Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TENAGA MEDIS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MUNA BARAT TAHUN 2025 Saharudin, Saharudin; Saptaputra, Syawal Kamiluddin; Zainuddin, Asnia
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i1.56780

Abstract

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan komponen penting dalam sistem pelayanan kesehatan karena tenaga medis memiliki risiko tinggi terhadap kecelakaan kerja, paparan bahan infeksius, serta penyakit akibat kerja. Lingkungan kerja rumah sakit yang kompleks menuntut adanya sistem keselamatan yang terstruktur untuk melindungi tenaga kesehatan dan menjamin kualitas pelayanan kepada pasien. Penerapan K3 di rumah sakit dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP), kepatuhan dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), serta budaya organisasi yang mendukung perilaku kerja yang aman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan SOP, kepatuhan penggunaan APD, dan budaya organisasi terhadap penerapan K3 pada tenaga medis di RSUD Kabupaten Muna Barat tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 157 responden yang terdiri dari perawat dan bidan yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat untuk melihat distribusi karakteristik responden, analisis bivariat menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antar variabel, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SOP (p=0,000), kepatuhan penggunaan APD (p=0,000), dan budaya organisasi (p=0,000) berpengaruh signifikan terhadap penerapan K3 tenaga medis. Analisis multivariat menunjukkan bahwa kepatuhan penggunaan APD merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi penerapan K3 (p=0,019; Wald=5,503). Nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,243 menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut mampu menjelaskan 24,3% variasi penerapan K3.
ANALISIS HUBUNGAN BEBAN KERJA FISIK, POSISI TUBUH, DAN FAKTOR USIA TERHADAP RISIKO CEDERA MUSKULOSKELETAL PADA PEDAGANG AYAM POTONG DI KABUPATEN MUNA Palenda, Syarifail; Saptaputra, Syawal Kamiluddin; Kusnan, Adius
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i1.56781

Abstract

Gangguan muskuloskeletal (Musculoskeletal Disorders/MSDs) merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang sering dialami oleh pekerja yang melakukan aktivitas fisik berat dan berulang. Pedagang ayam potong merupakan salah satu kelompok pekerja sektor informal yang berisiko mengalami gangguan muskuloskeletal karena aktivitas kerja yang melibatkan beban fisik tinggi, posisi kerja yang tidak ergonomis, serta faktor usia pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan beban kerja fisik, posisi tubuh, dan faktor usia terhadap risiko cedera muskuloskeletal pada pedagang ayam potong di Kabupaten Muna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasional analitik melalui pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 67 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan lembar observasi yang digunakan untuk mengidentifikasi risiko gangguan muskuloskeletal pada responden. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja fisik dengan risiko cedera muskuloskeletal (p = 0,001), posisi tubuh dengan risiko cedera muskuloskeletal (p = 0,012), serta faktor usia dengan risiko cedera muskuloskeletal (p = 0,012). Temuan ini menunjukkan bahwa pekerja dengan beban kerja fisik tinggi, posisi kerja yang tidak ergonomis, serta usia yang lebih tua memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan muskuloskeletal. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan melalui penerapan prinsip ergonomi kerja, pengaturan beban kerja, serta peningkatan kesadaran pekerja terhadap pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja.