Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Perbandingan Aktivitas Anti Bakteri Ekstrak Etanol Kulit Buah Dan Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix DC) Terhadap Bakteri Gram Negatif Escherichia coli Azkia, Hanin; Kulla, Periskila Dina Kali; Zulwanis, Zulwanis; Kesumawati, Kesumawati; Astryna, Syarifah Yanti
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 9, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v9i2.3362

Abstract

Jeruk purut (Citrus hystrix DC) merupakan tanaman herbal yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Kulit buah dan daun Jeruk purut mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tannin, serta saponin yang terkenal sebagai senyawa yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan aktivitas ekstrak etanol kulit buah dan daun jeruk purut dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium, dengan besar konsentrasi untuk masing-masing ekstrak yaitu 15%, 20%, 25% dan 25%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit buah jeruk purut menghasilkan rata-rata diameter zona hambat dari konsentrasi rendah ke tinggi sebesar 15.6 mm, 18.3 mm, 18.6 mm dan 19.3 mm. Sementara itu, ekstrak etanol daun menunjukkan rata-rata diameter zona hambat yang terbentuk sebesar 13.6 mm, 14 mm, 15.3 mm dan 16.3 mm. Diameter zona hambat yang terbentuk dari kedua ekstrak masuk dalam kategori kuat. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol kulit buah dan daun jeruk purut mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan maka semakin besar diameter zona hambat yang terbentuk. Konsentrasi ekstrak etanol kulit buah dan daun jeruk purut sebesar 30% merupakan dosis terbaik dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Ekstrak etanol kulit buah jeruk purut memiliki sifat anti bakteri lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak etanol daun (berdasarkan luas diameter zona hambat yang terbentuk)Kata kunci : Jeruk purut (Citrus hystrix DC), Aktivitas anti bakteri, Escherichia coliKaffir lime (Citrus hystrix DC) is an herbal plant that is widely used by people in daily needs. Kaffir lime peel and leaves contain alkaloids, flavonoids, tannins, and saponins which are known that compounds potentially to inhibit bacterial growth. This study aims to compare the activity of the ethanol extract of kaffir lime peels and leaves in inhibiting the growth of Escherichia coli. The research method used was laboratory experimental, with various doses of concentration is 15%, 20%, 25% and 25%. The results showed that the ethanol extract of kaffir lime peel with average diameter of the inhibition zone from low to high concentrations is 15.6 mm, 18.3 mm, 18.6 mm and 19.3 mm. Meanwhile, the ethanol extract of the leaves showed an average diameter of the inhibition zone formed of 13.6 mm, 14 mm, 15.3 mm and 16.3 mm. The diameter of the inhibition zone from the two extracts included in the strong category of antibacterial activity. Based on the results of the study it can be concluded that the ethanol extract of kaffir lime peels and leaves is able to inhibit bacterial growth. The higher the concentration of the extract used, the larger the diameter of the inhibition zone formed. Concentration of 30% ethanol extract of kaffir lime peel and leaves are the optimum dose for inhibiting bacterial growth. The ethanol extract of kaffir lime peel has stronger anti-bacterial activities than the ethanol extract of the leaves (based on the diameter of the inhibition zone)Keyword : Kaffir lime (Citrus hystrix DC), Anti bacterial activity, Escherichia coli
AKTIVITAS ANTIINFLAMASI NANOGEL EKSTRAKS ETANOL DAUN SUKUN PADA TIKUS PUTIH JANTAN YANG MENGALAMI LUKA BAKAR DERAJAT II Fitria, Fitria; Astryna, Syarifah Yanti; Samaniyah, Siti
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 11, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v11i1.5195

