitumen separated from Asbuton granules by the extraction process. The modifications were made using used oil and high-density polyethylene (HDPE) plastic waste. Samples were made for each variation of used oil and HDPE in two ways: a constant 5% used oil composition and a constant 2% HDPE. In the constant 5% oil variation, 0%, 2%, 4%, and 6% HDPE are used. Whereas at a constant 2% HDPE, 0%, 3%, 5%, and 7% used oil are used. The tests carried out were: 1) Moisture content and ash content of asphalt extracted from Asbuton, 2) Penetration of asphalt, 3) Ductility; 4) Loss of weight, 5) specific gravity, 6) softening point, and 7) flash and burn points. The performance of modified asphalt is known from the results of data analysis from the tests carried out. The results of the analysis showed that in the asphalt weight loss test, specific gravity, and softening point, pure Asbuton extraction asphalt and the results of the modification as a whole met the requirements. However, in the penetration test, only 3 variations met the requirements, namely: 5% and 7% used oil, and 2% and 6% HDPE. Whereas in the ductility test, flash point, and burning point, all variations and asphalt extraction of pure Asbuton did not meet the requirements. Low ductility, meaning that asphalt does not have good cohesive properties. The low flash point and burning point indicate that the asphalt is easy and fast to burn, which affects the mixing process. Thus, it is still necessary to optimize the composition of the modifier so that the requirements for ductility, flash point, and firing point are met.
Pembinaan Dan Pengenalan Budaya Lalu Lintas Pada Anak Usia Dini Dengan Metode Bermain Sambil Belajar Bagi Siswa Paud Kumara Asih Di Kota Mataram I Wayan Suteja; Suryawan Murtiadi; Rohani; I Gde Putu Warka; IAO Suwati Sideman; Made Mahendra; Hasyim; Salehudin
Portal ABDIMAS Vol. 1 No. 1 (2023): Jurnal PORTAL ABDIMAS
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/portalabdimas.v1i1.2367

Abstract

Salah satu permasalahan dalam transportasi adalah kecelakaan lalu lintas. Salah satu penyebabnya adalah ketidak-tertiban dari sikap pengendara sepeda motor di ruas jalan karena akan mengganggu kendaraan lain berpotensi untuk menyebabkan kejadian kecelakaan dan pelanggaran lalulintas meningkat dari tahun ke tahun. Pengendara motor di Kota Mataram dari sejak usia dini sampai mampu mengendarai kendaraan bermotor belum memiliki pemahaman yang baik tentang tata cara berlalulintas yang tertib di jalan raya serta berkeselamatan yang tinggi. Pembelajaran pengenalan perangkat keselamatan berlalulintas dijalan raya sejak usia dini adalah suatu bagian yang cukup penting dilakukan, sehingga pada saat mereka dewasa dan sebagai pengendara atau pengguna sepeda motor sudah memiliki pemahaman berkeselamatan dan kemampuan pengendalian kendaraan secara lebih baik. Metode pemberian pembelajaran atau penyuluhan tentang pengenalan fasilitas keselamatan berlalulintas di jalan raya dan tata cara berlalulintas dijalan, melalui cara bermain sambil belajar, tentu adalah metode efektif dalam penyampaian target capaian yang diharapkan. Namun karena masih usia dini, ada sedikit kesulitkan dalam menarik fokus perhatian mereka yang lebih lama. Metode seperti ini untuk anak usia dini harus terus-menerus disampaikan secara berkesinambungan agar potensi pelanggaran dalam berkendaraan dijalan raya yang berdampak pada kecelakaan saat mereka dewasa dapat diminimalisir, sehingga secara tidak langsung terciptanya tertib berlalulintas di wilayah Kota Mataram dapat lebih terwujud.
Penguatan Etos Budaya Tertib Berlalulintas dan Keselamtan di Jalan Raya pada Kelompok Pengendara Pelajar SMA di Kabupaten Lombok Barat I Wayan Suteja; IAO Suwati Sideman; Hasyim; Rohani; Shofia Rawiana; Tri Sulistiyowati
Portal ABDIMAS Vol. 1 No. 2 (2023): Jurnal PORTAL ABDIMAS
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/portalabdimas.v1i2.3403

