Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

KRISIS KESANTUNAN BERBAHASA DALAM KOLOM KOMENTAR MEDIA SOSIAL TIKTOK Nurul, Dwi Putri; Mayong, Mayong
BISAI: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran Vol. 1 No. 1 (2022): Volume 1 Nomor 1
Publisher : Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30862/bisai.v1i1.28

Abstract

Abstrak:  Penelitian ini terdapat data ancaman muka atau pelanggaran kesantunan berbahasa yang ditemukan berjumlah 80 data dari 7 akun yang berbeda. Tuturan dari mengancam muka negatif terdapat empat bentuk tuturan yang dapat mengancam muka penutur atau mitra tuturnya yaitu (a) bentuk tuturan perintah terdapat, (b) bentuk tuturan memohon, (c) bentuk tuturan menyarankan, (d) bentuk tuturan menakut-nakuti atau melarang. Sedangkan ancaman muka positif terdapat bentuk tuturan (a)bentuk tuturan penghinaan, (b) bentuk tuuturan menolak, (c) bentuk tuturan mempermalukan. Adapun realisasi strategi kesantunan off record. Kata kunci: krisis kesantunan, mengancam muka, media sosial.
Hubungan Antara Minat Belajar Bahasa Indonesia dengan Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas X SMA Hang Tuah Makassar Damayanti, Fina; Mayong, Mayong; Nurhusna, Nurhusna
Nuances of Indonesian Language Vol 6, No 1 (2025)
Publisher : PPJB-SIP (Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/nila.v6i1.1011

Abstract

This research aims to: (1) Reveal the interest in learning Indonesian of class X students at Hang Tuah High School Makassar, (2) Reveal the ability to write poetry of class X students at Hang Tuah High School, Makassar. Data collection techniques through observation, questionnaires, performance tests, and documentation with a population of 120 people and a sample of 30 people. Data analysis using SPSS. 29. The results of this research show that the level of interest in learning Indonesian is classified as very weak with a score interpretation of 0% – 54% regarding feelings of happiness, interest, student attention, and student involvement. The ability to write poetry is classified in the very good category with an average score of 85.93 in terms of theme selection, diction, language style, imagery, and message. The results of the analysis and hypothesis based on the results of the Pearson's correlation test with a t-test significance value of 6.551 > 1.701 indicate that there is no very large or solid relationship between interest in learning Indonesian and the ability to write poetry in class X students at Hang Tuah High School, Makassar.
Identitas Diri Tokoh Utama dalam Novel Iyan Bukan Anak Tengah Karya Armaraher Wahyuni, Sri; Ramly, Ramly; Mayong, Mayong
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 1 (2025): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v7i1.1248

