Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

EKSISTENSI WANITA KARIER PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Studi Pendekatan Gender Riffat Hasan) Hawa, Siti; Lubis, Zakaria Husin; Darmawan, Kasis
Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Sosial-Budaya Vol. 13 No. 1 (2024): Jurnal : Politik, Hukum, Pendidikan, sosial dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Studi kebijakan MADANI Instutute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research on the existence of career women in the Qur'an using Riffat Hasan's gender approach resulted the conclusion that the existence of career women is not determined by gender, but by their potential and quality for great achievements. Basically, the Qur’an does not regulate women's and men's work areas in a standard way. Islam leaves certain areas to be regulated by human reason based on demands that are always developing. There is no prohibition in the Qur'an for women to have a career, on the contrary, it opens up the widest possible opportunities for women and men to work together in realizing benefits in various aspects of life. The Qur'an does not differentiate between work or righteous deeds carried out by men and women. Both are equally appreciated. In fact, Allah SWT stated that whoever does good deeds, both men and women in a state of faith, will get a good and quality life. This research is included in qualitative research and library research. The analytical method used in this research is the thematic method (maudhu'i) and Riffat Hasan's gender approach
MAKNA AHL AL-KITÂB DALAM PRESPEKTIF AL-QUR'AN (STUDI KOMPARATIF ATAS TAFSÎR AL-MANÂR DAN TAFSÎR AL-MISHBÂH̲) Muflihun, Muflihun; Nurdin, Ali; Lubis, Zakaria Husin
Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan dan Sosial-Budaya Vol. 13 No. 2 (2024): Madani Institute | Jurnal Politik, Hukum, Pendidikan, sosial dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Studi kebijakan MADANI Instutute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penjelasan mengenai Ahl al-Kitâb telah banyak dibahas dalam berbagai literatur keislaman terutama di dalam kitab-kitab tafsir. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pemahaman ulama mengenai cakupan Ahl al-Kitâb kitab mulai mengalami perubahan para ulama sepakat bahwa mereka adalah Yahudi dan Nasrani. Namun mereka berbeda dalam hal cakupan makna Ahl al-Kitâb, sebagian mengatakan Ahl al-Kitâb adalah Yahudi dan Nasrani keturunan Bani Israil saja, sementara yang lain mengatakan bahwa Ahl al-Kitâb adalah Yahudi dan Nasrani kapan pun dan di manapun mereka berada. Pembahasan ini akan diteliti menggunakan metode maudhu’i, berupa riset kepustakaan, dengan analisis data deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, penulis mendapatkan pengungkapan kata Ahl al-Kitâb dalam al-Qur'an sebanyak 11 bentuk,. Mengenai makna Ahl al-Kitâb, Rasyid Ridha sepakat dengan jumhur ulama, hanya saja pendapatnya tentang cakupan Ahl al-Kitâb lebih luas dari ulama sebelumnya. Dalam Tafsir al-Manar, cakupan Ahl al-Kitâb tidak hanya sebatas Yahudi dan Nasrani, tetapi juga mencakup agama-agama lain seperti Majusi, Shabi'in, penyembah berhala di India, Cina dan siapa saja yang serupa dengan mereka. Menurutnya, semua agama tersebut bisa dimasukkan dalam cakupan ahli kitab karena pada awalnya semua agama menganut tauhid. Sedangkan Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah memahami makna Ahl al-Kitâb adalah semua penganut agama Yahudi dan nasrani dimanapun, kapanpun dan dari keturunan siapapun. Dia memahami makna seperti itu karena berdasarkan al Quran yang hanya terbatas pada dua golongan saja yaitu Yahudi dan Nasrani
LIVING QURAN DALAM RITUAL PERTANIAN DI GAMPONG WAIDO, KABUPATEN PIDIE, ACEH Al-Hafi, Aban; Husin Lubis, Zakaria; Nurbaiti, Nurbaiti
Mumtaz: Jurnal Studi Al-Quran dan Keislaman Vol 7, No 2 (2023): Mumtaz: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Keislaman
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36671/mumtaz.v7i02.647

