Claim Missing Document
Check
Articles

Effectiveness of application of Helichrysum italicum essential oil in wound healing: report of 3 cases Wijayadi, Linda Julianti; Pratiwi, Dian
Journal of Midwifery and Nursing Vol. 6 No. 2 (2024): May: Health Science
Publisher : Institute Of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/jmn.v6i2.4854

Abstract

Helichrysum italicum (Hi) essential oil is commonly used in wound healing. Hi is an option for treating acute wounds, especially bleeding wounds. Coconut oil has also long been used for various skin disorders including wound healing and microbial infections. The high amount of antioxidants will be useful against free radicals which are considered the main cause of inflammation during the wound healing process. Hi essential oil was chosen because of its antimicrobial, anti-inflammatory, and wound-healing activities, all of which supported the wound-healing process in the three patients in this case report. The purpose of this case report is to determine the effectiveness of using Hi essential oil in healing wounds. We report 3 patients with wounds treated with topical Hi 10% essential oil in virgin coconut oil (VCO) applied three times daily until healed. All cases showed good wound healing without secondary infection. Despite the irritating side effects in patient 2, all three patients were satisfied with the results. The use of Hi 10% essential oil in VCO has advantages in terms of antimicrobial and anti-inflammatory effects on wound healing without secondary infection so it needs to be studied further as an alternative therapy option in wound healing
Kadar Hidrasi Kulit Tangan Akibat Penggunaan Hand Sanitizer Dan Cuci Tangan Pada Lansia Penghuni Dua Panti Werdha Jakarta Era Pandemi COVID-19 Asyer, Aynnie Christabel; Wijayadi, Linda Julianti
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is an infectious disease caused by Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Washing hands and using hand sanitizer is one way to prevent it. The use of hand sanitizers and washing hands more frequently causes an increase in Transepidermal Water Loss (TEWL) and a decrease in skin hydration levels. In elderly skin, the epidermal turnover rate and re-epithelialization are reduced, resulting in an increase in TransEpidermal Water Loss (TEWL). This study aims to determine whether or not there is a risk of decreasing skin hydration levels due to the use of hand sanitizers and hand washing and to find out the description of skin hydration based on age, gender and frequency of using hand sanitizers and washing hands in the elderly during the COVID-19 pandemic era. This study is a cross-sectional descriptive study with 94 subjects using a questionnaire and checking skin hydration levels using the SK-IV corneometer. Results: In the study, the average hydration level of the use of hand sanitizer was 10 times 36.4% and the average level of hydration for hand washing was 10 times 35.15%.
Gambaran Hidrasi Kulit dan Dermatitis Kontak Alergi pada Mahasiswa FK UNTAR Angkatan 2021 Pengguna Hand Sanitizer Saedi, Aura Justitia Leonita Faradila; Wijayadi, Linda Julianti
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i01.169

Abstract

Penggunaan hand sanitizer telah meningkat secara signifikan di kalangan mahasiswa, termasuk di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Namun, penggunaan rutin hand sanitizer dapat mempengaruhi kadar hidrasi kulit dan meningkatkan risiko dermatitis kontak alergi. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dan bersifat deskriptif.  Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa angkatan 2021 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Kadar hidrasi kulit diukur menggunakan alat ukur korneometer, sementara keberadaan dermatitis kontak alergi dinilai dengan anamnesis melalui kuesioner dan didukung dengan pemeriksaan fisik melalui google form. Hasil penelitian menunjukkan penurunan kadar hidrasi kulit tangan banyak dialami oleh perempuan dibanding laki-laki dan 28 subjek penelitian mengalami gejala dermatitis kontak alergi. Penggunaan hand sanitizer yang berlebihan dapat berkontribusi pada penurunan kadar hidrasi kulit dan meningkatkan risiko dermatitis kontak alergi di kalangan mahasiswa. Langkah-langkah preventif dan perawatan perlu dipertimbangkan untuk meminimalkan dampak negatif penggunaan hand sanitizer pada kulit.
Nevus Melanositik Kongenital Raksasa dan Kelainan Kongenital Ekstremitas pada Bayi Baru Lahir Cayadi Sidarta Antonius; Linda Julianti Wijayadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i1.31

