Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI STRUKTUR PATAHAN DI KABUPATEN PANGANDARAN DAN SEKITARNYA BERDASARKAN DATA ANOMALI MAGNETIK Adiltha, Fatina; Muhardi, Muhardi; Perdhana, Radhitya
JOURNAL ONLINE OF PHYSICS Vol. 9 No. 3 (2024): JOP (Journal Online of Physics) Vol 9 No 3
Publisher : Prodi Fisika FST UNJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jop.v9i3.34121

Abstract

Kabupaten Pangandaran dan sekitarnya berada di Provinsi Jawa Barat bagian selatan, dan merupakan daerah rawan gempa bumi. Hal ini disebabkan karena daerah tersebut terdapat banyak patahan (sesar) dan berada di atas formasi geologi yang relatif muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur patahan di Kabupaten Pangandaran dan sekitarnya berdasarkan data anomali magnetik. Data yang digunakan dalam penelitian diperoleh dari hasil digitasi lembar anomali magnetik yang berasal dari Pusat Survei Geologi, Bandung. Keberadaan sesar diidentifikasi menggunakan dua filter analisis derivatif, yaitu First Horizontal Derivative (FHD) dan Second Vertical Derivative (SVD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa anomali magnetik reduksi ke kutub sebesar -646,3 nT hingga 780,1 nT dan anomali magnetik residual sebesar -723,3 nT hingga 542,4 nT. Hasil interpretasi menunjukkan struktur geologi bawah permukaan pada sayatan A-A’ terdapat dua sesar normal dan struktur lipatan antiklin, pada sayatan B-B’ terdapat empat sesar normal dan satu sesar naik, pada sayatan C-C’ terdapat tiga sesar normal dan satu sesar naik, dan pada sayatan D-D’ terdapat dua sesar normal, tiga sesar naik, serta struktur lipatan berupa antiklin dan sinklin.
ANALISIS SEBARAN ANOMALI GRAVITASI UNTUK OBSERVASI STRUKTUR GEOLOGI ZONA MINERALISASI DI DAERAH CIARINEM DAN SEKITARNYA Harsita, Sri; Muhardi, Muhardi; Perdhana, Radhitya
JOURNAL ONLINE OF PHYSICS Vol. 9 No. 3 (2024): JOP (Journal Online of Physics) Vol 9 No 3
Publisher : Prodi Fisika FST UNJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jop.v9i3.34172

Abstract

Daerah Ciarinem dan sekitarnya merupakan daerah yang memiliki potensi kandungan endapan emas yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan observasi struktur geologi zona mineralisasi di daerah Ciarinem dan sekitarnya berdasarkan sebaran anomali gravitasi. Peta anomali Bougeur yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Pusat Survei Geologi, Bandung. Proses digitasi dilakukan untuk mengubah peta analog menjadi peta digital. Anomali regional diperoleh dari anomali Bouguer lengkap dengan transformasi kontinuasi ke atas, sedangkan anomali residual diperoleh dari pengurangan anomali Bougeur lengkap dengan anomali regional. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa nilai anomali regional sebesar 513,7 mGal hingga 1235,7 mGal, sedangkan anomali residual sebesar -51,3 mGal hingga 47,1 mGal. Hasil pemodelan 2D menunjukkan lapisan bawah permukaan terdapat batuan intrusi dan didominasi batuan gunungapi dan batuan sedimen. Struktur geologi pada sayatan A-A’ terdapat empat sesar normal, sayatan B-B’ terdapat dua sesar normal, dan sayatan C-C’ terdapat enam sesar normal dan membentuk graben. Keberadaan struktur geologi bawah permukaan berupa sesar dan graben dapat diasumsikan sebagai struktur yang membentuk zona mineralisasi di daerah Ciarinem dan sekitarnya, dengan tipe mineralisasi epitermal.
ANALISIS STRUKTUR GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DI KABUPATEN SLEMAN BERDASARKAN ANOMALI DATA GRAVITASI Zulkifli, Reynaldi; Muhardi, Muhardi; Perdhana, Radhitya
JGE (Jurnal Geofisika Eksplorasi) Vol. 10 No. 2 (2024)
Publisher : Engineering Faculty Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jge.v10i2.326

