Claim Missing Document
Check
Articles

INDEKS GLIKEMIK DAN BEBAN GLIKEMIK MAKANAN KAITANNYA DENGAN KADAR LDL DAN RLPP PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE-2 Andaresfa Trias Wari; Arwin Muhlishoh; Nastitie Cinintya Nurzihan
Journal of Nutrition College Vol 12, No 1 (2023): Januari
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i1.36164

Abstract

Latar belakang: Risiko DM (Diabetes Mellitus) sering dikaitkan dengan pangan yang berbasis karbohidrat yaitu IG (Indeks Glikemik) dan BG (Beban Glikemik) yang menyebabkan resistensi insulin, dan mempengaruhi metabolisme dalam lemak yang menyebabkan terjadinya peningkatan kadar LDL (Low Density Lipoprotein). Konsumsi karbohidrat yang berlebih akan menyebabkan tidak seimbangnya jumlah energy intake dengan energy expenditure sehingga dalam jangka waktu lama akan menimbulkan obesitas. Pengukuran antropometri yang berguna sebagai prediktor terjadinya obesitas adalah dengan menggunakan RLPP (Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara IG dan BG makanan dengan kadar LDL dan RLPP pada pasien DMT2.Metode: Desain penelitian adalah cross sectional. Responden dari penelitian ini adalah 21 pasien DMT2 di Puskesmas wilayah kerja Kabupaten Karanganyar. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diteliti adalah IG, BG, kadar LDL, RLPP. Dianalisis menggunakan uji kolerasi pearson dengan nilai signifikansi < 0,05 dan dianalisis multivariat dengan menggunakan regresi linier berganda.Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa IG mempunyai hubungan dengan kadar LDL (p<0,001; r=0,939), IG mempunyai hubungan dengan RLPP (p=<0,001; r=0,984), BG mempunyai hubungan dengan kadar LDL (p<0,001; r=0,969), BG mempunyai hubungan dengan RLPP (p<0,001; r=0,963), RLPP mempunyai hubungan dengan kadar LDL (p<0,001; r=0,984). Analisis multivariat menunjukkan BG makanan adalah prediktor dari kadar LDL dan IG dan BG makanan adalah prediktor dari RLPP.Simpulan: Terdapat hubungan positif dan signifikan antara IG dan BG makanan dengan kadar LDL dan RLPP pada pasien DMT2.
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG ASUPAN DIET RENDAH LEMAK DAN KOLESTEROL DI WILAYAH DI PUSKESMAS GAMBIRSARI SURAKARTA Oktavina Permatasari; Arwin Muhlishoh
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 2 No. 1 (2020): Indonesian Journal of Community Empowerment Mei Vol.2 No.1
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.051 KB) | DOI: 10.35473/ijce.v2i1.522

Abstract

Kadar kolesterol tinggi atau hiperkolesterolemia adalah kondisi dimana tingkat kolesterol dalam darah melampaui batas normal yang dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti PJK (Penyakit Jantung Koroner) dan penyakit yang berhubungan dengan adanya sumbatan pada pembuluh darah (atherosklerosis). Faktor pemicu peningkatan kadar kolesterol dalam darah antara lain kebiasaan mengonsumsi makanan yang tidak sehat terutama makanan yang mengandung kadar lemak jenuh, tinggi kolesterol, serta kurangnya aktivitas fisik juga dapat menjadi faktor pemicu. Berdasarkan data dari Profil Kesehatan Kota Surakarta  Tahun 2018 tidak terjadi perubahan kasus penderita penyakit jantung dan pembuluh darah dibandingkan dengan data pada Tahun 2017, selain  itu  terdapat pergeseran tren usia pengidap penyakit jantung dan pembuluh darah yang menunjukkan usia yang lebih muda. Berdasarkan keadaan ini, perlu adanya pencegahan dan penanggulangan penyakit jantung dan pembuluh darah dengan memperbaiki pola konsumsi makanan rendah lemak dan kolesterol. Kegiatan ini dilakukan di Wilayah Puskesmas Gambirsari Surakarta untuk meningkatkan pengetahuan diet rendah lemak dan kolesterol sebagai upaya untuk menanggulangi penyakit jantung dan pembuluh darah. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test terjadi peningkatan rata-rata nilai dengan selisih 13.2, dengan rata-rata nilai pre-test adalah 62,2 dan rata-rata nilai post-test adalah 75,4. Berdasarkan hasil nilai pre-test dan post-test trerebut dapat disimpulkan jika terdapat peningkatan pemahaman peserta mengenai asupan diet rendah lemak dan kolesterol sebagai upaya pencegahan penyakit jantung dan pembuluh darah serta dapat meningkatkan kesadaran untuk mengurangi asupan lemak dan kolesterol. Kata kunci: Peningkatan kesehatan, diet rendah kolesterol, diet rendah lemak
Kandungan Antioksidan, Beta Karoten dan Organoleptik Cookies dengan Substitusi Puré Labu Kuning dan Tepung Kacang Hijau Myisha Azizah; Arwin Muhlishoh; Nastitie Cinintya Nurzihan
Ghidza: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 7 No 1 (2023): June
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ghidza.v7i1.545

