Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Urgensi Paradigma Moderasi Beragama dalam Penerjemahan dan Penafsiran Ayat-Ayat Qitâl Rohimudin, Rohimudin; Kholilurrohman, Kholilurrohman; Husin Lubis, Zakaria
Journal of Comprehensive Science Vol. 2 No. 3 (2023): Journal of Comprehensive Science (JCS)
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v2i3.272

Abstract

...
SOSIONEUROSAINS PERSPEKTIF AL-QUR`AN Triono, Ari; Lubis, Zakaria Husin; Kamaluddin, Ahmad
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 9 No 01 (2024): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v9i01.6560

Abstract

Studi analisis ini, bertujuan untuk mengetahui dan menguji cara kerja atau mekanisme pendekatan sosioneurosains terhadap perilaku sosial manusia. Melalui metode penelitan kualitatif dan metode tafsir tematik (maudhu’I), penelitian ini mendapati hasil bahwa perilaku sosial manusia, pengaruhnya didominasi oleh intensi (niat)-nya, yang-mana terbentuknya intensi tersebut melalui elemen persepsi, sikap dan kontrol subjektif dalam bingkai ilmu pengetahuan yang ada pada manusia. Sosioneurosains perspektif al-Qur`an pembicaraannya berputar pada istilah al-Nashiyah, al-Fikr dan al-‘Aql, yang diimpelementasikan pada perilaku manusia dalam konteks sosial.
Nâsikh Mansûkh Dan Implementasinya dalam Tafsir Al-Qur`an ul Majid An-Nūr Karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy M. Irfanuddin; Abdul Muid N; Zakaria Husin Lubis
Bersatu: Jurnal Pendidikan Bhinneka Tunggal Ika Vol. 1 No. 3 (2023): Mei : Jurnal Pendidikan Bhinneka Tunggal Ika
Publisher : LPPM Politeknik Pratama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/bersatu.v1i3.319

Abstract

The concept of naskh and mansukh is very important to understand the development of Islamic law. With the existence of texts, the last verses of the Qur'an that were revealed are considered more valid and replace the previous verses. This study aims to examine the concepts of naskh (cancellation) and mansukh (absolute cancellation) in Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy's Tafsir Al-Qur'anul Majid An-Nur, and identify their implementation in the interpretation of Al-Qur'anic verses. In his commentary, Ash-Shiddieqy identifies verses that are considered as texts and mansukh, and explains the relationship between these verses. The research method used is text analysis with a qualitative approach. The results of the study show that Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy paid considerable attention to the concepts of naskh and mansukh in his interpretations. He described how changes to law or shari'a provisions were carried out through texts and mansukh. Apart from that, Ash-Shiddieqy also gave an explanation of the purpose and wisdom behind the cancellation of these verses. These previous studies have related or intersected the same problem, but in a very different context. This research makes an important contribution in understanding Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy's view of the concept of naskh and mansukh in the interpretation of the Qur'an. These findings can provide better insight into how a contemporary scholar understands and applies the concepts of naskh and mansukh in the interpretation of the Qur'an.
DILEMA HUKUMAN FISIK DALAM PENDIDIKAN: Telaah Kritis Perspektif Empat Aliran Pembelajaran Putra B., Muhammad Nuralamsyah; N., Abd. Muid; Lubis, Zakaria Husin; Thulfitrah B., Nurlathifah
Jurnal Diskursus Islam Vol 13 No 3 (2025): Desember: Pendidikan, Menajemen, Bahasa Arab
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v13i3.55671