Abstract

Pada kejadian gempa Yogyakarta tanggal 27 Mei 2006, Kabupaten Sleman merupakan daerah yang mengalami kerusakan terparah. Hal ini diduga disebabkan karena adanya patahan aktif Opak berarah timur laut-barat daya yang berada di selatan Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur geologi bawah permukaan di Kabupaten Sleman berdasarkan data topex. Data yang diperoleh sebanyak 235 data anomali gravitasi yang terdapat pada area dengan luas 653,157 km2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai anomali Bouguer di lokasi penelitian adalah 78 mGal - 114 mGal. Berdasarkan analisis Second Vertical Derivative (SVD) terhadap empat slice pada sebaran anomali regional terdapat lima struktur patahan, yang berupa patahan normal. Selain itu, berdasarkan pemodelan 2D, diperoleh formasi batuan bawah permukaan yang tersusun atas batuan hasil dari aktivitas Gunung Merapi, yang didominasi oleh batuan vulkanik, batu lempung, batu tuff lapili, batu pasir, batu sekis, dan diorit. Investigasi lebih mendalam terhadap lima struktur patahan yang telah teridentifikasi dapat memberikan gambaran lebih detail tentang mekanisme pergerakan patahan, potensi seismisitas, dan hubungannya dengan aktivitas patahan Opak.
Interpretasi Sebaran Lindi di Sekitar TPA Salatiga Kabupaten Sambas Menggunakan Metode Self-Potential Prasetya, Irvan Nur; Putra, Yoga Satria; Muhardi, Muhardi; Muliadi, Muliadi; Perdhana, Radhitya
Jurnal Fisika Unand Vol 11 No 4 (2022)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jfu.11.4.523-530.2022

Abstract

Pembuangan sampah secara open dumping telah banyak memberikan dampak negatif bagi lingkungan seperti terkontaminasinya air tanah oleh lindi. Interpretasi sebaran lindi di sekitar TPA Salatiga Kabupaten Sambas telah dilakukan menggunakan metode self-potential. Penelitian ini menerapkan 8 buah lintasan dengan panjang masing-masing 150 m, jarak antar lintasan 10 m, dan jarak antar titik porous pot pada lintasan berjarak 10 m. Pengambilan data nilai potensial di lokasi penelitian dilakukan pada 120 titik pengukuran. Hasil pengukuran diperoleh variasi nilai potensial sebelum dilakukan koreksi sebesar -3,18 mV hingga 5,42 mV. Sedangkan variasi nilai potensial setelah dilakukan koreksi bernilai -7,98 mV hingga 6,36 mV. Sebaran lindi bawah permukaan diduga terakumulasi pada area dengan nilai potensial yang relatif lebih kecil dan bernilai negatif. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa sebaran lindi mengalir dari arah barat dan terakumulasi pada arah timur hingga timur laut lokasi penelitian.
Pemetaan Area Rawan Longsor Berbasis Sistem Informasi Geografis di Perkebunan Kelapa Sawit PT Hilton Duta Lestari Devi, Marsiana; Perdhana, Radhitya; Muhardi, Muhardi
PRISMA FISIKA Vol. 13 No. 3 (2025)
Publisher : FMIPA, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v13i3.77773

