Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Obstretika Scientia

Hubungan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting Roslina; Elsa Nabila Zahrotunnisa
Jurnal Obstretika Scientia Vol 12 No 1 (2024)
Publisher : Prodi DIII Kebidanan La Tansa Mashiro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55171/obs.v12i1.1331

Abstract

Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering) akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari kehamilan sampai usia 24 bulan. Keadaan ini diperparah dengan tidak terimbanginya kejar tumbuh (catch up growth) yang memadai. Stunting ditandai dengan pada indek Panjang badan/Umur atau Tinggi badan/Umur dimana dalam standar antopometri penilaian status gizi anak, Hasil dari pengukuran itu berada pada ambang batas (Z score) <-2 SD sampai -3 SD (pendek/stunted) dan <-3 SD (sangat pendek/severely stunted). Stunting dapat dicegah pada awal masa kehidupan yaitu pada masa kehamilan dan setelah kelahiran. Faktor risiko terjadinya Stunting pada kehamilan adalah kurangnya gizi selama kehamilan, dan infeksi selama kehamilan. Sedangkan, faktor risiko Stunting saat postnatal adalah Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yang tidak dilakukan, ASI ekslusif yang tidak tercapai, penyakit infeksi dan lainnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan Inisiasi menyusu dini (IMD) dan ASI Esklusif dengan kejadian Stunting pada balita usia 2459 bulan Di Puskesmas Rangkasbitung tahun 2023. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel sebanyak 50 Anak balita Stunting usia 24-59 bulan . Analisis yang dilakukan adalah analisis univariat dan bivariat, variable independent yaitu IMD dan ASI Ekslusif sedangkan variable dependen yaitu Kejadian Stunting Berdasarkan hasil uji chi-square didapatlkan nilai p value sebesar p=0,028 (p<0,05) Yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara IMD dengan kejadian Stunting di Puskesmas Rangkasbitung tahun 2023. Berdasarkan hasil uji chi-square pada a=0,05 didapatkan nilai p=0,031 (p<0,05) Yang berarti bahwa secara statistic terdapat hubungan bermakna antara ASI Ekslusif dengan kejadian Stunting di Puskesmas Rangkasbitung tahun 2023
Pendidikan, Pendapatan Keluarga, Asupan Protein Hewani, Durasi Pemberian ASI Ekslusif dan MP-ASI Dengan Kejadian Stunting Pada Usia 12-24 Bulan di Kp. Pagadungan Tahun 2025 Roslina; Rita Ariesta; Daini Zulmi; Yayu
Jurnal Obstretika Scientia Vol 13 No 2 (2025)
Publisher : Prodi DIII Kebidanan La Tansa Mashiro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor, karakteristik orang tua, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, pemberian asupan makanan, serta praktik pemberian MP-ASI. Metode penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 38 responden. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan distribusi,sedangkan analisis bivariat menggunakan uji Chi-square untuk melihat hubungan antar variabel. Hasil berdasarkan analisis univariat, sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (52,6%), pendidikan terakhir SD (55,3%). Memiliki pendapatan Rp 1.000.000 (52,6%), sera memberikan asupan sesuai (65,8%). Mayoritas responden memberikan MP-ASI pada usia >6 bulan (57,9%) dan durasi pemberian sesuai (66,8%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara pendidikan dengan status gizi anak (p = 0,02), pendapatan dengan status gizi anak (p = 0,03), Asupan dengan status gizi anak (p = 0,01), MP-ASI dengan status gizi anak (p =0,04), Durasi pemberian makanan dengan status gizi anak (p =0,02). Dengan demikian, terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan, pendapatan,asupan,MP-ASI, dan durasi pemberian makanan dengan status gizi anak. Di harapkan dapat menjadi masukan bagi orang tua untuk meningkat pola asuh yang lebih baik dalam pencegahan stunting, serta bagi tenaga kesehatan dan pemerintah dalam menyusun program intervensi gizi dan edukasi keluarga guna menurunkan angka stunting pada balita usia 12-24 bulan.