Abstract

AbstrakDaun sukun (Artocarpus altilis) mengandung metabolit sekunder yang berperan dalam mempercepat penutupan luka bakar. Nanogel merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi yang meningkatkan absorpsi senyawa aktif melalui kulit. Penelitian ini bertujuan meguji aktivitas antiinflamasi sediaan nanogel dari ekstrak etanol daun sukun pada tikus putih jantan yang mengalami luka bakar derajat II. Pembuatan ekstrak etanol daun sukun diperoleh dengan cara maserasi menggunakan etanol 96% dan diuji karakteristik fisik sediaan, stabilitas, aktivitas antibakteri, iritasi dan penyembuhan luka bakar pada kulit tikus. Formulasi nanogel dibuat dalam 3 konsentrasi yaitu F1 (1,5625%), F2 (3,125%) dan F3 (6,25%). Secara histopatologi aktivitas antiinflamasi kelompok tikus yang diberi basis menunjukkan inflamasi yang berat dengan skor 3, F1 menunjukkan tingkat inflamasi yang sedang dengan skor 2, F2 menunjukkan inflamasi yang ringan dengan skor 1, dan F3 menunjukkan inflamasi yang sedang dengan skor 2. F2 menunjukkan persen penurunan diameter luka yang lebih cepat yaitu 92,84% dalam waktu 21 hari dibandingkan kelompok F1 dan F3 dengan persentase penyembuhan 81,14% dan konsentrasi 88,91% dalam waktu 21 hari. 
FORMULASI DAN UJI SIFAT FISIK LULUR BODY SCRUB AMPAS KOPI (Coffea arabica Linn.) UNTUK MENCERAHKAN KULIT TUBUH Astryna, Syarifah Yanti; Syamsulian, Dra; Jannah, Mislatul
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 9, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v9i1.4199

Abstract

Kulit adalah organ tubuh yang merupakan permukaan luar organisme dan membatasi lingkungan dalam tubuh dengan lingkungan luar. Kulit berfungsi untuk melindungi jaringan terhadap kerusakan kimia dan fisika, terutama kerusakan mekanik dan terhadap masuknya mikroorganisme. Menjaga kesehatan kulit tidak hanya dilakukan dengan makanan kaya akan nutrisi, tetapi dapat dilakukan dengan memberi nutrisi dari luar. Lulur adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk merawat dan menbersihkan kulit dan kotoran yang menyebabkan sel kulit mati dan dibantu dengan adanya antioksidan. Salah satu bahan alam yang dikenal dan terbukti khasiatnya sebagai antioksidan yaitu Kopi (Coffea arabica Linn.) dengan tekstur yang kasar mengandung butiran scrub yang sangat baik untuk penuaan dini mengangkat sel-sel kulit mati dan melembabkan kulit, didalam kopi terkandung senyawa antioksidan. Antioksidan yang tinggi ini membantu melindungi kulit dari radikal bebas dan mempercerah kulit. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental Laboratorium. Hasil yang diperoleh adalah sediaan Formula 3 memiliki tingkat kecerahan kulit yang lebih baik dari sediaan pembanding yaitu Herborst lulur tradisional Bali, hal ini disebabkan oleh pengaruh konsentrasi ampas kopi sebanyak 15% yang mengandung senyawa flavonoid dan antioksidan. Formulasi sediaan lulur dapat meningkatkan kecerahan kullit yang terlihat dari hasil uji ANOVA dimana terdapat perbedaan nyata antar perlakuan. Formulasi terbaik yaitu pada formulasi 15%, karena semakin tinggi komposisi ampas kopi maka semakin cepat terjadinya kulit menjadi cerah Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ampas kopi (Coffea arabica linn) dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan lulur, ampas kopi (Coffea arabica linn) memiliki efek sebagai pencerah kulit, semakin tinggi konsentrasi ampas kopi (Coffea arabica linn) maka akan semakin efektif sebagai pencerah dan memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi.Kata Kunci : ampas kopi, pencerah kulit.The skin is an organ that is the outer surface of the organism and limits the body's internal environment to the external environment. The skin functions to protect tissues against chemical and physical damage, especially mechanical damage and against the entry of microorganisms. Maintaining healthy skin is not only done with foods rich in nutrients, but can be done by providing nutrients from the outside. Scrub is a cosmetic preparation that is used to treat and clean the skin and dirt that causes dead skin cells and is assisted by the presence of antioxidants. One of the natural ingredients known and proven to be effective as an antioxidant is Coffee (Coffea arabica Linn.) with a rough texture containing scrub granules which are very good for premature aging, removing dead skin cells and moisturizing the skin. Coffee contains antioxidant compounds. This high antioxidant helps protect the skin from free radicals and brightens the skin. The method used in this research is experimental laboratory. The results obtained are that Formula 3 has a better skin brightness level than the comparison preparation, namely the traditional Balinese Herborst scrub, this is due to the effect of 15% coffee grounds concentration which contains flavonoid and antioxidant compounds. The formulation of scrub preparations can increase the brightness of the skin as seen from the results of the ANOVA test where there are significant differences between treatments. The best formulation is the 15% formulation, because the higher the composition of coffee grounds, the faster the occurrence of skin brightening. skin lightening, the higher the concentration of coffee grounds (Coffea arabica linn) the more effective it is as a lightener and has high antioxidant activity.Keywords: coffee grounds, skin lightening
UJI AKTIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK ETIL ASETAT DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) Astryna, Syarifah Yanti; Alvionida, Fitra; Elizar, Elizar; Meilina, Rulia; Husna, Asmaul
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 11, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v11i1.5252

