Claim Missing Document
Check
Articles

Group Cohesiveness of Chelsea Indonesia Supporters Club (CISC) Bekasi Region in Building a Positive Community Image Rafi Ardani; Fadli Muhammad Athalarik; Nasaruddin Siregar; Syahrul Hidayanto
Momentum Matrix: International Journal of Communication, Tourism, and Social Economic Trends Vol. 1 No. 4 (2024): November : Momentum Matrix: International Journal of Communication, Tourism, an
Publisher : Asosiasi Penelitian dan Pengajar Ilmu Sosial Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/momat.v2i4.483

Abstract

Football is far more than a game; it is a cultural language that brings people together across nations and generations. In Indonesia, this passion for football extends beyond domestic leagues, where local supporters also form strong communities around international clubs. One of these is the Chelsea Indonesia Supporters Club (CISC) Bekasi Region, a collective of Chelsea FC fans who not only share admiration for the team but also nurture social bonds and a sense of belonging within their community. This paper offers a conceptual exploration of how cohesiveness among members of CISC Bekasi contributes to the creation of a positive community image. Building on ideas from scholars such as Mulyana (2016), Collins and Raven (in Arifuddin, 2016), and Muniz and O’Guinn (in Ratnawati & Lestari, 2018), the discussion focuses on the role of group communication in fostering solidarity and collective identity. Within the group, communication is not limited to exchanging information but also functions as a medium for emotional support, shared values, and moral responsibility. The argument put forward is that effective communication and social cohesion can transform a fan club into a respected social group that embodies unity and positive representation. The experience of CISC Bekasi illustrates how sports enthusiasm, when supported by strong interpersonal ties, can encourage inclusive participation and strengthen the public image of football supporter communities in Indonesia.
Sharenting Practices by Millennial Parents as an Effort to Gain Social Recognition Hidayanto, Syahrul; Athalarik, Fadli Muhammad
Jurnal Komunikasi Vol. 19 No. 1 (2024): VOLUME 19 NO 1 OKTOBER 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/komunikasi.vol19.iss1.art6

Abstract

Unwittingly, when parents share information about their children's lives on social media (sharenting), they need their followers' attention, affection, and a warm attitude to fulfill their emotional needs. This study used a qualitative research approach. Data collection tools in this study were in-depth interviews, literature studies, and observations. The criteria for research informants were parents from the millennial generation who had been actively using social media for more than three years and had a high frequency of social media use. The data analysis used was thematic analysis, which could help researchers capture informants' experiences accessing social media, which researchers then presented through specific themes. Based on the research data processing, in the current digitalization era, the practice of sharing carried out by millennial parents is used to gain social recognition. The results of this study can enrich the discussion on sharing motivation, namely not only in the aspects of self-presentation and social participation but also in the aspect of social recognition.
What Does It Mean To Be Private? Relation Between Teenager Self-Presentation And Their Digital Privacy Akbar, Moh. Rifaldi; Hidayanto, Syahrul
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 8 No. 2 (2023): December 2023 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v8i2.785

Abstract

This study aims to determine the relationship between privacy management on Instagram and the self-presentation of teenaget. The study took respondents (N=54) who had a Generation Z cohort category. Respondents in this study were students of class VII, VIII, IX at Al Azhar Islamic middle School Kemang Pratama 9 Bekasi City, West Java (SMP Islam Al Azhar Kemang Pratama 9 Kota Bekasi, Jawa Barat). This study uses a positivist paradigm with a quantitative approach. This research design is correlational, which aims to determine the relationship between variables. The independent and dependent variables will be measured simultaneously through a cross-sectional approach. The questionnaire was chosen as a tool to collect data. The questionnaire was created using Google Forms and distributed through the WhatsApp application. The nature of the question is closed, where the respondent can only choose the answer according to the options provided in the questionnaire. The sampling technique used is purposive sampling, with the criteria of respondents being middle school students aged 12-14 years, having an Instagram account, and actively using Instagram for 1-3 years. The results of this study indicate that there is a strong relationship between privacy management on Instagram social media and middle school students' self-presentation. Then, the form of the relationship between the two variables is positive, meaning that the higher the privacy management of middle school students on Instagram, the higher the self-presentation.
Kontribusi Kapasitas Komunikasi Pemerintah Kelurahan Bintara Kota Bekasi dalam Mencapai Good Governance Priatna, Ibnu Fajar; Hidayanto, Syahrul
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 7, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v7i1.284