Abstract

The issue addressed in this research originates from the implementation of classical religious traditions within modern farming communities in Gampong Waido. The primary objective of this study is to comprehend the extent to which the Quran becomes an integral part of the agricultural rituals perpetuated by the community, as well as to unearth the significance of this tradition in their daily lives. This research adopts a qualitative approach with a focus on field research. The research methods employed include ethnography and the Living Quran approach. The research findings elucidate that the application of verses in the khanduri blang ritual manifests in three forms: written recitations, talismans, and is classified into exegetical reception, where the community interprets Surah al-Baqarah/2:261 as the “agricultural verse.” Additionally, there is aesthetic reception, wherein the verses materialize in tangible forms with elements of beauty. Furthermore, there is a functional reception where the verses are utilized as remedies by the farmers. Moreover, these traditions and rituals serve as symbols that imbue meaning into the community's life, interpreted as expressions of mutual support, ancestral prayers, gratitude, blessings, and protection against adversity. Based on the analysis above, it is concluded that the Quranic verses manifested in the khanduri blang ritual are a tangible reflection of the Living Quran
HERMENEUTICS OF THE HOLY RELIGION TEXTS (The Study of the Relationship of the Qur'anic Text to Religious Life) Lubis, Zakaria Husin
Mumtaz: Jurnal Studi Al-Quran dan Keislaman Vol 4, No 1 (2020): Mumtaz: Jurnal Studi Al-Quran dan Keislaman
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36671/mumtaz.v4i01.91

Abstract

The discourse on the discussion of the holy book experiences lengthy debates in every religion because the holy book is a representation of the life guidelines adopted by religious people. From the beginning of its creation, humans tend to have a primordial promise of a power beyond their means. The promises have been written in the holy book to be obeyed, but the problem is when they try to understand what is written in the holy book, therefore many commentators try to interpret this scripture according to the knowledge they understand. The efforts of interpreters in understanding this holy book eventually made them divided into several groups. The group of interpreters who want the interpretation of the scriptures contextually using the hermeneetic method, interpreters who understand textually by fundamentalists, interpreters who want the separation between text and the world. With a variety of different ways of understanding this eventually becomes polemic in society because of the influence of this scripture that varies in translation. As for the writing method used is qualitative with historical and phenomenological approaches. The author tries to sort events according to the period of years, from the appearance of the early writings or ancient texts to the contemporary period.
Penghormatan terhadap Keturunan Ahlulbait Nabi Muhammad Saw dalam Perspektif Al-Qur’an : Analisis dengan Pendekatan Gerakan Ganda Fazlur Rahman Nailul Authar As Syaukani A, M.; Kerwanto, Kerwanto; Husin Lubis, Zakaria
Blantika: Multidisciplinary Journal Vol. 2 No. 11 (2024): Special Issue
Publisher : PT. Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/blantika.v2i11.237

Abstract

Penghormatan terhadap Ahlulbait Nabi Muhammad SAW merupakan aspek penting dalam tradisi Islam yang diakui oleh banyak umat Muslim. Namun, terdapat berbagai pandangan dan interpretasi mengenai penghormatan ini, terutama dalam konteks modern. Penelitian ini bertujuan untuk memahami perspektif Al-Qur'an mengenai penghormatan kepada Ahlulbait dan menganalisis bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam konteks masyarakat kontemporer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan hermeneutik Fazlur Rahman dengan teori gerakan ganda. Penelitian ini mengumpulkan dan menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis yang berkaitan dengan Ahlulbait, serta menggunakan literatur yang relevan untuk mendalami isu ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghormatan kepada Ahlulbait tidak hanya merupakan bentuk cinta kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga pengakuan terhadap peran spiritual dan sosial mereka dalam Islam. Penelitian ini mengidentifikasi dua ayat kunci yang sering dijadikan dasar penghormatan, yaitu QS. Al-Ahzab/33:33 dan QS. Asy-Syura/42:23. Penelitian ini menekankan pentingnya sikap proporsional dalam menghormati Ahlulbait, berdasarkan pada ketakwaan dan perilaku mereka, bukan sekadar hubungan darah. Pendekatan hermeneutik "Double Movement" memungkinkan pemahaman yang lebih dinamis dan kontekstual terhadap penghormatan ini dalam masyarakat modern.
Kajian Al-Qur’an tentang Estetika, Etika dan Fungsi dalam Desain Masjid Setiawan, Iwan; Husin Lubis, Zakaria; Kholillurrohman, Kholillurrohman
Blantika: Multidisciplinary Journal Vol. 2 No. 11 (2024): Special Issue
Publisher : PT. Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/blantika.v2i11.241

