Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Indonesian Health Issue

Studi Kasus: Asuhan Kebidanan Kehamilan Pada Ny.A Dengan Mola Hidatidosa Baiq Yuni Fitri Hamidiyanti; Fitra Arsy Nur Cory'ah; Intan Gumilang Pratiwi; S. Nidaa’an Khafiya LM
Indonesian Health Issue Vol. 2 No. 1 (2023): FEBRUARI
Publisher : PublisihingId

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/inhis.v2i1.34

Abstract

Latar Belakang: Angka kematian ibu (AKI) masih sangat tinggi, sekitar 295.000 wanita meninggal selama dan setelah kehamilan dan persalinan. Menurut kemenkes RI Tahun 2020, jumlah kematian ibu pada tahun 2020 menunjukan 4.627 kematian di Indonesia. Berdasarkan penyebab, sebagian besar kematian ibu pada tahun 2020 disebabkan oleh pendarahan (termasuk mola hidatidosa). Prevalensi mola hidatidosa di Asia menunjukan 1:120 kehamilan. Di Inonesia sendiri didapatkan kejadian mola hidatidosa pada 1:85 kehamilan. Berdasarkan laporan tahunan RSUD PATUT PATUH PATJU Gerung tahun 2020 ditemukan kasus Mola Hidatidosa sebanyak 12 kasus. Pada tahun 2021 bulan Januari sampai dengan September tercatat sebanyak 7 kasus.Tujuan: Menerapkan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan Mola Hidatidosa, menggunakan pendekatan manajemen kebidanan secara komprehensip. Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam studi kasus ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan data primer dan sekunder dari anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan rekam medik. Hasil: Pengeluaran jaringan Mola Hidatidosa dilakukan dengan Aspirasi Vaccum Manual. Kesimpulan: Pemberian penatalaksanaan sudah sesuai dengan teori dan prosedur   Background: The maternal mortality rate (MMR) is still very high, around 295,000 women die during and after pregnancy and childbirth. According to the Indonesian Ministry of Health in 2020, the number of maternal deaths in 2020 showed 4,627 deaths in Indonesia. Based on causes, the majority of maternal deaths in 2020 were caused by bleeding (including hydatidiform mole). The prevalence of hydatidiform mole in Asia is 1:120 pregnancies. In Indonesia, the incidence of hydatidiform mole is 1:85 pregnancy. Based on the annual report of the PATUT PATUH PATJU Gerung Hospital in 2020, 12 cases of Mola Hidatidosa were found. In 2021 from January to September there were 7 cases. Objective: Applying midwifery care to pregnant women with Mola Hidatidosa, using a comprehensive midwifery management approach. Method: The type of research used in this case study is descriptive research using primary and secondary data from anamnesi s, physical examination, laboratory examination, and medical records. Results: Hydatidiform mole tissue was removed by manual vacuum aspiration. Conclusion: Provision of management is in accordance with theory and procedures.
Studi Kasus: Asuhan Kebidanan Pada Ny “H” Dengan Hiperplasia Endometrium Baiq Yuni Fitri Hamidiyanti; Fitra Arsy Nur Cory'ah; Ati Sulianty; Royani Agustina
Indonesian Health Issue Vol. 2 No. 1 (2023): FEBRUARI
Publisher : PublisihingId

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/inhis.v2i1.35

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Dinas Kesehatan Provinsi NTB tahun 2018 ditemukan 897 jiwa menderita penyakit Reproduksi. kasus Hiperplasia Endometrium di NTB sebanyak 24%. Menurut hasil penelitian di RSUD Sumbawa menunjukkan jumlah wanita yang mengalami gangguan kesehatan Reproduksi pada tahun 2020 yaitu sebanyak 190 kasus dari jumlah tersebut ditemukan kasus hiperplasia endometrium sebanyak 21 kasus. pada tahun 2021 sebanyak 192 kasus gangguan kesehatan kespro dari jumlah tersebut ditemukan kasus hiperplasia endometrium sebanyak 24 kasus. oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengambil studi kasus tentang “Asuhan Kebidanan Gangguan Reproduksi Pada Ny. H dengan Hiperplasia Endometrium di RSUD Sumbawa ” Tujuan Studi kasus : Untuk mengetahui Asuhan Kebidanan Gangguan Reproduksi Pada Ny. H dengan Hiperplasia Endometrium di RSUD Sumbawa secara komprehensif tahun 2021 Metode penelitian : jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan menggunakan data primer dan data sekunder dari anamnesa, pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan laboratorium, hasil pemeriksaan USG, buku register dan rekam medik. Subyek dalam studi kasus ini adalah Ny.H dengan hiperplasia endometrium di RSUD Sumbawa. Hasil : pada awal kunjungan keluar darah banyak dari jalan lahir. kemudian dilakukan tindakan kuretase. Gejala hiperplasia endometrium yaitu : siklus menstruasi tak teratur, tidak haid dalam jangka waktu lama (amenore) ataupun menstruasi terus-menerus dan banyak. evaluasi post kuret yaitu keadaan pasien membaik serta berkurangnya perdarahan pervaginam. asuhan kebidanan ibu post kuret yaitu observasi perdarahan serta menjaga personal hygine mencukupi kebutuhan nutrisi dan istirahat. Kesimpulan : berkurangnya Perdarahan pasca kuretase Kata Kunci : Hiperplasia Endometrium, Kesehatan Reproduksi.
Studi Kasus : Asuhan Kebidanan Keluarga Berencana Pada Ny. A Akseptor KB MOW Hamidiyanti, Baiq Yuni Fitri; Rachmawati Suseno, Mutiara; Sulianty, Ati; Rusdita, Ida Ayu
Indonesian Health Issue Vol. 2 No. 2 (2023): AGUSTUS
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/inhis.v2i2.54

