Claim Missing Document
Check
Articles

KAPASITAS PETANI PADI SAWAH IRIGASI TEKNIS DALAM MENERAPKAN PRINSIP PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DI SULAWESI TENGAH Hera Herawati; Aida Vitayala Hubeis; Siti Amanah; Anna Fatchiya
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v20n2.2017.p155-170

Abstract

Kapasitas petani mengelola padi sawah ramah lingkungan di sistem sawah irigasi teknis, menurut karakteristik personal dan peluang pengembangannya, meliputi: kemampuan secara teknis inovasi teknologi, kemampuan menyusun rencana usahatani, kemampuan mengevaluasi, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, dan kemampuan bermitra sinergis. Kemampuan ini, merupakan wujud kapasitas tinggi yang dimiliki petani. Penelitian bertujuan: menganalisis hubungan antara karakteristik petani dengan tingkat kapasitasnya mengelola sawah ramah lingkungan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap 174 petani. Analisis data dilakukan uji deskriptif, uji beda Mann Whitney dan uji Rank Spearman, menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani Kabupaten Sigi dan Parigi Moutong berbeda baik karakteristik maupun kemampuan mengelola usahataninya. Terdapat perbedaan yang nyata pada pendidikan non formal dan luas lahan. Tingkat kapasitas petani dalam pengelolaan padi sawah yang ramah lingkungan pada kategori rendah. Rendahnya kapasitas petani dipengaruhi oleh kemampuan perencanaan usahatani dan kemampuan bermitra sinergis. Hubungan keseluruhan kapasitas petani terhadap kemampuannya menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan sangat nyata dan mempengaruhi kapasitas petani adalah pendidikan non formal dan luas lahan. Penelitian ini membuktikan bahwa mereka yang memiliki akses terhadap penyuluhan dan pelatihan usahatani ramah lingkungan secara nyata dapat meningkatkan kapasitas petani, dan petani yang memiliki lahan luas merasakan keuntungan menggelola sawah yang ramah lingkungan dibanding dengan lahan sempit.
PROSES DAN PENDEKATAN REGENERASI PETANI MELALUI MULTISTRATEGI DI INDONESIA / Process and Approach to Farmer Regeneration Through Multi-strategy in Indonesia Oeng Anwarudin; Sumardjo Sumardjo; Arif Satria; Anna Fatchiya
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n2.2020.p73-85