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan negara yang beriklim tropis, sehingga pancaran sinar ultraviolet dapat menyebabkan radiasi dan membahayakan manusia apabila mengenai kulit manusia dalam waktu yang lama, sehingga perlu dirawat dengan menggunakan senyawa yang memiliki aktivitas tabir surya. Keefektifan tabir surya dinyatakan dalam label kekuatan SPF (Sun Protecting Factor). Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai tabir surya adalah daun pepaya (Carica papaya L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etil  asetat daun pepaya (Carica papaya L.) sebagai tabir surya. Metode pada penelitian ini dilakukan secara Experimental Laboratory dilakukan dengan metode pengukuran nilai SPF pada variasi konsentrasi 100, 200, 300, 400, dan 500 ppm dengan alat spektofotometer UV-vis. Hasil pengukuran pada konsentrasi paling tinggi yaitu 500 ppm diperoleh nilai SPF paling tinggi juga yaitu sebesar 24,37 dengan  kategori proteksi ultra. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh konsentrasi ekstrak etil asetat daun pepaya mengandung senyawa flavonoid, tannin dan alkaloid. Kesimpulan dari penelitian ini diperoleh ekstrak etil asetat daun pepaya (Carica papaya L.) dapat dijadikan  sebagai tabir surya. 
Formulasi Ekstrak Kulit Buah Jambu Biji (Psidium Guajava L.) Sebagai Lotion untuk Mencerahkan Kulit Ananda, Zulia; Astryna, Syarifah Yanti; Nurhayati, Nurhayati
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 9, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v9i2.4185

Abstract

Kulit segar, bersih dan sehat bisa menjadi milik semua orang jika perawatan dilakukan dengan tepat dan teratur, salah cara satu perawatan kulit yaitu dengan menggunakan sediaan lotion. Kulit buah jambu biji mengandung senyawa flavonoid yang memiliki kemampuan dalam menghambat tirosinase yaitu polifenol yang dapat mencerahkan kulit. Tujuan penelitian ini adalah untuk memformulasikan ekstrak kulit jambu biji sebagai lotion dan untuk mengetahui efektivitas pencerah kulit dari ekstrak kulit jambu biji. Penelitian dilakukan dengan cara maserasi dengan menggunakan pelarut etanol, ekstrak yang diperoleh dibuat formulasi sediaan lotion. Sediaan lotion tersebut dibuat variasi konsentrasi yaitu F1, F2 dan F3, selanjutnya dilakukan beberapa uji, diantaranya ujifitokimia, uji iritasi, uji kesukaan dan uji kecerahan. Hasil yang diperoleh yaitu sediaan lotion F3 memiliki tingkat kecerahan kulit yang lebih tinggi daripada sediaan pembanding, hal ini disebabkan oleh pengaruh konsentrasi ekstrak kulit buah jambu biji yang mengandung senyawa flavonoid lebih tinggi.. Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak kulit buah jambu biji dapat diformulasikan dalam bentuk lotion sebagai sediaan pencerah kulit. Formulasi sediaan lotion Ekstrak kulit buah jambu biji memiliki efek untuk mencerahkan.Kata Kunci: Lotion, Kulit buah Jambu biji, Flavonoid, Senyawa pencerah kulitFresh, clean and healthy skin can belong to everyone if care is done properly and regularly, one way to treat skin is by using lotion preparations. Guava skin contains flavonoid compounds which have the ability to inhibit tyrosinase, namely polyphenols which can brighten the skin. The purpose of this study was to formulate guava peel extract as a lotion and to determine the effectiveness of skin lightening from guava peel extract. The research was carried out by maceration using ethanol solvent, the extract obtained was made into a lotion formulation. The lotion preparations were made in various concentrations, namely F1, F2 and F3, then several tests were carried out, including phytochemical tests, irritation tests, preference tests and brightness tests. The results obtained were that the F3 lotion had a higher skin brightness level than the comparison preparation, this was due to the effect of the higher concentration of guava peel extract which contained flavonoid compounds. The conclusion of this study was that guava peel extract can be formulated in the form lotion as a skin lightening preparation. Lotion preparation formulation Guava peel extract has a brightening effect.Keywords: Lotion, Guava Peel, Flavonoid, Skin Lightening Compound
Formulasi Ekstrak Kulit Buah Jambu Biji (Psidium Guajava L.) Sebagai Lotion untuk Mencerahkan Kulit Astryna, Syarifah Yanti; Fazira, Cut Intan; Meilina, Rulia; Safitri, Faradilla; Nurhayati, Nurhayati
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 9, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v9i2.4200