Abstract

Obesitas dapat mengakibatkan peningkatan produksi radikal bebas yang memicu terjadinya stres oksidatif. Upaya menekan stres oksidatif adalah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung tinggi antioksidan, salah satunya beta karoten seperti labu kuning dan kacang hijau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat organoleptik, kadar antioksidan, dan kadar beta karoten dari cookies substitusi puré labu kuning dan tepung kacang hijau. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali pengulangan. Penelitian ini memiliki empat perlakuan dengan persentase tepung terigu : puré labu kuning : tepung kacang hijau yang berbeda-beda antara lain F0 (100% tepung terigu), F1 (55%:15%:30%), F2 (35%:25%:40%), dan F3 (15%:35%:50%). Analisis yang dilakukan adalah uji organoleptik (uji hedonik dan mutu hedonik), analisis kadar antioksidan menggunakan metode DPPH, dan analisis kadar beta karoten menggunakan metode HPLC. Pada uji hedonik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata terhadap semua kelompok perlakuan (p>0,05) sedangkan pada uji mutu hedonik menunjukkan perbedaan nyata (p<0,05) terhadap warna dan tekstur cookies, namun pada rasa, aroma, dan aftertaste tidak memiliki perbedaan yang nyata. Kadar antioksidan setiap formulasi adalah F0 sebesar 33,85%, F1 sebesar 37,57%, F2 sebesar 39,76%, dan F3 sebesar 46,21%. Sedangkan, kadar beta karoten yaitu F0 tidak memiliki kadar beta karoten sama sekali, F1 sebesar 54,12 mg/100 g, F2 sebesar 41,13 mg/100 g, dan F3 sebesar 33,12 mg/100 g. Formulasi cookies F1 merupakan formulasi cookies terpilih dan dapat dijadikan sebagai alternatif pangan untuk remaja obesitas.
Hubungan Kebiasaan Olahraga dan Kualitas Diet dengan Kejadian Dismenorea Primer pada Remaja Anita Wulandari; Bahriyatul Ma’rifah; Arwin Muhlishoh
Jurnal Gizi Kerja dan Produktivitas Vol 4, No 2 (2023): November
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jgkp.v4i2.24923

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan olahraga dan kualitas diet dengan kejadian dismenorea primer pada remaja di SMPN 1 Tasikmadu, Karanganyar. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu sebanyak 57 remaja SMPN 1 Tasikmadu, Karanganyar dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Data diambil dengan melakukan wawancara menggunakan kuesioner kebiasaan olahraga, instrumen (DQI-I) untuk mengukur kualitas diet melalui wawancara kebiasaan makan dengan (SQ-FFQ) dan kuesioner MSQ untuk mengukur dismenorea primer. Data dianalisis menggunakan uji Spearman dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 19 responden (33,3%) mengalami dismenorea primer, 36 responden (63,2%) memiliki kebiasaan olahraga yang tidak teratur dan terdapat 28 responden (49,1%) memiliki kualitas diet yang rendah. Hasil analisis Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan olahraga dengan kejadian dismenorea primer (p = 0,003) serta tidak terdapat hubungan antara kualitas diet dengan kejadian dismenorea primer (p = 0,832). Semakin teratur kebiasaan olahraga maka kejadian dismenorea primer akan menurun
Hubungan Tinggi Badan Ibu, Riwayat ASI Eksklusif dan Berat Badan Lahir Rendah dengan Kejadian Stunting Pada Balita 24-59 Bulan Eka Saputri Widiyarti; Nastitie Cinintya Nurzihan; Arwin Muhlishoh
Jurnal Gizi Kerja dan Produktivitas Vol 4, No 2 (2023): November
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jgkp.v4i2.24916