Abstract

Komunikasi pemerintah di beberapa instansi pemerintah tingkat daerah pada negara berkembang masih dinomorduakan. Padahal, banyak instansi pemerintah di negara maju fokus untuk melakukan pendekatan komunikasi dua arah dengan warganya untuk menyelesaikan masalah publik. Salah satu institusi pemerintah tingkat daerah yang menjadi sorotan dalam penyelesaian masalah publik adalah kelurahan. Kelurahan sebagai unit pemerintahan terkecil pada suatu wilayah yang saat ini perlu mendapatkan sorotan terkait pelaksanaan komunikasi pemerintah. Kelurahan merupakan organisasi pemerintah yang secara hirarki berada paling bawah, yang artinya kelurahan adalah organisasi yang paling dekat dengan masyarakat. Karena itu diharapkan mampu memberikan pelayanan yang baik kepada warga yang ingin mengurus segala keperluan dan kepentingan  Penelitian ini ingin memahami bagaimana kontribusi kapasitas komunikasi pada Kelurahan Bintara dalam mencapai good governance. Peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pengambilan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Kelurahan Bintara sudah memenuhi dimensi kapasitas komunikasi dalam mencapai good governance. Kelurahan Bintara mampu menyandang status sebagai good governance dilihat dari aspek kemampuan negara, daya tanggap dan akuntabilitas dengan sangat baik. Kemudian hasil temuan lainnya, kapasitas komunikasi pemerintah, lingkungan komunikasi pemerintah dan pelayanan publik di Kelurahan Bintara mendapatkan hasil yang positif dari masyarakat.
Bijak Bermedia Sosial untuk Stabilitas Kesehatan Mental Remaja Hidayanto, Syahrul; Syafrina, Annisa Eka; Imaddudin, Imaddudin
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 4, No 4 (2024): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v4i4.769

Abstract

The main objective of implementing this community service program is to increase adolescents' awareness and understanding of the healthy and responsible use of social media. The method used was interactive training that included material presentation, discussion, and practical activities. The results of this program showed a significant increase in participants' understanding of the limits of social media use, emotional management, and strategies to deal with negative impacts such as Fear of Missing Out (FOMO). In conclusion, the training successfully provided the necessary insights and tools for adolescents to use social media wisely, supporting their mental health stability.ABSTRAKTujuan utama dari pelaksanaan program pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman remaja tentang penggunaan media sosial yang sehat dan bertanggung jawab. Metode yang digunakan adalah pelatihan interaktif yang mencakup penyajian materi, diskusi, dan kegiatan praktik. Hasil dari program ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta mengenai batasan penggunaan media sosial, manajemen emosional, dan strategi menghadapi dampak negatif seperti Fear of Missing Out (FOMO). Kesimpulannya, pelatihan berhasil memberikan wawasan dan alat-alat yang diperlukan bagi remaja untuk menggunakan media sosial dengan bijak, mendukung stabilitas kesehatan mental mereka.
Sharenting and Digital Reputation: Pengaruh Sharenting Terhadap Presentasi Diri Orang Tua Milenial Di Media Sosial Hidayanto, Syahrul
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5537