Abstract

This study aims to describe three main aspects: (1) the identity crisis experienced by the character Iyan at the stage of searching for her identity, (2) the factors that influence the formation of her identity, and (3) the internal and external conflicts she faces. This study uses a qualitative method. The data in this study are in the form of words, phrases, clauses, or excerpts from the novel Iyan Bukan Anak Tengah by Armaraher in the form of narratives, dialogues and monologues. The research collection technique was collected through documentation, reading and taking notes. The data analysis technique in this study was to read carefully and repeatedly the novel Iyan Bukan Anak Tengah by Armaraher, identify data related to the identity of the main character in the novel Iyan Bukan Anak Tengah, record research problem data, test the validity of the data with two techniques, namely perseverance and observation. Iyan's identity search process reflects the struggle of adolescents in finding their identity amidst family and environmental pressures. This study emphasizes the importance of family support in forming a strong self-identity and the relevance of Erikson's theory in understanding the psychological dynamics of fictional characters. The results of the study indicate that Iyan experiences an identity crisis due to her role as the middle child in a family that lacks emotional attention. Iyan's internal conflicts include feelings of inferiority, disappointment, and lack of support from his family, while his external conflicts involve unfair treatment from his parents and siblings. The main factors that influence the formation of Iyan's identity include his family environment, social pressure, and his life experiences as a middle child who is often neglected.Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tiga aspek utama: (1) krisis identitas yang dialami tokoh Iyan pada tahap pencarian jati diri, (2) faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan identitas dirinya, dan (3) konflik internal serta eksternal yang dihadapinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat penggalan dalam novel iyan bukan anak tengah karya Armaraher yang berbentuk narasi, dialog dan monolog. Teknik pengumpualn  penelitian ini dikumpulkan melalui dokumentasi, membaca dan mencatat. Teknik analisis data pada penelitian ini membaca secara cermat dan berulang-ulang novel iyan bukan anak tengah karya armaraher,mengidentifikasi data yang berhubungan dengan identitas diri tokoh utama dalam novel iyan bukan anak tengah, mencatat data permasalahan penelitian, menguji keabsahan data dengan dua teknik yaitu ketekunan dan pengamatan.  Proses pencarian identitas Iyan mencerminkan perjuangan remaja dalam menemukan jati diri mereka di tengah tekanan keluarga dan lingkungan. Penelitian ini menegaskan pentingnya dukungan keluarga dalam membentuk identitas diri yang kuat serta relevansi teori Erikson dalam memahami dinamika psikologis tokoh fiksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Iyan mengalami krisis identitas akibat perannya sebagai anak tengah dalam keluarga yang kurang memberikan perhatian emosional. Konflik internal Iyan mencakup perasaan rendah diri, kecewa, dan kurangnya dukungan dari keluarga, sementara konflik eksternalnya melibatkan ketidakadilan perlakuan dari orang tua dan saudara-saudaranya. Faktor utama yang memengaruhi pembentukan identitas Iyan meliputi lingkungan keluarga, tekanan sosial, dan pengalaman hidupnya sebagai anak tengah yang sering diabaikan.
PELATIHAN KESANTUNAN BERBAHASA DALAM KOMUNIKASI SISWA KELAS VII.5 SMPN 27 MAKASSAR Muhammad Alfian Tuflih; Mayong, Mayong; Ridwan, Ridwan; Wiastra, Wulandari; Earline, Earline
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 3 No. 03 (2025): MEI 2025
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk menganalisis dan menggambarkan cara-cara kesantunan dalam percakapan lisan oleh siswa-siswi kelas VII. 5 di UPT SPF SMP Negeri 27 Makassar. Metode yang diterapkan bersifat humanis, yaitu mendekati siswa sebagai individu yang utuh, dengan memperhatikan perasaan, nilai-nilai, dan cara berinteraksi mereka sehari-hari. Penelitian ini mengamati bagaimana siswa berbicara dengan sopan. Strategi yang digunakan dalam proses pembelajaran meliputi penyampaian materi, sesi diskusi, praktik, dan refleksi. Materi diberikan untuk memperkenalkan kesantunan berbahasa, kemudian siswa diajak untuk berdiskusi sehingga dapat menghubungkan teori dengan pengalaman pribadi mereka. Setelah itu, praktik dilakukan melalui simulasi percakapan, dan kegiatan diakhiri dengan refleksi agar siswa menyadari pentingnya bersikap santun dalam komunikasi sehari-hari. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa dapat mengenali dan menerapkan bentuk-bentuk kesantunan, seperti memilih sapaan yang sesuai, menggunakan kata-kata yang tidak menyinggung, serta menyampaikan pandangan dengan cara yang baik. Pendekatan humanis terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran tentang pentingnya berbahasa dengan santun karena siswa merasa dihargai dan lebih terbuka dalam berinteraksi.
