Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search
Journal : conference proceeding on waste treatment technology

Identifikasi Waktu Kontak Karbon Aktif Sekam Padi sebagai Adsorben Logam Berat Timbal (Pb) Okky Nugroho; Denny Dermawan; Adhi Setiawan
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 1 No. 1 (2018): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan industri beserta kegiatannya akan menimbulkan limbah yang menimbulkan masalah bagilingkungan. Dampak yang ditimbulkan berupa pencemaran logam berat. Salah satunya logam berat Pb (Timbal). Timbal merupakan salah satu logam yang sangat berbahaya dan dapat menimbulkan masalah kesehatan apabila terakumulasi dalam tubuh, untuk mengantisipasi hal tersebut perlu dilakukan upaya untuk menurunkan kadar logam berat Pb. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penurunan kadar logam berat Pb yang dipengaruhi oleh variasi waktu kontak (35, 75, dan 115 menit) dengan konsentrasi awal 12,16 ppm, serta mendapatkan nilai daya serap adsorben sekam padi melalui uji Atomic Absorption Spectrofotometri. Metode dalam penelitian ini meliputi tahap sebagai berikut : Pembuatan karbon aktif sekam padi, proses aktivasi karbon secara kimia, Analisa SEM (Scanning Elektron Microscope), pembuatan larutan Pb(NO3)2, dan uji adsorpsi. Parameter yang dianalissdalam penelitian ini adalah Logam berat Timbal (Pb) dan parameter keberhasilan dari penelitian ini adalah % penurunan tertinggi pada logam berat timbal (Pb) di limbah cair. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil penurunan kadar logam berat Pb tertinggi pada waktu kontak 115 menit.
Pemanfaatan Waste Sludge Treatment untuk Menurunkan Total Suspended Solid Qurrotul Aini; Adhi Setiawan; Ahmad Erlan Afiuddin
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 1 No. 1 (2018): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses koagulasi-flokulasi di perusahaan pembangkit listrik menghasilkan limbah lumpur. Selama ini limbah lumpur belum dilakukan pemanfaatan secara optimal dan setiap 2 dua tahun diserahkan ke pihak ketiga untuk dilakukan pengolahan, oleh karena itu perlu diadakan riset tentang pengolahan dan pemanfaaatan limbah lumpur outlet dari proses Waste Water Treatment Plant (WWTP). Limbah lumpur digunakan sebagai bahan koagulan dikenal sebagai Sludge Reagent Product (SRP) dengan melakukan metode pengasaman yaitu menambahkan variasi konsentrasi HCl sebesar 1 N, 2 N dan 3 N dalam konsentrasi lumpur sebesar 1%. Metode jart test telah dilakukan dengan Penambahan variasi dosis SRP sebesar 4 ml/L, 6 ml/L, 8 ml/L, 10 ml/L. Parameter yang diuji dalam penelitian ini adalah Total suspended solid (TSS), yang mana dengan penambahan dosis SRP 10 ml/L untuk masing- masing konsentrasi SRP 1 N, 2 N, 3 N mampu meningkatkan efisiensi removal sebesar 53,94%, 69,69%, 79,39%. Penurunan TSS terbesar pada dosis SRP 3 N sebesar 10 ml/L. Semakin tinggi konsentrasi HCl dan dosis koagulan SRP semakin tinggi pula tingkat efisiensi removal TSS, dengan demikian SRP berpotensi menjadi bahan alternatif pengganti koagulan yang sebelumnya dipakai.
