Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Pemberian Puding RULAPE pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 dengan Hiperkolesterolemia dan Hipertensi Muhlishoh, Arwin; Penasih, Dian Putri; Ismawanti, Zuhria; Ma’rifah, Bahriyatul; Kore, Yustina
Ghidza: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol. 8 No. 2 (2024): December
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ghidza.v8i2.1384

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) adalah gangguan metabolisme karbohidrat yang ditandai dengan kadar gula darah meningkat (hiperglikemia) karena sekresi insulin menurun dan cenderung memiliki kadar kolesterol total yang tinggi serta terjadi peningkatan tekanan darah. Puding RULAPE (Rumput Laut Pegagan) diketahui memiliki kandungan serat dan Antioksidan tinggi sehingga diharapkan mampu menjadi alternatif camilan dan terapi diet untuk pasien DM Tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian puding RULAPE terhadap kadar gula darah, kolesterol dan tekanan darah pasien DM Tipe 2. Metode penelitan ini menggunakan desain penelitian quasi- experimental dengan pretest and posttest with control group design, jumlah sampel sebanyak 34 orang responden DMT2 di Kabupaten Karanganyar. Kadar gula darah dan kolesterol total di ukur menggunakan GCU (Glucose, Cholesterol, Uric Acid) setelah puasa 8-12 jam dan tekanan darah dilakukan sebanyak 7 kali selama intervensi di pagi hari (sebelum konsumsi obat) menggunakan tensimeter digital. Kelompok intervensi diberikan puding RULAPE sebanyak 200 g/hari (mengandung 13,44 g ekstrak pegagan) selama 14 hari. Analisis data menggunakan Paired-Samples T Test, Independent T Test, dan Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan pemberian puding RULAPE sebanyak 200 g/hari (mengandung 13,44 g ekstrak pegagan) selama 14 hari berpengaruh nyata terhadap kadar gula darah, kolesterol total dan tekanan darah penderita DMT2 (p-value < 0,05). Pemberian puding RULAPE efektif dalam menurunkan kadar kolesterol total dan tekanan darah serta dapat menjadi alternatif makanan selingan pasien DMT2 dengan komplikasi hiperkolesterolemia dan hipertensi.
Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemanfaatan Pangan Lokal Sebagai Makanan Selingan bagi Keluarga Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Ismawanti, Zuhria; Ambarwati, Ria; Permatasari, Arvina Dian Wahyu; Firnanda, Tiara; Nafi'ah, Ulin; Zhurifa, Zahwa Mahda; Muhlishoh, Arwin; Permatasari, Oktavina
Abdi Geomedisains Vol. 5, No. 2, December 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/abdigeomedisains.v5i2.6706

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a collection of symptoms that arise in a person due to the body experiencing problems in controlling blood sugar levels. The lower the knowledge, the higher the blood sugar levels. The low knowledge of respondents about DM disease makes respondents unable to control blood sugar levels. This community service aimed to enhance public knowledge about DM prevention through education on local food consumption and healthy behaviors. The activity was carried out in Kedungmundu, Semarang City, in August 2024, with the participation of 39 people. The education was delivered through lectures, discussions, and a booklet, containing information about DM, recommended diets, and the use of local food. The results of the activity showed a significant improvement in community knowledge about DM prevention, with post-test scores higher than pre-test scores. This increase indicates that education through lectures and booklets was effective in disseminating health information. With better knowledge, the community is expected to adopt healthier behaviors that can reduce the prevalence of DM, particularly through the use of lokal food. This activity made an important contribution to promotive and preventive efforts to control DM within the community. Future research is recommended to explore the impact of increased knowledge on changes in community attitudes and behaviors in DM prevention.
Formulasi Mie Kering Substitusi Tepung Kacang Hijau dan Tepung Daun Kelor sebagai Makanan Tinggi Zat Besi dan Kalsium untuk Remaja Ahmawati, Yeni Atika; Ma'rifah, Bahriyatul; Muhlishoh, Arwin
Muhammadiyah Journal of Nutrition and Food Science (MJNF) Vol 5, No 1 (2024): Muhammadiyah Journal of Nutrition and Food Science (MJNF)
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/mjnf.5.1.74-91