PELATIHAN TINDAK TUTUR MELALUI INTERAKSI PENYIAR: PENGALAMAN MAGANG SPADA RRI PRO 2 MAKASSAR Muhammad Alfian Tuflih; Asia M, Asia M; Mayong, Mayong; Armin, Adelia Ramadhani; Sarina, Sarina
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 3 No. 05 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu program unggulan yang disiarkan oleh RRI Pro 2 Makassar adalah SPADA (Selamat Pagi Teman Pro 2), yang menyapa pendengar muda dengan cara yang santai, interaktif, dan penuh semangat. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan mahasiswa magang dari Universitas Negeri Makassar (UNM) di RRI Pro 2 Makassar, artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tindak tutur dan bentuk interaksi dalam program SPADA. Selama siaran, observasi langsung dan wawancara informal dilakukan dengan penyiar dan narasumber. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa, melalui sapaan khas dan penggunaan humor ringan, Tindak tutur penyiar didominasi oleh bahasa yang komunikatif, hangat, dan akrab dengan pendengar. Sebagian besar, interaksi antara penyiar, narasumber, dan terjadi secara langsung di studio, dan pendengar secara virtual melalui radio atau rri digital. Namun, interaksi langsung lebih sering terjadi. Sebagai hasilnya, hubungan antara penyiar dan audiens semakin erat karena pendengar berpartisipasi aktif dalam segmen Bisik Bincang Asik dan kesempatan untuk request lagu. Suara yang dihasilkan menjadi hidup, dinamis, dan ramah. Singkatnya, Tindak tutur yang santai dan interaksi yang terbuka menjadi ciri khas program SPADA, yang berhasil menarik minat pendengar muda dan memperkuat peran radio sebagai media komunikasi publik yang positif dan menyenangkan.
PROGRAM MAGANG PENYIAR RADIO DI RRI MAKASSAR SEBAGAI MEDIA PELATIHAN KESANTUNAN BERBAHASA BAGI GEN Z Asia M, Asia M; Muhammad Alfian Tuflih; Mayong, Mayong; Hikma, Nur; Rahmadani, Nia
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 3 No. 05 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Magang berfungsi sebagai pelatihan penting untuk meningkatkan keterampilan lunak mahasiswa, khususnya dalam bidang penyiaran radio. Di Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) Makassar, program magang pada Santai Siang di Pro 2 menyediakan pengalaman praktis yang mencakup aspek teknis dan non-teknis penyiaran. Mahasiswa belajar tidak hanya dalam mengoperasikan perangkat siaran, tetapi juga dalam mengembangkan kemampuan komunikasi, etika siaran, serta pengelolaan emosi saat siaran langsung. Melalui berbagai segmen interaktif seperti Pro 2 Hitlist, NGULIK (Ngobrol UMKM dan Kuliner), Pro 2 Sport, Pro 2 Entertain, dan LOKIN (Lokal Informasi Makassar), mahasiswa magang dilatih membuat konten, memanfaatkan media sosial untuk promosi, dan berinteraksi langsung dengan pendengar. Pengalaman ini membantu menumbuhkan sikap profesional, kreativitas, kerja sama tim, dan kesiapan menghadapi tantangan di industri media yang dinamis. Pengabdian ini juga akan memberikan pelatihan kesantunan berbahasa secara tidak langsung bagi Gen Z melalui siaran-siaran yang dilakukan.
MENUMBUHKAN KESANTUNAN BERBAHASA DAN KETERAMPILAN JURNALISTIK MAHASISWA MAGANG MELALUI PROGRAM SORE CERIA DI RRI PRO 2 MAKASSAR Tuflih, Muhammad Alfian; Mayong, Mayong; Damayanti, Putri Nadila; Sarina, Sarina; Rahmadani, Nia; Armin, Adelia Ramadhani; Nurhikma, Nurhikma
Jurnal Gembira: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 05 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program magang di Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 2 Makassar bertujuan untuk menumbuhkan kesantunan berbahasa dan keterampilan jurnalistik mahasiswa melalui keterlibatan langsung dalam program Sore Ceria. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode partisipasi aktif dan observasi. Dalam Prosesnya, mahasiswa menghadapi berbagai tantangan, seperti rasa gugup dan takut salah ucap saat berbicara di depan mikrofon, kesulitan dalam improvisasi, serta penyesuaian terhadap gaya penyiaran yang Santai namun tetap informatif khas Gen Z. Selain itu, adaptasi terhadap teknologi penyiaran dan dinamika kerja tim menjadi pengalaman penting yang membentuk kemampuan profesional mahasiswa dan berkomunikasi secara santun. Meskipun tantangan tersebut cukup signifikan, melalui bimbingan dari penyiar berpengalaman dan latihan berulang, mahasiswa mampu mengembangkan keterampilan komunikasi serta memahami etika dan teknik penyiaran yang baik. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesantunan berbahasa dan kepercayaan diri, serta pemahaman tentang praktik jurnalistik radio di era digital. Secara keseluruhan, program ini berhasil menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas, komunikasi, dan profesionalisme di dunia penyiaran.
Internasionalisasi Bahasa Indonesia di ASEAN: Suatu Tinjauan Sosiolinguistik Tuflih, Muhammad Alfian; Mayong, Mayong; Jariah, Ainun; S., Arjun
SAWERIGADING Vol 31, No 2 (2025): Sawerigading, Edisi Desember 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i2.1318