Abstract

Stunting atau anak pendek digambarkan sebagai seorang balita yang memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar tinggi badan balita seumurannya. Stunting terjadi dari masih dalam kandungan dan baru nampak setelah anak berusia dua tahun. Stunting berkaitan dengan peningkatan risiko kesakitan dan kematian serta terhambatnya pertumbuhan motorik dan mental. Pada anak stunting, cenderung lebih rentan terhadap penyakit infeksi sehingga berisiko mengalami penurunan kualitas belajar di sekolah. Desain penelitian dengan menggunakan metode cohort restropektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi atau gambaran mengenai hubungan antara tinggi badan ibu, riwayat pemberian asi eksklusif dan riwayat BBLR dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Kecamatan Wonosamodro, Kabupaten Boyolali. Responden dalam penelitian ini sebanyak 61 balita di Kecamatan Wonosamodro. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diteliti adalah tinggi badan ibu, riwayat pemberian ASI eksklusif dan riwayat BBLR. Dianalisis menggunakan uji chi aquare dengan nilai signifikansi <0,05. Penelitian ini menunjukkan bahwa tinggi ibu tidak terdapat hubungan dengan stunting (p=1,000) dan nilai OR = 0,34, riwayat pemberian ASI eksklusif tidak terdapat hubungan dengan stunting (p=0,211) dan nilai OR = 2,444, riwayat BBLR terdapat hubungan dengan stunting  (p=0,00) dan nilai OR = 35,858 yang menunjukkan bahwa riwayat BBLR pada balita merupakan faktor yang berhubungan dengan stunting dan merupakan faktor risiko terjadinya stunting sebesar 35,8 kali dibanding dengan balita dengan berat lahir normal
Hubungan Asupan Lemak, Serat, Kalsium, dan Magnesium dengan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi Tsania Salsabila; Arwin Muhlishoh; Dewi Kusumawati
Jurnal Gizi Kerja dan Produktivitas Vol 4, No 2 (2023): November
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jgkp.v4i2.24925

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan lemak, serat, kalsium, dan magnesium dengan tekanan darah pada pasein hipertensi. Penelitian analitik observasional dengan desain penelitian cross-sectional. Tempat penelitian di Puskesmas Gondangrejo. Sampel adalah pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo usia 45-54 tahun sebanyak 109 orang. SQ-FFQ digunakan untuk mengetahui asupan makanan, dan sphygmomanometer untuk mengukur tekanan darah. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji spearman, serta dilakukan uji multivariat regresi linear berganda dan regresi logistik. Ada hubungan antara asupan lemak dengan tekanan darah sistolik (p=0,016; r=0,230) dan tekanan darah diastolik (p=0,047; r=0,191), ada hubungan asupan serat dengan tekanan darah sistolik (p=0,001; r=0,304) dan tekanan darah diastolik (p=0,040; r=0,197). Tidak ada hubungan antara asupan kalsium dengan tekanan darah sistolik (p=0,908; r=0,011) dan tekanan darah diastolik (p=0,347; r=0,091), tidak ada hubungan asupan magnesium dengan tekanan darah sistolik (p=0,767; r=-0,029) dan tekanan darah diastolik (p=0,103; r=0,157). Analisis multivariat menunjukkan bahwa asupan lemak berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah sistolik (p=0,025; OR=2,526). Asupan lemak, serat, kalsium, dan magnesium tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan tekanan darah diastolik (p>0,005). Ada hubungan yang signifikan antara asupan lemak, dan serat terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik serta tidak ada hubungan yang signifikan antara asupan kalsium, dan magnesium dengan tekanan darah sistolik dan diastolik. Asupan lemak berpengaruh nyata terhadap tekanan darah sistolik.
Formulasi Brownies Panggang dengan Substitusi Tepung Daun Kelor dan Tepung Kacang Hijau sebagai Alternatif Cemilan Sumber Zat Besi untuk Remaja Putri Anemia Puput Indah Parwati; Bahriyatul Ma'rifah; Arwin Muhlishoh
Ghidza: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 7 No 2 (2023): December
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ghidza.v7i2.921