Abstract

Sharenting has now become a global trend on social media. The phenomenon that we can see in Indonesia is that many social media users who are millennial parents share content about their children's activities on social media. Sharenting is also considered a place for millennial parents to build their digital reputation. This research aims to prove the influence of sharenting on millennial parents' self-presentation on social media. The right approach to help researchers answer this research question is through a quantitative approach. Data collection techniques use online surveys distributed through advertising features on the Facebook platform. After filtering the online questionnaire data, the total number of respondents taken was 518 respondents. All respondents met the respondent criteria, namely millennial parents (age range 24-39 years), regularly sharing their children's activities on social media, and active users of popular social media. The research hypothesis will be tested using regression tests, correlation tests, partial tests (t), and simultaneous tests (f). The measurement method uses a Likert scale. Meanwhile, the data's validity was tested using validity and reliability tests. The research results prove a significant influence of sharenting activities on the self-presentation of millennial parents on social media. The relationship between the two variables is also stated to be positive. Then, the strength of the two variable relationships enters into a strong correlation. From the calculation results, the higher the sharenting, the higher the self-presentation. In the context of self-presentation, millennial parents use sharenting to display positive aspects of their lives, especially related to family life and their role as modern parents. For millennial parents, self-presentation on social media can also affect their reputation in the online environment. By building a positive image as caring and involved parents, they can strengthen their social connections and expand their support network online.ABSTRAKSharenting saat ini telah menjadi tren di media sosial yang mendunia. Fenomena yang dapat kita lihat di Indonesia adalah banyak pengguna media sosial yang notabene adalah orang tua milenial, membagikan konten tentang aktivitas anak-anak mereka di media sosial. Sharenting juga diasumsikan menjadi ajang orang tua milenial membangun reputasi digital mereka. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh sharenting terhadap presentasi diri orang tua milenial di media sosial. Pendekatan yang tepat untuk membantu peneliti menjawab pertanyaan penelitian ini adalah melalui pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan survei secara daring yang didistribusikan melalui fitur iklan pada platform Facebook. Setelah dilakukan penyaringan data kuesioner daring, total responden yang diambil adalah 518 responden. Seluruh responden yang diambil telah memenuhi kriteria responden yaitu orang tua milenial (range usia 24-39 tahun), rutin membagikan aktivitas anaknya ke media sosial, dan pengguna aktif media sosial populer. Hipotesis penelitian akan diuji dengan uji regresi, uji korelasi, uji parsial (t), dan uji simultan (f). Metode pengukuran menggunakan skala likert. Sementara itu, uji keabsahan data dilakukan dengan uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan aktivitas sharenting terhadap presentasi diri orang tua milenial di media sosial. Hubungan diantara kedua variabel juga dinyatakan positif. Kemudian, kekuatan kedua hubungan variabel masuk ke dalam korelasi kuat. Dari hasil penghitungan, dapat disimpulkan bahwa, semakin tinggi sharenting maka semakin tinggi pula presentasi diri. Dalam konteks presentasi diri, orang tua milenial menggunakan sharenting untuk menampilkan aspek-aspek positif dari kehidupan mereka, terutama berkaitan dengan kehidupan keluarga dan peran mereka sebagai orang tua modern. Bagi orang tua milenial, presentasi diri di media sosial juga dapat mempengaruhi reputasi mereka dalam lingkungan daring. Dengan membangun citra positif sebagai orang tua yang peduli dan terlibat, mereka dapat memperkuat koneksi sosial mereka dan memperluas jaringan dukungan mereka di dunia maya.
Mewujudkan Keadilan Digital: Analisis Kesenjangan Akses Informasi Berdasarkan Perspektif John Rawls Hidayanto, Syahrul
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.4058