Abstract

Nevus Melanositik sejak lahir ditemukan pada satu persen anak di dunia dengan ukuran bervariasi. Salah satu varian nevus melanositik yang sangat jarang, berukuran sangat besar, yakni Nevus Melanositik Kongenital Raksasa (NMKR). Pada tulisan ini dilaporkan kasus NMKR disertai kelainan kongenital ekstremitas. Seorang bayi perempuan lahir di puskesmas dengan partus spontan dirujuk ke IGD, 3-4 jam setelah lahir. Terdapat bercak hitam di area perut, punggung, dan paha. Didapatkan juga perbedaan panjang tungkai, serta hanya ada 3 jari di kaki kanan. Tatalaksana diberi pelembap. Kasus ini jarang; diperlukan konsultasi dan observasi teratur untuk meningkatkan dan memperpanjang harapan hidup. Melanocytic Nevus since birth is found in one percent of children in the world with variable severity. One of the rare variant is very large melanocytic nevus variant called Giant Congenital Melanocytic Nevus (GCMN). This paper reported a case of GCNM accompanied with congenital abnormalities of the extremities. A baby girl who was born spontaneously in a clinic, was referred to the emergency department about 3-4 hours after her birth. The abnormalities were black spots in the abdominal area, back, and thighs. The patient also had different length of legs differences with only 3 toes on right foot. The patient was given moisturizer. GCMN case accompanied with congenital limb abnormalities is rare; regular consultation and observation are required to improve and prolong survival.
Peran Helichrysum italicum sebagai Anti Inflamasi pada Terapi Dermatitis Atopi Aryananda Haris Wardoyo; Andrew Soerijadi; Linda Julianti Wijayadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i12.331

Abstract

Dermatitis atopik (DA) merupakan salah satu penyakit inflamasi kulit kronis yang terjadi dengan karakteristik kulit kering, berskuama, dan eritema. Pengobatan DA selain terapi konvensional atau penggunaan biologic agent, diteliti juga pengobatan alternatif menggunakan bahan alami; di antaranya Helichrysum italicum. Manfaat H. italicum adalah sebagai anti-mikroba, anti-inflamasi, anti-viral, anti-oksidan, dan anti-larvisidal. Sudah ada aplikasi H. italicum sebagai terapi tambahan dan alternatif penderita DA. Atopic dermatitis (AD) is a chronic inflammatory skin disease that occurs with dry, scaly, and erythematous skin characteristics. AD treatment apart from conventional therapy or the uses of biologic agents, alternative treatments using natural ingredients are also being studied; including Helichrysum italicum. The benefits of H. italicum are as anti-microbial, anti-inflammatory, anti-viral, anti-oxidant, and anti-larvicidal. There is already an application of H. italicum as an additional and alternative therapy for AD sufferers.
Uremic Frost - Kelainan Kulit pada Gagal Ginjal Kronik Nathasia; Linda Julianti Wijayadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 9 (2020): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i9.567

