Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Komparasi Efektivitas Karbon Aktif Pabrikan, Karbon Aktif Tempurung Kelapa dan Karbon Aktif Kayu Mahoni terhadap Penurunan Nilai BOD, TSS dan Turbidity Febi Oktafiharto; Adhi Setiawan; Novi Eka Mayangsari
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 1 No. 1 (2018): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa Parameter air limbah dalam sebuah indusrti farmasi tidak memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan, parameter tersebut adalah BOD, TSS dan turbidity. Salah satu cara untuk menurunkan nilai dari parameter tersebut adalah dengan menggunakan karbon aktif. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas karbon aktif pabrikan, karbon aktif tempurung kelapa dan karbon aktif kayu mahoni dalam penurunan nilai BOD, TSS dan turbidity jika ditinjau dari efisiensi removal BOD, TSS dan turbidity dengan variasi massa karbon aktif (200 gram dan 300 gramn) dan waktu operasional karbon aktif (2,5 menit, 5 menit, 7,5 menit dan 10 menit). Efisiensi removal BOD, TSS dan turbidity karbon aktif tempurung kelapa dengan massa 300 gram selama 7,5 menit merupakan yang tertinggi diantara lainnya, dimana efisiensi removal BOD mencapai 64,6%, efisiensi removal TSS mencapai 77,8% dan efisiensi removal turbidity mencapai 78,46%.
Penggunaan Lidah Buaya sebagai Biokoagulan di Industri Minyak Dara Puspitasari; Adhi Setiawan; Tanti Utami Dewi
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 1 No. 1 (2018): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan produksi di industri minyak kelapa sawit menghasilkan limbah yang biasa disebut Palm Oil Mill Effluent (POME). Palm Oil Mill Effluent (POME) memiliki karakteristik yaitu cairan kental yang berwarna coklat tua, berlumpur, mengandung suspensi koloid yang tinggi, dan memiliki bau yang tidak sedap. Koagulasi – flokulasi merupakan teknologi pengolahan yang tepat untuk menurunkan kadar suspensi pada air limbah minyak kelapa sawit. Salah satu unit pengolahan pada IPAL industri minyak adalah koagulasi – flokulasi dengan menggunakan koagulan sintetis. Pembubuhan bahan sintetis dengan dosis yang kurang tepat menyebabkan kualitas efluen IPAL fluktuatif. Selain itu, penggunaan koagulan sintetis menyebabkan volume lumpur yang dihasilkan tinggi. Oleh karena itu, peneliti akan melakukan analisa penggunaan biokoagulan lidah buaya dan biji kelor sebagai pengganti koagulan sintetis pada IPAL industri minyak. Dosis biokoagulan lidah buaya yang digunakan adalah 500 mL / 500 mL aquades. Berdasarkan hasil pengujian, didapatkan konsentrasi awal COD, TSS dan kekeruhan yaitu sebesar 338,2 mg/L, 220,25 mg/L, dan 20,25 NTU. Dari hasil pengujian jar test, didapatkan konsentrasi COD, TSS dan kekeruhan sebesar 76,05 mg/L, 120,5 mg/L, dan 4,15 NTU dengan konsentrasi optimum biokoagulan 60 mL/L, sehingga didapatkan efisiensi removal COD, TSS dan kekeruhan sebesar 77,51%, 45,29% dan 79,51%.
Penurunan Konsentrasi COD, TSS, dan Fluoride pada Limbah Cair Industri Asam Fosfat Menggunakan Elektrokoagulasi Herdika Afiant Bimantara; Adhi Setiawan; Novi Eka Mayangsari
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 1 No. 1 (2018): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu industri asam fosfat menghasilkan air limbah dari berbagai proses seperti kegiatan blowdown, pencucian gypsum, dan kondensat. Air limbah tersebut diolah pada unit Waste Water Treatment (WWT) dengan metode koagulasi flokulasi kimia. Penggunaan bahan kimia yang tinggi serta perlengkapan mekanik dalam chemical preparation memiliki operating cost yang cukup besar. Terdapat teknologi pengolahan air limbah yang dinamakan elektrokoagulasi. Elektrokoagulasi merupakan metode pengolahan air limbah yang dapat meminimalisir bahkan tidak membutuhkan bahan kimia, sehingga perlu dilakukan sebuah penelitian tentang pengolahan air limbah industri asam fosfat menggunakan metode elektrokoagulasi. Penelitian dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan reaktor dengan dimensi 25 cm x 30 cm x 25 cm serta pelat elektroda aluminium sebesar 0,1 cm x 5 cm x 20 cm. Air limbah yang digunakan berasal dari industri asam fosfat dengan volume sebesar 13,5 liter diolah secara batch lalu diukur konsentrasi dari COD, TSS, dan Fluoride. Hasil pengukuran kandungan COD, TSS, dan Fluoride dianalisis pengaruh dari nilai tegangan yang digunakan yakni 10 Volt, 20 Volt, dan 30 Volt dengan jarak antar pelat elektroda sebesar 0,5 cm. Dari penelitian ini didapatkan penurunan konsentrasi tertinggi untuk COD adalah 640,675 mg/liter; TSS sebesar 701,955 mg/liter; dan Fluoride sebesar 15,615 mg/liter dengan menggunakan tegangan listrik sebesar 30 V.