Abstract

Artikel ini membahas tentang praktik hukuman fisik dalam pendidikan telah menjadi perdebatan panjang di kalangan akademisi dan praktisi pendidikan. Sebagian pihak berpendapat bahwa hukuman fisik efektif dalam menanamkan disiplin, sementara yang lain menyoroti dampak negatifnya terhadap perkembangan psikologis dan emosional siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan hukuman fisik dalam pendidikan dari perspektif empat teori pembelajaran utama: behaviorisme, kognitivisme, humanisme, dan konstruktivisme. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menelaah berbagai literatur yang membahas hubungan antara teori pembelajaran dan efektivitas hukuman fisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa behaviorisme cenderung membenarkan penggunaan hukuman fisik sebagai alat penguatan negatif untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. Sebaliknya, kognitivisme, humanisme, dan konstruktivisme menolak hukuman fisik karena dapat menghambat proses pembelajaran, merusak motivasi intrinsik, serta mengganggu perkembangan sosial dan emosional siswa. Implikasi dari temuan ini menegaskan pentingnya penerapan metode disiplin alternatif yang lebih humanis dan berbasis pemahaman, seperti pemberian penguatan positif dan pendekatan reflektif. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi bagi pendidik dalam merancang strategi disiplin yang lebih sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan modern yang menekankan pembelajaran yang efektif dan empatik.
KONTROVERSI PENAFSIRAN ATAS AYAT AL-QUR’AN TENTANG SYAHWAT Shohibul Azka; Nur Rofiah; Zakaria Husin Lubis
JUTEQ: JURNAL TEOLOGI & TAFSIR Vol. 2 No. 3 (2025): MARET
Publisher : Adisam Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The issue of women continues to be a hot topic for discussion. One aspect of this is the social stigma that women are often perceived as temptresses, liars, skilled in deception, and sources of scandal. This stigma persists in society. Some verses, such as Qs. Ali Imran/3:14 and Qs. Yusuf/12:28, are frequently used as justification. These two verses are generally associated with lust, which is often understood as something negative and only attributed to women. This paper presents research results on two opposing interpretations of these verses and then analyzes the strengths and weaknesses of each interpretation and their impact on the welfare of both men and women. This research is a library study, where the authors collect data from two conflicting interpretations of the verses and then analyzes and presents it using qualitative methods. The authors also apply the theory of al-Dakhîl and the theory of Mubâdalah. Based on the theory of al-Dakhîl, distortions in the interpretation of lust and inconsistencies in connecting the verses are found dan based on the theory of Mubâdalah, it is found that both men and women possess lust, as lust is a natural disposition in every human being. It can be good or bad, depending on how it is managed. The goodness or badness of lust cannot be attributed to only one gender, as both men and women can have the same potential.
Renaissance dan Pergeseran Epistemologi Barat: Analisis Kritis terhadap Paradigma Sains Bebas Nilai dan Krisis Etika Teknologi Modern: The Renaissance and the Shift in Western Epistemology: A Critical Analysis of Value- Free Science and Technological Ethics Dinda Aulia Putri; Zakaria Husin Lubis
Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 10 No. 1 (2026): Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam
Publisher : University of Darussalam Gontor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tasfiyah.v10i1.1

Abstract

Modern science has generated technological advancements with significant destructive potential, including nuclear weapons and genetic engineering, despite the normative expectation that scientific inquiry should be grounded in ethical values that uphold human dignity. This disjunction originates from an epistemological shift during the Renaissance, when elements of the Islamic intellectual tradition were selectively appropriated while their theological foundations were marginalized, resulting in a value-free scientific paradigm. This study examines this epistemological transformation, analyzes its implications for contemporary technology, and proposes a framework through the integration of maqāṣid al-Syarī‘ah and qawā‘id fiqhiyyah. It employs a qualitative library-based methodology with historical, comparative, and synthetic-prospective analyses. The findings indicate three key points. First, there is a substantive link between the Renaissance epistemological shift and the modern technological ethical crisis. Second, critiques of technological exploitation are not limited to Islamic thought but are also expressed by Western thinkers such as Jürgen Habermas; however, the Islamic framework provides a more systematic and hierarchical ethical model. Third, this framework demonstrates practical relevance, particularly in prohibiting nuclear weapons based on ḥifẓ al-nafs and the principle lā ḍarar wa lā ḍirār, as well as in classifying embryo selection as taḥsīniyyāt. This study argues that reintegrating revelatory values into science is essential to ensure that technological progress remains aligned with human dignity.
MAKNA LAFAZ YAD YANG DISEMATKAN KEPADA ALLAH DALAM AL-QUR’AN Fahru Reza Hakim; Abd. Muid Nawawi; Zakaria Husin Lubis
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 1 No. 2 (2024): Vol. 1 No. 2 Edisi April 2024
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v1i2.93