Abstract

Kulit segar, bersih dan sehat bisa menjadi milik semua orang jika perawatan dilakukan dengan tepat dan teratur, salah cara satu perawatan kulit yaitu dengan menggunakan sediaan lotion. Kulit buah jambu biji mengandung senyawa flavonoid yang memiliki kemampuan dalam menghambat tirosinase yaitu polifenol yang dapat mencerahkan kulit. Tujuan penelitian ini adalah untuk memformulasikan ekstrak kulit jambu biji sebagai lotion dan untuk mengetahui efektivitas pencerah kulit dari ekstrak kulit jambu biji. Penelitian dilakukan dengan cara maserasi dengan menggunakan pelarut etanol, ekstrak yang diperoleh dibuat formulasi sediaan lotion. Sediaan lotion tersebut dibuat variasi konsentrasi yaitu F1, F2 dan F3, selanjutnya dilakukan beberapa uji, diantaranya ujifitokimia, uji iritasi, uji kesukaan dan uji kecerahan. Hasil yang diperoleh yaitu sediaan lotion F3 memiliki tingkat kecerahan kulit yang lebih tinggi daripada sediaan pembanding, hal ini disebabkan oleh pengaruh konsentrasi ekstrak kulit buah jambu biji yang mengandung senyawa flavonoid lebih tinggi.. Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak kulit buah jambu biji dapat diformulasikan dalam bentuk lotion sebagai sediaan pencerah kulit. Formulasi sediaan lotion Ekstrak kulit buah jambu biji memiliki efek untuk mencerahkan.Kata Kunci: Lotion, Kulit buah Jambu biji, Flavonoid, Senyawa pencerah kulitFresh, clean and healthy skin can belong to everyone if care is done properly and regularly, one way to treat skin is by using lotion preparations. Guava skin contains flavonoid compounds which have the ability to inhibit tyrosinase, namely polyphenols which can brighten the skin. The purpose of this study was to formulate guava peel extract as a lotion and to determine the effectiveness of skin lightening from guava peel extract. The research was carried out by maceration using ethanol solvent, the extract obtained was made into a lotion formulation. The lotion preparations were made in various concentrations, namely F1, F2 and F3, then several tests were carried out, including phytochemical tests, irritation tests, preference tests and brightness tests. The results obtained were that the F3 lotion had a higher skin brightness level than the comparison preparation, this was due to the effect of the higher concentration of guava peel extract which contained flavonoid compounds. The conclusion of this study was that guava peel extract can be formulated in the form lotion as a skin lightening preparation. Lotion preparation formulation Guava peel extract has a brightening effect.Keywords: Lotion, Guava Peel, Flavonoid, Skin Lightening Compound
FORMULASI SEDIAAN GEL EKSTRAK RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) SEBAGAI PEWARNA RAMBUT ALAMI Astryna, Syarifah Yanti; Kesumawati, Kesumawati; Rahmi, Cut
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 10, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v10i1.4201