Identifikasi Pengaruh pH Terhadap Kemampuan Biosorpsi Saccharomyces cerevisiae dalam Mengurangi Kadar Cu Fariz Basyiruddin; Adhi Setiawan; Denny Dermawan
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 1 No. 1 (2018): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu jenis logam berat yang memiliki sifat esensial yaitu tembaga (Cu). Cu dibutuhkan oleh organisme dalam jumlah tertentu. Cu dapat bersifat toksik dan membunuh organisme dalam jumlah yang melebihi. Biosorpsi merupakan salah satu teknologi yang memanfaatkan mikroorganisme dalam mengurangi kadar logam berat pada air limbah. Terdapat berbagai mikroorganisme yang dapat dijadikan sebagai biosorben, salah satunya yaitu Saccharomyces cerevisiae. Mikroorgnasime ini banyak digunakan dalam industri bir pada proses fermentasi dan memiliki dinding sel yang kaya akan protein, sehingga cocok digunakan sebagai biosorben. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemampuan biosorben Saccharomyces cerevisiae dalam mengurangi kadar Cu yang dipengaruhi oleh pH awal larutan. Proses pembuatan biosorben terdapat beberapa tahapan yaitu pengendapan, penyaringan dan pengeringan. pH yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 3, 4 dan 5. Pengontakkan antara biosorben dengan larutan Cu 25 mg/L menggunakan magnetic stirrer sebagai pengaduknya selama 1, 2 dan 3 jam. Konsentrasi akhir Cu setelah dikontakkan dengan biosorben diukur dengan menggunakan spektrofotometer Uv-Vis yang telah terkalibrasi. Pada penelitian ini, didapatkan hasil pada pH 3 waktu kontak 1 jam berat biosorben 0,25 gr persen penurunannya 15,2%, pada pH 4 waktu kontak 1 jam berat biosorben 0,25 gr persen penurunannya 43,92%. Pada pH 5 waktu kontak 1 jam berat biosorben 0,25 gr persen penurunannya 47,4%. Dari seluruh hasil penelitian didapatkan kesimpulan bahwa semakin tinggi pH awal larutan, maka semakin besar pula persen removal-nya.
Identifikasi Komponen FAME(Fatty Acid Methyl Ester) pada Biodiesel yang Disintesis dari Minyak Goreng Bekas Rakhmad Faizal Yudha; Adhi Setiawan; Novi Eka Mayangsari
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 1 No. 1 (2018): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak goreng bekas merupakan salah satu minyak nabati yang dihasilkan dari kelapa sawit. Selama ini minyak goreng bekas merupakan limbah bagi ibu rumah tangga, bahkan dibuang sembarangan. Minyak goreng bekas dapat digunakan alternatif sebagai pengganti solar dikarenakan sifat komposisi fisika-kimia antara biodiesel dan solar yang memiliki kemiripan. Potensi dari minyak goreng bekas adalah ketersediaan produksinya kontinyu dibandingkan jenis bahan yang lain. Minyak goreng bekas dapat digunakan sebagai biodiesel dengan catatan dilakukan proses ­de-gumming, esterifikasi dan transesterifikasi terlebih dahulu. Tujuan pada penelitian ini adalah mengidentifikasi komposisi FAME yang dilakukan menggunakan alat GC-MS pada biodiesel dari bahan dasar minyak goreng bekas dengan metode yang sudah ada, yaitu dengan proses de-gumming, esterifikasi, dan transesterifikasi terlebih dahulu. Hasilnya yaitu minyak goreng bekas yang disintesis menjadi biodiesel memiliki yield 71,43% dengan kandungan FAME sebesar 99,35% yang terdiri atas metil palmitat, metil oleat, metil stearat, dan metil miristat masing-masing 49,08%, 44,62%, 4,01%, dan 1,68%.
Komparasi Efektivitas Karbon Aktif Pabrikan, Karbon Aktif Tempurung Kelapa dan Karbon Aktif Kayu Mahoni terhadap Penurunan Nilai BOD, TSS dan Turbidity Febi Oktafiharto; Adhi Setiawan; Novi Eka Mayangsari
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 1 No. 1 (2018): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa Parameter air limbah dalam sebuah indusrti farmasi tidak memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan, parameter tersebut adalah BOD, TSS dan turbidity. Salah satu cara untuk menurunkan nilai dari parameter tersebut adalah dengan menggunakan karbon aktif. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas karbon aktif pabrikan, karbon aktif tempurung kelapa dan karbon aktif kayu mahoni dalam penurunan nilai BOD, TSS dan turbidity jika ditinjau dari efisiensi removal BOD, TSS dan turbidity dengan variasi massa karbon aktif (200 gram dan 300 gramn) dan waktu operasional karbon aktif (2,5 menit, 5 menit, 7,5 menit dan 10 menit). Efisiensi removal BOD, TSS dan turbidity karbon aktif tempurung kelapa dengan massa 300 gram selama 7,5 menit merupakan yang tertinggi diantara lainnya, dimana efisiensi removal BOD mencapai 64,6%, efisiensi removal TSS mencapai 77,8% dan efisiensi removal turbidity mencapai 78,46%.