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Di provinsi NTB penggunaan alat kontrasepsi MOW 19,41%. Jumlah ibu yang menggunakan alat kontrasepsi MOW di provinsi NTB pada tahun 2021 yakni 8.452 kasus per 661.089 jumlah kelahiran hidup, sedangkan jumlah ibu yang menggunakan alat kontrasepsi MOW tahun 2020 sebanyak 10.722 kasus. Jadi, terdapat penurunan angka penggunaan kontrasepsi MOW pada tahun 2021 . TFR di NTB pada tahun 2018-2021 yaitu 2018 (2,8%), 2019 (2,5%) dan 2021 (2,5%). Tujuan: Untuk mengetahui asuhan kebidanan keluarga berencana dengan Akseptor KB MOW. Metode: Metode deskriptif dengan jenis studi penelaahan kasus (case study) yang menggunakan data primer dan data sekunder dari anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan kadar hemoglobin, dan buku KIA. Subyek dalam studi kasus ini adalah Ny “A”, dengan Akseptor KB MOW. Hasil: Penanganan pada MOW dilakukan Tindakan SC.Setelah pemberian asuhan selama 4 hari, pada kunjungan akhir keadaan ibu membaik. Kesimpulan: Setelah dilakukan operasi tidak terjadi perdarahan dan dilakukan transfusi darah, diberikan therapy oral serta nutrisi yang dapat memulihkan luka operasi pada ibu. Sehingga tidak terjadi infeksi pada luka operasi. Background: In the province of NTB the use of MOW contraception was 19.41%. The number of mothers using MOW contraception in the province of NTB. In 2021, there were 8,452 cases per 661,089 live births, while the number of mothers using MOW contraception in 2020 was 10,722 cases. So, there is a decrease in the number of MOW contraceptive use in 2021. TFR in NTB in 2018-2021 namely 2018 (2.8%), 2019 (2.5%) and 2021 (2.5%). Objective: To find out about family planning midwifery care with MOW KB acceptors. Methods: Descriptive method with the type of case study using primary data and secondary data from anamnesis, physical examination, examination of hemoglobin levels, and the MCH handbook. The subject in this case study is Mrs "A", with MOW KB acceptor. Result: Treatment for MOW was carried out by SC action. After providing care for 4 days, at the final visit the mother's condition improved. Conclusion: After the operation there was no bleeding and a blood transfusion was performed, oral therapy and nutrition were given to restore the surgical wound to the mother. So that there is no infection in the surgical wound.
Studi Kasus : Asuhan Kebidanan Persalinan Pada Ny. R dengan Pre Eklamsia Berat Sulianty, Ati; Hamidiyanti, Baiq Yuni Fitri; Rachmawati Suseno, Mutiara; Rahmayanti, Erika
Indonesian Health Issue Vol. 3 No. 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/inhis.v3i1.60

