Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Z’s Privacy Calculus on Using a Second Instagram Account Lutfi Kurniawan, Andika; Hidayanto, Syahrul
International Journal of Advanced Multidisciplinary Vol. 3 No. 2 (2024): International Journal of Advanced Multidisciplinary (July-September 2024)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/ijam.v3i2.600

Abstract

This research aims to understand Gen Z's use of the privacy calculus on second Instagram accounts and discover what advantages and risks Instagram users gain from self-disclosure. This research uses a qualitative method with a descriptive approach. The author used a purposive sampling technique, where informants were determined deliberately based on criteria, namely Instagram users aged 11 - 24 years and from Jakarta. The data collection techniques used were interviews, observation, and documentation. Data analysis uses the Miles and Huberman model, which consists of data reduction, presentation, and conclusion. The results show that a second Instagram account can pose a greater risk than the benefits felt by the user, due to a lack of awareness regarding privacy uploads, so that privacy issues depend on the awareness and control of the account owner. Research still needs to be more extensive in generalizing data. For this reason, quantitative research related to themes is needed in the future. Instagram users can increase their awareness by expressing themselves through second accounts. Apart from that, researchers can also provide an overview of the benefits and risks obtained after disclosing themselves via a second Instagram account to provide advice regarding healthy use of social media. A second Instagram account can still pose a risk. However, many second Instagram account users are still active in using the second account. Several risks, namely security risk, stigma risk, and role risk. Meanwhile, the perceived benefits are self-expression, social validation, and relationship development.
The Influence of Emotional Intelligence on Toxic Behavior in Playing the Online Game Mobile Legends Sabilla Rosyad, Ridhia; Hidayanto, Syahrul
International Journal of Advanced Multidisciplinary Vol. 3 No. 2 (2024): International Journal of Advanced Multidisciplinary (July-September 2024)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/ijam.v3i2.601

Abstract

This study aims to determine whether there is an influence of the emotional intelligence of vocational students on toxic behavior in playing mobile legends online games. This study used a survey method and data collection was carried out using questionnaires. The population in this study is students of SMK Karya Guna 2 Bekasi who play Mobile Legends online games for at least 1 year. The research sample was selected based on a purposive sampling technique with 94 respondents and using SPSS Version 25. The percentage of emotional intelligence results of SMK Karya Guna 2 Bekasi students is 80% to 68% and is in a strong category, (2) the results of the percentage of toxic behavior are 56% to 28% and are in the sufficient to the weak category, (3) Based on a simple linear regression test, there was a significant negative influence between emotional intelligence on toxic behavior with a regression coefficient value of -0.260 and was in the weak category with a value of -0.370. The research results are only an initial description of the phenomenon. More in-depth research and more comprehensive data collection techniques are needed. The higher the emotional intelligence that students have, the lower the toxic behavior carried out by students, conversely the higher the toxic behavior carried out by students, the lower the emotional intelligence that students have. Currently, emotional intelligence is very much needed in students. The current phenomenon is that many students engage in toxic behavior in the online game that is widely downloaded, namely Mobile Legends. Based on the literature review, there is a gap in the research theme of emotional intelligence towards toxic behavior.
Berbagi Foto Digital: Motif, Faktor Kepribadian, dan Komunikasi Termediasi Hidayanto, Syahrul; Zahra, Fina
ETTISAL : Journal of Communication Vol. 8 No. 2 (2023): ETTISAL : Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v8i2.9311