Penggunaan Lidah Buaya sebagai Biokoagulan di Industri Minyak Dara Puspitasari; Adhi Setiawan; Tanti Utami Dewi
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 1 No. 1 (2018): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan produksi di industri minyak kelapa sawit menghasilkan limbah yang biasa disebut Palm Oil Mill Effluent (POME). Palm Oil Mill Effluent (POME) memiliki karakteristik yaitu cairan kental yang berwarna coklat tua, berlumpur, mengandung suspensi koloid yang tinggi, dan memiliki bau yang tidak sedap. Koagulasi – flokulasi merupakan teknologi pengolahan yang tepat untuk menurunkan kadar suspensi pada air limbah minyak kelapa sawit. Salah satu unit pengolahan pada IPAL industri minyak adalah koagulasi – flokulasi dengan menggunakan koagulan sintetis. Pembubuhan bahan sintetis dengan dosis yang kurang tepat menyebabkan kualitas efluen IPAL fluktuatif. Selain itu, penggunaan koagulan sintetis menyebabkan volume lumpur yang dihasilkan tinggi. Oleh karena itu, peneliti akan melakukan analisa penggunaan biokoagulan lidah buaya dan biji kelor sebagai pengganti koagulan sintetis pada IPAL industri minyak. Dosis biokoagulan lidah buaya yang digunakan adalah 500 mL / 500 mL aquades. Berdasarkan hasil pengujian, didapatkan konsentrasi awal COD, TSS dan kekeruhan yaitu sebesar 338,2 mg/L, 220,25 mg/L, dan 20,25 NTU. Dari hasil pengujian jar test, didapatkan konsentrasi COD, TSS dan kekeruhan sebesar 76,05 mg/L, 120,5 mg/L, dan 4,15 NTU dengan konsentrasi optimum biokoagulan 60 mL/L, sehingga didapatkan efisiensi removal COD, TSS dan kekeruhan sebesar 77,51%, 45,29% dan 79,51%.
Penurunan Konsentrasi COD, TSS, dan Fluoride pada Limbah Cair Industri Asam Fosfat Menggunakan Elektrokoagulasi Herdika Afiant Bimantara; Adhi Setiawan; Novi Eka Mayangsari
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 1 No. 1 (2018): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu industri asam fosfat menghasilkan air limbah dari berbagai proses seperti kegiatan blowdown, pencucian gypsum, dan kondensat. Air limbah tersebut diolah pada unit Waste Water Treatment (WWT) dengan metode koagulasi flokulasi kimia. Penggunaan bahan kimia yang tinggi serta perlengkapan mekanik dalam chemical preparation memiliki operating cost yang cukup besar. Terdapat teknologi pengolahan air limbah yang dinamakan elektrokoagulasi. Elektrokoagulasi merupakan metode pengolahan air limbah yang dapat meminimalisir bahkan tidak membutuhkan bahan kimia, sehingga perlu dilakukan sebuah penelitian tentang pengolahan air limbah industri asam fosfat menggunakan metode elektrokoagulasi. Penelitian dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan reaktor dengan dimensi 25 cm x 30 cm x 25 cm serta pelat elektroda aluminium sebesar 0,1 cm x 5 cm x 20 cm. Air limbah yang digunakan berasal dari industri asam fosfat dengan volume sebesar 13,5 liter diolah secara batch lalu diukur konsentrasi dari COD, TSS, dan Fluoride. Hasil pengukuran kandungan COD, TSS, dan Fluoride dianalisis pengaruh dari nilai tegangan yang digunakan yakni 10 Volt, 20 Volt, dan 30 Volt dengan jarak antar pelat elektroda sebesar 0,5 cm. Dari penelitian ini didapatkan penurunan konsentrasi tertinggi untuk COD adalah 640,675 mg/liter; TSS sebesar 701,955 mg/liter; dan Fluoride sebesar 15,615 mg/liter dengan menggunakan tegangan listrik sebesar 30 V.