Recovery Amonium Hidroksida (NH4OH) dari Limbah Regenerasi Mengandung (NH4)2SO4 dengan Menggunakan Distilasi Vakum Asadina Kusma Cahyaninggalih; Adhi Setiawan; Novi Eka Mayangsari
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 1 No. 1 (2018): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Amonium hidroksida (NH4OH) adalah senyawa basa bentuk dari amonia (NH3) yang terionisasi dan terlarut dalam air. Amonia bereaksi secara reversibel dengan air menghasilkan ion amonium (NH4+) dan ion hidroksida (OH-). Amonium hidroksida digunakan di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menerapkan All Volatile Treatment sebagai pengatur pH air baku pada kisaran 9,1 – 9,4 agar peralatan terjaga dari korosi dan juga untuk menghindari kondiktivitas melebihi 0,2 µS/cm agar tidak terjadi scalling. Terdapat unit Condensate Polisher yang berfungsi sebagai proteksi apabila Condenser mengalami kebocoran. Di dalamnya terjadi proses ion exchange oleh resin kation-anion untuk menukar ion NH4+, Na+, Cl-,SO42-. Seiring waktu resin tersebut akan jenuh, sehingga dilakukan proses regenerasi. Limbah regenerasi ini mengandung ion NH4+ dalam senyawa (NH4)2SO4 yang selanjutnya akan diproses di Ammonia Recovery Plant (ARP) untuk direcovery menjadi NH4OH. Penelitian ini dilakukan untuk mengetehui pengaruh pH (8, 9, 10, 11, 12) dan temperatur (52⁰C, 57⁰C, 62⁰C, 67⁰C, 72⁰C) terhadap recovery NH4OH dari limbah regenerasi Condensate Polisher. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat distilasi skala laboratorium pada tekanan vakum 40 kPa selama 120 menit dan analisanya menggunakan metode Spektrofotometri. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa recovery NH4OH dengan hasil paling besar adalah pada kondisi pH 12 dan tempratur 62⁰C yaitu dengan persen recovery sebesar 61,08 %.
Studi Penggunaan Dosis Koagulan PAC (Poly Aluminium Chloride) dan Flokulan Polymer Anionic Pada Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu Pury Erlanda Sabilina; Adhi Setiawan; Ahmad Erlan Afiuddin
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 1 No. 1 (2018): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses produksi dari industri tahu menghasilkan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair dengan kadar organik yang cukup tinggi. Kandungan bahan organik yang tinggi akan menurunkan kualitas air apabila dibuang langsung ke lingkungan. Industri tahu adalah industri kecil yang membutuhkan pengolahan dengan investasi biaya yang kecil dan lahan yang kecil. Tujuan dari penelitian ini menganalisis karakteristik air limbah tahu dan penggunaan koagulan dan flokulan. Metode penelitian ini dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap pertama analisis karakteristik air limbah serta tahap kedua yaitu pengujian jartest. Hasil pengujian, parameter BOD5, COD dan TSS belum memenuhi standart baku mutu Pergub Jatim No. 52 tahun 2014. Konsentrasi awal COD, BOD5 dan TSS air limbah industri menunjukan masing-masing sebesar 853,56 mg/L ; 468,50 mg/L dan 836,88 mg/L. Hasil pengujian jartest, dosis optimum koagulan dan flokulan yang dapat digunakan dalam pengolahan limbah tahu yaitu sebesar 30 mg/L PAC dan 2 mg/L polymer anionic dengan hasil akhir konsentrasi BOD5, COD dan TSS masing-masing sebesar 86,9 mg/L ; 181,8 mg/L dan 198,1 mg/L. Pada dosis tersebut memberikan efisiensi penurunan pada parameter BOD5, COD, dan TSS yaitu sebesar 81,5% ; 78,70% dan 76,3%.