Abstract

Seni arsitektur adalah bagian dari khazanah keilmuan dari sekian banyak disiplin ilmu. Keberadaannya sejalan dengan perkembangan peradaban umat manusia dari masa ke masa. Arsitektur Islam merupakan wujud perpaduan antara kebudayaan manusia dan proses penghambaan diri seorang hamba kepada Tuhannya, yang berada dalam keselarasan hubungan antara manusia, lingkungan dan penciptanya. Didalamnya berisikan rangkaian konsep yang mengungkapkan hubungan geometris yang kompleks, hirarki bentuk dan ornamen, serta makna simbolis yang sangat dalam. Arsitektur Islam merupakan salah satu jawaban yang dapat membawa pada perbaikan peradaban. Di samping hal tersebut pada arsitektur Islam terdapat esensi dan nilai-nilai Islam yang dapat diterapkan tanpa menghalangi pemanfaatan teknologi bangunan modern sebagai alat dalam mengekspresikan esensi tersebut. Konsep Arsitektur Islami adalah sebuah konsep yang bernafaskan Islam, dimana didalamnya berisikan penjiwaan yang menyatu berlandaskan syariat-syariat Islam. Pendekatan terhadap penggunaan material, ruang, waktu, metode, dan sudut pandang yang tolak ukurnya bersumber pada Al-Qur’an dan Hadis. Dan apabila ditelaah secara mendalam konsep arsitektur Islam lebih mengusung pada nilai-nilai universal yang dimuat oleh ajaran Islam. Nilai-nilai ini nantinya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa arsitektur yang tampil dalam berbagai bentuk yang diinginkan dengan tidak melupakan esensi dari arsitektur itu sendiri, serta tetap berpegang pada tujuan utama proses berarsitektur yaitu sebagai bagian dari beribadah kepada Allah SWT. Lebih jauh menelaah mengenai masjid sebagai representasi bangunan arsitektur Islami, dimana masjid adalah sebuah hasil karya seni rancang bangun yang sangat fundamental dan monumental, karya arsitektur masjid merupakan perwujudan dari puncak ketinggian pengetahuan teknik dan metoda membangun, material, ragam hias, dan filosofi di suatu wilayah sesuai konteksnya. Selain itu masjid juga menjadi titik temu berbagai bentuk seni, mulai dari seni spasial, ruang dan bentuk, dekorasi, hingga seni suara. Berdasarkan hal tersebut diatas, pentingnya sebuah konsep rancang bangun yang berkaitan dengan estetika, etika dan fungsi pada masjid didalam rangka menghasilkan sebuah karya bangunan yang baik. Dimana masjid sebagai simbol bangunan arsitektur Islami yang secara normatif harus sesuai dengan nilai-nilai dan norma syari’at Islam. Penelitian ini bersifat Library research yang mencoba menelaah dan meneliti sejauh mana kerangka konsep dan teori membangun yang ada selama ini dengan kondisi kontekstual yang berlangsung pada saat ini disertai dengan implikasi dan solusinya. Dengan penelitian secara descriptif kualitatif dan metode analitis interpretatif diharapkan nanti akan memberikan pemahaman tentang pemikiran sebuah Konsep Estetika, Etika dan Fungsional Bangunan Arsitektur pada masjid dalam Persfektif Al-Qur’an.
Qirâ’ât Syâdzdzah Sebagai H̲ujjah Hukum Fiqih Ibadah Dalam Tafsîr Al-Kasysyâf Karya Al-Zamakhsyari Hendra Ahmadi; Nurbaiti; Zakaria Husin Lubis
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 1 No. 3 (2025): Menulis - Maret
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v1i3.109