Abstract

Latar Belakang : Era zaman modern banyak produk yang digunakan untuk pewarna rambut. Sediaan pewarna rambut digunakan dalam tata rias untuk mewarnai rambut agar terlihat menarik. Tumbuhan yang memiliki zat warna salah satunya rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) zat warna yang terkandung adalah kurkumoid. Tujuan Penelitian : untuk mengetahui zat warna pada temulawak dapat diformulasikan sebagai gel pewarna rambut dan zat warna pada temulawak dapat menghasilkan warna terbaik pada konsentrasi tertentu. Metode Penelitian : adalah maserasi, pembuatan formulasi dengan penambahan ekstrak temulawak sebagai zat pewarna dengan 4 variasi konsentrasi 0%, 5%, 15% dan 25%, pirogalol sebagai pembangkit warna, xanthan gum sebagai pengental dan aquades sebagai pelarut. Evaluasi sediaan pewarna rambut meliputi pengujian : organoleptik, pH, iritasi, stabilitas warna yang dihasilkan, stabilitas terhadap pencucian, stabilitas terhadap matahari dan kesukaan. Hasil Penelitian : Hasil penelitian evaluasi sediaan untuk uji organoleptik menunjukan bahwa semakin besar konsentrasi yang ditambahkan maka semakin pekat warna yang dihasilkan. pH terbaik yaitu menunjukan pada F3. Uji iritasi sediaan pewarna rambut menyatakan bahwa tidak ada reaksi pada semua formula yang telah diuji. uji stabilitas warna yang dihasilkan semakin besar konsentrasi ekstrak, maka semakin gelap warna yang dihasilkan. uji stabilitas warna terhadap pencucian menunjukan formula terbaik pada F4. Uji stabilitas terhadap matahari warna rambut tidak mengalami perubahan. Uji kesukaan yang terbaik adalah F4. Zat warna pada rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dapat diformulasikan sebagai gel pewarna rambut. Kesimpulan : Formulasi yang menghasilkan warna terbaik yaitu pada konsentrasi ekstrak rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) 25% menghasilkan warna kuning perang kecoklatan.Kata Kunci : Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), Rambut, Gel Pewarna Rambut.Background : In modern era, there are many products used as hair dye. Hair dye preparation is used in hair make up to color it so that it looks appealing. One of the plants with pigments is temulawak rhizome (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), the pigment contained is called curcumoid. The objectives : The objectives of this study is to determine if the pigment in temulawak can be formulated into hair dye and if the pigment can produce the best color at a spesific concentration. Research method : The research method is maceration, the formulation making was done by adding temulawak extract as a dye with 4 variant concentration at 0%, 5%, 15% and 25%. Pirogalol as color stimulator, xanthan gum as thickener and aquades as solvent. The ovaluation of hair dye preparations are included testing: organoleptic, pH, irritation, stability of the resulting color, stability to washing, stability to the sun and preference. Results : The study results to the evaluation of organolepctic test shows that the higher the concentration added, the stronger the color produced, the best pH was found in F3. Irritation test on hair dye showed no reaction to all the formulations tested, the color stability produced stated that the higher the extract concentration, the darker the color produced at the end. The best formulation is F4 due to the color stability test to washing. Stability test to the sun shows no changes. The most preferred formulation is F4. The pigment found in temulawak rhizome (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) can be formulated into hair dye gel. Conclusion : The formulation that produces the best color is at 25% concentration of temulawak rhizome extract (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) that gives brownish yellow color.Keywords : Temulawak Rhizome (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), Hair, Hai dye gel.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI SALEP EKSTRAK DAUN PUDING HITAM (Graptophyllum pictum L.) TERHADAP LUKA YANG TERINFEKSI BAKTERI Staphylococcus aureus PADA MENCIT (Mus musculus L.) Astryna, Syarifah Yanti; Monaliza, Dida; Kiti, Annisa Ammalia
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 8, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v8i1.4197

Abstract

Tanaman puding hitam (Graptophyllum pictum L.) merupakan tanaman liar yang sering ditemukan di daerah pedesaan atau sengaja ditanam sebagai tanaman obat yang mempunyai kandungan kimia seperti alkaloid, saponin, tanin, flavonoid dan steroid yang diketahui dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh salep Ekstrak Etanol Daun Puding Hitam (EEDPH) dan konsentrasi efektif terhadap penyembuhan luka infeksi bakteri Staphylococcus aureus. Metode yang digunakan ialah eksperimen laboratorim, pembuatan formulasi salep menggunakan ekstrak etanol daun puding hitam dengan konsentrasi 10%, 15% dan 20%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salep ekstrak etanol daun puding hitam dengan konsentrasi 10%, 15% dan 20% memenuhi syarat pengujian salep yang meliputi uji organoleptik, homogenitas, uji pH, daya sebar dan daya lekat. Hasil uji terhadap luka infeksi bakteri Staphylococcus aureus pada mencit (Mus musculus L.) menunjukkan bahwa salep (EEDPH) memiliki efek penyembuhan pada konsentrasi 20%. Hal ini dapat dilihat dari mengeringnya luka dan mengecilnya panjang luka pada mencit pada hari ke 6 sampai hari ke 14. Graptophyllum pictum L. is a wild plant that is often found in rural areas or deliberately planted as medicinal plants that have chemical contents such as alkaloids, saponins, tannins, flavonoids and steroids which are known to accelerate the wound healing process. The purpose of this study was to determine the effect of ointment Graptophyllum pictum Leaf Ethanol Extract (EEDPH) and effective concentration on wound healing of Staphylococcus aureus infection. The method used is laboratory experiments, making ointment formulations using ethanol extracts of Graptophyllum pictum leaves with concentrations of 10%, 15% and 20%. The results showed that the ointment of Graptophyllum pictum leaves ethanol extract with a concentration of 10%, 15% and 20% met the conditions of the ointment test which included organoleptic test, homogeneity, pH test, spreadability and adhesion. Test results on Staphylococcus aureus bacterial wound infections in mice (Mus musculus L.) showed that the ointment (EEDPH) had a healing effect at a concentration of 20%. This can be seen from the drying of the wound and the reduced length of the wound in mice on the 6th day to the 14th day.
UJI AKTIVITAS SALEP EKSTRAK ETANOL DAUN BALAKACIDA (Chomolaena odorata) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA BAKAR PADA MENCIT PUTIH (Mus musculus) Nurhayati, Nurhayati; Nadia, Putri; Meilina, Rulia; Astryna, Syarifah Yanti; Rahmi, Nuzulul
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 10, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v10i1.4211