Pengaruh Massa Ragi dan Waktu Fermentasi terhadap Kadar Bioetanol Air Limbah Pencucian dari Tangki Dissolving Industri Kecap Achmad Fatoni; Adhi Setiawan; Tarikh Aziz Ramadani
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air limbah pencucian tangki dissolving di industri kecap belum banyak dimanfaatkan karena memiliki kadarCOD sebesar 299.999,99 mg/l. Air limbah pencucian tangki dissolving dapat dimanfaatkan menjadi bioetanolkarena mengandung glukosa sebesar 7,55%. Tujuan penelitian ini yaitu memanfaatkan air limbah pencucian tangkidissolving menjadi bahan baku pembuatan bioetanol melalui dua tahap, yaitu fermentasi menggunakanSaccharomyces cereviceae dan destilasi menggunakan rotary vacuum evaporator. Variasi proses fermentasi yaitumassa ragi sebanyak0 gram, 2 gram, 5 gram, dan 8 gram serta waktu fermentasi selama 4 hari, 7 hari, dan 10hari. Pengukuran kadar bioetanol pada penelitian ini menggunakan alat hidrometer. Hasil penelitianmenunjukkan rata-rata kadar bioetanol tertinggi sebesar 53,5% diperoleh dari sampel yang difermentasi selama7 hari dengan penambahan 5 gram ragi.
Proses Fotokatalitik Kandungan Zat Warna Metilen Biru pada Air Limbah Artifisial menggunakan Bentonit Terimpregnasi N-TiO2 Vira Fadilah Qur’ani; Adhi Setiawan; Tarikh Azis Ramadani
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zat warna metilen biru dalam air limbah menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan karena bersifattoksik dan karsinogenik. Metode fotokatalisis merupakan bagian dari Advanced Oxidation Process (AOP).Doping nitrogen pada TiO2 menghasilkan katalis N-TiO2, sehingga proses fotokatalisis dapat dilakukanpada cahaya tampak. Pengimpregnasian N-TiO2 dengan bentonit teraktivasi dilakukan untuk meningkatkankemampuan metode fotokatalisis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas N-TiO2/bentonitteraktivasi dengan konsentrasi komposit sebesar 0,02 gram/100 mL metilen biru 25 ppm. Prosesfotokatalisis-adsorpsi dilakukan secara batch pada rasio mol N:Ti (1:1 dan 3:1), waktu iradiasi (15-120menit) dan sumber foton (dengan iradiasi dan tanpa iradiasi). Penyisihan metilen biru paling optimumdidapatkan pada proses fotokatalitik selama 120 menit. N-TiO2/bentonit teraktivasi rasio N:Ti 1:1 mampumereduksi kandungan metilen biru dengan efektivitas sebesar 97,977% (dengan iradiasi) dan 77,589%(tanpa iradiasi). N-TiO2/bentonit teraktivasi rasio N:Ti 3:1 mampu mereduksi kandungan metilen birudengan efektivitas sebesar 77,74% (dengan iradiasi) dan 81,134% (tanpa iradiasi). Kinetika reaksi denganiradiasi cenderung berlangsung pada orde nol.
Analisis Karakteristik, Komposisi dan Timbulan Sampah Non-B3 di TPS Tanjung Tembaga Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Sagita Eka Hardiyani; Adhi Setiawan; Luqman Cahyono
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penanganan sampah di Pelabuhan Tanjung Perak masih dilakukan dengan menerapkan pola lama yaitu pengumpulan sampah, pengangkutan sampah, dan pembuangan sampah ke TPA. Dengan jumlah timbulan sampah yang sangat tinggi, dapat menyebabkan semakin tingginya beban pengolahan sampah di TPA Benowo. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi timbulan, komposisi, dan karakteristik sampah non B3 di TPS Tanjung Tembaga.. Metode pengukuran dan sampling sampah menggunakan SNI 19-364-1994. Jumah sampah pada tahun perkiraan (tahun ke-10 perencanaan) mencapai 10035 Kg/hari dengan timbulan sebesar 7,24 kg/orang.hari. Komposisi sampah dan kadar air TPS Tanjung Tembaga terdiri dari 17% sampah daun (40%), 30% sampah sisa makanan (60%), 3% sampah kertas (10%), 7% sampah kayu (10%), 5% kain (30%), 2% karet (0%), 13% plastik (10%), 2% kaca (0%). Densitas rata-rata sampah yaitu 173,71 Kg/m3. Hasil studi akan digunakan sebagai dasar dalam perencanaan Material Recovery Factor(MRF) di TPS Tanjung Tembaga.