Abstract

The low share of young farmers in Indonesia must be a serious concern of the government in the future agricultural development program. The results of the agricultural census in 2013 showed that the portion of young farmers (<35 years) was 12.87%, far lower than the middle age (35-54 years) 54.37%, and the elderly (> 54 years) 32.76%. This situation encourages the importance of finding solutions to realize farmers’ regeneration. This paper describes the regeneration of farmers (processes, approaches, and strategies) through increasing the role of families, agricultural extension, community, agricultural modernization, and farmer corporations. Regeneration has the same terms as the succession and inheritance of agricultural business, which is the process of presenting new actors in agricultural business. Farmer regeneration can be in the family environment which means that the management of agricultural businesses is inherited from parents to their children, and non-family regeneration, namely inheritance of agricultural businesses, is shifted to newcomers who have no family relations. The regeneration process can be planned that is driven by outsiders and without a plan that is driven by the community itself. Approaches and strategies for farmers’ regeneration processes can be through strengthening the role of families, agricultural extension, community, agricultural modernization, and farmer corporations. The role of the family can be increased through the cultivation of respect, socialization, and inheritance of agricultural businesses. The role of agricultural extension workers as facilitators, communicators, motivators, consultants, and institutional development of young farmers can be strengthened. The role of the community through outreach, information transfer, and consultation can be intensified. Modernization of agriculture can be through the application of agricultural mechanization technology and smart farming or digital farming. Farmer corporations can be developed to attract the interest of the younger generation because they open opportunities for the availability of economically viable land, based on the specialization of expertise, the use of agricultural machinery, and improving the bargaining position of farmers.Keywords: Farmers, regeneration, corporation, agriculture, modernization AbstrakPorsi petani muda yang rendah di Indonesia harus menjadi perhatian serius pemerintah dalam program pembangunan pertanian ke depan. Hasil sensus pertanian tahun 2013 menunjukkan porsi petani muda (<35 tahun) 12,87%, jauh lebih rendah dibanding usia menengah (35-54 tahun) 54,37% dan usia lanjut (>54 tahun) 32,76%. Keadaan ini mendorong pentingnya mencari solusi mewujudkan regenersi petani. Tulisan ini memaparkan regenerasi petani (proses, pendekatan dan strategi) melalui peningkatan peran keluarga, penyuluhan pertanian, komunitas, modernisasi pertanian, dan korporasi petani. Regenerasi memiliki istilah yang sama dengan suksesi dan pewarisan usaha pertanian, yaitu proses menghadirkan pelaku baru dalam usaha pertanian. Regenerasi petani dapat di lingkungan keluarga yang berarti pengelolaan usaha pertanian diwariskan dari orang tua kepada anaknya, dan regenerasi nonkeluarga yaitu pewarisan usaha pertanian beralih kepada pendatang baru yang tidak memiliki hubungan keluarga. Proses regenerasi dapat terencana yang digerakkan pihak luar dan tanpa rencana yang digerakkan masyarakat sendiri. Pendekatan dan strategi proses regenerasi petani dapat melalui penguatan peran keluarga, penyuluhan pertanian, komunitas, modernisasi pertanian, dan korporasi petani. Peranan keluarga dapat ditingkatkan melalui penanaman sikap respek, sosialisasi, dan pewarisan usaha pertanian. Peranan penyuluh pertanian sebagai fasilitator, komunikator, motivator, konsultan, dan penumbuhkembangan kelembagaan petani muda dapat dikuatkan. Peranan komunitas melalui sosialisasi, transfer informasi, dan konsultasi dapat diintensifkan. Modernisasi pertanian dapat melalui penerapan teknologi mekanisasi pertanian dan smart farming atau digital farming. Korporasi petani dapat dikembangkan sebagai penarik minat generasi muda karena membuka peluang tersedianya lahan yang layak secara ekonomi, berbasis spesialisasi keahlian, penggunaan alat-mesin pertanian dan meningkatkan posisi tawar petani.Kata kunci: Petani, regenerasi, korporasi, pertanian, modernisasi 
Efektivitas Instagram “Earth Hour Bogor” sebagai Media Kampanye Lingkungan Ghina Shabrina Ulfa; Anna Fatchiya
Jurnal Komunikasi Pembangunan Vol. 16 No. 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.002 KB) | DOI: 10.46937/16201825129

Abstract

Social media is a new media that has more interactive communication than conventional media. Earth Hour Bogor is a social movement that utilizes social media instagram as their campaign media. The purpose of this research is the effectiveness analysis of Instagram @ ambogor as media campaign of social movement of environment and the factors that influence it. The methods of the research are quantitative and supported with qualitative data. The results of the social media show Instagram @ehbogor effective in stimulating the attention of followers, causing interest to know more, the desire to participate, and follow the campaign activities organized and invite others. Factors that influence this are the location of the residence and the frequency of the campaign information presented at the Attention stage. At the interest level is the type of work, the frequency of respondents in accessing Instagram and clarity of campaign information. At the stage of desire did not find the variables that affect, while the action stage is the location of residence and motivation of respondents in access Instagram.
Efektivitas Penggunaan Media Sosial sebagai Media Promosi Wisata Umbul Ponggok, Kabupaten Klaten Wanda Fazriah Oktaviani; Anna Fatchiya
Jurnal Komunikasi Pembangunan Vol. 17 No. 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.953 KB) | DOI: 10.46937/17201926586