Abstract

Pemanfaatan tepung daun kelor dan tepung kacang hijau yang mengandung protein dan zat besi dapat mencegah terjadinya anemia pada remaja putri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung daun kelor dan tepung kacang hijau terhadap kandungan gizi dan sifat organoleptik brownies panggang. Jenis penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Formulasi brownies panggang terdiri dari 3 perbandingan tepung daun kelor dan tepung kacang hijau yaitu : F1 (25% : 50%), F2 (30% : 55%), F3 (35% : 60%). Data kadar abu, lemak, protein, karbohidrat, zat besi dianalisis dengan uji Anova dan uji lanjut Duncan. Data kadar air dan organoleptik dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan uji lanjut Man Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata kandungan gizi dan organoleptik (hedonik: warna, tekstur, mouthfeel, aftertaste, dan mutu hedonik: rasa, mouthfeel, aftertaste). Hasil uji kandungan gizi brownies panggang setiap formulasi (F1, F2, F3) secara berurutan yaitu kadar air 20,29%; 21,03%; 21,87%; kadar abu 3,09%; 2,79%; 2,83%; lemak 12,31%; 13,22%; 12,02%; protein 10,91%; 10,42%; 10,81%; karbohidrat 53,39%; 52,52%; 52,63%; dan zat besi 4,45%; 4,31%; 4,09%. Formulasi terpilih F2 mengandung energi per takaran saji (50 g), yaitu 211,42 kkal, lemak 6,61 g, protein 5,21 g, karbohidrat 26,26 g, dan zat besi 2,15 mg. Brownies panggang F2 memiliki warna hijau tua, beraroma langu, tekstur agak keras, rasa agak enak, mouthfeel agak lembut, dan aftertaste sedang dengan penerimaan organoleptik kurang disukai. Produk sudah memenuhi %AKG remaja putri usia 16–18 tahun dan dapat diklaim sebagai sumber zat besi.
EFEKTIFITAS PEMANFAATAN TELEHEALTH NURSING TERHADAP PENINGKATAN SELF-MANAGEMENT DI MASA PANDEMI COVID -19 PADA PASIEN DIABETES MELLITUS POSYANDU SEHAT MANUNGGAL KARTASURA Martini Listrikawati; Intan Maharani Batubara; Arwin Muhlishoh; Heni Nur Kusumawati; Noor Fitriyani
Journal of Advanced Nursing and Health Sciences Vol. 4 No. 1, Januari 2023
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is currently facing a triple burden of disease which adds to the problems in society. The problems that arise are not only about the outbreak of new infectious diseases, the outbreak of old infectious diseases and the increase in non-communicable diseases from time to time, but also problems arising from the interaction between the three. The prevalence of Diabetes Mellitus is increasing from year to year and has an impact on the patient's self-management. This study aims to determine the effectiveness of using telehealth nursing to improve Self Management during the COVID-19 pandemic in Diabetes Mellitus patients at Posyandu Sehat Manunggal Kartasura. This research method is a quasi-experimental one group pre test post test. The research instrument used is the DSMQ questionnaire sheet which is used to measure the self-management of diabetes mellitus patients at Kartasura Health Charity Clinic and the provision of telehealth nursing interventions. The data analysis method used in this study was univariate analysis related to patient characteristics data and bivariate analysis using Independent Sample t-test data analysis with p<0.05, which means that there is an effectiveness in using telehealth.
COOKIES SUBSTITUSI PUREE BAYAM HIJAU DAN TEPUNG KACANG HIJAU SEBAGAI CAMILAN TINGGI PROTEIN DAN ZAT BESI UNTUK REMAJA PUTRI ANEMIA Bahriyatul Ma'rifah; Laras Deana Eka Suci; Arwin Muhlishoh
Media Gizi Pangan Vol 30 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Media Gizi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adolescent girls are one of the groups that are vulnerable to nutritional problems, one of which is anemia. Anemia is characterized by the number of red blood cells or hemoglobin less than the normal limit of 12 g/dl. The incidence of anemia in adolescent girls is caused by a lack of knowledge regarding foods containing iron. One of the foods that contain high iron is green spinach puree and mung bean flour. This research was aimed to analyze the effect of substitution of green spinach puree and mung bean flour on the organoleptic quality and nutritional content of cookies. Pre-experimental research with Completely Randomized Design (CRD), using 4 composition ratios of wheat flour, mung bean flour and green spinach puree with ratios F0 (100% : 0% : 0%), F1 (75% : 20% : 5%), F2 (50% : 40% : 10%), and F3 (25% : 60% : 15%). The organoleptic test was evaluated using 30 semi trained panelists. Statistical analysis of the organoleptic test used the Kruskal Wallis test and Mann Whitney further test, while the nutrient content test used the Independent T Test. The substitution of green spinach puree and mung bean flour had a significant effect (p<0,05) on water content, ash, fat, protein, carbohydrates, iron, color, taste, and aroma. However, it did not have a significant effect on the hedonic texture test, and aftertaste (p>0,05) cookies .Cookies with the best formulation at F2 had 19,43 kcal of energy, 47,05 g of protein, 16,30 g of fat, 15,90 g of carbohydrates, and 34,82 mg of iron per serving of 60 g (3 pieces). Green spinach puree and mung bean flour substitution cookies have met the RDA for teenage girls aged 10-18 years. Cookies F2 can be claimed as a food product high in protein and iron and can be used as alternative snack for anemic adolescent girls.
ANALISIS KANDUNGAN GIZI DAN ORGANOLEPTIK MIE KERING SUBSTITUSI TEPUNG KACANG HIJAU DAN TEPUNG DAUN KELOR UNTUK REMAJA GIZI KURANG Pitaloka, Ira Maya; Ma'rifah, Bahriyatul; Muhlishoh, Arwin
Journal of Nutrition College Vol 13, No 2 (2024): April
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v13i2.41062