Abstract

Media sosial saat ini menjadi platform berbagi foto digital yang diminati mayoritas pengguna internet di dunia. Tujuan diciptakannya media sosial adalah mulai dari sarana komunikasi hingga menjadi wadah untuk berbagi foto. Di media sosial, berbagi foto digital dianggap lebih efektif dalam mengekspresikan diri pengguna dibanding berbagi status lewat teks. Daya tangkap audiens media sosial lebih cepat ketika informasi disampaikan melalui foto digital. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana motivasi pengguna membagikan foto digitalnya di media sosial dan faktor kepribadian yang melatar belakanginya. Berdasarkan kajian literatur, masih jarang dijumpai penelitian yang menghubungkan motivasi berbagi foto digital dengan kepribadian pengguna media sosial. Total empat informan terpilih setelah melalui proses pencarian dan seleksi berdasarkan kriteria. Penelitian ini menggunakan tiga metode pengumpulan data yaitu obeservasi tidak langsung, wawancara semi terstruktur, dan studi literatur. Data penelitian yang sudah terkumpul kemudian diberikan kode dengan tiga tahapan pengkodean yaitu open, axial, dan selective coding. Data hasil pengkodean selanjutnya dianalisis menggunakan analisis tematik. Berdasarkan hasil penelitian, motivasi memori, ekspresi diri, dan pemeliharaan hubungan adalah tiga motivasi teratas seseorang berbagi foto digitalnya di media sosial. Temuan lainnya adalah seseorang yang melakukan aktivitas berbagi foto digital biasanya memiliki karakteristik kepribadian extraversion, openness to experience, dan agreeableness dengan derajat yang cukup tinggi.  
Aksi Sosial Di Internet: Peran Social Media Influencer Sebagai Aktor Dalam Crowdfunding Di Media Sosial Syahrul Hidayanto; Ainun Zakiah Tofani; Andini Putri Pratiwi; Shafa Rahmah; Dairaby Alfurqaan; Paskalis Christian
Jurnal Komunikasi, Masyarakat dan Keamanan Vol. 4 No. 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/77rf2s68

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran social media influencer sebagai aktor dalam crowdfunding di media sosial. Penelitian ini penting karena dapat memberikan gambaran bagaimana social media influencer memobilisasi penggemarnya untuk terlibat dalam aksi sosial dan menyukseskan kampanye crowdfunding. Crowdfunding telah bertranformasi ke banyak bentuk salah satunya adalah melalui ptlafrom digital seperti situs web atau media sosial. Eksistensinya semakin diperkuat berkat pengaruh dari social media influencer yang memiliki basis penggemar yang besar. Penelitian ini menggunakan metode unobtrusive observation yang dilakukan secara virtual dan studi literatur dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga elemen penting yang dapat menentukan kesuksesan crowdfunding yaitu komunikasi visual, motivasi, serta kepercayaan dan transparansi. Crowdfunding dapat dikatakan sukses jika penggalang dana (fundraiser) sebagai aktor yang beperan dalam crowdfunding dapat memenuhi ketiga elemen tersebut. Dalam kasus penelitian ini, subjek penelitian yaitu social media influencer yang berperan sebagai penggalang dana mampu menjalankan perannya dengan baik. Media sosial secara maksimal dimanfaatkan sebagai tempat untuk membangun dan meningkatkan awareness kampanye crowdfunding lewat komunikasi visual, berinteraksi dengan penderma, dan sebagai tempat untuk memberikan informasi terbaru terkait realisasi crowdfunding.
Fanatisme Pemain Gim Mobile Legends pada Komunitas Kasino Squad Shandi, Kevin January; Hidayanto, Syahrul
Jurnal Pustaka Komunikasi Vol 7, No 2 (2024): Accredited by Kemendikbud Dikti SK No. 79/E/KPT/2023
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/pustakom.v7i2.3922

Abstract

Mobile Legends is the most popular game in Indonesia currently. Its popularity then gave birth to many communities of online game lovers, one of which is the Casino Squad community. Researchers assume that several members of the Casino Squad have been identified as having fanaticism such as flaming, excessive enthusiasm, and a sense of emotional attachment and love that lasts for a long time. They show this fanaticism when playing the game Mobile Legends. This research aims to determine the forms of fanaticism in the online game players Mobile Legends and to find out the factors that cause fanaticism in the online game players Mobile Legends. This research uses a descriptive qualitative method by selecting members of the Casino Squad community as informants who are considered to have fanaticism. The research results show that online game players among members of the Casino Squad community have forms of fanaticism such as excessive playing time, excessive top ups for gacha skins and skipping school to play the Mobile Legends game. Then, the factors that cause members of the Casino Squad community to become fanatics of Mobile Legends include the game being easy to play, earning money and self-actualization
Strategi Digital Branding pada Startup Social Crowdfunding (Studi Kasus pada Kitabisa.com) Syahrul Hidayanto; Ishadi Soetopo Kartosapoetro
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 9 No. 1 (2020)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v9i1.2259