Abstract

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Ia tidak sama dengan sesuatu apapun, dan tidak ada satu pun makhluk yang setara dengan-Nya, namun disaat yang sama Allah juga mengatakan di dalam Al-Qur’an bahwa Ia memiliki ‘tangan’, yang mana tangan sendiri merupakan salah satu sifat makhluk seperti manusia dan hewan. Sifat ‘tangan’ Allah ini selanjutnya ditafsirkan dengan metode yang berbeda-beda diantara ulama Islam sehingga menghasilkan penafsiran yang berbeda-beda pula. Diantara metode tersebut yang berkembang hingga saat ini adalah metode Takwil dan metode Tafwîdh yang keduanya dipakai oleh pengikut mazhab al-Asy’ariy dan al-Maturidiy, dan kemudian metode al-Itsbât yang dibangun oleh Ibn Taimiyyah dan disebarkan oleh para pengikutnya dan pengikut Muhammad ibn Abd al-Wahhab an-Najdiy hingga saat ini. Oleh karena itu menarik untuk meniliti tentang berbagai metode tersebut dalam menafsirkan sifat ‘tangan’ Allah dan kemudian mengkomparasikan satu dengan yang lainnya. Penelitian ini menggunakan metode tafsir komparatif dan Maudhû’i, dengan pendekatan kualitatif dan teknik pengumpulan data studi pustaka.
Qur’anic, Sufistic, and Philosophical Foundations of a Love-Based Curriculum: A Comparative Analysis of Ibn ‘Arabī and al-Fakhr al-Rāzī Ikhlas Budiman; Otong Surasman; Zakaria Husin Lubis; Jun Firmansyah; Mulyani Mulyani
Kanz Philosophia: A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism Vol. 12 No. 1 (2026): June
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Sadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20871/kpjipm.v12i1.600

Abstract

This study investigates the concept of love in the works of Ibnu Arabi and al-Fakhr al-Rāzī to elucidate the Qur’anic, Sufistic, and philosophical foundations of the Love-Based Curriculum (KBC). The research seeks to develop an integrative model by analyzing Ibn ‘Arabī’s Sufi-metaphysical perspective and al-Rāzī’s philosophical-exegetical approach, as well as their respective contributions to the KBC. Employing qualitative library research, the study analyzes data using content and comparative methods. The comparative analysis centers on the five pillars of the love-based curriculum: (1) love of God and His Messenger, (2) love of knowledge, (3) love of the environment, (4) love of oneself and others, and (5) love of the homeland. The findings indicate that Ibn ‘Arabī conceptualizes love as an ontological principle of divine self-disclosure (tajallī) that connects al-ḥaqq and creation, while al-Rāzī interprets love within a rational, psychological, and ethical framework aimed at human perfection. Although their approaches differ, both thinkers assert that love is intrinsic to the structure of existence and the primordial nature (fiṭrah) of humanity. This convergence is evident in their epistemological, ecological, social, and spiritual perspectives. Consequently, the KBC is presented as a transformative model that integrates Qur’anic, Sufi, and philosophical sources to foster spiritual awareness, ethical responsibility, ecological consciousness, and social harmony by establishing love as a foundational principle in education and human development.
Analisis Pandangan Quraish Shihab dan Fazlur Rahman tentang Isu LGBT dalam Perspektif Al-Qur’an Abd. Gofur; Zakaria Husin Lubis; Badru Tamam
Jurnal Global Ilmiah Vol. 3 No. 3 (2025): Jurnal Global Ilmiah
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/jgi.v3i3.317