Abstract

Tanaman Balakacida merupakan salah satu jenis tanaman dari famili Asteraceae compositae yang sering dimanfaatkan masyarakat sebagai obat tradisional, dan memiliki senyawa aktif berupa alkaloid, tanin, flavonoid, saponin, dan fenolik yang mampu menghambat proses oksidasi. Sedangkan senyawa tanin dapat digunakan sebagai pencegahan infeksi luka karena mempunyai daya antiseptik dan obat luka bakar. Tujuan penelitian untuk mengetahui adanya aktivitas pemberian salep ekstrak etanol daun balakacida terhadap proses penyembuhan luka bakar pada mencit putih serta berapa dosis optimalnya. Penelitian ini bersifat eksperimental, ektrak diperoleh dengan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%, sebanyak 25 ekor mencit jantan dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan, yaitu : kontrol negatif (DMSO), kontrol positif (Bioplacenton), salep ekstrak daun balakacida 100 mg, salep ekstrak daun balakacida 200 mg dan salep ekstrak daun balakacida 300 mg. Parameter yang diamati meliputi lama penyembuhan luka bakar dan panjang luka (cm). Analisis data menggunakan uji Anova one-way yang menyatakan bahwa nilai signifikasi p < 0,05 hal ini menunjukan bahwa salep esktrak daun balakacida berpengaruh dalam penyembuhan luka bakar pada mencit putih. Dari hasil penelitian ekstrak balakacida dapat memberikan efek penyembuhan luka bakar pada mencit (Mus musculus), dimana salep konsentrasi F3 (300 mg) lebih cepat dalam penutupan luka bakar dibandingkan dengan salep ekstrak daun balakacida dengan konsentrasi F1 (100 mg) dan F2 (200 mg). Dapat disimpulkan pemberian salep ekstrak etanol daun balakacida (Chomolaena odorata) dapat menyembuhkan mencit yang mengalami luka bakar. Konsentrasi 300 mg (F3) merupakan konsentrasi yang paling baik dalam mempercepat penyembuhan luka bakar. Disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait isolasi dari senyawa metabolit sekunder utama yang ada di dalam ekstrak daun balakacida dengan menggunakan pelarut non polar agar kerja dari senyawa metabolit sekunder yang diperlukan menjadi lebih maksimal.Kata kunci        : Daun balakacida (Chomolaena odorata), luka bakar, salep, mencitThe Balakacida plant is a type of plant from the Asteraceae Compositae family which is often used by people as traditional medicine, and has active compounds in the form of alkaloids, tannins, flavonoids, saponins and phenolics which are able to inhibit the oxidation process. Meanwhile, tannin compounds can be used to prevent wound infections because they have antiseptic and burn wound healing properties. The aim of the research was to determine the activity of administering balakacida leaf ethanol extract ointment and its optimal dose on the healing process of burn wounds in white mice. This research was experimental, the extract was obtained using the maceration method with 96% ethanol solvent, 25 male mice were divided into5 treatment groups, namely: negative control (DMSO), positive control (Bioplacenton), balakacida leaf extract ointment 100 mg, ointment balakacida leaf extract 200 mg and balakacida leaf extract ointment 300 mg. The parameters observed included the healing time of the burn wound and the length of the wound (cm). Data analysis used the one-way Anova test which stated that the significance value was p < 0.05, this shows that balakacida leaf extract ointment had an effect on healing burns in white mice. From the research results, balakacida extract can provide a healing effect on burn wounds in mice (Mus musculus), where the F3 concentration ointment (300 mg) is faster in closing burn wounds compared to the balakacida leaf extract ointment with F1 (100 mg) and F2 (200 mg) concentrations.). It can be concluded that administering ethanol extract ointment from balakacida leaves (Chomolaena odorata) can cure mice with burns. A concentration of 300 mg (F3) is the best concentration in accelerating the healing of burn wounds. It is recommended to carry out further research regarding the isolation of the main secondary metabolite compounds in balakacida leaf extract using non-polar solvents so that the work of the required secondary metabolite compounds can be maximized.Keywords : Balakacida leaves (Chomolaena odorata), burns, ointment, mice
Formulasi Sediaan Lulur Whitening Dari Ekstrak Ampas Wortel (Daucus carota L.) Kesumawati, Kesumawati; Fadlia, Fitri; Astryna, Syarifah Yanti; Fitriliana, Fitriliana
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 10, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v10i1.4092