Abstract

The era where information can be accessed quickly and flexibly presents its own challenges for startup branding in the crowdfunding sector. Kitabisa.com as the most popular crowdfunding platform in Indonesia certainly becomes an example in terms of digital branding strategies for other startups working in the same sector. This study aims to find out how digital branding strategies are in social crowdfunding startups in the industrial era 4.0. This study uses a qualitative approach in gaining a broad and deep understanding of digital branding strategies in social crowdfunding startups. The chosen research strategy is a case study. Based on the literature review that has been done, this research is the first in Indonesia that focuses on raising the theme of digital branding on social crowdfunding startups. The results show that Kitabisa.com has built its brand based on market insights, which contributes to its current success with a strong internal communication strategy along with consistent external communication. For brands to remain relevant and active, branding must be seen as an ongoing process that requires continuous adjustments through media monitoring and reacting to negative issues that can weaken the company's position.
Analisis Perilaku Komunikasi Narsistik pada Pemain Gim Mobile Legends Profesional di Kota Bekasi Aufar, Kevatama Bent; Hidayanto, Syahrul
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 2 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i2.1723

Abstract

This research aims to understand narcissistic communication behavior in professional Mobile Legends game players in Bekasi City. Narcissism is often found in people who over-glorify things that some think are normal. Apart from being often found in artists, this phenomenon can also be seen in professional gamers just starting their careers. In Indonesia, there are many professional gamers, but the main topic of conversation in the gaming industry is Mobile Legends gamers. Researchers used a qualitative research approach with data collection techniques: observation, interviews, and documentation. Based on the results of research data processing, narcissistic communication behavior was found in LVo team members. Symptoms of narcissistic communication behavior include showing off one's skills to the opposing team, praising one's greatness, considering them unique, uploading successes on status on social media, and claiming to master the game because of high-flying hours. The impact of narcissistic communication behavior on professional gaming teams is tarnishing the good name of the team, coach, and team members. Then, it will be difficult for the team to get sponsors because the team often loses in tournaments, and one of the members is known to have a bad attitude. Not only that, narcissistic communication behavior can also affect team dynamics, including interactions between team members and overall team performance. Narcissistic has effect on professional gamers such as selfish decision making, dominance in conversations and decision-making, lack of empathy, and unprofessionalism.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memahami perilaku komunikasi narsistik pada pemain gim Mobile Legends profesional di Kota Bekasi. Narsistik sering dijumpai pada orang-orang yang mengglorifikasi sesuatu secara berlebihan, yang menurut anggapan sebagian orang biasa saja. Selain sering dijumpai pada artis, fenomena ini juga dapat dilihat pada pemain gim profesional yang masih baru merintis karirnya. Di Indonesia ada banyak sekali pemain gim profesional, namun yang saat ini menjadi topik perbincangan utama dalam industri gim adalah pemain gim Mobile Legends. Peneliti menggunakan pendekatan penelitian yaitu kualitatif dengan teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil olah data penelitian, perilaku komunikasi narsistik ditemukan pada anggota tim LVo. Bentuk dari perilaku komunikasi narsistik yang diketahui adalah melakukan pamer keahlian kepada tim lawan, memuji kehebatan diri sendiri, menganggap mereka spesial, mengunggah kesuksesan pada status di media sosial, dan mengklaim menguasai permainan karena jam terbang yang tinggi. Dampak perilaku komunikasi narsistik pada tim gim profesional seperti tercorengnya nama baik tim, pelatih, dan anggota tim. Kemudian, tim akan sulit mendapatkan sponsor karena tim sering mengalami kekalahan dalam turnamen dan salah satu anggota dikenal memiliki attitude yang buruk. Tidak hanya itu, perilaku komunikasi narsistik juga dapat memengaruhi dinamika tim, termasuk interaksi antar anggota tim dan performa tim secara keseluruhan. Narsisme memiliki efek terhadap pemain gim profesional seperti dalam pengambilan keputusan yang egois, dominasi dalam percakapan dan pengambilan keputusan, kurang empati, dan tidak profesional.
Pelepasan Moral pada Generasi Z Pemain Gim Genre Battle Royale di Dalam Gameplay (Studi pada Pemain PUBG Mobile di Kota Bekasi) Susanto, Dwiky Nurrochman; Hidayanto, Syahrul
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 2 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i2.1726

