Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Agroteksos

Refleksi kemempanan sistem bedeng permenen dalam mitigasi kelangkaan air di tanah vertisol tadah hujan Lombok Selatan IGM. Kusnarta; Mahrup .; Sukartono .; M. Ma’shum
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 26 No 1 (2016): jurnal agroteksos 1 April 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sistem bedeng permanen (permanent raised beds) telah terbukti sebagai sebuah sistem penyiapan lahan pertanian untuk berbagai komoditas yang sensitif terhadap suasana kelebihan air (water logging). Penelitian lapangan di tanah Vertisol tadah hujan, bertipe iklim D4, yang didisain menurut rancangan Acak Kelompok berblok, mengungkap sebuah luaran (output) yang merefleksikan suatu kemempanan sistem tersebut dalam mitigasi kondisi kelangkaan air pada lahan tadah hujan dengan jenis tanah Vertisol. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi parameter kemampuan sistem bedeng permanen, seperti gejala kapiler, efisiensi pemakaian air (EPA) tanaman, dan hasil tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala kapiler pada sistem bedeng secara nominal mampu menurunkan potensial lengas tanah pada zone perakaran tanaman cabai merah, terjadi peningkatan EPA dan peningkatan hasil aktual cabai merah. Aplikasi mulsa jerami pada sistem bedeng permanen (P1) secara konsisten unggul dibandingkan perlakuan-perlakuan pupuk kandang (P2), jerami dan pasir (P3), maupun pupuk kandang dan pasir (P4). Indikasi kemempanan sistem bedeng yang diberikan jerami tercermin pada potensial lengas -0,384kPa, laju kenaikan kapiler 1,26 mm/menit, EPA 1,62 kg/m3 air, dan potensial hasil 5,66 ton/ha. Abstract Permanent raised beds technology has been proven to be an agricultural land preparation system for various commodities that are sensitive to the water logging condition. Field research on rainfed vertisol with the climate type of D4, which is designed according to the Randomized block, revealing an outcome that reflects the mitigation of water scarcity conditions in rainfed vertisol. The purpose of this research is to identify some parameters that indicate the capabilities of permanent raised beds in mitigation of water scarcity, such as capillary rise, crop water use efficiency (WUE), as well as crop yield. The results showed that the capillary raise in the permanent raised beds technology could nominally lowering the soil moisture potential of the root zone of red pepper, increased WUE and increase the actual yield of red pepper. Straw mulch application on permanent raised beds (P1) is consistently superior to application of manure (P2), straw plus sand (P3), and manure plus sand (P4). The effectiveness of permanent raised beds system appear under rice straw application that resulted in soil water potential of -0,384kPa, the rate of capillary rise of 1.26 mm/min, WUE of 1.62 kg/m3, and the potential yield of 5.66 tones/ha.
3. DINAMIKA LENGAS TANAH DAN PERTUMBUHAN AKAR TANAMAN KEDELAI PADA BERBAGAI TINGKAT KEPADATAN TANAH H.M. Tarudi; IGM. Kusnarta; Mahrup Mahrup
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 13 No 4 (2003): Jurnal Agroteksos januari 2003
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.388 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian rumah kaca untuk mengkaji dinamika lengas tanah dan pertumbuhan akar serta hasil tanaman kedelai, varitas Wilis, pada berbagai tingkat pemadatan tanah telah dilakukan sejak bulan September hingga Desember 2002. Tanah vertisol ditempatkan pada wadah dari kayu dengan ukuran luas permukaan 20 cm x 20 cm, dan tinggi 70 cm sebelum dilakukan pemadatan. Enam perlakuan kompaksi yang diuji meliputi: tanpa ditekan (kontrol), ditekan hingga kepadatan 100; 200, 300, 400 dan 500 kPa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemadatan tanah yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata pada dinamika lengas di dalam profil tanah. Pemadatan hingga 500 kPa menghasilkan jumlah kandungan lengas jauh di bawah kondisi kapasitas lapang, yaitu mendekati kondisi titik layu. Pertumbuhan akar tanaman kedelai yang dinyatakan dengan panjang akar dan jumlah nodul menunjukkan gejala yang sangat terhambat pada perlakuan pemadatan yang tertinggi (500 kPa). Panjang akar dan jumlah nodul pada pemadatan 500 kPa tersebut, masing-masing adalah 7,5 cm dan 25,3 buah. Panjang akar pada perlakuan pemadatan tertinggi ini terhambat hingga 66% dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Hasil tanaman yang dinyatakan oleh jumlah polong berisi menunjukkan perbedaan antar perlakuan pemadatan tanah. Semakin tinggi pemadatan tanah, maka jumlah polong yang dihasilkan semakin rendah. Jumlah polong terendah (51,3 buah/pot) diperoleh pada tingkat pemadatan tanah 500 kPa. Jumlah tersebut 50 % lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan kontrol. ABSTRACT Green house experiment was conducted to evaluate the effect of soil compaction on water dynamic in the soil profile from 0 to 60 cm depth, root length, and yield of soybean varietyof wilis from September to December 2002. Vertiosol soils were placed into the box made from wood with the surface area of 20 cm x 20 cm, and 70 cm depth before pressed to some degree of compaction as the treatments. There were six treatments evaluated i.e.: without pressure (control), compaction 200, 300, 400, and 500 kPa. Results of the experiment indicate that degree of compaction has a significant effect on soil water dynamic through the soil profile. The soil compaction up to 500 kPa resulted in the lowest soil moisture, that is close to the wilting point. Root length and number of effective nodule were highly inhibited by the soil strength of 500 kPa up to 66%. The average of root length and number of nodule were 7.5 cm and 25.3, respectively. Crop yield, which was indicated by number of filled pods was significantly different among treatments. The higher degree of soil compaction, the lower number of filled pods. The filled pods under 500 kPa soil strength was 50% lower compared to that of control.
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Ketan Tanpa Olah Tanah Tugal Langsung Pasca Padi Konvensional dan Sistem Aerobik Tumpangsari Kacang Tanah Ni Wayan Dwiani Dulur; Wayan Wangiyana; I Gusti Made Kusnarta; Nihla Farida
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 29 No 2 (2019): Jurnal Agroteksos Agustus 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.423 KB) | DOI: 10.29303/agroteksos.v29i2.443

