Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Interior Accessibility of the Sang Nila Utama Museum in the Framework of Universal Design and Spatial Experience Ravelino, Parlindungan; Kusmara , Andryanto Rikrik; Adhitama, Gregorius Prasetyo; Malasan, Prananda Luffiansyah
Jurnal Riset Arsitektur Vol 9 No 3 (2025): Jurnal RISA (Riset Arsitektur)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/risa.v9i3.12-21

Abstract

Most museums in Indonesia have not fully implemented universal accessibility principles, resulting in spatial experiences that are not yet inclusive for persons with disabilities and other vulnerable groups. Sang Nila Utama Museum in Pekanbaru, a type C museum representing Riau Malay culture, illustrates the gap between educational aspirations and the reality of accessibility. This study aims to evaluate the application of Universal Design principles and interpret visitors’ spatial experiences through multisensory and phenomenological perspectives. A descriptive qualitative approach was employed through reflective observation and visual documentation in the field. Accessibility was analyzed using the Seven Principles of Universal Design, while sensory experience was interpreted using a phenomenological framework. The findings show that physical facilities such as ramps, toilets, signage, and circulation paths do not meet minimum accessibility standards. Spatial experience remains predominantly visual, with limited tactile, auditory, and olfactory engagement. These findings highlight a significant gap between accessibility regulations and the actual experiences of visitors in regional museums. Museum inclusivity depends not only on physical access but also on sensory justice and equitable spatial experience. This study offers an integrated model combining Universal Design and multisensory phenomenology as a reference for improving the interior design of regional museums in Indonesia.
Pengaruh Pencahayaan Ritel terhadap Psikofisiologi dan Perilaku Konsumen: Tinjauan Literatur Sistematis Cahyatika Try Widiyanti; Gregorius Prasetyo Adhitama; Etika Vidyarini
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE, Maret 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i1.4549

Abstract

Abstract: In an increasingly competitive retail environment, physical stores must evolve into experiential landscapes in which atmospheric elements shape consumer behavior. Lighting functions as a fundamental atmospheric stimulus, yet its impact has been examined mainly through subjective evaluations, leaving underlying neurobiological mechanisms insufficiently explored. This Systematic Literature Review (SLR) investigates how retail lighting attributes mediate consumers’ psychophysiological processing and shape behavioral outcomes within the Stimulus-Organism-Response (S-O-R) framework. Guided by the PRISMA protocol, a content analysis was conducted on 20 empirical studies published between 2014 and 2025. The synthesized evidence demonstrates that lighting parameters, particularly illuminance and correlated color temperature (CCT), act as key determinants for physiological responses (e.g., visual attention and brainwave activity) and psychological states (e.g., emotional responses and perceptual evaluations). Furthermore, causal mapping indicates a pronounced imbalance toward perceptual and attitudinal outcomes, with still limited evidence capturing observable consumer behavior. To improve empirical rigor and ecological validity, this review advocates triangulating physiological tools, psychometric measures, and real-time behavioral observation, thereby strengthening the foundation for evidence-based, human-centered lighting strategies. Keyword: Retail Lighting; Psychophysiology; Consumer Behavior Abstrak: Dalam lingkungan ritel yang semakin kompetitif, toko fisik perlu bertransformasi menjadi ruang pengalaman di mana elemen atmosfer membentuk perilaku konsumen. Pencahayaan berperan sebagai stimulus atmosferik yang fundamental, namun kajiannya masih didominasi oleh evaluasi subjektif, sehingga mekanisme neurobiologis yang mendasarinya belum banyak dieksplorasi. Systematic Literature Review (SLR) ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana atribut pencahayaan ritel memediasi proses psikofisiologis konsumen serta membentuk luaran perilaku dalam kerangka Stimulus-Organism-Response (S-O-R). Dengan mengacu pada protokol PRISMA, analisis konten dilakukan terhadap 20 studi empiris periode 2014-2025. Hasil sintesis menunjukkan bahwa parameter pencahayaan, khususnya tingkat iluminansi dan correlated color temperature (CCT), merupakan faktor kunci yang memengaruhi respons fisiologis (seperti perhatian visual dan aktivitas gelombang otak) serta kondisi psikologis (seperti respons emosional dan evaluasi perseptual). Selain itu, pemetaan kausal menunjukkan ketimpangan, di mana penelitian lebih banyak berfokus pada persepsi dan sikap, sementara bukti mengenai perilaku konsumen yang teramati masih terbatas. Untuk meningkatkan ketelitian empiris dan validitas ekologis, kajian ini merekomendasikan triangulasi metode yang mengintegrasikan alat fisiologis, pengukuran psikometrik, serta observasi perilaku secara real-time. Secara keseluruhan, temuan ini memberikan landasan bagi perancang dan pelaku ritel dalam mengembangkan strategi pencahayaan berbasis bukti guna mengoptimalkan pengalaman dan perilaku konsumen. Kata Kunci: Pencahayaan Ritel; Psikofisiologi; Perilaku Konsumen
Analisa Uses & Activities pada Placemaking Gedung Filateli Jakarta Tsara Dhinna Mawardini; Deddy Wahjudi; Gregorius Prasetyo Adhitama
Jurnal Desain Interior Vol 8 No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j12345678.v8i1.16272