Abstract

Latar Belakang: remaja gizi kurang merupakan masalah gizi yang terjadi di Indonesia, yang penyebabnya karena pola makan yang kurang bervariasi, dengan jumlah yang sedikit dan yang dikonsumsi tidak lengkap kandungan zat gizi mikronya. Pemanfaatan tepung kacang hijau dan daun kelor yang mengandung zat gizi yang kompleks dapat mengatasi masalah gizi kurang. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung kacang hijau dan tepung daun kelor terhadap sifat organoleptik, kadar kalsium, dan zat besi pada produk mie kering. Metode: penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL), dengan perbandingan tepung kacang hijau dan tepung daun kelor yaitu F1 (20 g : 15 g), F2 (25 g : 15 g), dan F3 (30 g : 15 g). Uji organoleptik menggunakan 30 panelis, analisis kandungan kalsium menggunakan metode titrasi permanganometri, dan zat besi menggunakan metode Spektrofotometer. Data uji organoleptik diolah menggunakan uji Kruskal Wallis. Data uji kandungan zat besi dan kalsium dianalisis menggunakan uji ANOVA, dan terdapat pengaruh nyata (p0,05), maka dianalisis uji Duncan. Hasil: dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata pada uji organoleptik dari semua formulasi (p0,05). Hasil analisis kandungan zat besi dan kalsium terdapat perbedaan yang nyata setiap formulasi (p0,05). Formulasi terpilih (F1) memiliki kandungan zat besi 18,30 mg/100 g, dan kalsium 247,6 mg/100 g. Simpulan: Kandungan zat besi dan kalsium per takaran saji (70 g) mie kering sudah memenuhi %AKG remaja usia 16-18 tahun. Produk mie kering dapat diklaim sebagai makanan tinggi zat besi dan sumber kalsium menurut kategori ALG umum.
Formulasi Cookies Lidah Kucing Substitusi Tepung Ikan Gabus Dan Tepung Kacang Hijau Sebagai Alternatif PMT Balita Gizi Kurang Muhlishoh, Arwin; Putri, Nova Anggita; Ma'rifah, Bahriyatul
JURNAL RISET GIZI Vol 12, No 2 (2024): November 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v12i2.11888

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Gizi buruk disebabkan oleh kekurangan energi, protein, dan penyakit infeksi yang mempengaruhi pertumbuhan dan balita. Salah satu pendekatan pengelolaan gizi pada balita kurang gizi adalah dengan memberikan makanan tambahan lokal, seperti tepung ikan gabus dan tepung kacang hijau, yang kaya akan energi dan protein.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung ikan gabus dan tepung kacang hijau terhadap mutu organoleptik dan kandungan gizi kue lidah kucing sebagai makanan tambahan alternatif untuk balita gizi buruk umur 12-59 bulan.Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perbandingan tepung terigu: tepung ikan gabus: tepung kacang hijau (F1 = 60%:20%:20%; F2 = 40%:20%:20%; F3 = 20%:40%:40%) dan 2 kali berulang. Data sifat organoleptik dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney , sedangkan kandungan gizi dianalisis menggunakan uji Anova dan Duncan .Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua bahan substitusi berpengaruh nyata terhadap uji hedonik rasa, uji mutu warna hedonik, dan kandungan gizi (p0,05), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap aroma, tekstur, aftertaste, sensasi rasa di mulut, uji warna hedonik, dan uji mutu rasa hedonik (p0,05). Formulasi terpilih F2 secara hedonik memiliki aroma, rasa, warna, dan aftertaste yang kurang disukai, dengan tekstur yang cukup disukai dan sensasi di mulut . Uji mutu hedonik menunjukkan aroma agak amis, rasa kacang, rasa pahit, agak asin, aroma harum, rasa manis, aftertaste , sensasi di mulut , tekstur agak renyah, dan warna coklat. F2 hah kadar abu 2,15%, udara 4,25%, protein 18,56%, lemak 23,76%, karbohidrat 51,30%, energi dari lemak 213,80 kkal, dan energi total 493,20 kkal. Kesimpulan: Cookies F2 memenuhi persyaratan sebagai makanan tambahan dan cookies Standar Nasional Indonesia kecuali kadar abu. Ukuran sajian 25 gram (5 lembar) memberikan kontribusi 10-15% dari angka kecukupan gizi (AKG) balita usia 12-59 bulan dan dapat dianggap sebagai cookies berprotein tinggi berdasarkan label informasi gizi untuk anak usia 1-3 tahun sebesar 71,38% .
Formulasi Cookies Lidah Kucing Substitusi Tepung Ikan Gabus Dan Tepung Kacang Hijau Sebagai Alternatif PMT Balita Gizi Kurang Muhlishoh, Arwin; Putri, Nova Anggita; Ma'rifah, Bahriyatul
JURNAL RISET GIZI Vol 12, No 2 (2024): November 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v12i2.11888