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah memetakan area rawan longsor di perkebunan kelapa sawit IUP PT Hilton Duta Lestari. Pemetaan dilakukan menggunakan sistem informasi geografis dengan metode skoring dan tumpang tindih (overlay) terhadap parameter yang mempengaruhi longsor. Parameter tersebut terdiri dari lima jenis, yaitu curah hujan, kemiringan lereng, tutupan lahan, geologi, dan jenis tanah. Area rawan longsor diidentifikasi berdasarkan skor total yang diperoleh dari penjumlahan seluruh parameter dengan bobotnya masing-masing. Area rawan longsor diklasifikasikan menjadi empat kelas, yaitu rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Hasil pemetaan menunjukan area rawan longsor dengan kategori kerawanan rendah mempunyai luas 1.562,46 Ha (11,53%), kategori kerawanan sedang dengan luas 3.871,41 Ha (28,57%), kategori kerawanan tinggi dengan luas 8.071,57 Ha (59,57%), dan kategori kerawanan sangat tinggi dengan luas 44,36 Ha (0,33%). Berdasarkan hasil pengolahan data menunjukan bahwa wilayah utara penelitian (estate dua) memiliki tingkat kerawanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah selatan penelitian (estate satu).
Identifikasi Struktur Bawah Permukaan Daerah Potensi Panas Bumi Bajawa dan Sekitarnya Menggunakan Metode Gravitasi Novianti, Teti Amalia; Perdhana, Radhitya; Zulfian, Zulfian
Jurnal Teras Fisika: Teori, Modeling, dan Aplikasi Fisika Vol 8 No 2 (2025): Jurnal Teras Fisika: Teori, Modeling, dan Aplikasi Fisika
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jtf.2025.8.2.17745

Abstract

This study aims to identify the subsurface structure of geothermal systems in the Bajawa area, East Nusa Tenggara, using gravity methods based on GGMplus 2013 satellite data. The analysis was conducted on complete Bouguer anomaly data that had been corrected and separated into regional and residual components using Butterworth filters. 3D modeling and 2D cross-section incisions were performed on regional anomalies, having density variations between 1.9 - 3.5 g/cm³, a range of regional anomaly values of 92-138 mGal and depths up to 4.43 km. Based on the results of the analysis of the distribution of rock density values, suspected rock formations as geothermal systems such as the presence of reservoirs from the Nangapanda formation (Np) with densities ranging from 1.9 - 2.66 g/cm³, host rocks from the Aimere Scoria formation (As), Andesite Sasa (Ss), Andesite Inie Lika (Ik), Andesite Mataloko (Mk), Andesite Bobo (Bb) and Andesite Siutoro (Si), Inerie Basalt (Ie), Wabela Basalt (Wa), Lahar Deposit (Lh) and Tuf Welas (Wt) with densities ranging from 2.49 - 2.8 g/cm³ and heat sources from Maumbawa Basalt (Mb) with densities ranging from 2.7 -3.5 g/cm³ and Andesite Wangka (Wn) with densities ranging from 1.9 -2.9 g/cm³. This finding strengthens the indication that the Bajawa area and its surroundings could be a potential prospect area for geothermal systems.
Identifikasi Air Tanah Di Daerah Sekitar Jalan Tunas Harapan Desa Pal IX Menggunakan Metode Vertical Electrical Sounding (VES) Danti, Namira; Zulfian, Zulfian; Perdhana, Radhitya
JFT : Jurnal Fisika dan Terapannya Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jft.v12i2.58560

Abstract

A hydrogeological investigation using the Vertical Electrical Sounding (VES) method was conducted in the vicinity of Jalan Tunas Harapan, Pal IX Village, to determine groundwater potential. The data acquisition involved four VES points with an inter-point spacing of 60 m-80 m. Inversion results yielded resistivity values ranging from 2.11 Ωm-203 Ωm, revealing subsurface lithology composed of clay, wet clay, sandy silt, and clayey sand layers. Groundwater potential was identified within the clayey sand layer (191 Ωm-203 Ωm), which is distributed across all four VES points. This layer is found at depths of 35.2 m-71.3 m in VES 01, 35.4 m-69.1 m in VES 02, 34.7 m-64.7 m in VES 03, and 33.3 m-67.1 m in VES 04.  These findings imply that the clayey sand layer functions as a viable aquifer zone capable of supporting groundwater availability. Based on the interpretation, groundwater drilling in the study area is recommended within the depth interval of 33.3 m-71.3 m.
Identifikasi Ketebalan Lapisan Lapuk pada Area Rawan Longsor Menggunakan Metode Seismik Refraksi (Studi Kasus: Desa Kalirejo Kabupaten Kulonprogo) Muhardi Muhardi; Radhitya Perdhana; Muhammad Reza July Utama; Mitranikasih Laia; Tisar Dewi Pratiwi; Randha Ayu Nurwulandari
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol. 8 No. 2 (2020): Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika
Publisher : Department of Physics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtaf.v8i2.251