Abstract

Qirâ’ât Syâdzdzah Sebagai H̲ujjah Hukum Fiqih Ibadah, apakah Qiraat ini bisa dijadikan sebagai hujjah hukum fiqih ibadah ?, hal ini yang menjadi salah satu topik pembahasan yang dimana terdapat perbedaan pendapat dari beberapa ulama, diantaranya Abu Hanifah mendukung qirâ’ât syâdzdzah untuk dijadikan istinbâth hukum. Ia berpendapat bahwa qirâ’ât syâdzdzah kendati periwayatannya tidak mutawatir namun ia diriwayatkan langsung dari Nabi oleh para sahabat, hanya saja periwayatan tersebut bersifat ahad (perorangan). juga terdapat perbedaan dengan pendapat Malikiyyah dan Syafi’iyyah bahwa qirâ’ât syâdzdzah tidak bisa dijadikan istinbâth hukum. Mereka berdua berpendapat bahwa qirâ’ât syâdzdzah bukanlah Al-Qur’an dan tidak dapat dijadikan sebagai h̲ujjah. Selain itu, qir̂a’ât syadzah juga sudah di-nasakh atau telah dihapuskan sejak masa hidup Rasulullah. Hal penting yang menjadi objek penafsiran disini adalah fiqih ibadah. Umat Islam tidak bisa lepas dari ajaran syariatnya, salah satunya adalah hukum fiqih. Fiqih menjadi urgen karena berkaitan dengan metode beribadah, cara, interaksi sosial, dan masih banyak lainya. Seringkali terjadi perseteruan antara pemeluk agama dan internal agama diawali dari adanya perbedaan penafisiran atas dalil yang mereka fahami. Selanjutnya, dalam penelitian ini penulis mengaplikasikan metode kualitatif dengan studi kepustakaan (library research) dengan menggunakan analisis isi dan juga observasi. Sumber primer yang digunakan adalah Tafsîr Al-Kasysyâf karya Al-Zamakhsyarî beserta karya-karya beliau yang lain. Adapun sumber sekunder yaitu buku-buku yang berkaitan erat dengan qirâ’ât syâdzdzah dan fiqih ibadah.
Birth Restriction in The Perspective Of The Qur'an Ulwan, Muhammad Naseh; Kholilurrohman; Zakaria Husin Lubis
Albayan Journal of Islam and Muslim Societies Vol. 1 No. 01 (2024)
Publisher : Albayan Journal of Islam and Muslim Societies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Birth restrictions in the Al-Qur'an perspective are permanent birth restrictions prohibited in the Al-Qur'an because they are contrary to human nature, namely having offspring. However, in emergency situations, the Qur'an provides relief or allows birth restrictions to maintain maternal health. The discourse around birth control is currently increasingly urgent if it is related to the dense population of the world, especially the Indonesian population. Indonesia's population has now reached 270 million people with a population density of 140 people per square kilometer. If population density is not balanced with the State's ability to control it, it will give rise to problems such as poverty, health, education and crime. Therefore, in an emergency, birth control is one of the preventive options to reduce the rate of population growth. The problem that often arises when discussing the issue of limiting offspring is the quantity and quality of the population. This was triggered by the understanding that children are a gift from Allah and on the Day of Judgment the Messenger of Allah will be proud to see his many people. This understanding provides motivation for people to increase their offspring. However, on the one hand, Allah reminds us not to leave behind a weak generation, fearing that it will burden the family and the country.   Abstrak: Pembatasan kelahiran dalam perspektif Al-Qur'an adalah pembatasan kelahiran permanen yang dilarang dalam Al-Qur'an karena bertentangan dengan sifat manusia, yaitu memiliki keturunan. Namun, dalam situasi darurat, Al-Qur'an memberikan keringanan atau mengizinkan pembatasan kelahiran untuk menjaga kesehatan ibu. Wacana seputar pengendalian kelahiran saat ini semakin mendesak jika terkait dengan padatnya populasi dunia, khususnya penduduk Indonesia. Populasi Indonesia saat ini telah mencapai 270 juta jiwa dengan kepadatan penduduk 140 jiwa per kilometer persegi. Jika kepadatan penduduk tidak diimbangi dengan kemampuan Negara untuk mengendalikannya, itu akan menimbulkan masalah seperti kemiskinan, kesehatan, pendidikan dan kejahatan. Oleh karena itu, dalam keadaan darurat, KB menjadi salah satu pilihan preventif untuk mengurangi laju pertumbuhan penduduk. Permasalahan yang sering muncul ketika membahas masalah pembatasan keturunan adalah kuantitas dan kualitas populasi. Hal ini dipicu oleh pemahaman bahwa anak-anak adalah karunia dari Allah dan pada hari kiamat Rasulullah akan bangga melihat banyak umatnya. Pemahaman ini memberikan motivasi bagi orang untuk meningkatkan keturunannya. Namun, di satu sisi, Allah mengingatkan kita untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah, takut akan membebani keluarga dan negara.    
Interaksi Ruhani Antara Orang Yang Sudah Meninggal Dengan Orang-Orang Yang Masih Hidup : Studi Tafsir Tematik Ayat-ayat Ruh dalam Tafsir Al-Mishbâh Ahmad Anis; Kerwanto Kerwanto; Zakaria Husin Lubis
Hidayah : Cendekia Pendidikan Islam dan Hukum Syariah Vol. 2 No. 3 (2025): September : Hidayah : Cendekia Pendidikan Islam dan Hukum Syariah
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/hidayah.v2i3.1251