Abstract

Di lahan sawah, petani umumnya menanam tanaman palawija termasuk tanaman jagung pada musim kemarau setelah padi sawah, ketika ketersediaan air irigasi tidak cukup untuk tanam padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik budidaya padi antara sistem konvensional dan sistem irigasi aerobik pada bedeng tumpangsari dengan kacang tanah terhadap pertumbuhan dan komponen hasil tanaman jagung ketan varietas lokal Bima, yang ditugal langsung pasca padi tanpa olah tanah. Percobaan dilaksanakan di lahan sawah Desa Beleke, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, dari bulan September sampai Desember 2018, yang ditata menurut Rancangan Split Plot dengan tiga blok (ulangan) dan dua faktor perlakuan. Faktor petak utama adalah teknik budidaya padi beras merah (T1= konvensional; T2= sistem aerobik tumpangsari dengan kacang tanah yang ditanam-sisip antar barisan padi), dan faktor anak petak adalah pola barisan padi beras merah (B1= barisan normal atau single row; B2= barisan kembar atau double row; B3= barisan triple row). Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik budidaya padi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan komponen hasil tanaman jagung ketan, yaitu lebih tinggi jika ditanam pasca padi sistem aerobik tumpangsari dengan kacang tanah dibandingkan dengan pasca padi kovensional. Pola barisan padi pada umumnya tidak berpengaruh terhadap komponen hasil tanaman jagung ketan, namun terdapat interaksi yang signifikan antara kedua faktor perlakuan penanaman padi beras merah terhadap panjang tongkol dan berat biji pipilan kering per tanaman jagung ketan pasca padi beras merah. Hasil biji jagung ketan tertinggi pada barisan double-row (183,2 g/tanaman) atau single-row (164,1 g/tanaman) jika ditugal langsung pasca padi sistem aerobik tumpangsari dengan kacang tanah, sedangkan jika pasca padi konvensional, hasil biji tertinggi pada pola barisan triple-row (58,4 g/tanaman).
PENGARUH CARA PENGOLAHAN TANAH DAN SISTEM ROTASI TANAMAN TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAH ALFISOL DI DAERAH TRANSMIGRASI LABANGKA KABUPATEN SUMBAWA C.S. Rahardjo1; I. Yasin1; I G.M. Kusnarta1
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 7 No 3 (1997): JURNAL ILMIAH AGROTEKSOS 1997
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.109 KB)