Abstract

Umbul Ponggok tourism manager conducts promotional activities through social media such as instagram and website. Managers hope that utilizing social media as a media campaign can attract public to visit. The purpose of this study is to analyze the characteristics of respondents and social media, to analyze the extent of the effectiveness of social media, also what factors influence the effectiveness of promotion. The location of this study is in Ponggok Village, Polanharjo District, Klaten Regency, Central Java with total number of respondents was 30 from website and 85 from instagram. This study uses a quantitative approach with an online questionnaire instrument and is supported by qualitative data. The results showed the majority of respondents who accessed social media of Umbul Ponggok namely women, average 21 years old as S1 students with an average expenditure of Rp 2,756,000 per month and originating from West Java / DKI Jakarta. Respondents considered information on social media was clear and complete. The use of social media is very effective at the stage of interest and desire. The factors that influence the effectiveness of promotion at interest level are income and completeness of information, in desire level are information clarity and attractiveness, while on action level are the level of income and completeness of information.
SIKAP MASYARAKAT TERHADAP PROGRAM PENGEMBANGAN DESA PESISIR TANGGUH DI TELUKNAGA, TANGERANG, BANTEN Nini Kusrini; Siti Amanah; Anna Fatchiya
Sosio Konsepsia Vol 2 No 3 (2013): Sosio Konsepsia (Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial
Publisher : Puslitbangkesos Kementerian Sosial RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33007/ska.v2i3.782

Abstract

Masyarakat pesisir telah mengalami kerusakan sumber daya alam, perubahan iklim, dan risiko bencana. Pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga lainnya telah mengembangkan berbagai program untuk memperbaiki kondisi wilayah pesisir. Salah satu programnya adalah Program Pengembangan Desa Pesisir Tangguh (PDPT) yang telah diluncurkan sejak tahun 2011. Pada tahun 2012, program ini dilaksanakan di 48 desa di 16 kabupaten. Keberhasilan program ini tergantung pada respon masyarakat termasuk sikap masyarakat. Penelitian tentang sikap masyarakat terhadap program ini, dilaksanakan di dua desa terpilih di Kabupaten Tangerang. Populasi berjumlah 200 yang merupakan masyarakat pemanfaat program. Responden dipilih secara stratified random sampling berdasarkan fokus kegiatan PDPT (bina sumber daya, bina infrastruktur dan lingkungan, Bina Usaha, dan bina Siaga bencana). Sampel penelitian sebanyak 60 responden yang diambil dari rumah tangga masyarakat pesisir. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang terdiri dari pertanyaan tentang karakteristik individu, karakteristik lingkungan sosial, dan pengelolaan program. Wawancara dan observasi lapangan dilakukan untuk mempelajari sikap masyarakat dan pelaksanaan program. Analisis rank-Spearman digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel yang berhubungan dengan sikap masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap masyarakat memiliki hubungan yang signifikan dengan karakteristik lingkungan sosial dan tingkat pengelolaan program. Sikap positif masyarakat terhadap program ini dapat ditingkatkan melalui peran tokoh masyarakat, kegiatan program penyuluhan berkelanjutan yang didukung oleh fasilitator lapangan yang kompeten. sikap positif masyarakat terhadap PDPT akan memberikan kontribusi pada keberhasilan pelaksanaan program.Kata kunci: Masyarakat pesisir, PDPT, pemberdayaan masyarakat.
PEMBERDAYAAN PENGOLAH IKAN SKALA RUMAH TANGGA DI PROVINSI JAWA BARAT Yaya Hudaya; Aida Vitayala Hubeis; Basita Sugihen; Anna Fatchiya
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): DESEMBER 2017
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.201 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v12i2.6433