Abstract

This research aims to describe the feasibility of Indonesian as the official language of ASEAN and explain the supporting factors. This type of research is classified as qualitative research. The approach used is a sociolinguistic approach. The data sources in this research are books or manuscripts related to Indonesian as the official language of ASEAN. The data collection techniques used are note-taking techniques, participatory observation techniques, and documentation techniques. The results of this research show that Indonesian has the potential to become the official language of ASEAN. The factors that support Indonesian becoming an ASEAN language are (1) history of the Indonesian language, (2) Indonesian language regulations, (3) ASEAN language regulations, (4) Indonesian for Foreign Speakers (BIPA), and (5) attitudes and language politics. These five factors work together so that Indonesian deserves to be the official language of ASEAN. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kelayakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ASEAN dan memaparkan faktor-faktor pendukungnya. Jenis penelitian ini tergolong penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiolinguistik. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah buku atau naskah-naskah yang berhubungan dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ASEAN.  Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik catat, teknik observasi partisipatif, dan teknik dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memilki potensi untuk menjadi bahasa resmi ASEAN. Faktor-faktor yang menjadi pendukung bahasa Indonesia menjadi bahasa ASEAN yakni (1) sejarah bahasa Indonesia, (2) regulasi bahasa Indonesia, (3) regulasi bahasa ASEAN, (4) Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), dan (5) sikap dan politik bahasa. Kelima faktor tersebut saling bersinergi sehingga bahasa Indonesia layak menjadi bahasa resmi ASEAN.
TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM NOVEL HOME SWEET LOAN KARYA ALMIRA BASTARI Ramadani, Suci; Mayong, Mayong; Asri, Aswati
Neologia: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 1 (2026): February
Publisher : Fakultas Bahasa dan Sastra Indoensia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/neologia.v7i1.76139

Abstract

This study aims to describe the forms and functions of illocutionary speech acts found in the dialogues of Almira Bastari’s novel Home Sweet Loan. The objectives of the study are to describe the forms of illocutionary speech acts in Almira Bastari’s novel Home Sweet Loan, and to describe the functions of illocutionary speech acts in Almira Bastari’s novel Home Sweet Loan. This study employs a qualitative descriptive method, with data sourced from the dialogues in Almira Bastari’s novel Home Sweet Loan. The data collection techniques used are reading, note-taking, and documentation. The results of this study indicate that five forms of illocutionary speech acts were identified in Almira Bastari’s novel Home Sweet Loan, namely assertive, directive, expressive, commissive, and declarative. Twenty functions of illocutionary acts were identified. Four functions of the assertive illocutionary act were found: stating, suggesting, complaining, and affirming. Eight functions of the directive illocutionary act were found: commanding, requesting, advising, recommending, prohibiting, asking, warning, and questioning. Five functions were identified in the expressive speech act category: expressing gratitude, offering congratulations, apologising, blaming, and praising. Twenty functions were identified in the commissive speech act category: offering something and refusing. One function was identified in the declarative speech act category: resigning oneself.