Abstract

Bangunan cagar budaya memuat identitas budaya dan merupakan saksi perkembangan peradaban. Namun pada tatanan kehidupan modern bangunan cagar budaya tidak lagi memiliki fungsi yang sama dengan mulanya. Adanya perbedaan fungsi tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan keberadaan bangunan tersebut melalui melahirkan fungsi baru yang menyesuaikan dengan kebutuhan kehidupan sosial budaya saat ini. Siasat tersebut juga merupakan salah satu upaya melaksanakan pembangunan minim emisi dengan cara mengoptimalkan fungsi dari bangunan yang sudah ada. Prinsip yang erat kaitannya dengan praktik optimasilasi bangunan cagar budaya dikenal dengan adaptive reuse. Pada objek bangunan cagar budaya strategi adaptive reuse dijalankan dengan pendekatan placemaking. Gedung Filateli merupakan bangunan cagar budaya yang direvitalisasi dengan pendekatan placemaking. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi indikator uses dan activities pada placemaking fase I Gedung Filateli, khususnya area great hall. Identifikasi indikator uses dan activitiy bertujuan untuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya kebutuhan masyarakat melalui pendekatan placemaking yang dilakukan pada Gedung Filateli. Metoda yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah observasi dan deskriptif. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada placemaking Gedung Filateli khususnya area great hall, area tersebut berhasil mewadahi beragam aktivitas dan program kegiatan sehingga indikator uses dan activities sudah teridentifikasi dan terpenuhi.
EVALUASI INKLUSIVITAS TATA PAMER INTERAKTIF DAN MULTISENSORI MUSEUM BERBASIS INTEGRATED MUSEUM ENGAGEMENT MODEL (IMEM): EVALUASI INKLUSIVITAS TATA PAMER INTERAKTIF DAN MULTISENSORI MUSEUM BERBASIS INTEGRATED MUSEUM ENGAGEMENT MODEL (IMEM) Parlindungan Ravelino; Andryanto Rikrik Kusmara; Gregorius Prasetyo Adhitama
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Idealog Vol 11 No 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v11i1.9415

Abstract

Abstract : Limited visitation and public engagement remain major issues for museums in Indonesia, indicating that the transition toward the New Museology paradigm has not yet been fully accompanied by inclusive exhibition practices. One emerging effort is the implementation of interactive and multisensory exhibition design; however, its effectiveness in supporting museum inclusivity still requires critical evaluation. This study aims to evaluate the inclusivity of interactive and multisensory exhibition design in Indonesian museums based on the Integrated Museum Engagement Model (IMEM), with the Bank Indonesia Museum and the Wayang Museum in Jakarta as case studies. This research employed a mixed-methods approach through field observation, visual documentation, and questionnaires distributed to museum visitors. The analysis used the three pillars of IMEM, namely Participatory Design, Narrative Immersion, and Digital Interaction, as an evaluative framework. The findings show that both museums have adopted various interactive elements, such as touchscreens, immersive spaces, audio-visual media, and digital modelling, which contribute to increased visitor engagement. However, these implementations have not fully supported inclusivity. Limitations remain in physical accessibility, tactile and audio information, and facilities for persons with disabilities and other vulnerable groups. These findings emphasize the need to strengthen interactive exhibition design by integrating it more clearly with inclusive principles in the development of museums in Indonesia.   Keywords : Integrated Museum Engagement Model; Museum; Inclusive Museum; Interactive Exhibition Design; Multisensory