Abstract

Transformasi digital telah mengubah secara signifikan cara masyarakat mengakses informasi, berpartisipasi dalam ruang publik, dan menjalankan kehidupan sosial-politik. Namun, perkembangan tersebut juga memunculkan persoalan kesenjangan digital yang tidak hanya bersifat teknologis, tetapi juga struktural dan etis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena kesenjangan digital di Indonesia melalui perspektif teori keadilan John Rawls, khususnya konsep justice as fairness, serta mengaitkannya dengan etika komunikasi di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif reflektif dengan orientasi filosofis-normatif. Data diperoleh melalui studi literatur terhadap karya-karya utama Rawls, kajian etika komunikasi, serta laporan dan publikasi terkait kesenjangan digital di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa kesenjangan digital mencerminkan bentuk ketidakadilan struktural yang melanggar prinsip kebebasan dasar yang setara dan prinsip perbedaan Rawls. Ketimpangan akses, literasi, dan partisipasi digital berimplikasi pada melemahnya keadilan komunikatif dan kualitas demokrasi. Penelitian ini menegaskan bahwa keadilan digital harus dipahami sebagai kewajiban moral negara dan aktor komunikasi, serta menempatkan etika komunikasi sebagai pilar utama dalam mewujudkan distribusi informasi yang adil, inklusif, dan bermartabat.
Pengaruh Paparan Influencer Agresif Di Media Sosial Terhadap Sikap Anti-Bullying Pada Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN): Peran Moderasi Religiusitas Hidayanto, Syahrul
Indonesian Journal of Social Development Vol. 3 No. 3 (2026): January
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jsd.v3i3.5423

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh paparan influencer agresif terhadap sikap anti-bullying, serta menguji peran religiusitas sebagai variabel moderator. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 242 responden. Analisis data dilakukan melalui uji korelasi Pearson, regresi linear sederhana, dan regresi moderasi menggunakan perangkat lunak SPSS pada tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan influencer agresif tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sikap anti-bullying, baik secara bivariate maupun multivariate. Sebaliknya, religiusitas terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap anti-bullying. Hasil uji moderasi menunjukkan bahwa religiusitas tidak memoderasi hubungan antara paparan influencer agresif dan sikap anti-bullying, melainkan berperan sebagai prediktor langsung. Temuan ini mengindikasikan bahwa sikap anti-bullying merupakan konstruk normatif yang relatif stabil dan lebih dipengaruhi oleh nilai moral internal dibandingkan oleh paparan konten agresif di media sosial. Penelitian ini berkontribusi pada kajian komunikasi digital dan etika komunikasi dengan menegaskan keterbatasan pengaruh influencer agresif terhadap sikap normatif, serta menekankan pentingnya penguatan nilai moral dan etika komunikasi dalam membangun ruang digital yang sehat.
Menavigasi Komunikasi Bajo Mola di Dua Ruang Nurhaliza, Wa Ode Sitti; Hidayanto, Syahrul; Yasya, Wichitra; Widodo, Aan; Ridwan, Harnina
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 15 No 1 (2026): January
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v15i1.10009

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) memahami perubahan pola komunikasi masyarakat Bajo Mola setelah mengenal teknologi digital; (2) mengidentifikasi dan menganalisis bentuk interkasi sosial masyatakat Bajo dalam platform digital seperti WhatsApp. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa Penggunaan WhatsApp telah mengubah pola komunikasi masyarakat Bajo Mola dari yang sebelumnya berbasis tatap muka menjadi komunikasi digital yang lebih cepat, praktis, dan luas. Melalui WhatsApp, masyarakat dapat menyampaikan informasi, mengatur kegiatan sosial, serta memperkuat hubungan dengan warga desa maupun pihak luar seperti masyarakat darat. Interaksi melalui WhatsApp menunjukkan bahwa masyarakat Bajo kini hidup dalam dua ruang sekaligus yaitu ruang fisik dan ruang digital. Informasi sering dibagikan melalui grup WhatsApp dan kemudian ditindaklanjuti secara langsung dalam bentuk pertemuan atau kegiatan nyata. Ini mencerminkan terjadinya integrasi antara ruang tradisional dan digital dalam kehidupan sosial mereka. Namun, tidak semua warga memiliki akses atau keterampilan digital yang sama, sehingga muncul kesenjangan partisipasi. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian anggota komunitas tidak terjangkau oleh arus informasi yang beredar cepat di WhatsApp. Dampaknya terhadap integrasi ruang fisik dan digital tervalidasi yakni integrasi tetap berjalan, tetapi bergantung pada mekanisme kompensasi.
Persepsi Seonhohada di Indonesia Terkait Karakter Psikopat Kim Seon-Ho pada Film The Childe Khoirunisa, Nadhira; Hidayanto, Syahrul
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 4, No 2 (2025): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v4i2.1724