Abstract

Uremic frost merupakan kelainan kulit yang jarang, karena ditemukan pada pasien gagal ginjal kronik yang belum menjalani hemodialisis. Kelainan ini ditandai dengan lapisan putih kekuningan akibat kristal urea yang mengendap di permukaan kulit. Seorang wanita 44 tahun datang dengan keluhan utama kulit kering, bersisik, dan gatal seluruh tubuh sejak 1 bulan. Pasien baru didiagnosis gagal ginjal kronik. Pada pemeriksaan dermatologi didapatkan makula hiperpigmentasi, berbatas tegas, multipel, ukuran lentikular-plakat, dan krusta putih kekuningan. Tatalaksana dermatologi uremic frost adalah dengan pelembap dan antihistamin oral, pengobatan lebih lanjut untuk penyakit ginjal yang mendasari. Uremic frost is a rare skin disorder, found in chronic kidney failure patients who have not undergone hemodialysis. This disorder is characterized by yellowish white layer on the skin surface due to urea crystals. A 44-year-old female patient presented with dry, scaly, and itchy skin on the whole body in the last 1 month. The patient has just been diagnosed with chronic kidney failure. Dermatological examination revealed hyperpigmented macules, well-defined, multiple, lenticular-placard size and also a yellowish-white crust. Management in dermatology is with moisturizers and oral antihistamines, further treatment should be given to underlying kidney disease.
Dari CLE ke SLE: Laporan Kasus dari Rumah Sakit Setempat: Laporan Kasus Kelvin; Louis Rianto; Linda Julianti Wijayadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 52 No 6 (2025): Kesehatan Jiwa
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v52i6.1281

Abstract

Introduction: Lupus erythematosus (LE) is a combination of various interrelating autoimmune clinical diseases. Cutaneous lupus erythematosus (CLE) is a spectrum of typical autoimmune skin features of systemic lupus erythematosus (SLE). A good recognition of the typical appearance of this skin lesion (CLE) enables diagnosis and good management of SLE. Case: A 26-year-old female with SLE with acute skin lessions (ACLE) skin lesions. Suspicion of SLE became stronger when the antinuclear antibody (ANA) titer reached 1:3,200. The main therapy is methylprednisolone injection followed by a gradual dose reduction. The patient was treated for 6 days in hospital and all lesions improved. Conclusion: The patient in this case had SLE with 6 clinical domains in the EULAR/ACR 2019 criteria and a total score of 34 (>10). Earlier and more accurate diagnosis of SLE can make therapy more effective, especially if CLE is already present.
KORELASI KOMPOSISI LEMAK TUBUH, KOMPOSISI OTOT TUBUH, KEKUATAN GENGGAMAN TANGAN, HEMOGLOBIN, HEMATOKRIT, GULA DARAH, KOLESTEROL, DAN ASAM URAT DENGAN PORFIRIN KULIT PADA KELOMPOK LANJUT USIA Julianti, Linda; Moniaga, Catharina Sagita; Gunaidi, Farell Christian; Herdiman, Alicia; Setia, Nicholas; Firmansyah, Yohanes
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v4i1.34315

Abstract

Latar Belakang: Penuaan menyebabkan perubahan fisiologis yang memengaruhi komposisi tubuh, metabolisme, dan kesehatan kulit. Salah satu aspek penting dalam kesehatan kulit adalah mikrobiota, terutama Cutibacterium acnes (C. acnes), yang menghasilkan porfirin sebagai bagian dari metabolismenya. Produksi porfirin dapat dipengaruhi oleh faktor metabolik, seperti komposisi lemak dan otot tubuh, kadar hemoglobin, hematokrit, gula darah, kolesterol, dan asam urat. Telah diketahui bahwa disregulasi metabolik dapat mempengaruhi kadar porfirin kulit, terutama melalui lingkungan mikrobiota kulit. Namun, penelitian mengenai hal tersebut masih belum banyak dilakukan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara komposisi lemak tubuh, komposisi otot tubuh, kekuatan genggaman tangan (KGT), kadar hemoglobin, hematokrit, gula darah puasa, kolesterol, dan asam urat dengan kadar porfirin kulit pada kelompok lanjut usia. Metode: Studi ini menggunakan desain penelitian potong lintang (cross-sectional), melibatkan 22 lansia dengan pengukuran parameter metabolik melalui pemeriksaan laboratorium dan kadar porfirin kulit menggunakan analisa kulit wajah. Analisis korelasi Spearman digunakan untuk mengevaluasi hubungan antara variabel independen dengan kadar porfirin kulit. Hasil dan Pembahasan: Kadar gula darah puasa dan kadar asam urat menunjukkan korelasi negatif sedang yang signifikan terhadap kadar porfirin kulit (p < 0,05). Sementara itu, variabel lain seperti komposisi tubuh, kekuatan genggaman tangan, hemoglobin, hematokrit, dan kolesterol tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Kesimpulan: Disregulasi metabolik dapat mempengaruhi lingkungan mikrobiota kulit yang mempengaruhi kadar porfirin kulit.
Prosedur diagnostik radiologi non-invasif pada penyakit kulit: Tinjauan literatur Wijayadi, Linda Julianti; Karinnia; Kelvin
Tarumanagara Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v7i1.34106