Abstract

Pemberdayaan pengolah ikan di Provinsi Jawa Barat dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha, menjamin keamanan pangan produk yang dihasilkan, dan ikut menjaga kelestarian sumber daya ikan yang ada. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kinerja pemberdayaan pengolah ikan skala rumah tangga dan dampaknya di Provinsi Jawa Barat. Metode analisis menggunakan uji beda Man Whitney U. Hipotesis penelitian ini adalah ada perbedaan nyata proses pemberdayaan pengolah ikan dan dampaknya di pesisir utara Kabupaten Cirebon dan selatan Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan nyata proses pemberdayaan pengolah ikan dan dampaknya baik di pesisir utara Kabupaten Cirebon maupun di pesisir selatan Kabupaten Sukabumi. Kebijakan pemberdayaan pengolahan ikan skala rumah tangga di Provinsi Jawa Barat baik di pesisir utara maupun selatan tidak perlu dibedakan. Namun, intensitas pemberdayaan terutama penyuluhan perikanan, bantuan peralatan dan modal usaha perlu ditingkatkan lagi. Title: The Empowerment of Small Scale Fish Processorsin West Java Province Empowerment of fish processors in West Java Province was carried out in order to improve wellbeing of the fish processors, ensuring food security of the product, and maintaining sustainability of the fish resource. The purpose of this study was to analyze performance of the empowerment of small scale fish processors and its related impact in the West Java Province. The analytical method used different test Man Whitney U. Hypothesis of this research was that there was a significant difference between the process of fish processing empowerment and its related impact in the north coast of Cirebon District and in the south coast of Sukabumi district of West Java Province. The results indicated that there was no significant difference between the process of fish processing empowerment and its impact both in the north coast of Cirebon and in the south coast of Sukabumi. Hence, policy on empowerment small scale fish processing household in both north and south coast districts of West Java Province can be treated the same. However, the intensity of empowerment, especially in terms of fisheries extension, equipment and business capital assistance need to be improved.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEMAMPUAN PENGOLAH IKAN TRADISIONAL DI KABUPATEN CIREBON Anna Fatchiya; Siti Amanah; Tatie Sadewo
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 2 (2019): DESEMBER 2019
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.64 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v14i2.7086

Abstract

Pengembangan usaha pengolahan ikan tradisional dapat dilakukan dengan mengembangkan kemampuan pengolah ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi tingkat kemampuan pengolah ikan tradisional di Kabupaten Cirebon dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhinyanya. Penelitian dilakukan secara survei dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Sampel penelitian ini adalah 80 orang pengolah ikan dari tiga kecamatan yaitu Kecamatan Gunungjati, Suranenggala dan Jamblang. Data dikumpulkan pada bulan Maret hingga April 2018. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan Statistical Product and Service Solution (SPSS) ver 24 dan diuji dengan Partial Least Square (PLS) 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemampuan pengolah ikan di Kabupaten Cirebon berada pada kategori rendah baik pada aspek teknis maupun manajerial. Aspek teknis yang rendah yaitu pada proses pengolahan, pengemasan, penyimpanan, perizinan dan penanganan limbah usaha. Sedangkan aspek manajerial yang rendah yaitu pada kemampuan mengakses modal, mengakses pasar dan kemampuan bermitra. Faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan pengolah ikan di Kabupaten Cirebon berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang memengaruhi yaitu tingkat pendidikan formal dan jumlah pelatihan yang diikuti oleh pengolah ikan, sedangkan faktor eksternal yang memengaruhi yaitu tingkatan peran penyuluh perikanan dan ketersediaan bahan baku. Title: Factors Affecting Capacity of Fish Processor in Cirebon District Improving fish processor capacity is one of way out to develop traditional fish processing. This research aims to identify the level capacity of traditional fish processing in Cirebon District and to analyze its influencing factors. This research used questionnaire survey to 80 samples of respondents in three sub-district: Gunungjati, Suranenggala and Jamblang  Data were collected from March to April 2018, and were analyzed using descriptive Statistical Product and Service Solution (SPSS) ver 24 and tested with Partial Least Square (PLS) 3. The results showed that capacity level of fish in Cirebon District lies in low category both upon managerial and technical aspects. The low level of technical aspects were  processing, packaging, storage, licensing and waste handling. While the low level of managerial ability were access to capital, access to market, and ability of partnership. Factors influencing fish processor capacity in Cirebon District come from internal and external factors. The internal factors are education level and number of training undertaken by the fish processor, while the external factors are the role of fisheries counselors and availability of raw materials. 
PROSES DAN PENDEKATAN REGENERASI PETANI MELALUI MULTISTRATEGI DI INDONESIA / Process and Approach to Farmer Regeneration Through Multi-strategy in Indonesia Oeng Anwarudin; Sumardjo Sumardjo; Arif Satria; Anna Fatchiya
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n2.2020.p73-85