Abstract

Online battle royale genre games such as PUBG Mobile are popular among Generation Z because they offer a competitive and social experience. However, they also encourage the emergence of moral disengagement behavior, such as verbal violence and indifferent actions. This phenomenon is important to study because it can affect the moral perception of players, especially in Bekasi City, which has a high level of online game participation among the younger generation. The qualitative descriptive method was chosen to understand and describe the phenomenon or context in depth. The researcher describes the study's results by conducting interviews with informants considered to have the criteria needed in the study. In addition, observation and documentation collection techniques were also carried out to complete the research data. The research informants were selected intentionally (purposive sampling). An interesting research finding related to moral disengagement in PUBG Mobile is that when female players are targeted for moral disengagement by other players, they tend to be silent and do not choose to fight back. In addition, the frequency of female Generation Z PUBG Mobile players committing moral disengagement also tends to be lower than male players. However, this does not apply to male PUBG Mobile players. When someone commits verbal violence against them, they will fight back and retaliate harder. Moral disengagement in gameplay is also generally carried out by male PUBG Mobile players. The basic moral disengagement factors are competitive game types, in-game interactions, low moral education, attention-seeking, and lack of empathy. Meanwhile, the forms of moral disengagement found in this study are, cursing fellow players, normalizing discrimination against female players, and arguing. Third, the forms of moral disengagement above, if borrowing the term coined by Bandura, are called dehumanization, where individuals consider other individuals as worthless entities, making them vulnerable to violating ethics or morals without a strong moral filter.ABSTRAKGim daring genre battle royale seperti PUBG Mobile populer di kalangan Generasi Z karena menawarkan pengalaman kompetitif dan sosial, namun juga mendorong munculnya perilaku pelepasan moral seperti kekerasan verbal dan tindakan acuh tak acuh. Fenomena ini penting diteliti karena dapat memengaruhi persepsi moral pemain, khususnya di Kota Bekasi yang memiliki tingkat partisipasi gim daring tinggi di kalangan generasi muda. Metode deskriptif kualitatif dipilih dengan tujuan memahami dan menggambarkan fenomena atau konteks secara mendalam. Peneliti menguraikan hasil penelitian dengan melakukan wawancara bersama informan yang dianggap memiliki kriteria yang dibutuhkan dalam penelitian. Selain itu, teknik pengumpulan observasi dan dokumentasi juga dilakukan untuk melengkapi data-data penelitian informan penelitian dipilih secara sengaja (pusposive sampling). Temuan penelitian yang menarik terkait pelepasan moral dalam PUBG Mobile adalah ketika pemain perempuan menjadi sasaran pelepasan moral oleh pemain lain, mereka biasanya cenderung diam dan tidak memilih untuk melawan balik. Selain itu frekuensi pemain Generasi Z PUBG Mobile perempuan melakukan pelepasan moral juga cenderung rendah dibandingkan dengan pemain laki-laki. Namun, ini tidak berlaku pada pemain PUBG Mobile laki-laki. Ketika ada yang melakukan kekerasan verbal terhadapnya, mereka akan melawan balik dan membalasnya lebih keras. Pelepasan moral di dalam gameplay juga umumnya dilakukan pemain PUBG Mobile laki-laki. Adapun faktor-faktor dasar pelepasan moral yaitu jenis gim yang kompetitif, interaksi dalam gim, rendahnya pendidikan moral, mencari perhatian, dan kurangnya rasa empati. Sedangkan, bentuk-bentuk pelepasan moral yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu, memaki sesama pemain, menormalisasi diskriminasi terhadap pemain perempuan, dan debat kusir. Ketiga, bentuk-bentuk pelepasan moral di atas, jika meminjam istilah yang dicetuskan oleh Bandura, disebut sebagai dehumanisasi yaitu di mana individu menganggap individu lain sebagai entitas yang tidak berharga, yang membuatnya rentan melanggar etika atau moral tanpa filter moral yang kuat.
Tanggapan Orang Tua Mengenai Dampak Penggunaan YouTube pada Perkembangan Sosial Emosional Anak (Studi pada Orang Tua Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Bekasi) Utami, Firda Annisa; Hidayanto, Syahrul
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 2 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i2.1725