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Gizi buruk disebabkan oleh kekurangan energi, protein, dan penyakit infeksi yang mempengaruhi pertumbuhan dan balita. Salah satu pendekatan pengelolaan gizi pada balita kurang gizi adalah dengan memberikan makanan tambahan lokal, seperti tepung ikan gabus dan tepung kacang hijau, yang kaya akan energi dan protein.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung ikan gabus dan tepung kacang hijau terhadap mutu organoleptik dan kandungan gizi kue lidah kucing sebagai makanan tambahan alternatif untuk balita gizi buruk umur 12-59 bulan.Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perbandingan tepung terigu: tepung ikan gabus: tepung kacang hijau (F1 = 60%:20%:20%; F2 = 40%:20%:20%; F3 = 20%:40%:40%) dan 2 kali berulang. Data sifat organoleptik dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney , sedangkan kandungan gizi dianalisis menggunakan uji Anova dan Duncan .Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua bahan substitusi berpengaruh nyata terhadap uji hedonik rasa, uji mutu warna hedonik, dan kandungan gizi (p0,05), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap aroma, tekstur, aftertaste, sensasi rasa di mulut, uji warna hedonik, dan uji mutu rasa hedonik (p0,05). Formulasi terpilih F2 secara hedonik memiliki aroma, rasa, warna, dan aftertaste yang kurang disukai, dengan tekstur yang cukup disukai dan sensasi di mulut . Uji mutu hedonik menunjukkan aroma agak amis, rasa kacang, rasa pahit, agak asin, aroma harum, rasa manis, aftertaste , sensasi di mulut , tekstur agak renyah, dan warna coklat. F2 hah kadar abu 2,15%, udara 4,25%, protein 18,56%, lemak 23,76%, karbohidrat 51,30%, energi dari lemak 213,80 kkal, dan energi total 493,20 kkal. Kesimpulan: Cookies F2 memenuhi persyaratan sebagai makanan tambahan dan cookies Standar Nasional Indonesia kecuali kadar abu. Ukuran sajian 25 gram (5 lembar) memberikan kontribusi 10-15% dari angka kecukupan gizi (AKG) balita usia 12-59 bulan dan dapat dianggap sebagai cookies berprotein tinggi berdasarkan label informasi gizi untuk anak usia 1-3 tahun sebesar 71,38% .
Kualitas Diet Ibu Hamil Anemia dan Non Anemia Kusumawati, Dewi; Khoirunnisa, Rissa; Muhlishoh, Arwin
JURNAL RISET GIZI Vol 13, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v13i1.12666