Abstract

Abstract. Kalirejo Village, Pengasih District, Kulonprogo Regency, is an area that is prone to landslides. The purpose of this study is to identify the weathering layer thickness, which is one of the triggering factors for landslides. This study was conducted using the seismic refraction method by applying two lines. Line 1 uses 24 geophones, has a distance of 1 meter between geophones, while Line 2 uses 24 geophones, has a distance of 2 meters between geophones. The results showed that the velocity of seismic wave propagation in the weathering layer for Line 1 was 400 m/s, and in the slip surface was 2,300 m/s. The weathering layer thickness on Line 1 is 7.6 - 9.8 meters and the slope is steep so that this location is predicted to have a potential landslide. While the velocity of seismic wave propagation in the weathering layer for Line 2 was 300 m/s, and in the slip surface was 2,200 m/s. The weathering layer thickness on Line 2 is at less than 2 meters, so this location is predicted not to have a landslide potential even though the slope is steep
Pengujian Kualitas Air Kemasan Minieral dengan Pengukuran Indeks Biasa Air Menggunakan Metode Difraksi Fraunhofer Tisar Dewi Pratiwi; Radhitya Perdhana; Mitranikasih Laia; Rohmawati Metaningrum
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol. 12 No. 02 (2024): Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika
Publisher : Department of Physics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtaf.v12i02.406

Abstract

On a laboratory scale, water quality measurements generally use the degree of acidity (pH) and wather index. This study aims to implement simple physics equations with the tools we make by applying the principle of light diffraction. One of the parameters to determine the level of water quality can be through the measurement of the water index. We use the single-slit Fraunhofer diffraction method to measure the water index in mineral bottled water, including Tripanca, Grand and Aqua. Then the results are compared with the results of measuring the water index in turbid water. The results we obtained showed that Tripanca bottled water was 1.34 ± 0.16, Grand was 1.36 ± 0.39 and Aqua was 1.32 ± 0.51. Turbid water measurements get a water index value of 1.62 ± 0.003. When compared with the laboratory water index value of 1.33, the average bottled water has a water index that is lower than the laboratory water index, and turbid water has a water index that is greater than the laboratory water index. This is because the greater the value of the refractive index of water, it will inhibit light from entering the water medium, thereby reducing the quality of the water.   Keywords: Light diffraction, Refractive index of water, Water Mineral Content, Linear regression.
Using Gravity Anomaly for Subsurface Modeling and Earthquake Hypocenter for Active Fault Characterization in West Sulawesi Siti Purnawasih; Muhardi Muhardi; Radhitya Perdhana
BULETIN FISIKA Vol. 27 No. 2 (2026): BULETIN FISIKA
Publisher : Departement of Physics Faculty of Mathematics and Natural Sciences, and Institute of Research and Community Services Udayana University, Kampus Bukit Jimbaran Badung Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/BF.2026.v27.i02.p08

Abstract

An active fault triggered the earthquake in West Sulawesi on 15 January 2021, because this region has high tectonic activity. This study aims to model the subsurface and characterize active faults using gravity anomaly and earthquake hypocenter data, respectively. Gravity anomaly data at 2,640 measurement points were obtained from the TOPEX satellite, while earthquake hypocenter data for the 2011-2021 period were obtained from the USGS, IRIS, and Geofone websites. A complete Bouguer anomaly (CBA) distribution was obtained from free air anomaly (FAA) and topographic data using terrain and Bouguer corrections. The 2D modeling of subsurface geological structures was performed based on the regional anomaly distribution obtained by subtracting the complete Bouguer anomaly from the residual anomaly. Determining the earthquake focal mechanism uses the tensor moment method, which is represented visually as a beachball. The results show a regional anomaly distribution of 30-86 mGal. The 2D modeling shows that the subsurface consists of nine rock formations: Mandar Formation, Mapi Formation, Intrusive Rocks, Talaya Volcanic Rocks, Latimojong Formation, Intermontane Deposits, Mamuju Formation, Tapalang Member, and Adang Volcanic Rocks. Based on the earthquake focus mechanism, represented visually as a beach ball, six active faults were identified: two thrust faults, three strike-slip faults, and a normal fault.