Abstract

This study discusses the impact of YouTube usage on children's social-emotional development. This study aimed to determine parents' responses to elementary school students in Bekasi regarding the impact of YouTube usage on their children's social-emotional development. The approach used by researchers in this study was qualitative research. The data collection techniques chosen were observation, interviews, and documentation. Based on the study's results, using gadgets and social media platforms, especially YouTube, positively and negatively impact children. Parents generally allow their children to use gadgets with certain limitations and supervision. YouTube is considered a medium that helps children obtain information and entertainment, but it also has the potential to affect social-emotional development if not adequately controlled. Parents apply rules for gadget use, such as limiting the duration of use and allowing access to certain social media (only YouTube). However, although YouTube can provide educational benefits, there is a risk of behavioral changes, such as addiction, reduced social interaction, and emotional changes such as irritability and lack of focus in daily activities. YouTube Kids is one of the solutions used by parents to minimize the negative impacts of YouTube. Some parents also try to divert their children's attention from gadgets by introducing traditional games or other more beneficial activities for their social-emotional development.ABSTRAKPenelitian ini membahas mengenai dampak penggunaan YouTube pada perkembangan sosial emosional anak. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tanggapan orang tua siswa Sekolah Dasar di Bekasi mengenai dampak penggunaan YouTube pada perkembangan sosial emosional anak-anak mereka. Pendekatan yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dipilih yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan gadget dan platform media sosial, khususnya YouTube, memiliki dampak positif dan negatif terhadap anak. Para orang tua umumnya mengizinkan anak-anak mereka menggunakan gadget dengan batasan tertentu dan pengawasan. YouTube dianggap sebagai media yang membantu anak dalam memperoleh informasi dan hiburan, tetapi juga berpotensi memengaruhi perkembangan sosial-emosional jika tidak dikontrol dengan baik. Orang tua menerapkan aturan penggunaan gadget, seperti membatasi durasi pemakaian dan mengizinkan akses ke media sosial tertentu (hanya YouTube). Namun, meskipun YouTube dapat memberikan manfaat pendidikan, ada risiko perubahan perilaku, seperti kecanduan, berkurangnya interaksi sosial, serta perubahan emosi seperti mudah marah dan kurang fokus dalam aktivitas sehari-hari. YouTube Kids menjadi salah satu solusi yang digunakan orang tua untuk meminimalisir dampak negatif YouTube. Beberapa orang tua juga mencoba mengalihkan perhatian anak dari gadget dengan memperkenalkan permainan tradisional atau aktivitas lain yang lebih bermanfaat untuk perkembangan sosial-emosional mereka.
Analisis Pesan Motivasi pada Film CODA (2021) Hidayanto, Syahrul; Aurellie, Fadia Shafa
Jurnal PIKMA : Publikasi Ilmu Komunikasi Media Dan Cinema Vol. 6 No. 1 (2023): September
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24076/pikma.v6i1.1258

Abstract

Film yang dikemas dengan baik, menarik dan kreatif akan meninggalkan kesan tersendiri bagi penontonnya. Salah satu film yang memuat pesan motivasi di dalamnya adalah film CODA yang dirilis tahun 2021. Film ini mengangkat tema disabilitas namun fokusnya justru bukan kepada penyandang disabilitasnya melainkan kepada seorang anak remaja perempuan yang terlahir berbeda di tengah keluarga tunarungu. Tokoh utama dalam film tersebut berjuang meraih mimpinya menjadi seorang penyanyi. Namun, mimpi besarnya ditentang oleh orang tuanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana analisis pesan motivasi yang terkandung di dalam film CODA. Penelitian ini meminjam konsep motivasi yang dikemukakan oleh Abraham Maslow. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini melalui observasi, dokumentasi, wawancara dan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan metode analisis semiotika Charles Sanders Peirce dan diabsahkan datanya menggunakan triangulasi teknik. Hasil pada penelitian ini ditemukan 15 scene yang mengandung pesan motivasi menurut Maslow diantaranya, motivasi untuk kebutuhan rasa aman, motivasi untuk kebutuhan sosial, motivasi untuk kebutuhan penghargaan dan motivasi untuk kebutuhan aktualisasi diri.