Abstract

ABSTRAK Sistem pengelolaan tanah dan tanaman yang tepat akan menjamin kelestarian produktivitas tanah dan pembangunan pertanian berkelanjutan. Suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengolahan tanah dan pola rotasi tanaman terhadap produktivitas lahan dan besarnya kehilangan tanah telah dilaksanakan pada musim tanam 1995/1996 pada tanah Alfisol (Haplustalf) di Labangka III, Plampang, Kabupaten Sumbawa. Percobaan lapang tersebut menggunakan rancangan acak lengkap kelompok dengan penataan faktorial 3 x 3. Faktor pertama adalah cara pengolahan tanah yang terdiri atas tanpa olah (TOT); pengolahan minimum (OTM), dan pengolahan sempurna (OTS). Faktor kedua adalah pola rotasi tanaman yang terdiri atas padi IR 36+cabe/bawang merah; padi IR 74+cabe/ubi jalar; dan kacang tanah+cabe/kacang hijau. Peubah yang diamati meliputi hasil tanaman dan berat tanah tererosi. Data dianalisis dengan sidik ragam pada P < 5% dan uji BNJ pada P < 5 %. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cara pengolahan tanah tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil tanaman musim hujan (padi IR 36, IR 74 dan kacang tanah) dan hasil tanaman musim kemarau (bawang merah, ubi jalar dan kacang hijau); akan tetapi berpengaruh sangat nyata pada kehilangan tanah. Dengan penerapan tanpa pengolahan tanah kehilangan tanah dapat ditekan menjadi 53% dibanding dengan dengan pengolahan konvensional. Dengan demikian, sistem tanpa olah tanah lebih unggul ditinjau dari kecilnya jumlah tanah yang tererosi. Kacang tanah adalah tanaman musim hujan yang memberikan penghasilan tertinggi, sedangkan kacang hijau merupakan tanaman musim kemarau lebih menguntungkan dibandingkan dengan bawang merah dan ubijalar. Penumpangsarian cabe disela-sela tanaman musim hujan yang dilanjutkan dengan penumpangan tanaman palawija disela-sela cabe merupakan strategi yang tepat untuk meningkatkan hasil suatu usahatani.. Secara keseluruhan, rotasi tanaman yang terbaik dari tiga macam rotasi yang diteliti ditinjau dari sumbangan nilai ruapiahnya adalah kacang tanah + cabe//cabe + kacang hijau. Selain itu, ditinjau dari segi produktivitas tanah, sistem rotasi di atas adalah yang paling besar mengembalikan nitrogen ke dalam tanah. ABSTRACT Appropriate land management and cropping system may ensure long term soil productivity and agricultural sustainability. A research to study the effects of soil tillage methods and crop rotation on land productivity, amount of soil loss, and farmer income and to find the best combination of crop rotation and soil tillage method was conducted in 1995/1996 cropping season on a sloping-dry land of an Alfisol (Type Haplustalf) in Transmigration Settlement Unit (TSU) Labangka III, Sub-district of Plampang, the Regency of Sumbawa. The field experiment was designed into a Randomised Complete Block Design (RCBD) in a 3x3 factorial lay out. Three levels of soil tillage (zero tillage, minimum tillage, and conventional tillage) were combined with three levels of crop rotation (IR36+chili/onion, IR74+chili/sweet potato, and peanut+chili/mungbean). The variables measured include plant growth, yields and soil loss. The data were then analysed statistically using ANOVA at P < 0.05, continued with Tukey test at P < 0.05. The results of experiment showed that tillage methods were not significantly affected the growth and yield of both rainy season crops and dry season crops; they did affect soil loss. With the application of notillage the soil loss could be reduced up to 53% compared to with conventional tillage. Thus, notillage management system is superior in dry-sloping land, such as in Labangka. Peanut gave the highest income for farmer in rainy season, while in dry season with very little rain mungbean evidently gave the best yield. Chilli intercropped with peanut resulted in the highest chilli population after peanut harvest, accordingly resulted in the highest yield after it intercropped with mungbean.. Over all, the best rotation found in this research was peanut + chilli continued with chilli + mungbean. The intercropping of chilli with rainy season crops continued with dry season crops may become the best strategy to improve total income of farmers.
APLIKASI PASIR DAN PUPUK KANDANG PADA BEDENG PERMANEN UNTUK PERBAIKAN SIFAT TANAH DAN PERTUMBUHAN PADI DI LAHAN VERTISOL TADAH HUJAN LOMBOK Ni Wayan Dwiani Dulur; I.G.M. Kusnarta; W. Wangiyana
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 25 No 1 (2015): Jurnal Agroteksos 2 Agustus 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.119 KB)