Abstract

Background: The incidence of anemia in pregnant women in Indonesia is still relatively high which has an impact on mothers and babies born. One of the causes of anemia in pregnancy is the inappropriate quantity and quality of diet.Objectives: This study aims to determine differences in the quality of the diet of anemic and non-anemic pregnant women.Methods: Observational study with a case control design. The sample population taken in this study were pregnant women with as many as 80 people. The number of samples was 54 pregnant women divided into 27 anemia groups and 27 non-anemic groups using purposive sampling technique. The time of research was September 2022 – February 2023. The instrument in this study was the Semi Quantitative-Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), the Diet Quality Index (DQI) form. Data analysis used the Mann Whitney test. Results: The study showed that the average score for quality of diet in the anemic group was 52.18% (low), in the non-anemic group it was 65.48% (good). There were differences in the components of variation in the two groups (p=0.015). There were differences in the adequacy and moderation components in the two groups (p=0.000). There was no difference in the overall balance component in the two groups (p=1.000). There was a difference in the score of the quality of the diet for the anemic and non-anemic groups (p=0.000).Conclusions: There are differences in the quality of the diet of pregnant women in the anemic and non-anemic groups. In anemic pregnant women, the quality of the diet is lower than in non-anemic pregnant women. Pregnant women are expected to improve the quality of the diet consumed in order to achieve optimal health.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN PANGAN LOKAL SEBAGAI MAKANAN SELINGAN BAGI KELUARGA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 Ismawanti, Zuhria; Ambarwati, Ria; Permatasari, Arvina Dian Wahyu; Firnanda, Tiara; Nafi'ah, Ulin; Zhurifa, Zahwa Mahda; Muhlishoh, Arwin; Permatasari, Oktavina
Asawika : Media Sosialisasi Abdimas Widya Karya Vol 10 No 1 (2025): Juni : Asawika
Publisher : LPPM Unika Widya Karya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37832/asawika.v10i1.199

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat, disebabkan oleh berbagai faktor seperti penurunan produksi insulin, gaya hidup tidak sehat, dan obesitas. Pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan DM melalui edukasi tentang konsumsi pangan lokal dan perilaku sehat. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Kedungmundu, Kota Semarang, pada bulan Agustus 2024 dengan partisipasi 39 orang. Edukasi diberikan melalui penyuluhan menggunakan metode ceramah, diskusi, dan media booklet, yang berisi informasi tentang DM, diet yang dianjurkan, dan pemanfaatan pangan lokal. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan DM, dengan skor post-test yang lebih tinggi dibandingkan pre-test. Peningkatan ini menunjukkan bahwa penyuluhan menggunakan ceramah dan media booklet efektif dalam menyebarkan informasi kesehatan. Dengan pengetahuan yang lebih baik, masyarakat diharapkan mampu mengadopsi perilaku sehat yang dapat menurunkan prevalensi DM, terutama melalui pemanfaatan pangan lokal. Kegiatan ini memberikan kontribusi penting dalam upaya promotif dan preventif untuk mengendalikan DM di lingkungan masyarakat..
Kualitas Diet Ibu Hamil Anemia dan Non Anemia Kusumawati, Dewi; Khoirunnisa, Rissa; Muhlishoh, Arwin
JURNAL RISET GIZI Vol 13, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v13i1.12666