Abstract

Latar Belakang: Tahun 2021, ada 114 kasus kematian ibu di Provinsi NTB. Angka kematian ibu terdiri dari 27 kasus perdarahan, 26 kasus hipertensi kehamilan, 4 kasus infeksi, 20 kasus COVID-19, sisanya menrupakan gabungan beberapa kasus .Berdasarkan laporan tahunan RSUD Dr.R. Soedjono Selong tahun 2021 menunjukkan 293 kasus persalinan disebakn oleh preeklamsia berat. Tujuan: Untuk mengetahui asuhan kebidanan pada ibu bersalin Dengan Pre Eklamsia Berat. Mode Penelitian: Subyek studi kasus ini adalah "Ny.R" dengan pre-eklamsia berat, penggumpulan data menggunakan data primer mulai dari  anamnesa, pemeriksaan fisik, penentuan diagnose, rekam medis, dan data sekunder melalui register, dan buku KIA. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif.Hasil: terdapat perubahan kondisi ibu yang menjadi lebih baik setelah diberikan asuhan Pada awal kunjungan tekanan darah 150/100 mmHg dan di akhir kunjungan menurun menjadi 130/80 mmHg. Intervensi pemberian KIE selama 2 hari.Kesimpulan:Terjadi penurunan tekanan darah ibu setelah diberikan asuhan Background: In 2021, there were 114 cases of maternal death in NTB Province. The maternal mortality rate consists of 27 cases of bleeding, 26 cases of pregnancy hypertension, 4 cases of infection, 20 cases of COVID-19, the rest is a combination of several cases. Based on the annual report of RSUD Dr.R. Soedjono Selong in 2021 showed 293 cases of childbirth caused by severe preeclampsia Objective: To determine midwifery care for mothers giving birth with severe pre-eclampsia Method : The subject of this case study is "Mrs. The type of research used was descriptive. Results: there was a change in the mother's condition which became better after being given care. At the beginning of the visit the blood pressure was 150/100 mmHg and at the end of the visit it had decreased to 130/80 mmHg. The intervention was providing IEC for 2 days. Conclusion : There was a decrease in maternal blood pressure after being given care.
Pengaruh Pelayanan Reproduksi Terpadu terhadap Skrining Kanker Payudara pada Akseptor KB Hormonal Kadek Novi Marlinawati; Syajaratuddur Faiqah; Rita Sopiatun; Baiq Yuni Fitri Hamidiyanti
Indonesian Health Issue Vol. 3 No. 2 (2024): AGUSTUS
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/inhis.v3i2.65

Abstract

Latar Belakang: Pada tahun 2022, jumlah kasus baru kanker payudara mencapai 66.271 kasus (16,2%), data SADANIS di Kabupaten Lombok Barat tahun 2023 sebanyak 11.245 WUS dan curiga kanker sebanyak 14 kasus. Etiologi penyakit kanker payudara berhubungan dengan keadaan hormonal, salah satunya terdapat pada alat kontrasepsi hormonal sehingga diperlukan suatu inovasi pelayanan yaitu Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu Pelayanan Keluarga Berencana.Tujuan: mengetahui Pengaruh Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu pada Akseptor KB Hormonal terhadap Skrining Kanker Payudara di wilayah kerja Puskesmas Labuapi. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian yaitu Quasi Experimental dengan desain Non-Equivalent Control Group Design. Sampel yang diambil sebanyak 44 sampel, dibagi menjadi 2 kelompok kasus dan kontrol. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Uji analisis yang digunakan yaitu Chi Square. Hasil: analisa post test dengan uji statistik Chi Square, pada pengetauan diperoleh nilai signifikansi 0,038, analisa sikap diperoleh nilai signifikansi 0,022, analisis kesediaan diperoleh nilai signifikansi 0,038. Hasil analisis ketiga kategori diperoleh nilai signifikansi < 0,05 sehingga ada pengaruh Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu Pada Akseptor KB Hormonal terhadap Pengetahuan, Sikap, dan Kesediaan Skrining Kanker Payudara. Kesimpulan: terdapat Pengaruh Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu pada Akseptor KB Hormonal terhadap skrining kanker payudara ABSTRACT Background: In 2022, the number of new cases of breast cancer reached 66,271 cases (16.2%), SADANIS data in West Lombok Regency in 2023 is 11,245 WUS and suspected of cancer as many as 14 cases. The etiology of breast cancer is related to hormonal conditions, one of which is found in hormonal contraceptives. The problem solving is an integrated service innovation namely Reproductive Health Services combined with Family Planning Services. Purpose: To determine the effect of integrated reproductive health services on hormonal contraceptive acceptors on breast cancer screening in the Labuapi health center working area. Methods: The research design used Quasi Experimental with a Non-Equivalent Control Group Design. The samples were 44 hormonal birth control acceptors who were divided into 2 groups, case and control. The sampling technique uses purposive sampling and the analytics uses non parametrik Chi Squre. Results: the post test results,  in the knowledge obtained a significance value of 0.038, the attitude obtained a significance value of 0.022, and the willingness obtained a significance value of 0.038. The three categories obtained a significance value of < 0.05 so conclude there was an effect of Integrated Reproductive Health Services on Hormonal Birth Control Acceptors on knowledge, attitudes and willingness to carry out breast cancer screening. Conclusion: There is an influence of Integrated Reproductive Health Services on Hormonal Birth Control Acceptors on breast cancer screening   Background: In 2022, the number of new cases of breast cancer reached 66,271 cases (16.2%), SADANIS data in West Lombok Regency in 2023 is 11,245 WUS and suspected of cancer as many as 14 cases. The etiology of breast cancer is related to hormonal conditions, one of which is found in hormonal contraceptives. The problem solving is an integrated service innovation namely Reproductive Health Services combined with Family Planning Services. Purpose: To determine the effect of integrated reproductive health services on hormonal contraceptive acceptors on breast cancer screening in the Labuapi health center working area. Methods: The research design used Quasi Experimental with a Non-Equivalent Control Group Design. The samples were 44 hormonal birth control acceptors who were divided into 2 groups, case and control. The sampling technique uses purposive sampling and the analytics uses non parametrik Chi Squre. Results: the post test results,  in the knowledge obtained a significance value of 0.038, the attitude obtained a significance value of 0.022, and the willingness obtained a significance value of 0.038. The three categories obtained a significance value of < 0.05 so conclude there was an effect of Integrated Reproductive Health Services on Hormonal Birth Control Acceptors on knowledge, attitudes and willingness to carry out breast cancer screening. Conclusion: There is an influence of Integrated Reproductive Health Services on Hormonal Birth Control Acceptors on breast cancer screening          
Pengaruh Birth Ball Terhadap Lama Persalinan Kala I Fase Aktif Pada Primigravida Rahim, Rosita; Rachmawati Suseno, Mutiara; Sulianty, Ati; Hamidiyanti, Baiq Yuni Fitri
Indonesian Health Issue Vol. 3 No. 2 (2024): AGUSTUS
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/inhis.v3i2.74