Abstract

 Kulit merupakan bagian tubuh yang penting dan perlu diperhatikan. Kulit yang indah identik dengan kulit yang tidak kusam dan warna kulit yang cerah. Menjaga kesehatan kulit tidak hanya dilakukan dengan makanan kaya akan nutrisi, tetapi dapat dilakukan dengan memberi nutrisi dari luar. Lulur merupakan salah satu sediaan yang dapat membuka pori-pori, mengangkat sel kulit mati, kotoran, sehingga kulit menjadi lebih bersih dan cerah. Kandungan flavonoid dari ekstrak ampas wortel mempunyai kemampuan untuk mencerahkan kulit. Penelitian ini bertujuan mengetahui formulasi sediaan lulur ekstrak ampas wortel (Daucus carota L.) sebagai whitening, mengetahui efektifitas sediaan lulur dari ekstrak ampas wortel (Daucus carota L.) sebagai whitening dan mengetahui konsentrasi yang efektif dihasilkan oleh lulur dari ekstrak ampas wortel (Daucus carota L.) sebagai whitening. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental Laboratorium. Hasil yang diperoleh adalah sediaan F3 memiliki tingkat kecerahan kulit yang sama dengan sediaan pembanding yaitu lulur whitening Sumber Ayu, hal ini disebabkan oleh pengaruh konsentrasi ekstrak ampas wortel sebanyak 5% yang mengandung senyawa flavonoid. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ekstrak ampas wortel (Daucus carota L.) dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan lulur, ekstrak ampas wortel (Daucus carota L.) memiliki efek sebagai whitening, dan semakin tinggi konsentrasi Ekstrak ampas wortel (Daucus carota L.) maka akan semakin efektif sebagai whitening.Kata kunci : Ampas Wortel, Lulur, WhiteningThe skin is an important part of the body and needs attention. Beautiful skin is synonymous with skin that is not dull and skin is bright. Maintaining healthy skin is not only done with foods rich in nutrients, but can be done by providing nutrients from the outside. Scrub is a preparation that can open pores, remove dead skin cells and dirt, so that the skin becomes cleaner and brighter. The flavonoid content of dregs carrot extract has the ability to brighten the skin. This study aims to determine the formulation of dregs carrot (Daucus carota L.) scrub as whitening, determine the effectiveness of dregs carrot (Daucus carota L.) scrub as a whitening and determine the effective concentration produced by carrot pulp extract (Daucus carota). L.) as a whitening. The method used in this research is experimental laboratory. The results obtained were that the F3 preparation had the same skin brightness level as the comparison preparation, namely Sumber Ayu's whitening scrub, this was due to the effect of the concentration of dregs carrot extract as much as 5% which contained flavonoids. The conclusion of this study is that the dregs carrot extract (Daucus carota L.) can be formulated in the form of a scrub, the dregs carrot extract (Daucus carota L.) has a whitening effect, and the higher the concentration of dregs carrot extract (Daucus carota L.), the higher the concentration of dregs carrot extract (Daucus carota L.). the more effective as a whitening. Keywords : Dregs Carrot, Scrub, Whitening