Abstract

Isu LGBT merupakan salah satu problematika kontemporer yang memunculkan beragam respon dalam wacana keagamaan, khususnya dalam studi Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan Muhammad Quraish Shihab dan Fazlur Rahman terhadap isu LGBT berdasarkan interpretasi mereka terhadap ayat-ayat terkait dalam Al-Qur’an. Dengan menggunakan pendekatan studi pustaka dan analisis komparatif, penelitian ini mengkaji metode penafsiran kedua tokoh, latar epistemologis pemikiran mereka, serta implikasi hermeneutis yang muncul dari penafsiran tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Quraish Shihab menekankan pemahaman yang kontekstual namun tetap berpegang pada batasan normatif syariat, dengan menyoroti perilaku kaum Nabi Luth sebagai penyimpangan moral dan sosial. Sementara itu, Fazlur Rahman menafsirkan ayat-ayat tersebut dalam kerangka etika Al-Qur’an yang lebih luas, dengan fokus pada prinsip keadilan, integritas moral, dan tujuan syariat. Meskipun keduanya sepakat bahwa praktik homoseksual bertentangan dengan nilai-nilai Al-Qur’an, perbedaan muncul pada pendekatan hermeneutis, keluasan konteks sosial, dan penekanan etis yang diberikan. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tafsir kontemporer mengenai isu-isu modern serta membuka ruang dialog antara teks suci dan dinamika sosial masyarakat.
PENYULUHAN PRAKTIK ZIKIR AL-GHAZALI DAN IBNU QAYYIM DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DI MASJID AN-NUR, BABELAN BEKASI Muhammad Hariyadi; Isep Saepul Maslul; Zakaria Husin Lubis; Ahmad Zain Sarnoto; Misbahul Munir
MADANI Abdimas : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): MADANI Abdimas | Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : MPP: Lembaga Penelitian Dan Studi Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah sama-sama mengartikan zikir merupakan suatu ibadah hati yang dilakukan dengan mengingat Allah Swt dan menyebutkannya di dalam hati yang diucapkan oleh lisan. al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah sama-sama membagi zikir sesuai dengan tingkatan zikirnya, al-Ghazali mengatakan didalam kitab nya tingkatan zikir tersebut dengan lisan, hati dan ketiadaan (fana). Sedangkan ibn Qayyim mengatakan tingkatan zikir itu dengan zhahir, tersembunyi, dan hakiki. Disamping itu al-Ghazali dan ibn Qayyim al-Jauziyyah berbeda dalam hal tujuan zikir, al-Ghazali menyatakan tujuan dari zikir itu agar menuju kesempurnaan ma’rifah kepada Allah Swt, sedangkan ibn Qayyim al-Jauziyyah menyatakan dalam kitab nya madârijus sâlikîn tujuan zikir kepada Allah itu agar mendapatkan ketenangan hati/Thu’maninah sesuai firman Allah dalam surah al-Rad/13:28. Penulisan jurnal ini juga dilatar belakangi oleh munculnya individualistis egoistis, dan materialistis yang akan mendatangkan dampak berupa kegelisan, kecemasan, stress, dan depresi. Melihat kenyataan seperti itu yang mencapai puncak kenikmatan materi justru berbalik dari apa yang diharapkan, yakni mereka dihadapi rasa cemas. Beragam permasalahan tersebut sering berakibat buruk pada kesehatan mental individu yang akan berujung pada adanya gangguan mental atau jiwa serta hatinya tidak tenang dan zikir merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini di dasarkan pada Riset Pustaka (Library Research) yakni proses pengidentifikasian secara sistematis penemuan-penemuan dan analisa dokumen-dokumen yang memuat informasi berkaitan dengan masalah penelitian. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisa deskriptif yaitu sebuah analisa dengan menceritakan secara mendalam tentang zikir dalam Pandangan al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah serta perbandingan pendapat pada keduanya baik dari perbedaan maupun persamaan nya