Recovery Amonium Hidroksida (NH4OH) dari Limbah Regenerasi Mengandung (NH4)2SO4 dengan Menggunakan Distilasi Vakum Asadina Kusma Cahyaninggalih; Adhi Setiawan; Novi Eka Mayangsari
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 1 No. 1 (2018): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Amonium hidroksida (NH4OH) adalah senyawa basa bentuk dari amonia (NH3) yang terionisasi dan terlarut dalam air. Amonia bereaksi secara reversibel dengan air menghasilkan ion amonium (NH4+) dan ion hidroksida (OH-). Amonium hidroksida digunakan di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menerapkan All Volatile Treatment sebagai pengatur pH air baku pada kisaran 9,1 – 9,4 agar peralatan terjaga dari korosi dan juga untuk menghindari kondiktivitas melebihi 0,2 µS/cm agar tidak terjadi scalling. Terdapat unit Condensate Polisher yang berfungsi sebagai proteksi apabila Condenser mengalami kebocoran. Di dalamnya terjadi proses ion exchange oleh resin kation-anion untuk menukar ion NH4+, Na+, Cl-,SO42-. Seiring waktu resin tersebut akan jenuh, sehingga dilakukan proses regenerasi. Limbah regenerasi ini mengandung ion NH4+ dalam senyawa (NH4)2SO4 yang selanjutnya akan diproses di Ammonia Recovery Plant (ARP) untuk direcovery menjadi NH4OH. Penelitian ini dilakukan untuk mengetehui pengaruh pH (8, 9, 10, 11, 12) dan temperatur (52⁰C, 57⁰C, 62⁰C, 67⁰C, 72⁰C) terhadap recovery NH4OH dari limbah regenerasi Condensate Polisher. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat distilasi skala laboratorium pada tekanan vakum 40 kPa selama 120 menit dan analisanya menggunakan metode Spektrofotometri. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa recovery NH4OH dengan hasil paling besar adalah pada kondisi pH 12 dan tempratur 62⁰C yaitu dengan persen recovery sebesar 61,08 %.
Studi Penggunaan Dosis Koagulan PAC (Poly Aluminium Chloride) dan Flokulan Polymer Anionic Pada Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu Pury Erlanda Sabilina; Adhi Setiawan; Ahmad Erlan Afiuddin
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 1 No. 1 (2018): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses produksi dari industri tahu menghasilkan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair dengan kadar organik yang cukup tinggi. Kandungan bahan organik yang tinggi akan menurunkan kualitas air apabila dibuang langsung ke lingkungan. Industri tahu adalah industri kecil yang membutuhkan pengolahan dengan investasi biaya yang kecil dan lahan yang kecil. Tujuan dari penelitian ini menganalisis karakteristik air limbah tahu dan penggunaan koagulan dan flokulan. Metode penelitian ini dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap pertama analisis karakteristik air limbah serta tahap kedua yaitu pengujian jartest. Hasil pengujian, parameter BOD5, COD dan TSS belum memenuhi standart baku mutu Pergub Jatim No. 52 tahun 2014. Konsentrasi awal COD, BOD5 dan TSS air limbah industri menunjukan masing-masing sebesar 853,56 mg/L ; 468,50 mg/L dan 836,88 mg/L. Hasil pengujian jartest, dosis optimum koagulan dan flokulan yang dapat digunakan dalam pengolahan limbah tahu yaitu sebesar 30 mg/L PAC dan 2 mg/L polymer anionic dengan hasil akhir konsentrasi BOD5, COD dan TSS masing-masing sebesar 86,9 mg/L ; 181,8 mg/L dan 198,1 mg/L. Pada dosis tersebut memberikan efisiensi penurunan pada parameter BOD5, COD, dan TSS yaitu sebesar 81,5% ; 78,70% dan 76,3%.
Pengaruh Massa Ragi dan Waktu Fermentasi terhadap Kadar Bioetanol Air Limbah Pencucian dari Tangki Dissolving Industri Kecap Achmad Fatoni; Adhi Setiawan; Tarikh Aziz Ramadani
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air limbah pencucian tangki dissolving di industri kecap belum banyak dimanfaatkan karena memiliki kadarCOD sebesar 299.999,99 mg/l. Air limbah pencucian tangki dissolving dapat dimanfaatkan menjadi bioetanolkarena mengandung glukosa sebesar 7,55%. Tujuan penelitian ini yaitu memanfaatkan air limbah pencucian tangkidissolving menjadi bahan baku pembuatan bioetanol melalui dua tahap, yaitu fermentasi menggunakanSaccharomyces cereviceae dan destilasi menggunakan rotary vacuum evaporator. Variasi proses fermentasi yaitumassa ragi sebanyak0 gram, 2 gram, 5 gram, dan 8 gram serta waktu fermentasi selama 4 hari, 7 hari, dan 10hari. Pengukuran kadar bioetanol pada penelitian ini menggunakan alat hidrometer. Hasil penelitianmenunjukkan rata-rata kadar bioetanol tertinggi sebesar 53,5% diperoleh dari sampel yang difermentasi selama7 hari dengan penambahan 5 gram ragi.