Abstract

ABSTRAK Karakteristik lahan vertisol yang kurang mendukung pertumbuhan tanaman adalah keras dan pecah-pecah di musim kemarau, tetapi liat serta lekat di musim hujan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh bahan pembenah tanah (pasir dan pupuk kandang) yang diaplikasikan pada bedeng permanen di lahan Vertisol tadah hujan Lombok, untuk memperbaiki sifat tanah dan pertumbuhan tanaman padi. Percobaan dimulai pada bulan Februari 2012, di lahan petani di desa Batujai, Lombok Tengah, yang diawali dengan pembuatan bedeng-bedeng berukuran 1,2 x 5 m. Ada 6 perlakuan yang diuji dalam suatu Rancangan Acak Kelompok, yaitu P0: Bedeng tanpa bahan pembenah tanah, P1: dengan pembenah tanah berupa Pasir, P2: Pasir dan pupuk kandang sapi (pukan) 15 t/ha, P3: Pasir dan pukan 25 t/ha, P4: Pasir dan pukan 35 t/ha, dan P5: Pasir dan pukan 45 t/ha. Pasir diberikan 20% lapisan tanah bagian atas bedeng sampai kedalaman 20 cm. Padi ditanam dengan tugal dengan jarak tanam 20 x 20 cm2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi pasir dan pupuk kandang pada bedeng vertisol dapat memperbaiki sifat tanah, yaitu menurunkan BV dan nilai COLE, serta meningkatkan kadar C organik dan stabilitas agregat. Perlakuan tersebut juga meningkatkan kestabilan bedeng dan pertumbuhan tanaman padi pada bedeng permanen, yaitu berat kering tanaman padi pada fase berbunga, tetapi tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan jumlah anakan per rumpun. ABSTRACT The characteristics of Vertisol land which are less supporting plant growth are hard and cracked in the dry season but clayey and sticky in the rainy season. This study aimed to evaluate the effect of soil amendments (sand and manure) applied on permanent raised-beds on rainfed Vertisols of Lombok, in order to improve soil properties and rice growth. The experiment was commenced in February 2012, on a farmers' field in Batujai village, Central Lombok, started with formation of permanent raised-beds of 1.2 x 5 m size each. There were 6 treatments tested in a randomized complete block design, i.e. P0: beds without application of soil amendments, P1: with application of river sand, P2: river sand and cattle manure of 15 t/ha, P3: river sand and cattle manure of 25 t/ha, P4: river sand and cattle manure of 35 t/ha, and P5: river sand and cattle manure of 45 t/ha. The sand (20% sand) was mixed with topsoil of the beds to a depth of 20 cm. Rice seeds were dibbled with planting space of 20 x 20 cm2. The results indicated that application of sand and manure on Vertisol beds improved soil properties, i.e. decreased volume density and COLE, and increased organic C content and aggregate stability. The treatments also improved bed stability and growth of rice on the permanent raised beds, i.e. dry weight of rice plants at flowering, but had no effect on plant height and tiller number per hill.
PENGARUH LIMBAH ORGANIK TERHADAP KADAR N, P DAN C TANAH SERTA KOMPONEN HASIL KACANG HIJAU TUGAL LANGSUNG PASCA PADI SISTEM IRIGASI AEROBIK Ni Wayan Dwiani Dulur; Muhammad Hamam Nasiruddin; Nihla Farida; I Gusti Made Kusnarta; Wayan Wangiyana
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 31 No 2 (2021): Jurnal Agroteksos Agustus 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agroteksos.v31i2.669