Abstract

Salah satu permasalahan dalam transportasi adalah kecelakaan lalulintas. Kecelakaan diartikan sebagai tiap kejadian yang tidak direncanakan dan tidak terkontrol yang dapat disebabkan oleh manusia, situasi, faktor lingkungan, ataupun kombinasi dari hal hal tersebut yang mengganggu proses kerja otak dan dapat menimbulkan cidera ataupun tidak, kesakitan, kematian, kerusakan property ataupun kejadian yang tidak diinginkan lainnya, sehingga kecelakaan lalulintas merupakan indikator utama tingkat keselamatan jalan raya. Jalan dengan kelengkapan fasilitas keselamatan (road safety) baik dalam bentuk marka, rambu, delineator, guardrail dan sebagainya dibangun untuk memberikan tingkat keselamatan yang tinggi bagi pengguna jalan, namun kurangnya kepedulian masyarakat (pengendara) terhadap keselamatan berlalulintas di jalan raya, mengakibatkan fasilitas tersebut menjadi sia sia belaka. Berdasarkan data dari Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Nusa Tenggara Barat Resor Lombok Barat, terlihat bahwa dari tahun 2021- 2022 kecelakaan dan pelanggaran yang melibatkan sepeda motor cukup tinggi, dimana jumlah kecelakaan dan pelanggaran lalulintas yang melibatkan sepeda motor sampai lebih dari 85% (>85%) dan melibatkan pengendara sepeda motor dengan usia 16 – 29 tahun mencapai 67%. Hal ini memberikan indikasi bahwa ketidak-tertiban dari sikap pengendara sepeda motor di ruas jalan yang cendrung dapat mengganggu kendaraan lain, serta dapat berpotensi untuk menyebabkan kejadian kecelakaan dan pelanggaran lalulintas dari tahun ke tahun cukup signifikan, baik dari sisi jumlah kejadian maupun dari tingkat kejadiannya. Pengendara dengan usia 16 – 29 tahun ini adalah kelompok remaja, pemuda atau pelajar, sehingga sasaran pelaksanaan kegiatan dengan memberikan penyuluhan dan pelatihan tentang etos budaya tertib dan etos keselamatan berlalulintas di jalan raya bagi kelompok pelajar (SMA) harus terus disampaikan secara berkesinambungan agar pelanggaran dalam berkendaraan dijalan raya yang berdampak pada kecelakaan dapat diminimalisir. Kegiatan ini dilakukan di SMA N.01 Kediri Kabupaten Lombok Barat, sebagai salah satu upaya dalam rangka pencapaian peningkatan rasa kesadaran berkeselamatan di jalan yang lebih baik dapat dicapai, sehingga secara tidak langsung terciptanya tertib berlalulintas di wilayah Kabupaten Lombok Barat dapat terwujud
Penguatan Etos Budaya Tertib Berlalulintas dan Keselamtan di Jalan Raya pada Kelompok Pengendara Pelajar SMA di Kabupaten Lombok Barat I Wayan Suteja; IAO Suwati Sideman; Hasyim; Rohani; Shofia Rawiana; Tri Sulistiyowati
Portal ABDIMAS Vol. 1 No. 2 (2023): Jurnal PORTAL ABDIMAS
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/portalabdimas.v1i2.3403

Abstract

Salah satu permasalahan dalam transportasi adalah kecelakaan lalulintas. Kecelakaan diartikan sebagai tiap kejadian yang tidak direncanakan dan tidak terkontrol yang dapat disebabkan oleh manusia, situasi, faktor lingkungan, ataupun kombinasi dari hal hal tersebut yang mengganggu proses kerja otak dan dapat menimbulkan cidera ataupun tidak, kesakitan, kematian, kerusakan property ataupun kejadian yang tidak diinginkan lainnya, sehingga kecelakaan lalulintas merupakan indikator utama tingkat keselamatan jalan raya. Jalan dengan kelengkapan fasilitas keselamatan (road safety) baik dalam bentuk marka, rambu, delineator, guardrail dan sebagainya dibangun untuk memberikan tingkat keselamatan yang tinggi bagi pengguna jalan, namun kurangnya kepedulian masyarakat (pengendara) terhadap keselamatan berlalulintas di jalan raya, mengakibatkan fasilitas tersebut menjadi sia sia belaka. Berdasarkan data dari Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Nusa Tenggara Barat Resor Lombok Barat, terlihat bahwa dari tahun 2021- 2022 kecelakaan dan pelanggaran yang melibatkan sepeda motor cukup tinggi, dimana jumlah kecelakaan dan pelanggaran lalulintas yang melibatkan sepeda motor sampai lebih dari 85% (>85%) dan melibatkan pengendara sepeda motor dengan usia 16 – 29 tahun mencapai 67%. Hal ini memberikan indikasi bahwa ketidak-tertiban dari sikap pengendara sepeda motor di ruas jalan yang cendrung dapat mengganggu kendaraan lain, serta dapat berpotensi untuk menyebabkan kejadian kecelakaan dan pelanggaran lalulintas dari tahun ke tahun cukup signifikan, baik dari sisi jumlah kejadian maupun dari tingkat kejadiannya. Pengendara dengan usia 16 – 29 tahun ini adalah kelompok remaja, pemuda atau pelajar, sehingga sasaran pelaksanaan kegiatan dengan memberikan penyuluhan dan pelatihan tentang etos budaya tertib dan etos keselamatan berlalulintas di jalan raya bagi kelompok pelajar (SMA) harus terus disampaikan secara berkesinambungan agar pelanggaran dalam berkendaraan dijalan raya yang berdampak pada kecelakaan dapat diminimalisir. Kegiatan ini dilakukan di SMA N.01 Kediri Kabupaten Lombok Barat, sebagai salah satu upaya dalam rangka pencapaian peningkatan rasa kesadaran berkeselamatan di jalan yang lebih baik dapat dicapai, sehingga secara tidak langsung terciptanya tertib berlalulintas di wilayah Kabupaten Lombok Barat dapat terwujud