Pemanfaatan Pasir Silika Limbah Sandblasting sebagai Substitusi Agregat Halus pada Structral Lightweight Foamed Concrete (SLFC) Sri Sugiartiningsih; Adhi Setiawan; Wahyuniarsih Sutrisno
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasir silika limbah sandblasting dihasilkan dari proses blasting untuk mencegah terjadinya korosi pada permukaan logam. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 22 Tahun 2021 Lampiran IX, limbah sandblasting merupakan limbah B3 sehingga tidak dapat dibuang langsung ke lingkungan. Oleh karena itu, pada penelitian ini berfokus pada pemanfaatan limbah sandblasting sebagai material pengganti agregat halus pada Structural Lightweight Foamed Concrete (SLFC) dengan metode solidifikasi. Sampel beton yang digunakan yaitu tanpa pasir limbah sandblasting dan 100% dengan limbah sandblasting yang kemudian di uji kelayakan teknisnya dengan uji kuat tekan yang mengacupada ACI 357R-14 dan uji kelayakan lingkungan menggunakan TCLP berdasarkan PP No 22 Tahun 2021. Hasil pengujian kuat tekan pada beton penambahan limbah sandblasting sebesar 0% dan 100% menghasilkan kuat tekan sebesar 19,9 MPa dan 37,3 MPa diumur 28 hari. Berdasrkan hasil uji TCLP pada beton SLFC dengan konsentrasi limbah sandblasting 100% sebagai pengganti agregat halus terbukti layak teknis dan lingkungan.
Pemanfaatan Bottom Ash sebagai Suplementary Cement Material (SCM) dalam Pembuatan Beton Self Compacting Concrete (SCC) Moh. Najib Rizal; Adhi Setiawan; Kiki Dwi Wulandari
Conference Proceeding on Waste Treatment Technology Vol. 5 No. 1 (2022): Conference Proceeding on Waste Treatment Technology
Publisher : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsumsi batu bara di Indonesia saat ini mencapai 131,887 juta ton pada Tahun 2020 dan akan meningkat setiap tahunnya. Bottom ash yang terbentuk juga akan meningkat sebanding dengan konsumsi batu bara yang digunakan. Bottom ash dapat diprediksi menjadi bahan pengganti semen dikarenakan terdapat kandungan silika yang hampir sama dengan semen sebesar 29,04% dan semen sebesar 17-25%. Penelitian ini bertujuan untuk modifikasi bottom ash agar dapat dimanfaatkan menjadi beton self compacting concrete (SCC). BetonSCC mengacu pada ASTM 237R-07. Modifikasi bottom ash dilakukan dengan metode grinding selama 4 jam. Grinding bottom ash bertujuan untuk mengurangi ukuran bottom ash dan pori – pori partikel. Hasil grinding bottom ash mempunyai berat jenis 2,94 g/cm3 lebih kecil terhadap densitas semen yaitu 3,03 gr/cm3. Beton dengan variasi substitusi bottom ash 0% (BA0) dan 30% (BA3) dilakukan pengujian kuat tekan pada umur 7 dan 28 hari. Kuat tekan beton BA3 pada umur 7 dan 28 hari lebih besar terhadap kuat tekan beton BA0 atautanpa substitusi. Serpihan beton BA3 yang telah diuji kuat tekan dilakukan pengujian TCLP Cr6+ agar dapat memastikan tidak mengandung limbah B3 yang melebihi baku mutu berdasarkan PP. no. 22 tahun 2021. Hasil TCLP memunjukkan bahwa beton tidak termasuk B3 karena tidak melebihi baku mutu TCLP A, B, dan C.