Abstract

The low share of young farmers in Indonesia must be a serious concern of the government in the future agricultural development program. The results of the agricultural census in 2013 showed that the portion of young farmers (<35 years) was 12.87%, far lower than the middle age (35-54 years) 54.37%, and the elderly (> 54 years) 32.76%. This situation encourages the importance of finding solutions to realize farmers’ regeneration. This paper describes the regeneration of farmers (processes, approaches, and strategies) through increasing the role of families, agricultural extension, community, agricultural modernization, and farmer corporations. Regeneration has the same terms as the succession and inheritance of agricultural business, which is the process of presenting new actors in agricultural business. Farmer regeneration can be in the family environment which means that the management of agricultural businesses is inherited from parents to their children, and non-family regeneration, namely inheritance of agricultural businesses, is shifted to newcomers who have no family relations. The regeneration process can be planned that is driven by outsiders and without a plan that is driven by the community itself. Approaches and strategies for farmers’ regeneration processes can be through strengthening the role of families, agricultural extension, community, agricultural modernization, and farmer corporations. The role of the family can be increased through the cultivation of respect, socialization, and inheritance of agricultural businesses. The role of agricultural extension workers as facilitators, communicators, motivators, consultants, and institutional development of young farmers can be strengthened. The role of the community through outreach, information transfer, and consultation can be intensified. Modernization of agriculture can be through the application of agricultural mechanization technology and smart farming or digital farming. Farmer corporations can be developed to attract the interest of the younger generation because they open opportunities for the availability of economically viable land, based on the specialization of expertise, the use of agricultural machinery, and improving the bargaining position of farmers.Keywords: Farmers, regeneration, corporation, agriculture, modernization AbstrakPorsi petani muda yang rendah di Indonesia harus menjadi perhatian serius pemerintah dalam program pembangunan pertanian ke depan. Hasil sensus pertanian tahun 2013 menunjukkan porsi petani muda (<35 tahun) 12,87%, jauh lebih rendah dibanding usia menengah (35-54 tahun) 54,37% dan usia lanjut (>54 tahun) 32,76%. Keadaan ini mendorong pentingnya mencari solusi mewujudkan regenersi petani. Tulisan ini memaparkan regenerasi petani (proses, pendekatan dan strategi) melalui peningkatan peran keluarga, penyuluhan pertanian, komunitas, modernisasi pertanian, dan korporasi petani. Regenerasi memiliki istilah yang sama dengan suksesi dan pewarisan usaha pertanian, yaitu proses menghadirkan pelaku baru dalam usaha pertanian. Regenerasi petani dapat di lingkungan keluarga yang berarti pengelolaan usaha pertanian diwariskan dari orang tua kepada anaknya, dan regenerasi nonkeluarga yaitu pewarisan usaha pertanian beralih kepada pendatang baru yang tidak memiliki hubungan keluarga. Proses regenerasi dapat terencana yang digerakkan pihak luar dan tanpa rencana yang digerakkan masyarakat sendiri. Pendekatan dan strategi proses regenerasi petani dapat melalui penguatan peran keluarga, penyuluhan pertanian, komunitas, modernisasi pertanian, dan korporasi petani. Peranan keluarga dapat ditingkatkan melalui penanaman sikap respek, sosialisasi, dan pewarisan usaha pertanian. Peranan penyuluh pertanian sebagai fasilitator, komunikator, motivator, konsultan, dan penumbuhkembangan kelembagaan petani muda dapat dikuatkan. Peranan komunitas melalui sosialisasi, transfer informasi, dan konsultasi dapat diintensifkan. Modernisasi pertanian dapat melalui penerapan teknologi mekanisasi pertanian dan smart farming atau digital farming. Korporasi petani dapat dikembangkan sebagai penarik minat generasi muda karena membuka peluang tersedianya lahan yang layak secara ekonomi, berbasis spesialisasi keahlian, penggunaan alat-mesin pertanian dan meningkatkan posisi tawar petani.Kata kunci: Petani, regenerasi, korporasi, pertanian, modernisasi 
Public Knowledge of Diabetes and Hypertension in Metropolitan Cities, Indonesia I Gede Mahatma Yuda Bakti; Sumardjo Sumardjo; Anna Fatchiya; Agus Fanar Syukri
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 13, Nomor 1, January-June 2021
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-sihah.v13i1.19409