Abstract

Diagnosis yang tepat suatu penyakit kulit merupakan hal penting dalam menatalaksana penyakit tersebut. Namun, prosedur diagnostik standar emas, yaitu biopsi kulit memerlukan biaya yang mahal. Kemajuan dalam teknologi pencitraan dapat membantu mendiagnosis suatu penyakit kulit. Tujuan dari studi ini ialah untuk melakukan tinjauan literatur mengenai peran modalitas pencitraan non-invasif dalam menilai pasien dengan penyakit kulit inflamasi. Studi literatur ini menggunakan basis data yang dikumpulkan dari Pubmed dan Cochrane dengan tahun publikasi artikel dari 2014 hingga 2024. Kata kunci yang digunakan ialah skin and ultrasound atau confocal atau impedance atau optoacoustic atau diagnosis dan inflamasi. Sebanyak 6 artikel studi disertakan dalam studi tinjauan literatur ini. Studi tersebut menjelaskan tentang reflectance confocal microscopy (RCM), optical coherence tomography (OCT) dan ultrasonografi (USG) pada penyakit kulit. Ultrasonografi merupakan modalitas yang paling umum digunakan pada penyakit kulit terutama dengan keterlibatan organ lain, meskipun resolusinya rendah. Studi ini menunjukkan bahwa teknologi non-invasif dapat digunakan untuk menggambarkan dengan baik beberapa penyakit kulit.
PERAN EDUKASI DAN PEMERIKSAAN KADAR AIR DAN MINYAK KULIT DALAM UPAYA PENCEGAHAN KERUSAKAN KULIT DI CENGKARENG Wijayadi, Linda Julianti; Santoso, Alexander Halim; Destra, Edwin; Sugiarto, Hans; Averina, Frilliesa
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 3 No. 3 (2025): Juni
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v3i3.2608

Abstract

Keseimbangan kadar air dan minyak pada permukaan kulit merupakan indikator penting untuk menilai integritas sawar epidermis. Ketidakseimbangan kedua parameter tersebut sering kali berhubungan dengan pola asupan nutrisi yang tidak adekuat. Kegiatan edukasi dan pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi dini kondisi kulit berdasarkan analisis kadar air dan minyak menggunakan perangkat skin analyzer digital, sekaligus memberikan edukasi individual mengenai pentingnya hidrasi dan konsumsi mikronutrien. Pemeriksaan dilakukan di lengan bawah pada 57 peserta usia produktif di Sekolah Yayasan Baptis Cengkareng. Hasil menunjukkan rerata kadar air sebesar 53,47% (rentang 41,14–63,9), kadar minyak 24,1% (18,5–28,7), dan hidrasi gabungan 56,33%. Mayoritas peserta memiliki kadar normal, namun kelompok dengan kadar rendah tetap ditemukan. Temuan ini digunakan sebagai dasar edukasi personal yang menekankan pentingnya konsumsi air, buah dan sayuran segar, serta zat gizi mikro yang mendukung hidrasi kulit. Pemeriksaan ini terbukti efektif sebagai alat skrining praktis dan sarana edukasi berbasis hasil dalam pencegahan gangguan kulit akibat ketidakseimbangan nutrisi. Kata Kunci: Hidrasi Kulit, Kadar Minyak, Skin Analyzer, Skrining