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh limbah orkanik terhadap ketersediaan nitrogen, fospor, C-organik tanah dan pertumbuhan serta hasil kacang hijau (Vigna radiata L.) yang ditugal langsung tanpa olah tanah pasca padi sistem irigasi aerobik, antara tumpangsari dengan kacang tanah dan tanpa tumpangsari. Percobaan dilaksanakan di Desa Beleke (Lombok Barat), yang ditata menurut Rancangan Petak Terbagi, dengan dua factor perlakuan, yaitu teknik budidaya padi aerobik musim sebelumnya, faktor petak utama (T1= monokrop, T2= tumpangsari padi-kacang tanah), dan aplikasi limbah organik, sebagai factor anak petak (L0= tanpa limbah, L1= sekam, L2= abu sekam, L3= abu sekam + Bokashi pupuk kandang sapi). Data dianalisis dengan analisis keragaman (ANOVA) dan uji BNJ pada taraf nyata 5% menggunakan program CoStat for Windows ver. 6.303. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh interaksi antara teknik budidaya padi dan aplikasi limbah organik pada padi sebelumnya terhadap tinggi tanaman 21, 35 dan 63 hari setelah tanam (hst), laju pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah polong berisi, yaitu tertinggi pada kacang hijau yang ditugal langsung pada bedeng bekas padi aerobik tumpangsari dengan kacang tanah dan aplikasi abu sekam dan pupuk Bokashi (T2L3). Teknik budidaya padi sebelumnya hanya berpengaruh terhadap tinggi tanaman kacang hijau pada 35, 49 dan 63 hst, yaitu tertinggi pasca padi tumpangsari (T2), sedangkan aplikasi limbah organik berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan laju pertumbuhannya, jumlah polong berisi, jumlah biji dan berat biji per rumpun, yaitu tertinggi pada aplikasi abu sekam + Bokashi (L3). Namun terhadap kadar N, P dan C-organik tanah, kedua faktor perlakuan tidak berpengaruh
THE SOIL CARBON STOCK IN THE TOURISM AREA OF GILI TRAWANGAN Astuti, Eni Widia; Bakti, Lalu Arifin Aria; Kusnarta, IGM; Selvia, Siska Ita
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 33 No 2 (2023): Jurnal Agroteksos Agustus 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agroteksos.v33i2.853

Abstract

This study aims to determine the distribution of carbon stocks in various land uses and total carbon stocks in the tourism area of ​​Gili Trawangan. This research was conducted in the Gili Trawangan area, Physics and Soil Conservation Laboratory, and Soil Chemistry and Biology Laboratory, Faculty of Agriculture, University of Mataram, in June-October 2022. The method used in this study was a descriptive method with a survey technique. The descriptive method can start with data collection, analysis and interpretation. Carbon in the soil in this study was obtained from the results of C-organic laboratory analysis (Walcky and Black) supported by measurements of soil unit weight (BV), soil porosity and soil texture. Meanwhile, aboveground carbon stocks were obtained through direct sampling in the field by measuring tree biomass. The results showed that the total carbon stocks in various land uses have different carbon stocks. The mixed garden had the highest carbon stock of 840.27 ton.ha-1, forest land of 83.76 ton.ha-1, and shrubs of 15.76 ton.ha-1, and the lowest carbon stock was a settlement of 3.01 ton. ha-1. Overall, carbon stocks in the tourist area of ​​Gili Trawangan are 942.8 ton.ha-1.
SERAPAN P DAN PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DENGAN PEMBERIAN BEBERAPA JENIS DAN KOMBINASI BAHAN ORGANIK PADA SISTEM IRIGASI TETES Lorinanggarani, Ray Harmida; Arifin, Zaenal; Bustan, Bustan; Kusnarta, I Gusti Made; Suriadi, Ahmad
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 34 No 1 (2024): Jurnal Agroteksos April 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agroteksos.v34i1.1038