Abstract

Background: The incidence of anemia in pregnant women in Indonesia is still relatively high which has an impact on mothers and babies born. One of the causes of anemia in pregnancy is the inappropriate quantity and quality of diet.Objectives: This study aims to determine differences in the quality of the diet of anemic and non-anemic pregnant women.Methods: Observational study with a case control design. The sample population taken in this study were pregnant women with as many as 80 people. The number of samples was 54 pregnant women divided into 27 anemia groups and 27 non-anemic groups using purposive sampling technique. The time of research was September 2022 – February 2023. The instrument in this study was the Semi Quantitative-Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), the Diet Quality Index (DQI) form. Data analysis used the Mann Whitney test. Results: The study showed that the average score for quality of diet in the anemic group was 52.18% (low), in the non-anemic group it was 65.48% (good). There were differences in the components of variation in the two groups (p=0.015). There were differences in the adequacy and moderation components in the two groups (p=0.000). There was no difference in the overall balance component in the two groups (p=1.000). There was a difference in the score of the quality of the diet for the anemic and non-anemic groups (p=0.000).Conclusions: There are differences in the quality of the diet of pregnant women in the anemic and non-anemic groups. In anemic pregnant women, the quality of the diet is lower than in non-anemic pregnant women. Pregnant women are expected to improve the quality of the diet consumed in order to achieve optimal health.
Kualitas Diet Ibu Hamil Anemia dan Non Anemia Kusumawati, Dewi; Khoirunnisa, Rissa; Muhlishoh, Arwin
JURNAL RISET GIZI Vol 13, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v13i1.12666

Abstract

Background: The incidence of anemia in pregnant women in Indonesia is still relatively high which has an impact on mothers and babies born. One of the causes of anemia in pregnancy is the inappropriate quantity and quality of diet.Objectives: This study aims to determine differences in the quality of the diet of anemic and non-anemic pregnant women.Methods: Observational study with a case control design. The sample population taken in this study were pregnant women with as many as 80 people. The number of samples was 54 pregnant women divided into 27 anemia groups and 27 non-anemic groups using purposive sampling technique. The time of research was September 2022 – February 2023. The instrument in this study was the Semi Quantitative-Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), the Diet Quality Index (DQI) form. Data analysis used the Mann Whitney test. Results: The study showed that the average score for quality of diet in the anemic group was 52.18% (low), in the non-anemic group it was 65.48% (good). There were differences in the components of variation in the two groups (p=0.015). There were differences in the adequacy and moderation components in the two groups (p=0.000). There was no difference in the overall balance component in the two groups (p=1.000). There was a difference in the score of the quality of the diet for the anemic and non-anemic groups (p=0.000).Conclusions: There are differences in the quality of the diet of pregnant women in the anemic and non-anemic groups. In anemic pregnant women, the quality of the diet is lower than in non-anemic pregnant women. Pregnant women are expected to improve the quality of the diet consumed in order to achieve optimal health.
Risks factor of Stunting: A Case-Control Study Sunarto, Sunarto; Pertiwi, Estuasih Dyah; Subandriani, Dyah Nur; Fitriyanti, Addina Rizky; Ihsani, Arina Nurul; Muhlishoh, Arwin; Assidhiq, Mohammad Reza
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 10, No 3 (2025): September
Publisher : Department of Nutrition at the Health Polytechnic of Aceh, Ministry of Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/action.v10i3.2474

Abstract

Based on the Indonesian Nutritional Status Survey and Indonesian Health Survey data, the prevalence of stunting in Indonesia since 2021 has decreased to 2023 24,4%, 21,6%, and 21,5% by 2023. However, research on the influence of supplementary feeding (SF) on stunting is limited. Thus, this study described the determinants of stunting, including SF consumption in the 6-23 months participant group, as this age group is considered part of The First 1000 days. This case-control study was conducted in the Tlogosari Wetan Community Health Center area, Semarang City, between July and August 2024, with 120 study participants aged 6-23 months (60 stunting cases and 60 controls). The prevalence of stunting at the Tlogosari Wetan Community Health Center was 14,1%. SF had a significant effect on stunting (p<0,023), and early breastfeeding initiation (p=0,053) and breastfeeding (p = 0,073) were weakly associated with stunting. However, per capita income (p=0,116), birth length (0,120), fathers’ education (0,328), and fathers’ body height (p=0,141) had no significant effects on stunting. In conclusion, SF was significantly associated with stunting and accelerated the decline in stunting rate. It is necessary to pay attention to SF consumption to prevent stunting and to increase the knowledge of early initiation breastfeeding (EIB), as it affects the practice of breastfeeding.