Abstract

ABSTRACTBackground : Fulfilment of higher nutrient intake, especially protein, is needed to support the physical growth and development of undernourished adolescents. Mung bean flour and moringa leaf flour which are rich in protein, can be utilized to make dry noodles.Objectives: Knowing the effect of substituting of mung bean flour and moringa flour on the nutritional content and organoleptic properties of dry noodles.Methods : This type of research used an experimental study with a completely randomized design (RAL). Comparison of wheat flour, mung bean flour and moringa flour formulations, namely F1 (65g: 20g: 15g), F2 (60g: 25g: 15g), F3 (55g: 30g: 15g). Nutritional content data were analyzed using ANOVA test and Ducan's further test. Organoleptic test was analyzed using Kruskal Wallis test and Mann Whitney further test.Results : The results showed that the moisture content; ash content; fat; protein; carbohydrates are F1 (6.61%; 5.30%; 5.41%; 22.45%; 60.23%), F2 (5.58%; 4.25%; 4.40%; 22.90%; 62.40%), F3 (6.00%; 5.00%; 3.20%; 25.40%; 60.40%). The average results of the hedonic test are color (somewhat like), taste, aroma, texture, aftertaste, and mouthfeel (less like). The average results of hedonic quality test are color (dark green), taste (moderately bitter), aroma (moderately languorous), texture (moderately chewy), mouthfeel (not chewy), aftertaste (moderately strong). The selected formulation (F1) per serving size (70g) contained 265.58 kcal energy, 15.7g protein, 3.7g fat and 42.1g carbohydrate. F1 already fulfills % of the RDA of adolescents aged 13-15 years and can be claimed as high in protein.Conclusion : Dried noodle products can be used as an alternative high-protein food for undernourished adolescents.Keywords : Adolescents; dry noodles; moringa leaf flour; mung bean flour; underweight. ABSTRAKLatar belakang : Pemenuhan asupan zat gizi yang lebih tinggi terutama protein dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan fisik dan perkembangan remaja gizi kurang. Tepung kacang hijau dan tepung daun kelor yang kaya protein dapat dimanfaatkan dalam pembuatan mie kering.Tujuan : Mengetahui pengaruh substitusi tepung kacang hijau dan tepung daun kelor terhadap kandungan gizi dan organoleptik mie kering.Metode : Jenis penelitian ini menggunakan desain studi eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perbandingan formulasi tepung terigu, tepung kacang hijau dan tepung daun kelor, yaitu F1 (65g : 20g : 15g), F2 (60g : 25g : 15g), F3 (55g : 30g : 15g). Data kandungan gizi dianalisis menggunakan uji ANOVA dan uji lanjut Duncan. Uji organoleptik dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dan uji lanjut Mann Whitney. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air; kadar abu; lemak; protein; karbohidrat yaitu F1 (6,61% ; 5,30% ; 5,41% ; 22,45% ; 60,23%), F2 (5,58% ; 4,25% ; 4,40% ; 22,90% ; 62,40%), F3 (6,00% ; 5,00% ; 3,20% ; 25,40% ; 60,40%). Hasil rata-rata uji hedonik yaitu warna (agak suka), rasa, aroma, tekstur, aftertaste, dan mouthfeel (kurang suka). Hasil rata-rata uji mutu hedonik yaitu warna (hijau tua), rasa (cukup pahit), aroma (cukup langu), tekstur (cukup kenyal), mouthfeel (tidak kenyal), aftertaste (cukup kuat). Formulasi terpilih (F1) pertakaran saji (70g) mengandung energi 265,58 kkal, protein 15,7g, lemak 3,7g dan karbohidrat 42,1g. F1 sudah memenuhi % AKG remaja usia 13-15 tahun dan dapat diklaim sebagai tinggi protein.Simpulan: Produk mie kering dapat digunakan sebagai alternatif makanan tinggi protein untuk remaja gizi kurang.Kata Kunci : Gizi kurang; mie kering; remaja; tepung daun kelor; tepung kacang hijau.