Abstract

The objective of this research ia to know the uptake of P and growth of maize (Zea mays L.) as a result of the application of several types and combinations of organic materials using a drip irrigation system. This research used a randomized block design with 6 treatments and 3 replications: B0 (No Organic Material), B1 (10 tons/ha Manure), B2 (10 tons/ha Biochar), B3 (10 tons/ha Vermicompost), B4 (4.5 tons/ha Biochar + 4.5 tons/ha Vermicompost), B5 (4.5 tons/ha Biochar + 4.5 tons/ha Manure). The research results showed that the combination of organic materials and their combinations had a significant effect on P-Available soil, P-Total soil, Plant Height, Number of Leaves and Leaf Width. The application of organic material had no significant effect on soil pH and P uptake. The best treatment in this study was B1 treatment (10 tons/ha of Manure. The best combination in this study was B5, namely B5 (4.5 tons/ha Biochar + 4.5 tons/ha Manure).
Co-Authors , Kisman Agnia Mawaddah Agus Suroso Ahmad Suriadi, Ahmad Alghifari, Alif Satya Amni, Diya’ Islamiati Astuti, Eni Widia Baharuddin Abubakar Baiq Eliza Prizma Mahardhika Bakti, Lalu Arifin Aria Bambang Budi Santoso Bambang Hari Kusumo Bararah, Zakiyyatul Bustan Bustan Bustan, Bustan C.S. Rahardjo1 Dewi Astuti Dwi Ratna Anugrahwati Dwi Ratna Anugrawati Fadila Mawaddah Fahrudin fahrudin Fahrudin Fahrudin Fahrudin Fahrudin Fahrudin Fahrudin Fahrudin Fahrudin Fahrudin Fahrudin Fahrudin Fahrudin Fahrudin Fahrudin, Fahrudin Fauzi, Taufik H.M. Tarudi Hamkary Salam, Riza Hapsari Hurum, Puji I Dewa Gede Jaya Negara I Gusti Putu Muliarta Aryana I Gusti Putu Muliarta Aryana I Nym Soemeinaboedhy I Nym Soemeinaboedhy I Nym Soemeinaboedhy I Nyoman Soemeinaboedhy I Putu Silawibawa I Wayan Sudika I Wayan Sudika I Wayan Sutresna I Wayan Sutresna I Wayan Sutresna I. Yasin1 Isnaniar Rahmatul Azizah Januardi, Azril Jurnal Pepadu Khaerul Umam Lalu Arifin Aria Bakti Lolita Endang Susilowati Lorinanggarani, Ray Harmida M. Ma’shum M. Sarjan, M. M. Zairin Mahrup Mahrup Mahrup . Mahrup Mahrup Mahrup Mahrup Mahrup Mahrup Mahrup Mahrup Mahrup Mahrup Mahrup Mahrup Mahrup Mahrup, Mahrup Mahrup, Mahrup Mardianti Muhammad Hamam Nasiruddin Muhammad Sarjan Muhammad Tirzady Prasetyo Mukminah Mukminah, Mukminah Mukminah, Mukminah Mulyati Ni Wayan Dwiani Ni Wayan Dwiani Dulur Ni Wayan Dwiani Dulur Ni Wayan Dwiani Dulur Ni Wayan Sri Suliartini Nihla Farida Nihla Farida Nihla Farida Nurrachman Padusug, Padusung Padusung Padusung Padusung Padusung Padusung Padusung Padusung Padusung Padusung Padusung Permana, Wahyu Enggal Putu Silawibawa Raden Unangga Jaya W Reni Anggraeni Rohmaniati, Baiq Siti Rudy Fermana Sabariyah Sabariyah Sari, Diah Mala Satriawan, Muhammad Selvia, Siska Ita Shakila, Nur Asri Shakila, Nur Asri Soemeinaboedhy, I Nym Srirahardita Pamungkas Sukartno Sukartono Sukartono Sukartono Sukartono Sukartono Sukartono Suparman Susilowat, Lolita Endang Susilowat, Lolita Endang Sutriono Sutriono Suwardji Suwardji Suwardji Wayan Wangiyana Zaenal Arifin Zakirah, Awanis Zinnur'ain Zuhdiyah Matienatul Iemaaniah