Abstract

This study aims to analyze M. Quraish Shihab's views on spiritual interaction between the deceased and the living in Tafsir al-Mishbah. This issue is highly urgent because the debate surrounding the soul and the afterlife has existed since the time of the Prophet Muhammad (peace be upon him) and continues to be a polemic to this day. To answer this question, a qualitative research method with a library research approach was used. Primary data came from Tafsir al-Mishbah, where the Quranic verses about the soul were analyzed thematically. Secondary data were obtained from various classical and contemporary tafsir books, hadith books, and books on interpretation methodology to provide a comprehensive understanding. The results show that, according to M. Quraish Shihab, humans are bidimensional beings. Death is not the end of existence, but rather a transition from the mundane realm to the Barzakh realm, where the soul remains alive. Although human knowledge is very limited regarding the unseen realm, interaction between the souls of the living and the deceased is possible, especially through dreams. In conclusion, M. Quraish Shihab argues that souls in the Barzakh realm remain alive and conscious, and can interact with other souls, although in a different way from communication in the physical world.
Menjadi “Filosof Muslim” di Media Sosial: Referensi dari Husein Ja’far Al-Hadar Husin Lubis, Zakaria
AL-HIKMAH:Jurnal Theosofi dan Peradaban Islam Vol 5, No 1 (2023): AL-HIKMAH : Jurnal Theosofi dan Peradaban Islam
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/alhikmah.v5i1.19377

Abstract

This article is of the view that the presence of philosophy in cyberspace, especially YouTube, has eliminated the "heavy side" of philosophy. Philosophy is constructed in an entertainment style that is easy to watch, even though it cannot necessarily be understood and interpreted as it should be. The emergence of philosophy on YouTube has succeeded in establishing the authority of philosophers for the individuals who popularized it. Research data was explored from Husein Ja'far Al-Hadar's YouTube channel. To facilitate research, the research question was asked about the process of "becoming a philosopher" in the world of YouTube. Research findings suggest that the process of becoming a Muslim philosopher on YouTube is formed through the number of followers and consistency in discussing philosophy. Then, authority is strengthened by social attributes, such as educational background, social status and knowledge of Islamic philosophy. Lastly, the authority of Muslim philosophers formed through YouTube makes philosophy not express its true form because it exists as entertainment which is contradictory to the orthodoxy of Islamic philosophy.Keywords: Muslim Philosopher, Youtube, Authority and Husein Ja'far.