Abstract

Non-communicable diseases (NCDs), such as diabetes and hypertension, contributed significantly to the mortality rate in Indonesia. Citizens’ unhealthy behaviors have led to an increased risk of diabetes and hypertension. This study aimed to investigate the level of public knowledge regarding diabetes and hypertension. Data were collected through a survey using questionnaires. There were 307 respondents from Medan (n=190) and Jakarta (n=118). The sample was dominated by the female (68,5%) and high school graduates (76.3%). The data revealed that 2.3 percent of the respondents suffered or are currently suffering from diabetes and 3.6 percent of the respondents suffered or are currently suffering from hypertension. The results showed that the level of public knowledge regarding diabetes (65.91%) and hypertension (58.15%) was not ideal in general. Many citizens still did not understand various aspects of diabetes and hypertension, such as the causes, consequences, treatments, and characteristics of their sufferer. This study also found that there are group differences in the level of public knowledge based on gender and geographical location.
Pengaruh Karakteristik Petani terhadap Pengetahuan Inovasi Budidaya Cengkeh di Kabupaten Halmahera Timur Tri Setiyowati; Anna Fatchiya; Siti Amanah
Jurnal Penyuluhan Vol. 18 No. 02 (2022): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Department of Communication and Community Development Sciences and PAPPI (Perhimpunan Ahli Penyuluhan Pembangunan Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25015/18202239038

Abstract

The innovation adoption process begins with the knowledge stage. At the stage of knowledge is influenced by individual characteristics. This study aims to determine the distribution of farmer characteristics and analyze the effect of characteristics on farmer knowledge. The study using the census method (140 clove farmers) was conducted in East Halmahera Regency. Interviews and observations were conducted to obtain data on individual characteristics. Simple linear regression analysis was used to analyze the data. The results showed that the age of the farmer was in the middle adult category with clove farming experience between 11-20 years. The level of formal education is in the low category, the level of cosmopolitan of farmers is low with a narrow land area and has a low level of income. However, the motivation of farmers in clove farming is included in the medium category. Individual characteristics of farmers who have a significant influence are cosmopolitan and income levels, while land area has a negative influence.
Co-Authors Abdul Mutolib Adi Irvansyah Aditya Rahmadhony Afib Rizal Agus Fanar Syukri Aida Vitayala Hubeis Aida Vitayala Hubeis Aida Vitayala S Hubeis Aida Vitayala S Hubeis Aliya Nur Syahira Amiruddin Saleh Anwarudin, Oeng Ari Ramadan Arif Satria Asri Sulistiawati Asri Sulistyawati Atang Muhammad Safei Baban Sarbana Basita Ginting Sugihen Basita Sugihen Basita Sugihen Ginting Budi Setiawan Budiarto, Tri Chikameirani Adhanisa Clara Meliyanti Kusharto Dedy Suheimi Diah Puspita Sari Djoko Susanto Djoko Susanto Djoko Susanto Djuara P Lubis Dwi Sadono Dyah Ekaprasetya manggala Rimbawati Fina Muthia Deizi Fredian Tonny Nasdian Ghina Shabrina Ulfa Gunawan Gunawan Helvi Yanfika Hera Herawati Herry Pramono I Gede Mahatma Yuda Bakti Ibis Ali Idha Farida Ikeu Tanziha Istiqlaliyah Muflikhati Julio Adisantoso Kartika Mayasari Komang Eke Suwardane Kordiyana K Rangga Mahmudi Siwi Malta Malta Manalu, Maria B.F. mayasari, kartika Muhamad Rizal Martua Damanik Muhammad Firdaus Nanik Anggoro Purwatiningsih Nini Kusrini Nunung Cipta Dainy Oos Anwas Pang S. Asngari Pang S. Asngari Pang Suparman Asngari Pepi Rospina Pertiwi Prabowo Tjitropranoto Prabowo Tjitropranoto Prabowo Tjitropranoto Prabowo Tjitropranoto Prasetyo, Kunandar Pudji Muljono Rachmad, Teguh Hidayatul Rahmat Darmawan Ratri Virianita Retno Sri Hartati Mulyandari Risti Rosmiati Shanti Devi Siti Aisa Lamane Sri Harijati Sri Lindawati Sudarko Sudarko Sumardjo Tatie Sadewo Tatie Soedewo Tri Setiyowati Wanda Fazriah Oktaviani yatri Indah Kusumastuti Yaya Hudaya Yunizar Sri Wulandari