Abstract

Film is a medium that has the power to transfer messages and values to a wide audience. The audience of the film is diverse and thanks to the diversity of its audience, film becomes a unique mass communication medium because it can create different perceptions among its viewers. The author chose the film The Childe as the object of research because the depiction of the psychopath character in the film The Childe is different from other films or series about psychopaths. This film depicts a psychopath as a figure who has empathy, looks neat with a suit and formal hairstyle. In addition, Kim Seon-Ho, one of the South Korean actors who is known for often playing the protagonist in films so that he is nicknamed "good boy" by his fans (Seonhohada), actually chooses to be a character who has a psychopathic character in the film The Childe. This is interesting, considering that Seonhohada's perception of psychopaths is assumed to have shifted from the original psychopath being seen as a cruel figure to a charming figure who has empathy. This study aims to determine the perception of Seonhohada in Indonesia regarding the psychopathic character of Kim Seon-Ho in the film The Childe. In this study, the author used a qualitative research method. The author uses data collection techniques including observation, interviews via the Zoom application and documentation. The results of the study showed that several informants expressed their perceptions that the psychopathic character in the film The Childe played by Kim Seon-Ho is a psychopathic figure who has a good, positive side and also looks neat. The informants who have been interviewed each have their own rules of life. One of them is an informant who has a rule of life that his safety and security play a very important role so that he thinks that psychopaths do not have empathy, unlike in the film The Childe.ABSTRAKFilm adalah medium yang memiliki kekuatan transfer pesan dan nilai kepada khalayak yang luas. Audiens film beragam dan berkat keberagaman audiensnya ini membuat film menjadi media komunikasi massa yang unik karena dapat menimbulkan persepsi yang berbeda diantara penontonnya. Penulis memilih film The Childe sebagai objek penelitian karena penggambaran tokoh psikopat dalam film The Childe berbeda dengan film atau series tentang psikopat yang lain. Film ini menggambarkan psikopat sebagai sosok yang memiliki rasa empati, berpenampilan rapi dengan jas dan gaya rambut yang formal. Selain itu, Kim Seon-Ho, salah satu aktor Korea Selatan yang dikenal sering memerankan tokoh protagonis dalam film sehingga diberi julukan “anak baik” oleh penggemarnya (Seonhohada), justru memilih menjadi tokoh yang memiliki karakter psikopat dalam film The Childe. Hal ini menarik, mengingat persepsi Seonhohada terkait psikopat diasumsikan bergeser dari yang semula psikopat dilihat sebagai sosok yang kejam menjadi sosok yang charming dan memiliki rasa empati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi Seonhohada di Indonesia terkait karakter psikopat Kim Seon-Ho pada film The Childe. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Penulis menggunakan teknik pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara melalui aplikasi Zoom dan dokumentasi.  Hasil penelitian menunjukkan, beberapa informan mengungkapkan persepsinya bahwa karakter psikopat pada film The Childe yang diperankan oleh Kim Seon-Ho sebagai sosok psikopat yang memiliki sisi baik, positif dan juga berpenampilan rapi. Informan yang telah diwawancarai, masing- masing memiliki aturan hidup tersendiri. Salah satunya terdapat informan yang memiliki aturan hidup bahwa keselamatan dan keamanan dirinya berperan sangat penting sehingga ia beranggapan bahwa psikopat tidak mempunyai rasa empati, tidak seperti pada film The Childe.