Abstract

Latar belakang: Lama persalinan kala I pada primigravida mempunyai durasi yang lebih lama daripada multigravida. Semakin lama proses persalinan, ibu bersalin akan merasakan kelelahan yang dapat mengakibatkan kontraksi uterus yang tidak adekuat, akibatnya akan terjadi persalinan yang memanjang, peningkatan distres maternal, dan peningkatan resiko perdarahan postpartum yang menyumbang angka kematian ibu. Upaya fisiologis yang bisa dilakukan selama persalinan kala I, yaitu salah satunya adalah dengan memberikan intervensi  birthing ball. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh birthing ball terhadap lama persalinan kala I fase aktif pada primigravida. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian  quasy  experiment. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 34 responden yang terdiri dari 17 responden kelompok intervensi dan 17 responden kelompok kontrol. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi dan partograf, kemudian data dianalisa menggunakan uji statistik Independent Samples T-test.  Hasil: Pada kelompok intervensi birthing ball didapatkan hasil rata-rata lama persalinan kala I fase aktif selama 204,18 menit (3 jam 24 menit), dan pada kelompok kontrol selama 252,35 menit ( 4 jam 12 menit). Hasil analisa data didapatkan nilai p value sebesar 0,019 < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata lama persalinan kala I fase aktif pada kelompok intervensi birthing ball dan kelompok control. Kesimpulan: Terdapat pengaruh birthing ball terhadap lama persalinan kala I fase aktif pada primigravida. Background: The duration of the first stage of labor in primigravidas is longer than in multigravidas. The longer the labor process, the more the mother in labor will feel tired which can result in inadequate uterine contractions, resulting in prolonged labour, increased maternal distress, and an increased risk of postpartum hemorrhage which contributes to maternal mortality. One of the physiological efforts that can be carried out during the first stage of labor is by providing birth ball intervention. Objective: To determine the effect of the birth ball on the length of labor in the active phase of first stage in primigravida. Purpose: To determine the effect of the birth ball on the length of labor in the active phase of first stage in primigravid. Methods: This research uses a quasi-experimental research method. The sampling technique used purposive sampling technique with a total sample of 34 respondents consisting of 17 intervention group respondents and 17 control group respondents. Data were collected using observation sheets and partographs, then the data were analyzed using the Independent Samples T-test statistical test. Results: The first stage of labor in the active phase was 204.18 minutes (3 hours 24 minutes), and in the control group it was 252.35 minutes (4 hours 12 minutes). The results of data analysis showed that the p value was 0.019 < 0.05, so H0 was rejected and Ha was accepted, meaning that there was a significant difference between the average length of labor during the first active phase in the birth ball intervention group and the control group. Conclusion: There is an effect of the birth ball on the length of labor in the first stage of the active phase in primigravida.